• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA: Terima kasih

YangSsaya hormati Ketua dan Pimpinan Komisi VIII, Ibu/Bapak Anggota Komisi VIII DPR RI yang Saya hormati,

Memang saya juga sudah kangen dengar petanyaan-pertanyaannya Pak, jadi sama-sama kangenlah, ada yang kangen bertanya ada yang kangen menjawab juga. Jadi saya kira kita apa namanya memang tugas kita Pak, ada yang bertanya ada yang menjawab begitu.

Izin Pak Ketua saya menjawab secara umum dulu nanti satu persatu yang spesifik saya sampaikan dan izin juga kalau ada belum sempat saya jawab untuk kami teruskan dalam bentuk tertulis.

Yang pertama tentu kami sangat-sangat berterima kasih telah mengapresiasi semua teman-teman, sahabat-sahabat di Komisi VIII yang juga memberikan dukungan, support dan apresiasi terkait apa yang sudah kami jalankan selama ini. Baik di tahun 2019 walaupun saya juga tidak bisa terlalu banyak melakukan apa-apa di tahun 2019, karena masuk sudah akhir Oktober, dan juga dalam perjalanan 2020 dan tentunya dalam perencanaan di 2021.

Yang pertama munkgin terkait data karena hampir semua Anggota yang terhormat dan juga Pimpinan tadi menanyakan soal data, ini juga kami besok ada rapat dengan Wakil Presiden terkait spesifik mengenai data.

Jadi tepat sekali, pas sekali apa yang bisa kita dengar hari ini, nanti bisa kami teruskan juga, karena terus terang Pimpinan dan Anggota Komisi VIII DPR RI yang saya hormati, sekarang ini tiba-tiba semuanya tertarik dengan data. Bahkan yang pihak-pihak yang sebelumnya mungkin tidak pernah dengar makhluk yang namanya DTKS, tiba-tiba sekarang bicara tentang DTKS juga.

Dalam satu sisi kami sangat bangga juga begitu, artinya barang kami jadi agak terkenal lah begitu ya, yang tadinya mungkin Pak Mirza saja yang tahu mungkin, sama beberapa dari kitalah kurang lebih begitu. Bahkan Presiden pun dalam beberapa kali kesempatan juga menyinggung-nyinggung masalah DTKS.

Memang di 2020 ini anggaran kami sangat sedikit Pak, terkait DTKS ini kalau tidak salah cuma Rp.25 miliar, ditengah ekspektasi yang begitu tinggi, ditambah lagi kita kena Pandemic Covid 19. Jadi memang akhirnya kita tidak terlalu banyak yang bisa kita lakukan, dan mungkin juga saya harus sampaikan, apabila kami bersikukuh diawal yang sebenarnya didukung oleh KPK pada saat akan menjalankan program-program Bansos khusus Covid 19 yaitu hanya mengandalkan DTKS mungkin tidak sampai sekarang. Ini harus saya sampaikan jujur, menurut saya tambah rame karena kita buka Pak, karena kita buka dan memang kami yang minta untuk dibuka, dan karena memang Presiden meminta kami untuk membuka kesempatan bagi daerah untuk memasukan nama calon penerima Bansos yang non DTKS.

Kembali lagi kalau kami hanya steak kepada DTKS mungkin daerah terima-terima saja, dan mungkin kami menjawabnya lebih mudah dan menjawab medianya pun bisa lebih mudah.

Tapi karena Presiden minta tolong Kemensos buka kesempatan untuk daerah untuk mengusulkan yang diluar DTKS, karena ini bencana yang mendadak dan kami buka, dan kami yakinkan KPK juga untuk bahkan mengeluarkan surat edaran, nah mulailah terjadi dinamika-dinamika yang menurut media sering tidak tetap sasaran, kenapa orang yang tidak tepat sasaran ini, kami beberapa kali turun ke daerah Pak Ketua dan Pimpinan, Anggota yang saya hormati, ini terus terang bahkan kami mendengarkan petugas-petugas kami dilapangan menyampaikan Pak kalau sebenarnya kalau kita steak kepada DTKS saja lebih mudah. Lebih bisa dipertanggungjawabkan suka tidak suka, percaya tidak persaya DTKS jauh lebih releabel dari data yang lain. Walaupun tentunya ada keterkaitan dibeberapa daerah yang tidak mengupdate.

Tadi juga ada kalau tidak salah dari Ibu Ina ada keluhan dari pendamping-pendamping kita mungkin TKSK, atau pendamping PKH yang merasa tidak dilibatkan ini juga mungkin dampak dari kita buka Pak. Kita buka kedaerah sehingga mereka mencari, pada saat mencari mungkin saja mereka tidak menggunakan perangkat kita kan begitu. Dinas Sosial menggunakan perangkatnya, yang didesa menggunakan perangkatnya yang mungkin bukan bagian dari Kementerian Sosial, seperti TKSK.

Nah jadi ini kalau menurut saya kita sama-sama apa namanya? Telanjang begitu ya, tapi untuk lebih baik lagi dalam arti kita sekarang bisa mendapatkan mungkin stok baru. Stok baru untuk data-data yang nanti kita akan masukan kedalam pemutahiran DTKS berikutnya dan kita hilangkan, kita hapus yang ada di DTKS yang ternyata dilapangan sudah tidak layak lagi begitu. Jadi ya kaya istilahnya kaya di cleanshing begitu, kita buka masuk

walaupun sedikit rame tapi ya tidak apa-apa. Tidak mungkin juga kita ratusan juta kan tidak ramai, tidak mungkin juga, yang kreteria terdampakpun.

Kadang-kadang saya tanya ke daerah coba Pak Walikota kreteria terdampak apa? Nah ini jawabannya macam-macam Pak, coba warga terdampak Covid 19 itu apa sih? Coba didaerah, itu saja dulu, macam-macam yang begini, yang begitu yang ini kalau saya misalnya Pakai DTKS sudah DTKS saja selesai kan begitu. Tapi karena kita buka karena juga Presiden minta daerah dilibatkan, ya sudah kita buka.

Walaupun seringkali mungkin kita yang menjadi kambing hitamnya juga tapi oke saya kira itu bagian dari pekerjaan kita, tanggungjawab kita. Oleh karena itu Pimpinan, Anggota yang saya hormati, saya kira memang anggaran untuk perbaikan pemutahiran maupun ferivikasi, ferivali yang lebih massif yang harus kita lakukan tahun 2021 yang memang didukung juga oleh apa namanya Presiden, Bappenas memang harus kita jalankan.

Mudah-mudahan dengan anggaran yang lebih baik tersebut kita bisa mendapatkan satu pendataan yang lebih baik pula. Kami sangat mendukung Pimpinan, Anggota yang terhormat apabila memang bisa diagendakan untuk rapat dengar pendapat atau rapat kerja dengan lintas kementerian, kalau boleh usul adalah Kementerian Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, dan Kementerian Sosial. Karena Bappenas adalah coordinator Pak untuk Perpres satu data, jadi saya kira memang sangat perlu mengundang Kementerian Bappenas.

Kemudian terkait temua BPK untuk kami ingin laporkan tahun 2019, untuk PKH sudah hampir 100%, atau 99,86%. Untuk kartu keluarga sejahtera yang tidak terdistribusi dan saldo yang tidak ditransaksikan 99,86% sudah dikembalikan ke kas negara oleh bank Himbara. Kemudian yang untuk BPNT 51,33% sudah dikembalikan oleh Himbara ke kas negara. Sisanya sedang dilakukan penelitian dan koordinasi dengan Himbara sambal menunggu LHP yang diterima Kemensos. Jadi sudah sedikit lagi, kalau yang PKH sudah 100% dikembalikan ke kas negara, yang BPNT tinggal 48,7% yang belum dikembalikan ke kas negara, dan akan dikembalikan ke kas negara setelah kami menerima LHPnya.

Beberapa program-program yang terkait dengan program prioritas nasional yang tidak bisa terselenggara antara lain memang terkait misalnya honorarium, seperti TKSK, PSM dan yang lain-lainnya, seperti yang kami laporkan diawal memang terkait terhambatnya proses di KPPN Pak. Namun sebagian besar juga tadi juga dari Wakil Ketua Jenderal Moekhlas menyampaikan beberapa anggaran yang realisasinya masih rendah itu antara lain dekosentrasi dan tugas pembantuan. Ini masalahnya memang didaerah, oleh karena anggaran tersebut sebenarnya sudah kita limpahkan ke daerah namun belum dieksekusi oleh daerah.

Jadi saya juga sudah berulangkali dan mudah-mudahan dari Dirjen kami yang terkait misalnya Dirjen Dayasos karena ada beberapa program di

Dayasos seperti honorarium TKSK, PSM, CARD yang belum terealisasi karena didaerah belum eksekusi untuk sekali lagi mengingatkan ke daerah agar segera dieksekusi.

Sebagai contoh untuk TKSK hanya tinggal 4 provinsi yang belum merealisasikannya yaitu Aceh, Sulawesi Selatan, Riau dan Papua. Jadi nanti Pak Dirjen tolong agar dipastikan lagi yang sisanya itu bisa segera dieksekusi terkait juga teman-teman dilapangan yang memang memerlukannya.

Tadi juga kami dengar mengenai kube, Pimpinan dan Anggota yang terhormat kalau ingat di rapat kerja pertama saya kalau tidak salah, atau yang kedua, saya mempresentasikan bagaimana roadmap pengentasan kemiskinan dengan pendekatan pemberdayaan.

Tapi memang begitu Covid 19 masuk tertunda semua, tidak bisa kita jalankan anggarannya juga terpotong ya jadi kami sangat-sangat apresiasi teman-teman Komisi VIII mendorong kembali agar kiranya program-program pemberdayaan seperti kube, atau kewirausahaan sosial didorong kembali dengan catatan, saya sudah minta Dirjen PSM, saya tidak mau dengan skema yang seperti sekarang. Harus terukur, ukuran keberhasilannya harus ada bukan sekedar bagi-bagi uang, kalau bagi-bagi uang ujung-ujungnya Bansos lagi. Lebih bagus tidak usah ada program kube, bansos saja begitu, sehingga pendampingnyapun, kualifikasi pendampingnyapun harus lebih baik, harus lebih professional dengan pendekatan yang lebih akuntabel, transparan dan benar-benar dengan wajah yang baru untuk kube ini.

Beberapa masukan saya kira kami catat, antara lain tadi dari Pak Wakil Ketua Pak Ace yang pertama mengenai tadi juga bu Ina kalau tidak salah kami memang akan lebih serius dan tegas Pak kepada bank himbara. Supaya tidak hanya kejadian di 2019 terulang yang dana kita bisa sampai segitu lama mengendap, tapi juga bahkan kami baru-baru ini ada satu kejadian yang tidak mengenakan di Kabupaten Batang Jawa Tengah. Akibat ada beberapa warga yang keracunan, karena warga penerima manfaat BPNT disatu desa di Kabupaten Batang katanya keracunan makan ikan tongkol yang dijual diwarung di desa tersebut di Kabupaten Batang, bahkan sampai headline dua kali di Radar Semarang. Saya tanpa pikir panjang langsung saya WA Direktur BNInya saya bilang tolong e-warung tersebut dicabut, tidak Pakai peringatan, karena sampai dua kali headline saya malu saya bilang.

Karena headline-nya itu disebutkan program Kemensos, jadi namun saya bilang karena mereka ini kemungkinan besar kan usaha kecil, artinya ya kita cabut istilahnya cabut lisensnya untuk sebagai e-warung, tapi tolong BNI kasihlah bisnis lain, saya bilang begitu. Jadi nggak kita kan bukan apa namanya hanya menindak tapi kan mereka juga rakyat kecil gitu ya. Jadi saya minta dan Direksinya juga menyanggupi, bahkan saya bilang ke Dirjen saya tolong ini kita, kami mohon dukungan juga dari Komisi VIII saya minta agar Permensosnya coba dirubah, agar jenis-jenis bahan makan atau, status atau kondisinya lebih dispesifikan lagi diaturan itu. Ya kondisinya misalnya mentah saja tidak usah dimasak, apa dibuat-buat yang aneh-anehlah begitu. Saya

kira ini perlu ditegaskan dan saya kira Pak Dirjen juga akan menindaklanjuti, dan saya minta juga dukungan dari Komisi VIII karena ini menyangkut tugas pengawasan teman-teman di Dapil teman-teman masing-masing, bagaimana Kemensos bisa lebih jauh tangannya sampai ke e-warung.

Dan saya yakin sekali teman-teman di Komisi VIII bisa mendukung karena ini juga pasti disetiap Dapil ada e-warung. Saya tidak ingin anggaran yang sebegitu besar puluhan triliun kita tidak bisa sampai bawah istilahnya interfensi. Saya bilang saya tidak ikutan, saya tidak mau interfensi urusan suplaiyer itu bukan urusan saya, bukan urusan Kemensos, tapi kita harus bisa turut serta, campur tangan langsung bagaimana pengelolaan pemilihan e-warung? Bagaimana pelaksanaan tugas program BPNT di e-warung itu bisa dijalankan? Supaya tidak seenak-enaknya.

Dokumen terkait