• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menulis Cerpen Berdasarkan Kehidupan Orang Lain

Menurut Sumardjo (2004:74), menulis cerpen pada dasarnya menyampaikan sebuah pengalaman kepada pembacanya. Menulis cerpen bukan sekedar “memberitahukan” sebuah cerita. Banyak orang memiliki

pengalaman hidup yang merupakan cerita yang menarik karena unik dan spesifik, serta bermakna. Namun, belum tentu orang tersebut dapat bercerita dengan baik. Hal ini disebabkan keterampilan untuk “menghidupkan” bahan cerita tidak dikuasai.

Sebuah pengalaman yang diangkat dalam sebuah cerita yang diangkat tidak harus peristiwa yang dialami sendiri, pengalaman orang lain pun juga bisa dijadikan bahan untuk cerita yang akan ditulis.

5. Rencanakan kegiatan untuk menonton bersama pembacaan penggalan novel di sebuah acara langsung maupun siaran ulang dalam CD! (Mintalah bantuan gurumu untuk memfasilitasi terealisasinya kegiatan tersebut). Selanjutnya berikan penilaian atas pembacaan novel yang kamu lihat dan laporkan dalam bentuk laporan tertulis!

2000:81). Struktur bentuk cerita itulah yang pada akhirnya membentuk sebuah tatanan yang disebut alur atau plot (Sumardjo, 2004:58).

Pada bagian permulaan dituturkan tentang apa, siapa, di mana, kapan, dan mulai dimunculkan konflik. Konflik berkaitan dengan unsur yang menceritakan timbulnya persoalan dalam cerita. Selanjutnya, pada bagian kedua atau bagian tengah cerita berisi perkembangan dari konflik yang telah dimunculkan. Bagian inilah yang menjadi sarana pengarang untuk menggiring semua bahan cerita menuju suatu klimaks cerita. Pada bagian akhir, yakni bagian penutup cerita yang berisi pemecahan konflik penyelesaian.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk berlatih menulis cerita, misalnya deskripsikan salah satu temanmu yang terdekat baik dari segi fisik, watak, sikap atau saat dia memberikan pendapatnya tentang kejadian yang dilihatnya atau dialaminya. Misalnya, sorot matanya yang teduh membuat semua yang memandang merasa ingin berdekatan dengan Nina. Tak heran kalau banyak sekali kumbang-kumbang yang merasa hatinya tercuri oleh teduhnya sorotan mata sang bunga. Atau bisa juga mendeskripsikan kotornya tempat yang sering kamu lihat saat berjalan menuju sekolah. Misalnya, … Kali Ciliwung yang keruh meluap menghanyutkan segala macam sampah. Air bergulung-gulung menyeret pucuk dahan yang merunduk mencecah air. Semak-semak di kedua tepinya tertutup air. Potongan kayu yang terseret mengetuk dinding gubug dan membangunkan

kere-kere yang tidur di dalamnya. Air deras itu merenggut dinding gubug mereka. Dan berita yang menjalar dari jembatan mengusik nafsu mereka ….

(Sumber: dikutip dari Sampah Bulan Desember, karya Hamsad Rangkuti)

Lakukan sesering mungkin latihan menggambarkan berbagai hal secara tertulis, dengan cara tersebut kamu semakin akrab dengan kata-kata, keadaan, peristiwa, dan suasana hati saat-saat tertentu, seperti saat bangun di pagi hari.

Ada banyak cara seorang penulis cerpen memulai proses penceritannya, namun terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan agar penulisan cerpen tetap fokus sesuai rencana. a. Tentukan tema yang diangkat dalam cerpen.

b. Tentukan pula tokoh yang dimunculkan, setting yang diuraikan dan pengaluran yang digunakan.

c. Buat kerangka cerpen agar cerita tidak bertele-tele dan tetap berfokus sesuai dengan rencana.

d. Uraikan kerangka cerpen tersebut menjadi draf cerpen, selanjutnya tentukan judul yang sesuai.

1. Berlatihlah menggambarkan satu kondisi yang ada di dalam kelasmu! (Misalnya, perhatikan gurumu yang sibuk memeriksa tugas anak didiknya, atau temanmu yang berusaha meyakinkan lawan bicaranya bahwa apa yang ia ceritakan itu benar adanya, atau kamu bisa menggambarkan kondisi bangku-bangku yang digunakan di kelasmu, dan banyak lagi objek yang lainnya).

Bacakan hasil penggambaran objek di kelasmu tersebut di depan kelas! Berikan tanggapan dan komentar atas penggambaran yang dibacakan temanmu!

2. Coba ingat kembali kejadian yang pernah dikisahkan temanmu! Tentukan cerita yang menurutmu paling menarik, selanjutnya tentukan tema, peristiwa, pelaku, dan latar yang akan dimunculkan dalam cerita yang akan kamu tulis!

3. Setelah menentukan beberapa poin utama dalam penulisan cerpen, selanjutnya tuangkan ke dalam beberapa kerangka cerpen yang akan kamu tulis! Selanjutnya kembangkan kerangka cerpen tersebut menjadi sebuah cerpen yang menarik!

4. Tukarkan hasil penceritaan (tertulismu) dengan milik temanmu! Selanjutnya lakukan identifikasi terhadap unsur intrinsik dan ekstrinsik pada cerpen milik temanmu tersebut! Berikan penilaian atas penulisan cerpen yang dilakukan oleh temanmu tersebut! 5. Pilih satu dari sekian pengalaman temanmu yang pernah

diceritakan oleh temanmu! Selanjutnya sampaikan kembali dalam bentuk cerita pendek!

Materi pelajaran memberikan tanggapan pada puisi lama telah kamu pelajari pada pelajaran sebelumnya. Pada pelajaran kali ini kamu akan belajar memberikan komentar pada pembacaan puisi baru. Pada pelajaran sebelumnya, telah dijelaskan bahwa aturan, baik dalam segi isi maupun dari sistematika puisi baru tidak terlalu banyak. Hal ini berbeda dengan puisi lama yang mengikat puisi dengan berbagai aturan.

Longgarnya aturan dalam puisi baru bukan tanpa alasan. Hal ini sangat dipengaruhi tidak saja berbagai aliran yang dipelajari sang penyair, tapi juga faktor budaya dan penyair lain di berbagai belahan dunia. Namun yang terpenting, karakteristik utama sebuah puisi tetap dipertahankan. Salah satunya adalah tetap ditulis dalam bentuk larik- larik dalam setiap bait.

Sama halnya dengan pembaca puisi, pemberi komentar pada pembacaan puisi setidaknya juga mengetahui dan memahami unsur- unsur yang ada dan poin-poin yang perlu diperhatikan dalam puisi. Sebuah puisi merupakan karangan atau karya sastra yang mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan makna. Puisi terdiri dari struktur fisik dan struktur batin. Berikut ini adalah aspek-aspek dalam struktur fisik puisi.

a. Pilihan kata

Diksi atau pilihan kata dalam puisi berbeda dengan karangan ilmiah. Kata-kata yang bermakna konotatif lebih tepat untuk digunakan dalam puisi. Kata-kata yang bersifat polisemi (bermakna lebih dari satu), kata-kata umum (abstrak), dan kata- kata afektif (berkenaan dengan rasa) juga lebih banyak digunakan dalam puisi. Pilihan kata yang tepat akan menciptakan kekayaan daya imajinasi pada suatu puisi.