• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENUNTUT TANGGUNG-JAWAB AGUS HASAN BASHARI, Lc., M.Ag.

PEMBELAAN TERHADAP PARA ULAMA

10.4. DI BALIK PELECEHAN TERHADAP PARA ULAMA

10.4.3. MENUNTUT TANGGUNG-JAWAB AGUS HASAN BASHARI, Lc., M.Ag.

Saudaraku kaum Muslimin, kita akan tuntut orang ini (Agus Hasan Bashori), kita akan mintai pula pertanggungjawaban Yazid Jawaz, Aunur Rafiq, Abdul Hakim Abdat, Agus Hasan Bashari43, Mubarak Bamuallim, Abu Ihsan (yang berkoalisi dengan petinggi-petinggi Ikhwanul Muslimin, akan datang buktinya) dari 3 sisi untuk mempertanggungjawabkan kepada umat (sebelum dia dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ) karena pengakuannya sebagai da’i Salafiyyin dan karena talbisnya kepada umat dengan menggunakan transkrip ceramah Syaikh Rabi’ yang dia tenteng kesana kemari.

Pertama : Persekutuannya dengan petinggi Jama’ah Tabligh

Engkau wahai Agus Hasan telah mentalbis umat dengan menggunakan transkrip ceramah Syaikh Rabi’ untuk membuktikan bahwa dirimu adalah Salafy. Sekarang kami hadapkan dirimu dengan tulisan Syaikh Rabi’ sendiri terhadap berbagai kesesatan Jama’ah Tabligh ketika beliau membungkam penyimpangan Tuan Besar kalian, Abdurrahman Abdul Khaliq. Beliau berkata : ‘’Kami menanyakan kepadanya, apakah Jama’ah Tabligh tegak di atas apa yang telah dibawa oleh Rasulullah dan para Shahabatnya dan sesuai dengan apa yang Rasulullah batasi sebagai firqah yang selamat diantara firqah-firqah yang binasa ?...

Apakah Jama’ah Tabligh dengan thariqat Ad-Diyobandi-nya mengajarkan di madrasah (halaqah) mereka Tauhid dengan manhaj Salafush Shalih seperti kitab As-Sunnah oleh Al- Lalikai, Al-Ibanah oleh Ibnu Baththah, Aqidah Wasithiyyah, Al-Hamawiyyah, ataupun At- Tadmuriyah ?

Apakah mereka mencintai buku-buku tersebut dan para penulisnya, menasehatkan manusia untuk mempelajarinya ? Ataukah sebaliknya, mereka justru memerangi buku-buku tersebut dan penulisnya, membuangnya serta menuduh para penulisnya dengan tuduhan kesesatan, kemudian menetapkan buku-buku bid’ah seperti An-Nisfiyyah, Al-Muyasirah, buku-buku Ar-Razi dan buku-buku aqidah lainnya seperti Maturidiyah, Asy’ariyah dan Jahmiyah ?

Apakah dalam masalah Tauhid ibadah mereka menetapkan kitab Tauhid dan Syarah- syarahnya ? Kitab Tawassul dan wasilah, bantahan kepada Al-Bakri, Ighatsatul Lahfan dan yang semisal ?

Atakah mereka justru memerangi buku-buku tersebut dan para penulisnya, kemudian mengajarkan buku-buku ilmu kalam, mantiq, filsafat dan buku-buku tasawwuf yang syirik ? Apakah mereka mencintai ahli hadits, para muwahhidin (yang bertauhid) karena mereka bertauhid, memerangi syirik dan menolak sikap ta’thil (penolakan sifat bagi Allah) ?

Apakah mereka mencintai Ahlus Sunnah yang berpegang dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul atau membencinya ?

Terakhir, disamping bencana-bencana di atas, mereka juga berbai'at kepada empat thariqah sufi yaitu :An-Naqsyabandiyah, As-Sahrurdiyah, Al-Jistiyah dan Al-Qadiriyah. Padahal di dalam thariqah-thariqah tersebut terdapat aqidah al-hulul (seluruh makhluk merupakan penjelmaan Allah) dan wihdatul wujud (keyakinan bersatunya Allah dengan hamba) dan juga keyakinan bahwa para wali (yang sudah mati) dapat berpengaruh pada alam ini. Pegangan mereka adalah kitab Tablighi Nishab (manhaj Tabligh) yang penuh dengan aqidah sesat dan hadits-hadits palsu. Bersamaan dengan ini semua mereka berpaham Murji’ah. Semua perkara di atas telah melebihi mutawatir (Jama’ah Wahidah, hal.56, untuk lebih jelasnya lihat Al-Qaulul Baligh oleh Syaikh Hamud At-Tuwaijiry)

Apakah kelompok seperti ini yang engkau ajak berdakwah bersama –wahai Agus Hasan- dapat dikatakan Ahlus Sunnah ?

43Orang ini pula yang menerjemahkan hasil karya Salman Al-Audah berjudul “Shifatul Ghuraba’, Al-Firqatun Najiyah

Wath Thaifah Al-Manshurah” yang bertuliskan :”Waqaf: min Jam’iyyah Ihya’ut Turots Al-Islamy Lajnah Janub Syarq Asia lil Muslimin fi Indunisia” yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar dengan judul Indonesia “Firqatun Najiyah”. Buku ini memiliki “keanehan-keanehan” karena membagi “lingkaran keselamatan di dunia dan akhirat” menjadi 3 bagian, yang satu lebih khusus diantara yang lain, yaitu:Firqatun Najiyah (golongan yang selamat), Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang mendapat kemenangan) dan Al-Ghuraba’ (kelompok yang terasing). Jadi Firqatun Najiyah berbeda dengan Thaifah Al-Manshurah, demikian pula Al-Ghuraba tidaklah sama dengan keduanya. Suatu pembedaan yang Rasul - pun tidak pernah menerangkan pembagiannya!!

Salman berkata:“Adapun wawasan yang terluas adalah wawasan ber-Islam yang akan menjadi jaminan masuk surga….Setelah itu adalah wawasan Firqoh najiyah sebagai wawasan kedua yang selamat dari bid’ah dan khurafat. Ini lebih khusus dari yang pertama dan mempunyai keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat Islam secara umum… Sedangkan yang ketiga adalah wawasan Thaifah Manshurah yang merupakan inti dari Firqah Najiyah…Thaifah ini adalah kedudukan yang paling tinggi yang hanya diduduki oleh para mukmin sejati…”(Pengertian Firqah Najiyah, hal.12-13, Salman Al-Audah, Penerjemah Agus Hasan Bashari, Pustaka Al-Kautsar, cetk.1- Oktober 1992). Semoga Agus Hasan Bashari belumlah lupa dengan “karya terjemahannya’ yang “nyleneh” ini!! Apakah dia bisa berlepas tangan begitu saja sementara dia terus mendakwakan diri sebagai penyeru dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah?!

Kedua : Perselingkuhannya dengan petinggi-petinggi Ikhwanul Muslimin44 bersama Al-

Sofwa Al-Muntada As-Sururi dan L-DATA Al-Ikhwani

Engkau wahai Agus Hasan (termasuk juga Yazid Jawaz, Mubarak Bamuallim, Aunur Rafiq yang berkoloni-ria dengan petinggi-petinggi Ikhwani) telah mentalbis umat dengan menggunakan transkrip ceramah Syaikh Rabi’. Sekarang kami hadapkan dirimu dengan tulisan Syaikh Rabi’ sendiri terhadap berbagai kesesatan Ikhwanul Muslimin. Beliau berkata :

‘’Adapun Ikhwanul Muslimin, mereka sama halnya dengan Jama’ah Tabligh dalam seluruh bencana-bencana di atas ditambah lagi dengan masuknya Rafidhah, Khawarij, bahkan Nashara dalam jama’ah mereka. Juga ucapan mereka tentang berbilangnya agama dan persaudaraan antar agama.

Doktor At-Turabi –penentu kebijakan mereka- telah mengajak dalam salah satu muktamar yang diadakan di Sudan kepada persatuan agama (lihat Shahifah As-Sudan Al-Hadits, no.1202, tanggal 29 April 1993).

Hasan Makky, salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang paling menonjol juga mengajak untuk menegakkan partai Ibrahimy yang merupakan partai gabungan antara Yahudi, Nashrani dan Muslimin (Lihat Majalah Al-Multaqa, no.4)

Berkata pula Al-Qaradhawi tentang bolehnya berbilangnya agama dan bahwasanya kehidupan ini memungkinkan untuk lebih dari satu agama. Setelah dia mengaburkan perselisihan antar firqah-firqah termasuk di dalamnya Rafidhah dengan kaidah mereka yang sesat « Kita tolong menolong dalam hal yang kita sepakati dan saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan ». Inilah sikap tengah. Sependapat dengannya dalam hal ini adalah Muhammad Al-Ghazali, At- Turabi45 dan Huwaidi. Mereka menamakan pandangan ini dengan Ruh Islam. Inna lillahi wa

inna ilaihi raji’un (lihat Majalah Al-Mujtama’, no.1118 tanggal 21 Rabi’ul Akhir 1415H). Ketiga : Virus Tabayyun Sururiyyin yang dia tularkan kepada anak didiknya

Sebagaimana Abdullah Hadrami Al-Sururi dengan virus tabayyun khas Sururi yang dia propagandakan di CD “taubatnya”:” :"..Karena kalau kita mau jujur, ternyata semuanya sama, ajarannya, kitabnya sama, gurunya sama, semuanya sama. Perpecahan tidak ada, yang ada hanyalah mungkin kesalahpahaman, kesalahpahaman. Mungkin itu terburu-buru menghukumi sebelum tabayyun dan yang lainnya." Demikian pula “virus tabayyun” yang ditanamkan di benak-benak anak asuh saudara semanhajnya, H.Agus Hasan Bashari.

Kita sekalian telah mengetahui kisahnya ketika mendatangkan dan memberikan kehormatan kepada pembesar Jama’ah Tabligh di kota Malang dalam acara pernikahan adiknya di rumahnya Jl. Kumis Kucing Malang. Sekarang akan kita hadapkan kepada para pengekor tatsabut Sururiyyin suatu kejahatan besar yang telah dilakukan oleh Khomeini – laknatullah ‘alaihi- yang menulis:

”Mereka (para Shahabat Nabi) yang tiada lain kecuali dunia yang mereka cari dan haus kekuasaan yang menjadi incaran mereka dan bukanlah Islam dan Qur’an, dimana mereka menjadikan Al-Qur’an semata-mata sebagai alat untuk mewujudkan 44 Acapkali Ikhwanul Muslimin menuduh bahwa Salafiyyin suka menjelek-jelekkan, menghina dan menyesat-nyesatkan

kelompoknya karena Salafiyyin membongkar kesesatan serta penyimpangan aqidah tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin serta kejahatan keji mereka (kudeta, pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan kelompok sempalan ini) yang selama ini terus mereka tutup-tutupi dari pandangan umat dan sebaliknya berusaha sekuat tenaga menampilkan kesan bahwa Ikhwanul Muslimin berjuang untuk membela kaum Muslimin dan menegakkan Syari’at Islam.

Kelompok inipun tak segan-segan melakukan tindakan fisik untuk mewujudkan permusuhannya terhadap dakwah Tauhid dan para da’inya, sebagaimana telah terjadi di beberapa tempat. Diantaranya adalah yang terjadi di Yaman berupa penembakan brutal dan sporadis terhadap sejumlah Ahlus Sunnah di sebuah masjid, yang menyebabkan sebagian mereka (Ahlus Sunnah-peny) terbunuh. Bahkan salah satu tokoh IM di negeri Yaman mengancam Ahlus Sunnah dengan pernyataannya:”Jika seandainya kami memiliki kekuatan, niscaya kami akan memerangi Wahhabiyyin sebelum kami memerangi kaum Komunis”. Hal ini sebagaimana dikisahkan Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i Rahimahullah

dalam beberapa kali ceramah beliau.

Lebih dari itu semua, apa yang telah terjadi di Afghanistan dengan terbunuhnya seorang mujahid Ahlus Sunnah, yaitu Asy-Syaikh Jamilurrahman Rahimahullah. Pembunuhnya adalah salah seorang dari kelompok IM yang dikenal dengan nama Abu ‘Abdillah Ar-Rumi. Dia datang ke Afghanistan membawa kebencian yang sangat besar terhadap Ahlus Sunnah dan menjulukinya dengan Wahhabiyyah (= julukan yang dilemparkan oleh Surkati dan Al-Irsyadnya-peny). Pembunuhan sadis ini terjadi pada hari Jum’at 20 Shafar 1412H/ 30 Agustus 1991M sebelum Syaikh Jamilurrahman berangkat menuju shalat Jum’ah. Pembunuh kejam itu mendatangi beliau sebagai tamu yang hendak memeluknya. Tanpa disangka ternyata orang ini melepaskan tembakan ke arah Syaikh dan tepat mengenai wajah dan kepala beliau! Demikianlah, orang-orang Ikhwanul Muslimin menuduh Salafiyyin suka menjelek-jelekkan kelompok mereka (karena berbagai kesesatannya dibongkar sebagai wujud nyata cemburunya kita kepada Dien ini) dan “sebaliknya” mereka sendiri justru berasal dari gerakan yang menghalalkan darah kaum Muslimin ( tembak, bom, bunuh), ya- tangan, pedang dan senjata api Ikhwanul Muslimin telah berlepotan darah kaum Muslimin!!.

45 Orang inilah yang berkata penuh kesombongan ketika mempromosikan Syirkul Akbar, thawaf di kuburan, dengan

niat-niat mereka yang buruk dan dengan mudah membuat mereka membuang ayat- ayat itu dari Al-Qur’an dan juga membuat mereka mengubah-ubahnya dan mensirnakannya dari pandangan manusia untuk selama-lamanya, sehingga kehinaan terhadap Al-Qur’an dan kaum Muslimin dapat berkelanjutan sampai Hari Kiamat. Tuduhan (perubahan kitab Taurat dan Injil) yang mereka (kaum Muslimin) tuduhkan kepada Yahudi dan Nasrani, sesungguhnya telah menjadi satu ketetapan atas mereka (kaum Muslimin) sendiri” (Kasyful Asrar, Al-Khomeini, hal.114 dalam Fatwa dan Pendirian Ulama Sunni Terhadap Aqidah Syi’ah, M.O Baabdullah, diterbitkan oleh Yayasan Perguruan Al-Irsyad & Perhimpunan Al-Isyad Al-Islamiyyah Surabaya, hal.43-44)

Sungguh tulisan Khomeini di atas adalah salah satu bukti kesesatan dan kekafirannya yang nyata!! (Dan akan kita buktikan dalam uraian selanjutnya bagaimana Ahmad Surkati “welcome” terhadap Syi’ah-Insya Allah). Maka kita tanyakan kepada “para penganut tabayyun Hizby-Sururi” setelah mereka membaca pernyataan kekafiran Khomeini di atas: ”Apakah kalian akan bertanya juga kepada Khomeini alasannya berkata demikian? Apakah Salafiyyin-Ahlus Sunnah tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari ucapan Khomeini Al-Mal’un?! Kalau demikian keadaannya, maka silakan masuk ke dalam kuburnya dan tanyakan langsung (tabayyun ala Hizby) kepada Khomeini Laknatullah agar terjawab pertanyaan kalian itu!!” Allahu yahdiikum.

Dan lihat pula bantahan Syaikh Rabi’ Hafidhahullah terhadap kesesatan Sayyid Quthb dan betapa berbahayanya dia karena virus pengkafiran yang disebarluaskannya sehingga menjadi rujukan fatwa pemikiran-pemikiran Khawarij para teroris pengacau umat ! Bukankah Syaikh menulis kesesatannya ketika Sayyid Quthb sudah mati? Kalian hendak mengatakan bahwa Syaikh Rabi’ tergesa-gesa karena tidak tabayyun dulu kepada mayit Sayyid Quthb – wahai Abdullah Hadrami-? Engkau hendak menipu dan membinasakan para pemuda dengan prinsip tabayyun Sururi yang sebenarnya sudah kuno dan sudah ditinggalkan oleh Sururi seniormu ?! Mereka sudah mentalbis umat dengan trik syubhat yang lebih licik dan engkau masih menggunakan syubhat usang wahai Ustadz Pramuka?! Tunjukkanlah hujjahmu bahwa para ulama Ahlus Sunnah harus tabayyun dulu kepada para penyesat ahlul batil, penipu umat, ahlul bid’ah ataupun Hizbiyyin, sebelum membantah kesesatan-kesesatan ucapan dan tulisannya agar engkau tidak dikatakan sebagai pendusta yang pandir!! Ketika Salafiyyin menunjukkan bukti-bukti ilmiyyah tentang Hizbiyyahnya kelompok Hizbiyyun (dari sumber Hizbiyyun itu sendiri!! Allahu Akbar!) ini maka (karena tidak mampu membantah secara ilmiyyah) mereka mengacung-acungkan kalimat tabayyun kepada Salafiyyin!

Kita tanyakan kepada mereka : Wahai anak buah Al-Muntada Al-Sofwa ! Al-Haramain ! Ihya’ut Turots dan para pembela mereka ! Sekian tahun kalian mampu menegakkan punggung dan berjalan karena dinar Hizbiyyah mereka ! Pernahkah kalian tabayyun terhadap ‘kejahatan’ dinar itu bagi Salafiyyin ? Ataukah kalian memanipulasi kejahatan itu sebagai suatu kemanfaatan dan kemaslahatan dakwah? Ataukah kalian langsung menelannya ? Mana keadilan yang kalian gembar-gemborkan sendiri ? Kalian menutup mata dari fatwa para ulama yang tidak sejalan dengan nafsu dinar Hizbiyyah kalian ! Kalian menutup mata tiada peduli siapa pemilik dinar Hizbiyyah celaka itu! Karena kalau kalian berani –sedikit saja- membuka mata maka kalian langsung berhadapan dengan kenyataan betapa fatwa para Masyayikh Salafiyyin telah menghinadinakan kehizbiyyahan tuan besar dinar Hizbiyyah kalian!! Fatwa yang menyingkap penyesatan dan pecahbelah umat yang bergaya “sinterklas”!!

Politik Stick and Carrot!!

Sodorkan wortel (baca:Dinar Hizbiyyah), setelah mendekat...pukul dengan tongkat (baca:terpecahbelahlah kalian!)!!

“Kalau setiap orang yang berbuat jahat mau berkata jujur, tentulah penjara-penjara di muka bumi ini akan penuh sesak penghuninya!!” Bukankah para penegak hukum tidak perlu bersusah payah menjalankan pekerjaannya? Para penjahat dengan berbagai aliran dan spesialisasi kejahatannya berduyun-duyun mendatangi mereka dan mengakui perbuatannya! Bagaimana mungkin?!

Jelas-jelas di depan mata seseorang telah mencuri, masihkah kita bertanya: “Apakah anda mencuri?”

Jangan salahkan kalau dia menjawab: ”Tidak, saya sedang mencari nafkah untuk anak istri saya!”

Atau ”Enak saja menuduh! Saya cuma mengambil hak orang miskin dari sebagian hartanya!” Betapa kebinasaan telah datang begitu cepatnya. Permainan kotor ini tidak lain kecuali makar yang diarahkan untuk menghancurkan nama baik Syaikh Rabi’ Hafidhahullah, strategi penghancuran kredibilitas Masyayikh Salafiyyin!! Sungguh yang mereka inginkan sebenarnya adalah rifqan Ahlus Sunnah dengan ahlul bid’ah!! Penghancuran secara total dan sistematis

terhadap prinsip-prinsip Al-Wala’ dan Al-Bara’ di dalam Islam , suatu penghancuran yang menyeluruh dan terencana dengan kedok membacakan karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dan ceramah Syaikh Rabi’ bin Hadi!! Rencana busuk yang tidak mungkin Allah biarkan begitu saja tanpa ada yang menjelaskan dan membongkar kekejiannya. Inilah realisasi Hizbiyyun untuk Rifqan dan Mawaddah terhadap kesesatan dan para penyerunya!!

Mereka inginkan agar Ahlus Sunnah bersikap rifqan dan mawaddah terhadap koalisi Hizbiyyah-Ikhwaniyyah yang mereka demonstrasikan tiada malu di depan umat! Ahlus Sunnah harus mawaddah dengan kolaborasi antara Yazid Jawaz-Mubarak Bamu’allim-Abu Ihsan Al- Atsary dengan ‘’Presiden’’ Ikhwani Indonesia (ketika itu) serta Muhammad Yusuf Harun MA, seorang Ikhwani tulen, Direktur L-DATA sekaligus penerjemah Top Al-Muntada Al-Sofwah! Salafiyyin mereka tuntut harus rifqan terhadap kedustaan Abdurrahman At-Tamimi di depan para ulamanya! Ya Subhanallah!! Ini adalah jual beli yang curang! Mereka tuntut agar Salafiyyin bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang sementara Hizbiyyin menetapkan bagi diri-diri mereka untuk bebas berkeliaran mengumbar nafsu Hizbiyyahnya, mengombang-ambingkan umat dengan tipu daya dan kedustaannya, memakan harta Muassasah Hizbiyyah dengan seenaknya, padahal harta tersebut nyata-nyata digunakan untuk memecah belah dakwah Salafiyyah di Indonesia?!! Dan tanpa rasa malu –sedikitpun- mereka katakan untuk membantu kaum Muslimin !

Ingatlah bagaimana Abdurrahman At-Tamimi membela kaki tangan Ihya’ut Turots :”Adapun pondok Imam Bukhari, benar yang anda katakan (menerima dinar Hizbiyyah dari Ihya’-pen), tapi perlu anda ketahui bantuan itu tanpa ada tekanan atau persyaratan apapun”. Dan nyata-nyata At-Tamimi ini membolehkan menerima dana dari organisasi Hizbiyyah sesat itu, simak ucapan selanjutnya: ”Lagipula dana tersebut adalah milik orang Muslimin tanpa meminta-minta di perempatan jalan raya sebagaimana yang pernah mencoreng wajah dakwah Salafiyah di Indonesia” (Lampiran 6, nama file Lampiran 6_Jawaban_Salafindo_EksSalafiorid.jpg). Maka dengan cara ini mereka menggunakan satu anak timbangan untuk menimbang dagangannya sendiri dan anak timbangan lainnya untuk menimbang dagangan orang lain! Apakah ini yang disebut adil?

Kalau Hizbiyyin merasa bebas memakan dinar Hizbiyyah, mengumbar dusta dan menyebarkannya ke seluruh dunia serta berkolaborasi dengan elemen Hizbiyyah lainnya, mengapa Ahlus Sunnah tidak boleh menerangkan kepada umat bahwa itu semua adalah suatu kebatilan dan kemungkaran atas nama agama? Kalau mereka merasa bebas mencoreng- moreng dakwah Salaf dengan semua sepak terjang Hizbiyyahnya, mengapa Salafiyyin tidak boleh menerangkan kepada umat bahwa dakwah Salaf berlepas diri dari itu semua? Salafiyyin berlepas diri dari kesesatan Abubakar Ba’asyir dan jaringan Khawarij N11nya, sementara Hizbiyyin ini melalui salah satu anggota koalisinya yang menjadi penerjemah TOP Al-Muntada Al-Sofwa, Muhammad Yusuf Harun MA dengan L-DATA-nya selain merekomendasikan kaset- kaset seluruh da’i Al-Sofwa seperti Yazid, Abdul Hakim, Agus Bashari, Zaenal Abidin dan kawan-kawannya juga merekomendasikan kaset DR. Rasyid Daud (Staf ahli no.1 LP2SI Alharamain-nya Dr. Hidayat Nur Wahid), kaset Dr.Ahzami Sami’un (sda, staf ahli no.3),serta kaset Abubakar Ba’asyir yang berjudul “Urgensi Syari’at Islam”! (aldakwah.org_iklan_daftarkaset.htm).

Lihatlah betapa kaum Muslimin digiring untuk mengikuti model syari’at ala Jama’atul Jihadnya N11!! Wallahi ini adalah suatu penyesatan secara terang-terangan dan mengerikan!! Dan jaringan Hizbiyyun ini menuntut agar Salafiyyin bersikap rifqan dan mawaddah terhadap berbagai kejahatan seperti di atas?!! Mungkinkah Ahlus Sunnah diam membisu dari serangan sporadis kejahatan Hizbiyyah batalion kemungkaran?! Wallahul musta’an.

BAB XI