BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Jenis-Jenis Metafora Gramatikal
4.2.1.1 Metafora Eksperiensial
Metafora jenis ini adalah jenis yang paling dominan, tersebar di 36 data yang memiliki sebaran unsur yang berbeda-beda. Jenis metafora eksperiensial ini berdasarkan analisis pada buku biologi bilingual tersebut terbagi ke dalam tiga
relokasi yaitu: relokasi pengalaman yang berjumlah 14 klausa, relokasi proses yang berjumlah 10 klausa dan relokasi peringkat pengodean pengalaman berjumlah 12 klausa termasuk di dalamnya nominalisasi.
Bentuk dari jenis metafora ini berdasarkan cakupan relokasi realisasi dalam kategori metafora eksperiensial yang terdapat pada teks terjemahan buku Biologi bilingual tingkat SMA kelas XI adalah sebagai berikut:
a. Relokasi Realisasi Pengalaman
Terdapat 14 klausa yang termasuk di dalam relokasi realisasi pengalaman berdasarkan analisis. Beberapa klausa yang dijadikan contoh dalam merepresentasikan analisis data relokasi realisasi pengalaman adalah klausa yang termasuk ke dalam data yang bernomor 1, 2, 5, 11, 24 dan 27.
Data nomor 1 T1:
The collection of cells that have equal shape and function is called tissue Penanda Proses: relasional Petanda T2:
Kumpulan sel-sel yang
Mempunyai bentuk dan fungsi sama inilah
yang disebut jaringan
Penanda Proses
relasional
Petanda
Pada data nomor 1, T1 menunjukkan kata collection yang pada T2 diterjemahkan menjadi kumpulan. Kata kumpul atau berkumpul yang pada
bentuk lazimnya berfungsi sebagai proses material (verba), pada T2 berubah fungsi menjadi penanda (nomina) yaitu kumpulan. Disini terlihat bahwa terjadi perubahan realisasi tata bahasa dari yang lazim ke dalam realisasi tata bahasa metafora. Secara spesifik juga dapat dilihat bahwa proses berkumpul
dimetaforakan menjadi nomina yaitu kumpulan yang berfungsi sebagai partisipan atau pelaku.
Data nomor 2 T1:
The specialization of these tissues
will produce embryonic tissue layers Aktor Proses: material Gol T2: Spesialisasi dari jaringan ini akan menghasilkan lapisan jaringan embrional
Aktor Proses: material Gol
Pada data nomor 2, T1 menunjukkan bahwa kata specialization
diterjemahkan menjadi spesialisasi pada T2. Secara spesifik dapat dilihat bahwa kata spesialisasi adalah berasal dari kata berspesialisasi yang pada klausa lazim termasuk ke dalam proses (verba). Kata berspesialisasi tersebut kemudian dimetaforakan ke dalam nomina dan berubah menjadi kata spesialisasi yang berfungsi sebagai aktor. Proses metafora tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk dari realisasi lazim ke dalam metafora gramatikal. Perubahan
tersebut disebabkan oleh adanya perubahan fungsi kelas kata dari proses (verba) menjadi aktor (nomina).
Data nomor 5 T1:
The ability of
parenchyma cells
is kept until adult
Penyandang Proses:relasional Sir: rent.waktu
T2:
Kemampuan
membelah sel parenkim
tetap dimiliki sampai dewasa
Penyandang Pro.relasional Sir: rent.waktu
Pada data nomor 5, kata ability pada T1 diterjemahkan menjadi
kemampuan pada T2. Pada dasarnya, kata kemampuan tersebut berasal dari kata
mampu yang pada klausa lazim berfungsi sebagai modalitas. Kata mampu tersebut dimetaforakan ke dalam bentuk nomina yaitu kemampuan sehingga terbentuklah metafora gramatikal yang menyebabkan terjadinya perubahan fungsi pada kelas kata dari modalitas menjadi penyandang yang termasuk pada kelas nomina.
Data nomor 11 T1:
Bones have no ability move by itself Pemilik Proses:posesif Milik Proses:material Sirkumstan
T2:
Tulang tidak mempunyai kemampuan untuk menggerakkan dirinya
Pemilik Proses:posesif Milik Sirkumstan
Pada data nomor 11, T1 menunjukkan bahwa kata ability diterjemahkan menjadi kata kemampuan di T2. Pada dasarnya kata kemampuan tersebut pada klausa lazim adalah kata mampu yang berfungsi sebagai modalitas. Kata tersebut kemudian pada T2 dimetaforakan ke dalam bentuk nomina kemampuan yang berfungsi sebagai milik. Sedangkan kata move pada T1 yang berfungsi sebagai proses (verba), pada T2 berubah fungsi menjadi sirkumstan. Berdasarkan hal tersebut, maka terlihat ada perubahan bentuk struktur gramatikal yang menyebabkan terjadinya metafora karena adanya perubahan fungsi kelas kata antara T1 dan T2.
Data nomor 24 T1:
Exudative arthritis Is disorder in bone that is caused by the inflammation of fluid in the joint Penanda Pro:intensif Petanda
T2:
Artritis eksudatif
adalah kelainan pada tulang yang
disebabkan oleh radang getah dalam sendi
Data nomor 24 ini menunjukkan bahwa kata disebabkan oleh pada T2 adalah berasal dari kata karena yang pada bentuk lazim berfungsi sebagai konjungsi. Kata karena tersebut dimetaforakan dari konjungsi kedalam bentuk grup nomina disebabkan oleh yang berfungsi sebagai petanda. Pada dasarnya, grup nomina yang berupa klausa kelainan pada tulang yang disebabkan oleh radang getah dalam sendi adalah berasal dari klausa lazim yaitu kelainan tulang karena radang disebut artritis eksudatif.
Data nomor 27 T1:
Muscle hypertrophy can be caused by excessive muscle activity such as working and doing sport
Petanda Proses:relasional Penanda
T2:
Hipertrofi otot dapat disebabkan oleh
aktivitas otot yang berlebihan
Petanda Pro.relasional Penanda
Pada data nomor 27 ini T2 menunjukkan bahwa kata dapat disebabkan oleh yang berfungsi sebagai proses (verba) adalah hasil metafora dari kata terjadi sebab yang berfungsi sebagai konjungsi. Kata sebab di sini kemudian diverbakan menjadi disebabkan oleh sehingga terjadi Perubahan fungsi dari konjungsi menjadi proses dengan perealisasian yang tidak lazim.
Kasus serupa yang sama dengan data diatas, dapat ditemukan juga pada data dengan nomor-nomor berikut: 13, 15, 17, 25, 28, 34, 38 dan 39.
b. Relokasi Realisasi Proses
Terdapat 10 klausa yang termasuk kedalam kategori relokasi realisasi proses. Pada hal ini, klausa yang diambil sebagai data untuk dijadikan contoh dalam menganalisis direpresentasikan oleh data yang bernomor 3, 6, 8, 10 dan 30. Data nomor 3
T1:
Plant cells always split to multiply themselves Aktor Sirkumstan Proses:material Sirkumstan:tujuan
T2: Sel-sel tumbuhan selalu mengadakan pembelahan untuk memperbanyak diri
Maujud Sirkumstan Proses:wujud Sir: tujuan
Pada data nomor 3 ini T1 menunjukkan bahwa kata split yang makna lazimnya adalah membelah berfungsi sebagai proses material. Pada T2 ditemukan bahwa proses membelah pada T1 telah dimetaforakan menjadi proses wujud yaitu
mengadakan pembelahan. Kata mengadakan dan kata pembelahan menjadi metafora proses karena kedua kata tersebut direalisasikan secara tidak lazim sehingga terjadi perubahan fungsi. Kesimpulannya adalah proses material yang
lazim digunakan untuk mengodekan kata kerja (verba) dalam klausa digunakan untuk mengodekan maujud (nomina).
Data nomor 6 T1:
Its cell wall can undergo thickening by cellulosa Pengindera Proses:mental Fenomenon Sirkumstan
T2:
Dinding selnya
dapat mengalami penebalan oleh selulosa
Pengindera Pro. Mental Fenomenon Sirkumstan
Pada data nomor 6 ini, proses menebalkan pada klausa lazim yang berfungsi sebagai proses material dimetaforakan menjadi proses mental yaitu
mengalami penebalan. Proses mengalami penebalan menjadi metafora proses karena proses tersebut tidak direalisasikan dalam bentuk yang lazim. Sebagai simpulan adalah proses material yang lazim digunakan untuk mengodekan kata kerja (verba) dalam klausa tetapi pada T2 digunakan untuk mengodekan kegiatan atau aktivitas yang menyangkut indera, kognisi, emosi dan persepsi. Proses mental itu sendiri menyangkut manusia dan biasanya pelakunya adalah manusia walaupun benda yang bukan manusia juga dapat menjadi pelaku dalam proses ini. Dengan demikian klausa yang dikuti oleh proses mental harus memiliki paling sedikit satu partisipan manusia.
Data nomor 8 T1:
Epidermis cells that bare
thickened have a function to protect tissue inside of it
Pengindera Proses: mental
Fenomenon Sirkumstan
T2:
Sel-sel epidermis yang mengalami penebalan berfungsi untuk melindungi jaringan yang ada
disebelah dalam Pengindera Pro.mental Fenomenon Sirkumstan
Pada data nomor 8 ini proses ditebalkan pada T1 dimetaforakan menjadi proses mental yaitu mengalami penebalan. Proses mengalami penebalan
menjadi metafora proses karena proses tersebut tidak berfungsi sebagai proses material lagi, melainkan sebagai proses mental. Proses material yang lazimnya digunakan untuk mengodekan kata kerja (verba) tetapi dalam klausa tersebut direalisasikan untuk mengodekan kegiatan atau aktivitas yang menyangkut indera, kognisi, emosi dan persepsi. Proses mental lazimnya menyangkut manusia, jadi klausa mental harus memiliki paling sedikit satu partisipan manusia.
Data nomor 10 T1:
Endodermis cell wall undergoes Growth
Pengindera Proses: mental Fenomenon
T2:
Dinding sel endodermis
mengalami Pertumbuhan
Pengindera Pro. Mental Fenomenon
Data pada nomor 10 ini juga termasuk metafora proses. Proses tumbuh
yang berfungsi sebagai proses material pada klausa lazim dimetaforakan menjadi proses mental yaitu mengalami pertumbuhan. Dinding sel yang bukan manusia diperlakukan seperti manusia yang dapat merasakan sesuatu dari alat inderanya. Proses mengalami pertumbuhan tersebut berubah menjadi metafora proses karena proses tersebut tidak berfungsi sebagai proses material seperti kata
tumbuh, melainkan sebagai proses mental.
Kasus serupa yang termasuk kedalam kategori relokasi proses juga dapat ditemukan pada data-data yang bernomor 4, 26, 30, 33, 37 dan 40.
c. Relokasi Peringkat Pengodean Pengalaman
Terdapat 12 klausa yang termasuk ke dalam relokasi peringkat pengodean pengalaman. Metafora pada relokasi ini dibagi kedalam bentuk nominalisasi (pemadatan makna) dengan total jumlah keseluruhan sebanyak 3 klausa dan bentuk penurunan grup atu frase menjadi kata dengan total jumlah keseluruhan sebanyak 9 klausa.
• Nominalisasi
Metafora pada bentuk nominalisasi ini berjumlah 3 klausa. Data yang dijadikan contoh dalam menganalisis data pada kategori relokasi peringkat pengodean pengalaman yang nominalisasi direpresentasikan oleh data yang bernomor 7.
Data nomor 7 T1:
Transportation of water and soil salt
is carried through the holes the ends of cells
Penyandang Proses: relasional Sirkumstan
T2:
Pengangkutan air dan garam tanah
melalui lubang-lubang ujung sel
Penyandang Sir.lokasi
Data nomor 7 ini menunjukkan bahwa pada T1 ditemukan ada proses yang menghubungkan nomina dengan sirkumstan yaitu “is carried”. Tetapi pada T2 terjadi proses metafora dalam bentuk nominalisasi disebabkan oleh adanya pemadatan makna pada klausa tersebut dan tidak ditemukan lagi proses yang berfungsi untuk menghubungkan 2 klausa. Akibat dari proses nominalisasi ini, maka pengalaman yang semula merupakan klausa diturunkan ke peringkat grup atau frase, yakni bagian dari klausa. Dengan adanya proses nominalisasi maka dua klausa yang semula masing-masing berdiri sendiri kini dipadu dan dikodekan ke
dalam satu klausa saja. Proses pemadatan makna dan penurunan status ini disebut nominalisasi. Untuk lebih jelasnya lagi, nominalisasi adalah penurunan klausa menjadi grup.
Kasus yang mirip dengan data pada nomor 7, dapat ditemukan juga pada data bernomor 29 dan data nomor 32.
• Penurunan grup atau frase menjadi kata
Metafora dalam bentuk ini berjumlah 9 klausa. Data yang dijadikan contoh dalam menganalisis metafora gramatikal dalam kategori penurunan status direpresentasikan oleh data yang bernomor 9 dan 16.
Data nomor 9 T1:
These root hairs will enlarge the root’s surface
Aktor Proses:material Gol
T2:
Bulu akar ini akan memperluas permukaan akar
Aktor Pro. Material Gol
Pada data nomor 9 ini menunjukkan bahwa pada T2 kata akan
memperluas adalah penurunan satus, dimana makna semula yang dikodekan oleh sejumlah kata (grup atau frase) yaitu kata akan membuat + menjadi luas
dikodekan oleh satu kata saja yaitu kata akan memperluas. Proses penurunan statu tersebut termasuk kedalam kategori relokasi peringkat pengodean pengalaman.
Data temuan yang memiliki kemiripan dengan data nomor 9 adalah data yang ada pada nomor 12, 16, 18, 19, 20, 21, 22 dan 35.