• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Metodologi Penelitian

3.2. Metoda Analisis Data

Analisis data merupakan bagian terpenting dalam analisis ini agar dapat diperoleh informasi yang diinginkan. Analisa menggunakan dua alat analisis yang sesuai dengan tujuan kajian seperti disampaikan pada tabel 3.1.

Tabel 3.1.

Tujuan dan Alat Analisis

3.2.1. Analisis Ketentuan Hukum Normatif Dengan Realitas Implementasi Dalam mengkaji hubungan UU WDP dengan Peraturan Perundang-undangan terkait lainnya menggunakan analisis ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi dimana penelitian hukum dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada. (Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009). Tahapan pertama analisis hukum normatif adalah analisis yang ditujukan untuk mendapatkan hukum obyektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan analisis terhadap masalah hukum. Tahapan kedua analisis hukum normatif adalah analisis yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan kewajiban). Analisis yang dilakukan bersifat deskriptif yaitu menggambarkan gejala-gejala di lingkungan masyarakat terhadap pelaksanaan UU WDP dengan dilakukan pendekatan kualitatif yang merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif.

Di dalam metode analisi hukum normatif, terdapat 3 (tiga) macam bahan pustaka yang dipergunakan yaitu :

1) Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mengikat atau yang membuat orang taat pada hukum seperti peraturan perundang–

No. Tujuan Alat Analisis

1. Mengetahui hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya

analisis ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi

2. Mengetahui efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah

undangan, dan putusan hakim. Bahan hukum primer yang digunakan di dalam analisis: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 37/M-DAG/PER/9/2007 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 jo. Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah.

2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder diartikan sebagai bahan hukum yang tidak mengikat tetapi menjelaskan mengenai bahan hukum primer yang merupakan hasil olahan pendapat atau pikiran para pakar atau ahli yang mempelajari suatu bidang tertentu secara khusus yang akan memberikan petunjuk ke mana peneliti akan mengarah. Yang dimaksud dengan bahan sekunder disini oleh penulis adalah hasil indepth interview yang dilakukan di daerah sampel.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier itu diartikan sebagai bahan hukum lainnya yang dianggap penting dan terkait dengan analisis

Analisis hukum normatif yang dilakukan lebih ditujukan kepada pendekatan undang-undang (statute approach) dan pendekatan implementasi. Pendekatan undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan wajib daftar perusahaan. Pendekatan implementasi dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap cara implementasi dari UU WDP di wilayah sampel.

Tabel 3.2.

Inventarisasi masalah UU WDP menggunakan ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi (era otonomi daerah)

Isi Pasal-Pasal Dalam UU WDP

Selaras/Tidak Dengan Peraturan

Perundang-Undangan Yang Lain

Relevan/Tidak Dengan Berlakunya Otomoni

Daerah

Pasal 1 Selaras/tidak ? Peraturan perundang-udangan apa? Relevan/tidak Pasal 2 Pasal 3 . . . dan seterusnya . . . . dan seterusnya . . . . dan seterusnya

Pasal 39 Selaras/tidak ? Peraturan perundang-udangan apa?

Relevan/Tidak

Dari tabel inventarisasi masalah UU WDP menggunakan ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi (setelah berlakunya otonomi daerah) dihasilkan daftar masalah yang kemudian akan di verifikasi di daerah melalui indepth interview. Hasil verifikasi akan dijadikan salah satu dasar dalam melakukan perumusan masalah dalam analisis berikutnya menggunakan Regulatory Impact Assessment (RIA)

3.2.2. Regulatory Impact Assessment

Untuk menjawab tujuan kedua yaitu mengetahui Efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah di gunakan Regulatory Impact Assessment (RIA) dengan penyederhanaan langkah. Berdasarkan Kajian Ringkas Pengembangan dan Implementasi Metode Regulatory Impact Assessment (RIA) untuk Menilai Kebijakan (Peraturan Dan Non Peraturan) di Kementerian Ppn/Bappenas Tahun 2011, Regulatory Impact Assessment sebagai sebuah logika berfikir tidak dapat diringkas, dalam arti alur berfikir

mulai identifikasi masalah, identifikasi opsi/pilihan, analisis terhadap semua opsi/pilihan hingga penetapan pilihan kebijakan tidak dapat dipotong atau dihilangkan beberapa komponennya. Namun Untuk mempersingkat waktu, dapat dilakukan penyederhanakan event-event yang diselenggarakan dalam proses implementasi metode RIA. Dalam pelaksanaan, beberapa tahapan dalam penerapan metode RIA dapat dilalui dalam satu event, sehingga jumlah komunikasi dengan stakeholder yang diselenggarakan tidak harus sebanyak jumlah tahapan dalam proses implementasi.

Sesuai dengan literatur diatas dalam Analisis Pelaksanaan Wajib Daftar Perusahaan di Era Otonomi Daerah langkah 1) perumusan masalah, 2) Identifikasi tujuan kebijakan dan 3) identifikasi alternative penyelesaian masalah Langkah 4) analisis manfaat dan biaya langkah 6) penentuan opsi terbaik dan langkah 7) perumusan strategi implementasi kebijakan dilakukan dengan secara lengkap namun khusus untuk komunikasi dengan stakeholder untuknya langkah 1,2 dan 3 dilakukan penggabungan dalam satu event komunikasi dengan stakeholder dengan media FGD (FDG ke-1 yang dilakukan di DKI Jakarta). Langkah 4, 6 dan 7 dilakukan penggabungan dalam satu event komunikasi dengan stakeholder dengan media FGD (FDG ke-2 yang dilakukan di DKI Jakarta)

Langkah 1 perumusan masalah, langkah 2 identifikasi tujuan kebijakan dan langkah 3 identifikasi alternative penyelesaian masalah dilakukan dengan melakukan survey ke daerah menggunakan media kuesioner dan panduan depth interview. Hasil dari survey ke daerah kemudian di verifikasi dalam komunikasi dengan stakeholder pada FGD ke-1. Langkah 4 analisis manfaat dan biaya yang menggunakan soft cost-benefit analysis dimana unsur yang terpenting adalah semua biaya (dampak negatif) dan manfaat (dampak positif) yang dirasakan oleh berbagai pihak dapat teridentifikasi tanpa ada keharusan untuk menilainya dalam bentuk uang. Kemudian hasil dari langkah 4 (analisis manfaat dan biaya), langkah 6 (penentuan opsi terbaik) dan langkah 7 (perumusan strategi implementasi kebijakan) digabungkan dalam satu event komunikasi dengan stakeholder dengan media FGD ke 2. Hasil dari perumusan strategi implementasi kebijakan yang telah dikomunikasikan dengan stakeholder dengan media FGD akan dijadikan rekomendasi kebijakan

3.3. Jenis data, sumber data dan metoda pengumpulan data

Dokumen terkait