7. Kemiskinan Rumahtangga
3.5. Metoda Analisis dan Data 1. Sumber dan Jenis Data
3.5.2. Metoda Analisis
Analisis dalam penelitian ini akan mencakup: (a) analisis perubahan antar waktu dan (b) analisis parameter.
a. Analisis Perubahan Antar Waktu
Analisis perubahan antar waktu untuk tipe desa dengan agroekosistem sawah berbasis padi dilakukan antara tahun 2007 dengan tahun 2010. Untuk desa dengan agroekosistem lahan kering berbasis sayuran dan palawija dilakukan antara tahun 2008 dengan tahun 2011, sedangkan untuk desa dengan agroekosistem lahan kering berbasis perkebunan dilakukan antara tahun 2009 dengan tahun 2012 (Tabel 3).
Tabel 3. Perbandingan antar waktu (Resurvey rumahtangga petani) Tahap kegiatan Tipe desa 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Survey dan Resurvey 1. Sawah-Padi V V 2. Lahan Kering – Sayuran V V 3. Lahan Kering- Palawija V V 4. Lahan Kering- Perkebunan V V Validasi data x x x x x x x b. Analisis Parameter
Analisis parameter dilakukan untuk mengetahui besaran dari variabel/indikator tertentu yang telah ditetapkan. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif dan tabulasi. Dalam melakukan analisis data melalui metode statistik deskriptif, digunakan formula sederhana dengan menghitung rata-rata
(mean), tingkat partisipasi (participation rate), struktur atau susunan, dan
29
ketimpangan distribusi pendapatan, tingkat kemiskinan dan sebagainya) dianalisis dengan menggunakan formula yang sudah tersedia.
Metoda penghitungan rata-rata digunakan untuk menganalisis indikator dalam bentuk parameter besaran, misalnya untuk mengetahui tingkat pemilikan/penguasaan lahan per rumah tangga, tingkat produktivitas tenaga kerja sektor pertanian, tingkat pendapatan nominal/riil rumah tangga, tingkat pengeluaran nominal/riil rumah tangga, tingkat konsumsi energi, jumlah penduduk miskin, nilai tukar petani (NTP) dan profitabilitas usahatani. Rata-rata (mean) diformulasikan sebagai berikut:
X =
N xi
... (1)dimana: X = rata-rata (mean), misalnya rata-rata tingkat pemilikan lahan rumah tangga contoh
xi = total besaran variabel yang dianalisis untuk seluruh rumahtangga contohN = total jumlah rumahtangga contoh
Metoda penghitungan tingkat partisipasi digunakan untuk mengetahui persentase jumlah rumahtangga yang terlibat dalam aktivitas ekonomi tertentu, misalnya tingkat partisipasi petani dalam adopsi pupuk organik, tingkat partisipasi rumah tangga dalam konsumsi beras, tingkat partisipasi rumahtangga melakukan migrasi dan sebagainya. Tingkat pasrtisipasi dirumuskan sebagai berikut.
TP =
Nn x 100 % ...(2)
dimana: TP = tingkat partisipasi rumahtangga contoh dalam aktivitas ekonomi (misalnya dalam adopsi teknologi pupuk organik), dalam %
n = banyaknya rumahtangga contoh yang terlibat dalam aktivitas ekonomi
30
Untuk menganalisis indikator dengan bentuk parameter susunan atau struktur, seperti struktur pendapatan rumah tangga menurut sumbernya (pertanian dan non-pertanian), struktur penguasaan lahan menurut jenis lahan (tegal, sawah, kebun, pekarangan), dan struktur pengeluaran rumah tangga menurut jenisnya (pangan dan non-pangan), yang dapat disusun dalam nilai nominal atau persen (pangsa), digunakan formula sebagai berikut,
Pm =
n i ki X 1 /
n i m j ij X 1 1 x 100 %...(3)dimana: Pm = pangsa variabel ke-k terhadap total nilai variabel (misalnya pangsa pendapatan rumahtangga dari sector ke-k (pertanian) terhadap total pendapatan rumahtangga), dalam %
n i ki X 1= nilai variabel ke-k dari seluruh contoh ke-I (i= 1,2,…,n) ((misalnya jumlah pendapatan sector pertanian dari seluruh rumahtangga contoh)
n i m j ij X 1 1= total seluruh nilai variabel ke-j (j=1,2,3,…m) dari seluruh contoh ke-I (misalnya total pendapatan berbagai sumber dari seluruh rumah tangga contoh).
Untuk menganalisis indikator distribusi (sebaran), misalnya distribusi rumah tangga menurut klas pemilikan lahan, distribusi angkatan kerja menurut tingkat pendidikan dan sebagainya, digunakan formula sebagai berikut:
Si =
X xi
x 100% ... (4) dimana: Si = pangsa rumah tangga dalam kelompok variabel ke-i (misalnya
pangsa rumah tamgga dalam klas lahan ke-i (%)
xi = banyaknya rumah tangga dalam kelompok variabel ke-i X = jumlah rumah tangga contoh
Untuk aspek-aspek seperti tingkat konsumsi energi, tingkat produktivitas tenaga kerja sektor pertanian dan tingkat profitabilitas usahatani, ketimpangan
31
distribusi pendapatan, insiden kemiskinan (headcount index, poverty gap index
dan poverty severity index) dilakukan penghitungan dengan menggunakan
formula yang akan diuraikan dibawah ini.
Untuk menghitung kecukupan energi (kalori) rumah tangga pertama-tama dihitung konsumsi kalori rumah tangga per kapita per hari (KR) dengan rumus sebagai berikut:
n iQi
Ki
KR .
... (5a) Tahap berikutnya dihitung kebutuhan kalori rumah tangga per kapita per hari (KBR) dengan formula sebagai berikut:
Ajs Njs
KBR .
... .(5b) Tahap terakhir dihitung tingkat kecukupan konsumsi kalori rumah tangga (TK)dengan rumus sebagai berikut:
100 KBR KR TK ...(5c) dimana: Ki = nilai kalori produk pangan ke-i; i = 1, 2, ...n = produk pangan yang dikonsumsi rumah tangga
Qi = kuantitas konsumsi produk pangan ke-i
Ajs = anggota rumahtangga dengan jenis kelamin ke-j dan kelompok umur
ke-s
Untuk menghitung produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian digunakan rumus sebagai berikut:
AK Y
W ... (6) dimana : W = Produktivitas tenaga kerja rumahtangga di sektor
pertanian
Y
= total pendapatan rumahtangga di sektor pertanian
AK = jumlah anggota rumah tangga (ART) yang bekerja di sektor pertanian
32
= TR – TC ………...(7a) = P.Q – TC ……….. (7b)
dimana: = keuntungan (penerimaan bersih) usahatani TR = penerimaan total/kotor usahatani
P = harga hasil produksi per unit Q = jumlah produksi
TC = total biaya usahatani
Untuk menghitung rasio penerimaan total (TR) terhadap biaya total (TC) digunakan rumus sebagai berikut:
R/C = TR/TC ...(8) Insiden kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula
Foster-Greer-Thorbecke (FGT) Sedangkan formula FGT poverty index dinyatakan sebagai
berikut (Cockburn, 2001).
Pα(y;z) = (α ≥ 0) ... (9)
dimana yi = rata-rata nilai pengeluaran per kapita individu ke i dalam rumah tangga yang sudah diranking berdasarkan tingkat pengeluaran, n = total populasi, q = jumlah populasi, z = batas kemiskinan, sehingga poverty gap ratio
adalah Gi = (z – yi)/z, dimana Gi = 0 pada saat yi > z. Nilai α ada tiga macam, yaitu:
1. Jika α = 0, P0 menyatakan headcount index, merupakan proporsi populasi yang berada dibawah garis kemiskinan. Formula diatas akan menjadi:
P0(y;z) = , atau P0 = q/n. ... (10)
2. Jika α = 1, menunjukkan ukuran poverty gap ratio dimana masing-masing penduduk miskin dibobot berdasarkan jarak relatif mereka dari garis kemiskinan. Formula (10) menjadi:
P1 = 1/n )/z. ... (11)
q i i z y z n 1 1
q i i z y z n 1 0 1
(zyi33
Misalkan besaran P1 = 0.2 artinya total kesenjangan kemiskinan seluruh populasi miskin terhadap garis kemiskinan adalah 20 persen. Sedangkan P1/P0 =1/q )/z adalah rata-rata kesenjangan kemiskinan (poverty gap)
yang dinyatakan sebagai proporsi terhadap garis kemiskinan. 3. Jika α = 2, formula (10) menjadi:
P2(y;z) = ... (12)
Indeks tersebut merupakan ukuran yang sensitif terhadap perubahan pendapatan atau distribusi pendapatan populasi miskin (distributionally sensitive
index). Ukuran ini dinamakan rasio ‘keparahan’ kemiskinan (poverty severity).
Untuk menghitung NTP subsisten digunakan formula sebagai berikut:
QPTi X PBx
NTP i i ... (13)
dimana: HT = harga yang diterima petani HB = harga yang dibayar petani
PTi = harga komoditas i yang diproduksi petani PBx = harga produk yang dibeli petani
Qi = Kuantitas komoditas i yang diproduksi petani Xi = Kuantitas produk yang dibeli petani
Untuk mengukur ketimpangan distribusi pemilikan/penguasaan lahan dominan antar rumah tangga dan ketimpangan distribusi pendapatan antar rumah tangga akan digunakan rumus sebagai berikut [ Glewwe (1986); Adams et.al (1995)]:
G (y) = 2Cov(yi,p(yi))
y ...(14)
dimana G (y) = koefisien gini distribusi pendapatan/lahan milik/lahan garapan rumah tangga
y rata-rata pendapatan/lahan milik/lahan garapan rumah tangga y = total pendapatan/lahan milik/lahan garapan rumah tangga ke i i
(z yi
q i i z y z n 1 2 134
p(yi)urutan pendapatan/lahan milik/lahan garapan rumah tangga , yaitu p = 1 untuk urutan rumah tangga berpendapatan terendah/dengan luas lahan milik terkecil/dengan luas lahan garapan terkecil dan p = n untuk urutan rumah tangga berpendapatan tertinggi/dengan luas lahan milik terluas/dengan luas lahan garapan terluas, dan
n = jumlah populasi rumah tangga yang dianalisa.
Nilai G berada pada selang 0 dan 1. Distribusi pendapatan/pemilikan lahan/penguasaan lahan rumah tangga masuk kategori ketimpangan berat apabila G > 0,5, kategori ketimpangan sedang apabila 0,4 < G < 0,5, dan kategori ketimpangan ringan apabila G < 0,4.
Cara lainnya untuk mengukur derajat ketimpangan pendapatan antar rumah tangga adalah dengan menggunakan konsep Bank Dunia (World Bank). Menurut konsep Bank Dunia apabila 40 persen populasi dengan pendapatan terbawah memiliki pangsa pendapatan kurang dari 12 persen dari total pendapatan seluruh rumah tangga maka distribusi pendapatan rumah tangga masuk kategori ketimpangan berat, apabila pangsa tersebut berkisar antara 12-17 persen masuk kategori ketimpangan sedang, dan apabila pangsa tersebut lebih dari 17 persen masuk kategori ketimpangan ringan.