• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

4.5 Metode Analisis Data

Data dari setiap responden dimasukkan ke dalam computer oleh

peniliti.Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan program komputer.

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) Medan, yang berlokasi di Jalan dr.Mansyur No.5 Medan.

Fakultas Kedokteran USU dibuka pada tanggal 20 Agustus 1952 oleh yayasan Universitas Sumatera Utara, yang berlokasi di Kelurahan Padang Bulan,

Kecamatan Medan Baru. Kampus ini memiliki luas sekitar 122 Ha, dengan zona akademik seluas sekitar 100 Ha yang berada ditengahnya. Fakultas ini memiliki berbagai ruang kelas, ruang administrasi, ruang laboratorium, ruang skills lab, ruang seminar, perpustakaan, kedai mahasiswa, ruang PEMA, ruang POM, kantin, kamar mandi, dan mushola.

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Gejala GERD pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2014 Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

1 Laki-laki 128 47.4

2 Perempuan 142 52.6

Total 270 100.0

Dari tabel 5.1 dapat diketahui bahwa jenis kelamin responden gejala GERD mayoritas perempuan yaitu sebesar 142 orang (52,6%) dan laki-laki sebesar 128 orang (47,4%).

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Gejala GERD pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2014 Berdasarkan Umur

No Umur Frekuensi Persentase (%)

1 <21 Tahun 78 28.9

2 ≥21 Tahun 192 71.1

Total 270 100.0

Dari tabel 5.2 dapat diketahui bahwa mayoritas responden gejala GERD kelompok umur ≥21 tahun yaitu sebanyak 192 orang (71,1%) dan kelompok umur

<21 tahun sebanyak 78 orang (28,9%).

5.1.3. Faktor Risiko

Tabel 5.3. Jawaban Responden Berdasarkan Faktor Risiko

Pertanyaan Tidak Ya Jumlah

f % f % f %

1. Makan tepat pada waktu. 32 11,9% 238 88,1% 270 100%

2. Kebiasaan makan makanan yang

dibuat dengan saus tomat. 225 83,3 45 16,7 270 100%

3. Kebiasaan makan makanan

ringan seperti coklat. 206 76,3 64 23,7 270 100%

4. Kebiasaan minum minuman

berkarbonat. 106 39,3 164 60,7 270 100%

Berdasarkan butir-butir pertanyaan dari hasil wawancara dengan

responden berdasarkan kuesioner tentang gejala GERD yang berisi 10 pertanyaan, diperoleh hasil perhitungan faktor resiko sebagai berikut :

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Faktor Risiko

No Faktor Risiko Frekuensi Persentase (%)

1 Tidak berisiko 163 60.4

2 Berisiko 107 39.6

Total 270 100.0

Dari tabel 5.4 dapat diketahui bahwa mahasiswa Universitas Sumatera Utara mayoritas tidak beresiko mengalami gejala GERD yaitu sebanyak 163 orang (60,4%) dan beresiko mengalami gejala GERD sebanyak 107 orang (39,6%).

5.1.4. Gejala GERD

Tabel 5.5. Jawaban Responden Berdasarkan Gejala GERD Pernyataan di bagian atas dari perut.

Keterangan :

Dikatakan gejala GERD positif apabila skor ≥8 dan Dikatakan gejala GERD negatif apabila skor <8 Diagnosa GERD berdasarkan gejala :

1. Skor gejala positif untuk pertanyaan 1,2 0 hari skor 0

1 hari skor 1 2-3 hari skor 2 4-7 hari skor 3

2. Skor gejala negatif untuk pertanyaan 3,4 0 hari skor 3

1 hari skor 2 2-3 hari skor 1 4-7 hari skor 0

3. Skor dampak GERD untuk pertanyaan 5,6 0 hari skor 0

1 hari skor 1 2-3 hari skor 2 4-7 hari skor 3

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Gejala GERD

No Gejala GERD Frekuensi Persentase (%)

1 Negatif 196 72.6

2 Positif 74 27.4

Total 270 100.0

Dari tabel 5.6 dapat diketahui bahwa mahasiswa Universitas Sumatera Utara mayoritas tidak memiliki gejala GERD yaitu sebanyak 196 orang (72,6%) dan positif sebanyak 74 orang (27,4%).

Tabel 5.7. Jawaban Responden Berdasarkan Faktor Resiko Yang Mempunyai Gejala GERD

Pertanyaan Tidak Ya Jumlah

f % f % f %

1. Makan tepat pada waktu. 7 9,5 67 90,5 74 100%

2. Kebiasaan makan makanan yang

dibuat dengan saus tomat. 61 82,4 13 17,6 74 100%

3. Kebiasaan makan makanan

ringan seperti coklat. 60 81.1 14 18.9 74 100%

4. Kebiasaan minum minuman

berkarbonat. 28 37.8 46 62.2 74 100%

5. Kebiasaan minum kopi. 56 75.7 18 24.3 74 100%

Pertanyaan Tidak Ya Jumlah

Dari jawaban responden berdasarkan faktor resiko GERD di atas dapat diketahui bahwa responden lebih banyak mengkonsumsi minuman berkarbonat sebesar 62,2%, sering minum teh sebesar 64,9%, memiliki kebiasaan merokok sebesar 55,4%, ada kebiasaan minum alkohol sebesar 55,4%, dan ada gastritis sebesar 64,9%.

5.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian profil gejala GERD pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2014 menunjukkan bahwa

mahasiswa Universitas Sumatera Utara mayoritas tidak beresiko mengalami gejala GERD (60,4%) dan juga tidak memiliki gejala GERD (72,6%). Hal ini didukung penelitian Renaldi (2012), yang menyatakan prevalensi GERD di Asia rendah, namun menunjukkan tren yang meningkat, seperti di Hongkong,

prevalensi GERD dilaporkan gejala pertahun sebesar 35% dari populasi pada tahun 2003 berbanding 29,8% pada tahun 2002. Indonesia tidak ada data epidemiologi mengenai GERD. Data dari RSCM menunjukkan peningkatan kejadian GERD pada pasien yang menjalani endoskopi saluran cerna bagian atas yaitu dari 6% pada tahun 1997 menjadi 26% pada tahun 2002. Thailand

berdasarkan adanya gejala heartburn dan regurgitasi, GERD terjadi pada 7%

populasi dalam komunitas (Thai Motility Club, unpublished data). Dan Taiwan prevalensi dan insiden GERD di Taiwan relatif masih rendah yaitu 13% dan 2%.

Jenis kelamin responden mayoritas perempuan yaitu sebanyak 142 orang (52,6%) dan laki-laki sebanyak 128 orang (47,4%) pada kelompok umur ≥21 tahun yaitu sebanyak 192 orang (71,1%) dan kelompok umur <21 tahun sebanyak 78 orang (28,9%). Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa responden diatas umur 21 tahun lebih banyak mengalami gejala GERD. Penelitian ini sejalan dengan pendapat Zou (2011), dimana usia rata-rata pasien GERD 46,3 tahun, dengan rasio perbandingan jenis kelamin laki-laki dan perempuan 1:1. Zou menyatakan prevalensi esophagitis meningkat seiring dengan bertambannya usia.

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunasekaran dkk (2008), dimana sebanyak 1.286 remaja berusia 14-18 tahun memiliki gejala esophagus dengan tingkat prevalensi sebesar 40%. Gunasekaran menyatakan, 18% dari remaja memiliki setidaknya satu gejala esofagus dan terjadi setidaknya sekali dalam satu minggu. Menurut Gunasekaran dari definisi, instrumen, dan

pengukuran gejala GERD yang bervariasi, menunjukkan bahwa gejala GERD sering terjadi pada remaja, dan dampaknya perlu eksplorasi lebih lanjut dan cepat.

Perbedaan ini disebabkan jumlah responden pada penelitian ini lebih kecil dibandingkan responden pada penelitian Gunasekaran. Penelitian ini didukung

oleh penelitian Jiann (2014), dimana dalam penelitiannya Jiann menyatakan bahwa remaja memiliki tingkat prevalensi kumulatif dan selama 3 bulan gejala GERD sebesar 20,5% dan 8,9%. Menurut Jiann studi GERD pada remaja berdasarkan populasi terdiri dari 6 siswa sekolah menengah Seattle, melaporkan prevalensi keseluruhan gejala GERD sebesar 6%.

Prevalensi gejala GERD pada penelitian ini lebih besar dialami pada wanita yaitu sebesar 52,6% dan laki-laki 47,4%. Menurut American College of Gastroenterology (2012) antara laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan insidensi yang begitu jelas, kecuali jika dihubungkan dengan kehamilan dan kemungkinan non-erosive reflux disease lebih terlihat pada wanita. Walaupun perbedaan jenis kelamin bukan menjadi faktor utama dalam perkembangan PRG, namun Barrett’s esophagus lebih sering terjadi pada laki-laki.Mahasiswa biasanya menghadapi GERD disebabkan oleh beberapa faktor yang terutama.Faktor yang paling sering adalah kebiasaan pola makan yang tidak teratur seperti makan makanan yang berlemak dalam kuantiti yang berlebihan dan juga kegemaran makanan ringan. Biasanya mahasiswa pria menghadapi GERD disebabkan oleh kebiasaan merokok.

Dari tabel 5.4 mayoritas responden tidak beresiko mengalami gejala GERD yaitu sebanyak 163 orang (60,4%) dan beresiko mengalami gejala GERD sebanyak 107 orang (39,6%). Responden beresiko GERD dalam penelitian ini memang lebih kecil dibandingkan tidak beresiko. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden tentang faktor resiko gejala GERD berdasarkan pola hidup menunjukkan bahwa responden memiliki kebiasaan makan tidak tepat pada waktunya, sering makan makanan yang dibuat dengan saus tomat, sering makan makanan ringan seperti coklat, mengkonsumsi minuman berkarbonat, minuman berkafein dan beralkohol, responden memiliki kebiasaan merokok, berbaring setelah makan. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang dapat menimbulkan

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Selain beberapa patofisilogi dan hubungan antara beberapa gangguan ini, GERD juga ditandai dengan terjadinya komorbiditas pada pasien yang identik dan oleh epidemiologi perilaku yang serupa diantara mereka (Makmun, 2009).

Penelitian ini didukung pendapat Gunasekaran (2008) yang menyatakan prevalensi GERD secara signifikan lebih tinggi pada perokok dibandingkan bukan perokok. Gunasekaran menemukan bahwa remaja yang pernah merokok memiliki 1,5-1,6 kali lipat kemungkinan lebih tinggi prevalensi kumulatif gejala GERD. Hal ini menunjukkan bahwa merokok lebih mungkin untuk menjadi penentu risiko daripada penanda risiko gejala GERD.

Dari jawaban responden berdasarkan faktor resiko gejala GERD yang ditunjukkan pada tabel 5.7 dapat diketahui bahwa responden memiliki gaya hidup yang buruk. Hal ini ditunjukkan dari sebesar 62,2% responden lebih banyak mengkonsumsi minuman berkarbonat, 64,9% responden sering minum teh dan sebanyak 55,4% responden memiliki kebiasaan minum alkohol dan juga sebesar 64,9% responden ada menderita gastritis. Hal inilah yang dapat menimbulkan meningkatnya produksi asam lambung, melemahnya lower esophageal spincter dan memicu gejala GERD.

Tingginya persentase responden yang memiliki kebiasaan merokok yaitu sebesar 55,4% akan memicu kerusakan pada selaput lendir, meningkatkan sekresi asam, melemahkan lower esophageal spincter serta mengurangi produksi air liur yang memiliki efek menetralkan asam dan memicu gejala GERD.

GERD adalah suatu kondisi kronik yang memerlukan terapi jangka lama.

Pengobatan untuk mengurangi gejala terus menerus kadangkala diperlukan untuk kenyamanan pasien, dan yang menjadi masalah adalah dalam menegakkan diagnosis memerlukan pemeriksaan yang invasif. Walaupun demikian dari

anamnesis gejala klinis tipikal, adanya faktor risiko dan tes PPI dapat menegakkan diagnosis GERD lebih dini sehingga komplikasi dapat dicegah. Penatalaksanaan GERD dapat berupa pengobatan nonfarmakologis seperti mengubah gaya hidup diperlukan dalam penatalaksanaan pasien. Penggunaan PPI diperlukan untuk mengurangi gejala reflux. Untuk pasien yang sudah lanjut mengalami komplikasi penggunaan PPI setiap hari diperlukan.

5.3. Keterbatasan Penelitian

Proses pengambilan data penilaian profil gejala GERD terhadap

mahasiswa Fakultas Kedokteran USU ini dilakukan di sela-sela kegiatan kuliah dan berdasarkan kuesioner yang dikembalikan kepada peneliti, sehingga peneliti tidak mengetahui secara detail bagaimana gejala sebenarnya yang terjadi pada responden.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian profil gejala GERD pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2014 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Jenis kelamin responden mayoritas perempuan yaitu sebanyak 142 orang (52,6%) dan laki-laki sebanyak 128 orang (47,4%)

2. Kelompok umur ≥21 tahun yaitu sebanyak 192 orang (71,1%) dan kelompok umur <21 tahun sebanyak 78 orang (28,9%).

3. Mahasiswa FK-USU mayoritas tidak beresiko mengalami gejala GERDyaitu sebanyak 163 orang (60,4%) dan beresiko mengalami gejala GERD sebanyak 107 orang (39,6%).

4. Mahasiswa FK-USU negatif gejala GERD yaitu sebanyak 196 orang (72,6%) dan positif gejala GERD sebanyak 74 orang (27,4%).

6.2 Saran

Dari hasil penelitian yang didapat, maka muncul beberapa saran dari peneliti yaitu :

1. Disarankan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara untuk memberikan topik kuliah GERD khususnya mengenai faktor risiko penyebab GERD seperti merokok dan pola makan teratur.

2. Meskipun sebagian besar responden tidak berisiko terkena GERD, tetapi sebaiknya petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang GERD bagi pasien GERD yang datang berobat, baik itu pasien yang datang dengan keluhan ringan atau kasus berat yang disertai kelainan endoskopi dan berbagai macam komplikasinya.

3. Diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehari-hari yang lebih sehat, seperti makan tepat pada waktunya, menghindari konsumsi makanan tinggi kolesterol dan lemak yang berlebihan, menghindari mengkonsumsi minuman berkarbonat, berkafein dan

beralkohol yang berlebihan, serta menghentikan kebiasaan merokok, yang dapat memicu terjadinya GERD.

4. Dapat digunakan sebagai panduan dan infomasi kepada peneliti-peneliti selanjutnya yang ingin melakukan peneliti-penelitian tentang gejala GERD.

DAFTAR PUSTAKA

American College of Gastroenterology Digestive Disease Specialists Committed to Quality in Patient Care http://s3.gi.org/patients/cgp/pdf/V1GERD.pdf

Armstrong D, Gittens S, Vakil N. The Montreal consensus and the diagnosis of gastroesophageal reflux disease (GERD): A central American need analysis.

CDDW 2008. Available from URL: http//www.pulsus.com/cddw2008/abs/

195.htm.

Buku Abstrak Gastroenterohepatologi Indonesia, Kongres Nasional XVI PGI-PEGI pekan ilmiah nasional XX PPHI, MANADO, 22-24 AGUSTUS 2013.

Carlsson R, Dent J, Bolling-Sternevald E, Johnsson F, Junghard O, Lauritsen K, etal. The usefulness of a structured questionnaire in the assessment of symptomatic

gastroesophageal reflux disease. Scand J Gastroenterol. 1998;33:1023-9

Danjo A, Yamaguchi K, Fujimoto K, Saitoh T, Inamori M, Ando T, et al. Comparison of endoscopic findings with symptom assessment systems (FSSG and QUEST) for gastroesophageal reflux disease in Japanese centres. J Gastroenterol Hepatol 2009;

24: 633-38.

DeVault KR, Castell DO. Updated guidelines for the diagnosis and treatment of Renaldi, K, Current Approach in Managing GERD Patient, 2012.

Eisen G. The epidemiology of gastroesophageal reflux disease: what we know and what we need to know. Am J Gastroenterol. 2001;96:S16–8. [PubMed]

gastroesophageal reflux disease. Am J Gastroenterol 2005;100:190-200.

Gunasekaran TS, Dahlberg M, Ramesh P, Namachivayam G. Prevalensi and associated features of gastroesophageal reflux symptoms in a Caucasian-predominant adolescent school population. Dig Dis. Sci. 2008

Jiann-Hwa Chen, Hsin-Yaitu Wang. Hans Hsienhong Lin, Chia-Chi Wang, Li-Yu Wang, J.Gastroenterol Hepatol : Prevalence and determinants of Gastroesophageal redlux Symptoms in Adolescents, Medschape Medical Student, 2014

Jones R, Coyne K, Wiklund I. The gastroesophageal disease impact scale : a patient management tool for primary care. Aliment Pharm Ther 2007;25: 1452-9.

Jones R, Junghard O, Dent J, Vakils N, Halling K, Wernersson B, et al. Development of the GERDQ, a tool for the diagnosis and management of gastroesophageal reflux disease in primary care. Aliment Pharmacol Ther 2009;30: 1030-38.

Jung HK. Epidemiology of gastroesophageal reflux disease in Asia : A systematic review. J Neurogastroenterol Motil 2011; 17: 14-27.

Kelompok Studi GERD Indonesia.Konsensus nasional penatalaksanaan penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) di Indonesia

2004.Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia 2004.p.7-17.

Kusano M, Shimoyama Y, Sugimoto S, Kawamura O, Maeda M, Minashi K, et al.

Development and evaluation of FSSG : frequency scale for the symptoms of GERD. J Gastroenterol 2004; 39: 888-91.

Makmun D. Penyakit refluks gastroesofageal. Dalam: Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-5. Jakarta:

Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2009.hal.481-95.

Stanghellini V, Armstrong D, Monnikes H, Bardhans KD. Systematic Review: do we need a new gastro-oesophageal reflux disease questionaire? Aliment Pharmacol Ther 2004; 19: 463-79.

Vakil N, van Zanten SV, Kahrilas P, Dent J, Jones R. Global Consensus Group. The Montreal definition and classification of gastroesophageal reflux disease: a global evidence-based consensus. Am J Gastroenterol.2006;101:1900–20. [PubMed]

Zou D, He J, Ma X, Epidemiology of symptom-defined gastroesophageal reflux disease and reflux esophagitis : the systematic investigation of gastrointestinal diseases in China (SILC). Scand J. Gastroenterol. 2011.

Lampiran 1.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Lizahnthi Selvarajah Tempat/Tanggal Lahir : Johor, 13 Mei 1991

Agama : Hindu

Alamat : Jl. Setia Budi Kompleks Griya Kenanga Raya, Blok D No.3, Medan - 20155

Riwayat Pendidikan : 1. Sekolah Rendah Kebangsaan Canossian Convent, Malaysia

2. Sekolah Menengah Kebangsaan Canossian Convent, Malaysia

3. Mahsa University College

4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Dosen Pembimbing : dr. Imelda Rey, M.Ked (PD), PD

Judul Penelitian : Profil mahasiswa dengan gejala Gastroesofageal Reflux Disease

(GERD) di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2014.

Demikian CV ini saya perbuat dengan sebenarnya.

Medan, 13 Desember 2014

Lizahnthi Selvarajah

Lampiran 2

LEMBAR PENJELESAN KEPADA CALON SUBYEK PENELITIAN Saya yang bernama Lizahnthi Selvarajah adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara akan melakukan penelitian yang berjudul “Profil mahasiswa dengan gejala Gastroesofageal Reflux Disease (GERD) di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2014”. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu kegiatan dalam rangka menyelesaikan proses belajar dan mengajar pada semester ketujuh.

Untuk keperluan tersebut saya memohon kesediaan Bapak/Ibu menjadi responden dalam penelitian ini. Partisipasi Bapak/Ibu dalam penelitian ini bersifat sukarela sehingga Bapak/Ibu bebas mengundurkan diri setiap saat tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Data pribadi dan jawaban yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk penelitian ini. Jika Bapak/Ibu bersedia menjadi subjek penelitian, silahkan menandatangani lembar persetujuan.

Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu menjadi responden dalam penelitian ini saya ucapkan terima kasih.

Medan, ………2014 Peneliti,

(Lizahnthi Selvarajah) 110100422

Lampiran 3

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Umur :

Laki-Laki/Perempuan : Tempat/Tanggal Lahir:

Alamat :

Setelah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian yang akan dilakukan, dengan ini menyatakan SETUJU/MENOLAK untuk ikut serta menjadi subjek penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, bernama Lizahnthi Selvarajah, dengan judul penelitian “Profil mahasiswa dengan gejala Gastroesofageal Reflux Disease (GERD) di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2014”.

Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak akan berakibat buruk terhadap saya dan keluarga saya, kerahasiaan semua infomasi yang diberikan akan dijaga oleh peneliti dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan.

Medan ……… 2014 Subjek Penelitian

Lampiran 4

KUESIONER PENELITIAN

PREVALENSI GERD DALAM KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Semua data yang terdapat pada kuesioner ini akan dirahsiakan dan hanya peneliti yang mengetahuinya. Silakan mengisi pertanyaan yang tersedia dengan member tanda (X) pada huruf yang telah disediakan. Mohon untuk mengisi semua bagian kuesioner ini dengan baik dan jujur. Apabila terdapat bagian yang kurang jelas, silakan menanyakan kepada peniliti.

A. Identitas Responden a. Nama :

b. Jenis kelamin : pria/perempuan c. Umur : tahun

B. Faktor Resiko GERD

1. Apakah anda makan tepat pada waktu tertentu?

a. Ya b. Tidak

2. Apakah anda sering makan makanan yang dibuat dengan saus tomat?

a. Ya, > 3 kali/minggu

b. Tidak sering, ≤ 1 kali/minggu

3. Apakah anda ada kebiasaan makan makanan ringan seperti coklat?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah anda sering minum minuman berkarbonat?

a. Ya, > 3 kali/minggu

b. Tidak sering, ≤ 1 kali/minggu

5. Apakah anda sering minum kopi?

a. Ya, > 3 kali/minggu

b. Tidak sering, ≤ 1 kali/minggu 6. Apakah anda sering minum teh?

a. Ya, > 3 kali/minggu

b. Tidak sering, ≤ 1 kali/minggu 7. Apakah anda ada kebiasaan merokok?

a. Ya b. Tidak

8. Apakah anda ada kebiasan minum alkohol?

a. Ya b. Tidak

9. Adakah anda sering baring setelah makan?

a. Ya, > 4 kali/minggu

b. Tidak sering, ≤ 1 kali/minggu 10. Adakah anda memiliki gastritis?

a. Ya b. Tidak

Lampiran 5

Kuesioner GerdQ versi bahasa Indonesia

Pertanyaan Skor Frekuensi (Poin)

untuk gejala

0 1 2-3 4-7 hari hari hari hari 1. Seberapa sering anda merasakan 0 1 2 3

perasaan seperti terbakar/panas di dada anda?

2. Seberapa sering anda merasakan isi 0 1 2 3 perut/lambung anda (makanan atau

minuman) naik ke tenggorokan atau ke mulut?

3. Seberapa sering anda merasakan sakit/ 3 2 1 0 nyeri di bagian tengah atau di bagian

atas dari perut anda?

4. Seberapa sering anda merasa mual? 3 2 1 0

5. Seberapa sering anda mengalami 0 1 2 3 kesulitan untuk tidur nyenyak karena

keluhan seperti pada dan/atau no.2 di atas?

6. Seberapa sering anda mengkonsumsi/ 0 1 2 3 memakan obat tambahan lainnya untuk

keluhan-keluhan No.1 dan/atau No.2 di atas,selain dari obat yang dianjurkan oleh dokter?(misalnya Antasida, Ranitidin, dll)

Dokumen terkait