• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Analisis Data

Dalam dokumen TESIS. Oleh : PATAR L.H. LUMBANRAJA /IKM (Halaman 67-0)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.7. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan 3 tahapan analisis yaitu analisis univariat, bivariat, dan multivariat.

a. Analisis Univariat

Analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti

dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase masing-masing kelompok dalam skala nominal dan ordinal disertai dengan narasi.

b. Analisis Bivariat

Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat adalah uji statistik chi square (x2). Apabila dalam penelitian ini menunjukkan ada hubungan, maka untuk mencari pengaruh dapat diteruskan, apabila menunjukkan tidak ada hubungan, maka analisis pengaruh tidak dapat diteruskan.

c. Analisis Multivariat

Analisis ini dilakukan untuk melihat pengaruh antara dua variabel atau lebih, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Uji statistik yang akan digunakan adalah regresi logistik ganda dengan model (Budiarto,2002) sebagai berikut :

p(x)= (z)

1

1

+ e

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Balai Yasa Pulubrayan adalah satuan organisasi di lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang berada di bawah Divisi Regional I Sumatera Utara di Medan dan berkedudukan di Pulubrayan. Unit ini mempunyai tugas pokok merencanakan dan melaksanakan program pemeliharaan dan perbaikan lokomotif, Kereta Rel Diesel (KRD), kereta, gerbong, dan fasilitas kerja, pengendalian dan evaluasi kinerja serta menjamin kualitas hasil pemeliharaan dan perbaikan, melaksanakan pembinaan administrasi sumber daya manusia (SDM), kerumahtanggaan dan umum, administrasi keuangan, serta administrasi logistik.

UPT Balai Yasa Pulubrayan dibagi dalam beberapa bagian yakni bagian administrasi, logistik, perencanaan, produksi dan quality control. Unit produksi terdiri dari :

a. Golongan lokomotif dan KRD bertugas untuk pemeliharaan dan perbaikan motor diesel dan turbo, charger lokomotif dan KRD, body, bogie, dan alat bantu (auxiliary).

b. Golongan Kereta bertugas untuk pemeliharaan dan perbaikan bagian atas (interior dan eksterior), bogie kereta, rangka dasar alat tolak tarik dan peralatan rem.

c. Golongan Gerbong bertugas untuk pemeliharaan dan perbaikan dinding, lantai, pintu, peralatan rem dan rangka dasar alat tolak tarik, pengecatan, pengereman dan bogie set.

d. Golongan Logam bertugas untuk pelaksanaan garapan logam bersudip/logam dingin (pembubutan), perakitan, revisi dan rekondisi suku cadang, logam panas (pengecoran dan pengelasan).

4.2. Karakteristik Responden

Semua responden dalam penelitian ini adalah laki-laki, kemudian responden dikelompokkan berdasarkan kelompok umur jumlah terbesar adalah 33-38 tahun sebanyak 14 orang (33,3%), kelompok umur jumlah terkecil adalah 27-32 tahun sebanyak 2 orang (4,8%), dapat dilihat pada tabel 4.1 :

Tabel 4.1. Distribusi Umur pada Pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Umur f %

4.3. Analisis Univariat 4.3.1. Intensitas Kebisingan

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan, diperoleh hasil intensitas kebisingan responden paling banyak adalah kategori tidak sesuai dengan NAB yakni sebanyak 23 orang (54,8%) dan paling sedikit adalah kategori sesuai dengan NAB yakni sebanyak 19 orang (45,2%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.2. Distribusi Intensitas Kebisingan pada Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Intensitas Kebisingan f %

1 Tidak sesuai NAB 23 54,8

2 Sesuai NAB 19 45,2

Jumlah 42 100,0

4.3.2. Frekuensi Kebisingan

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan, diperoleh hasil frekuensi kebisingan responden paling banyak adalah kategori ≥ 2000 -3000 Hz yakni sebanyak 23 orang (54,8%) dan paling sedikit adalah kategori 500-<2000 Hz yakni sebanyak 19 orang (45,2%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Kebisingan pada Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Frekuensi Kebisingan f %

1 ≥2000-3000 Hz 23 54,8

2 500- < 2000 Hz 19 45,2

42 100,0

4.3.3. Periode Pemaparan Perhari

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan, diperoleh hasil periode pemaparan perhari responden paling banyak adalah kategori < 8 jam/hari yakni sebanyak 25 orang (59,5%) dan paling sedikit adalah kategori > 8 jam/hari yakni sebanyak 17 orang (40,5%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.4. Distribusi Periode Pemaparan Perhari pada Pekerja di Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Periode Pemaparan Perhari F %

1 > 8 jam/hari 17 40,5

2 < 8 jam/hari 25 59,5

Jumlah 42 100,0

4.3.4. Masa Kerja

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan, diperoleh hasil masa kerja diperoleh bahwa sebagian besar responden adalah dengan lama kerja > 10 tahun yakni sebanyak 30 orang (71,4%) dan jumlah paling sedikit adalah kelompok ≤ 10 tahun sebanyak 12 orang (28,6%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.5. Distribusi Masa Kerja pada Pekerja di Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Masa Kerja f %

1 ≤ 10 tahun 12 28,6

2 > 10 tahun 30 71,4

Jumlah 42 100

4.3.5. Penggunaan APD

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan, diperoleh hasil penggunaan APD responden paling banyak adalah kategori pakai APD yakni sebanyak 23 orang (54,8%) dan paling sedikit adalah kategori tidak pakai APD yakni sebanyak 19 orang (45,2%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.6. Distribusi Pengguaan APD pada Pekerja di Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Penggunaan APD f %

1 Tidak Pakai 19 45,2

2 Pakai 23 54,8

Jumlah 42 100,0

4.3.6. Ketulian Akibat Bising (NIHL)

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan, diperoleh hasil ketulian akibat bising responden paling banyak adalah kategori normal atau diluar NIHL yakni sebanyak 35 orang (83,3%) dan paling sedikit adalah kategori NIHL yakni sebanyak 7 orang (16,7%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.7. Distribusi Ketulian Akibat Bising pada Pekerja di Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Ketulian Akibat Bising f %

1 Tuli (NIHL) 7 16,7

2 Normal 35 83,3

Jumlah 42 100,0

4.4. Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan variabel faktor intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan, periode pemaparan perhari, masa kerja dan penggunaan APD dengan ketulian akibat kerja dilihat pada dibawah ini :

4.4.1. Hubungan Intesitas Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising

Untuk melihat hubungan intensitas kebisingan dengan ketulian akibat bising dapat dilihat pada tabel 4.8 :

Tabel 4.8. Hubungan Intesitas Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Intensitas Kebisingan

Ketulian Akibat Bising

Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis hubungan antara intensitas kebisingan dengan ketulian akibat bising pekerja diperoleh bahwa ada sebanyak 7 dari 23 orang (30,4%) dengan intensitas kebisingan kategori tidak sesuai NAB kejadian NIHL.

Sedangkan diantara pekerja dengan intensitas kebisingan kategori sesuai NAB tidak ada (0%) kejadian NIHL. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p=0,011 < 0,05 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kejadian NIHL antara pekerja dengan intensitas kebisingan kategori tidak sesuai NAB dengan intensitas kebisingan

kategori sesuai NAB (ada hubungan intensitas kebisingan dengan ketulian akibat bising pekerja).

4.4.2. Hubungan Frekuensi Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising

Untuk melihat hubungan frekuensi kebisingan dengan ketulian akibat bising dapat dilihat pada tabel 4.9 :

Tabel 4.9. Hubungan Frekuensi Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Frekuensi Kebisingan

Ketulian Akibat Bising

Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis hubungan antara frekuensi kebisingan dengan ketulian akibat bising pekerja diperoleh bahwa ada sebanyak 7 dari 23 orang (30,4%) dengan frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000-3000 Hz kejadian NIHL.

Sedangkan diantara pekerja dengan frekuensi kebisingan kategori 500-<2000 Hz tidak terdapat kejadian NIHL. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p=0,011

< 0,05 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kejadian NIHL antara pekerja dengan frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000-3000 Hz dengan frekuensi kebisingan kategori 500 < 2000 Hz (ada hubungan frekuensi kebisingan dengan ketulian akibat bising pekerja).

4.4.3. Hubungan Periode Pemaparan Perhari dengan Ketulian Akibat Bising Untuk melihat hubungan periode pemaparan dengan ketulian akibat kerja dapat dilihat pada tabel 4.10:

Tabel 4.10. Hubungan Periode Pemaparan Perhari dengan Ketulian Akibat Bising pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Periode Pemaparan

Ketulian Akibat Bising

Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis hubungan antara periode pemaparan perhari dengan ketulian akibat bising pekerja diperoleh bahwa ada sebanyak 6 dari 20 orang (30,0%) dengan periode pemaparan perhari kategori ≥ 8 jam/hari kejadian NIHL. Sedangkan diantara pekerja dengan periode pemaparan perhari kategori < 8 jam/hari ada 1 dari 22 orang (4,5%) kejadian NIHL. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p=0,041 < 0,05 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kejadian NIHL antara pekerja dengan periode pemaparan perhari kategori kategori ≥ 8 jam/hari kejadian NIHL dengan < 8 jam/hari kategori sesuai NAB (ada hubungan periode pemaparan perhari dengan ketulian akibat bising pekerja).

4.4.4. Hubungan Masa Kerja dengan Ketulian Akibat Bising

Untuk melihat hubungan masa kerja dengan ketulian akibat bising dapat dilihat pada tabel 4.11:

Tabel 4.11. Hubungan Masa Kerja dengan Ketulian Akibat Bising pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Masa Kerja

Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis hubungan antara masa kerja dengan ketulian akibat bising pekerja diperoleh bahwa ada sebanyak 1 dari 12 orang (8,3%) dengan masa kerja kategori ≤ 10 tahun kejadian NIHL. Sedangkan diantara masa kerja kategori > 10 tahun ada 6 dari 30 orang (20,0%) kejadian NIHL. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p=0,651 > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi kejadian NIHL antara masa kerja dengan kategori ≤ 10 tahun dan

> 10 tahun (tidak ada hubungan periode pemaparan dengan ketulian akibat bising pekerja).

4.4.5. Hubungan Penggunaan APD dengan Ketulian Akibat Bising

Untuk melihat hubungan penggunaan APD dengan ketulian akibat bising dapat dilihat pada tabel 4.12:

Tabel 4.12. Hubungan Penggunaan APD dengan Ketulian Akibat Bising pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

No Penggunaan APD

Ketulian Akibat Bising

Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis hubungan antara penggunaan APD dengan ketulian akibat bising pekerja diperoleh bahwa ada sebanyak 6 dari 19 orang (31,6%) yang tidak pakai APD mengalami kejadian NIHL. Sedangkan untuk pekerja yang menggunakan APD terdapat 1 dari 23 orang (4,3%) mengalami kejadian NIHL.

Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p=0,034 < 0,05 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kejadian NIHL antara pekerja dengan penggunaan APD kategori tidak memakai dengan memakai APD (ada hubungan penggunaan APD dengan ketulian akibat bising pekerja).

4.5. Analisis Multivariat

Berdasarkan hasil uji chi-squre diketahui 4 variabel (empat variabel) yaitu intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan, periode pemaparan perhari, dan

penggunaan APD, maka dapat dimasukkan dalam analisis multivariat karena nilai pada bivariat dengan binary logistik hasil output, pada tabel block 1 didapatkan hasil omnibus test pada bagian bloc dengan p value nya <0,25 sehingga 4 (empat) variabel dapat dilanjutkan ke analisis multivariat. Analisis multivariat merupakan analisis untuk mengetahui pengaruh variabel independen (intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan, periode pemaparan perhari dan penggunaan APD) terhadap variabel dependen (ketulian akibat bising) dengan serta mengetahui variabel dominan yang memengaruhi dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Berdasarkan hasil uji regresi logistik ganda diperoleh bahwa variabel periode pemaparan perhari dan penggunaan APD diperoleh bahwa nilai p < 0,05 maka variabel tersebut berpengaruh terhadap kejadian ketulian akibat bising, variabel intensitas kebisingan dan frekuensi kebisingan terdapat nilai p>0,05 artinya variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap kejadian ketulian akibat bising.

Untuk melihat pengaruh periode pemaparan perhari dan penggunaan APD terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia dapat dilihat pada Tabel 4.13 :

Tabel 4.13. Hasil Uji Regresi Variabel Pengaruh Kebisingan terhadap Ketulian Akibat Bising

Dari hasil analisis regresi logistik ganda dihasilkan probabilitas ketulian akibat bising, sehingga sebagai persamaan akhir untuk probabilitas ketulian akibat kerja adalah :

p(x)= (-2,633periodepemaparan perhari 2,386penggunaanAPD)

1

1

+ e

Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa variabel periode pemarapan perhari dan penggunaan APD memiliki nilai p-value < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa periode pemaparan perhari dan penggunaan APD memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketulian akibat bising pada pekerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan.

Berdasarkan nilai coefisient β, diperoleh nilai coefisient β dari variabel periode pemaparan perhari sebesar -2,633 dan nilai coefisient β dari penggunaan APD sebesar -2,386, ini menunjukkan bahwa periode pemaparan perhari dan penggunaan APD memiliki arah pengaruh negatif terhadap ketulian akibat bising. Variabel penggunaan APD memiliki nilai koefisien (OR/Exp β) sebesar 0,92 menunjukkan bahwa variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi ketulian akibat bising. Artinya peluang pekerja dengan penggunaan APD 0,92 kali lebih besar tidak memiliki ketulian akibat bising dibanding dengan pekerja yang tidak menggunakan APD.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Pengaruh Intensitas Kebisingan (Sound Pressure Level) terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel intensitas kebisingan (sound pressure level) ditemukan intensitas kategori tidak sesuai NAB dengan persentase kejadian tuli sebesar 30,4%. Uji statistik menunjukkan variabel intensitas kebisingan tidak berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi intensitas kebisingan tidak sesuai NAB tidak meningkatkan kejadian ketulian pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Hal ini bukan berarti bahwa intensitas kebisingan pada unit produksi pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia tidak perlu diperhatikan, namun intensitas kebisingan membutuhkan waktu yang cukup lama terpajan (10-15 tahun) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ corti sampai terjadi destruksi total organ corti. Proses ini belum jelas terjadinya, tetapi mungkin karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler sehingga terjadi kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ corti. Akibatnya terjadi kehilangan pendengaran yang permanen. Hal ini dapat dilihat bahwa masa kerja tenga kerja ada sebesar 28,6% yang bekerja ≤ 10 tahun. Selain itu jam kerja setiap hari para pekerja

lebih banyak < 8 jam/hari yaitu sebesar 59,5%. Menurut peneliti keadaa ini yang mengakibatkan intensitas kebisingan tidak berpengaruh terhadap ketulian akibat bising pada pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT.

Kereta Api Indonesia.

Hal ini tidak sejalan dengan Roestam (2004) bahwa efek kebisingan pada pendengaran adalah gangguan paling serius dapat menyebabkan ketulian. Ketulian bersifat progresif, pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising, namun bila terus menerus bekerja di tempat bising, daya dengar akan hilang secara permanen dan tidak akan pulih kembali.

Menurut Soetirto (1990) bahwa secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang intensitasnya 85 dB(A) atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran corti pada telinga dalam. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan biasanya terjadi pada kedua telinga. Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar bising, kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian. Hal ini sesuai penelitian Umeda (2011) pada penelitiannya di PT Atmindo Medan menemukan ada 7 lokasi pada bagian proses yang memiliki nilai ambang batas kebisingan di atas 85dB(A), berkisar di antara 86-90 dB(A). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa intensitas bising, frekuensi bising, masa kerja, alat pelindung diri dan umur memengaruhi penurunan daya dengar telinga kanan dan kiri pekerja secara signifikan.

Pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa tempat intensitas kebisingan kerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia diperoleh dengan intensitas kebisingan dengan kategori tidak sesuai NAB sebesar 54,8%, yang berarti intensitas kebisingan tempat kerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia tergolong tinggi, untuk itu perlu perhatian pada pengelola PT. Kereta Api Indonesia untuk memperhatikan intensitas kebisingan tempat kerja mekanik. Sesungguhnya bahwa bahaya bising yang timbul di tempat kerja dapat dikenali dengan cara sederhana dengan menggunakan rekasi fisiologis atau keluhan subjektif dari tenaga kerja.

Hal ini sesuai menurut Soeripto (2008), bahwa tempat kerja yang memiliki pajanan bising ≥ 85 dB(A), diwajibkan melaksanakan program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat bising bagi para pekerjanya dengan mengindentifikasi sumber bising ditempat kerja, upaya mengurangi intensitas bising, melindungi penerima bising dengan alat pelindung diri, bila pajanan bising tidak dapat dihindarkan dan melaksanakan tes pendengaran awal kerja (baseline hearing test) dan dilanjutkan tes pendengaran periodik, untuk mengevaluasi efektivitas hearing conservation program.

Pada penelitian ini, pekerja yang terpajan dengan intensitas kebisingan tidak sesuai NAB lebih banyak dengan pendengaran normal atau diluar NIHL. Hal ini disebabkan karena pekerja melaksanakan program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat bising. Selain itu diasumsikan bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia bahwa para pekerja di tempat ini bekerja dalam kondisi kerja dengan derajat kebisingan yang aman.

Intensitas kebisingan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi ketulian seseorang pekerja, mereka yang yang terpajan dengan intensitas kebisingan yang tidak sesuai NAB mempunyai peluang lebih besar kejadian NIHL dibandingkan dengan pekerja yang terpajan dengan intensitas kebisingan yang sesuai NAB.

Intensitas kebisingan yang tidak sesuai NAB yang semakin meningkat menjadi penyebab utama responden dengan kejadian NIHL.

Hal ini sesuai dengan penelitian Husdiani (2008) dalam penelitiannya di Manufacturing Workshop PT. X di Medan menyimpulkan daerah tersebut memiliki tingkat intensitas kebisingan 75% melebihi NAB, pekerja mendapatkan dosis bising berlebih adalah 85%, hasil audiometri mendapatkan bahwa 40% pekerja mengalami NIHL.

5.2. Pengaruh Frekuensi Kebisingan terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel frekuensi kebisingan ditemukan frekuensi kategori ≥ 2000 -3000 Hz dengan persentase kejadian tuli akibat bising sebesar 30,4%. Uji statistik menunjukkan variabel frekuensi kebisingan tidak berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000 -3000 Hz tidak meningkatkan kejadian ketulian pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia. Hal ini bukan berarti bahwa frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000 -3000 Hz pada unit produksi pekerja

bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia tidak perlu diperhatikan, namun kejadian NIHL terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi pada frekuensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan. Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan.

Pekerja yang terpajan di unit produksi pekerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia dengan frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000-3000 Hz lebih banyak dengan pendengaran normal atau diluar NIHL. Hal ini disebabkan karena pekerja melaksanakan program perlindungan terhadap bahaya ketulian akibat bising. Selain itu diasumsikan bahwa proses ketulian bersifat lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh pekerja, sesuai dengan penelitian yang peneliti lakukan bahwa sebagian besar pekerja tidak memiliki keluhan apapun pada telinga.

Hal ini sejalan menurut May Jhon (2000), bahwa pada audiometri diagnosis NIHL ditunjukkan adanya penurunan pendengaran pada frekuensi antara 2000-3000 Hz dan merupakan proses yang lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh para pekerja. Apabila bising dengan intensitas tinggi tersebut terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akhirnya pengaruh penurunan pendengaran, pada saat itu pekerja mulai merasakan ketulian karena tidak dapat mendengar pembicaraan sekitarnya.

Menurut Soetirto (2001), Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz. Dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10-15 tahun.

Ketulian timbul secara bertahap dalam jangka waktu bertahun-tahun, yang biasanya terjadi dalam 8-10 tahun pertama paparan.

5.3. Pengaruh Periode Pemaparan Perhari terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel periode pemaparan perhari ditemukan kategori ≥ 8 jam /hari dengan persentase kejadian tuli sebesar 30%. Uji statistik menunjukkan variabel periode pemaparan berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi periode pemaparan kategori ≥ 8 jam/hari meningkatkan kejadian ketulian akibat bising pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Hal ini sejalan dengan Laras Dyah (2001) bahwa intensitas bunyi di kawasan home industri knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor di atas NAB yaitu 105 dB(A) dengan lama masa kerja > 8 jam. Waktu kerja lebih yaitu pukul 07.30 WIB sampai dengan pukul 15.30 WIB. Hasil pengukuran intensitas bunyi di kawasan home industry knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor melebihi NAB yaitu melebihi 100 dB (A) dengan lama kerja 8 jam.

Pekerja di unit produksi bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia masih banyak yang bekerja ≥ 8 jam/hari, keadaan ini perlu diperhatikan oleh pihak pengelola unit produksi bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia untuk menghindari keadaan

Pekerja di unit produksi bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia masih banyak yang bekerja ≥ 8 jam/hari, keadaan ini perlu diperhatikan oleh pihak pengelola unit produksi bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia untuk menghindari keadaan

Dalam dokumen TESIS. Oleh : PATAR L.H. LUMBANRAJA /IKM (Halaman 67-0)