• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4 Metode Analisis Data

Untuk mengetahui karakteristik peternak sapi dan tatalaksana ternak sapi, dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan peternak sapi, menggunakan kuesioner yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

untuk mengetahui berapa besar proporsi pendapatan usaha ternak sapi terhadap pendapatan total keluarga yang disebut dengan kontribusi pendapatan keluarga digunakan alat analisis dengan menggunakan metode analisis proporsi.

Analisis proporsi ditentukan dengan menggunakan Rumus dari Tan (1977), yaitu:

x 100%

Dimana :

Y = Proporsi pendapatan/ kontribusi pendapatan

A = Jumlah pendapatan usaha ternak sapi

B = Pendapatan rumahtangga peternak (Pendapatan Total Keluarga) i = 1,2,3,...n

Keterangan, dengan ketentuan apabila :

Kontribusi Pendapatan Usaha ternak sapi > 50% Kontribusinya besar Kontribusi Pendapatan Usaha ternak sapi < 50% Kontribusinya rendah

Pendapatan total keluarga petani diperoleh dengan menjumlahkan pendapatan usahatani dan pendapatan non usahatani baik yang berasal dari sektor pertanian maupun sektor non pertanian.

Menurut Soekartawi (1995), penerimaan dalam usahaternak merupakan perkalian antara produksi fisik dengan harga jual atau harga produksi. Sedangkan menurut Boediono (1998), penerimaan total (total revenue) adalah penerimaan produsen dari hasil penjualan output-nya. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

TR = Q x P Keterangan:

TR = Total Revenue (Penerimaan total) (Rp)

Q = Quantity (Jumlah produksi yang dihasilkan) (kg) P = price (Harga) (Rp)

Pengeluaran yang dikeluarkan oleh peternak dalam satu kali masa tanam terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan oleh peternak yang tidak tergantung pada besarnya output yang dihasilkan.Biaya variabel diartikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi

oleh output yang dihasilkan. Kedua biaya tersebut jika dijumlahkan akan menghasilkan biaya total.

Untuk menghitung seluruh biaya digunakan rumus : TC = FC + VC Dimana :

TC = Total cost (Total Biaya) (Rp) FC = Fixed Cost (Biaya Tetap) (Rp) VC = Variabel Cost (Biaya Variabel) (Rp)

Pendapatan bersih (keuntungan) peternak adalah selisih antara total penerimaan (TR) dengan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak dalam satu kali masa tanam (TC). Untuk menghitung jumlah pendapatan peternak digunakan rumus :

π = TR –TC Dimana:

π = profit (Pendapatan ternak sapi potong) (Rp) TR = Total Revenue (Penerimaan Total) (Rp) TC = Total Cost (Total Biaya) (Rp)

Pendapatan peternak sapi potong dapat dilihat dari hasil produksi daging yang kemudian di jual sehingga menghasilkan keuntungan bersih.

Pendapatan peternak dinyatakan lebih besar apabila usahaternak yang dilakukan efisien, dalam artian penggunaan faktor produksi menggunakan biaya minimal untuk menghasilkan produksi sapi yang maksimal. Karena keberhasilan peternak tidak hanya diukur dari besarnya hasil produksi, akan tetapi juga dilihat dari besarnya biaya dalam proses proses selama produksi berlangsung. Hal ini

dikarenakan dalam proses produksi sangat menentukan pendapatan bersih peternak. Keuntungan merupakan insentif bagi peternak untuk melakukan proses produksi. Keuntungan inilah yang mengarahkan peternak untuk mengalokasikan sumberdaya ke proses produksi tertentu. Peternak bertujuan untuk memaksimumkan keuntungan dengan kendala yang dihadapi (Sunaryo, 2001).

Untuk tujuan ketiga, yaitu untuk mengetahui hambatan-hambatan teknis usaha ternak sapi dalam upaya peningkatan produktivitas dijelaskan secara deskriptif sesuai dengan keadaan yang ada di daerah penelitian.

3.5 Defenisi dan Batasan Oprasional

Untik memperjelas dan menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut :

3.5.1 Defenisi

1. Usaha ternak sapi adalah kegiatan membudidayakan sapi dengan mengerahkan tenaga dan pikiran untuk menghasilkan daging, susu dan kulit.

2. Produktivitas adalah merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan di manfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal.

3. Penerimaan adalah perkalian antara produksi fisik dengan harga jual atau harga produksi.

4. Harga adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa.

5. Output adalah barang atau jasa yang dihasilkan dari suatu proses produksi.

6. Input adalah barang atau jasa yang digunakann sebagai masukan pada suatu proses produksi.

7. Hambatan adalah usaha yang berasal dari dalam dengan tujuan untuk melemahkan/menghalangi secara tidak konsepsional (tidak terarah).

8. Pendapatan usaha ternak sapi adalah selisih antara total penerimaan usaha ternak sapi dengan pengeluaran usaha ternak sapi (biaya variabel ditambah biaya tetap) dalam waktu tertentu.

9. Biaya variabel adalah biaya yang di keluarkan untuk membeli barang dan jasa yang digunakan dalam usaha ternak sapi. Besarnya dipengaruhi oleh jumlah sapi yang dipelihara dalam satu tahun dan habis dipakai selama satu tahun, seperti pakan, obat-obatan, perlengkapan dan tenaga kerja keluarga.

10. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang yang digunakan dalam usaha ternak sapi. Besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah sapi yang dipelihara dan tidak habis penggunaannya selama satu tahun, seperti penyusutan ternak, penyusutan peralatan dan penyusutan kandang.

11. Penyusutan adalah penurunan nilai iventaris yang disebabkan oleh pemakaian selama jangka waktu tertentu.

3.5.2 Batasan Oprasional

1. Derah penelitian adalah Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

2. Sampel adalah peternak yang melakukan usaha ternak sapi di Desa Lubuk Bayas dan penyuluh di desa penelitian.

3. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2017.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Geografi dan Topografi

Desa Lubuk Bayas merupakan salah satu dari 24 Desa yang terletak di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Desa Lubuk Bayas terletak di dataran tinggi dengan ketinggian 5-15 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar 30ºC dengan curah hujan rata-rata berkisar 200 mm/tahun. Tanah di desa ini termasuk tanah jenis aluvial dengan tekstur umumnya lembung berpasir.

Desa Lubuk Bayas terletak di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai dengan luas wilayah 481 Ha, terletak 14 km dari Ibukota Kecamatan Perbaungan, ± 29 km dari Ibukota Kabupaten Serdang Bedagai dan ± 52 km dari Ibukota Propinsi Sumatera Utara.

Secara administrasi batas-batas wilayah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Naga Kisar, Pantai Cermin - Sebelah Selatan berbatasan dengan Tanjung Buluh

- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sei Buluh, Sei Mengkudu - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tanah Merah, Lubuk Rotan.

4.1.2 Demografi

A. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Keadaan penduduk di Desa Lubuk Bayas menurut jenis kelamin dapat dilihat dari tabel 4.1 :

Tabel 4.1 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Lubuk Bayas Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai

No. Jenis Kelamin Jumlah Sumber : Kantor Kepala Desa Lubuk Bayas 2016

Dari Tabel 4.1 dapat dijelaskan bahwa penduduk perempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki yakni, perempuan sebanyak 1.327 jiwa dengan persentase 50,6 %, sedangkan laki-laki sebanyak 1.304 dengan persentase 49,4%. Jumlah penduduk Desa Lubuk Bayas berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Kepala Desa tahun 2016 ialah 2.631 jiwa.

B. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur

Jumlah penduduk di Desa Lubuk Bayas menurut kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 4.2 :

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai

No. Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. 0 – 4 277 12.05 Sumber : Badan Pusat Statistik 2016

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa penduduk Desa Lubuk Bayas dengan kelompok umur usia 15- 59 tahun mempunyai jumlah paling banyak yaitu sebanyak 1553 jiwa (58,19%) , disusul dengan kelompok umur 0-14 tahun yaitu sebanyak 904 jiwa (37,85%), sedangkan kelompok umur > 60 tahun memiliki jumlah penduduk terkecil yaitu sebanyak 174 jiwa (4,82%).

4.1.3 Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana yang ada di Desa Lubuk Bayas cukup memadai sehingga mendukung berbagai aktifitas masyarakat di Desa Lubuk Bayas. Sarana dan Prasarana sangat menunjang pembanguanan masyarakat desa. Bila sarana dan prasarana baik maka pembangunan desa dan masyarakatnya akan semakin baik pula. Hal ini dapat dilihat dari jenis-jenis fasilitas umum yang telah tersedia baik fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, maupun fasilitas peribadatan. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah sarana dan prasarana yang ada di Desa Lubuk Bayas dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Sarana dan prasarana di desa Lubuk Bayas, 2016

No Fasilitas Sarana dan prasarana Jumlah bangunan

- Tempat praktek bidan

1 Sumber : data monografi desa peneltian, 2016

Tabel 4.3 menunjukkan ketersediaan sarana dan prasarana desa penelitian dibidang pendidikan, kesehatan, peribadatan, dan sosial cukup baik, akan tetapi

masih perlu dibenahi bidang pendidikan, dimana di desa ini telah tersedia fasilitas pendidikan seperti SD (Sekolah Dasar) dan MTS (Madrasah tsanawiyah) sedangkan SMA (Sekolah Menengah Atas) ada di ibukota Kecamatan dengan jarak tempuh biasanya berjalan kaki biasanya 1 jam atau menggunakan jasa angkutan yang ada di desa ini. Dengan cara demikian maka akan semakin meningkatkan minat anak desa ini untuk sekolah.

Di desa ini hanya memiliki satu unit puskesmas pembantu, satu unit Toko obat dan satu unit tempat Praktek Bidan, padahal pusat kesehatan masyarakat ini sangat diperlukan oleh masyarakat untuk berobat maupun untuk mendapatkan penyuluhan maupun informasi kesehatan. Sarana kesehatan masih kurang memadai, harapan masyarakat kepada pemerintah agar menyediakan fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang memadai supaya kesehatan masyarakat akan terjamin karena hal ini berkaitan dengan kualitas hidup penduduk desa tersebut.

Fasilitas peribadatan dan sosial keberadaannya cukup tersedia bagi masyarakat, namun perlu diperhatikan dalam pemakaiannya dimana mesjid sebagai tempat beribadah dan balai desa adalah tempat pertemuan bagi masyarakat jikalau ada rapat/perkumpulan masyarakat. Daerah ini telah dapat di capai dengan angkutan umum atau angkutan roda empat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa peternak tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh sarana produksi dan juga dalam hal penjualan hasil, karena sarana transportasi sudah cukup tersedia dengan baik.

4.2 Karakteristik Sampel

Peternak sampel yang dimaksud disini adalah seluruh peternak Sapi yang memiliki usahaternak Sapi dan menjualnya dalam bentuk Ekor yang berada di

Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

Karakteristik peternak sampel dalam penelitian ini terdiri dari umur peternak, tingkat pendidikan peternak, lama berusahaternak, luas lahan (kandang), jumlah tanggungan keluarga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4 berikut : Tabel 4.4 Karakteristik peternak sampel di desa Lubuk Bayas tahun 2017

No Uraian Range Rataan

1 Umur (Tahun) 26-60 50,67

2 Tingkat pendidikan (Tahun) 6-12 20,33

3 Pengalaman berternak (Tahun) 2-15 12,15

4 Jumlah tanggungan (Jiwa) 1-4 5.00

5 Skala usaha (Ekor) 2-12 11,85

Sumber : data diolah dari lampiran 4

Dapat kita lihat dari tabel di atas bahwasannya umur peternak sampel memiliki rataan umur peternak sampel adalah 50,67 % dengan range 26-60 tahun, tingkat pendididkan 20,33 dengan range 6-12 tahun, pengalaman berternak 12,15 range 2-15 tahun, jumlah tanggungan 5,00 dengan range 1-4 jiwa dan skla usaha 11,85 dengan range 2-12 ekor.

4.2.1 Umur Peternak Sampel

Dalam hal ini umur peternak merupakan salah satu faktor yang berkaitan langsung dengan kemampuan peternak dalam melaksanakan kegiatan usahaternaknya.

Semakin tua umur peternak maka kemampuan bekerjanya pun cenderung menurun, yang akhirnya dapat mempengaruhi produksi dan pendapatan yang diperoleh peternak itu sendiri. Hal ini dikarenakan pekerjaan sebagai peternak lebih banyak mengandalkan kondisi fisik dari peternak. Rata-rata keadaan umur peternak sampel di Desa Lubuk Byas ialah 47 tahun dengan interval umur antara

26-60 tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan umur peternak sampel dapat dilihat pada Tabel 4.5 :

Tabel 4.5 Keadaan umur peternak sampel di desa Lubuk Bayas, 2017 No Kelompok umur (Tahun) Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 26 – 35 1 5,0

2 36 – 45 8 40,0

3 46 – 55 9 45,0

4 >55 2 10,0

Jumlah 20 100,0

Sumber : data yang diolah dari lampiran 4

Dari Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa jumlah peternak sampel yang terbesar berada pada kelompok umur 46-55 tahun yaitu dengan jumlah peternak sebanyak 9 orang atau sekitar 45,0% dari jumlah peternak sampel. Artinya peternak sampel didaerah penelitian berada pada usia produktif yang masih berpotensi dalam mengoptimalkan usahataninya. Sedangkan jumlah terkecil berada pada kelompok 26-35 tahun yaitu dengan jumlah peternak sebanyak 1 orang atau sekitar 5,% dari jumlah peternak sampel.

4.2.2 Pendidikan Peternak Sampel

Pendidikan peternak sangat erat kaitannya dengan kemampuan peternak dalam mengadopsi teknologi baru yang dapat menunjang usahaternaknya yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan peternak. Pendidikan peternak yang semakin tinggi membuat peternak memiliki pendapatan yang semakin tinggi pula.

Untuk lebih jelas lagi mengenai tingkat pendidikan peternak sampel dapat dilihat pada Tabel 4.6 :

Tabel 4.6 Tingkat pendidikan peternak sampel di desa Lubuk Bayas, 2017 No Tingkat pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 SD 12 60,0

2 SMP 4 4,0

3 SMA 3 15,0

4 SLTA 1 5,0

Jumlah 20 100

Sumber : Data yang diolah di lampiran 4

Dari Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa sebagian besar peternak sampel memiliki tingkat pendidikan SD, yaitu sebanyak 12 orang peternak atau sekitar 60,0% dari total jumlah peternak sampel.

4.2.3 Jumlah Tanggungan Keluarga Peternak Sampel

Perbedaan jumlah tanggungan keluarga peternak sampel akan mempengaruhi jumlah penggunaan tenaga kerja dalam mengelola usahaternak keluarga yang nantinya dapat berdampak pada jumlah pendapatan yang diterima peternak. Semakin banyak jumlah anggota keluarga peternak dalam usia produktif maka pengelolaan usahatani peternak akan semakin mudah sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak. Klasifikasi jumlah tanggungan keluarga peternak sampel dapat dilihat pada Tabel 4.7 :

Tabel 4.7 Jumlah tanggungan peternak sampel di desa Lubuk Bayas, 2017 No Kelompok jumlah tanggungan Jumlah tanggungan Persentase (%)

1 1-2 16 80,0

2 3-4 4 20,0

Jumlah 20 100

Sumber : Data yang diolah di lampiran 4

Dari Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan keluarga peternak sampel terbesar di Desa Lubuk Bayas berada pada kelompok tanggungan 1-2 orang yaitu sebanyak 16 0rang atau sekitar 80,0 % dari jumlah tanggungan peternak sampel di Desa Lubuk Bayas. Sedangkan jumlah tanggungan peternak sampel pada kelompok 3-4 orang yaitu sebanyak 4 orang atau sekitar 20,0%.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Sistem Pemeliharaan Usaha Ternak Sapi Di Daerah Penelitian

Di daerah penelitian, yakni Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, mayoritas peternak sapi masih mengusahakan ternak sapinya secara sederhana. Bentuk pemeliharaan ternak terprogram dengan baik, namun tata laksana kurang efisien. Kandang, sebagai tempat berlindung sapi dari terik matahari di siang hari dan udara dingin pada malam hari tersedia cukup bagus. Dalam penggembalaannya ternak sapi potong hanya berada di kandang dan sesekali dilepas dekat dengan pemukiman peternak.

Usaha ternak sapi yang dilakukan secara sederhana tidak terlalu memikirkan hasil produksinya karena peternak menganggap tingkat usaha seperti ini hanya sebagai pekerjaan sampingan. Meski begitu, kepedulian peternak terhadap ternak sapi mereka cukup diperhatikan. Ternak sapi dipandang sebagai aspek kepuasan, karena peternak dianggap telah memiliki tabungan berbentuk ternak yang dapat dijual pada saat dibutuhkan dalam keadaan tidak terduga. Proses sistem pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak sapi potong di daerah penelitian adalah sebagai berikut :

A. Perkandangan

Di daerah penelitian, kandang dibangun dengan arah utara – selatan, agar sinar matahari pada waktu pagi hari tetap masuk kandang dan tidak begitu panas. Sinar matahari pada pagi hari mengandung sinar ultraviolet yang sangat penting untuk membasmi kuman dan membantu pembentukan vitamin pada ternak sapi potong. Kebutuhan kandang sangat penting sekali sebagai pelindung panas, hujan, dingin dan tiupan angin yang sangat kencang. Selain itu juga memudahkan pemeliharaan seperti pengontrolan penyakit dan

pengobatan. Pembuatan ventilasi dibuat sehingga udara tetap bisa keluar masuk pada kandang.

Atap kandang kebanyakan terbuat dari rumbia atau nipah. Hal ini dipilih karena biayanya lebih murah dan sesuai dengan keadaan perekonomian peternak tersebut, rumbia atau nipah tersebut juga tidak begitu menyerap panas matahari sehingga kondisi kandang tidak terlalu panas pada siang hari dan tidak telalu dingin pada malam harinya. Dinding kandang terbuat dari papan dan kayu, sedangkan bagian bawah dinding terbuat dari beton. Lantai kandang ternak tersebut juga masih terbuat dari semen. Untuk ventilasi, sudah cukup tersedia di kandang tersesbut.

Perkandangan sapi potong dibangun berdekatan dengan rumah penduduk atau peternak agar para peternak dapat lebih mudah mengawasi usaha ternaknya tersebut. Ukuran dari masing – masing kandang disesuaikan dengan jumlah ternak dari setiap peternak. Tidak ada peternak yang memiliki dua kandang atau lebih yang berarti tidak ada peternak yang melakukan pemisahan kandang berdasarkan umur ternak sapi potong.

Kandang pemeliharaan ternak sapi tersebut tidak dipisahkan sesuai dengan umur ternak sapi potong, tetapi seluruh ternak tersebut dipelihara dalam satu kandang. Alasan peternak melakukan hal ini karena keterbatasan modal dan lahan untuk usaha ternak sapi tersebut, dan hal ini dianggap peternak masih sangat wajar, karena peternak masih dapat merasakan keuntungan dari hasil ternak sapi, walaupun hanya dipelihara dalam kandang yang seadanya saja.

B. Penyediaan Bibit

Para peternak di daerah penelitian memilih jenis bibit ternak sapi potong lokal. Cara perkawinan yang dilakukan oleh peternak adalah dengan menggunakan Inseminasi Buatan (IB) dengan biaya suntiknya berupa bantuan dari pemerintah. Namun ada juga peternak yang mencoba membiarkan ternak kawin secara alamiah yaitu proses

pemasukan sperma pada alat kelamin betina yang dilakukan oleh pejantan itu sendiri atau secara kontak langsung dengan sapi betina.

Umumnya jenis bibit ternak sapi sebagai pejantan adalah jenis sapi lokal, seperti sapi bali.

Para peternak ada juga yang memperoleh bibit dari daerah lain, peternak membeli bibit atau bakalan sapi lokal yang berumur 2,5 – 3 tahun, kemudian setelah berumur 4 – 5 tahun keatas sapi potong telah siap untuk dijual dengan bobot berkisar antara 300 – 400 kg.

C. Pemberian Pakan Hijauan

Pakan hijau merupakan makanan pokok bagi ternak sapi. Ternak sapi dapat memperoleh pakan hijauan di lokasi penggembalaan, pakan ternak sapi diberikan oleh peternak pada kandang sapi tersebut. Biasanya ternak sapi diberikan pakan hijauan dua kali sehari, yakni pada pagi hari pukul 07.00 WIB dan pada sore hari pukul 17.00 WIB. Jenis pakan hijauan yang diberikan untuk ternak sapi potong tersebut adalah jenis rumput lapangan dan rumput gajahan ( King Grass). Banyaknya pakan hijauan yang diberikan tergantung pada populasi ternak sapi potong yang dipelihara, biasanya sampai 20kg per sapi per hari, dengan harga Rp7.500 per 20kg.

D. Pemberian Air Minum

Di daerah penelitian air minum untuk ternak sapi potong selalu disediakan dalam kandang yang diletakkan di tempat ember air minum. Pemberian air minum untuk sapi potong di daerah penelitian ini diberikan secukupnya dan dilakukan pada pagi dan sore hari. Sumber air minum untuk ternak sapi potong tersebut berasal dari air sumur di dekat pekandangan sapi potong tersebut dan di daerah penelitian ketersediaan air bersih masih sangat mencukupi.

E. Kebersihan Sapi Potong dan Kandang

Di daerah penelitian kebersihan kandang dilakukan dengan cukup baik, dimana kebersihan kandang dilakukan setiap hari sekali yaitu pada pagi hari. Pada malam hari juga dilakukan pengasapan agar kondisi kandang tetap baik dan juga untuk mencegah datangnya lalat yang dapat mengganggu kesehatan sapi potong. Kebersihan kandang sangat perlu dilakukan untuk menunjang kesehatan sapi potong, selain untuk menjaga kelembaban kandang, hal tersebut juga dilakukan untuk menghindari adanya lalat atau serangga lain yang sering terdapat pada kandang ternak sapi potong tersebut.

F. Pemberian Obat - obatan

Peternak sapi yang berada di daerah penelitian, pada umumnya masih memberikan obat – obatan alami bila ternak sapi potong mereka terserang penyakit. Peternak memberikan obat – obatan alami untuk menyembuhkan penyakit yang sering timbul seperti diare dan masuk angin. Pemberian obat pada ternak sapi potong juga dapat dilakukan secara suntikan dengan bantuan dokter hewan atau juga dapat langsung diberikan melalui mulut ternak sapi oleh bantuan peternak sapi potong tersebut, bila sapi potong menderita penyakit diare atau masuk angin umumnya peternak memberikan obat suntikan teramisin atau dengan memberi makan obat ramuan dengan rempah – rempah, seperti kunyit, jahe dan bahan – bahan lainnya. Namun pemberian obat-obatan ini merupakan bantuan dari pemerintah.

Dari penjelasan yang telah dijabarkan di atas yaitu mengenai sistem pemeliharaan usaha ternak sapi potong di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, yaitu usaha ternak sapi potong di daerah penelitian pelaksanaan pemeliharaannya masih tergolong tradisional (ekstensif), hal ini dapat dibuktikan yaitu selama proses pemeliharaan ternak, perawatan ternak hingga ternak sapi potong tersebut dapat dijual, proses pemeliharaan tersebut dikerjakan secara sederhana atau tidak menggunakan kandang yang sesuai dengan umur ternak sapi potong dan pakan yang

diberikan juga hanya mengandalkan pakan hijauan, tanpa ada dberikan pakan tambahan atau konsentrat dalam usaha ternak sapi potong tersebut.

Dimana menurut (Sugeng, 2008), usaha ternak sapi potong yang dilakukan secara ekstensif adalah usaha ternak yang dalam tahapan proses pemeliharaannya tidak dilakukan secara terprogram atau khusus serta tidak menggunakan pakan tambahan atau konsentrat.

Peternak masih menggunakan sistem tradisonal karena sistem tersebut dianggap masih sangat mudah dan sederhana untuk dijalankan tetapi dapat memberikan keuntungan yang cukup besar juga untuk membantu memenuhi kebutuhan peternak suatu saat, karena para peternak menganggap usaha tersebut hanya sebagai usaha sampingan atau cadangan saja, yang suatu saat bila diperlukan untuk keperluan mendesak, usaha ternak sapi yang dianggap sebagai tabungan itu dapat langsung dijual untuk memenuhi kebutuhan peternak.

5.2 Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong

Pendapatan usaha yang diperoleh dari ternak sapi potong adalah selisih antara total penerimaan usaha ternak sapi dengan total biaya produksi yang dikeluarkan peternak selama proses usaha pemeliharaan atau kegiatan budidaya ternak sapi tersebut.

A. Biaya Produksi Usaha Ternak

Biaya produksi dalam pengelolaan usaha ternak sapi potong meliputi biaya penyusutan, biaya pemeliharaan. Biaya penyusutan terdiri dari biaya penyusutan kandang dan penyusutan peralatan. Biaya pemeliharaan terdiri dari biaya obat – obatan, dan niaya

Biaya produksi dalam pengelolaan usaha ternak sapi potong meliputi biaya penyusutan, biaya pemeliharaan. Biaya penyusutan terdiri dari biaya penyusutan kandang dan penyusutan peralatan. Biaya pemeliharaan terdiri dari biaya obat – obatan, dan niaya

Dokumen terkait