• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Berfikir Kefilsafatan

Dalam dokumen AZAS-AZAS FILSAFAT Disusun Oleh (Halaman 29-39)

E. Latihan/Contoh Soal

2. Metode Berfikir Kefilsafatan

Istilah dialektik menunjukkan proses berfikir yang dikembangkan Socrates. Filsafat mulai dengan diskusi tentang aspek-aspek yang biasa diterima tentang suatu problema. Proses dialektik adalah dialog antara dua pendirian yang bertentangan. Dengan proses dialog setiap peserta dalam pembicaraan terpaksa menjelaskan idenya. Filsafat berjalan dengan berusaha mengkoreksi fikiran yang tidak tepat atau tidak sempurna. Di dalam dialog itu akan ditemukan bahwa setiap proses (sikap) tidak menyajikan pemahaman yang sempurna tentang kebenaran. Dengan begitu muncullah alternatif baru. Setiap tahap dialektika memasuki pemahaman lebih mendalam terhadap problem asli, dengan demikian akan diperoleh pengetahuan yang lebih mendekati kebenaran (Titus, Smith, Nolan, 1984: 15-16).

b. Metode Anahisis / analitik (metode kritik)

Metode analisis diperkenalkan oleh Aristoteles dengan metode analisis abstraksi. Metode analisis adalah metode yang menangani objek dengan mengurai atau memerinci unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Pengertian abstraksi adalah menyisihkan untuk sementara hal-hal atau unsur-unsur yang tidak esensial (aksidensia) dan pikiran.

Aristoteles mengurai keberadaan itu dalam sepuluh kategori, yang terdiri dari satu substansi dan sembilan aksidensia. Kategori adalah kelompok pengertian yang sifatnya paling umum. Substansi merupakan sesuatu yang dapat berdiri sendiri merupakan kategori pertama. Sedangkan aksidcnsia adalah sesuatu yang hanya bersifat kebetulan dan keberadaannya tergantung pada substansi. Dengan menyisihkan aksidensia diharapkan dapat diperoleh substansi atau esensi sesuatu. Sembilan aksidensia itu adalah : kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, keadaan, pemilikan, aksi dan pasi (menderita).

Pada masa kini metode analisis lebih menunjuk kepada filsafat yang oleh CD. Broad disebut filsafat kritik, yaitu filsafat yang menganalisis tentang makna istilah-istilah. Akhirnya terdapat filsuf yang menganggap bahwa tugas satu-satunya filsafat adalah melakukan analisis tentang makna bahasa. Alasannya, setiap hari kita dikelilingi oleh lautan makna-makna karena segala sesuatu kita hayati sebagai makna dan bukan sebagai benda yang diam dingin tanpa makna. Misalnya kita perlu menjernihkan pengertian “materi”. Apakah materi sama dengan benda?, maka jika Aristoteles menyebut benda itu terdiri dan materi dan bentuk maka jelas materi tidak sama dengan benda, mungkin lebih tepat diartikan sebagai bahan. Akan tetapi dapat timbul pertanyaan apakah materi dapat dikatakan ada tanpa bentuk ? dan seterusnya.

Setiap pemikiran kefilsafatan akan berhadapan dengan tugas melakukan penjernihan istilah melalui analisa bahasa.

c. Metode Sintesis / Sintetik (Spekulatif)

Metode sistetis merupakan metode yang dipakai oleh filsafat spekulatif dalam menyusun sistem. Maksud dan sintesis yang pokok adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang dapat diperoleh untuk menyusun suatu pandangan dunia. Seorang filsuf bertolak dan sejumlah besar bahan keterangan. Semakin banyak keterangan atau pengetahauan yang dimiliki seorang filsuf dimungkinkan sistem yang disusunnya lebih baik. Sistesis adalah usaha untuk mencari kesatuan di dalam keragaman itu (Kattsoff, 1987 : 22).

Para filsuf analitik yang menolak filsafat spekulatif pun mau tidak mau harus menyusun sebuah sistem. Para filsuf analitik menyimpulkan diantara keaneka ragaman benda-benda dan kejadian-kejadian itu merupakan suatu sistem tanda, semuanya merupakan teks yang harus diungkap maknanya. Oleh karena itu filsuf yang baik memperhatikan dua aspek sekaligus yaitu penjernihan makna bahasa dan penyusunan suatu sistem.

D. Rangkuman

1. Metode berfikir secara umum: a. Metode analisis, meliputi:

1) Analisis a priori 2) Analisis a posteriori b. Metode Sintesis, meliputi:

1) Sintesis a priori 2) Sintesis a posteriori c. Metode deduksi

d. Metode induksi

2. Metode berfkir kefilsafatan secara umum, meliputi: metode dialektik, metode analitik (kritik) dan metode sintetik (spekulatif)

E. Latihan/Contoh Soal

1. Berikanlah penjelasan dengan menyertakan contoh perbedaan antara metode analisis atau analitik dengan metode deduktif !

2. Berikan penjelasan dengan menyertakan contoh tentang metode spekulatif dalam berfikir kefilsafatan !

POKOK BAHASAN V KEBENARAN A. Pendahuluan

Pemikiran sebagai suatu proses yang memiliki tujuan sedapat mungkin untuk memperoleh kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, akal melakukan pemikiran dengan melalui proses bertahap. Suatu pemikiran dapat dimulai dan kondisi ketidak tahuan maupun keragu-raguan. Dengan proses berfikir itu diharapkan dapat memperoleh kepastian. Terdapat beberapa bentuk yang menyangkut penerapan istilah atau kata “benar”. Selain itu juga terdapat kriteria untuk menentukan tetang sesuatu yang dikatakan benar tersebut. Pokok bahasan ini akan menguraikan tentang teori kesesuaian atau teori korespondensi, teori kebenaran koherensi, dan teori kebenaran pragmatik.

B. Tujuan Pembelajaran

1. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tahap-tahap pemikiran dari tahap ketidaktahuan sampai tahap kepastian.

2. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan bentuk-bentuk kebenaran, yaitu : kebenaran deskriptif, instrumental, ontologis, dan eksistensial.

3. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang kriteria-kriteria atau teori-teori yang dipakai untuk menetapkan kebenaran.

C. Materi Pembelajaran 1. Tahap-tahap Menuju Kebenaran

a. Tahap Ketidaktahuan (iquorance) / Kekurangtahuan

Iqnorance secara etimologis berasal dan kata Latin in = tidak, dan noscere = kenal, tahu, mengetahui tentang. Ketidaktahuan berarti tidak ada atau belum ada

pengetahuan secara keseluruhan maupun sebagian. Dalam keadaan semacam mi akal dalam keadaan negative dalam arti “kurang” atau “tidak mengenal” sesuatu hal. Dalam kondisi ini akal belum memiliki kebenaran.

b. Tahap Kesangsian atau Keragu-raguan

Kesangsian adalah suatu keadaan akal dalam ketidakmampuan untuk menegaskan (afirmasi) atau menyangkal (negasi). Ketidakmampuan ini disebabkan karena alasan yang memperkuat maupun yang memperlemah atau menolak dalam posisi seimbang. Kesangsian dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu kesangsian spontan, reflek, metodis dan universal.

1) Kesangsian spontan, adalah kesangsian yang mendahului pemikiran atau penelaahan. Akal belum mempertimbangkan, kesangsian muncul begitu saja.

2) Kesangsian reflek, adalah kesangsian yang terjadi setelah akal melakukan penelaahan. Kesangsian muncul setelah akal menemukan alasan-alasan yang pro (menguatkan) maupun yang kontra (menolak atau menegasikan) sama-sama kuat, sehingga tidak mampu menegaskan atau menolak.

3) Kesangsian metodis adalah kesangsian sengaja dipakai sebagai sikap awal, agar dalam penelaahan suatu problem dapat bersifat adil atau objektif (tanpa didahului syak wasangka). Kesangsian metodis ini dapat dikenakan didalani kehidupan sehari-hari dalam rangka memutuskan sesuatu secara adil. Dalam bidang kefilsafatan metode kesangsian ini dipakai oleh Al Ghazali untuk menjalankan atau mengenali kemampuan yang dapat mengantarkan kepada pengetahuan tentang Tuhan. Oleh Descartes kesangsian metodis ini dipakai untuk mencari dasar pengetahuan yang tidak dapat diragukan kebenarannya. Ia akhirnya menemukan pangkal tolak itu dalam pernyataan cogito ergo sum atau saya berfikir maka saya ada. Dan pangkal tolak itulah kemudian ia menyusun filsafatnya.

4) Kesangsian universal, yaitu sikap menyangsikan segala sesuatu apapun. Kesangsian semacam ini dianut oleh Skeptisisme yang meragukan setiap penegasan atau setiap pengetahuan yang dimiliki manusia, karena dipandang tidak pasti. Ketidakpastian ini timbul karena menyangsikan kemampuan akal dan indera karena hanya menghasilkan pengetahuan yang relatif. Skeptisisme berpendirian bahwa pengetahuan itu tidak ada, yang ada hanya pendapat (yang mudah berubah).

c. Tahap Pendapat (Opinion), yaitu akal sudah mengambil sikap menegaskan (mengafirmasi), namun kebenarannya belum sampai tingkat kepastian baru dalam tahap

kebolehjadian atau kemungkinan (probability). Kemungkinan itu dapat bersifat matematis maupun moral.

1) Kemungkinan matematis, adalah kemungkinan yang dapat dirumuskan secara matematis biasanya dengan angka pecahan atau bentuk perbandingan. Misalnya kemungkinan 2: 1, 3: 1, dsb.

2) Kemungkinan moral, adalah kemungkinan yang dapat ditentukan berdasarkan pengalaman, kebiasaan atau moralitas yang telah berlaku dalam kehidupan. Contoh: kemungkinan ia sedang berpuasa.

d. Tahap Kepastian (Certitude), yaitu kondisi akal yang menegaskan tanpa adanya keraguan bahwa yang ditegaskan itu salah. Alasan-alasan yang menegaskan itu begitu kuatnya sehingga pengingkarannya dapat dipastikan salah. Yang merupakan prinsip kepastian itu adalam evidensi, yaitu kejelasan yang mewujudkan dirinya sehingga dapat diterima akal. Evidensi juga dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang diangap mendukung kebenaran proposisi. Kepastian dapat bersifat metafisis, fisis maupun moral.

1) Kepastian metafisis, adalah kepastian yang didasarkan pada hakikat dan hal-hal, sehingga pengingkarannya pasti keliru dan mustahil. Contoh: “keseluruhan lebih besar dan bagian-bagiannya”.

2) Kepastian fisis adalah kepastian yang didasarkan pada hukum alam, sehingga pengingkarannya keliru tetapi belum mustahil. Contoh: “Logam dapat sebagai penghantar listrik”.

3) Kepastian moral, yaitu kepastian yang didasarkan pada prinsip moral atau hukum psikologis, sehingga penegasannya sebagian besar merupakan kebenaran. Contoh: “Ibu menyayangi anaknya”.

2. Hakikat Kebenaran

Hakikat kebenaran. Ada beberapa bentuk yang menyangkut penerapan istilah atau kata “benar”.

a. Kebenaran dapat deskriptif, artinya dapat diterapkan pada pernyataan

(statement), proposisi, atau kepercayaan yang mesti atau yang boleh jadi. Pernyataan yang mesti misalnya yang secara analitis benar. Misalnya “Jika p maka q; dan kemudian p; kesimpulannya adalah q. Pernyataan yang boleh jadi, adalah yang secara empiris benar. Misalnya “Bumi itu bulat”. Kebenaran berfungsi sebagai ajektif misalnya kepercayaan yang benar.

b. Kebenaran dapat instrumental, artinya diterapkan pada kepercayaan-kepercayaan yang membimbing pikiran atau tindakan yang menimbulkan keberhasilan.

Misalnya tindakan yang didasarkan pada kepercayaan bahwa api yang membakar membantu seseorang agar terhindar dan kebakaian. “Kebenaran” berfungsi sebagai adverb, misalnya “seseorang mempercayai secara benar”.

c. Kebenaran dapat substantive atau ontologis, artinya istilah itu menunjuk pada sesuatu yang nyata. Misalnya :Tuhan adalah kebenaran”. Kebenaran berfungsi sebagai kata benda (noun).

d. Kebenaran dapat eksistensial, artinya menunjuk pada cara hidup (way of life) seseorang atau keterikatan yang terdalam. Manusia hidup dan tidak hanya sekedar mengetahui kebenaran. “Kebenaran” berfungsi sebagai kata kerja (verb).

3. Kriteria (ukuran) Kebenaran.

Salah satu pertanyaan dalam epistemologi adalah: apakah kebenaran itu?. Manusia belum merasa puas kalau hanya memperoleh pengetahuan. Mereka melangkah lebih lanjut yaitu berusaha untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar yang dicari ini tidak sekedar benar bagi sendiri, akan tetapi adalah benar bagi orang lain. Inilah yang dimaksud dengan kebenaran yang universal. Berdasar atas hal ini pertanyaan yang muncul adalah: apakah kebenaran itu. Kebenaran bersifat objektif atau subjektif? Untuk menjawab pertanyaan ini ada beberapa teori. Teoni-teori .ini mengajukan ukuran yang menentukan apakah pengetahuan yang diperoleh itu benar atau salah. Masing-masing teori mengajukan ukuran tentang kebenaran sesuai dengan asumsi dan sudut pandangan yang digunakan.

Tidak semua pernyataan dapat dinilai dengan kata benar atau kata salah. Misalnya “usulan” dapat diterima atau ditolak, dan bukannya benar atau salah, “Resolusi”, diikuti atau dilanggar. “Janji”, dipenuhi atau tidak dipenuhi. “Saran” diperhatikan atau tidak diperhatikan. “Perintah” dipatuhi atau tidak dipatuhi,

a. Teori Kesesuaian tentang kebenaran (Correspondence Theory of Truth). Teori ini digunakan oleh alirari realisme, Menurut realisme objek-objek yang diketahui yang berupa pengetahuan, tidak bergantung pada subjek yang mengetahui atau pada pikiran yang mengetahui. Objek-objek pengetahuan merupakan sesuatu hal yang berdiri sendiri berada di luar subjek, terpisah dan pikiran.

Menurut teori korespondensi, kebenaran adalah kesesuaian (kecocokan) hal-hal atau pengetahuan yang terdapat dalam pikiran (subjek) dengan kenyataan objektif yang di luar pikiran. Seseorang yang mengetahui berarti dia memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu mengacu (menunjuk) pada sesuatu yang di luar pikiran yaitu dengan kenyataan yang wujud konkritnya berupa fakta-fakta. Dengan demikian dapat

dinyatakan bahwa kebenaran merupakan kesesuaian di antara pengetahuan yang ada dalam pikiran dengan fakta yang sesungguhnya yang ada di luar pikiran. Seseorang yang memiliki pengetahuan akan mengungkapkan pengetahuannya dalam bentuk pernyataan atau putusan. Putusan ini menggambarkan sesutu objek atau peristiwa yang diketahui. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara putusan (judgment) dengan situasi atau keadaan yang digambarkan oleh putusan tersebut.

Misalnya dikatakan bahwa “candi Borobudur terletak di Propinsi Jawa Tengah”, Pernyataan ini merupakan pengetahuan yang benar bukan karena sesuai dengan pernyataan-pernyataan lain yang lebih dahulu telah dikemukakan melainkan karena pernyataan itu sesuai dengan kenyataan atau fàkta-fakta situasi geografis yang dapat diamati. Proses menemukan kesesuaian atau pembuktian dengan fakta disebut verifikasi atau konfirmasi. Verifikasi dibedakan menjadi dua yaitu: versi kuat dan versi lemah. Menurut verifikasi versi kuat, suatu pernyataan bermakna jika dan hanya jika pemyataan itu dapat diverifikasi secara empiris. Sedangkan menurut verifikasi versi lemah, suatu penyataan bermakna jika dan hanya jika pernyataan itu sedikitnya dalam prinsip dapat diverifikasi secara empiris.

Teori korespondensi berasumsi bahwa data indera itu jelas dan cermat. Data indera dipandang mengungkapkan sifat dan kenyataan duniawi seperti apa adanya. Bagi aliran idealisme dan pragmatisme mempertanyakan validitas asumsi ini. Dikatakan bahwa dalam persepsi (cerapan indera) akal mengubah pandangan-pandangan tentang dunia. Kalau kemampuan persepsi berkurang atau meningkat, atau seseorang memiliki alat penginderaan yang kurang baik atau malahan lebih baik, dengan sendirinya dunia mungkin nampak berbeda. Akibatnya pernyataan atau putusan yang dibuat tidak menggambarkan kenyataan seperti apa adanya.

George Edward Moore salah seorang tokoh teori ini mendefinisikan kebenaran sebagai kesesuaian pengetahuan (idea) dengan sesuatu yang berada di luar (dunia objektif, fakta-fakta). Fakta itu sendiri tidak dapat dikatakan benar atau salah, tetapi yang ada adalah kepercayaan. Kebenaran dan kesalahan ditempatkan sebagai sebutan (predikat) bagi idea, pernyataan dan kepercayaan. Yang harus memiliki hubungan kesesuaian dengan fakta-fakta. Sifat umum dari kebenaran adalah kesesuaiannya dengan fakta, sedangkan kesalahan adalah tidak adanya sifat seperti itu. Kebenaran merupakan kepercayaan yang menggambarkan unsur-unsur dan struktur alam (kenyataan).

b. Teori Keruntutan tentang Kebenaran (Coherence atau Consistence Theory of Truth). Yang menenima teori ini adalah aliran idealisme. Menurut idealisme tidak ada yang dapat diketahui kecuali jiwa dan pikiran. Yang dapat diketahui semata-mata merupakan kerja jiwa dan pikiran. Pengetahuan tentang jiwa atau pikiran adalah hal yang pokok dan merupakan satu-satunya sumber untuk membentuk pengetahuan. Adanya pengetahuan sebagai isi di dalam jiwa dan disebabkan oleh jiwa.

Karena manusia tidak dapat secara langsung membandingkan gagasan atau putusan dengan dunia luar seperti apa adanya, maka diperolehnya pengetahuan yang benar didasar.kan pada koherensi atau konsistensi atau keselarasan di antara putusan-putusan yang dibuat. Suatu putusan-putusan dikatakan benar, kalau putusan-putusan-putusan-putusan itu runtut atau selaras dengan putusan-putusan yang lain yang sebelumnya sudah dianggap benar.

Istilah “koherensi” mengandung arti “berhubungan dengan sesuatu idea, prinsip, tatanan atau berhubungan dengan konsep yang bersifat umum”. Atau dapat juga berarti mengikuti secara logis, sesuai dengan hukum-hukum logika. Sedangkan istilah “konsistensi” mengandung arti tidak mengandung pertentangan secara kontradiksi. Konsep-konsep dikatakan konsisten jika tidak mengandung makna- makna yang bertentangan secara kontradiksi atau makna yang saling menyisihkan. Pernyataan atau istilah yang tidak konsisten misalnya “lingkaran yang berbentuk segitiga”, “bujangan yang sudah rnenikah”, “orang Negro yang berkulit putih”.

Teori koherensi tentang pengetahuan dikaitkan dengan pandangan aliran rasionalisme dan idealisme sebagaimana dikemukakan oleh Leibniz, Spinoza, Hegel dan Bradley.Teori ini berlaku dalam matematika. Dengan mengandaikan definisi-definisi dan aksioma-aksioma tertentu dapat dibentuk sistem geometri yang mengandung definisi dan aksioma yang sesuai dengannya. Asas konsistensi atau implikasi logis mendasari sistem-sistem matematika dan logika formal.

Bagi teori ini dapat diajukan kritik. Kalau teori ini diterima berarti dapat dikonstruksikan sistem-sistem koherensi yang salah maupun benar. Teori ini tidak membedaan antara kebenaran yang runtut (consistent truth) dengan kesalahan yang runtut (consistent error).

c. Teori Pragmatik tentang Kebenaran (Pragmatic Theoiy of Truth). Teori ini dianut oleh aliran pragmatisme. Dalam kaitannya dengan kebenaran, teori pragmatik beranggapan bahwa manusia tidak dapat mengetahui “substansi”, “hakikat”, “kenyataan yang terdalam”. Penganut pragmatisme seluruhnya bersifat empiris

dalam menafsirkan pengalaman. Bagi pragmatisme, pengetesan atas pengetahuan yang benar adalah:

1) kemanfaatan, kegunaan (utility) 2) dapat dikerjakan (workability)

3) akibat-akibat yang memuaskan (satisfacto,y consequences)

Menurut C.S. Peirce, yang penting adalah pengaruh apa yang dilakukan sebuah ide dalam suatu rencana untuk bertindak. Pengetahuan yang dimiliki manusia tidak lain daripada gambaran yang diperoleh tentang akibat (consequence) yang dapat disaksikan. Nilai suatu konsep tergantung pada penerapannya yang konkrit dalam masyarakat. Pengetahuan yang dimiliki manusia itu dikatakan benar bukannya karena memantulkan atau menciptakan kenyataan melainkan pengetahuan itu dapat membuktikan kemanfàatan bagi masyarakat.

Menurut William James, ukuran kebenaran ditentukan oleh akibat praktisnya. Sesuatu ide tidak pernah benar, sesuatu ide hanya dapat menjadi benar. Ukuran kebenaran dicari dalam taraf seberapa jauh manusia sebagai pribadi dan secara psikis merasa memperoleh kepuasan. Kebenaran mutlak (absolute truth) yang terlepas pada akal tu tidak ada, karena semuanya selalu berjalan terus, selalu berubah. Yang ada hanya kebenaran khusus dalam pengalaman khusus. Akal hanya memberikan informasi bagi perbuatan-perbuatan. Dunia selalu dalam keadaan menjadi. Dunia dapat dibuat manusia. Dunia adalah suatu multiversum dan bukannya universum.

Ada pergeseran arti kebenaran yang dikemukakan oleh James. James memberikan penafsiran secara personal. Dikatakan bahwa “Kita tidak dapat menolak sesuatu hipotesis jika akibat-akibatnya berguna untuk kehidupan. Jika hipotesis Tuhan berlaku (bagi individu) maka hipotesis itu benar.” Pada awalnya James mendefinisikan kebenaran sebagai yang bekeija (that which works). Kemudian ia mendefinisikan sebagai berikut:

1) sesuatu yang memiliki nilai kontan (cash value) artinya secara prinsip dapat diverifi kasi (dibuktikan kebenarannya secara empiris)

2) yang bersifat koheren, artinya cocok dengan fakta-fakta sebelumnya.

3) yang menyetujui nilai-nilai yang lebih tinggi, artinya mendorong kemajuan. Menurut John Dewey, tiap-tiap organisme selalu dalam keadaan berjuang yang berlangsung terus-menerus terhadap alam sekitarnya dan mengembangkan alat yang membantu dalam perjuangan tersebut. Akal atau pikiran berkembang sebagai alat untuk mengadakan eksperimen ketika manusia berusaha untuk menguasai dan

memberi bentuk pada alam sekitar itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kecerdasan bersifat kreatif dan pengalaman merupakan unsur terpokok dalam segala pengetahuan.

Bagi Dewey, yang penting bukan benar tidaknya pengetahuan, melainkan sejauh mana manusia dapat memecahkan masalah-masalah yang muncul di dalam masyarakat dan dalam kehidupan yang nyata. Seperti halnya Peirce, bagi Dewey yang menjadi ukuran adalah kegunaan untuk umum. Daya pikir dan daya tahu merupakan sarana. Bukan konsep-konsep sendiri yang benar, tetapi ide-ide itu baru menjadi benar dalam rangka proses penggunaan (penerapan) oleh manusia. Pengetahuan bersifat dinamis, karena harus sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang silih berganti dan yang memantulkan hakikat dunia.

Berkebalikan dengan William James, Peirce dan Dewey memberikan penafsiran secara sosial dalam kerangka kemampuan meramal (predictive power). Kebenaran harus bersifat sosial dan dapat diverifikasi secara eksperimental dan bukan hanya berguna secara pribadi. Kebenaran adalah publik dan bukannya privat.

D. Rangkuman

1. Tahap-tahap menuju kebenaran, meliputi :

Dalam dokumen AZAS-AZAS FILSAFAT Disusun Oleh (Halaman 29-39)

Dokumen terkait