• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.4 Pergerakan Dakwah Jama’ah Tabligh Indonesia

3.4.2 Metode Dakwah Jama’ah Tabligh

3.4.2.1 Metode Dakwah Eksternal Jama’ah Tabligh

Jama’ah Tabligh memiliki pandangan bahwa dakwah adalah kewajiban seluruh manusia. Setiap Muslim mengemban kewajiban ini dan harus berupaya melaksanakannya. Namun dalam pelaksanaan dakwah, cara yang dilakukan haruslah mendekati cara yang dulu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dalam konteks ini Jama’ah Tabligh berpandangan bahwa dakwah orang perorang atau penyampaian secara langsung adalah dakwah yang paling mendekati metode yang dulu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, dalam melaksanakan aktivitas dakwahnya anggota Jama’ah Tabligh harus selalu memegang enam prinsip yang disebut juga dengan sifat sahabat. Enam hal tersebut dianggap sebagai inti dari ajaran Islam yang jika tersampaikan dengan baik maka akan membantu memperbaiki kondisi umat Islam saat ini. Aktivitas dakwah yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh sangat terfokus. Dan khuruj menjadi inti dari proses penyampaian dakwah kepada umat. Bagi seseorang yang telah memahami akan pentingnya dakwah maka khuruj menjadi aktivitas utama yang harus dilakukan.

Khuruj dilakukan oleh anggota laki-laki yang disebut dengan karkun. Khuruj

dilakukan tiga hari dalam satu bulan 40 hari dalam satu tahun atau empat bulan dalam seumur hidup. Namun bagi yang ingin meningkatkan pengorbanan dan pengabdian dapat melakukan khuruj selama empat bulan dalam satu tahun.208 Khuruj

208Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

dilaksanakan ke berbagai wilayah yang dianggap belum mendapatkan dakwah Islam. Tak jarang anggota Jama’ah Tabligh melaksanakan perjalanan dakwah ke luar negeri dengan menggunakan biaya sendiri.

Bagi keluarga yang ditinggalkan oleh kepala keluarga atau suami-istri dalam tugas dakwah (khuruj bagi laki-laki dan masturoh bagi perempuan dan suaminya) maka keluarga yang ditinggalkan akan dipantau oleh pimpinan di tingkat mahalah serta anggota yang tidak mendapat giliran tugas dakwah keluar daerah tempat tinggalnya.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan salah seorang aktivis Jama’ah Tabligh didapatkan bahwa dalam tugas khuruj atau masturoh, keberangkatan dilaksanakan berdasarkan halakoh. Dalam sebuah halakoh terdapat satu kelompok atau tim. Dalam satu tim biasanya terdiri dari 7 pasang suami istri, namun jumlah ini disesuaikan dengan ketersediaan anggota yang tinggal dan menetap di halakah tersebut. Berikut adalah petikan wawancaranya:

“Dalam satu kali masturoh atau khuruj bagi suami dan istri biasanya terdiri dari tujuh pasang suami dan istri, namun hal ini tergantung kepada jumlah keluarga yang ada pada satu halakoh. Jika kurang dari jumlah untuk berangkat maka dapat digabung dengan halakoh lain.”209

Selama masa perjalanan dakwahnya, para karkun harus fokus penuh pada tugasnya. Hal-hal yang dapat memecah konsentrasi dakwah seperti menghubungi keluarga, atau urusan keduniaan lainnya sangat dihindari. Hal ini dilakukan dengan maksud agar seseorang yang sedang berdakwah tidak melalaikan dakwahnya karena memikirkan

209 Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

urusan keduniaan. Beberapa arahan yang disepakati dalam khuruj diantaranya adalah memperbanyak da’wah ilallah, ta’lim wa ta’lum, dzikir wal ibadah, dan khidmat.

“Selama melaksanakan tugas dakwah sebaiknya tidak melakukan aktivitas yang dapat memecah konsentrasi seperti menghubungi atau berkomunikasi dengan keluarga misalnya.”210

Pada setiap masa khuruj, para karkun akan memusatkan aktifitasnya di masjid. Ketika mendatangi sebuah masjid maka anggota Jama’ah Tabligh akan melakukan berbagai aktivitas keagamaan seperti mengisi ta’lim dan mendatangi rumah-rumah penduduk disekitar masjid tersebut untuk berdakwah. Lewat jaulah211 para karkun akan mengajak penduduk sekitar untuk mengikuti program yang telah mereka susun selama masa i’tikaf atau berdiam diri di masjid.

Aktivitas yang dilakukan pada saat khuruj diawali dengan sholat malam atau

qiyamullail. Semua anggota Jama’ah sudah bangun pada jam 03:30 WIB. Anggota

jama’ah melakukan sholat malam sendiri-sendiri, setelah itu berzikir dengan menyebut tahlil, Istighfar, shalawat, dan zikir lainnya. Kegiatan ini dilakukan sampai waktu shubuh.

“Jika sedang khuruj, kami memulai aktivitas dengan qiyamul lail, lalu beristighfar hingga waktu shubuh.”212

Setelah shalat berjama’ah maka akan diadakan bayan (penerangan) shubuh, yaitu ceramah agama selama kurang lebih setengah jam. Bayan disampaikan oleh

210 Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

211 Kunjungan dakwah ke rumah penduduk disekitar masjid untuk diajak ikut serta berdiam diri di masjid dan mengikuti program yang telah mereka susun.

salah seorang jama’ah yang dianggap paling berilmu dan sudah dipilih sebelumnya dalam syura pembagian tugas. Bayan biasanya berakhir pada pukul 07:00 WIB.

“Setelah shalat shubuh maka akan ada bayan shubuh atau ceramah shubuh. Setelah bayan shubuh maka kami akan mengadakan musyawarah pagi untuk mengatur program, aktivitas, dan pembagian tugas pada hari itu.”213

Kegiatan yang dilakukan setelah bayan adalah musyawarah pagi. Pada musyawarah pagi dibahas hal-hal yang berhubungan dengan tugas dakwah pada hari itu. Pembagian tugas dilakukan secara musyawarah. Setelah musyawarah maka setiap orang yang berada dalam satu kelompok atau halakoh akan mengemban tugas diantaranya: berdo’a dan berzikir selama perjalanan dakwah, berdiam di masjid untuk menyiapkan makanan, mengajak orang untuk shalat berjama’ah di masjid, dan menjadi pengisi ta’lim setelah sholat berjama’ah atau disebut juga dengan

muzakaroh.

Setelah musyawarah pagi dilaksanakan maka aktivitas selanjutnya adalah aktivitas yang dilakukan sendiri-sendiri atau disebut juga amal infiradhi. Amal infiradhi dilakukan sampai jam 09:00.214

Setelah menyelesaikan amal infiradhi, kegiatan selanjutnya adalah mempelajari Al-Quran. Jama’ah dibagi menjadi halakoh-halakoh kecil yang masing-masing terdiri dari tiga orang dan salah satu diantaranya adalah anggota dari Jama’ah Tabligh yang berperan sebagai pembimbing atau mentor. Di dalam halakoh kecil tersebut dipelajari cara membaca Al-Quran dan Ilmu Tajwid. Tafsir Al-Quran pun

213 Wawancara dengan Wahyudin, aktivis Jama’ah Tabligh, Depok, 10 Juni 2008, Pukul 21:00 WIB

214Apipudin, “Jama’ah Tabligh Suatu Upaya Pemahaman Budaya dalam Komunikasi antar Budaya”, Laporan penelitian, 2004.

akan dibahas jika di dalam halakoh tersebut ada yang mampu melakukannya. Selain itu dipelajari pula cara beribadah sehari-hari seperti cara berwudhu dan shalat.215

Setelah selesai mempelajari Al-Quran, halakoh tersebut dilebur atau digabungkan kembali menjadi jama’ah besar untuk mendengarkan pembacaan fadhilah amal tentang zhalat dan zikir. Dibacakan pula sebab-sebab keruntuhan umat Islam dan kisah para sahabat. Setelah itu jama’ah dibagi kembali menjadi halakah-halakah untuk membahas tentang enam sifat utama para sahabat Nabi Muhammad SAW. Keenam sifat tersebut adalah ajaran inti yang disampaikan oleh Jama’ah Tabligh, yakni pematapan syahadat (Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah),

sholat khusyu’ wa khudu’, ilmu ma’al zikr, ikramul muslimin, tashihul niyah, dan dakwah wa tabligh.216 Pembahasan mengenai enam sifat ini berlangsung sampai menjelang datangnya waktu shalat zuhur.

Setelah shalat zuhur, jama’ah mengadakan ta’lim zuhur, yaitu membaca hadits dan Al-Quran yang berkaitan dengan keutamaan shalat. Ta’lim ini dilanjutkan dengan

muzakarah hingga makan siang siap disajikan. Pada muzakarah biasanya dibahas

mengenai adab atau akhlak sehari-hari seperti adab makan atau berpakaian yang mendekati Nabi Muhammad saw. Makan siang disiapkan oleh karkun yang pada hari itu mendapat tugas untuk menyiapkan makanan para anggota Jama’ah. Hal ini pun dibahas pada syuro pembagian tugas sebelumnya.

215 Ibid.

Ketika makan siang telah siap, muzakarah berhenti dan acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dalam sebuah nampan besar. Aktivitas makan siang bersama di nampan besar ini dilakukan tanpa menggunakan sendok, mereka menekuk kaki kanan, dan bokong mereka bersentuhan dengan tapak kaki kiri.217 Hal ini dilakukan dengan tujuan mengeratkan rasa kebersamaan sesama anggota jama’ah. Selesai makan maka mereka akan menjilati jari-jari tangan mereka, aktivitas ini dianggap sebagai aktivitas yang juga dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW bersama sahabat-sahabatnya. Setelah selesai makan siang bersama ada waktu senggang untuk istirahat hingga waktu shalat ashar tiba. Berikut adalah kutipan wawancara yang menerangkan hal ini:

“Dalam aktivitas khuruj akan diajarkan banyak hal mengenai sunnah-sunnah yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad saw. Sunnah yang terkecil pada saat makan ketika kita makan bersama dalam satu nampan diisi oleh 70 tangan, memungut nasi-nasi yang berjatuhan, menjilati tangan setelah selesai makan, dan berbagai sunnah-sunnah lain yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.”218

Setelah selesai shalat ashar diadakan ta’lim ashar, yaitu membaca tentang keutamaan tabligh selama kurang lebih 10 menit. Setelah ta’lim selesai, jama’ah mengajak orang setempat untuk melakukan jaulah yaitu berkeliling ke rumah-rumah penduduk di sekitar masjid atau dimana orang Islam berada selama kurang lebih dua jam. Orang setempat yang ikut bersama akan menjadi penunjuk jalan atau dalil dan

ma’mur atau yang meramaikan. Sementara dari jama’ah ada yang menjadi Amir jaulah yaitu pemimpin dari tim yang berkeliling tersebut. Selain itu terdapat juga

217 Ensiklopedi Islam, op.cit., hlm.268

218 Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

karkun yang mendapat tugas sebagai mutakallim, yaitu orang yang menyampaikan

ajakan ke masjid. Penjelasan ini dikutip dari pernyataan hasil wawancara berikut: ‘Dalam perjalanan selama jaulah, setiap anggota mendapatkan tugas. Diantara anggota kelompok ada yang bertugas sebagai pemimpin perjalanan, penunjuk jalan atau dalil,

mutakallim sebagai pemberi nasihat atau ceramah, dan ada yang bertugas untuk berzikir

selama perjalanan dan selebihnya berdiam diri di masjid untuk berzikir.”219

Sambil menunggu waktu jaulah, masing-masing anggota jama’ah melakukan zikir sendiri-sendiri atau amal infiradi. Dalam zikir, yang banyak dibaca adalah tahlil,

istighfar, asmaul husna, dan shalawat. Aktivitas zikir ini dilakukan sampai kurang

lebih pukul 17:00.

Pada waktu jaulah, jama’ah dibagi dua, sebagian ada yang tetap berada di masjid dan sebagian lagi ada yang pergi berkeliling. Jama’ah yang di dalam masjid mengadakan takrir yaitu mengulang-ngulang kebesaran Allah.

“Ketika jaulah ada rijal yang bertugas untuk berdiam diri di masjid dan berzikir serta berdo’a agar Allah memudahkan dakwah yang sedang dijalankan.”220

Sementara jama’ah yang keluar masjid untuk jaulah melakukan persiapan. Sebelum mengunjungi rumah-rumah, mereka berdo’a terlebih dahulu untuk memohon kepada Allah agar ditabahkan hati dan diberi keikhlasan bagi yang berjaulah, serta meminta agar orang yang dijaulahi dibukakan hatinya sehingga dapat menerima dakwah mereka.

Setelah berdo’a bersama, amir jaulah tersebut menjelaskan adab-adab atau sopan santun selama melaksanakan jaulah.221 Selama jaulah mereka harus

219Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

220 Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

menghindarkan pembicaraan tentang empat hal, yakni pangkat-derajat, politik, khilafiah, dan madzhab. Rombongan jaulah ini terdiri dari tiga sampai lima orang dengan pembagian tugas sebagai berikut:

1. Amir Jaulah, yakni pemimpin selama melakukan jaulah

2. Dalil, yakni seseorang yang menjadi penunjuk jalan. Biasanya adalah orang setempat yang ikut dalam aktivitas Jama’ah Tabligh

3. Mutakallim, juru bicara selama jaulah 4. Ma’mur, orang yang meramaikan jaulah.

Setelah selesai shalat maghrib, jama’ah mengadakan bayan atau ceramah untuk semua jama’ah termasuk jama’ah sholat maghrib yang berasal dari penduduk setempat. Setelah bayan, mereka melakukan ikhtilat yaitu melakukan silaturahim dengan cara berbincang-bincang antara para karkun Jama’ah Tabligh dengan jama’ah yang berasal dari penduduk daerah setempat. Pembicaraan tidak hanya sebatas mengenai agama Islam namun tentang berbagai hal. Aktivitas ini dilakukan sampai waktu shalat isya tiba.222

Ta’lim selanjutnya adalah sesudah shalat Isya.223 Dalam ta’lim ini dibacakan kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad SAW Selama kurang lebih 10 menit. Setelah aktivitas tersebut seluruh anggota Jama’ah makan malam bersama dan beristirahat sejenak. Setelah beristirahat, jama’ah kembali melakukan jaulah ke rumah-rumah

221. Apipudin, “Jama’ah Tabligh Suatu Upaya Pemahaman Budaya dalam Komunikasi antar Budaya”,

Laporan penelitian, 2004.

222Ibid.

yang ada di sekitar masjid. Satu rumah dikunjungi maksimal oleh dua orang. Kunjungan ini dilakukan untuk memantapkan silaturahmi yang sudah dilakukan setelah shalat maghrib. Waktu kunjungan tidak terlalu lama karena pada jam 21:00 jama’ah harus sudah kembali ke masjid. Menjelang tidur, seseorang yang disebut

amir muzakarah membahas adab-adab tidur atau cara-cara tidur yang baik yang

dicontohkan nabi Muhammad SAW. Amir muzakarah yang memimpin muzakarah biasanya adalah orang yang dianggap paling berilmu di dalam jama’ah.224

Sebelum mereka meninggalkan tempat dakwah, masyarakat setempat diajak keluar bersama untuk menyampaikan dakwah ke tempat lain. Beberapa orang dengan sukarela menemani mereka untuk pergi ke tempat lain selama tiga hari atau sampai 40 hari. Melalui aktivitas khuruj ini para pengikut Jama’ah Tabligh bertambah, setiap datang ke suatu wilayah maka jumlah anggota ketika meninggalkan wilayah tersebut biasanya bertambah karena diikuti oleh orang-orang yang tertarik pada usaha dakwah mereka.

Rutinitas yang dilakukan saat khuruj ini dilakukan selama mereka melakukan dakwah tiga hari atau 40 hari, ataupun empat bulan. Khuruj dilakukan sepenuhnya oleh anggota laki-laki jama’ah (karkun). Bagi kaum wanita, perjalanan dakwah dilakukan bersama dengan suami atau pun orang lain yang masih memiliki hubungan darah dengannya. Sebagai contoh: seorang anak perempuan yang lajang dan ingin melakukan perjalanan dakwah harus pergi bersama dengan orang tuanya (ibu).

224Apipudin, “Jama’ah Tabligh Suatu Upaya Pemahaman Budaya dalam Komunikasi antar Budaya”, Laporan penelitian, 2004

Perjalanan dakwah wanita bersama suami ini disebut dengan masturoh. Dalam masturoh tujuan perjalanan dapat dilakukan ke wilayah manapun sesuai dengan yang telah ditentukan oleh tim syuro yang ada di markaz kebun jeruk.

“Setiap hal yang berhubungan dengan kegiatan dakwah telah diatur oleh ulama-ulama yang ada di Kebun Jeruk, ada syuro yang mengaturnya.”225

Aktivitas yang dilakukan saat masturoh sedikit berbeda dengan khuruj pada anggota pria. Pusat kegiatan masturoh dilakukan tidak di masjid melainkan di sebuah rumah. Rumah yang didatangi ditentukan oleh anggota laki-laki, sedangkan anggota wanita hanya mengikuti saja. Masturoh dilakukan selama tiga hari. Tahapan aktivitas yang dilakukan pada saat masturoh hampir sama dengan aktivitas pada saat khuruj, yang membedakan adalah tidak adanya jaulah bagi anggota wanita. Tema ta’lim pada masturoh sedikit berbeda dengan khuruj yang lebih banyak mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan ritual peribadahan.

Ta’lim yang dilakukan pada saat masturoh biasanya membahas seputar kehidupan rumah tangga dalam pandangan Islam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti adab suami kepada istri, adab istri kepada suami, dan mendidik anak. Materi lain yang juga disampaikan adalah fadhilah amal, fadhilah Al-Quran, fadhilah sedekah, dan fadhilah puasa. Aktivitas yang dilakukan oleh anggota laki-laki dan perempuan dilakukan terpisah namun pada satu tempat yang sama. Berikut adalah pernyataan yang dikutip dari wawancara dengan salah seorang anggota Jama’ah Tabligh yang telah melaksanakan masturoh:

225 Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

“Penentuan wilayah untuk masturoh sepenuhnya diatur oleh para rijal para wanita hanya mengikuti saja. Jika telah ditentukan ke sebuah tempat maka kami akan taat dan segera mengatur keberangkatan. Ta’lim pada saat masturoh membahas berbagai hal yang berhubungan dengan rumah tangga dan hubungan antara suami dan istri.”226

Selama melakukan aktivitas khuruj atau masturoh, para anggota Jama’ah Tabligh baik laki-laki maupun perempuan menolak undangan kenduri yang diselenggarakan penduduk setempat. Hal ini dimaksudkan agar aktivitas mereka terfokus pada dakwah dan tidak terlibat dalam aktivitas keduniawian. Selama melakukan aktivitas dakwah, anggota Jama’ah Tabligh tidak memasukkan ide mengenai penghapusan kemungkaran.227 Sebab hal ini dapat menimbulkan kendala dalam perjalanan dan penyampaian dakwah.

Mereka berkeyakinan bahwa ketika perbaikan individu terhadap setiap muslim telah dilakukan maka perbaikan umat pun akan terjadi. Ada sebuah konsep yang mereka yakini sebagai syarat dan janji. Jama’ah Tabligh beranggapan bahwa mengapa umat Islam saat ini banyak mengalami kemunduran dalam berbagai hal disebabkan oleh syarat-syarat sebagai hamba yang belum terpenuhi. Ketika manusia dapat memenuhi syarat-syarat yang diberikan oleh Allah SWT, yakni menjadi hamba yang shalih, maka Allah SWT pun akan menepati janjinya untuk mensejahterakan hambaNya. Hal inilah yang meyakinkan Jama’ah Tabligh untuk tetap bertahan pada jalur yang tidak bersinggungan dengan permasalahan di luar peribadahan kepada Allah SWT.228

226 Wawancara dengan Adnan, aktivis perempuan Jama’ah Tabligh, Depok, 22 Mei 2008, Pukul 10:00 WIB

227 WAMI, op.cit., hlm 77

Khuruj dan masturoh adalah pola dakwah kultural yang dilakukan oleh

anggota Jama’ah Tabligh. Dakwah eksternal atau dakwah kepada masyarakat umum dipusatkan pada aktivitas ini. Berpindah dari suatu wilayah ke wilayah lainnya untuk menyebarkan dakwah Islam melalui metode orang perorang. Melalui metode dakwah yang dilakukan Jama’ah Tabligh maka terlihat bahwa fokus perbaikan individu adalah agenda dakwah yang utama. Setiap aktivitas yang dilakukan adalah menuntut ilmu mengenai ibadah ritual seperti sholat, zikir, dan puasa.

Dokumen terkait