• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa peranan fatwa sangat besar dan urgen dalam kontek pembaharuan hukum Islam. Pembaharuan tidak mungkin dapat dilakukan apabila tidak ada ahli hukum yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai mufti (mujtahid). Hubungan antara pembaharuan hukum Islam dengan fatwa (ijtihad) ibarat dua sisi mata uang berbeda tapi tidak dapat dipisahkan, saling mengisi dan melengkapi. Jika proses memberi fatwa (al-ifta>’) dapat dilakukan dalam proses pembaharuan hukum Islam secara benar, niscaya hukum-hukum yang dihasilkan proses al-ifta’ pun akan benar, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, oleh karena itu, perlu ada lembaga fatwa yang mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan masyarakat.98

Dalam praktiknya lembaga-lembaga fatwa tersebut, proses al-ifta’ tentunya memerlukan sebuah metodologi ijtihad hukum untuk menjawab berbagai persoalan baru yang muncul saat ini. Masing-masing lembaga fatwa tersebut, memiliki metode ijtihad hukum tersendiri yang antar satu dengan yang lain berbeda.

Perbedaan metode ijtihad kadang mempengaruhi hasil sebuah fatwa, tapi tidak sedikit yang ternyata memiliki kesimpulan sama. Meskipun demikian, karena perbedaan metode yang digunakan, tentu akan memiliki perbedaan baik dari sisi pertimbangan maupun argumen yang digunakannya. Untuk melihat metode dan prosedur masing-masing lembaga, berikut adalah uraiannya:

1. Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah

Sebagai lembaga fatwa tertua di dunia, Da>r al-Ifta>’ tentunya menjadi rujukan (marja>’) dalam bidang hukum oleh tidak hanya masyarakat Mesir, melainkan seluruh umat Muslim di dunia. Hal ini dikarenakan pemilihan metode moderat (manhaj wasat}iyah) dalam memahami hukum-hukum syariah melalui kegiatan pemberian fatwa (al-ifta>’) di tengah-tengah kehidupan umat Islam.

Metode moderat tersebut merupakan suatu pendekatan dengan cara mengadopsi mazhab suni yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), di samping juga mengadopsi mazhab lain yang diikuti oleh sebagian umat Islam di dunia yaitu Ja’fariyah, Zaidiyah, ‘Iba>d}iyah dan Z{a>hiriyah. Sistem adopsi mazhab baik dari kalangan suni maupun mazhab lain, merupakan dalam masalah-masalah yang pokok (us}u>l) dan cabang (furu>’). Hal ini dilakukan untuk menyeleksi (tarji>h}) beberapa

96 Sebagai Hasil Keputusan Rapat Komisi Fatwa, tanggal 23 Muharram 1422 H./12 April 2001

97 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975, (Jakarta: Emir, 2015), h. 9-10

98 Amran Suadi, Abdul Manan Ilmuan dan Praktisi Hukum: Kenangan Sebuah Perjuangan (Jakarta: Kencana, 2016), h. 203

76

pendapat yang disesuaikan dengan kepentingan umat atau untuk memastikan kemaslahatan umat yang menjadi tujuan syariat (maqa>s}id al-shari>‘ah).99

Pengakuan serta mengadopsi terhadap beberapa mazhab yang ada, Da>r al-Ifta>’ juga mengakui serta mengadopsi beberapa pandangan mujtahid individu dalam rangka mencari pendapat yang kuat dari sisi dalil atau pendapat yang lebih tepat untuk kepentingan umat sehingga tujuan syariat tidak terabaikan. Mujtahid-mujtahid tersebut seperti al-Auza>’i>, al-T{abari>, dan al-Laith bin Sa’ad.100

Untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu publik yang bersifat kontemporer dan sangat dibutuhkan oleh umat manusia, Da>r al-Ifta>’ mematuhi apa yang telah diputuskan oleh Fatwa Dewan Islam yang dipimpim oleh Islamic Research Academy (majma’ al-buh}u>th al-isla>mi>) yang berada dibawah naungan al-Azhar al-Shari>f, International Islamic Fiqh Academy (majma’ al-fiqh al-isla>mi>) yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Jeddah dan Islamic Fiqh Academy (majma’ al-fiqh al-isla>mi>) yang berada dibawah naungan Liga Dunia Muslim di Mekkah.101

Dalam kasus-kasus yang tidak ditemukan jawabannya dalam mazhab-mazhab fikih yang ada, atau terdapat jawaban, namun tidak sesuai dengan kondisi atau kasus yang sedang dicarikan jawabannya, maka Da>r al-Ifta>’ mengadakan penggalian (istinba>t}) hukum langsung dari sumber primer yakni al-Qur’an dan Hadits. Penggalian hukum langsung dari sumbernya termasuk juga ijma’ dan kias dilakukan dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ulama ahli us}u>l. Termasuk dalam penggunaan beberapa metode ijtihad yang telah dirumuskan oleh para ulama, seperti mas}lah}ah mursalah, istih}sa>n, sadd al-dhari>‘ah dan lain sebagainya.102

Dalam merumuskan jawaban, Da>r al-Ifta>’ telah melakukan kajian secara mendalam tentang aspek maslahat sebagai inti dari maqa>s}id al-shari>’ah. Pengkajian tersebut dilakukan oleh tim maqa>s}id yang memiliki tugas untuk membuat agenda kerja guna mendiskusikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan maqa>s}id, khususnya yang berkaitan dengan fikih realita. Hal ini mengingat maqa>s}id al-shari>’ah merupakan salah satu alat terpenting dalam berinteraksi dengan fikih realita dan penentuan hukum terhadapnya. Terlebih lagi dengan adanya hubungan yang erat antara maqa>s}id hukum-hukum takli>fi> dengan maqa>s}id utama syariat yang menggerakkan visi keislaman secara menyeluruh dalam seluruh fase pada proses fatwa.103 Dengan demikian, Da>r al-Ifta>’ dalam proses berfatwa selalu berusaha tidak mengabaikan tujuan syariat. Hal ini disadari bahwa, tujuan syariat merupakan

99 Lihat http://dar-alifta.org/AR/ViewFatawaConcept.aspx?Sec=fatwa&ID=64 diakses pada 23 Januari 2019 pukul 21.30

100 Lihat http://dar-alifta.org/AR/ViewFatawaConcept.aspx?Sec=fatwa&ID=64 diakses pada 23 Januari 2019 pukul 21.30

101 Lihat http://dar-alifta.org/AR/ViewFatawaConcept.aspx?Sec=fatwa&ID=64 diakses pada 23 Januari 2019 pukul 21.30

102 Lihat http://dar-alifta.org/AR/ViewFatawaConcept.aspx?Sec=fatwa&ID=64 diakses pada 23 Januari 2019 pukul 21.30

103 http://dar-alifta.org/Module.aspx?Name=aboutdar. diakses pada 23 Januari 2019 pukul 22.30

77

ruh dari hukum Islam, jika suatu penetapan hukum mengabaikan maqa>s}id al-shari>’ah, berarti telah menciptakan hukum yang mandul di tengah-tengah kehidupan umat.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa metode ijtihad yang digunakan oleh Da>r al-Ifta>’ dalam memberikan fatwa (al-ifta>’) menggunakan tiga pendekatan.

Pertama, pendekatan madhhabi, baik qauli> maupun manhaji>. Pendekatan madhhabi bagian yang pertama dilakukan dengan menelusuri berbagai pendapat ulama baik dari kalangan mazhab suni yang empat (H{anafi>, Ma>liki>, Sha>fi’i> dan H{anbali>) maupun dari mazhab yang lain, termasuk pendapat-pendapat ulama individu.

Adapun bagian yang kedua, yaitu menerapkan kaidah-kaidah penggalian hukum (istinba>t} al-ah}ka>m) yang telah dirumuskan oleh imam mazhab. Kedua, pendekatan nash. Pendekatan ini dilakukan dengan merujuk langsung kepada ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi, hal ini dilakukan ketika tidak mendapatkan jawaban dari pandangan ulama-ulama yang tersebar dalam kitab-kitab, atau ada jawaban, namun dianggap tidak sesuai dengan masalah yang sedang dicarikan jawabannya. Ketiga, pendekatan maqa>s}idi>. Pendekatan ini dilakukan ketika persoalan yang dihadapi adalah masalah terkait dengan fikih realita.

2. Lajnah Bah}th al-Masa>’ilNU (LBM-NU)

Dalam menjalankan semua aktifitas keagamaan, baik yang praktis maupun teoritis, NU selalu menggunakan sistem bermazhab (pendekatan madhhabi>).104 Hal ini dapat dipahami bahwa isba>t al-ah}ka>m (menetapkan hukum) dalam pandangan NU tidaklah dimaksudkan sebagai aktifitas penetapan hukum yang secara langsung bersumber dari al-Qur’an dan Hadits, melainkan sebagai upaya penetapan hukum dengan cara men-tat}bi>q-kan (mencocokkan atau menerapkan) secara tepat dan dinamis dari qaul dan ‘iba>rah dalam kitab mu’tabarah (madha>hib al-arba‘ah) terutama di lingkungan mazhab Imam Sha>fi’i>.105

Agar terjadi standarisasi dalam isba>t al-ah}ka>m, maka dirumuskanlah prosedur dan langkah-langkah penetapan hukum pada saat Munas Alim Ulama di Bandar Lampung pada 21-25 Januari 1992, yang kemudian disempurnakan saat Muktamar ke-31 di Asrama Haji Donohudan Boyolali-Solo pada 29 Nopember-1

104 Lihat Putusan Bah}th al-Masa>’il dalam Muktamar ke-1 di Surabaya 21 Oktober 1926 tentang Hukum Bermazhab, Putusan Muktamar ke-11 di Banjarmasin 9 Juni 1936 tentang Berhukum Langsung dengan Al-Qur’an dan Hadits, Putusan Muktamar ke-12 di Malang 25 Maret 1937 tentang Menjalankan Apa yang Tersebut dalam al-Qur’an dan Hadits Tanpa Bermazhab. Lihat Nahdlatul Ulama, Ahkam al-Fuqaha…h. 2, 186, dan 199

105 Hasil penelitian Ahmad Zahro membuktikan bahwa, frekwensi pengambilan sumber dari kitab sebanyak 925 kali, 755 kali (91,5 %) bersumber dari kitab-kitab Sha>fi'iyya>t. Kitab-kitab selain Mazhab Sha>fi’i sebanyak 70 kali (8,5 %) yang terdiri atas Mazhab Ma>liki 14 kali (1,8 %), Mazhab H{anafi> 6 kali (0,7 %), dan Mazhab H{anbali hanya 2 kali (0,2 %). Dari buku yang dijadikan rujukan berjumlah 153 judul, 4 judul (2.6%) bermazhab Hanafi, 10 judul (6,5 %) bermazhab Māliki, 109 judul (71,2 %) bermazhab Sha>fi’i, 2 judul (1,3 %) bermazhab H{anbali, dan 28 judul (18,4 %) umum. Lihat Lihat Ahmad Zahro, Tradisi Intelektual NU,…h.160

78

Desember 2004.106 Prosedur isba>t al-ah}ka>m tersebut, merupakan tindak lanjut dari gagasan-gagasan para pemikir produktif muda NU dalam sebuah forum ‚H}alaqah‛ (sarasehan) untuk merumuskan kerangka teoritik berfikih yang produktif dan matching bahkan sesuai dengan perkembangan zaman. Salah satu hasil konkerit dari forum ‚H}alaqah‛ tersebut adalah munculnya istilah bermazhab secara manhaji>. Pada tahun 1987 dan 1998 atas dukungan K.H. Sahal Mahfudh dan K.H. Imron Hamzah, mereka mempolulerkan istilah tersebut dengan mengadakan seminar di Pondok Pesantren Watu Congol, Muntilan Magelang dengan tema ‚Telaah Kitab Secara Kontekstual‛. Pada pertengahan bulan Oktober tahun 1989 diadakan h}alaqah mengenai ‚Masa Depan NU‛ dengan salah satu pembicaranya A. Qodri Azizi. Beliau menegaskan perlunya redefinisi bermazhab yang pada akhirnya dicetuskan istilah bermazhab fi> al-manhaj (mengikuti metodologinya para imam Mujtahid).107 Kemudian pada tanggal 26-28 Januari 1990, di kalangan pesantren telah diadakan diskusi untuk mencari metode Bah}th al-Masa>’il yang lebih maju.

Hal ini tercermin dalam h}alaqah di Pondok Pesantren Manba’ul Ma’arif Denanyar Jombang.108

Adapun metode isba>t al-ah}ka>m berdasarkan Keputusan Munas Alim Ulama tahun 1992 adalah sebagai berikut. Pertama, dengan metode qauli>. Metode qauli>

adalah sebuah metode penetapan hukum dengan cara mempelajari kasus yang dihadapi, kemudian mencarikan jawabanya pada al-kutub al-mu‘tabarah, dengan mengacu dan merujuk secara langsung pada bunyi teksnya yang dilakukan dengan cara taqri>r jama>’i (kolektif). Atau dengan kata lain mengikuti pendapat-pendapat ulama yang sudah ‚jadi‛ dalam lingkup mazhab tertentu. Maksudnya, jika suatu masalah atau kasus telah ditemukan jawabanya dalam sebuah kitab, maka itulah jawabannya. Jadi, pada dasarnya tidak sampai menggali hukum, tapi hanya

‚searching pendapat‛ saja, kemudian disampaikan. Meskipun demikian, menjawab permasalahan fikih dengan menggunakan pendapat tunggal dapat dibilang atau hampir tidak pernah dijumpai kecuali jika pendapat tersebut telah menjadi Ijma’. Hal ini terkait dengan pernyataan fikih, bahwa fikih yang dilahirkan dari dali>l ‘a>m sebagai konsekuensinya pasti akan melahirkan keputusan dan pemikiran ganda, dua, tiga bahkan empat dan seterusnya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi adanya pengambilan keputusan dengan menggunakan pendapat para ulama yang paling dominan, maka dibuatlah prosedur pemanfaatan metode qauli dengan cara taqri>r jama>’i. Pertama-tama, mengidentifikasi pendapat-pendapat ulama tentang suatu masalah yang dibahas. Kemudian memilih pendapat yang unggul dengan kriteria sebagai berikut: (a). dengan mengambil pendapat yang paling kuat dalilnya;

(b). pendapat yang paling maslahat (as}lah}); (c) pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama; (d) pendapat ulama yang paling alim; dan (e) pendapat ulama yang paling wara’. Selanjutnya memperhatikan ketentutan dari masing-masing

106 Lihat Nahdlatul Ulama, Ahkam al-Fuqaha…h. 470, 846-849

107 Mahsun Mahfudz dan Baedhowi, ‚Mencermati Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Di Indonesia; Studi Apresiatif Atas Pemikiran KH. Sahal Mahfudh tentang Fikih Sosial‛ dalam Jurnal Edisi 7 Vol. IV, April 2008, h. 59

108 Ahmad Zahro, Tradisi Intelektual NU, 129. Lihat juga Muchith Muzadi, NU dan Fiqh Kontekstual, (Yogyakarta: LKPSM NU DIY, 1995), Cet. Ke-2, h. 60.

79

mazhab atas pendapat yang diunggulkan di kalangan mereka, yakni mazhab H{anafi>, Ma>liki>, Sha>fi’i, dan Hanbali>.109

Namun dalam praktiknya, hierarki susunan pendapat tersebut, dapat diaplikasikan sebagai berikut: jika jawaban telah ditemukan dalam kitab rujukan, dan di sana terdapat hanya satu pendapat, maka dipakailah pendapat itu. Jika jawaban telah ditemukan dalam kitab rujukan, dan di sana terdapat lebih dari satu pendapat, maka dilakukan taqri>r jama>‘i yaitu upaya secara kolektif untuk menetapkan pilihan terhadap satu di antara beberapa pendapat.110

Kedua, metode ilh}a>q. Metode ini secara operasional hampir mirip dengan metode kias, yaitu menyamakan suatu perkara yang belum ditentukan status hukumnya oleh nash (al-Qur’an dan Sunnah) dengan perkara yang sudah ditentukan status hukumnya oleh nash}. Adapun metode ilh}a>qi>, menyamakan sesuatu perkara yang belum ada ketetapanya dalam al-kutub al-mu‘tabarah dengan sesuatu perkara yang sudah ada ketetapanya berdasarkan teks al-kutub al-mu‘tabarah. Dengan demikian, dalam ilh}a>q yang dijadikan sandaran adalah hukum yang sudah termaktub dalam kitab-kitab mu’tabarah atau pendapat yang sudah ‚jadi‛. Secara operasional metede ilh}a>q ini dilakukan secara kolektif (jama>‘i) oleh para ulama yang membidanginya.111

Adapun prosedur penggunaanya adalah dengan cara memahami secara benar tentang suatu kasus (tas}wwur al-masalah) yang akan disamakan (mulh}aq).

Kemudian mencari padanannya yang ada di dalam kitab yang akan di-ilh}a>q-i (mulh}aq bih) atas dasar persamaan di antara keduanya (wajh al-ilh}a>q). Terakhir menetapkan hukum mulh}aq seperti hukum mulh}aq bih.112Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ini adalah bahwa metode ilh}a>q harus ada mulh}aq (perkara yang belum ada ketetapan hukumnya), mulh}aq bih (perkara yang sudah ada kepastian hukumnya), dan wajh al-ilh}a>q (faktor keserupaan antara mulh}aq dan mulh}aq bih). Semua itu ditentukan oleh para mulh}iq (pelaku ilh}a>q) yang sudah ahli.

Ketiga, metode manhaji>. Dalam kasus yang tidak dapat diselesaikan melalui ilh}a>q, maka dilakukan dengan cara istinba>t} jama>’i melalui prosedur bermazhab secara manhaji> oleh para ahlinya. yaitu dengan cara mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh para imam mazhab (al-madha>hib al-arba’ah). Metode manhaji> ini dilakukan secara jama>‘i (kolektif) dengan mempraktekkan qawa>’id al-us}u>liyyah dan qawa>’id al-fiqhiyyah.113

Adapun prosedur penggunaan metode manhaji> tersebut, pertama-tama dengan memahami secara benar tentang suatu kasus yang akan ditetapkan hukumnya (tas}wwur al-masalah). Kemudian mencari dalil yang akan dijadikan dasar dalam penetapan hukum (istidla>l). Selanjutnya menerapkan dalil tersebut

109 Nahdlatul Ulama, Ah}ka>m al-Fuqa>ha>…h. 860-862

110 Nahdlatul Ulama, Ah}ka>m al-Fuqa>ha>…h. 860-862

111 Nahdlatul Ulama, Ah}ka>m al-Fuqa>ha>… h. 470-471

112 Nahdlatul Ulama, Ah}ka>m al-Fuqa>ha>… h. 862

113 Nahdlatul Ulama, Ah}ka<m al-Fuqa>ha>… h. 473

80

terhadap masalah sesuai dengan kaifiyah al-istidla>l (metode pengambilan hukum).

Terakhir menetapkan status hukum masalah yang dibahas.114

Metode isba>t al-ah}ka>m diatas, kemudian disempurnakan pada Munas Alim Ulama yang dilaksanakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada 27-30 Juli 2006, dan disempurnakan kembali pada Muktamar ke-32 di Asrama Haji Sudiang Makassar pada 22-29 Maret 2010. Penyempurnaan tersebut meliputi dicantumkannya sejumlah ayat al-Qur’an, Hadits dan dalil-dalil syarak lainnya dalam setiap jawaban persoalan hasil Bah}th al-Masa>’il. Hal ini menunjukan telah terjadi perkembangan baru dalam tradisi Bah}th al-Masa>’il. Tradisi tersebut, nyaris tidak pernah dilakukan dalam Bah}th al-Masa>’il NU sebelumnya. Meskipun dalam kenyataanya, penyantuman ayat al-Qur’an, Hadits dan dalil-dalil lainnya tersebut merupakan bagian dari pendapat Ulama yang terdapat dalam kutub al-mu‘tabarah. Hal ini dikarenakan, ayat al-Qur’an, Hadits dan dalil-dalil lainnya dalam pandangan Ulama NU tidak dijadikan sebagai dalil yang mandiri, tetapi merupakan bagian dari ijtihad ulama. Di samping itu, Munas tersebut juga melakukan pengelompokan al-kutub al-mu‘tabarah di semua kalangan mazhab empat (H{anafi>, Ma>liki>, Sha>fi’i, dan H{anbali>).115

3. Majelis Tarjih Muhammadiyah

Rumusan metode fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah, dapat dilakukan melalui tiga jalur, yaitu: al-baya>ni, al-qiya>si dan al-istis}la>h}i.116Metode al-baya>ni merupakan upaya untuk menjelaskan hukum yang kasusnya telah terdapat dalam nash al-Qur’an dan Hadits. Menurut Muhammadiyah, al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber utama hukum dalam Islam.117 Keyakinan Muhammadiyah tersebut, sebagaimana lazimnya keyakinan seluruh umat Islam dalam berbagai mazhab dan aliran yang ada. Meskipun demikian, al-Qur’an merupakan sumber yang pertama dan paling utama hukum Islam yang diturunkan Allah. Artinya, seorang mujtahid harus mendahulukan nash al-Qur’an sebagai rujukan dalam menetapkan hukum Islam sebelum menggunakan sumber hukum lainnya. Adapun Hadits nabi, berfungsi sebagai penjelas (tibya>nan) terhadap al-Qur’an. Tentu penjelasan Hadits tersebut tidak boleh bertentangan dengan apa yang dijelaskan oleh al-Qur’an. Oleh karena itu, kriteria Hadits yang digunakan oleh Majelis Tarjih sebagai sumber hukum adalah Hadits yang Shahih. Menurut interpretasi Asjmuni Abdurrahman, tokoh Majlis Tarjih, Hadits yang Shahih adalah Hadits Maqbu>lah, yaitu Hadits yang diterima sebagai dalil hukum, meski sejak dari awal belum secara konsisten dilaksanakan, sebagaimana terdapat dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) telah menetapkan hukum berdasarkan pada Hadis d}a’i>f.118

114 Nahdlatul Ulama, Ah}ka<m al-Fuqa>ha>… h. 862

115 Lihat Nahdlatul Ulama, Ah}ka<m al-Fuqa>ha>… h. 878-879

116 Lihat Asjmuni Abdurrahman, Manhaj Tarjih Muhammadiyah, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2012). Cet. Ke-6, h. 105-109

117 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, (Yogyakarta: P.P. Muhammadiyah dan Majlis Tarjih, t.th.) cet. ke-3, h.

278.

118 Lihat Asjmuni Abdurrahman, Manhaj Tarjih Muhammadiyah…h. 9.

81

Menurut Fathurrahman Djamil, tolok ukur sebuah Hadits yang dapat dijadikan sebagai dalil hukum adalah dengan cara mengujinya dengan al-Qur’an.

Jika Hadits sejalan dengan al-Qur’an, maka Hadits tersebut dapat diterima. Akan tetapi, jika Hadits tersebut tidak sejalan, apalagi bertentangan dengan al-Qur’an, maka Hadits tersebut tidak dapat diterima. Tolok ukur semacam ini dimasukan dalam kajian kritik matan Hadits. Oleh karena itu, kriteria sebuah Hadits dapat dikategorikan sebagai shahih, tidak semata-mata ditentukan dari segi sanad saja, tetapi juga harus ditinjau dari segi matannya.119

Adapun konsep Ijma’, Majelis Tarjih Muhammadiyah hanya menerima konsep Ijma’ yang terjadi di kalangan sahabat Nabi. Menurut Muhammadiyah, Ijma’ tidak mungkin terjadi setelah masa sahabat Nabi, hal ini dikarenakan jumlah umat Islam yang cukup banyak dan mereka tersebar di berbagai penjuru dunia yang berjauhan, sehingga menyulitkan untuk berkumpul dalam satu tempat. Di samping itu, menjamurnya berbagai aliran dan sekte dalam Islam, menyulitkan proses Ijma’

itu sendiri. Oleh karena itu, konsep Ijma’ yang diterima adalah Ijma’ sahabat Nabi,120 dikarenakan jumlah umat Islam yang sedikit dan tempat tinggal masih dalam wilayah tertentu. Pandangan demikian, sejatinya sejalan dengan pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal yang menyatakan bahwa ‚siapa yang telah mengklaim adanya Ijma’ berarti telah berdusta‛. Juga sependapat dengan Ibn H{azm dan al-Syafi’i yang menyatakan bahwa sulitnya mencapai Ijma’ setelah periode sahabat.121 Pendapat di atas didukung oleh Ibn Qayyim al-Jauzi (w. 751 H.) yang menegaskan bahwa pengetahuan seseorang tentang kesepakatan kaum Muslimin yang berada di berbagai belahan dunia ini, jika tidak boleh dikatakan sebagai sesuatu yang mustahil, maka dapat dikatakan sebagai suatu hal yang paling sulit terjadi.122

Adapun metode al-qiya>si, merupakan cara yang digunakan oleh Majelis Tarjih dalam menyelesaikan kasus baru dengan cara menganalogikannya pada kasus yang status hukumnya telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan Hadits. Kias sebagai metode penetapan hukum dapat diterima oleh Muhammadiyah dengan catatan bahwa kasus-kasus yang dihadapi tersebut tidak berhubungan dengan ibadah mah}d}ah dan belum ada ketetapannya dalam al-Qur’an dan Hadits. Penetapan hukum melalui metode kias ini, dengan cara melihat persamaan ‘illat di antara kedua kasus tersebut. Sehingga metode al-qiya>si ini, dapat dikatakan sebagai metode penetapan hukum yang menggunakan pendekatan penalaran (menggali hikmah dan tujuan hukum), yang disebut sebagai metode ta’li>li>.123 Selain menggunakan metode kias, men-ta’li>l sebuah kasus dapat pula dilakukan melalui metode istihsan. Perbedaan antara keduanya terletak lebih pada ‚kekuatan‛ dan

‚daya jangkauan‛ sebuah illat-nya. Dalam metode kias, antara kasus baru dengan kasus yang terdapat dalam nash (al-Qur’an/Hadits) ada kesamaan illat, sedangkan

119 Fathurrahman Djamil, Metode Ijithad Majlis Tarjih Muhammadiyah…h. 72

120 Asjmuni Abdurrahman, Manhaj Tarjih Muhammadiyah…h. 201-202

121 Fathurrahman Djamil, Metode Ijithad Majlis Tarjih Muhammadiyah…h. 74

122 Ibn al-Qayyim al-jauzi, I’la>m al-Muwa>qi’in ‘an Rabbi al-Alami>n, (Beirut: Da>r al-Fikr, tth.) Juz II, h. 334

123 Metode ta’li>li> merupakan sebuah metode yang menitik beratkan pada konsep pencarian illat atau motif hukum.

82

metode istihsan jangkauan illat-nya lebih luas, bahkan mungkin berbeda atau berpaling sama sekali dari illat itu.124

Terakhir adalah metode istis}la>h}i yaitu sebuah metode yang digunakan untuk menyelesaikan beberapa kasus baru yang tidak terdapat dalam kedua sumber

Terakhir adalah metode istis}la>h}i yaitu sebuah metode yang digunakan untuk menyelesaikan beberapa kasus baru yang tidak terdapat dalam kedua sumber