• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA A.Deskripsi Teori

5. Metode Group Investigation (GI) dalam Pembelajaran Kooperatif

Group Investigation (GI) adalah salah satu tipe dari model pembelajaran Cooperative Learning atau yang dikenal dengan pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Robert E. Slavin.

28

Hakikat pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang menekankan kerjasama untuk menyelesaikan tujuan. Prinsip utama belajar kooperatif menurut Sri Anitah, dkk (2008:3.8) yaitu kesamaan tujuan dan ketergantungan positif. Tujuan yang sama pada anak-anak dalam kelompok membuat belajar lebih kooperatif. Sedangkan ketergantungan positif yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif adalah kegiatan yang dilakukan oleh anggota kelompok hanya dapat berhasil jika anggota dapat bekerja sama dalam kelompoknya.

Menurut Sugiyanto (2010: 37) pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif mencipatakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (Learning Community).

Konsep dasar pembelajaran kooperatif meliputi beberapa aspek yaitu:

1) Kelas demokratis, kelas seharusnya merupakan laboratorium atau miniature demokrasi yang bertujuan mempelajari dan menyelidiki berbagai masalah sosial dan interpersonal.

2) Hubungan Antar Kelompok

3) Experiental Learning, didasarkan pada tiga asumsi belajar yang baik, yaitu: a) bila kita terlibat secara pribadi dalam pengalaman belajarnya; b) pengetahuan harus ditemukan anda sendiri agar memiliki arti atau dapat membuat perbedaan pada perilaku, dan c) komitmen terhadap belajar

29

paling tinggi apabila kita bebas menentukan tujuan belajar kita sendiri dan berusaha secara aktif untuk mencapainya dalam kerangka kerja tertentu. 4) Teori motivasi, kooperatif sebagai usaha berorientasi tujuan dari tiap

individu memberi kontribusi pada pencapaian tujuan anggota lainnya. b. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait menurut Lie (2004) dalam Sugiyanto (2010: 40) yaitu sebagai berikut:

1) Saling ketergantungan positif

Dalam pembelajaran kooperatif guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. 2) Interaksi Tatap Muka

Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka salam kelompok sehingga mereka dapat berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru.

3) Akuntabilitas Individual

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang memberikan bantuan. Nilai kelompok

30

berdasarkan rata-rata hasil belajar semua anggota, Karena itu setiap anggota kelompok harus memberikan sumbangan demi kemajuan kelompok. 4) Keterampilan Menjalin Hubungan antar Pribadi

Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi sengaja diajarkan.

c. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional Dalam pembelajaran tradisional dikenal pula belajar kelompok, meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan esensial antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional. Perbedaan tersebut menurut Sugiyanto (2010: 42) adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Tradisonal Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Tradisional Adanya saling ketergantungan positif,

saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotive

Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok

Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok. Kelompok diberi umpan balik rentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan

Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan kelompok lainnya hanya enak-enak saja di atas keberhasilan temannya yang dianggap pemborong

Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kealamin, ras, etnik dan sebagainya

Kelompok belajar biasanya heterogen

31 sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan Pimpinan kelompok biasanya dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok

Pemimpin kelompok biasanya sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing

Ketrampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan

Keterampilan sosial tidak diajarkan secara langsung

Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan inverensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok

Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung

Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi pada kelompok tersebut

Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar Penekanana tidak hanya pada

penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai)

Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas

d. Dasar Pemikiran Metode Group Investigation

Group Investigation memiliki akar filosofis, etis, dan psikologi. Menurut John Dewey (Slavin, 2005: 214) kooperasi atau kerjasama di dalam kelas merupakan syarat untuk menghadapi masalah yang kompleks dalam masyarakat. Kelas adalah tempat kreatifitas kooperatif di mana guru dan murid membangun proses pembelajaran, kapasitas, dan kebutuhan mereka masing-masing. Komunikasi dan interaksi kooperatif di antara sesama teman sekelas akan mencapai hasil terbaik apabila dilakukan dalam kelompok kecil, di mana pertukaran di antara teman sekelas dan sikap-sikap kooperatif bisa bertahan.

32

Aspek rasa sosial di dalam kelompok dan pertukaran intelektual yang dilakukan siswa merupakan sumber-sumber penting dalam usaha para siswa untuk belajar. Kelompok dijadikan sebagai sarana sosial dalam proses ini. Sementara pertukaran intelektual dilakukan untuk memahami materi dan meningkatkan pengetahuan siswa.

Menurut Robert E. Slavin (2011:214) metode belajar Group Investigation memberikan kesempatan siswa mencari informasi dari berbagai sumber baik di dalam maupun di luar kelas. Sumber-sumber seperti (bermacam buku, institusi, orang/makhluk hidup, lingkungan, fenomena alam) menawarkan sederetan gagasan, opini, data, solusi ataupun posisi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dipelajari. Sejalan dengan hal tersebut Sugiyanto (2009:46) menyatakan bahwa metode GI melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui Investigation.

Sedangkan menurut Isjono (2010:87) GI merupakan model pembelajaran kooperatif yang kompleks karena memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip pembelajaran demokrasi. Model ini dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran memberikan peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat memperbaiki kesalahannya.

33

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Group Investigation adalah metode pembelajaran yang mnekankan pada kerja sama dan keterlibatan siswa secara maksimal untuk aktif menemukan konsep, fakta dan prinsip yang sedang dipelajari dalam kerja sama kelompok (group) yang dapat diperoleh dari berbagai sumber media. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun ketrampilan proses memiliki kelompok (group proses skills). Hal tersebut dapat membantu siswa mengasah kemampuan interpersonal yang dimiliki setiap individu.

Peran guru dalam melaksanakan metode ini, guru bertindak sebagai narasumber dan fasilitator. Guru berkeliling di antara kelompok-kelompok yang ada, untuk melihat bahwa siswa dapat mengelola tugasnya, guru dapat membantu kesulitan yang siswa hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja proyek pembelajaran.

e. Unsur Penting Metode Group Investigation

Menurut Slavin (2005: 215) terdapat beberapa unsur atau elemen penting sehingga metode pembelajaran Group Investigation dapat terimplementasi dengan baik. Unsur-unsur tersebut yaitu sebagai berikut: 1. Menguasai Kemampuan Kelompok

Fase ini disebut sebagai fase meletakkan landasan kerja atau pembentukan tim. Seperti yang terkesan dari namanya Group Invetigation sesuai untuk proyek-proyek studi yang terintegrasi dengan hal-hal semacam penguasaan, analisis, dan mensistesiskan informasi dengan upaya menyelesaikan masalah yang bersifat multi-aspek. Tugas akademik

34

haruslah menyediakan kesempatan bagi anggota kelompok untuk memberikan berbagai macam kontribusi, dan tidak boleh dirancang hanya sekedar untuk bias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat factual (siapa, apa, kapan, dan sebagainya). Slavin mencontohkan misalnya dalam pembelajaran biologi Group Investigation akan sangat ideal untuk mengajarkan tentang hutan hujan, tetapi tidak sesuai digunakan untuk mengajari unsur-unsur tabel periodik.

Secara umum, guru merancang sebuah topik yang cakupannya luas, di mana para siswa selanjutnya membagi topik tersebut ke dalam subtopik. Sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari informasi dari berbagai sumber baik di dalam maupun di luar kelas. Sumber-sumber seperti (bermacam buku, institusi, orang) menawarkan sederetan gagasan, opini, data, solusi, ataupun posisi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dipelajari. Para siswa selanjutnya mengevaluasi dan mensistesiskan informasi yang disumbangkan oleh tiap anggota kelompok supaya dapat menghasilkan buah karya kelompok.

2. Perencanaan Kooperatif

Penting bagi siswa untuk merencanakan kerjasama pembagian tuagas dalam pembelajaran kooperatif. Anggota kelompok mengambil bagiann dalam merencanakan berbagai dimensi dan tuntutan dari proyek mereka. Secara bersama siswa menentukan apa yang ingin meraka investigasi untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi terkait sumber apa yang mereka butuhkan, siapa yang akan melakukan apa, dan

35

bagaimana mereka akan menampilkan proyek mereka yang sudah selesai di hadapan. Kemampuan perencanaan kooperatif harus diperkenalkan secara bertahap kepada siswa dan dilatih dalam berbagai situasi sebelum kelas tersebut melaknasakan proyek investigasi berskala penuh. Guru dapat berperan untuk memimpin diskusi dengan memunculkan gagasan-gagasan. 3. Peran Guru

Dalam kelas yang melaksanakan metode Group Investigation guru bertindak sebagai narasumber dan fasilitator. Guru tersebut berkeliling di antara kelompok-kelompok yang ada untuk melihat bahwa siswa dapat mengelola tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek pembelajaran. peran guru yang terpenting yaitu membangun komunikasi dan sosial sehingga bias memfasilitasi siswa ketika siswa melaksanakan investigasi. Ada banyak kesempatan bagi guru untuk mendampingi siswa seperti; mendengarkan, membuat ungkapan, memberi reaksi yang tidak menghakimi, mendorong partisipasi dan sebagainya. Guru dengan demikian dapat memberikan pengajaran langsung kepada seluruh kelas, memberikan pengajaran terindividualisasi dalam sentra-sentra kelompok pembelajaran, atau kombinasi keduanya.

Investigasi subtopik yang dipelajari siswa harus ditambahkan oleh guru, hal ini dapat dilakukan di awal, selama proses group investigation berlangsung maupun ataupun di akhir. Misalnya, di dalam kelas yang akan

36

mempelajari penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungannya guru harus menjelaskan terlebih dulu bahwa setiap hidup memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya sebagai pengantar kemudiaan siswa berfokus pada topik yang menurut mereka menarik.

f. Tahap Pelaksanaan Group Investigation

Dalam Group Investigation, siswa bekerja melalui enam tahap. Deskripsi mengenai langkah-langkah metode GI menurut tahap yang dirancang oleh Robert E. Slavin adalah sebagai berikut:

a) Tahap 1: Seleksi Topik dan Mengatur Siswa ke dalam Kelompok

i. Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu masalah umum yang digambarkan terlebih dahulu oleh guru.

ii. Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk bergabung dengan kelompoknya yang beranggotakan 2 hingga 6 orang.

iii. Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen

iv. Guru memfasilitasi pengaturan.

b) Tahap 2: Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari

Para siswa merencanakan bersama mengenai: Apa yang akan kita pelajari, Bagaimana kita mempelajari, Siapa yang melakukan apa (pembagian tugas). Dalam tahap ini siswa dan guru merencanakan berbagai

37

prosedur belajar khusus tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah terpilih seperti langkah di atas. c) Tahap 3: Melaksanakan Investigasi

i. Masing-masing siswa mengumpulkan informasi dan melaksanakan tugas yang telah direncanakan pada langkah sebelumnya dengan menggunakan sumber yang luas dan bervariasi baik di dalam maupun diluar kelas.

ii. Setiap siswa berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya

iii. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memeberikan bantuan jika diperlukan.

iv. Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mensitesis semua gagasan yang diperoleh.

d) Tahap 4: Menyiapkan Laporan Akhir

i. Anggota kelompok menentukan pesan-pesan essensial dari berbagai informasi yang diperoleh dari proyek mereka pada langkah sebelumnya.

ii. Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka merencanakan peringkasan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.

e) Tahap 5: Mempresentasikan Laporan Akhir (Penyajian Hasil Belajar) i. Semua kelompok menyajikan presentasi yang menarik dari berbagai

38

ii. Siswa yang sedang tidak melakukan presentasi harus melibatkan pendengarannya secara aktif/memperhatikan kelompok yang sedang melakukan presentasi.

iii. Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi/memberi tanggapan kepada kelompok penyaji secara bergantian sesuai urutan.

f) Tahap 6: Evaluasi

Guru beserta para siswa melakukan evaluasi terkait topik yang telah di investigasi dan mengenai pelaksanaan tugas yang telah dikerjakan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individual atau kelompok atau keduanya. g. Manfaat Metode Group Investigation

Menurut Isjono (2010:87) dalam metode Group Investigation interaksi sosial menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan skema mental yang baru. Dalam pembelajaran ini, kooperatif memberikan kebebasan kepada pembelajar untuk berpikir secara analitis, kritis kreatif, reflektif dan produktif. Pola pengajaran ini akan menciptakan pembelajaran yang diinginkan, karena siswa sebagai obyek pembelajar ikut aktif terlibat dalam pembelajaran.

Manfaat menggunakan metode Group Investigation yang merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif menurut Sri Anitah, dkk (2008: 3.9) adalah sebagai berikut.

39

b. Meningkatkan hubungan antar kelompok, belajar kooperatif memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk mencerna isi pembelajaran.

c. Meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar, belajar kooperatif dapat membina sifat kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang rasa, serta mempunyai rasa andil terhadap keberhasilan tim.

d. Memadukan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan. e. Meningkatkan perilaku dan kehadiran di kelas.

f. Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya.

Dari beberapa pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Group Investigation memberikan kebebasan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman langsung dalam membangun pengetahuannya sendiri secara kooperatif, sehingga metode ini tidak hanya mengasah kemampuan berpikir siswa secara analitik dan sistematis, melainkan juga memadukan aspek keterampilan dan sosial yang tinggi.

6. Tinjauan Materi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungan