• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2. Metode Information Search Dan Role Play

Metode Information Search dan Role Play merupakan gabungan dari dua metode pembelajaran aktif menjadi satu. Penggabungan dua metode ini bertujuan memberikan variasi pada kegiatan pembelajaran. Hal ini juga bertujuan memberikan keseimbangan pada kemampuan peserta didik yang beranekaragam dalam menangkap setiap materi pembelajaran.

Setiap peserta didik memiliki bermacam cara belajar. Sebagian siswa belajar dengan sangat baik hanya dengan melihat orang lain melakukannya. Biasanya mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan guru. Selama pelajaran, mereka biasanya diam dan jarang terganggu oleh kebisingan. Peserta didik visual berbeda dengan tipe auditori, yang biasa tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dilakukan guru dan membuat catatan. Mereka mengandalkan kemampuan untuk mendengar dan mengingat. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya oleh suara atau kebisingan. Selanjutnya, peserta didik kinestetik belajar terutama dengan terlibat langsung dalam kegiatan.

Perlu kita ketahui, bahwa sedikit siswa yang mutlak satu jenis cara belajar. Grinder menyatakan sebagaimana dikutip Melvin bahwa setiap 30 siswa, 22 diantaranya rata-rata dapat belajar secara efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar secara efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang mengkombinasikan antara visual, auditori dan kinestetik.14 Guna memenuhi kebutuhan tersebut, metode Information Search

dan Role Play menawarkan pengajaran yang bersifat multisensori dan penuh dengan variasi.

14 Melvin L. Silberman, Active Learning 101 cara belajar siswa aktif (Bandung: Nuansa, 2012), cet.VII, h.28.

a. Information search

MetodeInformation search adalah salah metode pembelajaran aktif, yaitu mencari informasi. Metode ini sangat membantu menjadikan materi yang biasa-biasa saja menjadi lebih menarik.15 Dalam pelaksanaan metode ini siswa belajar membaca sendiri bahan-bahan pelajaran dan mereka dituntut untuk menemukan informasi yang kemudian menyimpulkan hasil bacaan mereka tersebut berdasarkan intruksi guru sesuai dengan indikator pembelajaran. Metode ini memberikan kemampuan kepada siswa untuk dapat berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan daya nalar mereka.

Tujuan yang hendak dicapai melalui penerapan metode ini adalah untuk menumbuhkan minat baca siswa dengan mencari informasi melalui sumber-sumber belajar yang ada.

Adapun tahapan yang dapat dilakukan secara umum mengenai penerapan metode ini adalah:

1) Guru membagikan sumber materi pelajaran yang mencakup: buku pegangan, dokumen, buku teks, panduan referensi, informasi yang diakses melalui internet, artifak, dan lain sebagainya.

2) Memberikan pertayaan mengenai topik yang akan dibahas. 3) Membagi siswa dalam beberapa kelompok kecil.

4) Pembahasan informasi yang didapat.16

Sebagai catatan penting untuk penerapan metode ini diharapkan guru mampu membuat pertayaan-pertayaan yang dapat mendorong peserta didik untuk menjawabnya dengan cara menyimpulkan sumber informasi yang tersedia.17

15Ibid., h.164.

16 Melvin L. Silberman, op.cit., h.164-165. 17 Hisyam Zaini,dkk. op. cit.,h.48.

b. Role Play

Role Play (bermain peran) merupakan metode belajar pengalaman (eksperiensial) yang sangat bermanfaat. Metode ini digunakan untuk menggairahkan diskusi, menyemarakkan suasana, atau untuk merangsang atau mengalami seperti apa rasanya suatu kejadian18. Bentuk peran yang dilakukan siswa adalah bermain peran secara terarah, siswa diberikan instruksi yang telah tersiapkan yang menyatakan fakta-fakta tentang peran yang mereka mainkan dan cara mereka memperagakannya.

Adapun mengenai tahapan pelaksanaan penggunaan metode role play secara umum adalah sebagai berikut:

1) Persiapan; dalam tahap ini perlunya menentukan pokok masalah yang akan didramasikan, menentukan para pemain, dan mempersiapkan para siswa sebagai pendengar yang menyaksikan jalannya cerita.

2) Pelaksanaan; setelah masalah dan pemainnya dipersiapkan, dipersilakan kepada mereka untuk mendramatisasikan masalah yang diminta selama beberapa menit.

3) Tindak lanjut; kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah Tanya jawab, diskusi, atau analisis persoalan.19

Ada beberapa tujuan pelaksanaan role play (bermain peran) , sesuai dengan jenis belajar yaitu:

1) Belajar dengan berbuat. Para siswa melakukan peranan tertentu sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Tujuanya adalah untuk mengembangkan keterampilan interaktif atau keterampilan-keterampilan reaktif.

18Ibid., h.55.

19 Basyiruddin Ustman, Metologi Pembelajaran Agama Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), Cet.I, h. 52-53.

2) Belajar melalui peniruan (imitasi). Para siswa pengamat drama menyamakan diri dengan pelaku (aktor) dan tingkah laku mereka.

3) Belajar melalui balikan. Para pengamat mengomentari (menanggapi) perilaku pemain/ pemegang peran yang telah ditampilkan. Tujuannya untuk mengembangkan prosedur-prosedur kognitif dan prinsip-prinsip yang mendasari perilaku keterampilan yang telah didramatisasikan. 4) Belajar melalui pengkajian, penilaian dan pengulangan. Para peserta

dapat memperbaiki keterampilan-keterampilan mereka dengan mengulanginya dalam penampilan berikutnya.20

Adapun Dampak psikologis dan paedagogis dari metode pembelajaran Role Play (bermain peran) terhadap siswa antara lain:

1) Menimbulkan rasa tanggung jawab masing-masing untuk berhasilnya peran yang dilakukan mereka (sense of responsibility).

2) Mempererat rasa kedekatan diatara mereka (sense of solidarity and sense of good relationship and closely).

3) Hasil pembentukan sikap kebersamaan ini (togetherness situation) dapat mereka aplikasikan dalam kehidupan nyata lingkungan masing-masing. 4) Guru dan peserta dapat bekerja sama membicarakan pokok bahasan yang

disepakati untuk diperankan.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar metodologi pembelajaran Edgar Dale bahwa hasil pembelajaran melalui:

1) Alat indera penglihatan 75% dapat menyerap ilmu yang dilihat. 2) Alat indera pendengaran 13%, dapat menyerap ilmu yang didengar.

3) Alat indera lainnya 12%, dapat menyerap ilmu dengan ketiga alat indera lainnya.21

20 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), Cet.IV, h.199.

Atas dasar penjelasan diatas Information Search dan Role Play bisa digolongkan pada golongan pertama, ini berarti metode ini dapat memberikan kemungkinan efek positif yang banyak bagi keberhasilan belajar bagi siswa dalam menyerap pengetahuan.

c. Langkah-Langkah Metode Pembelajaran Aktif Metode Information Search dan Role Play.

Tahapan-tahapan yang dapat dilakukan dalam pembelajaran aktif metode

Information Search dan Role Play adalah sebagai berikut: 1) Guru menyiapkan materi ajar yang mencakup:

 Selebaran yang berisi materi fiqih.

 Buku teks Fiqih Islam

2) Memberikan waktu kepada siswa untuk membaca buku teks dan selebaran yang telah dibagikan bagi setiap individu, kemudian mencari informasi penting tentang materi yang akan diajarkan dan siswa menyimpulkan informasi yang didapat sesuai dengan pertayaan yang telah diberikan oleh guru.22

3) Pada tahap selanjutnya siswa berkumpul dalam kelompok kecil yang setiap kelompok terdiri minimal 4 sampai 5 orang.

4) Guru memberikan instruksi kepada masing-masing kelompok untuk memerankan tentang materi yang telah dipelajari oleh siswa.

5) Tindak lanjut; melakukan tanya jawab, diskusi, dan kritik terhadap pelaksanaan kegiatan pemeranan.

21 Aminudin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: UHAMKA Press, 2003), Cet. IV, h.116.

d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Information Search dan Role Play

1) Segi Positif

a) Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian.

b) Metode ini akan menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.

c) Anak-anak dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan pengahayatan sendiri.

d) Anak dilatih untuk menyusun pikirannya dengan teratur. 2) Segi Negatif

a) Metode ini memerlukan waktu cukup banyak b) memerlukan persiapan yang teliti dan matang

c) Kadang-kadang anak-anak tidak mau mendramatisasikan suatu adegan karena malu.

e. Urgensi/ Pertimbangan Penggunaan Metode Information Search dan

Role Play.

Metode adalah cara digunakan untuk melaksanakan strategi pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran berisi perencanaan pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.

Melalui strategi pembelajaran aktif dengan menggunakan metode

Information Search dan Role Play diharapkan siswa memperoleh manfaat sebagai berikut:

a) Siswa akan lebih termotivasi karena akan lebih mudah belajar di saat enjoy.

b) Berlangsung dalam lingkungan yang tenang, karena percobaan dan kegagalan diterima.

c) Adanya partisipasi dari semua kelompok, melalui metode Information Search dan Role Play siswa akan dituntut aktif, tanpa seorangpun bersikap pasif.

d) Setiap orang bertanggung jawab atas pembelajarannya masing-masing. e) Disaat pelaksanaan pembelajaran, siswa mempunyai tugas

masing-masing untuk dikerjakan. f) Fleksibel dan relevan.

g) Sesuatu menyatakan pemikirannya.

h) Masing-masing memberikan koreksi jika ada kesalahan.

Metode Information Search dan Role Play muncul sebagai jawaban atas kebutuhan siswa, setiap siswa punya kemampuan yang berbeda dalam memahami pelajaran yang diajarkan. Ada siswa yang mempunyai kemampuan memahami melalui pengalaman langsung, yang disebut gaya belajar

kinestetik, ada yang memahami pelajaran dengan dengan melihat, yang disebut gaya belajar visual dan ada juga yang menangkap pelajaran melalui ceramah ataupun suara, tipe ini disebut gaya belajar auditori. Setiap satu gaya belajar hal ini tidaklah dominan pada setiap siswa, ada yang memahami dengan dua cara ataupun dengan tiga cara yang telah disebutkan diatas.

Dalam pelaksanaan metode Information Search dan Role Play untuk tahapan pertama melalui information search, siswa diarahkan untuk menggali dan mengumpulkan informasi dari sumber belajar yang ada. Pada tahapan kedua siswa tidak hanya mendapatkan materi berupa pengetahuan tertulis saja, tapi mereka diberikan kesempatan untuk menerapkannya melalui praktek, kegiatan hal ini dilakukan dengan metode Role Play (bermain peran).

3. Kajian Teori Tentang Hasil Belajar dan Pembelajaran Fiqih

a. Pengertian Belajar

Menurut pendapat yang tradisional, belajar itu ialah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pendidikan yang dimaksud disini diutamakan pendidikan intelektual.23

E.R. Hilgard dan D.G. Marquis, sebagaimana dikutip Aminudin Rasyad, mendefenisikan belajar sebagai: “Learning is the process by which an activity originates or is changed through training procedure (whether in the laboratory or in natural environment) as distringuished from changes by factor not attributable to training.”

Belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembelajaran dan sebagainya, sehingga terjadi perubahan dalam diri.24

Belajar juga diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. Buton menyatakan “…Learning is change in the individual due to instruction of that individual and his environment, wich fells a need and makes him more capable of dealing adequennly with his environment…”. Dalam pengertian ini terdapat kata change atau “perubahan” yang berarti bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya.25

Lebih lanjut Abu Ahmadi mengutip dari Abin Syamsudin yang menjelaskan, untuk mengidentifikasi perubahan tingkah laku tersebut dapat dilakukan dengan cara:

23 Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Bandung: Jemmars,1986), h.67-68. 24Op.cit.,.29.

25 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), Cet.25, h.5.

1) Secara tradisional, para guru memberikan pertayaan tentang bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.

2) Secara inovatif, guru membuat dan mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan mengadakan Pre-test sebelum siswa mengikuti program belajar mengajar.26

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses dan belajar siswa di sekolah yang secara garis besarnya dapat dibagi dalam dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa (Eksternal) terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental; sedangkan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) adalah faktor fisiologis dan faktor psikologis pada diri siswa.

1) Faktor lingkungan (environmental input)

Faktor lingkungan siswa dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: pertama, faktor lingkungan alam/ non sosial; meliputi keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, malam), tempat letak gedung sekolah dan kedua, faktor lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia dan representasinya termaksuk budayanya dan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.

2) Faktor instrumental

Faktor instrumental terdiri dari gedung/sarana fisik kelas, sarana/alat pengajaran serta strategi belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.

3) Faktor kondisi internal siswa

Faktor kondisi internal meliputi faktor fisiologis; terdiri dari kesehatan dan kebugaran fisik, selanjutnya faktor psikologis yang meliputi: minat, bakat, integensi, motivasi dan kemampuan-kemampuan kognitif seperti; kemampuan persepsi, ingatan, berpikir, dan kemampuan dasar pengetahuan (bahan appersepsi) yang dimiliki siswa.27

Lebih jelas Slameto dalam bukunya belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Ia membagi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menjadi dua yaitu faktor intern dan ekstern.

1) Faktor intern, terbagi atas tiga bagian:

a) Faktor jasmaniah; yaitu faktor yang meliputi keadaan fisik seseorang, dalam hal ini termaksuk faktor kesehatan serta cacat tubuh yang dimiliki seorang siswa.

b) Faktor psikologis; ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar, faktor itu adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.

c) Faktor kelelahan; kelelahan dibedakan menjadi dua, pertama, kelelahan jasmani, terlihat dari lunglainya tubuh yang disebabkan oleh kurang lancarnya aliran darah pada bagian tertentu pada tubuh. Kedua kelelahan rohani, dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu menjadi hilang.

2) Faktor ekstern; faktor ini dapat dikelompokkan menjadi tiga:

a) Faktor keluarga; faktor ini dipengaruhi oleh beberapa hal dilihat dari cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua,

27 M.Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional IAIN Fakultas Tarbiyah (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya,2010), Cet.IV, h. 59-60.

latar belakang kebudayaan atau pendidikan yang dimiliki oleh keluarga.

b) Faktor sekolah: faktor sekolah yang berpengaruh terhadap belajar siswa meliputi: metode mengajar yang digunakan oleh guru disekolah, kurikulum sekolah, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah yang diberikan oleh guru di sekolah. c) Faktor masyarakat; masyarakat merupakan faktor ekstern yang

berpengaruh terhadap belajara siswa. Pengaruh tersebut karena keberadaan siswa dalam masyarakat tidak bisa dihindari. Faktor masyarakat yang dimaksud adalah; kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, serta bentuk kehidupan masyarakat.28

c. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah laku. Aspek perubahan ini mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan Bloom, Sipsom dan Harrow, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.29 Sedangkan menurut Mulyono hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.30

Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar itu terjadi melalui usaha dengan mendengar, membaca, mengikuti petunjuk, mengamati, memikirkan, menghayati, meniru, melatih dan mencoba sendiri atau berarti dengan pengalaman atau latihan. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar harus

28 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), Cet.5, h.54-71.

29 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2010 ), h.45.

30 Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak yang Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), h.37.

relatif menetap bukan perubahan yang bersifat sementara atau tiba-tiba terjadi kemudian cepat hilang kembali.31

Lebih jelas menurut Agus Suprijono, bahwa hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk pada pemikiran Gagne sebagaimana dikutip oleh Suprijono, hasil belajar berupa:

1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.

3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.

4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerakan jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

5) Sikap yaitu kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.32

Pengertian diatas diperjelas menjadi tiga oleh Bloom, sebagaimana dikutip oleh Thobari, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Berikut penjabarannya:

1) Domain kognitif mencakup:

a) Knowledge (penegtahuan, ingatan);

b)Comperehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh); c) Application (menerapkan)

d)Analysis (menguraikan, menentukan hubungan);

31 M.Alisuf Sabri, op.cit., h.55.

32 Agus Suprijono, Cooperative Learning; Teori dan Aplikasi PAIKEM (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), Cet.VII, h. 5-6.

e) Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan,, membentuk bangunan baru);

f) Evaluating (menilai) 2) Domain afektif mencakup:

a) Receiving (sikap menerima); b)Responding (memberikan respon) c) Valuing (nilai)

d)Organization (organisasi) e) Characterization (karakterisasi). 3) Domain psikomotor mencakup:

a) Initiatory

b)Pre-routine

c) Rountinized

d)Keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual.

Berdasarkan penjelasan diatas diketahui bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pedidikan diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, tetapi secara komprehensif.33

d. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam belajar adalah:

1) Faktor endogen antara lain seperti minat belajar, kesehatan, perhatian, ketengangan jiwa di waktu belajar, motivasi, kegairahan diri, cita-cita,

33Muhammad Thobroni & Arif Mustofa, Belajar & Pembelajaran ;Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), Cet.I, h.22-24.

kebugaran jasmani, kepekaan alat-alat indera dalam belajar. dengan kata lain alat-alat indera berfungsi dengan baik atau sebaliknya seperti mata sakit, pendengarannya terganggu dan lain-lain.

2) Faktor eksogen yang mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik antara lain seperti keadaan lingkungan belajar (suasana kelas), cuaca, letak sekolah (ditempat ramai atau tidak), faktor interaksi sosial dengan teman sebangku, interaksi peserta didik dengan pendidikannya. Faktor eksogen lainnya seperti alat-alat belajar yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar.34

Semua faktor diatas membutuhkan perhatian dari pendidik dan guru. Bila ada permasalahan perlu dicarikan pemecahan dari permasalahan tersebut. Guru tidak boleh membiarkan atau tidak peduli menghadapi masalah belajar mereka. Bila perlu dibicarakan secara bersama oleh majelis guru dan orang tua murid atau pihak terkait dengan pendidikan tersebut.35

e. Pembelajaran Fiqih

Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata learning. Pembelajaran berdasarkan makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari.36 Menurut Kimble dan Garmezy, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Thobori, bahwa pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan hasil praktik yang diulang-ulang. Dalam hal ini siswa sebagai subjek belajar dituntut aktif mecari, menemukan, menganalisis, merumuskan, memecahkan masalah dan menyimpulkan suatu masalah. Selain itu, Rombepajung juga berpendapat bahwa pembelajaran adalah pemerolehan

34 Aminudin Rasyad, op.cit., h.104.

35Perangkat Pembelajaran Madrasah Tsanawiyah / MTs Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

suatu mata pelajaran atau pemrolehan suatu keterampilan melalui pelajaran, pengalaman atau pengajaran.37

Selanjutnya pengertian Fiqih, secara bahasa berarti faham yang mendalam, mengetahui batinnya sampai kedalam. Selanjutnya secara istilah, Fiqih adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliyah, yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili.38

Sebagaimana kita ketahui bahwa Fiqih merupakan salah satu dari pembahasan materi pembelajaran pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Omar Muhammad al-Touny al-Syaebani, sebagaimana dikutip Muzayyin Arifin, pendidikan Islam adalah “usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan masyarakatnya dan kehidupan alam sekitarnya melalui kependidikan. Lebih lanjut dari hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam: “sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.39

1) Latar Belakang Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah

Dengan munculnya berbagai perubahan yang sangat cepat pada hampir semua aspek dan perkembangan paradigma baru dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, maka perlu dikembangkan kurikulum Fiqih Madrasah Tsanawiyah (MTs) secara nasional, yaitu kurikulum yang ditandai dengan ciri-ciri , antara lain :

a) Lebih menitikberatkan pencapaian target kompetensi (attainment targets) dari pada penguasaan materi;

36 Muhammad Thobroni ., op.cit., h.18.

37 Zurizal & Aminudin, Fiqih Ibadah (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,2008), h.5. 38 Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT Bumi Aksara, ), Cet.V, h.15.

b)Lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;

c) Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

Kurikulum dimaksud, kurikulum yang hanya berisi tentang standar kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Adapun tentang indikator, kegiatan pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran dan metode pembelajaran diserahkan kepada madrasah untuk mengembangkannya sesuai dengan situasi dan kondisi dimana madrasah itu berada.

Pembelajaran fiqih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk diaplikasikankan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat Islam secara kaffah (sempurna).

Pengembangan Isi kurikulum fiqih di Madrasah Tsanawiyah (MTs) merupakan kelanjutan dari kurikulum di MI, beberapa isi kurikulum merupakan perluasan dan pendalaman dari kurikulum sebelumnya. Dalam hal ini pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sehingga peran semua unsur sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan tersebut.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan kurikulum hasil refleksi, pemikiran dan pengkajian dari kurikulum yang telah berlaku sebelumnya. Kurikulum baru ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan di masa depan. Standar kompetensi dan kompetensi dasar diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan,

persaingan, ketidakpastian dan kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum ini diciptakan untuk menghasilkan output yang kompeten, cerdas dalam membangun integritas sosial, serta mewujudkan karakter nasional.

Dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, telah dilakukan berbagai studi yang mengarahkan pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Sebagai salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi

Dokumen terkait