3.4 Keseimbangan Lini
3.4.4 Metode Keseimbangan Lini
Metode Keseimbangan Lini terdiri dari beberapa metode, diantaranya adalah metode matematika, metode trial and error, dan metode heuristic. Pada metode matematika akan lebih efektif bila digunakan pada permasalahan keseimbangan lini yang sederhana. Sedangkan metode heuristic lebih efektif bila digunakan pada permasalahan keseimbangan lini perakitan yang kompleks.
Ada beberapa metode keseimbangan lini diantaranya adalah metode heuristic.
Heuristic berasal dari bahasa Yunani yang berarti menemukan. Metode Heuristic ini
pertama kali digunakan oleh Simon dan Newl untuk menggambarkan pendekatan tertentu.dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan. Model Heuristic menggunakan aturan-aturan logis dalam memecahkan masalah. Banyak operasi dapat dideskripsikan secara verbal atau diformulasikan dalam bentuk matematika. Tetapi untuk masalah yang terlalu besar atau memiliki hubungan relasi yang terlalu kompleks akan menghasilkan suatu bentuk matematika yang rumit, sehingga untuk masalah yang demikian sering menggunakan metode heuristic. Metode ini tidak menjamin hasil yang optimal, tetapi jika didisain secara baik dan diuji, dalam dalam jangka waktu lama solusi tersebut akan memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan tidak menggunakan metode heuristic. Keuntungan dari metode ini adalah ( Martinich, 1997, p197-198 ):
• Sederhana dan mudah dimengerti karena biasanya didasarkan pada beberapa ide yang sama dalam menyelesaikan suatu masalah.
• Menyelesaikan masalah secara cepat karena didasarkan pada aturan yang sederhana.
• Lebih murah bila dibandingkan dengan metode lain. • Usaha yang dikeluarkan relatif kecil.
Metode heuristic terbagi ke dalam beberapa metode yang akan dijelaskan berikut ini: Metode Largest Candidate Rule
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana.
Langkah-langkah penyeimbangan lini dengan metode Largest Candidate Rule : ( Groover, M, p149)
1. Membuat precedence diagram
2. Mengurutkan elemen kerja berdasarkan waktu proses masing-masing dari yang paling besar sampai yang paling kecil. dengan memperhatikan keterkaitan antar operasi. Dimana operasi yang memiliki waktu operasi yang lebih besar yang dikelompokkan dalam satu stasiun kerja tidak boleh melangkahi operasi pendahulunya.
3. Menyusun elemen-elemen kerja ke dalam stasiun kerja. Penyusunan elemen kerja ke dalam stasiun kerja mempertimbangkan precedence
diagram dan tabel LCR dan waktunya.
Dengan ketentuan sebagai berikut :
• Elemen kerja pada stasiun kerja pertama diambil dari urutan yang paling atas
• Elemen kerja pindah ke stasiun kerja berikutnya apabila jumlah elemen kerja telah melebihi waktu siklus.
• Elemen kerja yang memiliki waktu yang lebih besar yang dikelompokkan dalam satu stasiun kerja tidak boleh melangkahi elemen kerja sebelumnya.
4. Menghitung performansi lini.
Metode Ranked Positional Weight
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Hedgelson & Birnie. Metode ini mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan ke dalam stasiun kerja menurut beban pembebanan masing-masing dalam precedence diagram. Berat pembebanan yang disebut dengan positional weight dihitung dengan menjumlahkan waktu proses elemen pekejaan mulai dari elemen pertama sampai dengan elemen terkahir menurut urutan pengerjaan dalam precedence diagram. (Bedworth, David, p364)
Langkah-langkah penyeimbangan lini dengan metode Ranked Positional Weight: 1. Menentukan bobot posisi ( positional weight ) masing-masing elemen
kerja, yaitu jumlah waktu operasi tersebut dengan operasi yang mengikutinya.
Langkah ini dilakukan dengan cara membuat precedence matrix yang akan menunjukkan keterkaitan suatu operasi dengan operasi pengikutnya.
2. Mengurutkan bobot posisi dimulai dari stasiun kerja yang memiliki bobot posisi terbesar sampai dengan yang terkecil.
3. Menyusun elemen-elemen kerja ke dalam stasiun kerja, dengan criteria total waktu operasi lebih kecil dari waktu siklus ( Wb maks ) yang ditetapkan.
Penyusunan elemen-elemen kerja ini harus mempertimbangkan 2 hal, yaitu :
• Waktu siklus, total waktu elemen kerja tidak boleh lebih dari waktu siklus yang ditetapkan.
• Precedence diagram, elemen kerja harus disusun menurut
precedence diagram, satu elemen tidak boleh melewati
elemen sebelumnya. 4. Menghitung performansi lini.
Metode Region Approach
Metode Region Approach dikembangkan oleh Mansoor untuk mengatasi kekurangan metode bobot posisi. Metode ini juga belum mampu menghasilkan solusi optimal, namun sudah cukup baik dan mendekati optimal. Pada dasarnya, metode ini membagi precedence diagram dan wilayah-wilayah ( region ) menurut prioritas pekerjaan. ( Bedworth, D, p370-371 ) Dengan kata lain, dasar dari metode ini adalah memprioritaskan elemen kerja berdasarkan pembagian wilayah-wilayah, dimana elemen yang memiliki waktu lebih besar dalam wilayah yang sama mendapat prioritas utama.
Langkah-langkah penyeimbangan lini dengan metode Region Approach : 1. Membuat precedence diagram
2. Membagi operasi dalam beberapa wilayah dari kiri ke kanan dengan syarat dalam satu daerah tidak boleh ada operasi yang saling bergantungan.
Kumpulkan semua pekerjaan ke wilayah precedence yang terakhir. Hal ini akan meyakinkan bahwa pekerjaan dengan sedikit ketergantungan akan paling sedikit dipertimbangkan untuk pekerjaan paling akhir dalam jadwal.
3. Mengurutkan waktu pekerjaan dalam tiap-tiap wilayah dari yang terbesar hingga terkecil. Ini akan meyakinkan pekerjaan terbesar akan dipertimbangkan terlebih dahulu, dan memberikan kesempatan untuk memperoleh kombinasi yang lebih baik dengan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kecil.
4. Mengumpulkan pekerjaan-pekerjaan dengan urutan sebagai berikut : • Mula-mula wilayah paling kiri
• Dalam sebuah wilayah, didahulukan pekerjan yang memiliki waktu terbesar.
5. Mengelompokkan elemen kerja dalam stasiun kerja, berdasarkan syarat tidak melebihi waktu siklus yang ditetapkan.
6. Meneruskannya hingga semua elemen pekerjaan ditempatkan pada semua stasiun kerja.
Metode J-Wagon
Yang diutamakan dalam metode ini adalah elemen kerja yang memiliki jumlah elemen kerja terbanyak yang mengikutinya. Pada dasarnya, metode J.Wagon sangat mirip dengan metode Ranked Positional Weight, hanya saja yang dipakai sebagai bobotnya bukan waktu tetapi jumlah elemen kerja yang mengikuti suatu elemen pekerjaan. Langkah-langkah untuk melakukan keseimbangan lini dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut (Chase, et.al., 2004, p194) :
1. Buat precedence digaram.
2. Tentukan bobot untuk setiap elemen kerja, kriteria penentuan bobot ini berdasarkan jumlah elemen kerja yang mengikuti suatu elemen kerja tersebut.
3. Urutkan bobot itu dari yang paling besar ke yang paling kecil. Apabila ada lebih dari satu elemen kerja yang memiliki nilai bobot yang sama, maka prioritas penugasan elemen kerja ke stasiun kerja akan diberikan kepada elemen kerja yang memiliki waktu pengerjaan yang lebih besar. 4. Tugaskan elemen-elemen kerja itu ke dalam stasiun kerja dengan syarat
jumlah total waktu stasiun kerja tidak boleh melebihi waktu siklus dan juga elemen pendahulunya telah dikerjakan.
5. Jika penugasan suatu elemen kerja membuat waktu stasiun kerja melebihi waktu siklus, maka tempatkan elemen kerja tersebut pada stasiun kerja berikutnya selama tidak menyalahi precedence diagram. 6. Ulangi langkah ke 3 dan 4 sampai semua elemen kerja sudah
Metode COMSOAL (Computer Method for Sequencing Operations for Assembly
Lines)
Metodologi dasar COMSOAL yang dikembangkan oleh A.L. Arcus (1966), didasarkan pada berkembangnya sejumlah besar pemecahan yang layak bagi keseimbangan lini. Metodologi yang dikembangkan oleh Arcus ini dilakukan dengan pembobotan untuk memilih tugas yang sesuai dengan precedence
diagram melalui perkalian lima bobot dasar sebagai berikut:
1. Bobotlah tugas yang sesuai dengan proporsi waktu tugas. Pengaruh pembobotan ini adalah memberikan tugas yang lamapeluang lebih tinggi untuk dipilih ketimbang tugas yang singkat.
2. Bobotlah tugas yang sesuai dengan 1/x, dimana x adalah jumlah total tugas yang belum dipilih ke dalam stasiun dikurangi 1, dikurangi dengan jumlah semua tugas yang mengikuti tugas yang sedang dipertimbangkan. Pengaruh dari aturan dua ini adalah memberikan kepada tugas-tugas yang mempunyai banyak tugas yang mengikutinya peluang lebih besar untuk dipilih dibandingkan dengan tugas yang mempunyai sedikit tugas yang mengikutinya.
3. Bobotlah tugas yang sesuai dengan jumlah total semua tugas yang mengikutinya ditambah satu. Akibat dari aturan ini adalah mendahulukan tugas yang bila terpilih akan digantikan dan dengan demikian memperluas daftar tersedia.
4. Bobotlah tugas yang sesuai dengan waktu tugas tersebut dan waktu semua tugas yang mengikutinya. Hasil dari aturan ini adalah menggabungkan manfaat aturan satu dan tiga dengan memilih tugas
yang lama secara dini pada tiap-tiap stasiun di keseluruhan urutan atau dengan mendahulukan tugas yang walupun singkat tetapi cenderung akan memperluas daftar sediaan.
5. Bobotlah tugas yang sesuia dengan jumlah total tugas yang mengikutinya ditambah satu, dibagi dengan jumlah tingkat yang ditempati oleh tugas-tugas yang mengikutinya. Pengaruh dari pembobotan ini adalah memberikan tugas yang memiliki rantai terpanjang untuk dipilih.
6. HItunglah rasio yang diperoleh dari perkalian faktor-faktor diatas sehingga elemen yang memiliki rasio terbesar dapat masuk ke dalam pembagian stasiun. Namun yang perlu diingat bahwa suatu elemen dapat masuk ke dalam stasiun kerja bila elemen-elemen yang mendahuluinya sudah lebih dahulu ditugaskan dan waktu siklus yang tersisa masih mencukupi.