1. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar metode diperlukan oleh guru guna kepentingan pembelajaran (Djamarah, 2005: 19). Menurut Mulyani Sumantri (2001: 114) metode adalah cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak
17
yang memuaskan. Suryosubroto (2002: 149) menyebutkan metode adalah cara, yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Kaitannya dengan pembelajaran, Suharjo (2006: 89) menyatakan bahwa metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilaksanakan untuk mengadakan interaksi belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda (Hamzah, 2007: 16). Winarno Surakhmad (dalam Suryosubroto, 2002: 148) menegaskan bahwa metode pengajaran adalah cara-cara pelaksanaan daripada proses pengajaran, atau soal bagaimana teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada murid-murid di sekolah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara yang ditempuh oleh guru untuk menyampaikan materi palajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Agar dapat mencapai tujuan dalam pembelajara, metode yang digunakan harus sesuai dengan konten materi yang akan disampaikan. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pelajaran IPA adalah metode mind mapping.
2. Pengertian Mind Mapping
Metode mencatat yang baik harus membantu dalam mengingat perkataan dan bacaan dengan mudah, meningkatkan pemahaman terhadap materi, membantu mengorganisasi materi, dan memberikan wawasan baru, peta pikiran (Mind Map) memungkinkan semua hal tersebut. Miftahul Huda (2013:
18
307) menyatakan bahwa mind mapping merupakan metode efektif untuk mengembangkan gagasan-gagasan melalui rangkaian peta-peta.
Salah satu penggagas metode mind mapping adalah Buzan. Dalam bukunya, Buzan menyatakan bahwa Mind Map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi keluar otak. Mind Map adalah cara mencatat kreatif, efektif, dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita. Mind Map juga sangat sederhana. Buzan juga menyebutkan bahwa mind map menggunakan kemampuan otak akan pengenalan visual untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Dengan kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang yang melengkung akan lebih merangsang secara visual daripada metode pencatatan tradisional yang cenderung segaris dan satu warna. Hal tersebut tentu mendukung dalam mengingat informasi yang telah didapatkan (Buzan, 2007: 4-9).
Iwan Sugiarto (2004: 7) menjelaskan mind map atau peta pikiran adalah teknik meringkas bahan yang perlu dipelajari, dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah untuk memahaminya. Wycoff (2002: 41) mengemukakan peta pikiran sebagai alat pembuka pikiran yang ajaib, yang merupakan teknik untuk mengembangkan pendekatan berpikir yang lebih kreatif dan inovatif. Bobby DePorter (2003: 178) menyatakan bahwa metode mind mapping merupakan metode yang menyenangkan dan menarik untuk siswa.
19
Mind mapping merupakan metode yang selaras dengan cara kerja otak yang menggunakan kedua belah otak kanan dan kiri, dalam metode ini catatan yang dibuat menggunakan gambar, simbol, dan warna yang sesuai dengan kesenangan pambuatnya. Gambar, simbol, dan warna yang menarik dan berkesan dapat membantu siswa dalam mengingat hal-hal yang telah dipelajari. Sehingga ingatan siswa mengenai materi yang dicatat menggunakan mind mapping akan lebih lama membekas diingatan siswa. Kemudian dalam aplikasinya sangat membantu untuk memahami masalah dengan cepat karena telah terpetakan.
3. Langkah-langkah Pembuatan Mind Map
Untuk membuat mind map, ada beberapa langkah yang harus dilakukan terlebih dahulu, yaitu: a) mencatat hasil ceramah dan menyimak poin-poin atau kata kunci dari ceramah tersebut; b) menunjukkan jaring-jaring dan relasi-relasi diantara gagasan/kata kunci terkait dengan materi pelajaran; c) membrainstorming semua hal yang sudah diketahui sebelumnya tentang topik pelajaran; d) merencanakan tahap awal pemetaan gagasan dengan memvisualisasikan semua aspek dari topik yang dibahas; e) menyusun gagasan dan informasi dengan membuatnya dalam satu lembar kertas saja; f) menstimulasi pemikiran dan solusi kreatif atas permasalahan yang terkait dengan topik bahasan: dan g) mereveiw pelajaran untuk mempersiapkan tes atau ujian (Miftahul Huda, 2013: 307-308).
20
Buzan (2007: 15) menyebutkan tujuh langkah untuk membuat mind mapping. Langkah-langkah tersebut yaitu:
a. Mulai membuat mind map dari bagian tengah kertas kosong yang diletakkan secara mendatar. Memulai dari tengah dapat memberi kebebasan kepada otak untuk menyebar kesegala arah.
b. Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral. Sebuah gambar dapat mewakili kata atau kalimat serta dapat membatu dalam melatih imajinasi. Selain itu sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membantu berkonsentrasi, lebih terfokus, dan mengaktifkan otak.
c. Gunakan warna. Warna membuat mind map lebih hidup, menambah energi pada pemikiran kreatif dan menyenangkan.
d. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan gambar-gambar tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya. Otak bekerja menurut asosiasi, sehingga apabila cabang-cabang tersebut dihubungkan akan lebih mudah dimengerti dan diingat.
e. Buatlah garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus. Hal tersebut dikarenakan garis melengkung akan lebih merik mata dan tidak membosankan.
f. Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Kata kunci tunggal akan lebih banyak memicu ide dan pikiran baru.
21
Adapun keuntungan apabila mengikuti langkah-langkah membuat mind map dengan baik menurut Windura (2013; 49-50) adalah (a) siswa menjadi lebih fokus saat membuat mind map tentang materi yang sedang dipelajari; (b) siswa menjadi lebih fokus saat menggunakan mind map untuk mengkaji ulang materi pelajaran; (c) siswa dapat mengalirkan lebih banyak ide-ide dan pemikiran-pemikiran; (d) siswa dapat lebih lancar dalam mengalirkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran; (e) ide-ide dan pemikiran yang dituangkan menjadi lebih berkualitas; (f) siswa dapat menciptakan ide yang orisinil dan kreatif; (g) siswa dapat lebih memahami materi pelajaran; (h) membantu siswa dalam mengingat (recall) materi yang telah diajarkan; serta (i) siswa mendapatkan daya ingat yang lebih lama mengenai materi yang diajarkan.
4. Manfaat Metode Mind Mapping
Menurut Windura (2013: 12) mind map memiliki beragam manfaat bagi siswa, yaitu: mencatat, meringkas, mengarang, berpikir analisis, berpikir kreatif, merencanakan jadwal, mengurai artikel bacan, dan mengurai soal cerita. Mind map adalah bentuk visual atau gambar, sehingga mudah untuk dilihat, dibayangkan, ditelusuri, dibagikan kepada orang lain, dipresentasikan dan didiskusikan bersama.
Sependapat dengan hal tersebut, Wycoff (2002: 65-66) mengemukakan beberapa manfaat penggunaan mind mapping, yaitu:
a. Penulisan. Mind mapping dapat membantu penulis dalam menyususn bahan tulisannya.
22
b. Manajemen Proyek. Mind mapping adalah cara yang paling baik untuk menguraikan suatu proyek menjadi beberapa bagian, sehingga diperoleh struktur dasar proyek yang dipetakan.
c. Brainstorming. Kegiatan brainstorming sangat cocok menggunakan teknik
mind mapping yang strukturnya mengalir bebas.
d. Rapat. Mind mapping dapat membuat rapat menjadi lebih produktif. e. Daftar Tugas. Metode mind map membuat daftar tugas menjadi lebih baik. f. Presentasi. Metode mind mapping dapat memudahkan dalam mebuat
persiapan pidato/presentasi.
g. Penulisan Catatan. Metode pencatatan menggunakan mind map yang menarik membantu mengelola informasi agar dapat bertahan lebih lama dalam ingatan.
h. Pengembangan Pribadi. Mind mapping memanfaatkan isi pikiran yang paling dalam dan merupakan metode efektif untuk menemukan inner self atau diri terdalam.
Bobbi DePorter (2003: 172) menyebutkan empat manfaat peta pikiran, yaitu: (a) Fleksibel. Jika tiba-tiba teringat untuk menjelaskan sautu hal tentang pikiran, dengan mudah dapat menambahkan dalam peta pikiran; (b) Dapat Memusatkan Perhatian. Tidak perlu berpikir untuk menangkap setiap kata yang dibicarakan, karena hanya perlu berkosentrasi pada gagasan-gagasan; (c) Meningkatkan Pemahaman. Peta pikiran akan meningkatkan pemahaman dalam memberikan catatan tinjuan ulang pada suatu tulisan; (d)
23
Menyenangkan. Dalam membuat peta pikiran, imajinasi dan kreativitas yang tidak terbatas menjadikan pembuatan serta peninjauan ulang catatan lebih menyenangkan.
Buzan (2007: 25) menyebutkan manfaat Mind map untuk anak-anak yaitu membantu dalam mengingat, berkonsentrasi, memilah informasi dan gagasan, menjadi kreatif, menggunakan imajinasi, mencatat, memahami, mengendalikan, tetap tenang, dan tetap berminat. Secara lebih terperinci, Iwan Sugiarto (2004: 78) menjelaskan beberapa keuntungan menggunakan peta pikiran. Keuntungan-keuntungan tersebut adalah:
a. Tema utama diletakkan di tengah-tengan sehingga cepat dapat dilihat dan dimengerti. Cabang-cabang utamanya dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah dimengerti tentang apa peta pikiran tersebut.
b. Kita lebih dapat berkonsentrasi dan mengembangkan pemikiran kita melalui penggunaan kata-kata kunci.
c. Peta pikiran sangat cocok untuk mengulang kembali apa yang telah dipelajari. Lewat pemikiran dasar yang sudah ada, direkontruksi dan diingat kembali lalu dikaitkan dengan kata-kata kunci yang telah dipergunakan. d. Melalui peta pikiran, kita dapat meringkas beberapa lembar bahan yang
dipelajari menjadi satu halaman saja.
e. Kita lebih mudah mengingat karena di dalam peta pikiran, kita bisa mempergunakan gambar, warna, serta simbol-simbol (dua belah otak kita bekerja bersama-sama)
f. Peta pikiran memberikan kita langkah pertama menuju era persaingan. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manfaat mind map bagi anak adalah mencatat pelajaran, meningkatkan konsentrasi, pemahaman, dan daya ingat, serta menumbuhkan kreativitas dan minat belajar. Mind map dapat mengaktifkan kedua belah otak, sehingga siswa tidak akan mudah jenuh ketika
24
belajar. Metode mind mapping dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas, salah satunya pada pembelajaran IPA.
5. Implementasi Metode Mind Mapping dalam Pembelajaran
Metode peta pikiran sangat cocok untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan penguasaan konsep (Saifuddin Zuhri, 2013: 307). Mind Map dapat digunakan untuk membentuk, memvisualisasikan, mendesain, mencatat, memecahkan masalah, membuat keputusan, merevisi, dan mengklarifikasi topik utama, sehingga siswa bisa mengerjakan tugas-tugas yang banyak sekalipun.
Dalam pembelajaran IPA, penguasaan konsep sangat dibutuhkan oleh siswa untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Namun, banyaknya materi yang diajarkan membebani siswa dalam menguasai keseluruhannya. Berasarkan penjelasan sebelumnya, diketahui mind map dengan gambar, warna, dan kata kunci dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi pelajaran, serta mengingat materi tersebut dalam jangka yang lebih lama. Lebih lanjut, apabila dibandingkan dengan metode konvensional yang selama ini sering digunakan dalam pembelajaran IPA, metode mind mapping jauh lebih baik karena melibatkan kedua belah otak untuk berpikir.
Iwan Sugiarto (2004: 76) memaparkan perbedaan mencatat dengan metode konvensional dan mencatat dengan mind map. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
25
Tabel 2. Perbedaan catatan biasa dengan peta pikiran
Catatan Biasa Peta Pikiran
Hanya berupa tulisan-tulisan saja. Berapa tulisan, simbol, dan gambar. Hanya dalam satu warna. Berwarna-warni.
Untuk mereview ulang memerlukan waktu yang lama.
Untuk mereview ulang diperlukan waktu yang lebih pendek.
Hanya melatih fungsi otak kiri. Melatih fungsi orak kiri dan otak kanan.
Waktu yang diperlukan untuk belajar lebih lama.
Waktu yang diperlukan untuk belajar lebih cepat dan efektif.
Statis. Membuat kita menjadi lebih kreatif.
Implementasi penggunaan metode mind mapping dalam pembelajaran IPA dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 1. Contoh Implementasi Metode Mind Map dalam Pembelajaran IPA Dari uraian penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode Mind Mapping merupakan salah satu metode mencatat yang dapat digunakan untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran. Selain itu, Mind Mapping juga merupakan metode mencatat yang kreatif dan menyenangkan, sehingga dapat menarik minat siswa dalam mengikuti pelajaran.
26 C. Minat Belajar
1. Pengertian Minat
Jersild dan Tasch (Wayan Nurkanca, 1983: 229) menekankan bahwa minat atau interest menyangkut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Doyles Fryer menyatakan minat atau interest merupakan gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada individu (Wayan Nurkanca, 1983: 229).
Menurut Slameto (2003: 180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada suatu paksaan. Muhibbin Syah (2010: 133) menyatakan minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Winkel (2004: 212) mengartikan minat sebagai suatu kecenderungan subjek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu sehingga akan merasa senang ketika mempelajari materi tersebut.
Crow and Crow (Djaali, 2008: 121) mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong sesorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Minat dapat diekspresikan melaui pernyataan atau aktivitas yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang suatu kegiatan (Slameto, 2003; 57). Apabila pembelajaran yang berlangsung menarik, maka siswa akan memperhatikan terus-menerus dan disertai dengan
27
perasaan senang. Sehingga materi yang disampaikan dalam proses pembelajaran akan tersimpan lebih lama di dalam ingatan siswa.
Menurut Dalyono (2009: 189) minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dari dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang mendorong manusia untuk menyelidiki dunia luar, yang lama kelamaan menimbulkan minat terhadap sesuatu. Minat seseorang mendorong untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Winkel (2004: 212) mengartikan minat sebagai kecenderungan individu yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Minat dan perasaan senang memiliki hubungan timbal balik, siswa yang tidak merasa senang dalam suatu pelajaran juga memiliki minat yang rendah pada pelajaran tersebut.
Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan datang dari dalam diri. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu. Timbulnya minat belajar disebabkan oleh berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah (Dalyono, 2009: 56-57).
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas disimpulkan bahwa minat merupakan kecenderungan seseorang terhadap suatu hal. Minat memiliki
28
pengaruh yang besar dalam belajar, karena semakin tinggi minat siswa dalam belajar, maka semakin memudahkan siswa untuk menguasai materi pelajaran tersebut. Minat yang dimiliki oleh siswa tentu dipengaruhi faktor yang bermacam-macam. Faktor-faktor tersebut tentu mempengaruhi perkembangan minat siswa. Oleh karena itu, seorang guru sebaiknya memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi minat siswa.
2. Faktor-Faktor Minat
Minat siswa terhadap suatu pelajaran dapat berkembang karena pengaruh guru, teman sekelas, atau keluarga (Sri Rumini, 1998: 158). hal tersebut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi minat siswa dari luar. Sejalan dengan pendapat tersebut, Hurlock (1978: 139) menyebutkan beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi minat siswa, yaitu:
a. Pengalaman dini sekolah. Anak yang secara fisik dan mental siap untuk bersekolah memiliki sikap yang lebih positif.
b. Pengaruh orang tua. Orang tua mempengaruhi sikap anak terhadap pentingnya pendidikan, belajar, ketertarikan pada mata pelajaran, dan guru. c. Sikap saudara kandung. Sama halnya dengan orang tua, saudara kandung
yang lebih tua memiliki pengaruh terhadap sikap anak.
d. Sikap teman sebaya. Minat dan sikap terhadap sekolah sangat diarahkan oleh teman sebaya.
e. Permainan oleh kelompok teman sebaya. Kegiatan yang dilalui siswa di sekolah dilakukan bersama dengan teman sebayanya.
29
f. Keberhasilan akademik. Keberhasilan akademik dalam kelompok teman sebaya sangat berpengaruh pada keberhasilan akademik siswa.
g. Sikap terhadap pelajaran.
h. Hubungan guru dan murid. Banyak sedikitnya minat siswa terhadap sekolah dipengaruhi hubungan dengan guru.
i. Suasana emosional sekolah. Suasana emosional sekolah dipengaruhi oleh guru dan peraturan yang digunakan.
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa minat belajar dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri maupun luar diri siswa. Faktor-faktor tersebut sangat penting bagi perkembangan minat anak. Selain faktor-faktor tersebut, terdapat juga aspek-aspek minat yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan minat belajar anak.
3. Ciri-Ciri Minat Belajar
Slameto (2003: 58) mengemukakan bahwa siswa yang berminat dalam belajar memiliki cir-ciri, yaitu:
a. Mempunya kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus-menerus.
b. Ada rasa suka dan senang terhadap sesuatu yang diminati.
c. Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa ketertarikan pada aktivitas-aktivitas yang diminati.
d. Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lain. e. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
30
Mengacu pada pendapat di atas, secara garis besar siswa yang memiliki minat belajar akan mengikuti kagiatan pembelajaran dengan perasaan senang (antusias), rasa ingin tahu, dan berpartisipasi aktif (tekun).
a. Rasa senang (Antusias)
Winkel (2004: 212) menjelaskan bahwa minat sebagai suatu kecenderungan subjek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu sehingga akan merasa senang ketika mempelajari materi tersebut. Sedangkan menurut Slameto (2003: 180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada suatu paksaan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri siswa yang memiliki minat belajar akan merasa senang ketika mengikuti kegiatan pembelajaran yang diminati.
b. Rasa Ingin Tahu
Hurlock (1978: 117) mengemukakan salah satu ciri siswa yang berminat adalah terus menerus bertanya mengenai sesuatu. Usman Samatowa (2206: 140) menyatakan bahwa siswa yang memiliki minat sikap ingin tahu akan sering menunjukkan pertanyaan dan mengamati benda-benda di sekitarnya.
Dari penyataan di atas dapat diketahui ciri-ciri siswa yang memiliki minat akan menunjukkan rasa ingin tahu dan aktif bertanya.
31 c. Berpartisipasi Aktif (Tekun)
Siswa sekolah dasar pada umumnya senang bermain, tak terkecuali ketika mengikuti pelajaran. Tidak mudah membuat siswa memperhatikan dan duduk tenang dalam mengikuti pelajaran. Minat seseorang mendorong untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Slameto (2003: 58) menyatakan bahwa, minat yang dimiliki siswa akan dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
Dari ciri-ciri minat belajar di atas, dapat dibuat indikator minat belajar siswa. Dalam penelitian ini, indikator minat belajar yang digunakan adalah: a. Antusias dalam mengikuti pembelajaran.
b. Menunjukkan rasa ingin tahu dengan bertanya. c. Menunjukkan perhatian pada benda atau aktivitas. d. Berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan.
e. Tekun.
Indikator-indikator tersebut yang akan digunakan untuk mengukur minat belajar siswa. Indikator-indikator tersebut kemudian akan dikaitkan dengan metode mind mapping dalam pembelajaran IPA, untuk melihat minat belajar yang dimiliki siswa. Siswa yang memiliki minat belajar tinggi akan mengikuti proses pembelajaran dengan senang hati, sehingga siswa akan lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan. Hal tersebut tentu berdampak positif terhadap hasil belajar yang akan dicapai siswa. Semakin baik
32
penguasaan materi pelajaran, semakin tinggi pula kemungkinan mendapat hasil belajar yang baik.