• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pembelajaran Pendidikan Islam Salafi di Lombok

B. Manajemen Pendidikan Salafi di Lombok

4. Metode Pembelajaran Pendidikan Islam Salafi di Lombok

173

bil hal dari guru akan lebih efektif dalam membentuk dan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan kepada para Santri.

Seiring dengan laju modernitas, tugas guru semakin mengalami perluasan. Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya tuntutan dan perkembangan zaman yang harus di respon oleh lembaga pendidikan Islam.

Jackson dan Parker menjelaskan bahwa tugas seorang guru tidak hanya membentuk santri/santriwati menjadi muslim yang taat dan dan menjadi warga negara yang baik, disamping itu juga dapat merespon perkembangan modernitas yang terus berdialektika dengan realitas kehidupan.451

174

oleh santri/santriwati.453 Metode menempati posisi yang sangat penting dalam setiap pembelajaran. Metode akan selalu mengikuti bentuk dan corak materi yang diajarkan. Sehingga metode akan bertransformasi ketika materi pembelajaran mengalami perubahan. Metode pada hakikatnya merupakan sebuah cara untuk mencapai tujuan pembelajaran.454

Dalam penerapan metode pembelajaran Ibnu Taimiyah memberikan tawaran konseptual, bahwa penerapan metode harus dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara penalaran dan implementasi dalam proses pendidikan.455 Hal ini sejalan dengan pendapatnya tentang dwi tunggal potensi manusia, yaitu potensi ilmiyyat456 dan iradat.457

Pendidikan Islam Salafi menggunakan beragam metode dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah, dialog, praktek, menghafal dan keteladanan.458 Penggunaan metode tersebut sangat ditentukan kondisi dan jenis materi yang akan diajarkan pada para santri/santriwati. Pondok Pesantren Salafi mengelola lembaga pendidikan formal dan non formal.459 Pendidikan formal menggunakan sistem berjenjang (klasikal), sedangkan untuk pendidikan non formal, diniah menggunakan sistem khalaqah,460 dan kegiatan dauroh461 dengan mendatangkan ulama-ulama dari Timur Tengah.

453Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran,(Yogyakarta: Arruzz Media,2008),29

454Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar,75.

455Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, Gagasan Besar Ilmuan Muslim, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2020),57.

456Dengan potensi ilmiyat, manuasi dapat menggunakan akal pikirannya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, Gagasan Besar Ilmuan,57.

457Ibnu Taimiyah mendifinisikan metode Iradat sebagai sebagai aktivitas mendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, Gagasan Besar Ilmuan,59.

458Lalu Ahmad Nazri, Wawancara, di Aikmel, tanggal 22 Januari 202.

459Pendidikan Formal seperti TK IT, SD IT, SMP IT dan SMA IT. Pendidikan Non formal, program tahfidz al-Qur’an, Kajian kitab, dan majlis ta’lim.

460Secara bahasa halaqoh bermakna “lingkaran”. Sedangkan menurut istilah , kegiatan pengajian untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman, dimana seorang ustaz memberikan pelajarandengan kitab tertentu dan para santrinya duduk melingkar di depannya untuk mendengarkan

175

Bahasa Arab memiliki peranan yang sangat penting dalam studi keislaman. Untuk memahami litertaur klasik (turats) dibutuhkan penguasaan terhadap bahasa Arab. Bagi komunitas Salafi kemampuan memahami turats dan menggali hukum Islam dari sumber utama akan mencerminkan orisinalitas pemahaman keagamaan seseorang. Pondok Pesantren Salafi menempatkan bahasa Arab pada posisi yang sangat penting, sehingga bahasa Arab dijadikan salah satu program unggulan. Metode pembiasaan bahasa Arab dilakukan dengan latihan h}i|wa>r, muh}adda>sah} dan pidato menggunakan bahasa arab yang diselenggarakan setiap malam di Pondok Pesantren.462

Untuk kegiatan pengajian turats mereka menggunakan metode bandongan463 dan sorogan,464 cara ini merupakan hasil adaptasi dari metode pembelajaran di Timur Tengah terutama di Makkah dan Madinah. Adapun keunggulan metode bandongan dan sorogan antara lain : pertama memiliki pemahaman yang sangat kuat secara tekstual. Kedua, memiliki hafalan yang kuat. Ketiga, secara didaktik terbukti memiliki signifikansi yang tinggi dalam mencapai hasil belajar.465

dan menyimak materinya yang sedang disampaikan. Muhammad Ali Chozin, Strategi Dakwah Salafi di Indonesia,Jurnal Dakwah, Vol. XIV, No. 1 Tahun 2013,16.

461Daurah secara bahasa Daurah berarti “giliran”. menurut istilah pelatihan atau kajian yang dilaksanakan dalam jangka waktu dan tempat tertentu yang disepakati, dan peserta berkumpul untuk mengikuti kegiatan yang telah direncanakan.Muhammad Ali Chozin, Strategi Dakwah Salafi,16.

462 Sayafi’i, Wawancara, di Lenek, Tanggal 22 Januari 2022.

463Metode bandongan nerupakan metode yang digunakan dengan seorang guru berperan aktif dalam kegiatan pembelajaraan. guru membaca kitab disertai denegan penjelasannya. Kemudian santri ikut menterjemahkan kitab yang sudah dibaca oleh guru. Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta, LP3ES,1974), 88

464 Metode Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya. Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal di antara keduanya. Dengan metode ini santri mebaca kitab secara lansung dihadapan tuan guru, dimana peran tuan guru hanya menyimak bacaan yanag dibacakan oleh santri. Lebih jelas lihat M.Habib Chizin, dalam Dawam Raharjo. Pesantren dan Pembaharuan,88.

465Abdul Mughits, Kritik Nalar Fiqih Pesantren (Jakarta: Prenada Media Group,2008),178.

176

Model lembaga pendidikan Islam klasik di Timur Tengah, seperti dār al arqām466 kuttab, salon, masjid, madrasah, ribat dan pendidikan agama di rumah para ulama.467 Transformasi metode pembelajaran dari Timur Tengah seperti, khalaqah, sorogan dan bandongan468 telah menjadi identitas yang mengakar kuat dalam tradisi pembelajaran di Pondok Pesantren Indonesia.

Seiring dengan pergeseran kebijakan pemerintah, Pondok Pesantren telah menjadi holding institution dengan menyelenggarakan lembaga pendidikan formal, seperti madrasah, SIT dan bahkan Perguruan Tinggi, sehingga penerapan system klasikal menjadi tidak terhindarkan.

Selama ini, metode pembelajaran pada Pondok Pesantren Salafi lebih menekankan penggunaan metode bandongan dan sorogan yang cendrung monolog dan indoktrinatif. Kegiatan pembelajaran lebih mementingkan hapalan dibandingkan analisis dan dialog, serta lebih mengutamakan materi daripada metodologi. Situsai ini terbentuk akibat dari proses pembelajaran yang kurang mengapresiasi penalaran. Kegiatan pembelajaran lebih menekankan bentuk produk hapalan dan menganggap ilmu sebagai sesuatu yang sudah final.469 Pendekatan pembelajaran seperti ini lebih menekankan pada formalisme agama yang bersifat normative tekstual dan seringkali lepas dari konteksnya. Model pendekatan yang seperti ini akan melahirkan

466Darul Arqam merupakan lembaga pendidikan awal pada masa rasulullah, nama darul arqam sendiri di sandarkan kepada pemilik rumah tempat belajar mengajar dilaksanakan yaitu al-Arqam, guru yang pertama adalah rasulullah SAW. Di rumah inilah Nabi mengajarkan ayat –ayat al-qur’an. Pusat pendidikan Islam adalah lembaga yang fleksibel, berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Suwito & Fauzan (ed), sejarah Sosial pendidikan Islam (Jakarta: Pranada media Group,2005), 258.

467Usman, Institusi Pendidikan Islam pada Masa harun Ar-Rasyid, Dalam Suwito dan Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan,100-105.

468 Metode Pembelajaran di Pesaantren dimana seorang guru,membaca daan menerjemahkan kitab yang sedang diajrkan kemudian para santri secara bersama-sama duduk di depan dan mengelilingi tuan guru dengan mendengarkan secara seksama penjelasan tuna guru. Abdul Mughits, Kritik Nalar Fiqih,151.

469Sudaminta,”Tantangan dan permasalahan Pendidikan di Indonesia memasuki meilinium ketiga”Dalam A.Atmadi dan Y.Setyaningsih (ed),Transformasi Pendidikan memasuki Milinium Ketiga (Yogyakarta:Kansius,2000),12.

177

kemandulan dalam berpikir, atau meminjam terminologi Amin Abdullah disebut dengan doktriner literal-formal.470

Kuatnya tradisi normatif-bayani dalam pengembangan keilmuan di Pondok Pesantren Salafi diarahkan untuk mengembangkan semangat dakwah dan menampilkan kebenaran ajaran Islam dengan argumentasi doktrin teologis, sementara itu dampak lebih lanjut dari pengembangan keilmuan yang bersifat normatif, kesulitan membedakan antara ajaran teologis dengan pemahaman terhadap ajaran Islam.471 Kegiatan pembelajaran di Pondok Pesantren dengan metode sorogan dan bandongan dengan membaca dan menterjemahkan secara bergantian makna isi kitab, proses seperti ini biasa di sebut dengan pengajian dalam tradisi pembelajaran di Pondok Pesantren, dan memiliki makna yang berbeda dengan pengkajian.