DAFTAR LAMPIRAN
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.5. Metode Penarikan Sampel
Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability sampling, yaitu judgement sampling. Responden yang digunakan untuk mengetahui manajemen rantai pasokan sayuran dataran tinggi terdiri dari petani, tengkulak, prosesor/koperasi dan pakar. Pakar berperan dalam memberikan penilaian terhadap permasalahan yang ada dan menentukan produk sayuran unggulan yang dipilih. Sedangkan petani, koperasi dan tengkulak dijadikan responden karena dianggap mewakili dan mengetahui keadaan usaha terutama mengenai rantai pasok yang terjadi. Jumlah responden pakar untuk menentukan sayuran unggulan dan kriteria pemilihannya adalah empat orang pakar yang terdiri dari tiga orang dosen IPB, satu orang (manajer kemitraan) Saung Mirwan. Jumlah pakar dalam MPE adalah tiga orang yaitu satu dosen IPB, peneliti Balitsa dan Ketua Koperasi Mitra Sukamaju. Identifikasi rantai pasok dan analisis nilai
tambah melib 4 bandar papri 3.6. Pengolahan d Pengolaha eksponensial, eksponensial d tinggi. Analis pasokan. Meto petani, kopera 3.6.1. Metode Pe Pemilihan menggunakan M salah satu meto dengan kriteria individu penga model yang tela Formulasi TNi = Tota RK ij = deraj TKK j = deraj n = juml m = juml Data dipe pihak yang ah berpengaruh da dengan menggu wawancara men tiga orang dose didapatkan dari
ibatkan responden yang terdiri dari 12 orang prika, dan 11 karyawan Koperasi Mitra Sukama
dan Analisis Data
han dan analisis data menggunakan metod l, analisis deskriptif dan metode hayami. Metod l digunakan untuk memilih produk sayuran u lisis deskriptif digunakan untuk mengetahu etode hayami digunakan untuk menghitung ni
rasi dan bandar.
Perbandingan Eksponensial
an produk unggulan dan alternatif pema Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). M etode untuk menentukan urutan prioritas alter
ria jamak. Teknik ini digunakan sebagai gambilan keputusan untuk menggunakan r elah terdefinisi dengan baik pada tahapan prose asi perhitungan skor untuk setiap alternatif dala
... tal nilai alternatif ke -i
rajat kepentingan relatif kriteria ke-j pada piliha rajat kepentingan kritera keputusan ke-j; TKKj mlah pilihan keputusan
mlah kriteria keputusan
peroleh melalui observasi lapangan dan waw ahli dalam bidang sayuran dataran tinggi. dalam pemilihan sayuran unggulan dataran t
gunakan metode Delphi. Dalam hal ini, pen endalam (in deph interview) terhadap pakar y sen IPB dan manajer kemitraan Saung Mirwa ari masing-masing pakar tersebut dikumpulk
ng petani paprika, maju.
ode perbandingan tode perbandingan unggulan dataran hui model rantai nilai tambah pada
masok dilakukan . MPE merupakan ternatif keputusan i pembantu bagi rancang bangun ses.
alam MPE adalah:
...(1)
ihan keputusan i > 0; bulat
wancara terhadap gi. Kriteria yang n tinggi diperoleh eneliti melakukan r yang terdiri dari an. Kriteria yang lkan dan disusun
oleh peneliti menjadi kriteria penilaian MPE. Selanjutnya, peneliti membawa kembali hasil kriteria yang telah diperoleh untuk dikonfirmasi dan dikoreksi.
Kesimpulan yang diperoleh menghasilkan delapan pilihan sayuran unggulan. Sayuran tersebut memiliki potensi pengembangan pasar yang baik dan memberikan marjin keuntungan yang tinggi. Kedelapan sayuran tersebut adalah kubis bunga, wortel, kol, pakcoy, kentang, brokoli, lettuce, dan paprika. Selain itu, kesimpulan yang terkait dengan kriteria keputusan dalam memilih sayuran unggulan dataran tinggi diperoleh sembilan kriteria yaitu :
a. Ketersediaan bibit
Ketersediaan bibit merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya sayuran. Tanpa adanya pasokan bibit yang lancar maka budidaya sayuran akan terganggu. Bobot untuk ketersediaan bibit adalah 5.
b. Ketersediaan sarana produksi
Sarana produksi merupakan semua hal yang diperlukan dalam budidaya sayuran selain bibit. Sarana produksi meliputi alat-alat pengolah lahan, sarana tanam, pupuk dan alat-alat lainnya. Bobot untuk ketersediaan sarana produksi adalah 4.
c. Kualitas produk
Kualitas produk merupakan faktor utama suatu produk dapat diterima di pasar. Dalam dunia pertanian kualitas produk sangat ditentukan oleh kualitas panen, pengangkutan dan penyimpanan. Bobot dari kualitas produk adalah 3.
d. Kontinuitas
Kontinuitas adalah keberlanjutan produk yang dibudidayakan. Maksudnya adalah produk tersebut dibudidayakan secara tetap dan berkala atau hanya bersifat temporer. Bobot dari kontinuitas adalah 5. e. Ketersediaan produk
Ketersediaan produk sangat dipengaruhi oleh budidaya yang dilakukan oleh petani. Produk yang ketersediaannya di pasar tidak tetap akan
menyebabkan fluktuasi harga yang seringkali merugikan petani. Bobot ketersediaan produk adalah 5.
f. Potensi pasar domestik dan ekspor
Potensi pasar domestik dan ekspor dapat dilihat dari seberapa besar tingkat permintaan pasar dan seberapa besar pemenuhannya. Potensi pasar juga dapat diukur dari trend permintaan pasar. Bobot untuk potensi pasar domestik dan ekspor adalah 5.
g. Marjin keuntungan
Marjin keuntungan yaitu seberapa besar keuntungan yang diperoleh tiap-tiap anggota rantai pasok dari petani sampai konsumen institusi. Bobot untuk marjin keuntungan adalah 5.
h. Risiko
Maksudnya adalah risiko yang dihadapi petani dalam budidaya komoditas tersebut dan seberapa besar risiko yang mungkin dihadapi anggota rantai pasokan yang lainnya. Bobot untuk risiko adalah 5. i. Kemitraan
Kemitraan yang terjalin antara petani dan prosesor, dan peluang kemitraan yang dapat dikembangkan selanjutnya. Bobot untuk kemitraan adalah 4.
3.6.2. Analisis Model Rantai Pasokan
Model rantai pasokan dibahas secara deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang didasarkan data deskripsi dari status, keadaan, sikap, hubungan atau sistem pemikiran suatu masalah yang menjadi objek penelitian. Manajemen rantai pasokan dianalisis menggunakan metode pengembangan rantai pasok hortikultura yang dicanangkan oleh Asian Productivity Organization (APO), Jepang.
3.6.3. Analisis Nilai Tambah
Nilai tambah bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan yang diperoleh oleh setiap anggota rantai pasokan, yang terdiri atas tenaga kerja, modal, dan manajemen yang diusahakannya. Besarnya nilai tambah tersebut dinyatakan secara matematik dengan menggunakan metode Hayami (Hayami dalam Sudiyono 2002).
Nilai tambah = f {K, B, T, U, H, h, L} ...(2) K = Kapasitas produksi
B = Bahan baku yang digunakan T = Tenaga kerja yang digunakan U = Upah tenaga kerja
H = Harga output h = Harga bahan baku
L = Nilai input lain (nilai dan semua pengorbanan yang terjadi selama proses perlakuan untuk menambah nilai)
Perhitungan analisis nilai tambah dengan metode Hayami dijelaskan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Variabel input, output nilai tambah.
No Variabel output, input Nilai
1. Output (Kg/periode) (1)
2. Input bahan baku (Kg/periode) (2)
3. Tenaga kerja langsung (HOK/periode) (3)
4. Faktor konversi (4) = (1)/(2)
5. Konversi tenaga kerja (HOK/Kg) (5) = (3)/(2)
6. Harga produk (Rp/Kg) (6)
7. Upah tenaga kerja per HOK (7)
Variabel penerimaan dan keuangan
8. Harga input bahan baku (Rp/Kg) (8)
9. Sumbangan input lainnya (Rp/Kg) (9)
10. Nilai produk (Rp/Kg) (10) = (4) x (6)
11. a. Nilai Tambah (Rp) (11a) = (10) – (9) – (8) b. Rasio nilai tambah (%) (11b) = (11a)/(10) x 100 12. a. Pendapatan tenaga kerja (Rp) (12a) = (5) x (7)
b. Pangsa tenaga kerja (%) (12b) = (12a)/(11b)x100 13. a. Keuntungan (Rp) (13a) = (11a) – (12a)
b. Persentase keuntungan (%) (13b) = (13a)/(10) x 100
14. Marjin Pemasaran (14) = (10) – (8)
a. Pendapatan tenaga kerja (14a) = (12a)/(14) x 100 b. Sumbangan input lain (14b) = (9)/(14) x 100 c. Keuntungan perusahaan (14c) = (13a)/(14) x 100 Sumber : Sudiyono (2002)
Keterangan :