• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN A. Metodologi Penelitian

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah (Halaman 46-55)

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sebuah penelitian kualitatif melibatkan studi tentang bagaimana memakai dan mengumpulkan berbagai jenis material empiris-studi kasus : pengalaman personal, instropeksi, kisah hidup, wawancara, artefak, cultural texts and productions, observasional, historikal, interaksional, visual teks- yang menjelaskan secara rutin dan problematis kejadian dan makna dalam kehidupan individu.

Pendekatan yang dilakukan peneliti adalah menggunakan metode studi kasus dimana metode ini cocok digunakan bila penelitian berkenaan dengan how dan why. Yin (2002 : 13) menyebutkan bahwa studi kasus sebagai sebuah bentuk penelitian yang mencoba menginvestigasi fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata terutama ketika batasan antara fenomena dan konteks tidak terlalu jelas.

Studi kasus bisa berarti metode atau strategi dalam penelitian, bisa juga berarti hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu. Studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasi suatu kasus (case) dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar (Salim. 2001 : 93).

Secara praktis peneliti melihat realita yang dihadapi dalam penelitian sebagai realitas majemuk yang tidak bisa dilihat bagaimana jawaban dari penelitian mengenai proses penerimaan teknologi kamera DSLR sehingga perlu adanya penggalian lebih dalam mengenai fenomena tersebut. Secara ontologis peneliti harus tahu bagaimana tingkat keterlibatannya dalam penelitian tersebut. Peneliti terlibat secara aktif menjalin relasi di dalam proses interaksi dengan subjek penelitiannya. Secara aksiologis, nilai-nilai di dalam penelitian ini terdapat banyak nilai-nilai dari peneliti yang masuk ke dalam penelitian.

Menurut Pawito (2007 : 35), penelitian komunikasi kualitatif, biasanya tidak dimaksudkan untuk memberikan penjelasan-penjelasan (explanations), mengontrol gejala-gejala komunikasi atau mengemukakan prediksi-prediksi, tetapi lebih dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran dan/atau pemahaman (understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi terjadi.

46

Menurut Mooney yang dikutip oleh Agus Salim (2001 : 95) menyebutkan bahwasanya studi kasus dapat dilihat sebagai empat macam model pengembangan yang terkait dengan model analisisnya, yaitu :

1. Studi kasus tunggal dengan single level analysis : studi kasus yang menyoroti perilaku individu atau kelompok individu dengan satu masalah penting

2. Studi kasus tunggal dengan multi level analysis : studi kasus yang menyoroti perilaku individu atau kelompok individu dengan berbagai tingkatan masalah penting

3. Studi kasus jamak dengan single level analysis : studi kasus yang menyoroti perilaku kehidupan dari kelompok individu dengan satu masalah penting 4. Studi kasus jamak dengan multi level analysis : studi kasus yang menyoroti

perilaku kehidupan dari kelompok individu dengan berbagai tingkatan masalah penting

Penulis menggunakan studi kasus tunggal dengan single case analysis, karena melihat fenomena yang dikaji adalah sebuah kasus tunggal mengenai pola proses persebaran dan penerimaan informasi tanpa memberikan perbandingan terhadap kasus besar lainnya.

Metode adalah cara paling utama yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Pada penelitian ini penulis ingin menggambarkan suatu realitas, maka jenis penelitian yang paling tepat adalah jenis kualitatif dengan metode deskriptif. Digunakan metode penelitian deskriptif di mana data akan lebih berbentuk kata-kata dan gambar.

Menurut Pawito (2007 : 83), metodologi meliputi cara pandang dan prinsip berpikir mengenai gejala yang diteliti, pendekatan yang digunakan, prosedur ilmiah (metode) yang d1itempuh, termasuk dalam mengumpulkan data, analisis data dan penarikan kesimpulan.

2. Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan pada fotografer profesional dan jurnalis foto di Kota Solo dan Yogyakarta.

Pemilihan fotografer profesional dan jurnalis didasari asumsi dan pengamatan peneliti bahwa dua profesi ini mengalami transisi penggunaan kamera dari analog menjadi digital.

Kota Solo dan Yogyakarta dipilih karena di kota ini terdapat beberapa media cetak yang cukup lama berdiri dan di dalamnya terdapat fotografer senior yang sudah lama mengabdi. Selain itu di dua kota ini terdapat fotografer profesional lintas jaman yang sangat berpengalaman di bidang fotografi.

3. Jenis Data a. Data Primer

Yaitu data yang langsung diperoleh dari informan di lapangan melalui wawancara dan observasi. Data yang diperoleh melalui wawancara berbentuk narasi sedangkan melalui kegiatan observasi peneliti mendapatkan data dalam bentuk narasi dan foto.

Kegiatan wawancara mendalam (in-depth interviewing) dilakukan kepada beberapa informan untuk menggali informasi yang dibutuhkan peneliti. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan yang bersifat terbuka dan mengarah pada kedalaman informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak secara formal terstruktur guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi dasar penggalian informasinya secara lebih jauh, lengkap, dan mendalam. Wawancara dihentikan apabila data yang didapatkan dapat memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan.

Observasi, yaitu pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.

Peneliti turut aktif melakukan observasi pada kegiatan fotografer profesional dalam melakukan kerja di dunia fotografi yang mereka geluti.

Hasil dari observasi ini disajikan dalam bentuk narasi dan foto yang dipergunakan untuk memperkuat data yang diperoleh melalui wawancara.

b. Data Sekunder

Yaitu data yang diperoleh dengan mengutip sumber-sumber melalui dokumen-dokumen, buku-buku, arsip-arsip, dan catatan-catatan yang berhubungan dengan objek penelitian. commit to user

Peneliti melakukan studi dokumen/arsip mengenai sejarah kamera, dokumen/arsip mengenai kegiatan jurnalisme dan fotografi yang dibuat melalui media kamera analog maupun digital.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penulisan ini dilakukan dalam beberapa cara, yaitu :

a. Data yang diperoleh dari wawancara. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) dilakukan kepada beberapa informan untuk menggali informasi yang dibutuhkan peneliti. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan yang bersifat terbuka dan mengarah pada kedalaman informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak secara formal tersturktur guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi dasar penggalian informasinya secara lebih jauh, lengkap, dan mendalam. Wawancara dihentikan apabila data yang didapatkan dapat memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan.

Penulis mengajukan pertanyaan mengenai karakteristik individu sebagai seorang inovator, early adopter, early majority, dan late majority. Di dalam pertanyaan mengenai karakteristik tersebut peneliti ingin menggali bagaimana karakteristik individu pada masing-masing kategori inovasi.

Kemudian peneliti mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana pola komunikasi dalam menjalankan peran sebagai komunikator dan komunikan untuk menyebarkan dan menerima informasi di dalam kategori inovasi.

Wawancara dilakukan kepada sepuluh informan yang terdiri atas satu orang yang mewakili inovator, satu orang mewakili early adopter, empat orang mewakili early majority, dan empat orang mewakili kategori late majority.

Tabel 3.1 Data Narasumber Penelitian

No Nama informan Usia Instansi Jabatan Masa kerja

1. Sintra Wong 33 tahun PT. Datascrip Canon Division Division Manager Canon Image Communication Product 9 tahun 2. Sunaryo haryo Bayu

48 tahun PT. Aksara Solopos Fotografer Jurnalistik

18 tahun

3. Franky 34 tahun PT. Aksara Solopos Kepala Bagian Umum

6 tahun

4. Tarko Sujarno 52 tahun Jakarta Pos Kontributor Yogyakarta

Fotografer Jurnalistik

26 tahun

5. Ali Lutfi 38 tahun Jakarta Globe

Kontributor Surakarta & EPA wil. Surakarta

Fotografer Jurnalistik

15 tahun

6. Pang Hway Seng 63 tahun Bengawan Fotografi Fotografer Profesional

26 tahun

7. Agoes Rudianto 27 tahun Kontributor Kantor Berita Turki Wil.

Surakarta

Fotografer Jurnalistik

7 tahun

8. Kurniawan Arie 28 tahun Joglosemar Prima Media Fotografer Jurnalistik

4 tahun

9. Fahmi Widayat 30 tahun Freelancer Fotografer

Profesional

3 tahun

10. Hasan Sakri Ghozali

28 tahun Tribun Jogja Fotografer

Jurnalistik

4 tahun

Observasi menurut Slamet (2006 : 85-86) dalam buku Metode Penelitian Sosial yaitu teknik pengumpulan data yang bersifat nonverbal. Secara umum teknik observasi dilakukan bagi awal dari kegiatan survai yang dapat dijalankan bersama dengan studi dokumentasi atau eksperimen.

Ada dua tipe observasi, yaitu : 1. Observasi berpartisipasi, dan 2. Observasi tidak berpartisipasi.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi tidak berpartisipasi adalah kegiatan pengumpulan data yang bersifat nonverbal dimana peneliti tidak berperan ganda. Peneliti berperan sebagai pengamat belaka. Dia tidak turut serta sebagai aktor yang melibatkan diri dalam suatu kegiatan.

Peneliti turut aktif melakukan observasi pada kegiatan fotografer profesional dalam melakukan kerja di dunia fotografi yang mereka geluti.

Peneliti mengamati karakter individu dalam kategori inovasi dan melakukan pengamatan bagaimana pola komunikasi khususnya bagaimana persebaran dan penerimaan informasi dalam kategori inovasi tersebut.

Hasil dari observasi ini disajikan dalam bentuk narasi yang dipergunakan untuk memperkuat data yang diperoleh melalui wawancara.

b. Data yang berupa dokumen, teks atau karya seni yang kemudian dinarasikan (dikonversi ke dalam bentuk narasi). Peneliti mencari data penulisan dengan cara mencari data-data, referensi-referensi, dokumen-dokumen, literatur-literatur, dan buku-buku sebagai acuan dalam penulisan yang berhubungan dengan objek penelitian.

Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi.

5. Teknik Cuplikan (Sampling)

Teknik cuplikan pada penulisan ini dilakukan dengan maximum variation sampling atau pengambilan sampel variasi maksimum. Strategi pengambilan sampel variasi maksimum dimaksudkan untuk dapat menangkap atau menggambarkan suatu tema sentral dari studi melalui informasi yang silang menyilang dari berbagai tipe commit to user

responden (Slamet, 2006 : 65-66). Cara menyusun pengambilan sampel variasi maksimum adalah sebagai berikut : peneliti memulai dengan mengambil responden yang memiliki ciri-ciri yang berbeda.

Maksud dari penggunaan sampel variasi maksimum bukan untuk menggeneralisasikan penemuannya, melainkan mencari informasi yang dapat menjelaskan adanya variasi serta pola-pola umum yang bermakna dalam variasi yang ditemukan tersebut.

Yin (2002 : 90) menyebut key informan sebagai personal yang tidak hanya memberikan informasi langsung kepada pokok permasalahan tapi juga bisa memberikan bukti yang menguatkan ataupun bertentangan dengan asumsi peneliti.

Selain menggunakan teknik sampel variasi maksimum, peneliti menggunakan teknik cuplikan snowball sampling. Pawito (2007 : 93) melihat teknik cuplikan ini untuk mengimplikasikan jumlah sampel yang semakin membersar seiring dengan perjalanan waktu pengamatan. Peneliti berangkat dari seorang infroman untuk mengawali pengumpulan data. Kepada informan ini peneliti menanyakan siapa lagi berikutnya (atau siapa saja) orang yang selayaknya diwawancarai, kemudian peneliti beralih menemui informan berikutnya sesuai yang disarankan oleh informan pertama, dan begini seterusnya hingga peneliti merasa yakin bahwa data yang dibutuhkan sudah didapatkan secara memadai.

Peneliti memilih informan yang memiliki kompetensi untuk menjawab pertanyaan mengenai proses difusi inovasi teknologi yang dilakukan dilakukan oleh fotografer profesional di kota Solo dan Yogyakarta. Informan terdiri atas jurnalis foto dan fotografer komersil di Kota Solo dan Yogyakarta sebagai key informan dan fotografer pemula sebagai informan wawancara.

6. Validitas Data

Guna menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini, teknik pengembangan validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber atau menurut istilah Patton (1984) juga disebut sebagai triangulasi data.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik triangulasi data yakni triangulasi sumber. Triangulasi menunjukan bagaimana kita mengkoleksi data dari commit to user

berbagai sumber tapi mengarah pada penguatan sebuah fakta atau fenomena yang diteliti (Yin, 2002 : 99). Ada dua keadaan dalam tirangulasi data, yakni :

1. Ketika peneliti benar-benar melakukan triangulasi data, fakta atau kejadian dari sebuah studi kasus akan didukung lebih dari satu sumber bukti.

2. Ketika kita melakukan triangulasi dengan teknik multiple source tapi tidak melakukan triangulasi data, peneliti secara khusus telah melakukan analisa pada masing-masing sumber bukti secara terpisah dan telah membandingkan konklusi dari berbagai analisis yang berbeda - tapi tidak melakukan triangulasi data.

Triangulasi sumber mengarahkan peneliti agar di dalam mengumpulkan data, dia wajib menggunakan beragam sumber data yang berbeda- beda yang tersedia. Artinya, data yang sama atau sejenis, akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda.

Guna memperoleh kemantapan data dari berbagai informasi yang diperoleh melalui informan di lingkungan fotografer profesional di Kota Solo dan Yogyakarta, maka peneliti menggali informasi dari sumber data yang berbeda jenisnya misalnya dari narasumber tertentu, dari kondisi lokasi, dari catatan atau arsip (koran) dan dokumen (foto) yang memuat data yang berkaitan dengan data yang dimaksudkan peneliti.

7. Teknik Analisa Data

Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan analisis yang dikemukakan oleh Yin (2002 : 111-112) strategi yang pertama dan lebih disukai adalah mengikuti proposisi teoritis yang memimpin studi kasus. Proposisi-proposisi tersebut membentuk rencana pengumpulan data dan karenanya memberi prioritas pada strategi analisis yang relevan. Proposisi teoritis membantu peneliti memfokuskan perhatian pada data tertentu dan mengabaikan data yang lain. Proposisi teoritis tentang hubungan-hubungan kausal – jawaban-jawaban terhadap pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa” – bisa sangat berguna untuk menuntun analisis studi kasus.

Pawito (2007 : 146) mengemukakan bahwasanya analisis dalam studi kasus dapat dilakukan dengan membandingkan (mencari persamaan atau perbedaan) yang commit to user

ada diantara unit analisis yang berbeda-beda, menghubung-hubungkan satu dengan yang lain.

Peneliti melakukan analisis data dengan menemukan gejala pada tiap unit analisis yang diteliti kemudian melakukan perbandingan dengan teori-teori yang digunakan sebagai acuan untuk kemudian mengambil kesimpulan baru dari hasil analisa tersebut.

BAB IV

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah (Halaman 46-55)