• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pemikiran

Penyusunan RTRW dan Peraturan-peraturan Daerah merupakan upaya pemerintah kabupaten untuk memajukan daerahnya, melalui berbagai aktivitas pembangunan. Dalam pelaksanaannya sering terjadi suatu penyimpangan terhadap RTRW yang diakibatkan ketidaktahuan masyarakat mengenai RTRW, kurangnya koordinasi antar Satuan Kerja Pemerintahan, dan ketidakkonsistenan pemberian ijin pembangunan dengan peraturan yang berlaku, yang mendorong perubahan fungsi lahan yang dapat berakibat dalam penurunan kualitas lingkungan.

RTRW pada dasarnya telah mengatur arahan pemanfaatan ruang secara umum. Agar penggunaan dapat memberikan manfaat yang optimal dan berkesinambungan, setiap ruang dalam suatu wilayah dengan batasan administrasi pemerintahan (Nasional, Propinsi, Kabupaten/Kota) dialokasikan penggunaannya dalam kawasan-kawasan tertentu. Peta RTRW pada tingkat Kabupaten/Kota merupakan gambaran mengenai kondisi atau bentuk tata ruang pada 10 tahun mendatang sejak RTRW ditetapkan dengan asumsi pertambahan penduduk dan kebutuhan infrastruktur wilayah sesuai dengan prediksi yang dibuat.

Peningkatan aktivitas sosial ekonomi masyarakat dipengaruhi pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan pula kebutuhan lahan (ruang), baik pada lahan pertanian maupun lahan non pertanian. Sementara itu, total luasan lahan dan lokasi lahan tetap.

Meningkatnya kebutuhan lahan seiring perkembangan suatu wilayah bisa menimbulkan penyimpangan pemanfaatan lahan dari RTRW yang sudah direncanakan. Penyimpangan ini juga bisa terjadi karena beberapa hal antara lain : tidak adanya perangkat hukum pendukung RTRW, proses perencanaan yang tidak melibatkan masyarakat, ijin yang diberikan tidak sejalan dengan rencana tata ruang (kadang hal ini dipicu pula oleh upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah), ketidaktahuan masyarakat akan rencana tata ruang akibat kurangnya sosialisasi dari pemerintah sehingga masyarakat menggunakan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya, dan kurangnya pengendalian.

Kondisi penggunaan lahan yang merupakan gambaran dari pemanfaatan ruang suatu wilayah dapat dipantau melalui data penginderaan jauh, sedangkan perubahan dan perkembangannya dapat disintesis dari SIG. Sistem ini merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan untuk berbagai analisis yang menyangkut aspek spasial. Pada pengertian lebih luas SIG mencakup juga pengertian sebagai suatu sistem yang berorientasi operasi secara manual, yang berkaitan dengan operasi pengumpulan, penyimpanan dan manipulasi data yang bereferensi geografi secara konvensional (Barus dan Wiradisastra, 2000).

Pengolahan data berupa peta-peta tematik digital dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan perangkat lunak Arc View 3.2., dengan menggunakan fungsi analisis tumpang tindih. Dari hasil overlay tersebut diperoleh polygon-polygon baru yang memiliki informasi tentang kombinasi atribut dari peta-peta tematik. Informasi tersebut kemudian dijadikan sebagai data basis untuk analisis yang diperlukan seperti konsistensi dan inkonsistensi pemanfaatan ruang terhadap RTRW dan perubahan penutupan lahan.

Analisis dilakukan dengan membandingkan peta penggunaan lahan tahun 2002 dan tahun 2006 dan menumpangtindihkan peta RTRW dengan peta citra kondisi terakhir. Hasil perbandingan berupa luas perubahan penutupan lahan dan inkonsistensi pemanfaatan ruang terhadap RTRW yang kemudian dijadikan sebagai basis data untuk analisis lanjutan untuk mengidentifikasi pusat-pusat perubahan penutupan lahan dalam unit kecamatan dengan menggunakan metode

Location Quotient (LQ). Selain itu, data tersebut juga dipakai dalam analisis regresi guna mengetahui keeratan hubungan antara luas area inkonsistensi pemanfaatan ruang terhadap RTRW dengan faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi RTRW dalam unit desa. Faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi diperoleh dari hasil pengolahan data potensi desa dengan menggunakan analisisPrincipal Component Analysis (PCA).

Secara garis besar kerangka pemikiran di atas dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Diagram Kerangka Pemikiran

Jenis Data dan Alat

Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data sekunder berupa data spasial digital,data Potensi Desa (Podes) Kabupaten Sumedang Tahun 2006 dan dokumen RTRW Kabupaten Sumedang tahun 2002-2012. Data spasial digital yang digunakan meliputi : peta Wilayah Administrasi, peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang tahun 2002-2012. Data primer berupa citra landsat ETM 7 tahun 2002 dan 2006. Alat

Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan Tahun 2002-2006

Pertumbuhan Penduduk

Pergeseran Aktivitas Sosial Ekonomi Peningkatan Kebutuhan Lahan/Ruang Kompetisi Pemanfaatan Lahan/Ruang Penyimpangan Pemanfaatan Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah Kesimpulan/ Arahan RTRW Kabupaten Sumedang Penutupan/Penggunaan Lahan Tahun 2002 Penutupan/Penggunaan Lahan Tahun 2006 Perubahan Penutupan/ Penggunaan per Tahun

Rencana Perubahan Penutupan/ Penggunaan per Tahun Tingkat Perubahan

Penutupan/ Penggunaan per Tahun

yang digunakan dalam penelitian ini adalah Personal Computer PentiumIV yang dilengkapi oleh software Arc View versi 3,3, Erdas Imagine versi 8,6, Statistica versi 6,o

Waktu dan Tempat Penelitian

Lokasi penelitian adalah wilayah Kabupaten Sumedang. Penelitian dimulai pada minggu keempat bulan Agustus sampai Oktober 2007.

Analisis dan Pengolahan Data

Metode penelitian terdiri dari lima tahap yakni : 1) ekstraksi data spasial, 2) deteksi perubahan penggunaan lahan, 3) identifikasi pusat-pusat perubahan penggunaan lahan, 4) analisis inkonsistensi RTRW, dan 5) analisis faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi RTRW. Diagram tahapan penelitian disajikan pada Gambar 2, sedangkan matriks penelitian disajikan pada Tabel 2.

Gambar 2. Diagram Tahapan Penelitian

Peta RTRW

Peta Batas Administrasi Citra Landsat Tahun 2005 Citra Landsat Tahun 1992 Klasifikasi Peta Penggunaan Lahan Tahun 2002 Peta Penggunaan Lahan Tahun 2006 Overlay

Basis Data Spasial Perubahan Land Use terhadap RTRW

Kesimpulan, dan Rekomendasi Pengolahan data

Data Atribut Luas Perubahan Land Use

Analisis Location Quotient (LQ)

Data Pusat Perubahan Land Use Basis Data Spasial

Perubahan Land Use 2002-2006

Peta Perubahan Land Use Rencana Perubahan

Land Use per tahun

Klasifikasi Perubahan Land Use per tahun

Perubahan Land Use per tahun

Faktor-faktor Penentu Inkonsistensi Peta Inkonsistensi

RTRW

Data Atribut Luas Inkonsistensi RTRW

Variabel Bebas (x) Variabel Tak

Bebas (y) Analisis Regresi Berganda (Multiple Regression Analysis) Data Potensi Desa

Tahun 2006 Analisis PCA Konsisten Konsistensi RTRW Inkonsisten

Perubahan Land Use per tahun Factor Lodings Factor Score Eigenvalue s 2 9

Tabel 2. Matriks Penelitian

No Masalah Tujuan Analisis Data yang dibutuhkan Sumber Data

1 Bagaimanakah pola perubahan penggunaan lahan tahun 2002-2006 Mengetahui Pola Perubahan penggunaan lahan

Analisis SIG - Citra Land Sat Tahun 2002 dan 2006 BTIC Biotrop 2 Di manakah pusat-pusat terjadinya perubahan penutupan/ penggunaan lahan Mengidentifkasi Pusat-pusat perubahan penggunaan lahan

Analisis Location Quotient (LQ) - Data Peta Perubahan

Penutupan/Penggunaan Lahan 3 Apakah terjadi inkonsistensi penataan ruang wilayah di Kabupaten Sumedang Menentukan konsistensi RTRW

Analisis SIG (Overlay Peta Penggunaan Lahan tahun 2005 dengan Peta RTRW)

- Peta Panggunaan Lahan Tahun 2006

- Peta RTRW

Bapeda Kabupaten Sumedang

4 Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi inkonsistensi RTRW Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi RTRW

- AnalisisPrincipal Component Analysis (PCA)

- Analisis Regresi Berganda (Multiple Regression Analysis)

- PODES Tahun 2006 - Data Atribut Luas

Inkonsistensi RTRW

Badan Pusat Statistik

3

Ekstraksi Penutupan/Penggunaan Lahan dari Citra

Perubahan penggunaan lahan dilakukan melalui analisis citra penginderaan jauh, dengan ekstraksi citra untuk memperoleh informasi penggunaan/penutupan lahan. Ekstraksi dilakukan dengan klasifikasi multispektral citra land sat tahun 2002 dan 2006.

Klasifikasi merupakan proses pengelompokan piksel-piksel yang mempunyai ciri yang sama ke dalam kelas penutupan/penggunaan lahan. Metode klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi terbimbing dengan pendekatan

Maximum Likelihood Classification (MLC). Klasifikasi terbimbing dilakukan berdasarkan area contoh (training area) terhadap obyek-obyek yang mudah dikenali dan representatif pada citra dengan cara menggambarkan poligon-poligon.

Tahap klasifikasi dimulai dengan menentukan training area, yang merupakan lokasi contoh representatif dari tipe penutupan lahan yang diketahui, yang digunakan untuk mengkompilasi kunci interpretasi numerik yang mendeskripsikan atribut spektral untuk setiap tipe kenampakan yang dipilih. Semua area yang penampakannya berbeda diambil, dan diusahakan training area

yang didapat warnanya homogen. Pengklasifikasian dilakukan dengan mengelompokan setiap pixel pada citra ke dalam kelas penutupan lahan yang paling dekat kemiripannya.

Deteksi Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan

Analisis deteksi perubahan penutupan/penggunaan lahan dilakukan dengan cara menumpangtindihkan peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2002 dengan peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2006. Hasil proses ini dapat diinterpretasi secara deskriptif pada peta output (peta overlay), sedangkan data atributnya akan digunakan untuk analisis lanjutan.

Identifikasi Pusat-pusat Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan

Data yang digunakan untuk identifikasi pusat-pusat perubahan lahan adalah data luas perubahan penutupan lahan. Data tersebut ditabulasikan dan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis LQ.Menurut Warpani (1984),

analisis LQ merupakan cara permulaan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sektor kegiatan tertentu. Jika dari hasil perhitungan LQ tersebut didapatkan nilai Indeks LQ (LQij 1) diartikan bahwa terjadi konsentrasi suatu aktivitas tertentu di sub wilayah ke-i yang secara relatif dibandingkan dengan total wilayah. Dengan demikian dapat diketahui bahwa suatu wilayah administratif terkecil yang dianalisis (desa tertentu) merupakan wilayah yang menjadi pusat perubahan penggunaan lahan jenis pemanfaatan tertentu.

Analisis Penyimpangan Pemanfaatan Ruang terhadap RTRW

Tujuan analisis ini adalah untuk melihat seberapa jauh tingkat penyimpangan pemanfaatan ruang terhadap RTRW. Analisis dilakukan dengan membandingkan peta RTRW dengan peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2006 dengan cara menumpangtindihkan peta RTRW dengan peta penutupan/penggunaan lahan. Tumpangtindih akan menghasilkan sebuah peta yang menjadi masukan, yang dijadikan sebagai basis data dalam analisis SIG selanjutnya untuk analisis konsistensi/inkonsistensi RTRW.

Basis data SIG yang menyangkut data atribut RTRW dan penutupan lahan tahun 2005 dieksport kemicrosoft exceldan diolah. Pengolahan dilakukan dengan cara membuat kolom baru yang memberikan informasi mengenai jenis penutupan lahan yang berada pada kawasan-kawasan yang telah ditetapkan dalam RTRW. Selanjutnya hasil pengolahan data tersebut dikembalikan ke dalam basis data SIG, agar dapat dimanipulasi untuk menampilkan data spasial yang konsisten atau inkonsisten terhadap RTRW.

Penentuan konsisten dan inkonsistens dilakukan berdasarkan model logika efektivitas tata ruang. Hal yang paling penting untuk dimengerti dari model logika ini adalah, bahwa alih fungsi lahan menjadi ruang terbangun memiliki sifat

irreversible, dimana ruang yang telah digunakan untuk ruang terbangun tidak mungkin dikembalikan kepada pemanfaatan ruang sebelumnya. Data luas inkonsistensi RTRW kemudian dijadikan sebagai variabel bebas dalam analisis regresi berganda untuk mengetahui keeratan hubungan antara luas inkonsistensi dengan faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi RTRW pada tahap selanjutnya.

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyimpangan Pemanfaatan Ruang

Untuk mengetahui variabel penduga penentu perubahan penutupan/penggunaan lahan, digunakan data Potensi Desa Kabupaten Sumedang Tahun 2006, meliputi : data kependudukan, struktur penutupan lahan, struktur aktifitas perekonomian masyarakat, struktur pendidikan dan ketersediaan fasilitas umum. Penduga awal faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan pemanfaatan ruang disajikan pada Lampiran 4. Sebelum data tersebut diolah dengan metode PCA, terlebih dahulu dilakukan seleksi dan standarisasi data. Seleksi data dilakukan untuk memperoleh data kuantitatif yang terkait dengan penggunaan. Selanjutnya, data hasil seleksi tersebut dilakukan standarisasi untuk memperoleh keseragaman satuan data, misalnya : data luas lahan sawah dibagi dengan total luas desa tersebut. Untuk data jarak dilakukan invers data jarak (1/km), misalnya : data jarak dari desa ke rumah sakit adalah 2 km, maka data tersebut menjadi ½ km. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam menginterpretasikan hasil analisis data. Dasar pemikirannya adalah, bahwa semakin besar nilai data jarak maka semakin jauh jarak tersebut dari obyek atau dengan kata lain aksesibilitasnya semakin rendah.

Hasil seleksi data yang telah dirasiokan disusun dalam suatu tabel sebagai database untuk analisis PCA, dengan unit analisis terkecil kecamatan., Analisis ini merupakan salah satu teknik analisis untuk mereduksi suatu set data/peubah dengan jumlah yang banyak menjadi set data baru yang lebih sederhana dengan jumlah data/peubah lebih sedikit dan saling orthogonal (tidak saling berkorelasi) (Rustiadiet. Al. 2002). Format data untuk analisisPCAdisusun membentuk matriks ukuran n x p, di mana n: unit sampel danp : jumlah peubah (jumlah kolom).

Hasil analisis PCA antara lain : akar ciri (eigenvalues), Faktor Loading

dan Factor Scores. Eigenvalue merupakan suatu nilai yang menunjukan keragaman dari peubah komponen utama yang dihasilkan dari analisis, semakin besar total kumulatif Eigenvalue maka semakin besar pula keragaman data awal yang dapat diterangkan. Faktor Eksternal merupakan parameter yang menggambarkan besarnya titik-titik data baru dari hasil analisis komponen utama,

nilai ini yang akan digunakan dalam analisis selanjutnya (Analisis Regresi Berganda/Multiple Regression Analysis).

Analisis Regresi dilakukan untuk mengetahui keeratan hubungan antara faktor-faktor penduga penentu konsistensi RTRW dengan luas inkonsistensi RTRW dari atribut Peta inkonsistensi dengan analisis desa. Factor Scores hasil analisis PCA dijadikan sebagai variabel bebas (x), sedangkan luas inkonsistensi RTRW dijadikan sebagai variabel tak bebas (y).

Secara umum hubungan antara variabel-variabel tersebut dapat dirumuskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :

Yi = a + b1X1i+ b2X2i+ .... +bjXji+ …. + bnXni Dimana : Yi = Luas Area Inkonsistensi pada Desa ke –i (%)

a = Intercept

b = Koefisien variabel j (Xj)

Xji = Variabel penduga faktor-faktor yang mempengaruhi Inkonsistensi ke – j di Desa ke –i

Dokumen terkait