sarana 1.8 Metode Penelitian
Dalam sejarah filsafat, Francis Bacon (1561-1625) dan Augus Comte (1798-1857) meletakkan dasar pengetahuan empiris-analitis melalui rasionalisme dan empiris, merupakan bentuk upaya pembersihan pengetahuan dari kepentingan atau dengan kata lain fakta objektif sebagai pengetahuan yang sahih (Hardiman, 2009). Dalam proses dialektika ilmu pengetahuan alam dan sosial, semangat positivisme menjadi tuntutan bersikap positivistik. Sejalan dengan itu, positivistik memiliki tiga pengandaian yang saling berkaitan. Pertama, prosedur metodologis ilmu alam diimplementasikan dalam ruang lingkup ilmu sosial. Kedua, hasil penelitian diformulasikan dalam bentuk hukum-hukum sebagaimana terjadi di ilmu alam. Ketiga, adanya penyediaan pengetahuan yang bersifat teknis. Keduanya, yaitu
Modal Budaya, sosial, ekonomi, & simbolik
H a b i t u s
Proses perolehan (ketrampilan &sumber kreatifitas), dasar kepribadian, & logika sosial
Agen sosial
Diskursus Poligami-Intersectionality
Kelas sosial & Gender Orientasi normatif (Norma, nilai & keyakinan)
Keadaan situasional (lingkungan sosial)
ilmu alam dan sosial merupakan ilmu yang bersifat netral atau bebas nilai (Giddens, 1975).
Perkembangan selanjutnya, penerapan metode-metode alam pada kenyataan sosial mengandung permasalahan. Hal ini disebabkan oleh pandangan tentang aktifitas-aktifitas individu tidak dapat diposisikan ke dalam bingkai hukum-hukum tetap. Kemudian lahirlah perdebatan tentang metode-metode (methodenstreit), begitu juga ilmuwan ilmu-ilmu budaya para penganut Neo-Kantianisme berpendirian, bahwa ilmu-ilmu budaya menghasilkan relevansi nilai (Hardiman, 2009). Artinya, gejala sosial memilki makna budaya yang hanya bisa dimengerti oleh pemahaman konteks budaya dari objek yang diteliti (Nugroho, 2004).
Dalam konteks pemikiran mazhab Frankfurt yang sering dikenal sebagai ”Teori Kritis” lebih menekankan pada sifat dialektis, sebagaimana diungkapkan oleh Geuss (1981) dengan cara dua macam kritik. Pertama, kritik transendental dengan cara menemukan syarat-syarat pengetahuan dalam diri subjek. Kedua, kritik imanen dengan menemukan kondisi sosiohistoris dalam konteks tertentu yang mempengaruhi pengetahuan manusia (Hardiman, 2009). Atas dasar argumen ini peneliti memililih wacana kritis Nourman Fairclough sebagai teknik analisis novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
Penelitian ini memusatkan kajian pada penelitian kepustakaan yang sifatnya analitis wacana kritis berdasarkan kajian teks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah culture studies, yaitu suatu pendekatan yang menganggap budaya bersifat politis dalam pengertian yang sangat spesifik, yaitu sebagai ranah
pergumulan dan konflik. Artinya adanya proses pertarungan ideologis dengan menghadirkan makna ganda, makna selalu merupakan akibat dari tindakan artikulasi, sebab makna harus diekspresikan dalam konteks yang spesifik (Storey, 2007).
Dalam hal ini, kajian dipusatkan pada teks sastra dan wacana poligami sebagai produk dan praktik budaya dewasa ini.
a. Data dan Sumber Data a) Sumber Primer
Sumber primernya, berupa naskah novel Ayat-Ayat Cinta sebagai modal simbolik seorang sastrawan. Teks novel sebagai data primer berupa teks naratif merupakan sebuah fakta semiotik yang dipandang sebagai suatu tanda jika mewakili dan atau mengacu sesuatu yang lain. Secara garis besar teks naratif dibedakan dalam dua unsur, yaitu cerita dan wacana. Unsur cerita merupakan isi, tetapi wacana merupakan ekspresi. Oleh karena, dengan dua unsur ini belum dianggap memadai untuk menangkap semua elemen situasi komunikasi. Dalam hal ini, unsur cerita dirinci dengan subtansi isi atau inti masalah, bentuk isi (peristiwa berupa aksi, kejadian dan eksistensi berupa aktor, serta latar), subtansi ekspresi (keseluruhan semesta baik nyata maupun imajinasi) dan bentuk ekspresi, sedangkan unsur wacana terdiri dari bentuk wacana yang mencakup struktur transmisi naratif (susunan, modus, sudut pandang) dan subtansi wacana berupa media, dan sarana untuk berkomunikasi atas gagasannya (Nurgiyantoro, 2009). Selain data dari novel Ayat-Ayat Cinta di atas, pandangan para pelaku poligami yang merepresentasikan kelas sosial atas dan bawah.
b) Sumber Sekunder
Sumber sekunder adalah berbagai dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Misalnya pendapat tokoh tentang poligami yang dipublikasikan melalui majalah, internet, ataupun tabloid.
b. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, adalah metode baca. Metode baca digunakan untuk mengidentifikasi data yang berupa teks naratif.
a) Metode Baca
Teknik pengumpulan data dilakuan dengan menempatkan relasi laki-laki dan perempuan dalam karya sebagai subjek dengan cara digali data pribadi dan dari bentuk-bentuk ketidaksetaraan/kekerasan yang dialami oleh perempuan beserta latar belakang kehidupannya. Data dikumpulkan dengan metode baca, yaitu membaca secara cermat novel Ayat-Ayat Cinta. Hasil baca data kemudian dipindahkan atau dicatat ke dalam kartu atau ke dalam tabel. Selanjutnya data diklasifikasikan menurut aspek-aspek yang menjadi sarana pendukung wacana. Kriteria yang dijadikan pedoman untuk merepresentasikan gender, adalah (1) perilaku, kegiatan, pemikiran perempuan dan laki-laki, (2) subordinasi dan dominasi yang dialami perempuan. Selanjutnya, untuk merepresentasikan kelas sosial, adalah merujuk pada perilaku, kegiatan, pemikiran individu atau kelompok kelas bawah dan kelas yang tinggi dalam suatu komunitas.
b) Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi ini digunakan untuk mencari dan mengidentifikasi data pendukung atau sekunder, meliputi biografi pengarang, pendapat tokoh tentang poligami yang dipublikasikan melalui, surat kabar majalah ataupun tabloid, internet dan berbagai keputusan ormas keagamaan (seperti NU, Muhammadiyah, MUI, dan Persis). Untuk memudahkan tugas itu, digunakan search engine untuk pengumpulan data yang tersedia dalam alamat Website.
c. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis wacana kritis Norman Fairclough (2001), analisis ini berusaha menghubungkan teks yang mikro dengan konteks sosial yang makro. Fokus perhatiannya, adalah bahasa ditempatkan sebagai praktik sosial. Untuk melihat ideologi pengarang digunakan analisis bahasa secara menyeluruh, karena bahasa dalam konteks ini dipahami sebagai bentuk tindakan dalam hubungannya dengan dialektika dengan struktur sosial. Oleh karena, pusat perhatian analisis ini, adalah bagaimana bahasa diproduksi dan direproduksi dari relasi sosial dan konteks sosial.
Model yang dibangun oleh Fairclough (1992) dalam analisisnya di samping dimensi linguistik, adalah ia mengintegrasikan pemikiran sosial, politik menjadi bagian integral dari perubahan sosial. Pemakaian bahasa dalam wacana merupakan bentuk praktik sosial yang memiliki implikasi, antara lain wacana merupakan suatu bentuk tindakan dan bentuk representasi dalam memandang realitas sosial, dan hubungan interaksional antara wacana dan struktur sosial.
Wacana dibagi dengan struktur sosial, kelas, perjuangan sosial dan relasi sosial berhubungan relasi-relasi tertentu (Fairclough, 2001). Kemudian ia memperkenalkan tiga tahap untuk melakukan penelitian dengan metode analisis wacana kritis. Tiga tahap tersebut, adalah deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi dalam menghubungkan teks pada level mikro dengan konteks sosial yang lebih besar, yakni socio-cultural practice.
Ada tiga dimensi yang dilakukan Fairclough dalam analisisnya, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural, sebagai berikut:
a) Teks
Level pertama berupa teks dianalisis secara linguistik, atau deskripsi perhatiannya pada beberapa aspek struktur bahasa, yaitu aspek kosa kata dan gramatika, dan struktur tekstual.
( a) Kosa kata
Kosa kata mencakup nilai-nilai eksperensial yang menjelaskan kata-kata ideologis, kelebihan kata atau penyusunan kata kembali, hubungan makna yang mencakup sinonim, hiponim dan antonim. Penekanan pada nilai-nilai relasional, misalnya ungkapan-ungkapan eufemisme, ironi, formal atau informal, dan lain-lain. Kosa kata ini, memberikan pilihan kata sebuah teks yang menciptakan hubungan sosial antar partisipan, yaitu antara pembuat teks dengan pembacanya.
Kosa kata yang berhubungan nilai-nilai ekspresif. Kosa kata yang menunjukkan pada evaluasi positif atau negatif sesuatu yang berhubungan dengan ideologi pengarang dalam bentuk penggunaan metafora.
b) Gramatika
Aspek-aspek gramatika yang berhubungan dengan nilai-nilai eksperensial, adalah tipe-tipe proses dan partisipan yang dominan, situasi agen tampak jelas atau tidak, proses-proses situasi yang tampak, penggunaan kalimat aktif atau pasif, dan kalimat positif atau negatif.
Aspek-aspek gramatika yang berkaitan dengan nilai-nilai relasional, adalah model-model pertanyaan yang digunakan, relasi-relasi modalitas, dan penggunaan kata ganti. Selanjutnya aspek-aspek gramatika yang berhubungan dengan nilai ekspresif, misalnya aspek-aspek penting modalitas; memberikan petunjuk tentang sebuah peristiwa.
Hubungan antar kalimat sederhana juga diperhatikan, misalnya penggunaan jenis kata penghubung logis, penggunaan kalimat kompleks bersifat koordinasi atau subordinasi, arti atau makna yang digunakan dalam menghubungkan teks ataupun luar teks.
c) Struktur teks
Struktur teks ini yang diakji tiga unsur adalah, pertama kaidah-kaidah interaksional. Aspek yang diperhatikan dalam struktur teks berkaitan dengan penggunaan kaidah-kaidah interaksional. Kedua, ukuran struktur yang dimiliki teks. Teks dirumuskan atas dasar urutan kepentingannya, maka teks dapat menunjukkan evaluasinya atas apa yang layak ditampilkan. Aspek kelayakan tampilan tersebut harus mendapatkan perhatian dalam ranah deskripsi.
b) Praktik wacana
Level kedua berupa Praktik wacana, atau interpretasi (Fairclough, 2001) berkaitan dengan proses produksi, distribusi dan konsumsi teks (Fairclough, 1995a). Menurut Fairclough, fitur level kedua ini mengekapulasi prinsip-prinsip penting dalam wacana kritis, yang mana analisis teks tidak dapat dipisahkan (ekslusi) dari praktik institusi dan wacana pada domain suatu teks. Atas dasar kerangka kerja ini, interdiskursivitas atau tatanan wacana, mengkaji tentang bagaimana teks novel diproduksi, direkontekstualisasi, dan berdialog dengan teks lain atau intertekstual (Fairclough, 2003).
Pada level praktik wacana ini ada yang dihilangkan, yaitu aspek distribusi dan konsumsi teks dengan lebih memfokuskan pada aspek bagaimana suatu teks diproduksi, sebagaimana Fairclough (1995a) melakukan pengabaian tersebut. Selanjutnya, Tahap ini, oleh Fairclough (2001) teks akan dilihat keterkaitannya sebagai konteks situasional dan intertekstual yang mencakup enam dimensi yang berhubungan secara paralel, yaitu seperti halnya diilustrasikan dalam skema di bawah ini:
Bagan di atas, dapat dijelaskan bahwa tahap pertama berhubungan dengan konteks interpretasi berusaha melihat keterkaitan teks dengan konteks intertekstualitasnya. Tahap kedua, berhubungan dengan empat tingkatan interpretasi teks menunjukkan aspek-aspek yang harus diperhatikan untuk melihat konteks situasional. Namun bentuk luaran ujaran tidak diperhatikan karena sudah dilakukan dalam tahap analisis deskripsi teks. Sedangkan, pemaknaan (utterance) bergantung pada pemaknaan ujaran (semantik dan pragmatik), sedangkan koherensi lokal untuk memahami lokal dalam teks. Selanjutnya, struktur teks dan poin tergantung pada schemata, yang ada kemiripan dengan deskripsi, tetapi pada tahap struktur teks yang lebih besar, schemata yang dimaksud adalah tidak sebatas
Prosedur interpretasi/MR Sumber-sumber Penginterpretasian/interpreting
Tatanan sosial Konteks situasional
Sejarah interaksional Konteks intertekstual
Fonologi gramatika, kosa kata Bentuk luaran ujaran
Semantik,pragmatik Pemaknaan ujaran
Kohesi, pragmatik Koherensi lokal
melihat bagaimana suatu teks dieksplorasi dalam paragraf, namun bagaimana suatu teks merumuskan suatu subjek tertentu.
c) Praktik sosiokultural
Level ketiga berupa praktik sosiokultural, atau eksplanasi (Fairclough, 2001). Tujuan tahap ini untuk mendiskripsikan diskursus sebagai proses sosial, menjelaskan bagaimana diskursus menjadi diterminan bagi struktur sosial, dan efek reproduksi diskursus berupa mempertahankan atau mengubahnya. Dengan demikian, fokus pada level ini, adalah relasi kekuasaan, proses dan praktik sosial yang difokuskan pada proses dan praktik usaha sosial. Artinya pengamatan diskursus merupakan bagian dari proses usaha sosial yang berkaitan dengan relasi kekuasaan.
Level yang harus mendapatkan penekanan tentang efek sosial diskursus maupun penentu sosial diskursus dikaji melaui tiga level organisasi, yaitu level masyarkat, level institusi, dan level situasi diilustrasikan dalam gambar dibawah ini:
Kemasyarakatan
Kemasyarakatan (societal)
Institusional MR Diskursus MR Institusional
Penentu situasional
Efek-efek situasional (situational determination)
Diagram di atas, menentukan asumsi bahwa diskursus memiliki ketentuan-ketentuan dan efek pada semua level di atas, meskipun level societal dan institutional akan secara jelas lebih membedakan tipe-tipe institusi diskursus, dan apapun diskursus dibentuk oleh relasi kekuasaan institusi dan kekuasaan masyarakat, serta memberikan kontribusi pada usaha/perjuangan institusi dan masyarakat.