BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Pelaksanaan Penelitian
A. Pengunduhan Buah
Pengunduhan buah bintaro dilakukan di Perumahan Nuansa Asri Laladon, Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Pengunduhan dilakukan dengan memetik buah langsung dari pohon. Buah yang diunduh adalah buah yang masak.
B. Perlakuan Buah
Perlakuan buah terdiri dari tiga taraf perlakuan. Taraf pertama adalah buah tanpa dikupas (Gambar 3a). Taraf kedua, melakukan ekstraksi yaitu memisahkan biji dari buah (Gambar 3b). Taraf ketiga adalah mengupas kulit buah yang tipis hingga kelihatan bagian yang berserabut (Gambar 3c).
Gambar 3 Buah bintaro tanpa dikupas kulitnya (A), diekstraksi (B) dan dikupas kulitnya (C)
C. Perendaman Buah atau Benih
Perlakuan perendaman buah atau benih terdiri dari dua taraf perlakuan. Taraf pertama adalah perendaman menggunakan air biasa dan taraf kedua adalah perendaman menggunakan air kelapa. Perendaman dilakukan selama 4 (empat) hari menggunakan ember atau baskom.
Gambar 4 Perendaman buah (A dan B) dan benih (C) bintaro dalam baskom dan ember
D. Persiapan Media
Media perkecambahan menggunakan media pasir 100%. Media pasir disterilisasi dengan cara disangrai selama 1 (satu) jam. Kemudian dimasukan ke dalam polibag, masing-masing polibag diberi kode dengan label.
E. Penaburan Buah atau Biji
Setelah buah atau benih diberi perlakuan kemudian ditabur pada media pasir dalam polibag. Peletakan unit percobaan dilakukan secara acak seperti disajikan pada Lampiran 1. Percobaan dilakukan di dalam rumah kaca selama 30 hari. Pada hari ke-31 dipindahkan ke tempat yang teduh di bawah tegakan Pinus merkusii.
F. Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan berupa penyiraman, penyiangan gulma serta perlindungan dari hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan menggunakan gembor secara rutin. Namun, jika media kecambah masih basah tidak dilakukan penyiraman. Penyiangan gulma dilakukan dengan cara mencabut gulma secara berkala. Untuk melindungi serangan dari jamur yang tumbuh di sekitar media perkecambahan dilakukan penyemprotan dengan fungisida dithane dengan dosis 2 mg/liter jika terjadi serangan.
3.3.2 Respon Perkecambahan dan Pertumbuhan
Pengamatan perkecambahan dilakukan setiap minggu sampai minggu ke-15 (105 Hari Setelah Tanam/HST). Pengamatan respon pertumbuhan dilakukan pada 77, 84, 91, 98 dan 105 HST. Respon perkecambahan dan pertumbuhan awal yang diamati adalah daya berkecambah (DB), kecepatan tumbuh (Kct), nilai perkecambahan (NP), riap tinggi semai (RTS), riap diameter batang (RDB), dan riap jumlah daun (RJD).
a. Daya Berkecambah (DB)
Daya berkecambah merupakan tolok ukur viabilitas potensial yang menunjukkan kemampuan benih tumbuh pada kondisi optimum. Daya berkecambah dihitung dengan rumus sebagai berikut (Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan 2000):
Jumlah kecambah normal Jumlah buah atau benih yang ditabur b. Kecepatan Tumbuh (Kct)
Kecepatan tumbuh benih diperhitungkan sebagai akumulasi kecepatan tumbuh setiap hari dalam unit tolok ukur persentasi per hari. Perhitungan kecepatan tumbuh ini berdasarkan rumus Thronebery dan Smith (Sadjad et al.
1999):
Kct =
∑
0 NKeterangan :
Kct : kecepatan tumbuh (% per etmal)
N : Persentase kecambah normal setiap waktu pengamatan (%) t : Waktu pengamatan (etmal)
c. Nilai Perkecambahan (NP)
Nilai perkecambahan adalah indeks yang menyatakan kecepatan dan kesempurnaan benih untuk berkecambah. Nilai perkecambahan yang tinggi menunjukkan perkecambahan yang sempurna dan cepat. Kecepatan perkecambahan dinyatakan sebagai nilai puncak (Peak Value). Nilai puncak merupakan nilai tertinggi dari hasil bagi persen kecambah pada hari ke-n tersebut sedangkan rata-rata perkecambahan harian (Mean Daily Germination) merupakan
jumlah persen kecambah pada akhir periode dibagi dengan lama hari pengamatan. Untuk menghitung nilai perkecambahan digunakan rumus (Czabator 1962 dalam
Willan 1985) sebagai berikut :
NP = PV x MDG PV (% kecambah/hari) = %
y
MDG (%kecambah/hari) = %
y
d. Riap Tinggi Semai (RTS)
Pengukuran tinggi semai dilakukan setiap minggu mulai dari 77 HST sampai akhir penelitian. Tinggi semai diukur mulai dari saat benih berkecambah dan muncul dari permukaan media. Perhitungan riap tinggi mingguan berjalan digunakan rumus turunan (Prodan 1968 dalam Latifah 2004) sebagai berikut :
∑T0 (Hn+1─Hn)/(Tn+1─Tn) Tn
Keterangan:
Hn+1 : Tinggi (cm) pada minggu ke-n+1 Hn : Tinggi (cm) pada minggu ke-n Tn : Minggu pengukuran ke-n
e. Riap Diameter Batang (RTB)
Pengukuran diameter batang dilakukan setiap minggu mulai dari 77 HST sampai akhir penelitian. Diameter batang diukur jika sudah terdapat batang silindris pada kecambah. Perhitungan riap diameter mingguan berjalan digunakan rumus turunan (Prodan 1968 dalam Latifah 2004) sebagai berikut :
∑T0 (Dn+1─Dn)/(Tn+1─Tn)
Tn
Keterangan :
Dn+1 : Diameter (mm) pada minggu ke-n+1 Dn : Diameter (mm) pada minggu ke-n T n+1 : Minggu pengukuran ke-n+1
Tn : Minggu pengukuran ke-n Riap tinggi mingguan berjalan =
f. Riap Jumlah Daun (RJD)
Pengukuran jumlah daun dilakukan setiap minggu mulai dari 77 HST sampai akhir penelitian. Jumlah daun diukur jika sudah muncul daun pada kecambah. Perhitungan riap jumlah daun mingguan berjalan digunakan rumus turunan (Prodan 1968 dalam Latifah 2004) sebagai berikut :
∑T0 (Xn+1─Xn)/(Tn+1─Tn) Tn
Keterangan :
Xn+1 : Jumlah daun (helai) pada minggu ke-n+1 Xn : Jumlah daun (helai) pada minggu ke-n T n+1 : Minggu pengukuran ke-n+1
Tn : Minggu pengukuran ke-n
3.3.4 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Faktorial Acak Lengkap (RFAL), dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan perendaman yang terdiri dari dua taraf. Faktor kedua adalah perlakuan buah yang terdiri dari tiga taraf. Jumlah ulangan adalah tiga kali, tiap ulangan terdiri atas sepuluh individu. Faktor percobaan tersebut sebagai berikut: Faktor A : Perendaman
A0 : Perendaman dengan air biasa A1 : Perendaman dengan air kelapa Faktor B : Perlakuan Buah
B0 : Tanpa kupas kulit buah
B1 : Pengeluaran biji dari buah (Ekstraksi) B2 : Pengupasan kulit buah
Menurut Matjik dan Sumertajaya (2006), model umum rancangan faktorial acak lengkap yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yijk = µ +αi + βj + (αβ)ij + εijk Keterangan:
i = 1,2; j = 1,2,3 dan k = 1,2,3
Yijk = nilai pengamatan kombinasi perlakuan pengaruh perendaman ke-i dan faktor perlakuan buah ke-j serta ulangan ke-k
µ = rata-rata umum
αi = pengaruh perlakuan perendaman ke-i
βj = pengaruh perlakuan buah ke-j
(αβ)ij= pengaruh interaksi faktor perendaman ke-i dan faktor perlakuan buah ke-j εijk = pengaruh kesalahan perlakuan perendaman ke-i dan faktor perlakuan buah
ke-j serta ulangan ke-k
3.3.5 Analisis Data
Data hasil pengukuran dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA), sehingga diketahui besarnya Fhitung. Selanjutnya dilakukan pengujian perlakuan dengan kriteria uji sebagai berikut (Steel dan Torrie 1991):
1. Jika Fhitung≥ Ftabel, maka tolak H0
2. Jika Fhitung < Ftabel, maka terima H0
Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006), hipotesisnya yang diuji dalam Rancangan Faktorial Acak Lengkap (RFAL), dengan faktor sebagai berikut :
1. Pengaruh utama faktor A:
H0: α1 =…= αa = 0 (Faktor perendaman tidak berpengaruh). H1: paling sedikit ada satu i dimana αi ≠ 0
2. Pengaruh utama faktor B:
H0: β1 =…= βb = 0 (Faktor perlakuan buah tidak berpengaruh). H1: paling sedikit ada satu j dimana βj ≠ 0
3. Pengaruh interaksi faktor A dengan faktor B:
H0 : (αβ)11 = (αβ)12 = …= (βα)ab = 0 (Interaksi faktor perendaman dan faktor perlakuan buah tidak berpengaruh)
H1: paling sedikit ada sepasang (i,j) dimana (αβ)ij≠ 0
Selanjutnya, apabila Uji F menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan (Duncan’s Multiple Range Test/DMRT) atau Uji Wilayah Berganda (Mattjik dan Sumertajaya 2006). Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan Microsoft Office Excel 2007, software