Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah dengan mencari data suatu masalah. Dalam pelaksanaannya diperlukan suatu metode yang bersifat ilmiah yaitu metode penelitian yang sesuai dengan yang akan diteliti. Suatu metode merumuskan cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Suatu metode dipilih berdasarkan dan mempertimbangkan keserasian dengan objeknya serta metode yang digunakan sejalan dengan tujuan, sasaran variabel dan yang hendak diteliti. Sedangkan metode penelitian menguraikan secara teknik apa yang digunakan dalam penelitiannya.
a. Jenis Penelitian
Menurut Soerjono Soekanto, metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian16.
Seseorang diharapkan mampu untuk menemukan dan menganalisa masalah tertentu sehingga dapat mengungkapkan suatu kebenaran dengan menggunakan metode, karena metode memberikan pedoman tentang tata cara bagaimana seorang ilmuwan mampu untuk mempelajari, memahami, dan menganalisa permasalahan
15 Soerjono Soekanto, 2011, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, h. 8
16 Soerjono Soekanto, 1994, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, h. 13
yang dihadapi. Dengan demikian penelitian akan berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan rencana yang ditetapkan karena “suatu metode merupakan cara kerja atau tata kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan”17.
Di dalam upaya mengkaji dan mencari pemecahan terhadap masalah yang penulis kemukakan, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris, dimana pada awalnya yang akan diteliti yaitu data sekunder kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap data primer di lapangan atau masyarakat.
b. Jenis Pendekatan
Untuk mengetahui bagaimana penegakan hukum terhadap penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung, dalam hal ini peneliti menggunakan pendekatan perundang-undangan (the statute approach) dan pendekatan fakta (the fact approach). Pendekatan perundang-undangan di sini adalah ingin menganalisis norma-norma hukum yang ada di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung, sedangkan untuk pendekatan fakta, dilakukan dengan cara mengkaji fakta yang terjadi di lapangan, yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran nyata dari fakta yang terkait dengan permasalahan yang ada.
17 Ibid, h. 14
c. Sifat Penelitian
Sifat dari penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang berusaha untuk menggambarkan tentang keadaan dan gejala-gejala lainnya dengan cara mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasi, menganalisa, dan menginterpretasikan18.
Penelitian Deskriptif pada penelitian ilmu hukum bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, serta untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lainnya dalam masyarakat.
Dalam penelitian ini penulis akan mencoba untuk mendeskripsikan atau menggambarkan tentang pelaksanaan penegakan hukum dari Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung, menggambarkan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan peraturan daerah tersebut serta upaya yang dilakukan atas permasalahan yang muncul dalam pelaksanaannya.
d. Data dan Sumber Data
Secara umum jenis data yang diperlukan dalam suatu penelitian hukum adalah terfokuskan pada penelitian data primer dan data sekunder. Data primer yang dimaksud dalam penelitian ini mengkaitkan kondisi sosial dengan masalah-masalah hukum yang terjadi di masyarakat. Sedangkan data sekunder berupa bahan hukum
18 Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Diponegoro Press, Semarang, h.10
dan dokumen-dokumen hukum termasuk kasus-kasus hukum yang menjadi pijakan dasar peneliti dalam rangka menjawab permasalahan dan tujuan penelitiannya. Jadi dalam penelitian hukum empiris ini peneliti akan menggunakan dua data dan sumber data dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1) Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari narasumber yang berhubungan dengan objek penelitian. Sedangkan sebagai sumber data primer dalam penelitian ini adalah semua pihak yang dapat memberikan keterangan secara langsung mengenai segala hal yang berkaitan dengan objek penelitian.
Dalam penelitian yang menjadi sumber data primer adalah pihak-pihak yang mengetahui dan terkait dengan pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
2) Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari narasumber baik itu berasal dari dokumen, bahan pustaka, hasl-hasil penelitian dan lain sebagainya terutama yang berkaitan dengan penelitian.
Yang akan menjadi sumber data dalam data sekunder adalah data-data yang diperoleh melalui studi pustaka, baik berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku, maupun hasil-hasil penelitian yang mendukung sumber data primer dan tentu saja berkaitan dengan objek penelitian, yaitu pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
e. Teknik Pengumpulan Data
Di dalam penelitian hukum ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
1) Teknik Wawancara
Wawancara (interview) adalah teknik percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yakni pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban19. Teknik wawancara yang dipilih adalah dalam bentuk, “wawancara terstruktur” dan
“wawancara tak terstruktur”. Wawancara terstruktur adalah wawancara dimana peneliti menetapkan sendiri masalah-masalah dan pertayaan-pertanyaan yang akan diajukan. Wawancara tak terstruktur adalah wawancara dimana peneliti mengajukan pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa tanpa terikat oleh susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelunya20.
2) Teknik Studi Dokumen
Salah satu cara dalam pengumpulan data adalah dengan melakukan studi dokumen, berupa mempelajari buku-buku literatur, peraturan perundang-undangan, karya ilmiah serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti atau yang sesuai dengan objek kajian. Studi literatur atau dokumen akan bermanfaat dalam membangun kerangka berfikir dari pembahasan penelitian ini. Peneliti dalam penelitian ini merupakan instrumen utama yang artinya peneliti sendiri yang terjun langsung ke tempat penelitian selaku tangan pertama dan tidak digunakan tenaga peneliti lainnya. Selain itu
19 Lexy J. Moleong, 1991, Metode Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosada Karya, Bandung, h. 135
20 S. Nasution, 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Reka Sarasin Press, Yogyakarta, h.72
digunakan pula instrumen pendukung lainnya yang sesuai dengan teknik pengumpulan data sebagaimana disebut di atas.
Adapun instrumen pendukung yang digunakan adalah berupa pedoman wawancara, tape recorder, blangko hasil wawancara, serta blangko dokumentasi dan sebagainya. Dipilihnya berbagai jenis instrumen penelitian di atas didasarkan pada alasan, bahwa bentuk data atau informasi yang diteliti tidak dapat ditentukan lebih dahulu dan selalu berkembang sepanjang penelitian berlangsung21.
f. Teknik Penentuan Sample Penelitian
Teknik penentuan sample penelitian berkaitan dengan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi yang terpercaya mengenai elemen-elemen yang ada (karakteristik elemen-elemen yang tercakup dalam fokus atau topik penelitian)22. Pengambilan sample dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dalam bentuk purposive sampling yang diikuti oleh snowball sampling23. Pengertian metode purposive sampling itu sendiri adalah pemilihan sekelompok subjek atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Penelitian dengan menggunakan purposive sampling cenderung memilih narasumber yang dianggap tahu dan dapat
21 Sanapiah Faesal, 1990, Penelitian Kualitatif, Dasar-Dasar dan Aplikasinya, Yayasan Asih Asah Asuh, Malang, h.158
22 Ibid, h. 56
23 B Sutopo, 1988, Suatu Pengantar Kualitatif, Dasar Teori dan Praktek, Pusat Penelitian UNS, Surakarta, h. 22
dipercaya untuk menjadi sumber data yang terjamin dan mengetahui secara mendalam. Pengertian metode snowball sampling, yaitu suatu metode untuk memilih sampel atau responden yang dipilih berdasarkan pada suatu penunjukan atau rekomendasi sebelumnya24. Berdasarkan kepada fokus kajian yang dilaksanakan dalam penelitian ini, maka informan yang dikaji adalah:
1) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Badung 2) Camat Kecamatan Kuta
3) Bendesa Adat se-Kecamatan Kuta
Informan penelitian sebagaimana tersebut di atas bukanlah hal yang limitatif, mengingat metode snowball sampling dalam prosesnya dapat diibaratkan seperti bola salju yang menggelinding dan akan menjadi semakin besar, dalam hal ini berarti informasi yang akan diperoleh peneliti akan semakin luas.
g. Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif. Dalam penelitian dengan teknik analisis kualitatif maka keseluruhan data yang terkumpul baik dari data primer maupun data sekunder akan diolah dan dianalisis dengan cara menyusun data secara sistimatis, digolongkan dalam pola dan tema, diklasifikasikan, dihubungkan antara satu data dengan data yang lain, dilakukan interpretasi untuk memahami makna data dalam situasi sosial, dan dilakukan penafsiran dari perspektif peneliti setelah memahami keseluruhan kualitas data. Setelah dilakukan analisis secara kualitatif kemudian data akan disajikan secara deskriptif kualitatif dan sistimatis.
24 Burhan Ashshofa, 2004, Metode Penelitian Hukum, PT. Rineka Cipta, Jakarta h. 89