• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain penelitian yang digunakan adalah non experimental yang bersifat

cross sectional survei dimana informasi dikumpulkan pada satu titik dengan

tujuan menggambarkan karakteristik sampel populasi, pembedaan antar grup atau hubungan antar variabel. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bogor pada bulan Januari 2008 sampai dengan bulan Februari 2008. Penelitian dilakukan dengan cara membandingkan tingkat kemiskinan keluarga pembudidaya ikan dengan nonpembudidaya ikan di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive berdasarkan lokasi tempat tinggal keluarga pembudidaya ikan serta anjuran dari pemerintah desa setempat, selanjutnya pemilihan responden dilakukan secara acak pada tingkat RT. Desa Parigi Mekar mewakili kelompok pembudidaya ikan karena pekerjaan sebagian masyarakat di desa ini adalah sebagai pembudidaya ikan. Kelompok non pembudidaya diwakili oleh Desa Ciseeng yang mempunyai sedikit penduduk yang bekerja di sektor perikanan sebagai pembudidaya ikan .

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari karakteristik demografi, ekonomi, sosial budaya, pengeluaran keluarga, pendapatan keluarga, dan jawaban responden berdasarkan pertanyaan beberapa indikator kemiskinan yang diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Responden berjumlah 70 keluarga yang terdiri dari masing-masing 40 keluarga pembudidaya dan 30 keluarga nonpembudidaya ikan. Responden merupakan anggota keluarga baik kepala keluarga maupun istri. Data sekunder yang digunakan berupa karakteristik wilayah dan lainya diperoleh dari kantor Kecamatan Ciseeng, kantor desa responden, dan kantor Biro Pusat Statistik Kabupaten Bogor.

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan

Microsoft Excel for Windows 2003 dan dilanjutkan dengan analisis dengan

menggunakan Statistical Package for Social Sciences (SPSS) 13,0 for Windows. Proses pengolahan data melalui tahapan entry (memasukkan data ke Microsoft

Excel for Windows), editing, cleaning, dan analyzing dengan menggunakan program SPSS.

Analisis data yang digunakan untuk menjawab masing-masing tujuan adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi keluarga pembudidaya dan nonpembudidaya ikan di Kabupaten Bogor.

Identifikasi karakteristik sosial ekonomi keluarga menggunakan statistika deskriptif untuk lebih memberi makna terhadap data. Untuk mengetahui perbedaan karakteristik keluarga pembudidaya ikan dengan nonpembudidaya ikan digunakan t test dan chi square test.

2. Mengidentifikasi tingkat kesejahteraan keluarga pembudidaya dan nonpembudidaya ikan di Kabupaten Bogor.

Identifikasi tingkat kesejahteraan keluarga menggunakan indikator BPS, BKKBN dan Sosio Metrics Matrics. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kesejahteraan dengan masing-masing indikator digunakan Chi-Square test. Indikator BPS menyatakan penduduk yang mempunyai pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan Kabupaten Bogor (Rp.183.067/kap/bulan) sebagai penduduk miskin. BKKBN melihat penduduk miskin berdasarkan pemenuhan terhadap enam indikator alasan ekonomi dan indikator alasan non ekonomi. Indikator Socio Metrics Matrix mengklasifikasikan berdasarkan hasil penjumlahan skor yang diperoleh kisaran sebagai berikut: 8-15 : tidak miskin, 16-23 : miskin, 24-32 : sangat miskin.

Tingkat akurasi indikator dinilai berdasarkan kemampuan mengklasifikasikan keluarga miskin. Validasi prosedur pengukuran kemiskinan dengan menggunakan indikator BKKBN dan Socio Metrics Matrics dengan indikator BPS sebagai benchmark dilakukan dengan menggunakan uji kepekaan (sensitivitas) dan kekhususan (spesitivitas). Sensitivitas merupakan suatu ukuran kekuatan pengujian untuk mengenali (mengidentifikasi) kemiskinan suatu keluarga. Spesitivitas adalah suatu ukuran kekuatan pengujian untuk mengeluarkan kasus-kasus non kemiskinan.

Jenis pengujian untuk mengetahui sensitivitas dan spesitivitas dari suatu

benchmark BPS dan dibandingkan dengan pengujian BKKBN dan indikator

Socio Metrics Matrics dilakukan dengan membuat tabulasi silang dalam mendeteksi kemiskinan yang akan menggambarkan sensitivitas dan

spesifisitas dan misklasifikasi. Analisis tingkat kesejahteraan keluarga dengan kedua metode dan mengukur akurasi metode pengukuran tersebut dalam mengukur nilai sensitivitas dan spesitivitas secara tepat dipaparkan dalam Tabel 3 berikut.

Tabel 3Penentuan Indeks Sensitivitas dan Spesitivisitas Indikator Kemiskinan Pengujian pengesahan benchmark (validating test)

Miskin Tidak miskin

Positif Positif sejati (PS) Positif palsu (PP) Negatif Negatif palsu (NP) Negatif sejati (NS)

Total Total dengan

kemiskinan (PS + NP) Total tanpa kemiskinan (PP+NP) Pengujian baru Kepekaan (sensitivitas) = NP PS PS + Kekhususan (spesitivitas) = PP NS NS +

Belum ada batasan yang jelas untuk spesitivitas maupun sensitivitas tapi pada umumnya dikatakan sensitif atau spesifik apabila nilainya lebih dari 75. Oleh karena itu nilai yang paling baik sebagai cut off point dari validitas apabila nilai dari jumlah sensitivitas dan spesitivitas lebih besar dari sama dengan 150.

3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga pembudidaya dan nonpembudidaya ikan di Kabupaten Bogor.

Untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan keluarga dari berbagai faktor digunakan regresi logistik. Berikut formula regresi logistik yang digunakan

ε β β β β β β β β β α ε β β β β β β β β β α + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +

+

=

9 9 8 8 7 7 6 6 5 5 4 4 3 3 2 2 1 1 9 9 8 8 7 7 6 6 5 5 4 4 3 3 2 2 1 1

1

)

(

x x x x x x x x x x x x x x x x x x

e

e

y

P

Dimana :

P(y) = peluang tingkat kesejahteraan (0=miskin; 1=tidak miskin)

α = konstanta

β1,β2,β3,β4,β5,β6,β7,β8,β9= koefisien regresi

x1 = jumlah anggota keluarga

x2 = usia kepala keluarga

x3 = usia istri

x4 = lama pendidikan kepala keluarga

x6 = pendapatan keluarga

x7 = jumlah pekerjaan kepala keluarga

x8 = aset keluarga

x9 = lokasi tempat tinggal keluarga

e = eksponen (2.71828) ε = galat (error)

4. Menganalisis strategi untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan keluarga pembudidaya dan nonpembudidaya ikan di Kabupaten Bogor.

Strategi peningkatan kesejahteraan diperoleh melalui hasil analisis data yang telah dilakukan. Strategi dibuat berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga serta kesesuaian dengan karakteristik sosial ekonomi responden.

Definisi Operasional

1. Pembudidaya ikan adalah orang yang bekerja melakukan kegiatan usaha budidaya ikan baik sebagai usaha utama maupun usaha sampingan.

2. Keluarga Nonpembudidaya ikan adalah keluarga yang satupun anggota keluarga tidak bekerja di sektor budidaya ikan.

3. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami isteri, suami istri dan anak, ayah dan anaknya, atau ibu dengan anaknya.

4. Tingkat kesejahteraan adalah kondisi suatu keluarga yang mencerminkan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan baik di bidang ekonomi maupun non ekonomi. Pengukuran tingkat kesejahteraan dalam penelitian ini menggunakan indikator BPS, BKKBN dan Socio Metrics Matrix.

5. Jumlah anggota keluarga adalah total dari anggota yang terdiri dari suami, istri, anak, orang tua, mertua dan lainnya yang tinggal dalam satu rumah. Cut off point ukuran keluarga ini adalah keluarga kecil (≤ 4 orang), sedang (5-7 orang) dan besar (> 7 orang).

6. Usia kepala keluarga adalah waktu hidup yang telah dilalui kepala keluarga yang dihitung dari tahun kelahiran.

7. Usia istri adalah waktu hidup yang telah dilalui istri kepala keluarga yang dihitung dari tahun kelahiran.

8. Pendidikan adalah lamanya bangku sekolah yang pernah dilalui. Tingkat pendidikan diklasifikasikan dalam tidak sekolah (0), Sekolah Dasar (1-6), Sekolah Menengah Pertama (7-9), Sekolah Menengah Atas (10-12), Perguruan Tinggi (13-16).

9. Pendapatan adalah total uang yang diterima keluarga dari seluruh anggota yang bekerja dan memperoleh upah baik melelui pekerjaan utama maupun sampingan yang dihitung dalam rupiah perbulan.

10. Pengeluaran adalah banyaknya uang (rupiah) yang dikeluarkan untuk keperluan konsumsi pangan dan non pangan.

11. Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencari pendapatan dalam pemenuhan kebutuhan.

12. Aset keluarga adalah total kekayaan baik barang bergerak atau tidak bergerak yang dimiliki keluarga dan nilainya dalam waktu sekarang dihitung ke dalam bentuk uang.

13. Tingkat Kesejahteraan adalah kondisi keluarga yang mencerminkan kemampuannya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi dan non ekonomi. Tingkat kesejahteraan diukur menggunakan indikator BPS, BKKBN dan Sosio Metrics Matrix.

14. Kemiskinan adalah ketidakmampuan suatu individu untuk memenuhi kebutuhan dasar baik pangan maupun non pangan.

15. Indikator Kemiskinan BPS adalah pengklasifikasian keluarga miskin berdasarkan pendapatan yaitu Rp. 183.067/kapita/bulan untuk Kabupaten Bogor.

16. Indikator kesejahteraan BKKBN adalah pengklasifikasian keluarga pra sejahtera (Pra KS) dan keluarga Sejahtera I (KS I) serta indikator kemiskinan berdasarkan alasan ekonomi dari enam indikator.

17. Indikator Socio Metrics Matrix adalah pengklasifikasian keluarga miskin berdasarkan 8 aspek utama yaitu ketahanan pangan, pendidikan, pelayanan kesehatan, perumahan, modal sosial, pemberdayaan, buta huruf, dan kerawanan dalam keluarga tersebut. Penggolongan miskin berdasarkan hasil total yang diperoleh dengan angka sebagai berikut: 8-15 : tidak miskin,16-23 : miskin, 24-32 : sangat miskin.

18. Indikator gabungan adalah pengklasifikasifikasian keluarga miskin berdasarkan gabungan indkator BPS, BKKBN dan Sosiometrik. Keluarga yang dikategorikan miskin oleh minimal dua indikator dinyatakan sebagai keluarga yang benar-benar miskin, keluarga yang dikategorikan miskin oleh kurang dari dua indikator dinyatakan sebagai keluarga tidak miskin.

19. Sensitivitas adalah kemampuan suatu alat ukur pengujian untuk mengenali (mengidentifikasi) kemiskinan suatu keluarga (keluarga contoh yang benar- benar miskin).

20. Spesitivitas adalah suatu ukuran kekuatan pengujian untuk mengeluarkan kasus-kasus non kemiskinan.

Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan ibukota negara dan secara geografis mempunyai luas 2.301,95 km2 dan terletak antara 6.19o – 6.47o LS dan 106o1’ – 107o103’ BT. Ibukota Kabupaten Bogor terletak di Cibinong. Berdasarkan data dari Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial, pada tahun 2006 Kabupaten Bogor memiliki 40 kecamatan, 427 desa/kelurahan, 3.516 Rukun Warga (RW) dan 13.603 Rukun Tetangga (RT). Berdasarkan segi struktur penduduk, Kabupaten Bogor mempunyai struktur penduduk muda, hal ini akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah angkatan kerja. Kecamatan Ciseeng merupakan salah satu wilayah administrasi dari Kabupaten Bogor dengan jumlah penduduk 83.703 jiwa dan kepadatan 2.275 jiwa/km2. Kecamatan Ciseeng mempunyai luas wilayah 36,79 km2 dan terdiri dari 10 desa yaitu Babakan, Cibeteung Muara, Cibeteung Udik, Cibentang, Cihowe, Ciseeng, Karihkil, Kuripan, Parigi Mekar dan Putat Nutug (BPS 2007b).

Lokasi penelitian dilaksanakan di dua desa yang berada di Kecamatan Ciseeng yaitu desa Ciseeng dan desa Parigi Mekar. Desa Ciseeng mempunyai luas wilayah seluas 205.442 hektar dengan batasan wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara : Desa Cihowe

Sebelah Selatan : Desa Parigi Mekar Sebelah Timur : Desa Bojong Indah Sebelah Barat : Desa Cibentang.

Desa Ciseeng dibagi menjadi 4 RW dan 17 RT. Jumlah penduduk Desa Ciseeng sebanyak 6.804 jiwa yang terdiri dari 3.551 jiwa penduduk laki-laki dan 3.253 jiwa penduduk perempuan serta terdiri dari 1571 Kepala Keluarga (KK). Sedangkan Desa Parigi Mekar mempunyai luas wilayah 184.78 hektar dengan batasan wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Desa Ciseeng Sebelah Selatan : Desa Babakan Sebelah Timur : Desa Ciseeng Sebelah Barat : Desa Bojong Sempi.

Penduduk Desa Parigi Mekar terdiri dari 1650 KK yang meliputi 3.941 penduduk laki-laki dan 3.495 jiwa penduduk perempuan dengan total penduduk 7.436 jiwa.

Karakteristik Keluarga Responden Jumlah anggota keluarga

Jumlah anggota keluarga menggambarkan besarnya beban yang harus ditanggung oleh suatu keluarga. Keluarga merupakan sejumlah orang yang tinggal dalam satu atap dan makan dari dapur yang sama. BKKBN mengelompokkan besarnya keluarga ke dalam tiga kategori yaitu keluarga kecil dengan jumlah anggota keluarga lebih kecil dari 5 orang, keluarga sedang dengan jumlah anggota keluarga 5-7 orang dan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga lebih besar dari 7 orang. Jumlah anggota keluarga responden pembudidaya ikan dan nonpembudidaya berkisar pada 2-12 orang, secara lengkap pengelompokan jumlah anggota keluarga disajikan pada Tabel 4 berikut. Tabel 4 Sebaran keluarga responden berdasarkan jumlah anggota keluarga

Kelompok budidaya Kelompok nonbudidaya Total Jumlah anggota keluarga (jiwa) n % n % n % ≤4 16 40,0 8 26,7 24 34,3 5-7 22 55,0 19 63,3 41 58,6 >7 2 5,0 3 10,0 5 7,1 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0 Rata-rata±SD 5±1,5 5±1,9 5±1,7 Rata-rata jumlah anggota keluarga responden pembudidaya dan nonpembudidaya adalah 5 orang. Lebih dari setengah responden pembudidaya ikan (55 %) dan keluarga nonpembudidaya ikan (63,3 %) mempunyai jumlah anggota keluarga pada kategori sedang (5-7 orang). Hanya sebanyak 7,1% dari total responden yang hidup dalam keluarga besar baik berupa keluarga inti maupun keluarga luas. Jumlah anggota keluarga yang kecil akan menyebabkan beban keluarga berkurang sehingga tanggungan keluarga menjadi kecil (Hatmadji dan Anwar (1993) dalam Iskandar (2007). Berdasarkan hasil uji beda t (p>0,05) tidak terdapat perbedaan yang nyata antara jumlah anggota keluarga pembudidaya dengan nonpembudidaya ikan. Anggota keluarga yang terdiri keluarga inti dan keluarga luas. Beberapa keluarga luas mempunyai anggota yang terdiri dari beberapa keluarga inti, tetapi masing-masing keluarga inti mempunyai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah sendiri. Selain itu ada pula keluarga luas yang terdiri dari cucu yang nantinya akan menambah tanggungan keluarga karena belum mampu untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tabel 5 menggambarkan kategori keluarga responden berdasarkan anggota keluarga.

Tabel 5 Sebaran keluarga responden berdasarkan tipe keluarga Kelompok budidaya Kelompok Nonbudidaya Total Tipe keluarga N % n % n % Inti 32 80,0 18 60,0 50 71,4 Luas 8 20,0 12 40,0 20 28,6 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0

Sebagian besar keluarga pembudidaya ikan merupakan keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, sedangkan pada keluarga nonpembudidaya lebih dari setengah responden terdiri dari keluarga luas. Keluarga luas yang tinggal bersama responden tidak hanya terdiri dari generasi atas yaitu kakek atau nenek saja tetapi juga dari satu generasi yaitu keponakan atau saudara lain dan juga generasi ke bawah yaitu cucu. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tipe keluarga pada keluarga pembudidaya ikan dan nonpembudidaya ikan berdasarkan uji khi kuadrat (p>0,05).

Usia Kepala Keluarga dan Istri

Berdasarkan Papalia dan Olds (1981) pengelompokan umur manusia dewasa berdasarkan tahap perkembangannya dibagi ke dalam tiga kategori yaitu dewasa muda (18-40 tahun), dewasa madya (41-65 tahun) dan dewasa lanjut (>65 tahun). Usia kepala keluarga berada pada kisaran 23-77 tahun. Seperti terlihat pada Tabel 6 sebagian kepala keluarga kelompok budidaya masuk ke dalam kategori dewasa muda dan hanya 2,5% yang masuk ke dalam kategori dewasa lanjut. Lebih dari separuh (53,3%) kepala keluarga kelompok nonbudidaya tergolong dewasa muda dan sepersepuluh bagiannya masuk ke dalam golongan dewasa lanjut. Berdasarkan hasil uji beda t tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara usia kepala keluarga kelompok budidaya dan kelompok nonbudidaya.

Tabel 6 Sebaran keluarga berdasarkan usia kepala keluarga Kelompok budidaya Kelompok nonbudidaya Total Kategori umur N % n % n % 18-40 20 50,0 16 53,3 36 51,4 41-65 19 47,5 11 36,7 30 42,9 >65 1 2,5 3 10,0 4 5,7 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0 Rata-rata±SD 41,9±11,1 45,4±13,6 43,4±12,3

Usia istri kepala keluarga berada pada kisaran 18-69 tahun. Persentase istri kepala keluarga pada masing-masing kelompok keluarga disajikan dalam tabel 7. Proporsi terbesar usia istri responden terdapat pada kelompok dewasa awal (71,4%) hal ini menggambarkan kebanyakan kepala keluarga mempunyai istri dengan tingkatan umur yang tidak berbeda jauh atau sedikit di bawahnya. Berdasarkan uji beda t tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara usia istri responden kelompok budidaya dan kelompok nonbudidaya.

Tabel 7 Sebaran keluarga berdasarkan usia istri Kelompok budidaya Kelompok nonbudidaya Total Kategori umur n % n % n % 18-40 29 72,5 21 70,0 50 71,4 41-65 11 27,5 7 23,3 18 25,7 >65 0 0,0 2 6,7 2 2,9 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0 Rata-rata±SD 35,9±10,1 39,5±13,1 37,4±11,6

Pendidikan Kepala Keluarga

Tingkat pendidikan secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir kepala keluarga. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang pernah dilalui maka akan semakin tinggi pula motivasi yang akan terlihat pada perilaku untuk mencapai suatu tingkat pendapatan tertentu. Tingkat pendidikan keluarga juga berpengaruh pada keputusan yang akan dibuatnya untuk menentukan tingkat pendidikan anak selanjutnya. Lebih dari separuh kepala keluarga responden mengeyam pendidikan pada tingkatan sekolah dasar baik yang sampai tamat atau tidak sempat menamatkan pendidikan sekolah dasarnya.

Berdasarkan Tabel 8 tidak terdapat kepala keluarga yang tidak mengeyam bangku pendidikan sama sekali. Seperti terlihat pada tabel 9 sebanyak 27,5% kepala keluarga responden kelompok budidaya ikan dan 26,7% dari kelompok nonbudidaya menempuh pendidikan SMP/sederajat. Hanya 5% pada kelompok budidaya dan 6,7% kepala keluarga responden yang melanjutkan pendidikannya sampai pada tingkat perguruan tinggi.

Tabel 8 Sebaran keluarga berdasarkan tingkat dan lamanya pendidikan kepala keluarga Kelompok budidaya Kelompok nonbudidaya Total Lamanya pendidikan

kepala keluarga (tahun)

n % n % n % Tidak sekolah (0) 0 0,0 0 0,0 0 0,0 SD (1-6) 22 55,0 15 50,0 37 52,9 SMP/sederajat (7-9) 11 27,5 8 26,7 19 27,1 SMA/sederajat (10-12) 5 12,5 5 16,7 10 14,3 PT (13-16) 2 5,0 2 6,7 4 5,7 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0 Rata-rata±SD 7,6±3,4 7,5±3,7 7,5±3,5

Tingkat pendidikan seseorang berperan dalam pengambilan resiko. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka keberanian dia untuk mengambil resiko cenderung lebih tinggi. Berdasarkan hasil hasil uji beda t tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat dan lama pendidikan kepala keluarga antara keluarga pembudidaya dan nonpembudidaya ikan.

Pendidikan istri mempunyai pengaruh dalam pengambilan keputusan keluarga. Tabel 10 menunjukkan sebaran keluarga berdasarkan lama pendidikan istri. Sebanyak 2,5% istri kepala keluarga kelompok budidaya dan 3,3% pada kelompok nonbudidaya yang tidak mengeyam bangku pendidikan sama sekali, tetapi lebih dari separuh responden telah mengeyam bangku pendidikan sedikitnya pada tingkatan sekolah dasar baik sampai tamat atau tidak menamatkan tingkatan sekolah dasar. Bahkan sebanyak 7,5% istri responden pada kelompok pembudidaya telah melanjutkan pendidikan sampai pada tingkatan perguruan tinggi.

Tabel 9 Sebaran keluarga berdasarkan lama pendidikan istri Kelompok

budidaya

Kelompok

nonbudidaya Total Lamanya pendidikan

kepala keluarga (tahun)

n % n % n % Tidak sekolah (0) 1 2,5 1 3,3 2 2,9 SD (1-6) 24 60,0 22 73,3 46 65,7 SMP/sederajat (7-9) 6 15,0 2 6,7 8 11,4 SMA/sederajat (10-12) 6 15,0 5 16,7 11 15,7 PT (13-16) 3 7,5 0 0,0 3 4,3 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0 Rata-rata±SD 7,4±3,7 6,1±3,2 6,8±3,6

Hasil uji beda t menunjukkan tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan antara lama pendidikan pada istri responden kelompok pembudidaya dengan kelompok nonpembudidaya. Berdasarkan rata-rata lama pendidikan yang

ditempuh oleh kepala keluarga dan istri dapat dilihat kecenderungan kepala keluarga mempunyai rata-rata lama pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan istri.

Pekerjaan Kepala Keluarga Responden

Status pekerjaan akan menunjukkan kelas sosial seseorang. Pekerjaan yang dilakukan orang tua, baik ayah atau ibu akan menentukan kelas sosial (Sumarwan 2004). Pekerjaan akan menentukan sejumlah pendapatan yang akan diterima seorang individu dan keluarganya. Semakin banyak pekerjaan maka kemungkinan untuk memperoleh pendapatan semakin besar. Hal ini tergantung kepada jenis dan tingkatan pekerjaan itu sendiri. Pekerjaan kepala keluarga responden disajikan dalam Tabel 10.

Tabel 10 Sebaran keluarga berdasarkan pekerjaan kepala keluarga Kelompok budidaya Kelompok Nonbudidaya Total Pekerjaan n % n % n % Utama Pembudidaya ikan 27 67,5 0 0,0 26 38,5

Buruh non tani 2 5,0 7 23,3 9 12,9

PNS 2 5,0 2 6,7 4 5,7 Jasa 4 10,0 12 40,0 16 22,8 Pedagang/wirausaha 4 10,0 9 30,0 12 18,5 Pegawai swasta 1 2,5 0 0,0 1 1,4 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0 Sambilan Tidak ada 15 37,5 24 80,0 39 55,7 Pembudidaya ikan 13 32,5 0 0,0 13 18,6 Jasa 2 5,0 5 16,7 7 10,0 Pedagang/wirausaha 10 25,0 1 3,3 11 15,7 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0

Persentase pekerjaan kepala keluarga responden berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 67,5% kepala keluarga responden pembudidaya ikan bekerja sebagai petani ikan sedangkan 32,5% sisanya menjadikan petani ikan sebagai pekerjaan sampingan setelah pekerjaan utama mereka. Sementara itu pada kepala keluarga responden kelompok nonbudidaya tidak ada satupun yang bekerja di sektor pertanian. Sebanyak 40,0% yang merupakan proporsi terbesar keluarga nonpembudidaya bekerja di bidang jasa, sisanya bekerja sebagai buruh non tani dan pedagang. Lebih dari separuh (55,7%) responden tidak memiliki pekerjaan sambilan. Bidang jasa, perdagangan

dan honorer adalah usaha sampingan lain yang dilakukan oleh responden. Usaha sampingan ini yang nantinya ikut mempengaruhi pendapatan keluarga dan selanjutnya mempengaruhi pada kepemilikan aset keluarga.

Pendapatan Keluarga Responden

Tingkat kesejahteraan keluarga secara nyata dapat diukur dari tingkat pendapatan yang dibandingkan dengan kebutuhan minimum untuk hidup layak. Faktor yang mempengaruhi pendapatan petani ikan adalah besarnya penghasilan dari non usaha tani, pengeluaran untuk benih, pengeluaran obat- obatan, pengeluaran tenaga kerja, produktivitas lahan, luas garapan, ukuran keluarga dan tingkat pendidikan. Pendapatan dari usaha non tani sangat penting karena merupakan hal yang utama dalam pertumbuhan total pendapatan masyarakat petani (Alderman dan Garcia 1993). Bagaimanapun tingginya tingkat pendapatan yang diperoleh suatu kepala keluarga, pada akhirnya kesejahteraan mereka akan banyak ditentukan oleh distribusi pendapatan perkapita. Sehingga kesejahteraan ditentukan oleh besarnya total pendapatan yang diterima anggota keluarga dan banyaknya anggota keluarga yang menjadi tanggungan. Terdapatnya anggota keluarga lain yang tidak bekerja menyebabkan peningkatan beban ketergantungan (dependency ratio). Besarnya anggota keluarga mempengaruhi tinggi rendahnya pendapatan perkapita dan besarnya konsumsi keluarga (Sawidak 1985).

Tabel 11 Sebaran keluarga berdasarkan pendapatan per kapita/bulan Kelompok budidaya Kelompok Nonbudidaya Total Kategori Pendapatan (Rp/kap/bln) N % n % n % 80,000-99,999 0 0 4 13,3 4 5,7 100,000-149,999 1 2,5 6 20 7 10 150,000-199,999 7 17,5 2 6,7 9 12,9 200,000-299,999 11 27,5 5 16,7 16 22,9 300,000-499,999 8 20 9 30 17 24,3 >500,000 13 32,5 4 13,3 17 24,3 Total 40 100 30 100 70 100 Rata-rata±SD 498649.6 ± 503846.2 341541.7 ± 356294.9 431317.6 ± 450525.7 Seperti dapat dilihat pada Tabel 11 bahwa masih terdapat 5,7% pada responden kelompok nonpembudidaya yang mempunyai pendapatan per kapita per bulan dalam kisaran Rp.80.000–Rp.99.999. Hanya 2.5% keluarga pembudidaya yang masuk kategori pendapatan per kapita perbulan pada kisaran

100.000-199.999, sedangkan pada kelompok non perikanan sebanyak 20%. Sebanyak 32,5% keluarga responden kelompok ikan yang mempunyai pendapatan per kapita lebih besar dari Rp.500.000, pada kelompok nonpembudidaya pendapatan per kapita lebih dari Rp.500.000 hanya dimiliki oleh sebanyak 13,3% keluarga responden.

Berdasarkan Tabel 11 dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan perkapita pada keluarga kelompok pembudidaya ikan lebih besar dibandingkan pada keluarga nonpembudidaya. Lebih besarnya rata-rata pendapatan per kapita pada kelompok pembudidaya disebabkan oleh lebih banyaknya kepala keluarga pembudidaya yang mempunyai pekerjaan lebih dari satu seperti terlihat pada Tabel 11. Pekerjaan sambilan yang dimiliki beberapa diantaranya memang untuk menambah pendapatan keluarga untuk pemenuhan kebutuhan, tetapi beberapa pekerjaan sampingan dilakukan untuk memberdayakan aset yang dimiliki. Berdasarkan hasil uji beda t tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan keluarga dan pendapatan perkapita pada keluarga pembudidaya dan nonpembudidaya ikan di kecamatan Ciseeng.

Pendapatan keluarga diperoleh dari hasil pekerjaan yang telah dilakukan untuk mencari nafkah. Menurut Sumarwan (2004) pendapatan yang diterima seseorang berdasarkan penjumlahan dari gaji pokok, tunjangan, bonus serta pendapatan lainnya. Pendapatan yang diterima oleh keluarga merupakan penjumlahan dari pendapatan yang diperoleh dari masing-masing anggota keluarga, dengan pendapatan tersebut keluarga memenuhi kegiatan konsumsinya. Kegiatan konsumsi suatu keluarga yang mengeluarkan uang disebut sebagai pengeluaran keluarga. Pengeluaran keluarga meliputi pengeluaran seluruh anggota keluarga yang tinggal dan makan dari dapur yang sama. Tingkat kesejahteraan suatu keluarga dilihat dari pengeluaran per kapita nya. Pengeluaran perkapita diperoleh dari pembagian pengeluaran total keluarga dengan jumlah anggota keluarga.

Pengeluaran per kapita keluarga responden pada kedua kelompok mempunyai persentase yang berbeda pada setiap kategori. Analisis dengan uji beda t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara pengeluaran per kapita keluarga responden kelompok budidaya dan nonpembudidaya, tetapi pengeluaran per kapita mempunyai korelasi yang signifikan dengan pendapatan perkapita.

Tabel 12 Sebaran keluarga berdasarkan pengeluaran per kapita keluarga Kelompok budidaya Kelompok nonbudidaya Total Kategori pengeluaran n % n % n % 100,000-149,999 0 0,0 5 16,7 5 7,1 150,000-199,999 3 7,5 3 10,0 6 8,6 200,000-299,999 7 17,5 7 23,3 14 20,0 300,000-499,999 20 50,0 10 33,3 30 42,9 >500,000 10 25,0 5 16,7 15 21,4 Total 40 100,0 30 100,0 70 100,0 Rata-rata±SD 419639±169547,9 342711,7±250152,1 386670,1±209805,5 Terdapatnya perbedaan persentase responden pada tingkatan kategori dalam pengeluaran per kapita dengan pendapatan perkapita menunjukkan terdapatnya keluarga responden yang mempunyai pengeluaran lebih besar dari pada pendapatan demikian pula sebaliknya. Sebanyak 45% dan 43,3% pada

Dokumen terkait