Suatu penelitian ilmiah di samping harus menggunakan teori atau pendekatan, juga harus memiliki metodologi tertentu, tidak terkecuali penelitian tentang politik luar negeri Indonesia ini. Perspektif, pendekatan dan metode tersebut sangat penting artinya bukan saja untuk kepentingan pertangungjawaban ilmiah dari suatu kajian atau penelitian tetapi juga untuk memberikan penegasan mengenai ciri khusus dari suatu penelitian yang membedakannya dengan penelitian yang lain. Selain itu, hal tersebut juga diperlukan sebagai sumbangan untuk memperkaya khasana disiplin yang sedang dipelajari, dalam hal ini disiplin hubungan internasional umumnya dan studi politik luar negeri khususnya.
Seperti halnya dalam ilmu sosial lain umumnya, dan ilmu hubungan internasional khususnya, studi tentang politik luar negeri selalu memiliki ruang
yang luas untuk penggunaan perspektif, teori ataupun metodologi yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini dimungkinkan bukan saja karena bidang kajian (isu-isu dan topik-topik bahasan) yang tersedia dalam ilmu hubungan internasional dan politik luar negeri sangat luas tetapi juga karena adanya perkembangan yang cukup signifikan dari disiplin hubungan internasional itu sendiri. Sebagai misal, jika dahulu kajian politik luar negeri berfokus pada negara sebagai aktor utama, sekarang meluas ke aktor-aktor non-negara. Isu-isu yang ditangani juga berkembang tidak lagi hanya masalah politik, keamanan dan pertahanan serta ekonomi tetapi juga meliputi isu-isu “baru” seperti HAM, lingkungan hidup, transnational crime, terorisme dll.
Secara internal, ilmu hubungan internasional masih terpecah dalam berbagai pendapat mengenai subject matter yang perlu dianalisis, metodologi yang layak untuk diterapkan ketika seorang peneliti atau akademisi melakukan studi tentang hubungan internasional serta struktur epistemologi dari teori-teori yang ada.112 Perdebatan mengenai metodelogi ini sudah terjadi sejak tahun 1960-an, yaitu pada phase kedua dari apa yang dikenal sebagai The Great Debates dalam disiplin ini. Perdebatan tersebut terjadi antara kubu “behavioralis” (scientists), yang percaya bahwa hubungan internasional paling tepat dipelajari dengan menggunakan metode seperti yang dilakukan dalam ilmu alam, melawan kubu “tradisionalis” yang berargumen bahwa studi ilmu sosial, termasuk hubungan internasional, tidak harus meniru studi emperik seperti yang dilakukan dalam ilmu alam.113 Bagi kaum Behavioralis yang kemudian melahirkan aliran pemikiran Positivisme, ilmu pengetahuan (knowledge) hanya mungkin dihasilkan melalui pengumpulan data-data yang dapat diamati dan diukur (observable and measureable data). Melalui pengumpulan data yang demikian maka selanjutnya dapat diidentifikasi pola-pola regularitas yang akhirnya bisa digunakan untuk memformulasikan hukum-hukum regularitas tersebut. Sebaliknya kaum Tradisionalis seperti Hedley Bull, Morgenthau dan pendukung lainnya berpendapat: “systematic inquiry was one thing, the obsession with data collection
112
Scott Burchill and Andrew Linklater (et al), Ibid, hal. 3
113
and manipulation on positivist lines was another”.114 Bagi Bull dan Morgenthau, studi hubungan internasional, disukai atau tidak, pasti melibatkan penilaian konseptual dan interpretatif, suatu hal yang diabaikan oleh kaum Positivis. Dengan demikian, menurut mereka, metodologi seperti yang ditawarkan kaum Positivis seperti tersebut di atas tidak mempunyai landasan klaim yang kuat.115
Pada tahun 1970-an sampai tahun 1980-an muncul perdebatan baru dalam disiplin ini yang dikenal sebagai interparadigm debate. Walaupun perdebatan phase III ini menandai bergesernya fokus perdebatan dari isu-isu yang bersifat metodologis ke isu-isu sekitar the nature of scientific inquiry namun pada dasarnya akar masalah atau substansi yang diperdebatkan tidaklah berubah, yaitu bagaimana seharusnya ilmu hubungan internasional harus dipelajari sehingga dapat dikatakan sebagai scientific science. Pergeseran yang dimaksud ternyata lebih pada masalah pilihan teori yang dianggap paling memadai untuk digunakan ditengah-tengah kehadiran teori-teori, framework, perspektif atau paradigma yang memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok dan sulit dibandingkan antara satu dengan lainnya.116 Sebagai misal perdebatan pada phase ini meliputi posisi atau peran nilai (value) dan data emperik dalam proses menghasilkan ilmu pengetahuan.
Menurut Milja Kurki dan Colin Wight, perdebatan phase ini ditandai oleh perdebatan antara apa yang disebut Explanatory theory dan Understanding theory (atau bisa disebut juga antara pendekatan scientific dan pendekatan interpretive atau hermeneutic approach), antara Positivisme dan Post-positivism serta antara Rasionalisme dan Reflectivism.117 Sementara para teoritisi explanatory mengedepankan prinsip-prinsip dan metode ilmiah seperti yang dipakai pada ilmu alam, maka para teoritisi understanding theory lebih fokus pada analisis makna internal, argumen dan kepercayaan yang diyakini aktor. Oleh karena itu, bagi
114
Dikutip dari Tim Dunne (et al), Op Cit, hal.18
115
Ibid, hal 18
116
Milja Kurki and Colin Wight, “International Relations and Social Science”, dalam Tim Dunne (et al), Ibid, 18. Lihat juga Michael Banks, “The Evolution of International Theory” dalam Stephen Chan and Cerwyn Moore (eds), Theories of International Relations, London, SAGE Publications, Vol.II, hal. 75-90
117
pendukung Understanding theory, makna sosial, bahasa, dan kepercayaan merupakan aspek (ontologis) terpenting dari eksistensi sosial. Dengan demikian kubu teoritisi ini berpandangan bahwa prosedur dalam melakukan analisis haruslah dibimbing oleh faktor paling penting yang berdampak bagi perilaku manusia yaitu kepercayaan, ide, makna dan alasan, bukan oleh suatu komitmen apriori terhadap ilmu pengetahuan (science). Sedangkan bagi pendukung Explanatory theory, ilmu pengetahuan membutuhkan justifikasi empiris. Oleh karena makna, kepercayaan dan ide tidak dapat dibuktikan secara empiris dan oleh karenanya tidak dapat dijadikan sebagai motode untuk memperoleh ilmu pengetahuan.118
Perbedaan ontologi yang dianut oleh dua pendekatan ini berakibat pada perbedaan yang mendasar pada aspek epistemologi dan metodologi. Explanatory theory cenderung menggunakan metode kuantitatif,119 sedangkan Understanding theory cenderung menggunakan metode interpretive (kualitatif, diskursif dan historis). Secara epistemologi, Explanatory theory menekankan arti penting observasi sebagai prosedur menghasilkan ilmu pengetahuan, sedangkan Understanding theory lebih fokus pada interprestasi dari aspek-aspek yang unobservable dan immeasurable data.120
Pertanyaannya adalah, metode apa yang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini? Seperti telah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini menggunakan teori Konstruktivisme. Oleh karena teori ini lebih dekat ke Understanding theory, maka penelitian ini juga menggunakan metode yang sesuai dengan kelompok teori tersebut yaitu metode interpretive (kualitatif, diskursif dan historis). Berbeda dengan epistemologi Explanatory theory yang menekankan arti penting observasi sebagai prosedur menghasilkan ilmu pengetahuan, maka penelitian ini lebih fokus pada interpretasi dari aspek-aspek yang unobservable dan immeasurable data.121
118
Milja Kurki and Colin Wight, dalam Op cit, hal 20.
119
Untuk mengetahui metode penelitian kuantitatif dalam ilmu hubungan internasional ini lihat misalnya Detlef F. Sprinz and Yael W. Nahmias (eds.), Model, Numbers and Cases: Methods for Studying International Relations, Ann Arbor, University of Michigan Press, 2007.
120
Milja Kurki and Colin Wight, Ibid, hal 20.
121
Walaupun demikian, oleh karena teori ini merupakan teori middle ground antara pendekatan Rasionalis dan Pos-strukturalis maka dalam penelitian ini juga akan memakai ontologi intersubjektif, epistemologi positivis, penekanan terhadap arti penting norma dan nilai, agen dan struktur sosial serta arti penting identitas. Selain itu, pendekatan ini juga menerima epistemologi positivis, termasuk hypothesis testing, hukum kausalitas dan eksplanasi.122
Oleh karena tujuan penelitian ini tidak hanya untuk menggambarkan (to describe) tetapi juga untuk menjelaskan (to explain), maka metode analisis dan penyajian data akan menggunakan gabungan dari dua metode yaitu dengan cara mendeskripsikan (description) dan menjelaskan (explanation). Dengan kata lain penelitian ini bersifat descriptive-explanative. Deskripsi digunakan untuk menggambarkan what is the case. Sedangkan eksplanasi fokus pada why something in the case.123
Dalam proses eksplanasi untuk menganalisis ada tidaknya hubungan kausalitas antara independent variable dan dependent variable maka akan digunakan metode interpretive analytic dengan logika berpikir inductive. Yang dimaksud dengan proses interpretasi (interpretation) adalah “a procces of creating or assigning significant and coherent meaning in specific setting”124 dari data-data yang diteliti. Data-data yang ada diinterpretasikan dengan cara memberi makna dan arti, diterjemahkan sehingga dapat dimengerti. Interpretasi ini dilakukan untuk menemukan bagaimana agen atau aktor yang sedang dikaji melihat dunia, bagaimana mereka mendefinisikan atau mengkonstruksikan situasi, dan apa artinya semua itu bagi mereka.125
Level dan unit analisis penelitian ini adalah negara. Oleh karena itu, data-data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah berupa dokumen negara, kebijakan pemerintah, pernyataan pejabat, hasil penelitian dan pendapat para ahli,
122
K.M. Fierke, “Constructivism”, dalam Tim Dunne, Milja Kurki and Steve Smith, Op Cit, hal 72-73
123
Keith Punch, Introduction to Social Research, (2nd.ed), London, SAGE Publications 2005, hal.15
124
Lawrence Newman, Social Research Methods: Qualittaive and Quantitative Approaches, (5th.ed), New York, Allyn and Bacon, 2003, hal. 148.
125
tulisan-tulisan dan angka-angka. Teknik pengumpulan data, terutama, dilakukan melalui studi pustaka dan in-depth and unstructured interview terhadap beberapa responden yang dianggap relevan untuk menyampaikan data yang valid bagi penelitian ini. Mereka misalnya pejabat negara dan praktisi di bidang politik luar negeri seperti Menteri atau mantan Luar Negeri, pejabar senior dari Kemenlu atau lembaga-lembaga lain yang relevan, para penasehatnya, para duta atau mantan duta besar Indonesia, peneliti dan ahli di bidang politik luar negeri Indonesia dan HAM, para pejuang atau aktivis HAM yang sumber-sumber yang relevan lainnya.
Bagan Metode Penelitian ini
Research Questions Research Methods
Question ---- Method fit
Sumber: Keith Punch, Introduction to Social Research, (2nd.ed), London, SAGE Publications, 2005, hal.30