• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012 (Halaman 61-66)

Bab III Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif eksploratoris dan analisis dokumen dengan menekankan pada teknik dokumenter untuk mengungkap data sekunder yangberasal dari databaseIEA Program PIRLS 2011 berupa dokumen data statistik mengenai kemampuan membaca siswa Indonesia di dunia dan butir-butir soal untuk mengukur kemampuan membaca siswa di dunia. Jenis penelitian ini sering diistilahkan dengan existing analysis

research dengan fokus pada penelitian deskriptif eksploratoris dan dokumentasi.Tujuannya untuk

mengeksplorasi kemampuan membaca siswa Indonesia berdasarkan data sekunder hasil studi IEA 2011 dalam program PIRLS.

B. Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode eksplorasi dan dokumentasi yang digunakan untuk mengolah data kembali dengan cara merangkum dan mengambil intisari hasil penelitian IEA program PIRLS 2011.Artinya, sumber-sumber informasi melalui sumber data yang ditemukan dikumpulkan untuk kemudian dianalisis.Selanjutnya, data dilaporkan kembali secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif.Dalam hal ini ada proses penataan kembali atau mengkombinasikan informasi ke dalam cara baru untuk menjawab pertanyaan penelitian.

C. Sumber Data

Sumber data penelitian ini adalah seluruh respons dan capaian siswa terhadap butir soal membaca sastra dan informasi yang digunakan dalam PIRLS 2011 yang diambil dari PIRLS-almanac dan TPIRLS-item released. Soal-soal dalam domain kognitif memuat tugas-tugas yang meminta siswa untukmemperlihatkan pengetahuan tentang fakta, keterampilan, dan prosedur (knowing); menerapkan pengetahuan berbahasa dan bersastra berupa fakta, keterampilan, dan prosedur atau pemahaman tentang konsep-konsep untuk merepresentasikan ide (applying); kapasitas untuk berpikir logis, berpikir sistematis, dan berpikir intuitif dan induktif berdasarkan pola dan keteraturan yang dapat digunakan untuk mendapatkan solusi nonrutin masalah (reasoning).Data hasil studi PIRLS diperoleh dari responden siswa kelas 4 SD/MI di seluruh Indonesia dengan jumlah 937 siswa, sekitar 51% wanita dan 49% pria. Untuk mengukur kemampuan membaca siswa kelas 4 SD/MI, PIRLS menggunakan instrumen tes tertulis dengan format pilihan ganda dan uraian. Jumlah seluruh item 193, terdiri atas 118 item (61,14%) Multiple Choice (MC) dan item 75 (38,86%) uraian. Sumber data berikutnya adalah contoh-contoh butir soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca siswa dalam standar internasional dari buku tes (P11_Booklet_1 sampai dengan 11).

Pemanfaatan data sekunder dari laporan IEA program PIRLStahun 2011 akan digunakan sebagai data utama guna mengkaji kemampuan membaca siswa Indonesia ditinjau dari aspek kognitif (knowing, applying, reasoning).Data sekunder tersebut didukung oleh data hasil analisis terhadap soal ujian nasional SD tahun 2009 ssampai dengan 2012. Data ini digunakan sebagai data pembanding analisis terhadap jenis-jenis butir soal yang dikembangkan di dalam PIRLS 2011 dengan jenis-jenis butir soal yang dikembangkan di dalam soal ujian nasional bahasa Indonesia SD sejak tahun 2009 sampai dengan 2011.

D. Keabsahan Data

Untuk menguji keabsahan data dilakukan melalui beberapa cara berikut ini. Pertama, triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan data hasil analisis dengan dokumen lain.Kedua, intrarater dilakukan dengan cara membaca berulang-ulang secara cermat dan fokus terhadap objek penelitian.Ketiga, interrater dilakukan dengan meminta pedapat dari ahli dalam bidang penilaian, khususnya konstruksi butir soal.

E. Instrumen

Instrumen yang dipergunakan dalam studi ini adalah tes dan kuesioner. Subtansi yang diteskan dalam PIRLS 2011 yang diambil dari PIRLS-almanac dan TPIRLS-item released dan butir-butir soal ujian nasional dari tahun 2009 sampai dengan 2011 terkait dengan kemampuan siswa menjawab beragam proses pemahaman, pengulangan, pengintegrasian, dan penilaian atas teks yang dibaca. Jenis teks yang digunakan adalah teks pengalaman kesastraan dan pemerolehan serta penggunaan informasi. Komposisinya teks sastra 50% dan teks informasi 50% dengan rincian 20% difokuskan pada informasi yang dinyatakan secara tersurat untuk diulang, 30% membuat inferensi, 30% menafsirkan dan memadukan gagasan dan informasi, serta 20% memeriksa dan menilai isi, bahasa, dan unsur-unsur yang terdapat di dalam teks.

Di dalam PIRLS 2011 ini teks sastra berisi cerita pendek atau episode yang disertai dengan ilustrasi pendukung.Lima bagian berisi cerita-cerita tradisional dan kontemporer dengan panjang teks kira-kira 800 kata dengan beragam latar.Pada setiap hal yang esensial dua karakter utama dan sebuah alur dihubungkan dengan satu atau dua peristiwa pusat. Di dalam bagian-bagian tersebut tercakup pula ciri-ciri gaya dan bahasa penceritaan, seperti cerita orang pertama, humor, dialog, dan beberapa gaya bahasa.

Teks informasi berisi lima bagian termasuk ragam teks lengkap maupun tidak lengkap berdasarkan panjang kata antara 600 sampai dengan 900. Teks tersebut merepresentasikan ciri-ciri seperti diagram, peta, ilustrasi, fotografi, atau tabel.Rata-rata materi mencakup materi ilmiah, etnografi, biografi, sejarah, informasi, dan gagasan praktis. Teks disusun melalui sejumlah cara, termasuk cara logis, argumen, urutan, dan topik. Beberapa bagian menggunakan organisasi bacaan seperti subjudul, kotak teks, atau daftar.

Survey kemampuan membaca dalam PIRLS ini dirancang untuk mengetahui kemampuan anak Sekolah Dasar dalam memahami bermacam ragam bacaan dengan cara melibatkan anak-anak dalam proses membaca. Penilaian difokuskan pada membaca dengan dua tujuan membaca baik yang dilakukan disekolah maupun diluar sekolah, yaitu:

(1) Membaca cerita/karya sastra dan (2) Membaca untuk memperoleh dan menggunakan informasi.Tujuan membaca ini telah dijadikan panduan dalam memilih bahan bacaan yang ada dalam masing-masing soal. Masing-masing bacaan yang terpilih memiliki karakteristik yang berbeda yang digunakan sesuai dengan salah satu dari kedua tujuan membaca diatas. Untuk masing-masing tujuan, diberikan empat jenis proses memahami bahan bacaan, yaitu: (1) mencari informasi yang dinyatakan secara eksplisit, (2) menarik kesimpulan secara langsung, (3) menginterpretasikan dan mengiintegrasikan gagasan dan informasi, dan (4) menilai dan menelaah isi bacaan, penggunaan bahasa, dan unsur-unsur teks.

Setiap pertanyaan dirancang untuk menguji salah satu proses kemampuan membaca tersebut. Penilaian terhadap kemampuan membaca dalam PIRLS 2011 diatur sedemikian rupa agar siswa dapat menyelesaikan dua bagian yang harus dikerjakan selama 40 menit. Selama itu, siswa diminta untuk membaca teks yang sudah disediakan dan menjawab beberapa pertanyaan. Dua format pertanyaan digunakan untuk menguji pemahaman siswa, yaitu format pilihan ganda dan format pertanyaan terstruktur. Pada soal pilihan ganda, untuk masing-masing soal disediakan empat pilihan jawaban dan siswa diminta untuk memilih jawaban yang paling tepat. Untuk setiap pertanyaan hanya ditentukan satu jawaban yang dianggap benar.

Pada soal terstruktur, siswa diminta untuk menjawab langsung pada berkas yang sudah disediakan. Jawaban siswa ini dinilai oleh para penskor yang terlatih dengan menggunakan panduan penilaian yang memandu mereka menerapkan kriteria yang spesifik untuk memberikan nilai pada setiap jawaban siswa. Dokumen ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan panduan pemberian nilai untuk jawaban siswa terhadap pertanyaan terstruktur, yang akan diperlukan oleh para penskor dalam survey kemampuan membaca PIRLS.

Pada setiap pertanyaan terstruktur ini, diterapkan point value, dengan nilai 1,2, atau 3 poin, tergantung pada tingkat kedalaman pemahaman atau keluasan cakupan teks yang diberikan. (Setiap

soal pilihan ganda bernilai 1 poin). Siswa diingatkan untuk memperhatikan nilai poin masing-masing soal dengan cara mencatumkan gambar pena dan nomor 1,2, atau 3, tergantung pada nilai masing-masing soal.

F. Panduan Penilaian

Bentuk tes dalam PIRLS berupa pilihan ganda dengan empat pilihan, isian singkat, dan uraian. Penskoran tes pilihan ganda didasarkan atas kriteria “jika benar, diberi skor 1” dan “jika salah, diberi skor 0”.Tes isian singkat didasarkan atas kriteria“jika benar, diberi skor 1” dan “jika salah, diberi skor 0”.Adapun untuk tes bentuk uraian atau pertanyaan terstruktur dinilai berdasarkan panduan penilaian. Panduan berisi penjelasan setiap aspek kemampuan membaca yang spesifik yang dianggap sebagai bukti perormansi siswa pada tingkat kemampuan tertentu. Panduan ini pada dasarnya sama untuk semua pertanyaan, kendati untuk beberapa pertanyaan disusun panduan secara tersendiri tergantung pada jenis pertanyaannya. Misalnya, nilai terendah-nilai0-menunjukan tidak adanya pemahaman terhadap aspek bacaan yang ditanyakan.Siswa yang mendapatkan nilai 0 diperkirakan mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan atau tidak mengerti pertanyaannya.Bisa juga siswa hanya mendapatkan informasi yang tidak terlalu jelas baginya, sehingga siswa itu tidak memperoleh nilai untuk pertanyaan tersebut.Panduan penilaian digunakan untuk memberi nilai pada pertanyaan yang memiliki nilai 1, 2, dan 3 yang dihubungkan dengan tingkat kemampuan membaca siswa.Masing-masing tabeladalah berbeda satu dari yang lainnya, untuk menunjukkan rentangan kemampuan dalam memahami dalam masing-masing panduan dalam penilaian terhadap setiap pertanyaan dalam survey ini.

Panduan untuk pertanyaan satu nilai. Jawaban yang diterima diberi skor 1 artinya: Jawaban siswa memperlihatkan pemahaman tentang aspek isi bacaan yang ditanyakan. Jawaban harus mencakup semua hal yang ditanyakan.Ketepatan jawaban siswa ini ditentukan dengan mencocokkan jawaban itu dengan gagasan atau informasi yang ada di dalam bacaan. Jawaban yang tidak dapat diterima diberi skor 0 artinya: Jawaban siswa tidak memperlihatkan kemampuan siswa untuk memahami aspek yang ditanyakan. Atau jawabannya tidak lengkap sesuai dengan apa yang diminta dalam pertanyaan. Ketepatan jawaban dapat diperiksa dengan cara membandingkannya dengan gagasan atau informasi yang ada dalam bacaan. Atau, jawaban siswa itu tidak tepat karena gagasan atau informasinya terlalu umum atau tidak berkaitan dengan pertanyaan.Jawaban yang disilang/

dihapus/tidak terbaca/dicoret-coret.Jawaban ini juga diberi nilai “0” jika memang tidak dapat

diinterpretasikan. Jawaban ini biasanya meliputi upaya perbaikan jawaban dengan cara menghapus, mencoret jawaban yang dianggap salah dan kemudian diganti dengan jawaban baru tetapi tidak dapat dipahami, atau corat-coret/gambar yang tidak dapat ditafsirkan maknanya.

Panduan untuk pertanyaan dua nilai. Jawaban dengan pemahaman penuh diberi skor 2 artinya jawaban siswa menunjukkan adanya pemahaman yang penuh terhadap aspek isi bacaan yang ditanyakan. Jawaban harus mencakup semua hal yang ditanyakan.Jika diperlukan, jawaban itu juga memperlihatkan kemampuan lebih dari hanya sekedar memahami makna harfiah, melainkan adanya upaya penafsiran, penarikan kesimpulan, atau penilaian aspek yang ditanyakan serta sesuai dengan isi bacaan.Jawaban juga dapat berupa gagasan atau informasi yang diambil dari bacaan untuk mendukung upaya penafsiran, penarikan kesimpulan, atau penilaian aspek yang ditanyakan tersebut. Jawaban dengan pemahaman parsial diberi skor 1 artinya jawaban siswa hanya menunjukkan pemahaman sebagian dari aspek isi bacaan yang ditanyakan. Jawaban itu mencakup sebagian, tetapi tidak seluruhnya dari aspek yang ditanyakan.Atau, jawaban itu menyebutkan semua aspek yang ditanyakan tetapi hanya memberikan penjelasan terbatas ketika dimintakan upaya penafsiran, penarikan kesimpulan, atau penilaian terhadap konsep yang lebih abstrak. Jawaban biasanya kurang didukung oleh bacaan, atau gagasan atau informasinya terlalu umum atau tidak terlalu berhubungan dengan aspek yang dipertanyakan. Bila tidak paham diberi skor 0 artinya jawaban tidak menunjukkan pemahaman sama sekali dari aspek isi bacaan yang ditanyakan. Jawabannya memperlihatkan upaya untuk melengkapi apa yang dimintakan dalam pertanyaan, tetapi tidak tepat atau tidak sesuai dengan gagasan atau informasi dalam bacaan. Atau tidak satu pun aspek yang ditanyakannya itu dijawab degan tepat.Atau, jawabannya itu terlalu umum dan tidak berkaitan dengan aspek yang ditanyakan.Jawaban yang disilang/dihapus/tidak terbaca/dicoret-coret.Jawaban ini juga diberi nilai

“0” jika memang tidak dapat diinterpretasikan. Jawaban ini biasanya meliputi upaya perbaikan jawaban dengan cara menghapus, mencoret jawaban yang dianggap salah dan kemudian diganti dengan jawaban baru tetapi tidak dapat dipahami, atau corat-coret/gambar yang tidak dapat ditafsirkan maknanya.

Panduan untuk pertanyaan tiga nilai. Jika jawaban benar dan luas diberi skor 3 artinya jawaban siswa memperlihatkan pemahaman yang ekstensif terhadap aspek isi bacaan yang ditanyakan. Jawaban ini meliputi semua aspek yang ditanyakan.Jika diperlukan, jawaban ini mencakup kemampuan memahami gagasan dan informasi yang agak kompleks, abstrak, atau penting berkaitan dengan tema atau gagasan pokok bacaan yang ditanyakan.Jawaban siswa ini melebihi kemampuan memahami bacaan secara harfiah, sebab memperlihatkan kemampuan menarik kesimpulan, melakukan penafsiran, atau penilaian sesuai dengan isi bacaan. Jika jawabannya memuaskan diberi skor 2 artinya jawaban siswa ini menunjukkan bahwa siswa memahami aspek bacaan yang ditanyakan dengan memuaskan. Jawabannya mencakup semua aspek yang ditanyakan tetapi jawaban itu tidak menunjukkan bukti bahwa siswa mengerti benar gagasan atau informasi yang agak kompleks atau abstrak.Atau, jawaban itu sedikit memiliki kemampuan memahami bacaan secara harfiah, memperlihatkan kemampuan menarik kesimpulan, melakukan penafsiran atau penilaian tetapi tidak didukung oleh gagasan atau informasi dari bacaan sehingga jawabannya tidak konklusif. Jika jawabannya minimal diberi skor 1 artinya Jawaban siswa memperlihatkan pemahaman minimal terhadap aspek isi bacaan yang ditanyakan. Jawaban ini mencantumkan sebagian aspek yang ditanyakan yang meliputi pemahaman yang bersifat harfiah terhadap gagasan atau informasi yang ada di dalam bacaan, tetapi tidak mampu menghubungkan gagasan atau informasi itu dengan asppek yang ditanyakan. Jika dimintakan untuk menunjukkan gagasan atau informasi mana yang ada di dalam bacaan, jawabannya tidak tepat atau tidak sesuai dengan apa yang dimintakan dalam pertanyaan. Jika jawabannya tidak memuaskan diberi skor 0 artinya Jawaban siswa tidak memuaskan dalam menanggapi aspek isi bacaan yang ditanyakan. Siswa mungkin juga memberikan jawaban pada semua aspek yang ditanyakan, tetapi jawabannya tidak tepat atau tidak sesuai dengan gagasan atau informasi yang ada dalam bacaan. Atau, malah sama sekali tidak memahami pertanyaannya. Atau, jawabannya terlalu umum dan tidak berhubungan dengan isi bacaannya.

G. Analisis Data

Berdasarkan informasi awal tersebut, data yang digunakan dalam PIRLS 2011 yang diambil dari PIRLS-almanac dan TPIRLS-item released dan butir-butir soal ujian nasional dari tahun 2009 sampai dengan 2011 dianalisis dengan teknik baca catat melalui dua tahapan utama. Pada tahap I terdapat sembilan tahapan tururan, yakni pertama, membaca, mencatat, dan menelaahpermasalahan mengenai perubahan kemampuan membaca siswa di setiap negara dari tahun ke tahun. Kedua, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan butir soal sastra pada level lemah. Ketiga, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan butir soal sastra pada level sedang. Keempat, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan butir soal nonsastra pada level sedang. Kelima, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan butir soal sastra pada level tinggi. Keenam, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan butir soal nonsastra pada level tinggi. Ketujuh, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan butir soal sastra pada level sempurna. Kedelapan, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan butir soal nonsastra pada level sempurna. Kesembilan, membaca, mencatat, dan menelaah permasalahan mengenai butir-butir soal yang tidak biasa muncul di dalam soal ujian nasional.

Tahapan utama II meliputi pertama, analisis contoh butir soal yang mewakili kemampuan level sempurna, tinggi, sedang, dan rendah menurut standar internasional.Kedua, hasil studi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui analisis faktor-faktor penentu hasil membacaberdasarkan sudut pandang kemanfaatannya bagi siswa Indonesia.Tindak lanjut ini berupa kajian atas peta kognitif siswa dalam PIRLS 2011, khususnya dalam bidang membaca, perbandingan kemampuan membaca terhadap

rata-rata kemampuan membaca siswa internasional, dan menyajikan hasil diagnosis terhadap kemungkinan penyebab kelemahan siswa Indonesia dalam domain konten dan kognitif yang diukur dalam PIRLS. Dengan demikian, fokus ini diharapkan dapat menjawab permasalahan mengapa kemampuan membaca siswa Indonesia kelas 4 masih berada di bawah standar internasional.

Dalam dokumen Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012 (Halaman 61-66)

Dokumen terkait