METODE PENELITIAN
Metode penelitian pada dasarnya merupakan uraian teknis yang digunakan dalam penelitian.46 Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor tindak pidana, peredaran minuman beralkohol, dan upaya pencegahan sosial yang dilakukan terhadap remaja. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pandangan Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif peneliti ingin mengetahui secara langsung perilaku para remaja pengonsumsi minuman beralkohol, mengetahui secara langsung tentang peredaran minuman beralkohol yang terjadi di Desa Kencong, serta mengetahui upaya pencegahan terhadap remaja pengonsumsi minuman keras.
Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian studi kasus. Adapun dipilihnya jenis penelitian ini karena penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti sebuah kasus atau fenomena untuk mendapatkan data yang faktual dan akurat.
46 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum (Bandung: CV Mandar Maju, 2016), 3.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana penelitian akan dilakukan dan juga dapat diartikan lokasi ini sebagai objek dan tujuan yang ditetapkan sehingga mempermudah penulis dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan di Desa Kencong Kabupaten Jember dengan alasan antara lain:
1. Daerah tersebut terdapat Pondok Pesantren yang sangat terkenal.
2. Daerah tersebut terdapat perguruan tinggi Islam.
3. Sudah sering dilakukan sosialisasi oleh penegak hukum.
4. Kurang ketatnya pencegahan dalam penjualan minuman keras.
5. Para remaja lebih banyak mengkonsumsi minuman keras.
6. Karena dekat dengan domisili.
C. Subjek Penelitian
Untuk menentukan subjek penelitian sebagai sumber informasi dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive atau penentuan informan ditentukan sendiri oleh peneliti dengan pertimbangan tertentu, pertimbangan tertentu tersebut misalnya, orang tersebut dianggap paling mengetauhi tentang permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan data sekunder.
1. Data primer
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (peneliti) atau data yang diperoleh langsung dari lapangan (obyek data). Data yang akan didapatkan peneliti yaitu
menggunakan wawancara, observasi. Adapun Informan-informan yang dibutuhkan untuk mendapatkan data yaitu:
a. Tiga remaja pengkonsumsi miuman keras di desa Kencong Kabupaten Jember.
b. Dua keluarga dari remaja di desa Kencong Kabupaten Jember.
c. Penjual minuman beralkohol di desa Kencong Kabupaten Jember.
d. Masyarakat di desa Kencong Kabupaten Jember.
e. Tokoh masyarakat di desa Kencong Kabupaten Jember.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data atau data yang diambil peneliti sebagai bahan pendukung atas penelitian dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Data sekunder yang digunakan oleh peneliti yakni berupa dokumentasi, buku, website yang berkaitan dengan judul penelitian.
D. Teknik pengumpulan data
Peneliti menggunakan beberapa teknik dalam proses pengumpulan data, seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Masing-masing dari proses tersebut mempunyai peranan penting dalam upaya mendapatkan informasi yang akurat. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan dan mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara, kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek yang lain.47
Dalam hal ini peneliti menggunakan observasi non partisipan, dimana peneliti tidak terlibat secara langsung dan hanya sebagai pengamat independen. Adapun yang akan diamati oleh peneliti yaitu:
a. Faktor penyebab tindak pidana minuman keras pada remaja di Kencong Kabupaten Jember.
b. Upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengonsumsi minuman keras di Kencong Kabupaten Jember.
2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan cara mengadakan percakapan secara langsung antara pewawancara (interview) atau peneliti yang mengajukan pertanyaan dengan pihak yang diwawancarai (interview)atau informan yang menjawab pertanyaan tersebut.48
Dalam teknik ini peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur. Dalam artian peneliti melakukan wawancara secara bebas tanpa terpaku pada catatan (pedoman) yang telah peneliti siapkan
47 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2017), 145.
48 M. Djamal, Paradigma Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 75.
sebelum melakukan wawancara di lapangan. Adapun wawancara yang akan dilakukan peneliti, yaitu:
a. Mengenai profil narasumber.
b. Latar belakang peredaran minuman beralkohol.
c. Faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana minuman beralkohol terhadap remaja pengkonsumsi minuman keras.
d. Upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengkonsumsi minuman keras menurut Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 tentang pengendalian peraturan minuman beralkohol.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan.
Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain.49
Penggunaan teknik ini digunakan untuk memperoleh data-data berupa catatan tertulis maupun peristiwa tertentu yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan data terkait faktor tindak pidana dan upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengonsumsi minuman keras menurut Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 Tentang
49 Sugiyono, Metode Penelitian, 240.
Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol (Studi Kasus di Desa Kencong Kabupaten Jember). Data yang akan diperoleh dalam teknik pengumpulan data dengan dokumentasi dapat berupa:
a. Foto kegiatan.
b. Sarana dan prasarana.
c. Keadaan lingkungan, dan lain-lain yang mendukung.
E. Teknik Analisis Data
Anaisis Data merupakan proses untuk mencari dan menyusun data secara sistematis, data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian peneliti melakukan analisis atau pengolahan data, analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.
Teknik analisis yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles & Huberman mencakup tiga kegiatan yang bersamaan.50
a. Reduksi Data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari càtatan-catatan tertulis di lapangan. Setelah data secara keseluruhan maka peneliti segera melakukan pemilihan data dari catatan tertulis yang diperoleh dari lapangan, dan pemilihan data tersebut harus berlangsung secara terus menerus selama penelitian kualitatif berlangsung.
50 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) 209-210.
b. Penyajian Data yakni alur penting yang kedua. Miles dan Huberman membatasi suatu “penyajian” sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.51 Setelah mereduksi data kemudian peneliti sajikan data-data yang telah terkumpul tentang sosial remaja pengonsumsi minuman keras yang ada di Kencong Kabupaten Jember.
c. Verifikasi (penarikan kesimpulan) yaitu pembuktian kembali.
Kesimpulan awal hanya bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada pengumpulan data berikutnya, tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka merupakan kesimpulan yang kredibel. Verifikasi dilakukan untuk mencari pembenaran dan data yang didapat menjadi data yang valid.
F. Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.52 Lebih jauh lagi, untuk memeriksa keabsahan data, maka peneliti memakai validitas data trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Adapun tehnik trianggulasi yang
51 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Ranangan Penelitian (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 244.
52 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2010), 119.
banyak digunakan adalah pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.53
Adapun penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber yang berar ti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang diperoleh dalam penelitian kualitatif.
G. Tahap-tahap Penelitian
Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah mencari permasalahan dan mencari referensi terkait. Peneliti mengambil permasalahan peningkatan penjualan setelah ada perubahan konsep dengan mengangkat judul “analisis faktor tindak pidana dan upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengonsumsi minuman keras menurut Peraturan Daerah (PERDA) Jember Nomor 3 Tahun 2018 tentang pengendalian peredaran minuman beralkohol (Studi Kasus Di Desa Kencong Kabupaten Jember).” Adapun tahap pra lapangan meliputi:
1. Tahap Pra Lapangan
a. Menentukan lokasi penelitian.
b. Menyusun rancangan penelitian.
c. Mengurus perizinan.
d. Menyiapkan perlengkapan penelitian.
53 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 330.
2. Tahap Pelaksanaan
Setelah mendapatkan izin penelitian, peneliti akan memasuki objek penelitian dan langsung melakukan pengumpulan data dengan observasi dan wawancara untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan faktor tindak pidana dan upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengonsumsi minuman keras.
3. Tahap Penyusunan Laporan
Setelah peneliti mendapatkan data, dan data tersebut sudah dianalisis, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah membuat laporan penelitian. Laporan penelitian tersebut kemudian diserahkan kepada dosen pembimbing untuk dikoreksi dan direvisi jika ada kesalahan.
BAB IV
PENYAJIAN DATA ANALISIS
A. Gambaran Obyek Penelitian 1. Sejarah Kecamatan Kencong
Kencong merupakan salah satu nama desa dan kecamatan di kabupaten Jember yang terletak di bagian selatan. Kata kencong sering kali disebutkan dengan kata Kenceng tapi Mencong yang di artikan dengan jalan yang terlihat lurus (kenceng) namun faktanya berkelok-kelok (mencong).
Wilayah kencong merupakan salah satu tempat yang bersejarah di Kabupaten Jember karena wilayah tersebut menjadi jalur perjalanan tilik desa yang dilakukan oleh rombongan Raja Hayam Wuruk kala itu.
Wilayah Kencong juga merupakan lembah dataran rendah. Wilayah ini terlihat kemilau kekuningan bagaikan emas dikala panen padi berlangsung. Sehingga kala itu wilayah ini dijuluki desa kencono karena berwarna kuning keemasan. Kesuburan dan indahnya persawahan karena warna yang kuning keemasan menjadi daya Tarik bagi pendatang (plancong) untuk menetap di wilayah tersebut. Dari hal inilah muncul nama Kencong sebagai nama wilayah di daerah tersebut.54
2. Profil Kecamatan Kencong
Kencong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis Kecamatan Kencong
54 Y. Setiyo Hadi, diwawancarai oleh Peneliti, Kencong Jember, 20 Januari 2021.
terletak pada ketinggian mulai 0 meter dpl (di atas permukaan laut) sampai 12 meter dpl. Ketinggian maksimal dapat dilihat di gedung bekas stasiun kereta api yang terletak di Kencong. Kecamatan Kencong terletak kurang lebih 45 km ke arah barat dari Kota Jember. Bagian selatan merupakan pantai yang mempunyai potensi pemandangan yang indah, yaitu Pantai Paseban.
Kecamatan Kencong pada bagian utara berbatasan dengan kecamatan Jombang. Bagian Barat berbatasan dengan Kabupaten Lumajang. Bagian Selatan terbentang luas perairan laut yang terbuka yaitu Samudra Hindia, sedangkan bagian timur berbatasan dengan kecamatan Gumukmas.
Kecamatan Kencong terdiri dari beberapa desa antara lain desa Paseban, Cakru, Kraton, Wonorejo dan Kencong. Sehingga luas wilayah kecamatan ini adalah 58,65 ha. Wilayah ini meliputi tanah sawah seluas 37,83 ha. Tanah pekarangan untuk bangunan dan halaman seluas 9,56 ha.
Tanah tegalan atau kebun seluas 8,19 ha. Tambak/kolam 0,20 ha dan lainnya seluas 3,06 ha. 64,49 % luas daerah Kecamatan Kencong merupakan persawahan, sehingga sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya di sektor pertanian.55
55 Hajar Lutfi Rahman, Kecamatan Kencong Dalam Angka: Kencong SUB-District In Figures 2020 (Jember, Badan Pusat Statistika Kabupaten Jember, 2020), 3.
Gambar 4.1
Batas-batas Kecamatan Kencong 3. Jumlah Penduduk Kecamatan Kencong
Kecamatan Kencong Kabupaten Jember terdiri dari lima desa yang tersebar pada luas wilayah sekitar 58,65 ha, dengan jumlah penduduk secara keseluruhan yaitu 68,469 jiwa. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin56
No. Desa Jenis Kelamin
Total Laki-laki Perempuan
1. Paseban 3.709 Jiwa 2.795 Jiwa 7.419 Jiwa 2. Cakru 5.352 Jiwa 3.610 Jiwa 10.919 Jiwa
56 Rahman, Kecamatan Kencong Dalam Angka, 52.
No. Desa Jenis Kelamin
Total Laki-laki Perempuan
3. Kraton 4.838 Jiwa 6.068 Jiwa 9.891 Jiwa 4. Wonorejo 6.825 Jiwa 6.028 Jiwa 14.076 Jiwa 5. Kencong 12.905 Jiwa 13.259 Jiwa 26.164 Jiwa
Jumlah
Keseluruhan 33.629 Jiwa 34.840 Jiwa 68.469 Jiwa
B. Penyajian dan Analisis Data
1. Faktor penyebab terjadinya tindak pidana minuman keras di kalangan remaja di Desa Kencong Kabupaten Jember.
Setiap orang pasti mengharapkan kehidupan yang nyaman, aman dan tentram serta bahagia. Baik kehidupan dalam keluarga atau bahkan di lingkungan masyarakat. Pola kehidupan di lingkungan masyarakat saat ini secara terus menerus mengalami perubahan baik dalam hal sosial, budaya bahkan ekonomi sekalipun.
Kehidupan sosial budaya menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat Indonesia, terlebih pada hubungan sosial para remaja. Banyak remaja yang memiliki jiwa sosial tinggi dan banyak pula remaja yang mengkonsumsi budaya luar atau kebiasaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh remaja itu sendiri.
Dengan perpaduan antara sosial dan budaya pada remaja, sebenarnya memiliki dampak yang baik, namun akibat dari dipersalahgunakannya perpaduan tersebut maka berdampak buruk bagi dirinya dan lingkungan sekitar. Sehingga hal ini menjadikan banyaknya
para remaja terindikasi atau terjerumus pada pergaulan yang salah atau pembiasaan yang tidak baik.
Kecamatan Kencong Kabupaten Jember merupakan salah satu daerah yang mayoritas para remajanya terjerumus dalam pergaulan bebas. Salah satu bentuk pergaulan bebas di daerah tersebut adalah mengkonsumsi minuman keras.57 Namun hal itu bukan hanya dilakukan atas kemauan sendiri melainkan adanya dukungan dari lingkungan masyarakat yang memfasilitasi minuman tersebut. Sebagaimana yang disampaikan oleh Drian (nama samaran) selaku pengguna minuman keras di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Sebenarnya faktor yang mendasar saya mengkonsumsi minuman keras itu adalah teman sebaya dan juga lingkungan masyarakat yang acuh tak acuh terhadap adanya penjual dan pembeli minuman keras disini. Hal lain yang membuat saya mengkonsumsi minuman keras itu karena saya depresi, banyak masalah terus yang menjadi pelampiasannya ya meminum anggur atau yang lainnya. Sebenarnya saya juga mengetahui kalau mengkonsumsi miras itu dilarang oleh agama dan Negara bahkan anak yang masih duduk di bangku sekolah itu tidak baik mengkonsumsi hal tersebut tapi mau bagaimana lagi karena teman dan yang saya sebutkan tadi itu menjadi cara agar depresi saya hilang.”58
Begitupun dengan ungkapan dari Rosi (nama samaran) mengatakan bahwa:
“Saya bingung mau menyalahkan teman sekolah atau siapa, karena bagi saya ketika kumpul ada rasa dimana saya harus melakukan itu, kalau berhenti sih ada, kalau tidak punya uang saja… Bahkan nih ya, semua keluarga saya dan tetangga itu mengetahui kalau saya tukang minum-minuman beralkohol itu.
57 Observasi di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember, 20 Januari 2021.
58 Drian, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 31 Desember 2021.
Hal ini sudah saya lakukan sejak saya masih SMP dan dulu juga pernah mengikuti sosialisasi tentang miras”.59
Pernyataan itu juga muncul dari Siska (nama samaran) yang mengkonsumsi minuman miras, bahwa:
“Saya orangnya jarang keluar rumah, hanya sesekali saja. Untuk mengkonsumsi hal itu bisa saya hitung menggunakan jari. Karena saya meminum ketika saya ada masalah dalam hubungan asmara, ada tekanan batin yang tidak bisa saya utarakan juga. Teman sih ada kadang saya juga tidak mau kalau di ajak mereka, dan saya yang ngajak ketika saya yang ada masalah gitu. Jadi belinya patungan sudah”.60
Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak Holis (nama samaran) selaku penjual minuman keras di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Sebenarnya saya tidak tahu pasti kenapa mereka membeli minuman keras namun yang saya ketahui itu hanya untuk kumpul-kumpul saja dengan teman-temannya. Sedangkan saya menjual minuman keras ini karena mencari penghasilan dan juga selama 3 tahun ini saya menjual minuman keras seperti anggur merah, bir bintang dan anggur polisoft, masyarakat maupun tokoh masyarakat tidak pernah menegur meskipun tidak memiliki izin dari pihak manapun.”61
Begitupun dengan pernyataan dari bapak Samsudin (nama samaran) selaku orang tua dari pelaku minuman keras di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Ketika saya mengetahui kalau anak saya sudah mengkonsumsi minuman keras. Pada saat itu juga saya memarahi, pukul bahkan saya cemplungkan ke kamar mandi dan keesokannya saya tidak memberikan uang jajan kepadanya sebagai efek jera. Hal itu saya ketahui dari anak saya secara langsung penyebab utama dia
59 Rosi, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 01 Juli 2022.
60 Siska, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 01 Juli 2022.
61 Holis, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 06 November 2021.
mengkonsumsi minuman keras itu karena di ajak oleh temannya dan juga sering berkumpul dengan anak-anak yang seperti itu.”62 Sebagai orang tua Bapak Rohim (nama samaran) juga menyampaikan bahwa:
“Saya pernah mengintrogasi anak saya pada saat ketahuan dia mengkonsumsi minuman keras. Saya tanyakan kenapanya, sama siapa, berapa banyak yang diminum dan sudah berapa kali minum gitu. Jawaban yang disampaikan cukup mengagetkan saya selaku orang tua, ternyata karena putus cinta, terus diajak temannya dan lainnya”.63
Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh ustadz Hodri (nama samara) selaku tokoh masyarakat di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Ketika saya memberikan arahan atau bimbingan kepada beberapa masyarakat pada saat pengajian di musholla, saya terkadang bertanya kepada bapak-bapak disana mengapa menjual minuman keras? Jawabannya yang paling lantang itu cari rezeki buat makan anak istri ustadz. Padahal saya sudah menjelaskan bahwa mencari rezeki itu banyak cara yang pastinya harus halal yang di jual dan cara menjualnya. Sedangkan ketika saya tanya kepada remaja yang terjaring razia, alasan mereka rata-rata karena banyak masalah, ingin menghilangkan pikiran yang amburadul dan juga ada yang di ajak oleh temannya.”64
Dari pihak kepolisian juga memberikan tanggapan sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Eko Budi Maskuriawan selaku pihak berwajib di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Penyebab utama para remaja mengkonsumsi miras itu karena pergaulan yang salah. Kadang ikut kumpul-kumpul dengan temannya meskipun tidak ikut mengkonsumsi lama-kelamaan karena rasa penasaran akan mengkonsumsi juga. Alasan lain dari hal itu karena banyak masalah dan lain sebagainya.”65
62 Samsudin, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 16 November 2021.
63 Rohim, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 02 Juli 2022.
64 Hodri, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 17 November 2021.
65 Eko Budi Maskuriawan, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 05 Oktober 2021.
Dari hasil observasi terhadap beberapa remaja yang dilakukan oleh peneliti di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember pergaulan atau perkumpulan para remaja sangat mengkhawatirkan, belum lagi dari pihak penjual dan masyarakat sekitar tidak melarang atau menegurnya melainkan membiarkan saja seakan-akan tidak mau tahu perihal minuman keras yang beredar di lingkungan tersebut.66
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab para remaja di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember mengkonsumsi minuman keras seperti anggur merah dan bir bintang ada dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu diri sendiri seperti masalah asmara, depresi, banyak masalah, dan tekanan batin. Sedangkan faktor eksternalnya ada dua, faktor pertama teman sebaya seperti kumpul dan nongkrong bersama teman serta ajakan dari teman untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Faktor kedua lingkungan masyarakat seperti penjualan minuman keras yang bebas di beberapa pertokoan daerah Kecamatan Kencong Kabupaten Jember.
2. Upaya pencegahan sosial terhadap remaja pengkonsumsi minuman keras di desa Kencong Kabupaten Jember menurut Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 3 tahun 2018 tentang pengendalian peraturan minuman beralkohol.
66 Observasi di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember, 20 November 2021.
Upaya pencegahan sosial terhadap remaja yang mengkonsumsi minuman keras di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bisa dilakukan oleh semua kalangan seperti diri sendiri, teman, keluarga, masyarakat, tokoh masyarakat hingga aparat hukum di daerah tersebut.
Upaya pencegahan yang dimaksud bisa berupa teguran, arahan, nasehat hingga mengubah perilaku kesehariannya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Drian (nama samaran) selaku pengkonsumsi minuman keras di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Kalau bicara berhenti atau tidaknya sih tergantung punya uang atau tidak kalau saya, tidak punya uang ya tidak minum. Kalau niatan untuk berhenti sih ada hanya saja belum tahu kapan, tinggal menunggu waktu saja sudah. Kalau usaha dari saya sendiri itu tidak kumpul dengan teman-teman ini, tapi kalau sekarang masih sulit karena kebiasaan kita sehari-hari selalu dengan mereka”.67
Pernyataan yang sama disampaikan oleh Siska (nama samaran) selaku pengkonsumsi minuman keras menyatakan bahwa:
“Saya itu punya niat yang ingin saya lakukan nantinya untuk berhenti itu setelah menikah. Kalau sekarang masih gimana ya...
selalu terkena tekanan batin, ya salah satunya itu masalah asmara, jadi pelampiasannya kearah sana. Memang di sekolah itu pernah beberapa kali ada polisi datang ke sekolah untuk sosialisasi, tapi kegiatan hanya berpengaruh ketika kita di sekolah saja, setelah itu kambuh lagi.68
Begitupun dengan ungkapan dari Rosi (nama samaran) mengatakan bahwa:
“Untuk berhenti minum sih ada, kalau tidak punya uang saja.
Gimana ya… sudah menjadi kebiasaan itu, bahkan saya pernah ditegur dan dimarahi oleh masyarakat dan keluarga saya, tapi
67 Drian, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 31 Desember 2021.
68 Siska, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 01 Juli 2022.
tidak jera dan juga mereka sekarang malah diam tidak menghiraukan saya.69
Dari pihak keluarga juga memberikan tanggapan yaitu bapak Samsudin (nama samaran) selaku orang tua dari pengkonsumsi miras di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Sebagai orang tua saya tidak mau jika anak kami terus-terusan mengkonsumsi minuman keras itu. Kami takut kehilangan dia atau bahkan masa depannya menjadi suram sehingga setiap hari ketika di rumah saya selalu menanyakan dari mana, sama siapa ya di introgasi gitu, terus saya kasih arahan agar bisa berfikir ketika di rumah, memperketat dalam ibadahnya seperti shalat dan mengaji dan juga saya berusaha menjadi orang tua sekaligus teman baginya agar ketika dia punya masalah tidak merasa sungkan untuk bercerita dan meminta solusi kepada saya selaku orang tuanya. Karena baik buruknya seorang anak, entah jadi apa dan seperti apa anaknya tetaplah anak yang harus kita jaga, rawat bahkan nyawa orang tua akan dipertaruhkan demi anak kita.”70 Sebagai orang tua Bapak Rohim (nama samaran) juga menyampaikan bahwa:
“Dulu waktu saya mengetahui kalau anak saya salah pergaulan, saya marahi dan pukul. Ya biar ada rasa takutnya gitu, namun karena saya juga takut salah pergaulan ini berkelanjutan maka saya putuskan untuk memondokannya saja sehingga dengan itu saya lebih tenang dan anak saya bisa bergaul dengan orang-orang yang baik dan bisa merubah pola kehidupan yang biasa dilakukan dalam kesehariannya.”71
Hal yang sama juga disampaikan oleh bapak Eko Budi
Maskuriawan selaku PS. Kanir BINMAS Polsek Kencong di Kecamatan
Kencong Kabupaten Jember bahwa:
“Apabila ada remaja yang tertangkap razia pada saat operasi akan kami bawa ke kantor lalu disidangkan ke pengadilan. Disana akan ditentukan apakah terkena denda atau di penjara. Hukuman
69 Rosi, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 01 Juli 2022.
70 Samsudin, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 16 November 2021.
71 Rohim, diwawancarai oleh peneliti, Jember, 02 Juli 2022.