• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Gorontalo yang dipilih secara

purposive dengan alasan sebagian besar populasi sapi Provinsi Gorontalo berada di daerah tersebut yaitu 42.34% (77 851 ekor). Pengambilan data dilakukan pada bulan November-Desember 2013.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini meliputi data primer yang diperoleh dari responden peternak sapi potong menggunakan kuesioner dan pengamatan langsung. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti BPS, Dinas Pertanian atau Peternakan maupun instansi lainnya.

Data yang primer yang dikumpulkan dari peternak meliputi karakteristik peternak dan faktor produksi seperti input dan ouput, meliputi: (1) karakteristik peternakan dan teknis pemeliharaan seperti curahan tenaga kerja dan periode pemeliharaan; (2) investasi usaha yang terdiri dari kandang dan peralatan serta (3) jumlah penggunaan dan harga input, yaitu sapi bakalan (bobot awal, bobot akhir, harga beli dan jual sapi), jumlah dan harga pakan hijauan dan konsentrat, vaksin, obat-obatan dan vitamin, tenaga kerja, umur ekonomis kandang, peralatan, biaya pemasaran serta biaya transportasi.

Metode Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah peternak sapi potong berorientasi ekonomi di Kabupaten Gorontalo dan berikutnya akan dipilih 2 kecamatan. Pemilihan kecamatan didasarkan kepada pertimbangan jumlah populasi sapi, jumlah peternak penggemukan dan jumlah pedagang sapi. Setiap kecamatan kemudian akan dipilih dua desa dengan kriteria sebagai sentra sapi dan selanjutnya setiap desa dipilih 15 responden. Keseluruhan unit contoh yang diambil adalah sebanyak 60 responden. Pengambilan sampel dari tiap desa menggunakan metode accidental sampling, alasannya karena tidak tersedianya kerangka contoh peternak berorientasi ekonomi di Kabupaten Gorontalo. Data BPS dan Ditjen PKH (2011) menunjukan bahwa jumlah peternak sapi potong di Kecamatan Boliyohuto dan Tolangohula berjumlah 238 orang, dengan asumsi bahwa 75% peternak tersebut berorientasi ekonomi maka diperoleh peternak yang berorientasi ekonomi sebanyak 179 orang. Menurut Bartlett et al. (2001) dengan jumlah populasi 200, margin of error = 0.03 dan alpha = 0.10 maka dibutuhkan ukuran contoh sebanyak 59 orang atau dibulatkan 60 orang. Pertimbangan lain berdasarkan penggunaan model analisis regresi, bahwa jumlah contoh optimal yang diperlukan dalam analisis regresi adalah sebanyak 10 kali lipat dari variabel bebasnya (Bartlett et al. 2001), sehingga dalam penelitian ini diperlukan 60 responden.

Analisis Daya Saing

Menurut Pearson et al. (2005) untuk mengetahui sejauh mana keunggulan kompetitif dan komparatif dilakukan pendekatan terhadap penggunaan sumber daya domestik dan input tradable. Metode analisis yang digunakan adalah Policy Analysis Matrix (PAM). Analisis PAM juga dapat mengukur dampak intervensi pemerintah pada suatu aktivitas ekonomi (dalam hal ini usaha penggemukan sapi potong). Penggunaan PAM selanjutnya perlu memperhatikan beberapa asumsi, diantaranya: (1) Output produksi bersifat tradable; (2) Hubungan input-output bersifat konstan dan harga relatif dari faktor produksi bersifat konstan dan (3) Harga bayangan output dan input dapat dihitung dan mewakili biaya imbangan sosial. Adapun tahapan penggunaan metode PAM yaitu: (1) Identifikasi input dan output dari usaha penggemukan sapi potong; (2) Menentukan harga bayangan input dan ouput usaha penggemukan sapi potong; (3) Memisahkan unsur biaya ke dalam kelompok tradable dan domestic; (4) Menghitung penerimaan usaha penggemukan sapi potong dan (5) Menghitung dan menganalisis berbagai indikator keunggulan komparatif dan kompetitif pada usaha penggemukan sapi potong. Bentuk dan perhitungan indikator Policy Analysis Matrix dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Bentuk dan perhitungan metode Policy Analysis Matrix

Keterangan Penerimaan Biaya Keuntungan Input Tradable Input Non Tradable Harga Privat A B C D = A - B - C Harga Sosial E F G H = E - F - G Dampak Kebijakan I = A – E J = B - F K = C - G L = D - H Keuntungan privat (privateprofitability) D = A - B – C

Keuntungan sosial (socialprofitability) H = E - F – G

Transfer output (output transfer) I = A – E

Transfer input (input transfer) J = B - F

Transfer faktor (factor transfer) K = C – G

Transfer bersih (net transfer) L = D - H; L = I - J – K

Rasio biaya privat (PCR) PCR = C / (A - B)

Rasio biaya sumber daya domestik (DRC) DRC = G / (E - F)

Koefisien proteksi output nominal (NPCO) NPCO = A / E

Koefisien proteksi input nominal (NPCO) NPCI = B / F

Koefiisen proteksi efektif (EPC) EPC = (A - B) / (E - F)

Koefisien keuntungan (PC) PC = (A - B - C) / (E - F - G); D / H

Rasio subsisdi produsen (SRP) SRP = L / E; (D - H) / E

Sumber: Monke dan Pearson (1989)

Tabel 7 menunjukan bahwa PAM merupakan sebuah matriks yang menjelaskan 2 identitas yaitu identitas keuntungan (profitability identity) dan identitas penyimpangan (divergences identity). Identitas keuntungan merupakan hubungan lintas kolom yaitu selisih antara penerimaan dan biaya yang dihitung pada tingkat harga privat dan sosial. Identitas penyimpangan merupakan

hubungan antar lintas baris dari matriks yang menjelaskan penyimpangan yang menyebabkan harga privat suatu komoditas berbeda dengan harga sosialnya. Hal ini disebabkan oleh adanya kegagalan pasar atau kebijakan pemerintah terhadap komoditas tersebut. Namun demikian, penggunaan PAM memiliki beberapa kelemahan atau keterbatasan yaitu: (1) Bersifat statis sehingga analisis daya saing hanya mengukur pada satu waktu tertentu; (2) Reaksi produsen terhadap perubahan harga domestik tidak diperhitungkan (koefisien input-output tetap) dan (3) Termasuk dalam analisis keseimbangan sebagian (partial equilibrium analysis) (Monke dan Pearson 1989). Menurut Sellen (2011) kekurangan lain PAM adalah tidak dapat menganalisis output yang tidak dapat diperdagangkan (non tradable) serta tidak dapat diterapkan pada negara yang memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan dunia. Meskipun demikian, analisis ini juga memiliki beberapa kelebihan yaitu merupakan analisis yang sederhana dalam mengorganisir informasi di tingkat mikro ekonomi dan 2) cukup mudah dipahami oleh non ekonom seperti pembuat kebijakan senior (Sellen 2011).

Analisis Keuntungan

Private Profitability atau keuntungan privat merupakan indikator keunggulan kompetitif dari sistem komoditi berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijakan yang ada. Apabila D > 0, berarti sistem komoditi itu memperoleh profit di atas normal. Hal ini memberikan implikasi bahwa komoditi itu mampu melakukan ekspansi, kecuali apabila sumber daya terbatas atau adanya alternatif yang lebih menguntungkan. Nilai ini diperoleh dengan rumus D = A – (B + C).

Social Profitability atau keuntungan sosial merupakan indikator keunggulan komparatif atau efisiensi dari sistem komoditi pada kondisi tidak ada divergensi dan penerapan kebijakan yang efisien, apabila H > 0. Sebaliknya bila H < 0, berarti komoditi itu tidak mampu bersaing tanpa bantuan atau intervensi dari pemerintah. Keuntungan sosial diperoleh dengan persamaan: H = E – (F + G).

Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Dalam PAM tingkat daya saing dicerminkan oleh nilai keunggulan komparatif dan kompetitif. Domestic Resource Cost Ratio merupakan indikator kemampuan sistem komoditi membiayai faktor domestik pada harga social. Jika DRCR > 1 maka sistem komoditi tidak mampu hidup tanpa bantuan atau intervensi pemerintah, sehingga memboroskan sumber daya domestik yang langka. Sebaliknya jika DRCR < 1 maka sistem komoditi makin efisien dan memiliki daya saing tinggi (keunggulan komparatif) serta mampu hidup atau berkembang tanpa bantuan dan intervensi pemerintah disamping memiliki peluang ekspor yang lebih besar. Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) = G / (E – F).

Private Cost Ratio menjelaskan berapa banyak sistem komoditi dapat menghasilkan untuk membayar faktor domestik dan tetap dalam kondisi kompetitif. Apabila PCR < 1 maka artinya sistem produksi suatu usahatani atau ternak mampu membiayai faktor domestiknya pada harga privat dan kemampuannya semakin meningkat atau memiliki keunggulan kompetitif. Private Cost Ratio (PCR) = C / (A – B).

Dampak Kebijakan Pemerintah Kebijakan Output

Transfer output (TO) merupakan selisih antara penerimaan yang dihitung atas harga finansial (private) dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga bayangan atau sosial. Nilai TO menunjukkan terdapat kebijakan pemerintah yang diterapkan pada output sehingga membuat harga output privat dan sosial berbeda. Jika nilai TO > 0 menunjukkan adanya transfer dari masyarakat (konsumen) terhadap produsen, demikian juga sebaliknya. Nilai ini dihitung dengan cara Output Transfer: OT (I) = A – E.

Nominal Protection Coefficient on Output merupakan rasio penerimaan yang dihitung berdasarkan harga privat dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga sosial yang merupakan indikasi dari transfer output. Kebijakan bersifat protektif terhadap output jika nilai NPCO > 1 atau dengan kata lain pemerintah menaikkan harga output di pasar domestik diatas harga efisiensinya (harga dunia), dan sebaliknya kebijakan bersifat disinsentif jika NPCO < 1. Nominal Protection Coefficient on Output diperoleh dengan persamaan: NPCO = A / E.

Kebijakan Input

Transfer input (TI) adalah selisih antara biaya input yang dapat diperdagangkan pada harga privat dengan biaya yang diperdagangkan pada harga sosial. Nilai TI menunjukkan adanya kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input tradable. Jika nilai TI > 0 (positif), menunjukkan adanya transfer dari petani produsen kepada produsen input tradable, demikian juga sebaliknya. Atau dengan kata lain menunjukkan besarnya transfer (insentif) dari produsen ke pemerintah melalui penerapan kebijakan tarif impor. Input Transfer dihitung dengan rumus: TI (J) = B – F.

Nominal Protection Coefficient on Input merupakan indikator yang menunjukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap harga input domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap input jika nilai NPCI < 1, berarti ada kebijakan subsidi terhadap input tradable, dimana hal ini dapat pula menunjukkan adanya hambatan ekspor input, sehingga proses produksi dilakukan dengan menggunakan input dalam negeri. Sebaliknya jika NPCI > 1 artinya pemerintah menaikkan harga input tradable di pasar domestik diatas harga efisiensinya. Hal ini membawa implikasi sektor yang menggunakan harga input tersebut dirugikan dengan tingginya harga beli input produksi. Nominal Protection Coefficient on Input diperoleh dengan persamaan: NPCI = B / F.

Transfer faktor merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosialnya yang diterima produsen untuk pembayaran faktor- faktor produksi yang tidak diperdagangkan. Nilai FT menunjukkan adanya kebijakan pemerintah terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan input tradable. Jika nilai TF > 0 (positif), artinya terdapat transfer dari produsen kepada produsen input non tradable, atau dengan kata lain terdapat kebijakan pemerintah yang melindungi produsen faktor domestik dengan pemberian subsidi positif, demikian juga sebaliknya, jika negatif atau TF < 0 maka kebijakan lebih berpihak kepada produsen atau petani-ternak. Nilai ini dihitung dengan persamaan: FT (K) = C – G.

Kebijakan Input-Output

Koefisien proteksi efektif merupakan analisis gabungan antara koefisien proteksi output nominal dengan koefisien input nominal. Nilai EPC menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik dan merupakan tingkat transfer kebijakan dari pasar output dan input tradable. Apabila EPC > 1, berarti pemerintah menaikkan harga output dan atau input tradable di atas harga efisien. Sebaliknya bila EPC < 1 maka kebijakan tidak berjalan efektif. Indikator ini dihitung dengan

Effective Protection Coefficient = (A - B)/(E - F).

Transfer bersih merupakan selisih antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosialnya. Bila nilai L > 0 menunjukkan adanya tambahan surplus produsen yang disebabkan penerapan kebijakan pada input dan output. Sebaliknya jika L < 0 menunjukkan penurunan surplus produsen yang disebabkan oleh penerapan kebijakan input-output. Net Transfer : (L) = D – H.

Profitability Coefficient atau koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosial dan merupakan indikasi yang menunjukkan dampak insentif dari semua kebijakan. Apabila PC > 1, berarti secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen. Sebaliknya jika PC < 1, maka kebijakan pemerintah membuat keuntungan menjadi lebih kecil bila dibandingkan dengan tanpa adanya kebijakan. Nilai inidihitung dengan persamaan (PC) = D / H.

Rasio subsidi untuk produsen merupakan proporsi dari penerimaan total pada harga sosial yang diperlukan apabila subsidi digunakan sebagai satu- satunya kebijakan untuk menggantikan seluruh kebijakan komoditi dan ekonomi makro. Apabila nilai SRP negatif artinya kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya imbangannya (opprtunity cost), dan sebaliknya jika SRP positif berarti produsen mengeluarkan biaya produksi lebih kecil dari opportunity cost.

Subsidy Ratio to Producer diperoleh dengan persamaan: (SRP) = L / E. Metode Alokasi Komponen Biaya Domestik dan Asing

Dalam PAM, input yang digunakan dalam proses produksi dapat dipisahkan menjadi: (1) tradable goods dan (2) domestic factor (non tradable goods). Input kategori pertama adalah input yang dapat diperdagangkan di pasar internasional, sedangkan input kategori kedua adalah input yang tidak diperdagangkan di pasar internasional. Menurut Kadariah et al. (1978), yang disebut dengan tradable goods yaitu: (1) Barang yang sekarang di ekspor atau diimpor; (2) Bersifat pengganti yang erat hubungannya dengan jenis lain yang di ekspor atau diimpor; (3) Komoditas selain diatas dan dilindungi oleh pemerintah, yang sebenarnya dapat diperdagangkan secara internasional.

Menurut Pearson et al. (1989) ada dua pendekatan yang digunakan untuk mengalokasikan biaya kedalam komponen domestik dan asing, yaitu pendekatan total dan pendekatan langsung. Pada pendekatan total, setiap biaya dari input tradable produksi domestik dibagi ke dalam komponen biaya domestik dan asing. Pertambahan input tradable diasumsikan dipenuhi dari produk domestik. Pendekatan ini lebih tepat digunakan apabila produsen

domestik dilindungi, sehingga tambahan penawaran input tradable datang dari produsen domestik. Sedangkan pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input tradable, baik diimpor maupun produksi domestik, dinilai sebagai komponen biaya asing. Pendekatan ini dipergunakan apabila tambahan permintaan input tradable baik barang yang diimpor maupun produksi domestik dapat dipenuhi dari perdagangan internasional. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini dalam mengalokasikan biaya komponen asing (tradable) dan domestik (non tradable) adalah pendekatan total.

Dalam penelitian ini untuk setiap input dan output ditetapkan dua tingkat harga, yaitu harga pasar (harga privat atau harga aktual) dan harga bayangan (harga sosial atau harga ekonomi). Harga pasar adalah tingkat harga pasar yang diterima petani dalam penjualan hasil produksinya (hasil panen) atau tingkat harga yang dibayar dalam pembelian faktor produksi.

Perhitungan harga bayangan menurut Gittinger (1986) dapat dilakukan dengan mengeluarkan distorsi akibat adanya kebijakan pemerintah seperti subsidi, pajak, penentuan upah minimum dan lain-lain. Untuk komoditas yang

tradable, harga bayangan sapi bakalan dan output dari usaha ternak sapi didekati dengan harga CIF (Cost Insurance Freight), yaitu harga barang pelabuhan impor. Adapun cara perhitungan faktor input dan output sapi potong, yaitu:

1. Harga bayangan output

Untuk output yang sedang diimpor, harga yang digunakan adalah CIF (Cost Insurance Freight) ditambah pengeluaran transfer atau biaya tataniaga lainnya (Simatupang dan Rusastra 1990). Komoditas daging sapi merupakan salah satu output yang diimpor. Oleh karena itu, untuk menentukan harga bayangan atau harga sosial sapi digunakan harga impor sapi potong atau CIF di pelabuhan acuan yaitu pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta kemudian ditambah biaya tataniaga. Harga impor sapi potong yang dipilih berdasarkan kode HS 0102291010 asal Australia pada bulan September-Oktober 2013. Harga daging tersebut disesuaikan dengan nilai tukar bayangan Shadow Exchange Rate. Adapun biaya tataniaga diperoleh dari instansi terkait maupun informasi dari pedagang. 2. Harga bayangan lahan

Menurut Pearson et al. (2005) penentuan harga bayangan lahan dapat dilakukan melalui cara: (1) Pendapatan bersih usaha ternak atau tanaman alternatif terbaik kedua yang biasa ditanam pada lahan tersebut; (2) Nilai sewa yang berlaku di daerah setempat; (3) Nilai tanah yang hilang karena proyek, dan (4) Tidak dimasukkan dalam perhitungan sehingga keuntungan yang didapat petani merupakan return to management and land. Penelitian ini harga bayangan akan ditetapkan berdasarkan nilai pendapatan bersih alternatif kedua terbaik pada lahan tersebut. Usahatani dilahan kering yang banyak dilokasi adalah pertanaman jagung sehingga jagung dipilih sebagai usaha alternatif kedua terbaik. Pendapatan usaha tani jagung diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan Mantau et al. (2012) mengenai kajian efesiensi produksi dan daya saing usaha tani jagung di Provinsi Gorontalo.

3. Harga bayangan tenaga kerja

Pearson et al. (2005) menyatakan bahwa pasar tenaga kerja di Indonesia tidak banyak divergensi. Walaupun terdapat ketentuan upah minimum, namun hal tersebut tidak berlaku di pasar tenaga kerja pertanian sehingga tidak ada divergensi yang signifikan. Oleh karena itu, tingkat upah tenaga kerja bayangan

yang digunakan dalam penelitian ini sama dengan harga privatnya. Asumsinya tenaga kerja di desa mudah untuk keluar dan masuk dalam pasar tenaga kerja. 4. Harga bayangan sapi bakalan

Sapi bakalan merupakan input tradable dalam usaha sapi potong. Hingga kini untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, Indonesia masih melakukan impor sapi bakalan. Harga bayangan sapi bakalan dihitung menggunakan harga impor CIF yang dikonversikan ke rupiah dengan nilai tukar bayangan dan ditambah dengan biaya transportasi dan biaya tataniaga lainnya. Penentuan harga sapi bakalan berdasarkan harga impor CIF sapi bakalan asal Australia (HS 0102291090) di pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta pada bulan Maret-April 2013. Hal ini dengan asumsi secara rata-rata penggemukan sapi yang dilakukan oleh peternak selama 6 bulan (6 bulan dari waktu penjualan sapi pada September- Oktober 2013). Harga sapi bakalan selanjutnya di konversi kedalam mata uang rupiah dengan mempertimbangkan nilai tukar bayangan. Berdasarkan alokasinya, harga sapi bakalan merupakan 100% biaya domestik sebab sapi bakalan yang digemukan adalah sapi bakalan lokal yaitu Sapi Bali atau peranakan Ongole. 5. Harga bayangan pakan ternak

Hampir seluruh bahan baku penyusun konsentrat (dedak) dan juga hijauan dapat digolongkan sebagai komponen non tradable, hal ini dikarenakan kedua input tersebut tidak diperdagangkan secara internasional. Adapun harga bayangannya diasumsikan sama dengan harga pasar, dimana didekati dengan harga konsentrat (dedak) yang berlaku di daerah penelitian. Untuk harga hijauan didekati dengan harga ditingkat petani yang dihitung berdasarkan biaya produksi yang digunakan untuk menghasilkan hijauan (dihitung berdasarkan biaya tenaga kerja yang diperlukan untuk menyediakan hijauan). Alokasi biaya rumput dan dedak 100% merupakan biaya domestik.

6. Harga bayangan obat-obatan dan mineral

Obat-obatan walaupun sudah diproduksi di dalam negeri namun sebagian bahan bakunya masih diimpor. Oleh kare itu, harga bayangan untuk mineral atau obat-obatan dihitung berdasarkan harga CIF ditambah biaya tata niaga. Obat cacing dihitung berdasarkann zat aktif yang terkandung dalam obat tersebut yaitu

mebendazole atau parbendazole (HS 2933991000) setara 1 125 mg. Harga tersebut tersebut kemudian dikonversi kedalam nilai rupiah ditambah biaya pengangkutan dan penanganan. Adapun harga bayangan tepung mineral diperoleh dari harga impor CIF Calcium hydrogenothphosphate (HS 2835251000) yang dikonversi dengan nilai tukar rupiah bayangan.

Demikian pula harga bayangan vitamin B kompleks dihitung berdasarkan konversi terhadap nilai tukar bayangan pada harga CIF vitamin B1, B2, B3, B5, B6 dan B12 (HS 2936220000; HS 2936230000; HS 2936240000; HS 2936250000; HS2936260000). Berdasarkan alokasi biaya domestik dan asing, ketiga input tersebut terbagi dalam komponen domestik dan asing masing-masing sebesar 80% dan 20% (Indrayani 2011). Sementara untuk input produksi berupa garam, maka harga bayangan yang digunakan adalah harga impor garam (HS 2501009010) ditambah biaya transportasi dan penanganan.

7. Harga bayangan kandang dan peralatan

Harga bayangan kandang menurut Pearson et al. (2005) dapat dihitung dengan menggunakan Capital Cost Recovery Factor (CRCF), yang merupakan cara penghitungan yang sederhana yang memperhitungkan tingkat

bunga modal (sebagai balas jasa untuk modal atau return to capital) dan biaya penyusutan investasi (return of capital). Dalam penelitian ini sebagian besar bahan bangunan kandang dan peralatan merupakan hasil produksi domestik, maka harga bayangan kandang dan peralatan sama dengan harga privat yang dihitung berdasarkan nilai penyusutannya.

8. Harga bayangan bahan bakar minyak

Bahan bakar minyak atau bensin diperlukan peternak guna mencari rumput atau membeli input produksi usaha sapi potong. Bensin yang digunakan oleh peternak adalah jenis premium atau setara dengan bahan bakar motor dengan nilai RON 88. Saat ini Indonesia masih melakukan impor bensin, sehingga harga bayangan bensin yang digunakan adalah berdasarkan harga impor bahan bakar motor jenis RON 88 tanpa timbal (HS 2710121600) yang dikonversi dengan nilai tukar bayangan dan ditambah biaya transportasi dan penanganan.

9. Harga bayangan nilai tukar rupiah

Harga bayangan nilai tukar uang adalah harga uang domestik dalam kaitannya dengan mata uang asing yang terjadi pada pasar nilai tukar uang pada kondisi persaingan sempurna. Salah satu pendekatan untuk menghitung harga bayangan nilai tukar uang adalah harga bayangan harus berada pada tingkat keseimbangan nilai tukar uang. Keseimbangan terjadi apabila dalam pasar uang, semua pembatas dan subsidi terhadap ekspor dan impor dihilangkan Keseimbangan nilai tukar uang dapat dihitung mengunakan Standard Conversion Factor (SCF) sebagai faktor koreksi terhadap nilai tukar resmi yang berlaku. Gittinger (1986) mengemukakan formula sebagai berikut:

S O RS R

S R O RS

S Nilai barang dagang pada harga domestikNilai barang dagang pada

S X Xt Mt

t TXt Mt TMt

Dimana:

SCF = Standard Conversion Factor (faktor standar tahun ke-t) SER = Shadow Exchange Rate (nilai tukar bayangan tahun ke-t) OE = Official Exchange Rate (nilai tukar resmi pemerintah) Xt = Nilai ekspor tahun ke-t (Rp)

TXt = Pajak ekspor tahun ke-t (Rp) Mt = Nilai impor tahun ke-t (Rp) TMt = Pajak impor tahun ke-t (Rp)

Tabel 8 Harga privat dan sosial input-output usaha penggemukan sapi potong

Uraian Harga Privat Harga Bayangan (Sosial)

Harga output Harga yang diterima Peternak

Harga CIF + biaya transport

Harga bakalan Harga yang dibayar peternak Harga CIF + biaya transport

Tenaga kerja Tingkat upah yang berlaku di daerah penelitian.

Harga privat

Pakan Dedak: harga yang berlaku

Hijauan: berdasarkan upah kerja

Harga privat Harga privat

Obat-obatan Harga yang berlaku Harga CIF+biaya transport

Kandang dan Peralatan

Biaya penyusutan kandang dan peralatan

Harga privat

Lahan Sewa lahan Keuntungan usahatani

alternatif Bunga modal Rataan tertimbang tingkat bunga

simpanan, kredit KUR dan pinjaman informal di lokasi

Rataan bunga pinjaman jangka panjang

Nilai tukar Nilai tukar yang berlaku SCF

Tabel 8 merupakan tabulasi perhitungan harga privat dan sosial untuk harga output maupun input produksi sapi potong di Kabupaten Gorontalo. Tabulasi ini merupakan penyederhanaan dari pemaparan perhitungan harga privat dan sosial dari input-ouput produksi sapi potong yang disampaikan sebelumnya. Sementara alokasi komponen domestik dan asing dari biaya produksi usaha sapi potong dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Alokasi biaya produksi berdasarkan komponen asing dan domestik

Jenis biaya Komponen asing (%) Komponen domestik (%)

Sapi bakalan 0 100 Hijauan 0 100 Dedak 0 100 Mineral 80 20 Garam 50 50 Tenaga kerja 0 100 Obat-obatan 80 20 Kandang 0 100 Peralatan 0 100 BBM 50 50 Lahan 0 100

Sumber: Diadaptasi dari Indrayani ( 2011) dan Widodo (2007)

Tabel 9 menunjukan bahwa sebagian input produksi sapi potong dipenuhi dari komponen asing. Alokasi komponen asing dalam input produksi bervariasi

Dokumen terkait