METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Pengambilan Sampel Ikan
Pengambilan sampel ikan diambil dari 4 stasiun yang telah ditentukan di Sungai Asahan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat electrofishing dengan dilengkapi tanggok dan pakaian safety yang dilakukan selama 2 hari dengan 1 kali pengulangan, dimulai pada pukul 09.00-10.00 dan 13.00-14.00 WIB pada pinggiran sungai. Sampel yang didapatkan dimasukan ke dalam plastik 10 kg yang sudah diberi label sesuai nama stasiun. Setelah itu sampel yang didapatkan ditimbang berat dan diukur panjang totalnya, lalu disusun di atas wadah. Setelah itu difoto lalu dihitung dan dicatat jumlah individu yang didapatkan.
3.3.2 Identifikasi
Identifikasi sampel ikan dilakukan dengan mengukur panjang dan berat ikan.
Panjang total diukur dari ujung kepala terdepan sampai ujung sirip ekor yang paling belakang. Pada pengukuran panjang ikan menggunakan papan ukur yang diletakkan di atas alat tersebut, sedangkan untuk mengukur berat total ikan menggunakan timbangan digital.
3.3.3 Analisis Data
a. Pengukuran Panjang dan Berat Ikan
Analisis panjang dan berat bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan di alam. Untuk mencari hubungan antara panjang total ikan dengan beratnya digunakan persamaan eksponensial sebagai berikut (Effendie, 1997):
W = a Lb atau Log W = Log a + b (Log L) W = berat ikan (gr)
L = panjang total ikan (cm) a dan b = konstanta
Hubungan panjang dan berat dapat dilihat dari nilai konstanta b, yaitu bila b = 3, hubungan yang terbentuk adalah isometrik (pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan berat). Bila b≠3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik, yaitu bila b>3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik positif (pertambahan berat lebih cepat daripada pertambahan panjang). Bila b < 3, hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif (pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat) (Effendie, 1997).
b. Pengukuran Faktor Kondisi
Faktor kondisi merupakan keadaan yang menyatakan kondisi atau kemontokan ikan dalam angka. Faktor kondisi (K) dihitung berdasarkan pada panjang dan berat ikan. Jika pertumbuhan ikan bersifat isometrik, maka faktor kondisi dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Effendie, 1997):
Jika pertumbuhan bersifat allometrik maka dapat dihitung mengunakan rumus :
Dimana: Kn = Faktor kondisi
W = Berat Tubuh (gr) L = Panjang Total (mm) a dan b= Konstanta.
Ketentuan Faktor kondisi (Suwarni, 2009) :
FK 0 – <1 : ikan tergolong bentuk badan yang pipih atau tidak gemuk.
FK 1 – 3 : ikan tergolong bentuk badan kurang pipih.
3.3.4 Pengukuran Faktor Fisika-Kimia
Pengamatan dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan bersamaan dengan waktu pengambilan contoh ikan secara langsung (in situ) dan (ex situ) lanjut dilakukan di laboratorium Shafera Enviro Sumatera Utara.
Tabel 3.5 Parameter dan metode pengukuran faktor fisika-kimia.
No Parameter Satuan Alat dan Metode Tempat Analisis 1 DO (Dissolved
5 Intensitas Cahaya Candella Lux meter In-situ
6 Kecepatan Arus m/s Flowatch fl-03 In-situ
7 BOD5 mg/l Inkubasi dan
titrasi/Winkler
Ex-situ
8 Kekeruhan NTU Turbidity meter In-situ
9 Kadar Nitrat (NO3) mg/l Spektrofotometer Ex-situ 10 KadarFosfat (PO4) mg/l Spektrofotometer Ex-situ 3.3.4.1 Dissolved Oxygen (DO) (mg/l)
Pengukuran oksigen terlarut (DO) dilakukan dengan menggunakan DO meter YSI Multiprobe. DO meter dimasukkan ke dalam badan air dan dibiarkan beberapa saat, kemudian dibaca hasil yang terdapat pada skala DO meter tersebut dan dicatat hasilnya.
3.3.4.2 Potensial of Hydrogen (pH)
Pengukuran oksigen terlarut (DO) dilakukan dengan menggunakan DO meter YSI Multiprobe. DO meter dimasukkan ke dalam badan air dan dibiarkan beberapa saat, kemudian dibaca hasil yang terdapat pada skala DO meter tersebut dan dicatat hasilnya.
3.3.4.3 Temperatur (oC)
Pengukuran oksigen terlarut (DO) dilakukan dengan menggunakan DO meter YSI Multiprobe. DO meter dimasukkan ke dalam badan air dan dibiarkan beberapa saat, kemudian dibaca hasil yang terdapat pada skala DO meter tersebut dan dicatat hasilnya.
3.3.4.4 Penetrasi Cahaya (m)
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan keping sechii, dengan cara memasukkan keping sechii ke dalam badan perairan sampai keping sechii tidak terlihat, kemudian diukur panjang tali dan dicatat hasilnya.
3.3.4.5 Intensitas Cahaya (cd)
Pengukuran Intensitas cahaya dilakukan dengan menggunakan lux meter, lux meter diletakkan pada daerah dengan intensitas cahaya maksimum di setiap stasiun, dibiarkan beberapa saat dan dicatat hasilnya.
3.3.4.6 Kecepatan Arus (m/s)
Kecepatan arus diukur dengan menggunakan flowatch 03. Alat flowatch fl-03 disiapkan dan kabel alat tersebut dibentangkan pada badan sungai dan posisi tegak lurus dengan arah arus air, kemudian baling-baling pada flowatch fl-03 akan berputar dengan kecepatan putaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, lalu dicatat jumlah waktu dan jumlah kecepatan arus air yang terdapat pada skala flow meter.
3.3.4.7 Biochemical Oxygen Demand (BOD5) (mg/l)
Pengukuran BOD5 dilakukan dengan metode winkler dan inkubasi. Sampel air yang diambil dari perairan dimasukkan ke dalam botol winkler, kemudian diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20 oC. Setelah 5 hari dihitung kadar BOD5
dengan cara mengurangkan DO awal dengan DO akhir.
3.3.4.8 Kekeruhan (NTU)
Pengukuran kekeruhan dilakukan dengan menggunakan alat portable datalogging spectrophotometer diatur dari ketentuan color 120 (untuk sampel air yang tidak berwarna) yang akan menghasilkan ketentuan jenis gelombang P750 dan panjang gelombang λ= 860 nm. Kuvet yang berisi blanko (aquabidest) dimasukkan
ke dalam alat portable datalogging spectrophotometer dan ditekan tombol read, kuvet dikeluarkan dan dibilas dengan sampel uji, setelah dibilas kuvet diisi dengan sampel uji sebanyak 25 ml dan dibaca kekeruhan sampel dengan menekan tombol read. Pembacaan hasil akan dihentikan jika nilai kekeruhan konstan, setelah nilai kekeruhan konstan dicatat hasilnya.
3.3.4.9 Kadar Nitrat (NO3) (mg/l)
Sampel air diambil sebanyak 5 ml, ditambahkan 1 ml NaCl dengan pipet volum dan ditambahkan 5 ml H2SO4 75% lalu ditambahkan 4 tetes Brucine Sulfat Sulfanic Acid. Larutan yang terbentuk dipanaskan selama 25 menit, kemudian larutan tersebut didinginkan dan diukur dengan spektrofotometer pada λ= 410 nm.
3.3.4.10 Kadar Fosfat (PO4) (mg/l)
Sampel air diambil sebanyak 5 ml, ditambahkan 1 ml Amstrong Reagent dan 1 ml Ascorbic Acid. Larutan yang terbentuk dibiarkan selama 20 menit, lalu diukur dengan spektrofotometer pada λ= 880 nm, kemudian dicatat nilai yang tertera.