METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu dengan cara mendeskripsikan kondisi realitas sosial dan dianalisis secara deskriptif naratif, dan bukan data yang dapat dikuantifikasi berupa angka, baik yang dikumpulkan pada saat survey awal, selama proses penelitian, maupun hasil analisisnya.
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, 2009), metode deskriptif kualitatif berusaha mendeskripsikan fenomena alamiah, mengkaji bentuk aktivitas, karakteristik, hubungan kesamaan dan perbedaan dengan fenomena lain. Jhon W Creswell (2010) menyatakan lebih detail, bahwa metode deskripstif kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami individu, kelompok, objek, kondisi, peristiwa dari mahluk sosial dengan menggunakan teknik wawancara, studi dokumentasi, observasi, atau Focus Group Discussion (FGD).
Teknik wawancara dilakukan kepada orang-orang yang dipandang signifikan untuk dijadikan informan (responden) penelitian. Teknik studi dokumentasi digunakan apabila data yang tersedia dalam bentuk dokumen tertulis. Teknik observasi untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu dengan cara merekam dan mencatat secara terstruktur maupun semi terstruktur kemudian mengorganisasikannya ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dari data yang terkumpul. Teknik FGD digunakan untuk menyempurnakan data dari hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap data penting (utama) agar lebih terfokus dan memperoleh tanggapan, klarifikasi, konfirmasi agar hasilnya lebih objektif dan akurat.
Penelitian kualitatif mengacu kepada pendapat Borgdan & Biklen (2002) memiliki lima ciri yang membedakan dengan penelitian kuantitatif, yaitu: (1) latar alamiah tanpa dimanipulasi dan direkayasa, (2) instrument adalah peniliti sendiri, (3) menggunakan metode kualitatif, (4) menggunakan analisis induktif, dan (5) menggunakan teknik deskriptif naratif kualitatif.
Ciri pertama, latar penelitian ini bersifat alamiah, yang berada pada satu konteks utuh secara alami, tanpa rekayasa, dan tidak dapat difahami jika dipisahkan dari konteksnya. Menurut Lincoln & Guba yang dikutip oleh Moleong (1995:4), latar alamiah menjadi salah satu ciri penelitian kualitatif didasarkan kepada beberapa asumsi: (1) Tindakan pengamatan memengaruhi pemahaman terhadap konteks. Oleh karena itu, peneliti dituntut mampu memosisikan diri untuk memahami konteks alami tersebut; (2) Konteks kemungkinan saling memengaruhi terhadap konteks lain. Oleh karena itu, peneliti dituntut mampu menetapkan apakah suatu penemuan memiliki kaitan dengan konteks lainnya atau apakah suatu penemuan relevan dengan fokus penelitian; (3) Sebagian struktur nilai kontekstual biasanya bersifat determinatif terhadap apa yang akan dicari. Oleh karena itu, peneliti dituntut memiliki kecerdasan memahami nilai-nilai kontekstual yang terjadi sehingga tidak bias dalam memandang fenomena sosial.
Latar alamiah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah situasi sosial yang terjadi di pondok pesantren Al-Mizan Majalengka.
Dalam pelaksanaan di lapangan, peneliti melakukan observasi intensif mengamati kegiatan keseharian santeri, menyelenggarakan focus group discussion (FGD) dengan santeri, para ustadz/ustadzah, dan pengurus Yayasan, setiap minggu selama dua bulan dari mulai September sampai awal November 2019. Meskipun demikian, banyak kekurangan yang dapat dideskripsikan disebabkan beberapa hal: (1) Latar alamiah itu sangat dinamis, kompleks, tidak sederhana seperti latar di laboratorium, di mana setiap peneliti melakukan observasi di lokasi, akan menemui hal yang baru, berubah, berbeda, berkembang, dan tidak dapat diprediksi, sehingga dalam mendeskripsikan hasil penelitian lapangan terus menerus mengalami perubahan, perbaikan, penyempurnaan; (2) Berhubung latar alamiah itu dinamis, maka hasil yang dideskripsikan oleh peneliti akan berbeda dengan peneliti lainnya; (3) Mengamati latar alamiah yang dinamis akan menghasilkan deskripsi yang subjektif, karena tergantung kepada focus, kepekaan, atensi, persepsi, motif, dan tujuan peneliti dalam mendeskripsikan realitas situasi sosial; (4) Mengamati latar alamiah harus dilakukan oleh peneliti sendiri, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain; (5) Mengobservasi dan mengumpulkan data dari latar alamiah membutuhkan ketelitian, kesungguhan, seni, metodologi humanis, dan pendekatan emic-etic, apalagi pada lingkungan masyarakat dalam kultur yang masih “tradisional”; (6) Mengamati latar alamiah membutuhkan waktu lebih lama agar hasilnya maksimal.
Ciri kedua, peniliti sebagai instrumen. Dalam hal ini peneliti berperan menjadi alat pengumpul data utama yang secara langsung terlibat dalam penelitian. Peneliti sebagai instrumen dituntut mampu memahami kaitan antara berbagai situasi dinamis yang terjadi di lapangan. Peneliti tidak menggunakan bantuan lain selain tim peneliti, baik dalam melakukan observasi, wawancara, maupun FGD.
Ciri ketiga, metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Menurut Moleong (1995:5), metode kualitatif memiliki beberapa kelebihan: (1) fleksibel dan lebih mudah menyesuaikan dengan kenyataan di masyarakat yang kompleks, (2) mampu menunjukkan hubungan real antara peneliti dan responden, (3) dapat menyesuaikan diri dengan perubahan pola nilai yang dihadapi di masyarakat, (4) mudah melakukan penajaman pada beberapa hal yang terkait sesuai dengan kenyataan yang dinamis dan selalu berubah setiap saat.
Dengan metode kualitatif, peneliti leluasa mendeskripsikan secara detail data yang diperoleh di lapangan, meskipun sangat melelahkan, namun dengan harapan dapat memetakan lebih detail situasi dan keadaan di lapangan agar lebih memudahkan mengidentifikasi langkah-langkah pengembangan bagi para pihak di masyarakat, sesuai dengan problematika yang muncul.
Ciri keempat, analisis data menggunakan analisis induktif. Teknik ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu: (1) hasil penelitian ini lebih akurat dan aktual karena data yang diperoleh benar-benar ditemukan di lapangan atau berdasarkan dokumen yang menggambarkan kondisi real di lapangan, (2) hasil penelitian bersifat kontekstual karena menyangkut data kekinian dan terjadi di sini, (3) hasil penelitian data lebih aplikatif untuk bahan mengambil kebijakan. Berdasarkan kelebihan tersebut, penelitian ini mampu menyajikan data secara aktual karena peneliti langsung berhadapan dengan responden dan terlibat di lapangan. Hasil penelitian dapat diambil sebagai bahan kebijakan oleh pihak yang berkepentingan dalam menginspirasi penerapan Pendidikan Multikultural di pondok pesantren.
Ciri kelima, penelitian ini menggunakan teknik deskriptif. Teknik deskriptif adalah berusaha mendeskripsikan kondisi apa adanya secara alamiah, tanpa merakaya dan memanipulasi. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan keadaan real di lapangan. Teknik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini dapat dianggap teknik yang sederhana, terutama oleh para peneliti kuantitatif, meskipun dalam praktiknya teknik deskriptif kualitatif sangat memberatkan, karena tidak dapat digantikan oleh orang lain selain harus oleh tim peneliti itu sendiri sebagai instrumen,
tidak dapat dibantu oleh pengolah data program komputer karena bukan berupa angka, sehingga yang menjadi otaknya adalah kepala peneliti itu sendiri dengan instrumen yang dinamis, yang melakukan pengumpulan data di lapangan mengandalkan kaki peneliti itu sendiri, dan yang menyusun deskripsi hasil penelitian adalah tangan dan otak peneliti itu sendiri.