MEMPERBAIKI KONDISI BIOKIMIA DAN FISIK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di
kecamatan Kerumutan Kabupaten Pelalawan bekerjasama dengan Perusahaan perkebunan kelapa sawit, dengan menggunakan metode survei, data sekunder diperoleh dari perusahaan dan dari kajian literatur. Data yang diperoleh pada kegiatan konservasi tanah dan air, laporan bulanan perkebunan, spesifikasi rorak, pemupukan organik, tandan kosong dan abu boiler pada kebun. Pengamatan dilakukan dengan mengadakan survei pada blok yang diberi perlakuan konservasi tanah dan air. Survei dilaksanakan pada blok afdeling yang diberlakukan berbagai teknik konservasi.
3. HASIL PENELITIAN
3.1. Konservasi Tanah
3.1.1 Pupuk Organik Tandan Kosong Kelapa Sawit
Penerapan metode konservasi ini menggunakan tandan kosong kelapa sawit, setiap tandan kosong mengandung unsur N, P, K, dan Mg. Penerapan metode ini efektif dilaksanakan pada daerah dengan topografi bergelombang sampai berbukit. Aplikasi
tandan kosong kelapa sawit sebagai mulsa berpengaruh terhadap produksi TBS kelapa sawit seperti dari Gambar 1. Aplikasi TKKS 40 dan 60 ton/ha/tahun sebagai mulsa dapat meningkatkan produksi secara berturut-turut
11% dan 13% dibandingkan dengan
pemupukan standard (Panjaitan, 2013).
Gambar 1. TKKS sebagai pupuk organik
Penguraian bahan organik dapat berlangsung pada kelembapan lingkungan yaitu antara 50-60 %. Pertumbuhan mikroba membutuhkan nitrogen dan jika nisbah C/N dalam limbah terlalu besar berarti N tidak mencukupi dan mikroba akan menggunakan cadangan N yang tersapat dalam tanah dan tanah tempat pembuangan akan mengalami defisiensi N. jika nisbah C/N bernilai sekitar 20 akan terjadi pengomposan limbah atas kekurangan limbah sendiri tanpa mengganggu keseimbangan cadangan nitrogen setempat, pengomposan harus dikerjakan dengan nisbah antara 15-20 (Mangunsukarja dan Semangun, 2005). Dalam setiap 1 ton Tandan Kosong sawit mengandung unsur hara yang setara dengan 3 Kg Urea, 0,6 kg RP, 12 kg MOP dan 2 kg kiserit (Moradi et al., 2012).
Tandan kosong kelapa sawit terbukti lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan tiga praktik konservasi tanah yang direkomendasikan lainnya: ECO, pelepah kelapa sawit yang ditebang, dan lumpur dalam meningkatkan hampir semua sifat kimia tanah yang diukur dan status nutrisi daun kelapa sawit (Pakpahan et al., 2013). Ditunjukkan dari Tabel 1.
Pemberian kompos TKKS
meningkatkan jumlah daun pada bibit kelapa sawit (Darmosarkoro dan Winarna, 2001). Satu ton tandan kosong kelapa sawit mengandung 3 Kg urea, 0,6 kg RP, 12 Kg MoP, dan 2 Kg kiserit (Xu dan Zhang, 2004).
Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 509
Tabel 1. Jumlah Total Nutrisi yang Diperoleh Dari Berbagai Residu Kelapa Sawit Setelah 8 Dari Dekomposisi (Pakpahan et al., 2013)
Nutrisi (Kg m-2 ground)
Limbah kelapa sawit Pelepah TKKS Ecomat C N P K Ca Mg 1.730 0.030 0.002 0.041 2.128 0.002 4.990 0.070 0.006 0.215 1.675 0.010 1.350 0.010 0.001 0.031 0.306 0.001 3.1.2 Pembuatan Rorak Organik
Rorak organik tepat digunakan pada tekstur tanah berpasir tinggi, rorak yang dibuat diisi dengan tandan kosong kelapa sawit, pelepah daun, dan pupuk kandang (Gambar 2). Memberikan manfaat pada perkebunan kelapa sawit karena dapat meningkatkan pH tanah, meningkatkan kapasitas tukar ion (KTK), memperbaiki struktur tanah, mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan serapan hara.
Gambar 2. Aplikasi rorak organik
Sistem dengan tumpukan Tanah dan guludan atau gundukan cocok diterapkan pada tanah yang datar untuk konservasi tanah dan air (Murtilaksono et al., 2004), pengaruhnya tergambar pada Tabel 2.
Tabel 2. Total Produksi Kelapa Sawit Periode Januari 2016 - August 2017 (Simangunsong, 2011)
Aplikasi atau perlakuan rorak berpengaruh paling baik terhadap produksi TBS per blok atau per hektar (18,37 ton/ha)
dibandingkan perlakuan guludan (17,51 ton/ha), dan perlakukan guludan masih berpengaruh lebih baik dari pada tanpa aplikasi konservasi tanah dan air atau kontrol (16,65 ton/ha). Aplikasi guludan memberikan hasil tertinggi berat rataan TBS per tandan (RBT) (22,46 kg) dibandingkan dengan perlakuan rorak (21,45 kg) dan terendah tanpa perlakuan (21,17 kg) (Simangunsong, 2011).
3.1.3 Aplikasi Pupuk Kandang
Metode konservasi ini diterapkan pada tanah berpasir, pupuk kandang yang diaplikasikan adalah kotoran ayam yang komposisinya 0,5% N, 0,25% P2O5, 0,5% K2O, aplikasi ini sebanyak 20 Kg tiap unit rorak untuk SPH 142 pokok/ha, maka dibutuhkan pupuk kandang 2,8 ton/ha (Gambar 3).
Gambar 3. Aplikasi pupuk kandang.
Hasil aplikasi ini bermanfaat
meningkatkan pasokan hara tanah,
memperbaiki sifat fisik tanah, sebagai bahan perekat antar partikel tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air, (Setyamidjaja, 2006), digambarkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Nutrisi Rata-Rata Dari Beberapa Jenis Pupuk Kandang (Simangunsong, 2011) Blok (Perlakuan) TBS (Kg/ha/thn) Jumlah Tandan Rata-rata berat Janjang Tumpkan tanah 25.343,18 31.72 21.30 Kontrol 22.677,38 30.09 20.10 Rorak Organik 24.251,97 31.40 20.60 Pupuk Kandang Kandungan Nutrisi N P K Ca Kg/ton Sapi Kambing Domba Babi Ayam 5 8 10 9 15 2 7 7 3 5 5 15 15 6 6 3 8 17 12 23
Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 510
3.1.4 Penanaman Tanaman Penutup Tanah
Penanaman penutup tanah dapat melindungi tanah dari erosi permukaan baik yang disebabkan oleh run-off maupun titik-titik air hujan. Penutupan tanah juga dapat
mengurangi evaporasi dan menjaga
kelembaban tanah. Jenis tanaman penutup tanah yang diaplikasikan di kebun berbeda antara lokasi TBM dan TM. Pada lokasi TBM, penutup tanah yang ditanam adalah Mucuna sp., sedangkan pada lokasi TM penutup tanah yang ditanam adalah Neprolephis biserrata.
Tanaman Neprolephis yang ditanam di lokasi TM dapat tumbuh dan menyebar dengan cepat. Pertumbuhan Neprolephis ini harus dibatasi agar tidak melewati bahkan menutupi piringan pohon karena dapat mengganggu proses panen serta pemupukan. Neprolephis yang terlalu lebat juga akan mengakibatkan persaingan unsur hara terhadap pokok kelapa sawit.
Gambar 4. Penanaman tanaman penutup
Tabel 4. Laju Pertumbuhan Tanaman Penutup yang Dibudidayakan dan tidak dibudidayakan (Astianto,2012)
Tanaman Neprolephis ini juga bermanfaat sebagai tanaman inang musuh alami ulat api yaitu Sycanus sp. Serangga predator ulat api ini sering meletakkan
telurnya pada daun Neprolephis (Tabel 4). Jenis-jenis tanaman kacangan penutup tanah yang umum ditanam di perkebunan kelapa sawit adalah Calopogonium caeruleum, Calopogonium mucunoides, Pueraria javanica, Pueraria phaseoloides, Centrocema pubescens, Psophocarphus palustries, dan Mucuna cochinchinensis (Astianto,2012).
Pemanfaatan abu boiler pada tanaman di lahan gambut dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktifitas tanaman, memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah gambut tanpa menunjukkan pencemaran lingkungan.
Abu boiler adalah limbah padat pabrik kelapa sawit hasil dari sisa pembakaran cangkang dan serat di dalam mesin boiler. Pada umumnya setiap pabrik kelapa sawit tidak memanfaatkan limbah padat ini, Abu boiler banyak mengandung unsur hara yang sangat bermanfaat dan dapat diaplikasikan pada tanaman sawit sebagai pupuk tambahan atau pengganti pupuk anorganik (Gambar 5).
Gambar 5. Aplikasi abu boiler
Unsur hara yang terkandung dalam abu boiler adalah N 0,74%, P2O5 0,84%, K2O 2,07%, Mg 0,62%. Peningkatan dosis abu boiler yang diberikan pada tanaman kelapa sawit menunjukan pengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman, pertambahan diameter bonggol, pertambahan jumlah daun, berat kering tanaman dan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter volume akar (Pamhudi dan Hermawan, 2010).
3.1.6 Pembuatan Tapak Timbun
Pembuatan tapak timbun bertujuan untuk menaikkan permukaan tanah pada piringan kelapa sawit. Tapak timbun diaplikasikan pada piringan kelapa sawit yang
Perlakuan
Pupuk
Umur Tanaman Pertumbu han per Tahun Tanaman Penutup 2 Tahun 3 Tahun Serelium Ye No 16,8 16,7 32,6 32,5 15,8 15,8 Legumes Ye No 14,8 15,1 28,6 28,5 13,8 13,4 P. conjugatu m Ye No 16,5 16,0 23,4 21,5 6,9 5,5
Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 511 mengalami penurunan tanah (sering terjadi
pada tanah gambut) sehingga akar terbuka. Diaplikasikan ke perkebunan kelapa sawit seperti Gambar 6.
Gambar 6. Pembuatan tapak timbun
Tapak timbun dibuat dengan jari-jari dua meter dari pangkal batang kelapa sawit. Produksi kelapa sawit berhubungan erat dengan kemiringan lahan, kadar air tanah, serta kandungan pasir dan debu di dalam tanah. Berat tandan buah segar (TBS) kepala sawit menurun masing-masing 0,4 dan 0,7 kg untuk setiap kenaikan 1% kemiringan lahan dan 1% kandungan pasir di dalam tanah. Sebaliknya berat TBS meningkat masing-masing 4,2 dan 0,9 kg untuk setiap kenaikan 1% kadar air tanah pada kondisi kering angin dan 1% kandungan debu di dalam tanah (Erfandi, 2013).
Akar yang terbuka tidak dapat menyerap unsur hara pada tanah. Selain pada penurunan tanah, tapak timbun juga diaplikasikan pada kondisi piringan yang tergenang air. Kondisi piringan yang tergenang akan mempersulit proses panen serta pemupukan. Selain itu, genangan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan akar tanaman kelapa sawit busuk sehingga menghambat pertumbuhan serta mengurangi produksi kelapa sawit.
3.2. Konservasi Air
Keseimbangan air dengan nilai < 0 mm menunjukkan adanya defisit air, sedangkan keseimbangan air dengan nilai > 0 mm menunjukkan tidak adanya defisit air. Jika keseimbangan air dalam perhitungan tersebut > 200 mm, maka kelebihan air akan disimpan sebagai cadangan awal dalam tanah untuk bulan berikutnya.
Tanaman kelapa sawit ditinjau dari kebutuhan airnya dapat tumbuh baik pada
lahan dengan curah hujan yang cukup ( 1750 - 3000 mm/tahun) dengan penyebaran hujan yang merata sepanjang tahun dan tidak mengalami bulan kering (curah hujan < 60 mm). Pada pengamatan secara umum di perkebunan kelapa sawit, pertumbuhan dan produksi tanaman akan mulai terpengaruh jika mengalami defisit air di atas 200 mm. Keadaan tanah yang bervariasi di dalam
afdeling serta perbedaannya dalam
kemampuan menangkap air menyebabkan beberapa perlakuan yang dibutuhkan untuk menjaga ketinggian dan ketersedian air tersebut (Setyamidjaja, 2006).
3.2.1 Aplikasi Tandan Buah Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai Mulsa
Aplikasi tandan kosong kelapa sawit sebagai mulsa dapat memperbaiki struktur tanah dan penyediaan unsur hara (Gambar 7).
Gambar 7. TKKS sebagai mulsa
Pupuk tandan kosong kelapa sawit menjamin agar air tetap tersedia bagi tanaman dan tidak segera turun ke lapisan bawah tanah. Ketersediaan air tersebut untuk melarutkan unsur-unsur hara yang pada mulanya tidak tersedia bagi tanaman. Bahan-bahan organiknya juga memperkecil laju pencucian (leaching), mencegah terjadinya kompaksi (pemadatan) tanah, sehingga pri-pori tanah tersedia dalam jumlah mencukupi.
Penerapan metode ini memberikan manfaat dapat menekan pemakaian pupuk kimia sintetis, menekan laju kecepatan air dan butir tanah yang hanyut pada proses aliran permukaan (Run-off), kelembaban di sekitar
tandan kosong memicu pertumbuhan
perakaran sekunder dan tersier. Keistimewaan metode ini tandan kosong mampu menyerap dan menahan air karena mengandung serat dengan komposisi 45,95% selulosa, 16,49%
Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 512 lignin, dan 22,84% hemi selulosa (Xu dan
Zhang, 2004).
3.2.2 Rorak Tadah Hujan
Rorak tadah hujan (RTH) bermanfaat untuk menampung air hujan serta air aliran permukaan (run-off) agar air tidak mengalir keluar blok dan terbuang begitu saja (Gambar 8). Pembuatan rorak bertujuan untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi. Pada lahan kering beriklim kering, rorak berfungsi sebagai tempat pemanen air hujan dan aliran permukaan. RTH memiliki ukuran 3x0,8x0,8 meter (Setyamidjaja, 2006).
Gambar 8. Pembuatan rorak tadah hujan
Rorak dibuat pada gawangan mati kelapa sawit dan untuk satu unit rorak mewakili empat pokok kelapa sawit. Pada areal datar, galian rorak dibuat sejajar dengan barisan tanaman, sedangkan pada areal miring galian rorak dibuat tegak lurus arah lereng atau sejajar kontur. Galian rorak diposisikan agar dapat memanen air yang mengalir di permukaan serta menampung serasah organik pada top soil agar tidak terbawa keluar oleh erosi. Pada blok yang melakukan pemupukan secara mekanis, posisi rorak harus disesuaikan agar tidak mengganggu jalur alat penebar pupuk (spreader) tersebut (Marni, 2009).
3.2.3 Aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit ke Perkebunan
Limbah cair merupakan pupuk bagi tanaman, selain mengurangi biaya pengolahan limbah cair sekaligus sebagai kolam
anaerobik primer (Gambar 9). Aplikasi limbah cair mampu meningkatkan produksi TBS 16-60% dan menghemat biaya pemupukan. Limbah cair tidak menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap kualitas air tanah di areal aplikasi. Kualifikasi limbah cair yang digunakan mempunyai kandungan BOD 3.500–5.000 mg/l yang berasal dari kolam anaerobik primer.
Gambar 9. Aplikasih limbah cair dari pabrik kelapa sawit
Pembangunan instalasi aplikasi limbah cair membutuhkan biaya yang relatif mahal. Namun investasi ini diikuti dengan peningkatan produksi TBS dan penghematan biaya pupuk sehingga penerimaan juga meningkat. Aplikasi limbah cair 12,6 mm ECH/ha/bulan dapat menghemat biaya pemupukan hingga 46%/ha. Di samping itu, aplikasi limbah cair juga akan mengurangi biaya pengolahan limbah. Limbah cair pabrik kelapa sawit telah banyak digunakan di perkebunan kelapa sawit baik perkebunan
negara maupun perkebunan swasta.
Penggunaan limbah cair mampu
meningkatkan produksi TBS 16-60%. Limbah cair tidak menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap kualitas air tanah di sekitar areal aplikasinya (Eric, 2008).
3. 3 Produktivitas TBS setelah Aplikasi Konservasi Tanah dan Air
Produksi TBS di PT. SLS setiap tahunnya terus mengalami peningkatan selama 5 tahun terkhir (2013-2017) yang dapat dilihat pada Tabel 5.
Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 513
Tabel 5. Produksi TBS Tahun 2013-2017
No Tahun Produksi TBS Produksi (Ton) Jumlah TBS BJS (Kg/Tandan) 1 2 3 4 5 2013 2014 2015 2016 2017 71.289,00 75.768,00 76.694,00 84.585,63 89.512,03 3.165,14 3.622,90 3.627,48 4.264,15 4.721,91 17,3 18,6 19,0 21,0 21.2 Produksi TBS di PT.SLS terus mengalami peningkatan, Hal ini disebabkan oleh inovasi kegiatan konservasi yang dilakukan di perkebunan kelapa sawit, termasuk perawatan yang intensif. Kegiatan konservasi yang berbagai macam tekhnik yang dilakukan sangat menguntungkan bagi tanaman karena disesuaikan dengan jenis tanah, kondisi topografi, iklim dan nutrisi yang tersedia. Berdasarkan Tabel 6. Setiap tahunnya produksi TBS terus mengalami peningkatan. Dari hasil observasi juga diperoleh data bahwa lamanya masa hidup tanaman kelapa sawit juga diakibatkan oleh kegiatan konservasi yang dilakukan.
4. KESIMPULAN
Aplikasi berbagai tekhnik konserrvasi tanah dan air mampu memperbaiki kondisi biokimiafisik perkebunan kelapa sawit dengan manfaat yang saling terintegrasi. Aplikasi dengan teknik konservasi tanah dapat meningkatkan jumlah produksi TBS kepala sawit, memperbaiki struktur tanah dan penyediaan unsur hara, meningkatkan jumlah daun dan pelepah, meningkatkan pH tanah, kapasitas tukar ion, mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan serapan hara, serta memperbaiki sifat fisik tanah. Aplikasi dengan tekhnik konservasi air juga mengambil manfaat dari aplikasi tekhnik konservasi tanah, mengikatkan kemampuan menahan air, melindungi tanah dari erosi, mengurangi evaporasi, menjaga kelembaban,
mengurangi genangan air, menjaga
ketersediaan air tanah, menjaga air supaya tidak langsung masuk ke lapisan tanah bagian bawah, memperkecil pencucian bahan organik, menyerap dan menahan air serta tidak merusak lingkungan.