BAB I. PENDAHULUAN
1.4. Metode Penelitian Penyusunan Naskah Akademik
Metode yang dipergunakan dalam melakukan identifikasi masalah dan analisis manfaat dan konsekuensi terkait penyusunan Naskah Akademik adalah metode ROCCIPI. Melalui Pendekatan normatif yang berupa pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konsep (Conceptual approach).Serta melakukan pengkajian-pengkajian empirik, sebagaimana yang terjadi
21 di lapangan. Penggunaan Metode ROCCIPI dalam penyusunan naskah akademik ini, dapat dilihat melalui beberapa langkah, yakni :
- Rule : Peraturan - Opportunity : Kesempatan - Capacity : Kemampuan - Communication : Komunikasi - Interest : Kepentingan - Process : Proses
- Idiology : Perilaku – sistim nilai.
berfungsi secara normatif untuk melakukan identifikasi yang tepat baik terhadap Pejabat-Pejabat Pemerintahan Kabupaten Jembrana yang terkait (Implementing Agency), dalam hal penggunaan wewenang maupun tugas yang diemban. Fungsi lainnya dari pendekatan ini adalah untuk melakukan pengamatan empirik guna memperkuat argumentasi dalam Naskah Akademik sebagai justifkasi konseptual dan yuridis. Fungsi metode ROCCIPI dalam pengkajian ini dipergunakan untuk mengidentifikasi urgensi Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan Kabupaten Jembrana.
Selain pendekatan ROCCIPI penelitian tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan Kabupaten Jembrana akan menggunakan pendekatan normatif yang berkaitan dengan cara-cara untuk memberikan jastifikasi teoritik dan konseptual melalui telaahan-telaahan kepustakaan. Justifikasi semacam ini juga menggunakan pendekatan peraturan perudang-undagan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) dalam menciptakan harmonisasi dan
22 sinkronisasi peraturan perundangan-undangan yang berkaitan dengan Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan Kabupaten Jembrana.
23 BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
A. KAJIAN TEORITIS
Pada bagian kajian teoritis ini akan mengedepankan beberapa teori, konsep dan asas sebagai jastifikasi teoritis perlunya pengaturan tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan. Adapun teori, konsep dan asas diuraikan sebagai berikut :
2.1. Teori Perundang-undangan
A. Hamid S. Attamimi8 mengatakan teori perundang-undangan berorientasi pada menjelaskan dan menjernihkan pemahaman dan bersifat kognitif. Pemikiran ini menekankan pada memahami hal-hal yang mendasar. Oleh sebab itu dalam membuat peraturan daerah, harus dipahami dahulu kharakter norma dan fungsi peraturan daerah tersebut. Peraturan daerah merupakan peraturan perundang-undangan. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menentukan bahwa Peraturan Perundang-undangan adalah peraturantertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.
Eksistensi peraturan daerah implementasi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar NRI 1945, yang menggunakan frasa “dibagi atas”, lebih lanjut diatur sebagai berikut :
8 A. Hamid S. Attamimi dalam H. Rosjidi Ranggawidjaja, 1998, Pengantar Ilmu Perundang-Undangan Indonesia, Penerbit CV Mandar Maju, Bandung, h. 14-15.
24 Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan aerah, yang diatur dengan undang-undang.
Frasa dibagi atas ini menunjukkan bahwa kekuasaan negara terdistribusi ke daerah-daerah, sehingga memberikan kekuasaan kepada daerah untuk mengatur rumah tangganya.Karenanya hal ini menunjukkan pemerintah daerah memiliki fungsi regeling (mengatur).Dengan fungsi tersebut, dilihat dari sudut pandang “asas legalitas” (tindak tanduk pemerintah berdasarkan hukum) memperlihatkan adanya kewenangan pemerintah daerah untuk membentuk peraturan daerah. Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan undangan, mengartikan Peraturan Daerah Kabupaten adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten dengan persetujuan bersama Bupati.
Jimly Asshidiqqie mengatakan peraturan tertulis dalam bentuk ”statutory laws” atau ”statutory legislations” dapat dibedakan antara yang utama (primary legislations) dan yang sekunder (secondary legislations). Menurutnya primary legislations juga disebut sebagai legislative acts, sedangkan secondary dikenal dengan istilah ”executive acts”, delegated legislations atau subordinate legislations.9 Peraturan daerah merupakan karakter dari legislative acts, sama halnya dengan undang-undang. Oleh sebab itu hanya peraturan daerah dan undang-undang saja yang dapat memuat sanksi.
9 Jimly Asshidiqqie, 2011, Perihal Undang-Undang, Cetakan Ke II, RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 10
25 2.2. Teori Penjenjangan Norma
Teori penjenjangan norma (Stufenbau des rechts), menurut Hans Kelsen10 bahwa norma-norma hukum itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki tata susunan, dimana suatu norma yang lebih rendah berlaku, bersumber, dan berdasar pada norma yang lebih tinggi, norma yang lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi, demikian seterusnya sampai pada norma yang tidak dapat ditelusuri lebih lanjut dan bersifat hipotesis dan fiktif, yaitu norma dasar (Grundnorm).
Selain Hans Kelsen, Hans Nawiasky juga mengklasifikasikan norma hukum negara dalam 4 (empat) kategori pokok, yaitu Staatsfundamentalnorms (Norma fundamental negara), Staatsgrundgesetz (aturan dasar/pokok negara), Formell Gesetz (undang-undang formal) dan Verordnung & Autonoe Satzung (Aturan pelaksana dan Aturan otonom).11
Sistem peraturan perundang-undangan di Indonesia dipengaruhi oleh pemikiran Hans Kelsen, khususnya pada Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang menentukan:
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Kabupaten; dan
10 Maria Farida Indrati Soeprapto, 1998, Ilmu Perundang-undangan, Penerbit Kanisius, Jogjakarta, h.25
11 Hamid Attamimi, 1990, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara (Suatu Studi Analis: Keputusan Presiden Yang Berfungsi Peraturan Dalam Kurun Waktu Pelita I – Pelita V, Disertasi PPS Universitas Indonesia, h. 287
26 g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Pengaturan demikian menunjukkan peraturan dibawah tidak boleh bertentangan dengan yang lebih tinggi atau dengan kata lain peraturan dibawah bersumber pada aturan yang lebih tinggi. Melihat ketentuan diatas Peraturan Daerah Kabupaten pada huruf g, sehingga pembentukannya harus mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagaimana tercantum pada huruf a sampai dengan f.
2.3. Konsep Negara Hukum
Indonesia yang merupakan negara hukum, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar NRI 1945, mengedepankan hak asasi manusia sebagai salah satu elemen penting, selain eksistensi peraturan perundang-undangan.
Dalam sistem hukum Eropa Kontinental (Civil Law) dan Anglo Saxon (Common Law), memiliki unsur yang sama, yakni perlindungan hak asasi manusia (HAM). Oleh sebab itu, pengakuan akan “negara hukum” dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945 perlu dikaitkan dengan Pasal 28 I ayat (5) Undang-Undang Dasar NRI 1945, yang menentukan :
Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundangan-undangan.
Secara teori, pemikiran “negara hukum” Eropa Kontinental dimulai oleh pemikiran Imanuel Kant, kemudian dikembangkan oleh J.F Stahl.Pemikiran negara hukum tersebut, dipengaruhi oleh pemikiran Ekonom Adam Smith saat itu. Julius Friedrich Stahl, mengemukakan 4 unsur sebagai ciri negara hukum, yakni :
1. Tindakan pemerintah berdasarkan Undang-undang (Legalitas)
27 2. Perlindungan HAM,
3. Pemisahan Kekuasaan,
4. Adanya peradilan administrasi12.
Ciri-ciri negara hukum yang dikemukakan oleh Friedrich Julius Stahl dalam menguraikan “Konsep Negara Hukum” (Rechtstaat), yang berbeda dengan konsep negara hukum Anglo Saxonyakni TheRule of Law.Secara Konseptual “the rule of law”Dalam Dictionary of Law, diartikanprinciple of government that all persons and bodies and the government itself are equal before and answerable to the law and that no person shall be punished without trial.13 Kemudian oleh A.V Dicey yang mengemukakan mengenai unsur-unsur konsep TheRule of law, yakni;
(1) supremacy of law, (2) equality before the law,
(3) the constitution based on individual rights.14
Terlepas perkembangan pemikiran negara hukum sudah banyak berkembang, dengan berbagai gagasan-gagasannya.Akan tetapi yang menarik dalam 2 (dua) sistem hukum tersebut adalah perlindungan HAM.Bagi negara Indonesia yang menganut pola kodifikasi maka jaminan pemenuhan, penegakan, perlindungan HAM harus dijamin dalam peraturan perundang-undangan.Hal ini sesuai dengan Pasal 28 I ayat (5) Undang-Undang Dasar NRI 1945.
Pemikiran negara hukum ini menjadi jastifikasi teoritis dalam pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan
12 Moh. Mahfud MD, 1993, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, Liberty, Jogjakarta, h.28
13 PH. Collin, 2004, Dictionary of Law, Fourth Edition, Bloomsbury Publishing Plc, London.
P.266
14 A.V Dicey, 1987, Introduction To The Study Of The Law Of The Constitution, Fifth edition, London, Macmillan And Co., Limited New York: The Macmillan Company, p. 179-187
28 Perpustakaan.Dikarenakan eksistensi peraturan daerah ini akan menjamin, dan melindungi hak asasi manusia warga negara dalam memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia (vide Pasal 28F UUD NRI 1945) di Kabupaten Jembrana. Berkenaan dengan asas legalitas dalam negara hukum “rechtstaat”, maka bentuk perlindungan itu harus diatur dalam instrument hukum di daerah berupa Peraturan Daerah. Dengan demikian adanya legitimasi hukum bagi pemerintah daerah dalam melakukan upaya Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan yang lebih baik.
2.4. Konsep Perpustakaan
Perpustakaan sekolah adalah suatu unit kerja dari sebuah lembaga persekolahan yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka penunjang proses pendidikan, yang diatur secara sistematis, untuk digunakan secara berkesinambungan sebagai sumber informasi untuk mengembangkan dan memperdalam pengetahuan, baik oleh pendidik maupun yang dididik di sekolah tersebut.15
Batasan perpustakaan ialah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurt tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Dalam pengertian buku dan terbitan lainnya termasuk di dalamnya sebuah bahan cetak (buku, majalah, laporan, pamflet, prosiding, manuskrip (naskah), lembaran musik, berbagai karya media audiovisual seperti film ,
15 Ibrahim Bafadar, 2009, Op.Cit, h. 4
29 slaid, piringan hitam, bentuk mikro seperti mikrofilm, mikrofis, dan kiroburam (microopaque).16
Di dalam pepustakaan terdapat kegiatan-kegiatan pokok pengadaan bahan koleksi, pengolahan bahan koleksi, pelayanan sirkulasi, pelayanan referensi, dan pelayananan administrasi, yang selanjutnya dapat dipahami lebih lanjut sebagai berikut:17
a. Pengadaan bahan koleksi
Kegiatan pengadaan bahan koleksi adalah kegiatan mengadakan bahan koleksi untuk dijadikan koleksi perpustakaan yang dilakukan pula dengan berbagai macam kegiatan, seperti kegiatan pemilihan bahan koleksi, kegiatan pelaksanaan pengadaan bahan koleksi, mengumpulkan bahan koleksi yang diperoleh, memberi identitas pada setiap bahan koleksi, mencatat/menginvemtaris setiap bahan koleksi, menyimpan secara teratur semua berkas-berkas bukti perolehan bahan koleksi, mengumpulkan alat-alat informasi yang dapat digunakan untuk keperluan memilih bahan-bahan koleksi, mempertanggungjawabkan pengeluaran uang yang telah digunakan untuk keperluan pembelian bahan koleksi, membuat laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dala rangka melaksanakan kegiatan pengadaan bahan koleksi.
b. Pengolahan bahan koleksi
Kegiatan pengolahan bahan koleksi ialah kegiatan mempersiapkan bahan koleksi yang telah diperoleh, agar dengan mudah dapat diatur ditempat-tempat atau rak-rak penyimpanan sehingga memudahkan pula untuk dilayankan kepada para pemakai koleksi perpustakaan. Kegiatan pengolahan bahan koleksi tersebut juga dilakukan dengan berbagai macam kegiatan, seperti klasifikasi, katalogisasi, pelabelan, penyimpanan dan penyusunan koleksi (shelving), penyimpanan dan penyusunan kartu katalog (filing), melakukan perbaikan setiap koleksibuku/pustaka yang memerlukan perbaikan, melakukan kegiatan pengaweta buku/pustaka, membuat laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan-yang telah dilakukan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengolahan bahan pustaka.
c. Pelayanan Sirkulasi
Kegiatan pelayanan sirkulasi ialah kegiatan melayankan koleksi pepustakaan kepada para pemakai (pengunjung) dengan berbagai macam kegiatan pula, seperti, membuat peraturan mengenai pemakaian/peminjaman koleksi, membuat
16 Sulistyo Basuki, 1991 Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,h. 8.
17 Sumardji P, 1993, Perpustakaan Organisasi dan Tatakerjanya, Yogyakarta: Kanisius, h. 23.
30 pengumuman tentang pendaftaran anggota perpustakaan (pemakai fasilitas perpustakaan), melakukan pendaftaran peminat yang akan menjadi anggota perpustaaan, memproses kartu-kartu keanggotaan perpustakaan, melayani peminjaman koleksi sirkulasi, menyimpan dengan teratur dan sistematis semua kartu yang bersangkutan dengan pelayanan peminjaman koleksi pustaka tersebut, melakukan penagihan kepada para anggota perpustakaan yang belum mengembalikan pinjamannya, menarik denda terhadap para anggota perpustakaan yang terlambat mengembalikan buku, mencatat dengan tertib dan teratur semua pemasukan uang pendaftaran anggota perpustakaan maupun uang denda keterlamabatan pengembalian buku, melayani permintaan “Surat Bebas Pinjam Pustaka (SPBB)”, dan membuat laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan.
d. Pelayanan Referensi
Kegiatan pelayanan referensi ialah kegiatan melayankan koleksi perpustakaan, terutama koleksi pustaka acuan (buku referensi) atau koleksi yang tidak boleh dibawa pulang oleh anggota perpustakaan dengan berbagai macam kegiatan pula, seperti melayani para anggota perpustakaan yang memerlukan koleksi pustaka acuan/referensi, melayani perminataan foto kopi yang diajukan oleh para anggota perpustakaan, melayani perminataan penelusuran informasi yang diajukan oleh para anggota perpustakaan, melakukan penyimpanan dan pengaturan kembali (reshelving) koleksi pustaka acuan yang telah dibaca, serta membuat laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanankan.
e. Pelayanan administrasi (umum)
Kegiatan pelayanan administrasi (umum) ialah kegiatan menunjang (perbantuan) kepada semua kegiatan yang dilakukan di dalam perpustakaan, dengan berbagai macam kegiatan pula, seperti melakukan kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang bersangkutab dengan pelayanan permintaan/penyediaan barang, melakukan kegiatan melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan dengan urusan keuangan, melakukan kegiatan melaksanakan pekerjan yang bersangkutan dengan urusan personalia, melakukan kegiatan melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan dengan urusan ketatausahaan (kearsipan) perpustakaan, melakukan kegiatan melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan dengan pelayanan umum, melakukan kegiatan melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan dengan pembuatan laporan secara tertulis secara enyeluruhmengenai perpustaaan.
31 Adapun aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengelolaan pada perpustakaan yang baik menurut Ibrahim Bafadal yaitu dengan cara-cara sebagai berikut:18
1) Pengelolaan Koleksi Bahan Pustaka
Pengelola perpustakaan mengadakan koleksi bahan pustaka sesuai dengan dana yang ada. Dalam mengoreksi/ membeli buku tersebut hendaknya diperhatikan kaitannya dengan mata pelajaran yang diajarkan disekolah serta disesuaikan dengan tingkatan intelegensi anak didik tersebut.
2) Pengelolaan Bahan Pustaka
Pengelohan bahan pustaka adalah kegiatan yang berkenaan dengan koleksi bahan pustaka tiba di perpustakaan sampai tersusun di rak dan siap dipergunakan oleh murid dan guru.
3) Inventarisasi
Inventarisasi adalah pencatatan koleksi bahan pustaka sebagai bukti bahwa bahan pustaka tersebut sudah menjadi hak milik perpustakaan.
4) Klasifikasi
Mengklasifikasi buku-buku perpustakaan baik perpustakaan umum atau perpustakaan sekolah, baik baik di perpustakaan yang sederhana ataupun di perpustakaan yang sudah maju sangatlah penting ini bertujuan untuk mempermudah murid atau mengguna perpustakaan yang lain untuk mendapatkan atau menemukan buku-buku yang diinginkan.
5) Pembuatan Katalog
Katalogisasi adalah pendaftaran judul-judul buku menjadi katalog, penyusunan judul-judul buku atau kepustakaan dalam daftar.Daftar ini disusun sedemikian rupa sehingga orang dapat dengan cepat dan mudah menemuka buku yang dicari dan katalogisasi bertujuan untuk mempermudah pencarian buku pustaka yang diinginkan sebelum mencari keruangan tempat buku itu disimpan.Dari katalog itu kita mengetahui dimana letak buku beserta kodenya serta ruangan dimana tempat buku itu disimpan sehingga penemuan buku dapat berjalan dengan cepat tanpa harus memilah-milah dan memakan waktu yang lama.
6) Pemeliharaan Koleksi Perpustakaan
Pemeliharaan ialah kegiatan atau tindakan melindungi koleksi, perabot, dan perlengkapan perpustakaan dari bahaya kemusnahan. Koleksi perpustakaan sekolah adalah kumpulan sumber informasi dalam berbagai bentuk yang telah dipilih sesuai dengan tujuan program pendidikan sekolah yang bersangkutan, mencakup dan menunjang semua bidang studi, memberikan pengetahuan umum yang sesuai dengan tingkat kecerdasan, kemampuan baca dan perkembangan jiwa murid dan tuntutan profesi guru.
7) Pembinaan Koleksi Perpustakaan
18 Ibrahim Bafadar, Op.Cit, h. 51-58.
32 Koleksi perpustakaan sekolah seharusnya selalu tumbuh selaras dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.Tidak saja koleksi itu harus selalu ditambah, tetapi juga harus dijaga agar koleksi itu selalu yang mutakhir.
8) Sirkulasi Bahan Pustaka
Sirkulasi bahan pustaka meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. a) Kegiatan pencatatan pada pemijaman bahan pustaka
harus diadakan pencatatan / registrasi dari anggota perpustakaan. Untuk calon anggota harus mendaftar dan bersedia memenuhi syarat-syarat sebagai tanda pernyataan menjadi anggota baru perpustakaan. Setelah itu ia diberi kartu anggota dan berhak menggunakan fasilitas dan meminjaman buku yang ia inginkan.
2. b) Pelayanan peminjaman bahan pustaka.
9) Organisasi Personil
Agar pelaksanaan atau kegiatan dalam perpustakaan itu dapat berjalan dengan lancar, baik dan teratur untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka tenaga pelaksanaan bertanggung jawab sepenuhnya.Petugas perpustakaan merupakan salah satu sarana pokok didalam menentukan keberhasilan perpustakaan.Betapapun baik dan penuhnya lengkap sarana perpustakaan yang lainnya apabila tidak diikuti dengan kualitas dan kuantitas.petugas akan mempengaruhi optimalisasi pelayanan perpustakaan.
10) Perlengkapan Perpustakaan Sekolah
Untuk mendukung fungsi dan tujuan perpustakaan agar dapat optimal dibutuhkan perlengkapan perpustakaan sekolah seperti : Buku inventaris koleksi buku, buku inventaris koleksi bukan buku, kartu inventaris surat kabar, kartu inventaris majalah, cap inventaris, cap perpustakaan, bantalan cap, buku klasifikasi, kartu catalog, mesin tulis, kertas label, selotip, formulir kartu buku, formulir lembaran tanggal kembali, kantong kartu buku, lem, lembaran indeks, kartu petunjuk, formulir bon permintaan pinjam dan formulir pemilihan koleksi.
11) Administrasi Perpustakaan Sekolah
Kegiatan administrasi perpustakaan adalah kegiatan pencatatan buku-buku pustaka kedalam buku induk perpustakaan sampai buku tersebut siap dipinjam.Dalam hal ini pun, kegiatan administrasi perpustakaan merupakan kegiatan administrasi, dalam arti ketatausahaan. Kegiatan ini meliputi : menghimpun, mengelola, mengadakan, mengirim dan menyimpan.
12) Menerapkan denda
Bagi anggota perpustakaan yang terlambat mengembalikan buku atau lalai sehingga menyebabkan buku yang dipinjamnya hilang atau hancur dan sebagainya dikenakan denda sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
13) Menetapkan Peraturan dan Tatatertib Peminjaman dan Pengembalian Buku.
Agar keamanan dan kenyamanan anggota perpustakaan tetap terjaga dan anggota perpustakaan sama-sama merasa bertanggung jawab terhadap kelangsungan pengelolaan perpustakaan
33 Secara terinci, manfaat perpustakaan sekolah, baik yang di- selenggarakan di sekolah dasar, maupun di sekolah menengah adalah sebagai berikut:19
1) Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid-- murid terhadap membaca.
2) Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar murid-murid.
3) Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya murid-murid mampu belajar mandiri.
4) Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca 5) Perpustakaan sekolah dapat membantu perkembangan ke- cakapan berbahasa.
6) Perpustakaan sekolah dapat melatih murid-murid ke arah tanggung jawab 7) Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid-murid dalam menyelesaikan
tugas-tugas sekolah
8) Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran
9) Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru- guru, dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berdasarkan fungsinya, Perpustakaan sekolah mempunyai empat fungsi umum yaitu:20
1) Fungsi edukatif
Keseluruhan fasilitas dan sarana yang ada pada perpustakaan sekolah, terutama koleksi yang dikelolanya banyak membantu para siswa sekolah untuk belajar dan memperoleh kemampuan dasar dalam mentransfer konsep – konsep pengetahuan
2) Fungsi informatif
Mengupayakan penyediaan koleksi perpustakaan yang bersifat ”memberi tahu”
akan hal – hal yang berhubungan dengan kepentingan para siswa dan guru 3) Fungsi rekreasi
Sebagai pelengkap untuk memenuhi kebutuhan sebagian anggota masyarakat sekolah akan hiburan intelektual
4) Fungsi riset atau penelitian
Koleksi perpustakaan sekolah bisa dijadikan bahan untuk membantu dilakukannya kegiatan penelitian sederhana.
Berdasarkan uraian-uraian ini, maka kebijakan penyelenggaraan dan pengelolaan Perpustakaan di Kabupaten Jembrana, menjadikan perpustakaan sebagai fungsi edukatif, informatif, rekreasi dan riset atau penelitian.
19 Ibrahim Bafadar, Op.Cit, h. 5.
20 ibid, h. 4.
34 2.5. Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
Secara yuridis Asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan dituangkan dalam Pasal 5 Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, meliputi:
a. kejelasan tujuan;
b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;
c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;
d. dapat dilaksanakan;
e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
f. kejelasan rumusan; dan g. keterbukaan.
Yang dimaksud “asas kejelasan tujuan” adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.Asas kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat, bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-Undangan yang berwenang.Peraturan Perundang-Undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga negara atau pejabat yang tidak berwenang.
Kemudian “asas kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan”
adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat sesuai dengan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-Undangan.“Asas dapat dilaksanakan” adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan harus memperhitungkan efektivitas Peraturan Perundang-Undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridis.
35 Selanjutnya yang dimaksud dengan “asas kedayagunaan dan kehasilgunaan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-Undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Yang dimaksud dengan
“asas kejelasan rumusan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-Undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-Undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. “Asas keterbukaan” adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan,
“asas kejelasan rumusan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-Undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-Undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. “Asas keterbukaan” adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan,