• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian (Sumber Data dan Pengumpulan)

Dalam dokumen HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis (Halaman 37-42)

BAB I PENDAHULUAN

H. Metode Penelitian (Sumber Data dan Pengumpulan)

Dalam menjawab rumusan pertanyaan penelitian ini, saya menggunakan metode kualitatif. Saya berusaha menemukan dan menggali data yang didorong rasa ingin tahu seperti diungkapkan pada bagian sebelumnya. Secara konkret, saya Misi Madurai adalah upaya yang cukup berani dari para Jesuit untuk mendirikan sebuah Gereja Katolik India yang bebas dari kultur budaya Eropa. Karena itu de Brito belajar bahasa setempat, sedapat mungkin hidup sebagai Brahmana dan menyesuaikan penginjilannya dengan cara berpikir orang India.

31

Corinne Dempsey and Selva Raj (eds.), 2002, “Transgressing Boundaries, Transcending Turner: The Pilgrimage Tradition at the Shrine of St John de Britto, dalam Popular Christianity in India: Riting Between the Lines, SUNY Press, hlm. 85-111.

23 melakukan observasi partisipatif, wawancara dengan perwakilan pihak keluarga atau pengelola, para peziarah maupun beberapa pinisepuh dan pemuka masyarakat yang ada di sekitar Puri Brata. Selain itu, saya menggunakan sumber tertulis yang berisi kesaksian-kesaksian dari para penulis tentang konteks berikut situasi awal tentang Puri Brata.

Melalui observasi partisipatif, saya melakukan pertemuan dengan pengelola Puri Brata, menggabungkan diri untuk mengikuti perjalanan bersama serombongan peziarah, mengikuti ritual yang ada di Puri Brata; misalnya pemijatan, Perayaan Ekaristi, prosesi penyembuhan dan makan bersama (kembul bojana) yang dilangsungkan setelah upacara ibadat serta kunjungan ke beberapa penduduk yang ada di sekitar Puri Brata.

Dengan memosisikan diri seperti ini, saya mencoba memahami seting tempat, peristiwa dan situasi empirik untuk mengumpulkan permasalahan secara tuntas. Saya merekam dan mencatat secara maksimal untuk memahami tindakan, reaksi dan konstruk yang ada di sekitar Puri Brata.

Status saya yang dididik sejak kecil dalam tradisi Gereja Katolik menjadikan saya menempatkan diri sebagai native ethnographer karena dua hal. Pertama, saya adalah orang Jawa Katolik yang dalam beberapa hal kerap mengadakan peziarahan di berbagai tempat. Kedua, saya adalah seseorang yang pegawai di lingkungan Bimas Katolik. Dengan alasan tersebut, saya merasa perlu menjaga subjektivitas supaya tetap menjadi “orang luar yang berada di dalam” atau “the outsider within”. Dalam setiap perjumpaan dengan responden pun, saya mencoba “menyembunyikan” identitas sebagai sosok yang aktif dalam karya kegerejaan dan berkarya di lingkungan lembaga kekatolikan. Saya memosisikan

24 demikian supaya wawancara tidak jatuh pada hierarkis kegerejaan dan terseret pada wilayah teologis.32

Subjek dalam penelitian ini adalah Puri Brata, suatu tempat ziarah atau tetirah yang relatif baru. Puri Brata dikelola oleh trah keluarga dan terletak di daerah Gadingharjo, Kecamatan Sanden. Dalam perkembangan tradisi ziaarah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Puri Brata juga menjadi salah satu rute ziarah yang dikunjungi oleh umat Katolik ketika mereka melakukan perjalanan dari Sendangsono ke Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. Mereka datang ke Puri Brata untuk mengikuti Perayaan Ekaristi dan ritual penyembuhan. Sebagai tempat ziarah, Puri Brata menempatkan simbol air dalam sebagai bagian dari ritus ziarahnya dan perolehan berkat, antara lain kesembuhan, tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi bagi umat beragama lain.

I. Skema Penulisan

Dalam penelitian ini penulis mengkonstruksi pembahasan ke dalam 5 (lima) bab yang terdiri dari;

Bab I: Pendahuluan.

Bab I menyajikan latar belakang dan beberapa informasi tentang fenomena tempat ziarah Puri Brata, Sanden. Dalam bab ini juga ada beberapa sub bab yang akan mengantarkan pada serangkaian alur rencana penelititan seperti rumusan masalah, tujuan penelitian, pentingnya penelitian, tinjauan pustaka dan kerangka teoritis,

32

Bdk. Saukko, Paula., 2003, Doing Research in Cultural Studies: An Introduction to Classical and New Methodological Approaches.” London, Thousand Oaks and New Delhi: Sage Publications, hlm. 57.

25 metode penelitian (sumber data dan pengumpulan), pengolahan data, dan skema penulisan.

Bab II: Ziarah dalam Tradisi Agama-Agama

Bab ini akan memaparkan fenomena ziarah dalam berbagai tradisi agama-agama. Paparan akan difokuskan pada tiga aspek dalam ziarah, yakni ruang, ritus dan pelaku. Kajian aspek-aspek ini menjadi bingkai umum untuk menempatkan simbol-simbol yang muncul dalam ziarah Puri Brata. Dari pendekatan dalam bab II akan mengarah pada simbol dalam ritus ziarah di Puri Brata. Bab II menjadi bagian untuk menunjukkan ruang pertama dan ruang kedua sebagai bagian dari oposisi biner.

Bab III: Pembentukan dan Pengembangan Ziarah Puri Brata

Bab ini akan memaparkan pembentukan dan pengembangan ziarah Puri Brata. Bagian pertama ingin memberikan gambaran situasi geografis, sistem bahasa, agama dan mitos yang hidup di wilayah Puri Brata. Bagian kedua mengulas tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dan menjadi tonggak awal dan perkembangan ziarah Puri Brata. Bagian ketiga akan bicara tentang ruang, ritus dan pelaku sebagai unsur pembentuk dan pengembang dalam ziarah Puri Brata. Ketiga bagian ini akan diolah penulis dengan cara observasi, pengamatan, maupun wawancara. Melalui cara tersebut diharapkan mendapatkan data deskriptif dari subjek penelitian.

26 Bab ini akan menyajikan analisa atas terbentuknya Puri Brata sebagai tempat ziarah yang hibrid. Kajian akan memusat pada upaya untuk melihat dan menemukan bagaimana realitas hibrid muncul di Puri Brata, terutama pada ruang, ritus dan pelaku. Dengan demikian, gagasan-gagasan yang ada pada bab-bab sebelumnya menjadi pegangan dan pendasaran. Bab ini secara khusus juga akan menyampaikan hibriditas Puri Brata sebagai temuan strategis untuk mempertahankan keberadaannya sebagai tempat ziarah sekaligus sebagai persilangan budaya.

Bab V: Penutup

Bab ini berisi ringkasan masing-masing bab dan kesimpulan. Bagian kesimpulan akan memuat antara lain tentang pentingnya penelitian ini bagi penulis dan pengembangan kajian religi dan budaya, secara khusus dalam menyorot fenomena ziarah. Dalam bab ini pula, pemikiran Bhabha tentang hibriditas dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk menerobos wilayah agama dan masuk dalam wilayah yang lebih luas, dalam konteks lintas ilmu.

27 BAB II

Ziarah dalam Tradisi Agama-agama

Kau tak perlu mendaki gunung untuk tahu tingginya33

Dalam dokumen HIBRIDITAS PEZIARAHAN PURI BRATA. Tesis (Halaman 37-42)

Dokumen terkait