• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi, populasi dan Sampel Penelitian

Lokasi penelitian adalah Desa Pulosari dan Desa Warnasari Kecamatan

Pangalengan yang termasuk dalam wilayah kerja BKPH Pangalengan, KPH Bandung Selatan, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. KPH Bandung Selatan

membawahi 4 Resort Pemangkuan Hutan (RPH), namun hanya 3 RPH yang melakukan usaha agroforestri, yaitu: RPH Pangalengan, RPH Kancana, dan RPH Wayang Windu.

Lokasi tersebut dipilih dengan pertimbangan di wilayah kecamatan tersebut terdapat Kelompok Tani Hutan (KTH) yang melakukan usaha agroforestri tanaman

kopi secara mandiri sebagai sumber matapencahariannya, di mana kegiatan PSDHBM yang telah dilaksanakan oleh KTH tersebut telah berhasil membantu

Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten khususnya KPH Bandung Selatan dalam usahanya di bidang pengelolaan sumber daya hutan berdasarkan azas manfaat dan lestari, yang diarahkan dalam bentuk manajemen sumberdaya yang lestari dan mengarahkan hutan sebagai penunjang pembangunan daerah.

Kegiatan agroforestri dapat meningkatkan daya saing produk di pasar global, karena perhatian terhadap kelestarian lingkungan merupakan salah satu butir penting

yang dipersyaratkan oleh konsumen global terhadap produk -produk hayati.

Berdasarkan informasi yang ada, keberhasilan PSDHBM tersebut tidak terlepas dari peranan LMDH dan koperasi yang bertindak selaku mitra petani

agroforestri dan perusahaan (Perum Perhutani). Oleh karena itu, Desa Pulosari dan

Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan yang masuk dalam wilayah kerja BKPH Pangalengan, KPH Bandung Selatan sangat representatif untuk dijadikan sebagai lokasi penelitian dan dinilai sesuai/cocok dengan tujuan penelitian.

Pengumpulan data dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Pulosari dan Kantor Kepala Desa Warnasari, dimulai dengan pengumpulan data sekunder dan dilanjutkan

dengan pengumpulan data primer.

Populasi penelitian adalah seluruh petani yang melakukan usaha agroforestri

tanaman kopi di kedua desa tersebut, yaitu sebanyak 363 orang petani agroforestri dari Desa Pulosari dan 241 orang petani agroforestri dari Desa Warnasari. Peneliti menggunakan sample purposif (nonprobabilitas) dari kelompok petani yang melakukan usaha agroforestri tanaman kopi. Frey et al. (Mulyana, 2003: 182)

menyatakan bahwa untuk mendapatkan responden dapat dilakukan dengan mewawancarai orang yang sudah dikenal untuk kemudian meminta rujukan mengenai siapa lagi orang yang mempunyai pengalaman atau karakteristik serupa, demikian

seterusnya. Prosesnya seperti bola salju (snowball), sampai memperoleh jumlah subyek yang memadai. Oleh karena itu, sampling dilakukan secara terpilih

(purposive sampling) terhadap petani yang melakukan usaha agroforestri tanaman kopi, baik usaha tersebut merupakan matapencaharian utamanya maupun merupakan matapencaharian sampingan (tambahan), di mana data mengenai petani yang melakukan usaha agroforestri tanaman kopi dapat diperoleh di kantor LMDH

setempat, karena semua petani yang melakukan usaha agroforestri tanaman kopi terdaftar sebagai anggota LMDH.

40

Diasumsikan bahwa populasinya homogen dengan sebaran normal, maka

diambil sejumlah responden secara proporsional dari kedua desa tersebut, yaitu: dari Desa Pulosari sebanyak 11 % x 363 orang = 40 orang dan dari Desa warnasari sebanyak 11 % x 241 orang = 27 orang, sehingga jumlah responden seluruhnya adalah 67 orang petani agroforestri tanaman kopi (n = 67).

Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif – korelasional. Penelitian deskriptif adalah

penelitian yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan – keadaan nyata sekarang (Sevilla dkk., 1993). Keadaan nyata sekarang adalah kemandirian petani dalam melakukan usaha agroforestri tanaman kopi serta hubungan antara beberapa peubah terpilih dari faktor internal dan faktor eksternal dengan kemandirian

petani dalam melakukan usaha agroforestri tanaman kopi.

Pengolahan data dilakukan dengan menganalisis kemungkinan hubungan antar peubah – peubah penelitian, sehingga berdasarkan jenisnya penelitian juga

dapat dikategorikan sebagai penelitian korelasi (correlational study). Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kuantitaif dan

kualitatif dalam upaya untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya melalui pengamatan langsung di lokasi penelitian, ditunjang dengan data-data sekunder dan wawancara mendalam (in depth interview).

Wawancara mendalam atau disebut juga wawancara tak terstruktur hampir

menyerupai percakapan informal, yang ditujukan untuk memperoleh bentuk-bentuk informasi dari semua responden, tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan

dengan ciri-ciri setiap responden. Wawancara mendalam ini bersifat luwes, susunan

kata-kata dan pertanyaan dapat diubah pada saat wawancara, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi saat wawancara, termasuk karakteristik sosial-budaya (agama, gender, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan) responden yang dihadapi (Mulyana, 2003: 180 – 181).

Guna mendapatkan hasil yang optimal, peneliti mendatangi dan melakukan

pengamatan langsung di lokasi penelitian tempat berlangsungnya kegiatan agroforestri tanaman kopi. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam (in depth

interview) kepada sejumlah tokoh kunci dan petani yang melakukan usaha agroforestri tanaman kopi di sela-sela waktu istirahat mereka atau dengan memanfaatkan diskusi dalam pertemuan-pertemuan atau kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH), ditunjang dengan studi kepustakaan

untuk menemukan tingkat kemandirian petani dalam melakukan usaha agroforestri tanaman kopi serta usaha-usaha lain di luar pertanian yang dapat memberikan peningkatan pendapatan petani sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani

dan keluarganya.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, kemudian dilakukan pengecekan

ulang (crosscheck) dan hasilnya dicatat untuk selanjutnya dianalisis. Hasil analisis diharapkan merupakan informasi yang valid sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan.

42

Data dan Instrumentasi Data

Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari: umur responden, tingkat pendidikan (formal dan/atau non formal), pengalaman berusaha agroforestri tanaman kopi, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan garapan, motivasi berusaha agroforestri (intrinsik dan/atau ekstrinsik), pendapatan petani, ketersediaan informasi

agroforestri, ketersediaan sarana produksi, interaksi dengan lembaga keuangan, interaksi dengan lembaga pemasaran, interaksi dengan lembaga penyuluhan, interaksi

dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan/atau koperasi, pengaruh tokoh masyarakat, tingkat manfaat program PSDHBM, kemandirian petani dalam proses perencanaan, kemandirian petani dalam manajemen permodalan, kemandirian petani dalam proses produksi, kemandirian petani dalam pemasaran hasil produksi,

dan kemandirian petani dalam menjalin dan menentukan pola kemitraannya.

Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh melalui penelusuran pustaka dan dokumen, antara lain: Buku Potensi Desa Pulosari dan desa warnasari Tahun 2005,

data-data yang terkait dengan pelaksanaan agroforestri tanaman kopi di kantor LMDH, kantor koperasi dan kantor BKPH Pangalengan maupun kantor Perum

Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, kebijakan-kebijakan pemerintah baik lokal maupun nasional terkait dengan pelaksanaan agroforestri, dan hasil- hasil penelitian serta informasi- informasi lain yang relevan.

Uraian lengkap mengenai data penelitian berupa definisi operasional,

indikator dan cara pengukuran disajikan pada Lampiran 1. Definisi operasional diperlukan untuk memberikan batasan atau arti suatu peubah dengan memerinci

hal-hal yang harus dilakukan untuk mengukur peubah yang digunakan dalam penelitian

(Kerlinger, 1993).

Data penelitian merupakan data nominal dan ordinal, kecuali data tentang umur, pendidikan formal dan non formal, pengalaman berusaha agroforestri, pendapatan petani, jumlah tanggungan keluarga, dan luas lahan garapan, merupakan data skala rasio (selang).

Data dikelompokkan ke dalam tiga kategori untuk penyajian hasil penelitian, yaitu: rendah, sedang, dan tinggi, berdasarkan nilai tengah (µ) dan simpangan baku

(sd). Kategori rendah untuk data yang nilainya lebih rendah dari nilai tengah data dikurangi simpangan baku (x < µ - sd). Kategori sedang untuk selang data antara nilai tengah dikurangi simpangan baku dengan nilai tengah ditambah simpangan baku (µ - sd < x < µ + sd). Kategori tinggi untuk data yang nilainya lebih tinggi dari nilai

tengah ditambah simpangan baku (x > µ + sd).

Instrumentasi

Instrumen penelitian berupa kuisioner (Lampiran 2) yang berisi seperangkat pertanyaan yang dijabarkan dari peubah-peubah penelitian. Agar data yang diperoleh

dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, instrumen penelitian telah diuji terlebih dahulu baik validitas maupun reliabilitasnya.

Validitas

Menurut Singarimbun dan Effendi (1995), validit as menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Validitas dapat

44

digolongkan dalam beberapa jenis, yakni: validitas konstruk, validitas isi, validitas

prediktif, validitas eksternal, dan validitas rupa. Kerlinger (1993) menyatakan bahwa validitas yang terpenting dari sudut pandang riset ilmiah adalah validitas konstruk. Langkah – langkah yang dilakukan adalah: menyesuaikan daftar pertanyaan dengan esensi kerangka konsep yang diperoleh dalam kajian pustaka, terutama tentang peubah dan indikator – indikator yang diteliti; konsultasi dengan pembimbing dan

pihak lain yang dianggap memiliki kompetensi tentang materi dan alat ukur, serta uji coba instrumen.

Campbell (Kerlinger, 1993) membedakan validitas atas validitas internal dan eksternal. Beberapa aspek di dalam validitas internal berkaitan dengan kriteria suatu desain penelitian, antara lain: (1) Apakah desain penelitian tersebut dapat menjawab pertanyaan penelitian? Atau : Apakah desain penelitian tersebut cukup memadai

untuk menguji hipotesis penelitian? (2) Adanya kontrol/kendali terhadap peubah bebas, baik peubah bebas yang dilibatkan dalam penelitian maupun peubah terikat ekstra (peubah yang mungkin dapat mempengaruhi peubah bebas, namun bukan

merupakan bagian dari kajian yang kita lakukan). “Apakah desain penelitian dapat mengontrol peubah bebas secara memadai?” (3) Dapatkah kita membuat generalisasi

dari hasil- hasil suatu kajian sehingga berlaku untuk subyek-subyek lain, kelompok-kelompok lain, dan kondisi-kondisi lain? Jadi, berapa banyak kita dapat mengge-neralisasikan hasil- hasil studi/kajian kita ?

Validitas internal menyangkut persoalan tentang suatu desain yang

sedemikian rupa keadaannya sehingga kita sangat meragukan atau sama sekali tidak yakin akan relasinya (misalnya berdasarkan petunjuk dari perbedaan nyata antar

kalompok-kelompok eksperimen. Sedangkan validitas eksternal, merupakan kriteria

yang sangat sulit dipenuhi karena menyangkut kerepresentatifan atau kemungkinan generalisasi. Bila suatu eksperimen telah dilaksanakan dan suatu relasi telah ditemukan, untuk populasi-populasi apa saja relasi yang ditemukan tersebut dapat digeneralisasikan. Oleh karena itu perlu dipertanyakan kerepresentatifan kajian sehubungan dengan peubah dan ekologi yang terlibat di dalamnya. Apakah

peubah-peubah penelitian tersebut representatif.

Oleh karena itu, Campbell dan Stanley (Kerlinger, 1993) menegaskan bahwa

validitas internal merupakan syarat mutlak dalam desain penelitian yang harus senantiasa terkandung, namun desain penelitian yang ideal haruslah kuat dalam hal validitas internal maupun eksternalnya, walaupun keduanya sering kontradiktif.

Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan sampai sejauhmana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih. Reliabilitas adalah indeks

yang menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur dalam

mengukur gejala yang sama (Singarimbun dan Effendi, 1995). Sebelum pengumpulan data dan pelaksanaan penelitian, dilakukan uji reliabilitas kuesioner pada sepuluh orang calon responden penelitian. Koefisien reliabilitas dihitung menggunakan rumus Cronbach-alpha:

46

k Vi α = 1 -

k - 1 Vt

keterangan:

α = koefisien reliabilitas alat ukur; K = banyaknya butir pertanyaan; Vi = varian butir pertanyaan; V1 = variasi total

Penghitungan nilai koefisien reliabilitas dilakukan dengan memanfaatkan

perangkat lunak program komputer SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Hasil uji reliabilitas uji coba angket menunjukkan bahwa nilai koefisien reliabilitas (α) instrumen uji coba adalah sebesar 0,7970. Nilai tersebut berada di atas angka kritik taraf 1 % (0,765), maka pernyataan-pernyataan dalam daftar kuisioner adalah signifikan (Singarimbun dan Effendi, 1995: 139).

Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari: data primer dan data sekunder. Data

primer dikumpulkan dengan menggunakan instrumen kuisioner dan wawancara mendalam (in depth interview) serta observasi lapangan untuk mendapatkan

penjelasan kualitatif dari data kuantitaif yang diperoleh.

Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran pustaka dan dokumen,

antara lain: Buku Potensi Desa Pulosari dan Desa Warnasari Tahun 2005, data-data yang terdapat di Kantor BKPH Pangalengan maupun di Kantor Perum Perhutani Unit

III Jawa Barat dan Banten, data-data milik LMDH dan/atau koperasi, hasil- hasil penelitian dan informasi- informasi lain yang relevan.

Analisis Data

Data yang terkumpul ditabulasikan dalam bentuk tabel frekwensi, dan dikelompokkan ke dalam tiga kategori berdasarkan nilai tengah (µ) dan simpangan baku (sd). Data tersebut kemudian diuji dengan menggunakan uji statistik non – parametrik, yaitu uji Korelasi Rank – Spearman untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kemandirian petani dalam melakukan usaha agroforestri tanaman

kopi dengan beberapa peubah terpilih dari faktor internal maupun dari faktor eksternal.

Sugiyono (2001) menyatakan bahwa Korelasi Rank – Spearman dapat digunakan untuk mencari hubungan atau untuk melakukan uji nyata terhadap hipotesis asosiatif bila masing- masing peubah yang dihubungkan berbentuk ordinal, dan sumber data antar peubah tidak harus sama. Rumus untuk menghitung besarnya

korelasi adalah:

keterangan:

? = koefisien korelasi 1 dan 6 = konstanta

di = selisih peringkat data ke – i

n = jumlah data

Koefisien korelasi Rank – Spearman antar peubah dihitung dengan memanfaatkan perangkat lunak komputer program statistik SPSS (Satistical Package for The Social Sciences).

6 ∑ di2

ρ = 1 – n ( n2 – 1 )

Dokumen terkait