Penanaman gandum dilaksanakan di Kelurahan Oenak, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara. Pengamatan secara mikroskopis dilakukan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan Maret 2014 sampai Maret 2015.
Bahan dan Metode
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: tiga varietas gandum yakni varietas Dewata, varietas Nias dan varietas Selayar, alkohol 70%, media PDA (Potato Dextrose Agar), WA (Water Agar) dan buku identifikasi Putterill (1954), Parmeter (1970), Robert (1999), Toda (2007) dan Manamgoda et al. (2014).
Percobaan Lapangan
Persiapan areal penanaman. Pelaksanaan penelitian diawali dengan persiapan lahan. Tanah dicangkul sedalam 25-30 cm, diikuti dengan penggemburan tanah agar bongkahan tanah menjadi butiran yang lebih halus. Setelah digembur dibuat bedengan atau petak dengan luas 3 x 4 m, di antara bedengan atau petak dibuat selokan selebar 50 cm dan sedalam 25 cm. Lahan penelitian dibagi menjadi 4 blok dan setiap blok terdiri dari 3 petak, jumlah keseluruhan petak dalam penelitian ini adalah 12 petak. Jarak antar petak 0.5 m dan jarak antar blok 2 m.
Penanaman. Penanaman dilakukan secara langsung, benih yang terseleksi ditempatkan pada lubang tanam secara tugal, jumlah 2 butir benih per lubang tanam. Jarak tanam 25 x 10 cm, setiap petak terdapat 12 larikan dan juga terdapat 480 lubang tanam. Benih yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3 varietas yang tersedia yakni varietas Dewata, Nias dan varietas Selayar, merupakan varietas yang terseleksi dan beradaptasi di daerah tropis.
Pemeliharaan. Pemupukan dilakukan dengan cara dialur antar barisan tanaman (5-7 cm). Pupuk pertama diberikan saat 10 hari setelah tanam (hst) dengan dosis 50% N/ha, 100% P2O5/ha. Pemupukan ke-2 diberikan saat 30 hst dengan dosis 50% N/ha. Penyiangan dilakukan secara manual untuk menghindari perebutan unsur hara dari dalam tanah. Penyiangan disesuaikan dengan kondisi lahan.
Pengamatan Penyakit dan Identifikasi Patogen
Kejadian dan keparahan penyakit. Pengamatan terhadap kejadian penyakit dilakukan dengan cara setiap petak perlakuan dibuat 3 petak kecil berukuran 1 x 0.5 m. Seluruh tanaman yang terdapat pada petak tersebut menjadi tanaman sampel. Pengamatan kejadian penyakit yakni menghitung jumlah tanaman sampel yang terserang patogen.
9 Menurut Zadoks dan Schein (1979) menghitung persentase kejadian penyakit (KP) digunakan rumus sebagai berikut:
Kp = Kejadian Penyakit
n = Jumlah tanaman yang terserang patogen
N = Jumlah tanaman yang diamati dalam setiap perlakuan
Pengamatan keparahan penyakit dilakukan pada 3 petak kecil berukuran 1 x 0.5 m yang dibuat pada setiap petak perlakuan. Pada petak-petak tersebut dilakukan pengacakan untuk menentukan 5 rumpun gandum sebagai tanaman sampel yang ditandai dengan pengajiran pada tanaman atau rumpun tersebut, pada awal pertumbuhan gandum. Pengamatan terhadap keparahan penyakit dilakukan dengan cara mengamati tanaman sampel yang terserang penyakit dan diberikan skor sesuai dengan skoring penyakit yang sudah ditentukan (Tabel 1).
Untuk menghitung keparahan penyakit digunakan rumus (Horsfall dan Barratt 1945) sebagai berikut.
ni = jumlah tanaman dengan skor ke-1 vi = Nilai skor penyakit
N = Jumlah tanaman yang diamati. V = skor tertinggi
Tabel 1 Skoring penyakit yang digunakan sebagai berikut:
Skor Kategori serangan (%)
0 0
1 0 ≤ X ≤ 5
2 5 ≤ X ≤ 20
3 20 ≤ X ≤ 40
4 >40 Analisis Data. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 taraf perlakuan varietas gandum: Nias, Selayar dan Dewata diulang 4 kali. Pengamatan penyakit dilakukan pada fase kecambah, fase vegetatif dan fase generatif. Data kejadian dan keparahan penyakit yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis secara statistik dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), dan faktor perlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut Duncan (DMRT).
Postulat Koch
Penelitian ini untuk menentukan cendawan patogen penyebab penyakit pada tanaman gandum.
Asosiasi patogen. Pada tahapan ini melihat patogen yang diduga berasosiasi dengan tanaman gandum, diteliti pada bagian tanaman yang sakit. Gejala dan
10
tanda dideskripsikan, untuk itu dilakukan pemeriksaan gejala dan struktur patogen yang terdapat pada permukaan tanaman.
Isolasi Patogen. Daun dengan gejala hawar dibersihkan dengan air kemudian dipotong-potong dengan ukuran ± 3 cm. Potongan-potongan tersebut dicelupkan dalam bahan aktif natrium hipoklorit 1% dan alkohol 70% masing-masing selama 1 menit, kemudian dibilas dengan air sterilsebanyak tiga kali dan selanjutnya dikeringkan di atas kertas saring. Potongan-potongan tersebut ditanam dalam media PDA yang sebelumnya sudah diberikan khloramfenikol untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Kemudian biakan diinkubasikan dalam suhu kamar selama ± 2 hari. Cendawan yang tumbuh dalam cawan petri kemudian dimurnikan untuk mendapatkan biakan murni.
Patogen diisolasi dari tanaman gandum yang bergejala busuk pangkal batang. Pangkal batang bergejala dibersihkan dengan air kemudian dipotong-potong dengan ukuran ± 3 cm. Potongan-dipotong-potongan tersebut dicelupkan dalam bahan aktif natrium hipoklorit 1% dan alkohol 70% masing-masing selama 1 menit, kemudian dibilas dengan air steril sebanyak tiga kali dan selanjutnya dikeringkan di atas kertas saring. Potongan-potongan tersebut ditanam dalam media PDA yang sebelumnya sudah diberikan khloramfenikol untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Kemudian biakan diinkubasikan dalam suhu kamar selama ± 2 hari. Cendawan yang tumbuh dalam cawan petri kemudian dimurnikan untuk mendapatkan biakan murni.
Cendawan yang diperoleh dalam biakan murni selanjutnya diidentifikasi berdasarkan sifat-sifat morfologi di bawah mikroskop dengan menggunakan kunci identifikasi.
Inokulasi. Biakan murni cendawan yang diisolasi dari tanaman gandum bergejala hawar daun diinokulasikan pada daun tanaman gandum sehat yang berumur 3 minggu. Daun disemprot dengan air steril, dibersihkan menggunakan natrium hipoklorit 3%, dan dibilas dengan air steril. Potongan biakan murni patogen berumur 10 hari ditempelkan pada bagian daun, kemudian ditutup dengan kapas yang dibasahi air steril dan diselotip. Tanaman tersebut disungkup untuk menghindari infeksi dari patogen lain. Pengamatan perkembangan penyakit pada tanaman gandum dilakukan setiap hari sampai menampakkan gejala. Gejala yang muncul dicatat, dideskripsikan dan dibandingkan dengan gejala awal di lapangan.
Tanaman gandum sehat yang berumur tiga minggu, diinokulasikan biakan murni cendawan hasil isolasi dari tanaman gandum bergejala busuk pangkal batang. Pangkal batang disemprot dengan air steril, dibersihkan menggunakan natrium hipoklorit 3%, dan dibilas dengan air steril. Potongan biakan murni patogen berumur 10 hari ditempelkan pada bagian daun, kemudian ditutup dengan kapas yang dibasahi air steril dan diselotip. Tanaman tersebut disungkup untuk menghindari infeksi dari patogen lain. Pengamatan perkembangan penyakit pada tanaman gandum dilakukan setiap hari sampai menampakkan gejala. Gejala yang muncul dicatat, dideskripsikan dan dibandingkan dengan gejala awal di lapangan.
Reisolasi. Hasil dari bagian tanaman yang menunjukkan gejala direisolasi. Hasil reisolasi dibandingkan dengan hasil isolasi.
Karakterisasi dan Identifikasi Patogen Hawar Daun dan Busuk Batang Karakterisasi cendawan patogen dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis. Secara makroskopis yaitu pengamatan secara langsung melihat
11 ciri khas koloni seperti warna, bentuk dan tepi koloni. Secara mikroskopis yaitu pengamatan terhadap karakteristik cendawan berupa: (1) hifa: warna, bersekat atau tidak, pola dan ukuran percabangan. (2) konidia: bentuk, warna dan ukuran. (3) konidiofor: warna, bersekat atau tidak, bercabang atau tidak dan ukuran konidiofor.
Pengamatan pertumbuhan harian bertujuan untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan dari cendawan patogen, yaitu dengan cara mengukur diameter koloni cendawan. Pengukuran dilakukan setiap hari dan dihentikan pada saat koloni cendawan telah mencapai tepi cawan petri. Identifikasi menggunakan buku identifikasi Putterill (1954), Manamgoda et al. (2014), Parmeter (1970), Robert (1999) dan Toda (2007) .
12
4 HASIL
Pertumbuhan Gandum
Benih gandum yang ditanam di lapangan pada awal bulan Maret, mendapat curah hujan yang baik sebagai akibatnya pada 4 hari setelah tanam (hst), tiga varietas yang ditanam di lapangan mulai tumbuh kecambah dan 6 hst semua benih berkecambah. Pertumbuhan awal dengan pembentukan batang, daun yang subur. Pada 14 hst curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan tingginya serangan patogen pada pertanaman gandum. Hal ini tidak mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman gandum. Pertumbuhan vegetatif varietas Dewata memiliki rata-rata tinggi tanaman 63.83 cm lebih tinggi dari varietas Nias (61.36 cm) dan varietas Selayar (49.01 cm). Jumlah daun pada varietas Dewata 7 helai, varietas Nias 6 helai dan Selayar 6 helai (Tabel 2).
Berdasarkan pengamatan di lapangan, varietas Dewata lebih cepat berbunga ( 32 hst) dibandingkan dengan varietas Nias (34 hst) dan varietas Selayar (35 hst). Varietas Dewata dan Nias memiliki 4 anakan, varietas Selayar memiliki 3 anakan, hasil tersebut lebih rendah bila budidaya pada bulan Juli, jumlah anakan 8-9 anakan. Pada umur 82-85 hst pemanenan untuk ketiga varietas tanaman gandum. Umur panen varietas Dewata lebih cepat (82 hst) bila dibandingkan dengan varietas Selayar (84 hst) dan varietas Nias (85 hst). Varietas Dewata memiliki panjang malai lebih panjang yang ditunjukkan oleh jumlah spikelet per malai yang lebih banyak. Varietas Dewata memiliki 29 biji, yang terdiri dari 10 spikelet hampa dan 19 bernas, varietas Nias 23 biji terdapat 8 spikelet hampa dan persentase terendah varietas Selayar 20 biji, mempunyai 9 spikelet hampa. Tanaman gandum varietas Dewata memberikan hasil lebih tinggi (26.64 g/1000 biji) dibandingkan varietas Nias (23.69 g/1000 biji) dan varietas Selayar (24.68 g/1000 biji) (Tabel 2). Berat biji ketiga varietas yang ditanam di lapangan tidak optimum disebabkan oleh tingginya serangan patogen pada pertumbuhan vegetatif tanaman gandum tersebut yang mempengaruhi proses fotosintesis. Berdasarkan karakter pertumbuhan dan hasil tanaman gandum, varietas Dewata memiliki umur berbunga, umur panen yang lebih genjah dan diikuti oleh penampilan karakter yang lain dibandingkan dengan kedua varietas tersebut. Pertumbuhan dan produksi gandum di lapangan tidak optimum disebabkan infeksi penyakit yang sangat tinggi akibat intensitas curah hujan yang sangat tinggi pada tanaman gandum di lapangan.
Tabel 2 Pertumbuhan dan hasil tanaman gandum di Timor Tengah Utara
Varietas Tinggi tanaman Jumlah
daun Jumlah anakan
Panjang malai
(cm)
Bulir
Bernas hampa Bulir
Bobot 1000 biji (g) Vegetatif (cm) Generatif (cm) Dewata 63.83 56.55 7 4 6.28 17 12 26.64 Selayar 49.01 43.14 6 3 5.46 11 9 24.58 Nias 61.36 54.45 6 4 6.04 15 8 23.69
13
Tabel 3 Perbandingan jenis penyakit gandum pada penelitian ini dengan penyakit gandum di daerah tropik dan subtropik lain
Penyakit Patogen
Daerah (sumber rujukan) Boyolali (Patola 2008) Bogor (Widodo 2014) NTT Iran (Reis et al. 1998) India (Ahlawat 2007) Antraknosa Glomerella graminicola v
Bercak daun Ascochyta tritici v
Busuk pucuk Fusarium sp. v
Busuk pangkal
batang Rhizoctonia sp. v
Busuk Sclerotium sp. v
Busuk akar Fusarium culmorum v v
Bercak daun Septoria tritici v
Black point Altenaria spp. v
Common bunt Tilletia caries v v
Daun terpilin Belum diteliti v
Downy mildew Sclerospora macrospora
v Embun
tepung triticiErysiphe graminis
v
Flag smut Urocystis tritici v
Hawar daun Alternaria triticina v v v
Hawar daun Helminthosporium sp. v v v
Hawar daun Curvularia sp. v
Hawar malai Helminthosporium sp. v v
Hawar malai Curvularia sp. v
Hawar malai Fusarium
graminearum
v v v v
Hawar malai Phoma sp. v
Karnal bunt Tiletia indica v v
Karat kuning Puccinia striiformis tritici
v v
Karat daun Puccinia recondita v
Karat bergaris Puccinia striiformis v v
Karat batang Puccinia graminis
f.sp. tritici
v v
Layu Sclerotium rolfsii v
Loose smut Ustilago segetum v v
Tan spot (Bercak cendawan)
14
Hasil identifikasi dan pengamatan di lapangan ditemukan beberapa penyakit utama pada tanaman gandum.
Tabel 4 Inventarisasi penyakit pada stadia pertumbuhan gandum
Varietas Fase Penyakit
kecambah Fase vegetatif Fasa generatif Nias Tidak ada Bercak daun
Helminthosporium, Bercak daun Curvularia, Busuk batang Rhizoctonia, Busuk pucuk Fusarium dan Penyakit daun terpilin
Hawar malai
Helminthosporium, Hawar malai
Curvularia, Selayar Tidak ada Bercak daun
Helminthosporium, Bercak daun Curvularia, Busuk batang Rhizoctonia, Busuk pucuk Fusarium dan Penyakit daun terpilin
Hawar malai
Helminthosporium
Hawar malai
Curvularia,
Dewata Tidak ada Bercak daun
Helminthosporium, Bercak daun Curvularia, Busuk batang Rhizoctonia, Busuk pucuk Fusarium dan Penyakit daun terpilin
Hawar malai
Helminthosporium. Hawar malai
Curvularia,
Tabel 5 Kejadian dan keparahan penyakit tanaman gandum yang ditanam di Timor Tengah Utara
Penyakit Varietas 4 mst 8 mst 12 mst Kejadian penyakit (%) Keparahan Penyakit (%) 4 mst 8 mst 12 mst Hawar daun
Helminthosporium Nias Selayar 15.46b 47.68a 87.93b 22.64a 63.96a 92.69c 10.65a 43.54a 76.76a 21.86a 62.33a 84.81b Dewata 11.15a 42.51a 73.45a 21.22a 61.66a 81.89a Hawar malai
Helminthosporium dan Curvularia
Nias 0 10.28a 33.77a 0 0 0
Selayar 0 18.06b 59.37b 0 0 0
Dewata 0 13.73ab 40.37a 0 0 0
Busuk batang
Rhizoctonia
Nias 3.89a 5.93a 11.30a 0 0 0 Selayar 7.54a 12.54a 21.76b 0 0 0 Dewata 5.87a 9.79a 16.84ab 0 0 0 Busuk pucuk
Fusarium
Nias 1.77b 2.80a 4.87a 0 0 0 Selayar 2.30c 4.49b 7.08b 0 0 0 Dewata 1.06a 2.31a 4.56a 0 0 0 Daun terpilin Nias 0.19a 1.49a 2.80a 0 0 0 Selayar 0.67b 2.66a 5.30a 0 0 0 Dewata 0.12a 0.49a 0.71a 0 0 0 Nilai pada kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
15 Penyakit Hawar Daun
Identifikasi Penyakit Hawar Daun
Postulat Koch yang dilakukan menunjukkan bahwa patogen tersebut merupakan penyebab hawar daun. Cendawan yang diinokulasikan pada daun tanaman gandum menunjukkan gejala awal berupa bercak kuning pada tepi titik inokulasi terbentuk pada 1 hari setelah inokulasi dan pada hari ke-3, pada titik inokulasi mengalami nekrosis, nekrosis tersebut meluas menjadi hawar yang berwarna cokelat dan kering. Gejala tersebut memiliki kesamaan dengan gejala di lapangan. Gejala penyakit hawar daun mulai nampak pada fase vegetatif yakni 14 hst. Patogen ini menyerang dari daun pertama, berupa bercak kecil yang dikelilingi warna kekuningan, selanjutnya bercak-bercak membesar membentuk lesi yang memanjang berwarna cokelat, menyatu pada seluruh permukaan daun tanaman, kemudian daun menjadi kering dan rapuh (Gambar 1).
Identifikasi terhadap patogen hawar daun yang diuji menunjukkan bahwa cendawan patogen tersebut adalah genus Helminthosporium. Koloni cendawan berwarna putih kehijauan sampai kehitaman, mulai hari ke-4 terbentuk zona konsentris dan terdapat miselium aerial. Pada hari 5-7 koloni memenuhi cawan petri (Gambar 2). Secara umum pertumbuhan Helminthosporium sp. sangat cepat pada medium PDA. Hifa cendawan ini bersekat, hialin dan menjadi kuning kecokelatan sejalan dengan pertambahan umur. Rata-rata kecepatan pertumbuhan koloni 1.29 cm/hari. Konidiofor Helminthosporium sp. bersekat dan tidak bercabang, dengan panjang 21-322 µm, rerata 184.39 µm dan lebar 2.50-6.25 µm, rerata 4.66 µm. Pembentukan konidia mulai pada hari ke-5 dan semakin banyak pada hari ke-15. Konidium muda berwarna hialin, konidium matang berwarna kuning kecokelatan sampai kehitaman, memiliki 1-7 sekat. Konidium berbentuk oval panjang, bagian tengahnya membesar dan kedua ujungnya mengecil dan tumpul (Gambar 2). Ukuran konidium bervariasi dengan panjang 10.5-50.59 µm dan lebar 7-23.53 µm, rerata panjang konidia 26.95 µm dan lebar 11.01 µm. Perbandingan karakter morfologi Helminthosporium hasil isolasi dengan
Helminthosporium yang telah diketahui spesiesnya (Putterill 1954). Berdasarkan karakter morfologi dan pertumbuhan koloni, isolat dari gandum lebih mirip dengan H. gramineum (Tabel 6).
Gambar 1 Gejala penyakit hawar daun dan inokulasi Helminthosporium sp. (A) gejala hawar daun di lapangan, (B) inokulasi, (C) gejala hawar daun hari ke-2 hasil inokulasi, (D) daun menguning dan nekrotik hari ke-3
16
Gambar 2 Bentuk koloni dan morfologi Helminthosporium gramineum. (A) koloni H. gramineum pada media PDA, (B) konidiofor, (C) konidia dan (D) perkecambahan konidia
Tabel 6 Karakteristik Helminthosporium sp. asal gandum di Timor Tengah Utara dan
Helminthosporium yang telah diketahui spesiesnya
Karakter Helminthosporium hasil isolasi H. sorokiniana Sacc. (Shoemaker 1959) H.gramineum Rabenh. ex Schltdl (Putterill. 1954) H. sativum
Pammel. King & Bakke. (Putterill.1954)
Warna koloni putih-kehijauan beludru abu-abu abu-abu
Tekstur permukaan
koloni berserabut
Bentuk tepi koloni rata tidak
beraturan teratur. Konidiofor
bersekat/tidak bersekat bersekat bersekat bersekat
Konidiofor
bercabang/tidak tidak bercabang tunggal kadang tidak tunggal kadang bercabang Ukuran konidiofor
(panjang x lebar) 21-322 µm x 2.50-6.25 µm. rerata 184.39 µm
52-310 µm x
6-8 µm 5-9 µm 30-200 µm x 60-300 µm x 6-8 µm
Konidia tunggal tunggal tunggal Tunggal
Warna konidia kuning
kecokelatan kecokelatan kuning kecokelatan kuning kuning kecokelatan Bentuk konidia lonjong dan
sedikit bengkok melengkung lurus dan lurus dan silinder lonjong elips dan sedikit melengkung. Ukuran konidia (panjang x lebar) 10.5-50.59 µm x 7-23.53µm rerata 26.95 µm 31-100 µm x 15-25 µm 11-22 µm 20-120 µm x 26-120 µm x 12-26 µm Jumlah sekat konidia 1-7 3-12 1-7-(8) 3-10
Perkecambahan polar bipolar polar Bipolar
Kejadian dan Keparahan Penyakit Hawar Daun
Tabel 5 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kejadian dan keparahan penyakit hawar daun antar tiga varietas yang diuji. Secara umum varietas Dewata memiliki kejadian penyakit hawar daun paling rendah dan berbeda nyata dengan varietas Selayar. Keparahan penyakit hawar daun pada varietas Dewata paling rendah dan berbeda nyata dengan varietas Nias dan Selayar.
17 Penyakit Bercak Daun
Bercak daun pada tanaman gandum bergejala pada 20 hst, infeksi terjadi pada daun pertama berupa bintik-bintik kecil yang berwarna putih kemudian menjadi kuning kepucatan, selanjutnya berkembang ke daun bagian atas. Berdasarkan pengamatan pada 12 mst, bercak-bercak berkembang menyatu pada seluruh permukaan daun menjadi klorosis, kemudian membentuk nekrosis, menyebabkan daun menjadi kering dari tepi daun. Patogen ini menyerang daun, batang dan malai. Infeksi pada batang tanaman berupa bercak-bercak kecil berwarna kuning, gejala selanjutnya berwarna cokelat kehitaman (Gambar 3).
Penyebab bercak daun pada tanaman gandum adalah Curvularia sp. Saat pengamatan di bawah mikroskop, konidia berbentuk huruf C, bagian tengah membesar dan semakin kecil tumpul pada kedua ujung konidia. Konidia memiliki 3-4 sekat, serta memliki dinding yang tebal yang berwarna cokelat kehitaman. Menurut Michel et al.(2013) Konidianya berwarna cokelat yang terdiri dari 3-4 sekat bentuknya tidak beraturan dengan ukuran konidia 16-26 um x 8-12 um.
Curvularia sp. merupakan cendawan airborne. Infeksi melalui bagian epidermis daun atau masuk melalui stomata kemudian menyebar ke jaringan tanaman.
Gambar 3 Gejala penyakit bercak daun di lapangan (A), konidia Curvularia (B)
Penyakit Busuk Batang Identifikasi Penyakit Busuk Batang
Pengujian dengan Postulat Koch membuktikan bahwa cendawan yang diuji tersebut adalah patogen busuk batang pada gandum. Gejala yang nampak pada tanaman gandum yang diinokulasi patogen tersebut adalah tumbuh bercak pada pelepah daun dan daun pada 16 hari setelah inokulasi. Daun yang terinfeksi awalnya terdapat bintik-bintik kuning, berkembang menjadi bercak cokelat, kemudian nekrotik pada seluruh daun dan menjadi kering. Infeksi pada pelapah daun berupa bercak-bercak cokelat yang membentuk jorong dengan tepian yang tidak teratur semakin besar seiring pertambahan waktu. Pada pangkal batang terdapat bercak cokelat yang semakin berkembang pada seluruh pangkal batang dan akar menjadi busuk berwarana cokelat kehitaman. Hal ini sesuai dngan gejala yang terdapat di lapangan. Penyakit busuk batang Rhizoctonia sp. nampak jelas pada fase vegetatif yakni 30 hst. Gejala awal berupa bercak kecil berwarna kuning pada daun pertama yakni pada ujung atau tepi daun, kemudian menginfeksi seluruh permukaan daun menjadi klorosis pada akhirnya kering yang berawal dari
18
tepi atau ujung daun, bahkan mati. Gejala yang tampak pada pangkal batang ditandai dengan timbulnya bercak-bercak cokelat berbentuk jorong dengan tepian yang tidak teratur, akar membusuk, berwarna cokelat kehitaman dan berkurang jumlahnya. Pertumbuhan tanaman semakin kerdil, tidak subur dan pada umumnya tidak menghasilkan malai (Gambar 4).
Rhizoctonia sp. penyebab penyakit busuk batang memiliki koloni berwarna putih, dengan tepian rata. Miselia cendawan tersebut bercabang membentuk jala halus dan bersekat, tidak terbentuk hifa aerial. Hifa mempunyai percabangan yang tegak lurus. Rata-rata kecepatan tumbuh koloni Rhizoctonia sp. adalah 2.25 cm/hari. Pada hari ke-26 terbentuk sklerotia berwarna putih berubah menjadi cokelat hingga kehitaman yang tidak beraturan (Gambar 5). Diameter hifa
Rhizoctonia sp. 2.79 µm dan kisarannya 1.5-5 µm, awalnya berwarna hialin berkembang menjadi cokelat seiring dengan bertambahnya waktu. Rhizoctonia sp. hasil isolasi memiliki diameter hifa dan sklerotia yang kecil bila dibandingkan dngan Rhizoctonia solani, Rhizoctonia oryzae dan lebih mendekati dengan
Rhizoctoni zeae (Tabel 7).
Gambar 4 Perkembangan gejala busuk batang di lapangan dan dengan inokulasi. (A) hawar daun, (B) tanaman kerdil, (C) busuk pangkal batang, (D) hawar pada pelepah hasil inokulasi, (E) hawar daun hasil inokulasi, (F) busuk pangkal batang hasil inokulasi
Gambar 5 Bentuk koloni dan morfologi Rhizoctonia sp. (A) koloni, (B) sklerotia dan, (C) hifa Rhizoctonia sp.
B C D E F
A
19 Tabel 7 Karakteristik Rhizoctonia sp. hasil isolasi dan Rhizoctonia yang telah
diketahui spesiesnya Karakter Rhizoctonia sp. hasil isolasi R. solani (Parmeter 1970). R. oryzae (Toda 2007) R. zeae (Roberts 1999) Warna koloni putih putih-putih
kekuningan putih-cokelat Putih Tekstur permukaan koloni sedikit berserabut Bentuk tepi koloni rata Hifa
bersekat/tidak bersekat bersekat bersekat bersekat Diameter hifa 1.5-5 µm
rerata 2.79 µm 4-15 µm 4.8-7.5 µm 2.5-11 µm Ukuran
sklerotia 0.21 x 0.16 mm 1-3 mm 1-3 mm 0.5-3 mm Bentuk
sklerotia bulat/lonjong tidak beraturan tidak beraturan bulat tidak beraturan beraturan tidak Warna
sklerotia hitam putih -cokelat- putih-cokelat kehitaman merah muda kekuning-kuningan
merah muda kecokelatan
Kejadian Penyakit Busuk Batang
Pengamatan kejadian penyakit busuk batang menunjukkan bahwa, varietas Dewata memiliki kejadian penyakit yang rendah dan berbeda nyata dengan varietas Selayar. Varietas Selayar memiliki kejadian penyakit busuk batang yang tinggi di antara varietas yang lain (Tabel 5).
Penyakit Hawar malai
Penyakit hawar malai nampak pada fase generatif 45 hst yakni pada 8 mst pertumbuhan tanaman gandum. Gejala pada malai yakni bulir yang terinfeksi berubah menjadi cokelat kepucatan berbeda dengan bulir yang lain, kemudian menjadi titik hitam berkembang menjadi hitam pekat karena ada konidiofor dan konidia cendawan tersebut. Pada akhirnya menginfeksi semua bulir pada malai tersebut.
Penyakit hawar malai disebabkan oleh Helminthosporium sp. dan
Curvularia sp. Secara kasat mata, penyakit ini sulit dibedakan antara kedua patogen, perlu dilakukan pengamatan di bawah mikroskop. Konidium
Helminthosporium sp. berwarna kuning kecokelatan sampai kehitaman, memiliki 1-7 sekat. Konidium berbentuk oval panjang, bagian tengahnya membesar dan kedua ujungnya mengecil dan tumpul. Konidia Curvularia sp berbentuk huruf C
20
memiliki 3-4 sekat, serta memiliki dinding yang tebal yang berwarna cokelat kehitaman (gambar 6).
Gambar 6 Gejala hawar malai di lapangan (A), konidia Curvularia sp. (B), dan konidia Helminthosporium sp. (C)
Kejadian Penyakit Hawar Malai
Kejadian penyakit hawar malai pada varietas Selayar lebih tinggi dan berbeda nyata dengan varietas Dewata dan Nias. Hawar malai pada varietas Dewata memiliki persentase yang terendah di antara varietas yang lain (Tabel 5).
Penyakit Busuk Pucuk
Berdasarkan pengamatan, gejala penyakit busuk pucuk nampak pada umur 28 hst atau pada akhir fase vegetatif. Tanaman yang terserang patogen ini dimulai dari pucuk daun berwarna pucat berkembang menjadi klorosis, menggulung, akhirnya layu dan kering. Gejala selanjutnya berkembang pada seluruh bagian tanaman. Batang dan daun tanaman menjadi layu dan mati (Gambar 7).
Penyebab penyakit busuk pucuk pada tanaman gandum adalah Fusarium
sp., ciri konidia berbentuk oval, terdiri dari 7 septa berwarna hialin bagian tengahnya membesar, kedua ujung konidia meruncing (Gambar 7).
Gambar 7 Perkembangan gejala penyakit busuk pucuk dan konidia. (A) gejala pada pucuk, (B) layu pada batang dan daun tanaman, (C) konidia