• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian dan Sifat Penelitian

Penelitian dalam pelaksanaannya diperlukan dan ditentukan alat-alatnya, jangka waktu, cara-cara yang dapat ditempuh apabila mendapat kesulitan dalam proses penelitian. Penelitian harus dilakukan secara metodelogis, sistematis, dan konsisten. Metodelogis yang dimaksud berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu, sistematis adalah berdasarkan pada suatu sistem, dan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dengan suatu kerangka tertentu.44

Berdasarkan perumusan masalah dalam menyusun penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian yuridis normatif atau doktriner.

Penelitian hukum normatif atau doktriner yaitu metode penelitian hukum yang mempergunakan sumber data sekunder atau dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada.45 Tahapan pertama penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum objektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan penelitian terhadap masalah hukum. Tahapan kedua penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan kewajiban).

Sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis. Penelitian deskriftif analitis yakni suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Penelitian deskriptif analitis merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau

44 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, Grafindo Persada, Jakarta, 2001, h. 42.

45Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktik, Sinar Grafika, Jakarta, 1996, h. 13.

hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung kemudian dianalisis dan dilakukan pengambilan kesimpulan atas permasalahan yang di teliti.46

2. Sumber Data

Sumber data yang terdapat dalam penelitian ini diambil dari data-data sekunder, dan adapun data-data sekunder yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, yang artinya mempunyai otoritas yaitu dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang.47 Dalam penelitian ini diantaranya UUJN serta peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan objek penelitian.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder berupa pendapat hukum, doktrin dan teori yang diperoleh dari literatur hukum, hasil penelitian, artikel ilmiah, maupun website yang terkait dengan penelitian Tesis ini. Bahan hukum sekunder digunakan untuk memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer.

Bahan hukum sekunder ini bertujuan agar penelitian ini akan terbantu untuk memahami atau menganalisis bahan hukum primer.

c. Bahan hukum tersier

46 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2010, h. 35.

47 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2010, h.142.

Pada bahan hukum tersier merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan dan petunjuk terhadap konsep-konsep dan keterangan keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensklopedia dan sebagainya.

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) yang memiliki tujuan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konseptual, baik itu peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya.48 Pada studi kepustakaan ini dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, mengindentifikasi bahan-bahan studi kepustakaan dan ditambah dengan wawancara sebagai data pelengkap.

4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Cq. Majelis Pengawas Pusat Notaris.

5. Analisis Data

Analisis data merupakan merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.49 Didalam penelitian yuridis normatif pada hakikatnya

48 Jhonny Ibrahim, Teori dan Metedeologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media Publishing, Malang, 2007, h.192.

49 Ibid, h. 28.

berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis untuk memudahkan pekerjaan analisis dan kontruksi.50

Pengolahan, analisis dan konstruksi data penelitian hukum normatif dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis terhadap kaidah hukum lalu kemudian konstruksi dilakukan dengan cara memasukkan pasal-pasal ke dalam kategori-kategori atas dasar pengertian-pengertian dari sistem hukum tersebut. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan analisis data kualitatif, yaitu sebagai berikut: 51

a. Mengumpulkan bahan hukum, berupa inventarisasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.

b. Memilih bahan hukum yang sudah dikumpulkan dan selanjutnya melakukan sistematisasi bahan hukum sesuai dengan permasalahan yang dikaji di dalam penelitian yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.

c. Menganalisis bahan hukum dengan membaca dan menafsirkannya untuk menemukan kaiedah, asas dan konsep yang terkandung di dalam bahan hukum tersebut khususnya yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalm perbuatan melawan hukum.

d. Menemukan hubungan konsep, asas dan kaidah tersebut dengan menggunakan teori sebagai pisau analisis.

e. Penarikan kesimpulan untuk menjawab permasalahan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif. Metode deduktif dilakukan dengan membaca, menafsirkan dan membandingkan hubungan-hubungan konsep, asas, kaidah yang terkait sehingga memperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penulisan yang dirumuskan.

50 Sahyono Makmun, Metode Penelitian Hukum, Intitama Sejahtera, Jakarta, 2006, h. 24.

51Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Rosda Karya, Jakarta, 2008, h. 48.

A. Tinjauan Tentang Notaris 1. Pengertian Notaris

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Notaris mempunyai arti orang yang mendapat kuasa dari pemerintah berdasarkan penunjukan (dalam hal ini adalah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia) untuk mengesahkan dan menyaksikan berbagai surat perjanjian, surat wasiat, akta, dan sebagainya”52. Notaris berasal dari kata "nota literaria" yaitu tanda tulisan atau karakter yang dipergunakan untuk menuliskan atau menggambarkan ungkapan kalimat yang disampaikan narasumber. Tanda atau karakter yang dimaksud merupakan tanda yang dipakai dalam penulisan cepat (stenografie).

Pengertian Notaris menurut Pasal 1 angka 1 UUJN menentukan “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya”. Sementara dalam penjelasan atas UUJN menyatakan bahwa : “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik sejauh pembuatan akta autentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya”.

52 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan ke-3, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, h. 618.

Pengertian yang diberikan oleh UUJN tersebut merujuk pada tugas dan wewenang yang dijalankan Notaris. Artinya Notaris memiliki tugas sebagai pejabat umum dan memiliki wewenang untuk membuat akta autentik serta kewenangan lainnya yang diatur oleh UUJN.53 Seorang Notaris menurut pendapat Tan Thong Kie yaitu: “Notaris adalah seorang fungsionaris dalam masyarakat, hingga sekarang jabatan seorang Notaris masih disegani.

Seorang Notaris biasanya dianggap sebagai seorang pejabat tempat seseorang dapat memperoleh nasihat yang boleh diandalkan. Segala sesuatu yang ditulis serta ditetapkan (konstatir) adalah benar, ia adalah pembuatan dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.54 Lebih lanjut mengenai seorang Notaris, Tan Thong Kie menjalankan sebagai berikut:

“Setiap masyarakat membutuhkan seseorang (figur) yang keterangan-keterangannya dapat diandalkan, dapat dipercayai, yang tanda tangannya serta segelnya (capnya) memberi jaminan dan bukti kuat, seorang ahli yang tidak memihak dan penasihat yang tidak ada cacatnya, yang tutup mulut, dan membuat suatu perjanjian yang dapat melindunginya di hari-hari yang akan dating. Kalau seorang Advokat membelah hak-hak seseorang ketika timbul suatu kesulitan, maka seorang Notaris harus berusaha mencegah terjadinya kesulitan itu.”55

Di dalam tugasnya sehari-hari Notaris menetapkan hukum dalam aktanya sebagai akta autentik yang merupakan alat bukti yang kuat sehingga memberikan pembuktian lengkap kepada para pihak yang membuatnya. Sebagai salah satu pejabat umum, Notaris mempunyai peranan penting dalam

53 Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia Perspektif Hukum dan Etika, UII Press, Jakarta, 2009, h. 14.

54 Tan Thong Kie, Studi Notariat dan Serba‐Serbi Praktek Notaris, Buku I, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2000, h. 157.

55 Ibid, h.162.

menjamin kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum melalui akta autentik yang dibuat oleh atau dihadapannya, mengingat akta autentik sebagai alat bukti terkuat dan memiliki nilai yuridis yang esensial dalam setiap hubungan hukum bila terjadi sengketa dalam kehidupan masyarakat.

Menurut G.H.S Lumban Tobing:

“Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta autentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain”.56

Mendasarkan pada nilai moral dan nilai etika Notaris, maka pengembanan jabatan Notaris adalah pelayanan kepada masyarakat (klien) secara mandiri dan tidak memihak dalam bidang kenotariatan yang pengembanannya dihayati sebagai panggilan hidup bersumber pada semangat pengabdian terhadap sesama manusia demi kepentingan umum serta berakar dalam penghormatan terhadap martabat manusia pada umumnya dan martabat Notaris pada khususnya.57

Awalnya jabatan Notaris hakikatnya ialah sebagai pejabat umum (private notary) yang ditugaskan oleh kekuasaan umum untuk melayani kebutuhan masyarakat akan alat bukti autentik yang memberikan kepastian hubungan Hukum Perdata, jadi sepanjang alat bukti autentik tetap diperlukan oleh sistem hukum negara maka jabatan Notaris akan tetap diperlukan eksistensinya di tengah

56 G.H.S Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Cetakan Ketiga, Erlangga, Jakarta, 1992, h. 31

57 Herlien Budiono, Notaris dan Kode Etiknya, Upgrading dan Refreshing Course Nasional Ikatan Notaris Indonesia, Medan, 2007, h. 3.

masyarakat.58 Notaris seperti yang dikenal pada zaman Belanda sebagai Republik der Verenigde Nederlanden mulai masuk di Indonesia pada permulaan abad ke-17 dengan beradanya Oost Ind. Compagnie di Indonesia.59

2. Notaris Sebagai Pejabat Umum

Istilah Pejabat Umum, merupakan terjemahan dari istilah Openbare Amtbtenaren yang terdapat dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris dan Pasal 1868 KUHPerdata. Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris menyebutkan bahwa:

“Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta autentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semua sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain”.

Pasal 1868 KUHPerdata menyebutkan:

“Suatu akta autentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat”.

Pasal 1 angka (1) UUJN menyebutkan:

“Notaris adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini”.

58 . G.H.S Lumban Tobing, Op.cit., h. 41.

59 Ibid., h. 15.

Menurut kamus hukum, salah satu arti dari Ambtenaren adalah Pejabat. Demikian dengan Openbare Ambtenaren adalah “pejabat yang mempunyai tugas yang bertalian dengan kepentingan masyarakat, sehingga Openbare Ambtenaren diartikan sebagai Pejabat yang diserahi tugas untuk membuat akta autentik yang melayani kepentingan masyarakat, dan kualifikasi seperti itu diberikan kepada Notaris”.60

Berdasarkan ketentuan di atas, Notaris dikualifikasikan sebagai Pejabat umum, tapi kualifikasi Notaris sebagai Pejabat Umum, tidak hanya untuk Notaris saja, karena sekarang ini seperti Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) juga diberi kualifikasi sebagai Pejabat Umum dan Pejabat Lelang.

Pemberian kualifikasi sebagai Pejabat umum kepada pejabat lain selain kepada Notaris, bertolak belakang dengan makna dari Pejabat Umum itu sendiri, karena seperti PPAT hanya membuat akta-akta tertentu saja yang berkaitan dengan pertanahan dengan jenis akta yang sudah ditentukan, dan Pejabat Lelang untuk lelang saja.

Dengan demikian Notaris berperan melaksanakan sebagian tugas Negara dalam bidang hukum keperdataan, dan kepada Notaris dikualifikasikan sebagai Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta autentik, dan akta merupakan formulasi keinginan atau kehendak (wilsvorming) para pihak yang dituangkan dalam akta Notaris yang dibuat di hadapan atau oleh Notaris, dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam UUJN.61

60 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Cetakan IV, PT Refika Aditama, Bandung, 2014, h. 13.

61 Lihat Pasal 1 angka 1 dan Pasal 15 ayat (1) UUJN.

Salah satu bentuk pelayanan Negara kepada rakyatnya yaitu negara memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memperoleh tanda bukti atau dokumen hukum yang berkaitan dalam hukum perdata, untuk keperluan tersebut diberikan kepada pejabat umum yang dijabat oleh Notaris. Minuta atas akta yang dibuat Notaris tersebut menjadi milik negara yang harus disimpan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sebagai bentuk menjalankan kekuasaan negara maka yang diterima oleh Notaris dalam kedudukan sebagai Jabatan (bukan profesi), karena menjalankan jabatan seperti itu, maka Notaris memakai lambang negara yaitu: Burung Garuda.

Dengan konstruksi seperti itu bahwa Notaris menjalankan sebagian kekuasaan negara dalam bidang hukum perdata untuk melayani kepentingan rakyat yang memerlukan bukti atau dokumen hukum berbentuk akta autentik yang di akui oleh negara sebagai bukti yang sempurna. Autensitas akta Notaris bukan pada kertasnya, akan tetapi akta yang dimaksud dibuat di hadapan Notaris sebagai Pejabat Umum dengan segala kewenangannya atau dengan perkataan lain akta yang dibuat Notaris mempunyai sifat autentik, bukan karena undang-undang menetapkan sedemikian melaikan oleh karena akta itu dibuat oleh atau di hadapan Pejabat Umum, seperti yang dimaksud dalam Pasal 1868 KUHPerdata.62

B. Tugas dan Kewenangan Notaris

Dalam Pasal 1 angka 1 UUJN, Notaris didefinisikan sebagai pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam UUJN. Definisi yang diberikan oleh

62 G.H.S. Lumban Tobing, Op.cit., h. 51.

UUJN ini merujuk pada tugas dan wewenang yang dijalankan oleh Notaris.

Artinya Notaris memiliki tugas sebagai pejabat umum dan memiliki wewenang untuk membuat akta autentik serta kewenangan lainnya yang diatur oleh UUJN.63

Pasal 1 UUJN tidak memberikan uraian yang lengkap mengenai tugas Notaris. Menurut Lumban Tobing, bahwa selain untuk membuat akta-akta autentik, Notaris juga ditugaskan untuk melakukan pendaftaran dan mensahkan surat-surat atau akta-akta yang dibuat di bawah tangan. Notaris juga memberikan nasihat hukum dan penjelasan mengenai undang-undang kepada pihak-pihak yang bersangkutan.64 Sedangkan menurut Setiawan, inti dari tugas Notaris selaku pejabat umum ialah mengatur secara tertulis dan autentik hubungan hukum antara pihak yang secara manfaat meminta jasa Notaris yang pada dasarnya adalah sama dengan tugas hakim yang memberikan keadilan diantara para pihak yang bersengketa.65

Setiap perbuatan pemerintah disyaratkan harus bertumpu pada kewenangan yang sah. Tanpa ada kewenangan yang sah seorang Pejabat ataupun Badan Tata Usaha Negara tidak dapat melaksanakan suatu perbuatan pemerintahan. Oleh karena itu kewenangan yang sah merupakan atribut bagi setiap Pejabat ataupun bagi setiap Badan66 Kewenangan merupakan suatu tindakan hukum yang diatur dan diberikan kepada suatu jabatan berdasarkan

63 Abdul Ghofur Anshori, Op.cit., h. 13-14.

64 G.H.S. Lumban Tobing, Op.Cit., h. 37.

65 Setiawan Wawan, Hak Ingkar dari Notaris dan Hubungannya dengan KUHAP, suatu kajian uraian yang disajikan dalam konggress INI di Jakarta, 1995, h. 2.

66 Lutfi Effendi, Pokok-Pokok Hukum Administrasi, Bayumedia Publishing, Malang, 2004, h. 77.

peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mengatur jabatan tersebut.

Wewenang Notaris memiliki batasan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan yang mengatur jabatan pejabat yang bersangkutan.

Jabatan memperoleh wewenang melalui tiga sumber yaitu atribusi, delegasi dan mandat.67 Kewenangan yang diperoleh dengan cara atribusi, apabila terjadi pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh suatu ketentuan perundang-undangan dan perundang-perundang-undanganlah yang menciptakan suatu wewenang pemerintahan yang baru. Kewenangan secara delegasi merupakan pemindahan/pengalihan wewenang yang ada berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan atau aturan hukum. Kewenangan mandat sebenarnya bukan pengalihan atau pemindahan wewenang tapi karena yang berkompeten berhalangan.

Berdasarkan UUJN tersebut ternyata Notaris sebagai Pejabat Umum memperoleh kewenangan secara atribusi, karena wewenang tersebut diciptakan dan diberikan oleh UUJN sendiri. Jadi, wewenang yang diperoleh Notaris bukan berasal dari lembaga lain, misalnya dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.68 Jadi Notaris memiliki legalitas untuk melakukan tindakan hukum dalam membuat akta autentik.

Fungsi dan peran Notaris akan semakin luas dan berkembang, sebab kelancaran dan kepastian hukum bagi para pihak tidak terlepas dari pelayanan juga produk hukum yang dihasilkan oleh Notaris. Sebagian kewenangan yang

67 Philipus M. Hadjon dkk, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005, h. 139-140.

68Habib Adjie, 2014, Cetakan ke IV, Op. cit., h. 78.

diberikan pemerintah kepada Notaris benar-benar memiliki nilai bobot yang dapat diandalkan.69

Notaris selaku pejabat menjalankan tugasnya selain harus memiliki pengetahuan secara teoritis dan pengalaman secara teknis, tetapi juga harus ditambah dengan memiliki tanggung jawab etika hukum yang tinggi berupa nilai-nilai atau ukuran-ukuran etika, penghayatan terhadap keluhuran dan tugas jabatannya serta integritas dan moral yang baik.70 Notaris juga memberikan nasihat hukum dan penjelasan mengenai ketentuan undang-undnag kepada pihak yang bersangkutan.71

Tugas pokok dari Notaris ialah membuat akta-akta autentik. Adapun akta autentik itu menurut Pasal 1870 KUHPerdata memberikan kepada pihak-pihak yang membuatnya suatu pembuktian sempurna. Disinilah letak arti penting bagi seorang Notaris, bahwa Notaris karena undang-undang diberi wewenang membuat suatu alat pembuktian yang sempurna, dalam pengertian bahwa apa yang tersebut dalam akta autentik itu pada pokoknya dianggap benar sepanjang tidak ada pembuktian sebaliknya.

Kewenangan yang diberikan kepada notaris untuk membuat akta autentik memiliki konsekuensi lahirnya tanggung jawab yang sangat besar dalam memberikan kepastian hukum bagi masyarakat. Sebagai seorang pejabat umum,

69 Vidya Nandra Kesuma, Analisis Yuridis Terhadap Penggunaan Kata Dan Bahasa Dalam Akta Notaris, Tesis, Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Medan, 2010, h. 62.

70 Kristina Siahaan, Kewajiban Notaris Dalam Merahasiakan Isi Akta Dikaitkan Dengan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Tesis, Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Medan, 2016, h. 64.

71 Nur Milys Br. Ginting, Analisis Yuridis Penegakan Hukum Atas Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) Dalam Hubungannya Dengan Penegakan Kode Etik Notaris, Tesis, Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Medan, 2012, h. 33.

notaris harus dan wajib memahami dan memenuhi UUJN dan kode etik profesi notaris. Apabila akta yang dibuatnya ternyata dibelakang hari mengandung sengketa maka hal ini perlu dipertanyakan, apakah akta ini merupakan kesalahan notaris dengan sengaja untuk menguntungkan salah satu pihak menghadap atau kesalahan para pihak penghadap atau kesalahan para pihak yang tidak memberikan dokumen yang sebenarnya. Apabila akta yang dibuat atau diterbitkan notaris mengandung cacat hukum karena kesalahan notaris itu sendiri maka notaris harus Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan secara hukum, dan tentu hal ini harus terlebih dahulu dapat dibuktikan.72

Kewenangan Notaris dalam pembuatan akta, tecantum dalam ketentuan Pasal 15 UUJN, dimana kewenangan Notaris dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:

1. Kewenangan Umum Notaris

Kewenangan umum Notaris tercantum dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN yang menegaskan bahwa salah satu kewenangan Notaris adalah membuat akta secara umum, namun dengan batasan sepanjang tidak dikecualikan kepada Pejabat lain yang ditetapkan oleh undang-undang, menyangkut akta yang harus dibuat atau berwenang membuat akta autentikmengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan hukum atau dikehendaki oleh yang bersangkutan, mengenai subjek hukum (orang atau badan hukum) untuk kepentingan siapa akta dibuat atau dikehendaki oleh yang berkepentingan.

72 Khairul Iqbal Marpaung, Pertanggungjawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta Berdasarkan Pemalsuan Dokumen Oleh Salah Satu Pihak (Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 385K/Pid/2006), Tesis, Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018, h. 11.

2. Kewenangan Khusus Notaris

Kewenangan khusus Notaris untuk melakukan tindakan hukum tertentu tercantum dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN, seperti :

a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftarkan ke dalam buku khusus;

b. Membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftarkan ke dalam buku khusus;

c. Membuat copy dan asli surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan ke dalam surat yang bersangkutan;

d. Melakukan pengesahan kecocokan fotocopy dengan surat aslinya;

e. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan, atau membuat akta

risalah lelang.

Adapun kewenangan khusus Notaris lainnya, yang membuat akta dalam bentuk In Original, yaitu:

a. Pembayaran uang sewa, bunga, dan pesniun;

b. Penawaran pembayaran tunai

c. Protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat berharga;

d. Akta kuasa;

e. Keterangan kepemilikan;

f. Akta lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

3. Kewenangan Notaris Yang Akan Ditentukan Kemudian

Pasal 15 ayat (3) UUJN, seorang Notaris mempunyai kewenangan

Pasal 15 ayat (3) UUJN, seorang Notaris mempunyai kewenangan

Dokumen terkait