B. Tinjuan Empirik
III. METODE PENELITIAN
Terdiri atas Diskripsi Data Input, Jenis dan Sumber Data, Batasan Variabel, Metode Analisis, Prosedur Analisis, Pengujian Asumsi Klasik, dan Uji Hipotesis BAB IV : Hasil dan Pembahasan.
BAB V : Simpulan dan saran DAFTAR PUSTAKA
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Teori Penawaran Uang
Pada hakikatnya, penawaran uang adalah jumlah uang yang tersedia dalam suatu perekonomian. Kita telah mengenal kebijakan moneter, yaitu kebijakan yang bertujuan untuk mengatur penawaran uang / mengatur jumlah uang yang beredar. Jadi penawaran uang merupakan tugas pemerintah melalui bank sentral (Bank Indonesia). Produk yang ditawarkan sebuah bank dalam penawaran kredit adalah uang sehingga penawaran kredit bisa diartikan sebagai penawaran uang kepada masyarakat. Dimana kredit tersebut terdiri dari tiga, yaitu kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi.
Dalam teori moneter penawaran uang merupakan jumlah uang yang beredar. Uang beredar di masyarakat ditentukan oleh pemerintah, bank sentral, bank-bank
umum, dan masyarakat (Nopirin, 1990). Penyaluran kredit tidak lepas dari pasar kredit dimana pasar kredit merupakan tempat interaksi antara permintaan dan penawaran kredit, adanya interaksi tersebut membutuhkan proses dan waktu yang dipengaruhi oleh keberadaan yang harus dimiliki keduannya, prilaku permintaan kredit berasal dari peminjam sedangkan prilaku penawarn kredit adalah para
pemberi pinjaman, peminjam direpresentasikan oleh kurva permintaan yaitu dari sektor rumah tangga, perusahaan,dan pemerintah sedangkan penawaran kredit di representasikan oleh kurva penawaran kredit yaitu pemberi pinjaman langsung bank dan lembaga keuangan lainnnya.
Gambar 8. Grafik Kurva Penawaran dan Permintaan Uang
Hukum penawaran uang akan bergantung kepada permintaan yang dilakukan oleh debitur. Jumlah uang yang beredar dapt dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat permintaan uang yang dilakukan oleh debitur. Manakala suku bunga pinjaman itu rendah, maka kecenderungan akan permintaan uang juga akan meningkat. Namun hal sebaliknya akan terjadi saat suku bunga pinjaman yang diberikan oleh bank tersebut tinggi, maka
kecenderungan yang timbul adalah permintaan uang yang akan menurun, dalam hal ini akan berimbas terhadap jumlah penyaluran kredit yang akan menurun.
r1 r M D MsD Ms1 E E1 MsD Ms1
Penawaran dan Permintaan Uang Suku Bunga
Sementara menurut Keynes penawaran uang sepenuhnya dikendalikan oleh bank sentral dan tidak dipengaruhi oleh suku bunga. Jadi tingkat suku bunga bukan faktor utama penentu jumlah penawaran uang yang dalam hal ini penyaluran kredit. Dalam Sadono Sukirno (2003) disebutkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi pemerintah dan sistem bank dalam menentukan jumlah penawaran uang pada suatu waktu tertentu. Dengan demikian terdapat banyak faktor yang mempengaruhi keputusan bank umum untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat. lebih lanjut Melitz dan Pardue ( 1973).
Melitz dan Perdue (1973) merumuskan model Penawaran Kredit oleh perbankan :
= ( , , , )
Keterangan
SK : Jumlah kredit yang ditawarkan oleh bank
S : Ketentuan tingkat cadangan bank atau ketentuan cadangan wajib Ic : Tingkat suku bungan Kredit Bank
Ib : Biaya opurtunitas meminjam uang BD : Biaya Depsito Bank
Model diatas selanjutnya disempurnakan oleh Perry Warjiyo (2004), yang
memaparkan bahwa mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran uang secara implisit beranggapan bahwa semua dana yang dimobilisasi perbankan dari masyarakat dalam bentuk uang beredar (M1, M2) digunakan untuk pendanaan aktivitas sektor riil melalui penyaluran kredit perbankan. Dalam kenyataannya menurut Perry Warjiyo (2004), anggapan seperti itu tidak selamanya benar. Selain dana yang tersedia (DPK), perilaku penawaran kredit perbankan juga dipengaruhi
oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitor dan kondisi perbankan itu sendiri, seperti permodalan (CAR), jumlah kredit macet (NPL), dan Loan to Deposit Ratio (LDR). Dengan demikian, dapat dinyatakan dalam suatu bentuk hubungan fungsi sebagai berikut:
KS = f (DPK, prospek usaha debitor, kondisi perbankan itu sendiri) = f (DPK, prospek usaha debitor, CAR, NPL, LDR)
Keterangan:
KS = Kredit yang ditawarkan perbankan DPK = Dana Pihak Ketiga
Kondisi perbankan terdiri atas CAR = Capital Adequacy Ratio, NPL= Non Performing Loan, LDR = Loan to Deposit Ratio
Sementara menurut Suseno dan Piter A (2003), selain faktor-faktor tersebut di atas, faktor rentabilitas atau tingkat keuntungan yang tercermin dalam Return On Asset (ROA) juga berpengaruh terhadap keputusan bank untuk menyalurkan kredit kepada debitor.
Menurut Stiglitz dan Weiss (1981) mengatakan bahwa asumsi dasar yang harus dipahami untuk mengukur besarnya kredit yang disalurkan adalah adanya risiko kredit, muncul karena bank menetapkan tingkat bunga atas pinjaman yang diberikan kepada debitur sebagai profit untuk bank, ketika bank mengharapkan keuntungan, maka hal tersebut tergantung pada besarnya tingkat bunga kredit dan kemampuan nasabah untuk membayar kembai pinjaman, kenaikan tingkat bunga
kredit memiliki dua efek di satu sisi dapat meningkatkan profit namun dapat meningkatkan resiko kredit untuk bank.
Menurut Bernanke dan Blinder (1988) bahwa penawaran dan permintaan kredit dapat dirumuskan sebagai berikut :
Rumus penawaran kredit
= ( , ) ( 1− ) ( 1)
Rumus Permintaan Kredit
= ( , , ) ( 2)
Berdasarkan rumus diatas pasar kredit adalah
( , , ) = ( , ) ( 1− ) ( 3)
Keterangan
Ls : penawaran Kredit Ld : Permintaan Kredit R : Suku bunga Kredit I :Suku bunga Obigasi
DEP : Jumlah dana pihak ketiga T : Rasio cadangan minimum Bank Y : GNP
Berdasarkan tinjauan teori penawaran uang dan perilaku penawaran kredit di atas, maka penelitian ini menggunakan beberapa variabel bebas DPK = Dana pihak Ketiga, CAR = Capital Adequacy Ratio, LDR = Loan to Deposit Ratio, ROA = Return On Assets, dan Suku bunga Acuan (BI Rate) sebagai proksi dari faktor-
faktor yang mempengaruhi penyaluran kredit Bank perkreditan Rakyat di Provinsi Lampung.
2. Pengertian Kredit
Kredit merupakan suatu fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayarnya kembali dalam jangka waktu yang ditentukan. UU No 10. tahun 1998
menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Jika seseorang menggunakan jasa kredit, maka ia akan dikenakan bunga tagihan. Ketika bank memberikan pinjaman uang kepada nasabah, bank tentu saja
mengharapkan uangnya kembali. Karenanya, untuk memperkecil risiko (uangnya tidak kembali, sebagai contoh), dalam memberikan kredit bank harus
mempertimbangkan beberapa hal yang terkait dengan itikad baik (willingness to pay) dan kemampuan membayar (ability to pay) nasabah untuk melunasi kembali pinjaman beserta bunganya. Hal-hal tersebut terdiri dari Character (kepribadian), Capacity (kapasitas), Capital (modal), Colateral (jaminan), dan Condition of Economy (keadaan perekonomian), atau sering disebut sebagai 5C (panca C). Jenis-jenis kredit :
1. Kredit Investasi : adalah kredit jangka menengah dan panjang untuk investasi barang modal seperti pembangunan pabrik,pembelian mesin.
2. Kredit Modal Kerja : adalah kredit jangka pendek atau menengah yang diberikan untuk pembiayaan/pembelian bahan baku produksi.
3. Kredit Konsumsi : adalah kredit untuk perorangan untuk pembiayaan barang- barang pribadi seperti rumah (KPR-Kredit Pemilikan Rumah), kendaraan (KKB-Kredit Kendaraan Bermotor), lain-lain seperti Kredit tanpa agunan. 4. Kredit Usaha Tanpa Bunga dan Tanpa Agunan : adalah kredit ini disediakan
khusus untuk usaha kecil dan menengah. Kredit semacam ini sangat meringankan bagi pengusaha namun tahapan seleksi pencairannya sangat ketat, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit InDelSa.
Dasar hukum pemberian kredit meliputi 1.Perjanjian kredit antara para pihak, dengan mengacu pada pasal 1338 KUHP perdata. 2.Uuperbankan, 3.Peraturan Pelaksanaan dari Undang-undang perbankan, 4 Yurisprudensi, (5). Kebiasaan dalam praktik perbankan, (6) Peraturan perundang-undangan terkait lainnya, atau ketentuan Bank Indonesia tentang perkreditan. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen utama dalam pemberian kredit adalah perjanjian kredit, yang merupakan perjanjian pinjam-meminjam uang antara bank dengan pihak lain, dalam hal ini nasabahnya, sebagai subjek hukum.
Menurut Kasmir (2004), prinsip-prinsip penilaian kredit yang dilakukan dengan analisis 5C yang terdiri dari faktor sebagai berikut:
1. Character, adalah sifat atau watak calon debitur. Hal ini bertujuan
memberikan keyakinan kepada pihak perbankan bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit dapat dipercaya.
2. Capacity, adalah kemampuan calon debitur dalam membayar kredit yang dihubungkan dengan kemampuan calon debitur tersebut dalam mengelola bisnis serta kemampuannya mendapat keuntungan.
3. Capital, adalah sumber-sumber pembiayaaan yang dimiliki calon debitur dalam usaha yang dilakukannya.
4. Collateral, adalah jaminan yang diberikan calon debitur baik besifat fisik maupun non fisik. Jaminan yang diberikan dianjurkan melebihi jumlah kredit yang diberikan.
5. Condition, adalah penilaian kredit yang mempertimbangkan kondisi ekonomi sekarang dan masa yang akan datang.
Selain itu prinsip pemberian kredit lainnya adalah 5 P, yaitu:
1. Party (golongan) menggolongkan debitur menurut character, capacity, dan capital sehingga kreditur memiliki keyakinan kepada debitur.
2. Purpose (tujuan) bank perlu mengetahui tujuan permohonan kredit sehingga bank dapat mempertimbangkan kredit tersebut dapat berguna bagi debitur. 3. Payment (pembayaran) penilaian apakah sumber pembayaran kredit dari calon
debitur tersedia dan aman serta apakah setelah pemberian kredit debitur memiliki sumber pendapatan yang cukup untuk pembayaran kredit.
4. Profitability (kemampuan memperoleh laba) penilaian terhadap kemampuan debitur menghasilkan laba yang lebih besar daripada bunga dan pokok kredit. 5. Protection (perlindungan) perlindungan terhadap resiko kredit macet perlu
dilakukan, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah bekerjasama dengan pihak asuransi.
Prinsip pemberian kredit yang penting lainnya adalah 3 R, yaitu:
1. Return, penilaian penghasilan apakah usaha yang akan dibiayai benar-benar suatu usaha yang memberikan hasil didasarkan pengalaman, kemampuan, pemasaran dan aspek lainnya.
2. Repayment Capacity, penilaian kesanggupan membayar kembali kredit apakah nasabah benar- benar memiliki kemampuan untuk mengembalikan kredit bank. hal ini ditilik dari segi aliran kas, keuntungan yang akan diperoleh, watak yang dimiliki oleh nasabah.
3. Risk Bearing Ability, penilaian kemampuan untuk menutup resiko yang mungkin timbul jika kredit menjadi macet. Dengan mengacu pada prinsip- prinsip yang menjadi pertimbangan dalam pemberian kredit tersebut diharapkan kredit yang diberikan oleh bank kepada debitur tidak menjadi kredit macet.
Dalam memberikan kredit bank memiliki beberapa tujuan, menurut Taswan (2010) tujuan sebuah bank memberikan kredit adalah:
1. Bagi bank, kredit digunakan sebagai instrument bank dalam memelihara likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas, selain itu dapat menjadi pendorong peningkatan penjualan produk bank lainnya dan kredit diharapkan dapat menjadi sumber utama pendapatan bank yang berguna bagi kelangsungan hidup bank tersebut.
2. Bagi debitur, pemberian kredit oleh bank dapat digunakan untuk
memperlancar usaha dan selanjutnya meningkatkan gairah usaha sehingga dapat menjamin keberlangsungan hidup perusahaan.
3. Bagi masyarakat (negara), pemberian kredit oleh bank akan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat akan mampu menyerap tenaga kerja dan pada akhirnya mampu menyejahterakan masyarakat.
3. Pengertian Bank
Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan
menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote. Kata bank berasal dari bahasa Italia Banca berarti tempat penukaran uang. Sedangkan menurut Undang- undang Negara Republik Indonesia Nomor 10. tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Pengertian dan Kasifikasi Bank
Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan
Bank adalah suatu institusi atau lembaga yang menghimpun uang dari rakyat/ nasabah, dalam bentuk simpanan dan menyalurkan lagi kepada rakyat/ nasabah dalam bentuk kredit dan berbagai bentuk lainya dalam rangka meningkatkan taraf ekonomi rakyat/ nasabah. Jenis-jenis bank berdasarkan fungsinya:
1. Bank sentral : Suatu institusi/ lembaga yang bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas ekonomi/ kebijakan moneter pada suatu negara. Bank Sentral menjaga agar tingkat inflasi terkendali dan selalu berada pada nilai yang serendah mungkin atau pada posisi yang optimal bagi perekonomian (low/zero inflation), dengan mengontrol keseimbangan jumlah uang dan barang. Apabila jumlah uang yang beredar terlalu banyak maka bank sentral dengan menggunakan instrumen dan otoritas yang dimilikinya.
2. Bank umum, adalah lembaga keuangan uang menawarkan berbagai layanan produk dan jasa kepada masyarakat dengan fungsi seperti menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam berbagai bentuk, memberi kredit pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan, jual beli valuta asing / valas, menjual jasa asuransi, jasa giro, jasa cek, menerima penitipan barang berharga, Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.harga, dan lain sebagainya. Bank umum bersifat mencari keuntungan/ komersil.
Jenis- jenis bank berdasarkan kepemilikan:
1. Bank Pemerintah: bank yang sebagian besar modalnya dimiliki oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah.
2. Bank swasta nasional: bank yang sebagian besar modalnya dimiliki oleh swasta nasional Indonesia.
3. Bank koperasi: bank yang sebagian besar atau seluruh modalnya dimiliki oleh perusahaan berbadan hukum koperasi.
4. Bank asing: bank yang sebagian besar atau seluruh modalnya dimiliki oleh asing, baik swasta maupun pemerintah asing.
5. Bank campuran: bank yang modalnya dimiliki swasta nasional Indonesia dan asing, dan pada umumnya sebagian besar sahamnya dimiliki oleh swasta Indonesia.
Jenis-jenis bank berdasarkan statusnya:
1. Bank devisa: bank yang melaksanakan transaksi luar negeri atau transaksinya berhubungan dengan valas.
2. Bank nondevisa: bank yang tidak diperbolehkan melakukan transaksi dengan luar negeri atau berkaitan dengan valas.
Jenis-jenis bank berdasarkan cara menentukan harga:
1. Bank konvensional: bank yang dalam menentukan harganya menetapkan suatu tingkat bunga tertentu, baik untuk dana yang dikumpulkan maupun disalurkan.
2. Bank syariah: bank yang penentuan harganya tidak menetapkan suatu tingkat bunga tertentu tetapi didasarkan pada prinsip-prinsip syariah.
Dua sifat khusus industri perbankan :
1. Sebagai salah satu subsistem industri jasa keuangan. Bank disebut sebagai jantung jasa keuangan. Bank disebut sebagai jantung atau motor penggerak roda perekonomian suatu negara.
2. Industri perbankan adalah industri yang sangat bertumpu kepada kepercayaan masyarakat bertumpu kepada kepercayaan masyarakat (fiduciary financial institution). Kepercayaan masyarakat adalah segala-galanya bagi bank. Fungsi-fungsi bank umum yang diuraikan di bawah ini menujukkan betapa pentingnya keberadaan bank umum dalam perekonomian modern, yaitu :
A. Penciptaan Uang
uang yang diciptakan bank umum adalah uang giral, yaitu alat pembayaran lewat mekanisme pemindahbukuan (kliring). Kemampuan bank umum menciptakan uang giral menyebabkan possisi dan fungsinya dalam pelaksanaan kebijakan moneter.Bank sentral dapat mengurangi atau menambah jumlah uang yang beredar dengan cara mempengaruhi kemampuan bank umum menciptakan uang giral.
B. Mendukung Kelancaran Mekanisme Pembayaran,
fungsi lain dari bank umum yang juga sangat penting adalah mendukung kelancaran mekanisme pembayaran. Hal ini dimungkinkan karena salah
satu jasa yang ditawarkan bank umum adalah jasa-jasa yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran. Beberapa jasa yang amat dikenal adalah kliring, transfer uang, penerimaan setoran-setoran, pemberian fasilitas pembayaran dengan tunai, kredit, fasilitas-fasilitas pembayaran yang mudah dan nyaman, seperti kartu plastik dan sistem pembayaran elektronik.
C. Penghimpunan Dana Simpanan
Dana yang paling banyak dihimpun oleh bank umum adalah dana simpanan. Di Indonesia dana simpanan terdiri atas giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu. Kemampuan bank umum menghimpun dana jauh lebih besar dibandingkan dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Dana-dana simpanan yang berhasil dihimpun akan disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, utamanya melalui penyaluran kredit.
D. Mendukung Kelancaran Transaksi Internasional
Bank umum juga sangat dibutuhkan untuk memudahkan dan atau
memperlancar transaksi internasional, baik transaksi barang/jasa maupun transaksi modal. Kesulitan-kesulitan transaksi antara dua pihak yang berbeda negara selalu muncul karena perbedaan geografis, jarak, budaya dan sistem moneter masing-masing negara. Kehadiran bank umum yang beroperasi dalam skala internasional akan memudahkan penyelesaian
transaksi-transaksi tersebut. Dengan adanya bank umum, kepentingan pihak-pihak yang melakukan transaksi internasional dapat ditangani dengan lebih mudah, cepat, dan murah.
E. Penyimpanan Barang-Barang Berharga
Penyimpanan barang-barang berharga adalah satu satu jasa yang paling awal yang ditawarkan oleh bank umum. Masyarakat dapat menyimpan barang-barang berharga yang dimilikinya seperti perhiasan, uang, dan ijazah dalam kotak-kotak yang sengaja disediakan oleh bank untuk disewa (safety box atau safe deposit box). Perkembangan ekonomi yang semakin pesat menyebabkan bank memperluas jasa pelayanan dengan menyimpan sekuritas atau surat-surat berharga.
F. Pemberian Jasa-Jasa Lainnya,
Di Indonesia pemberian jasa-jasa lainnya oleh bank umum juga semakin banyak dan luas. Saat ini kita sudah dapat membayar listrik, telepon membeli pulsa telepon seluler, mengirim uang melalui atm, membayar gaji pegawai dengan menggunakan jasa-jasa bank.
4. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Bank Perkreditan Rakyat adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Dengan lokasi yang pada umumnya dekat dengan tempat masyarakat yang membutuhkan.
Bank perkreditan rakyat (BPR), merupakan salah satu bentuk badan usaha bank yang secara khusus diperuntukkan melayani kebutuhan pembiayaan sektor riil dalam kegiatan ekonomi mikro, kecil dan menengah (UMKM), BPR dapat diharapkan sebagai lembaga keuangan yang mempunyai peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan, yang dalam jangka panjang akan memperkuat perekonomian desa/rakyat. Status BPR diberikan kepada Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, Lumbung Pitih Nagari (LPN), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Badan Kredit Desa (BKD), Badan Kredit Kecamatan (BKK), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Bank Karya Produksi Desa (BKPD), dan/atau lembaga-lembaga lainnya yang dipersamakan berdasarkan UU Perbankan Nomor 7 tahun 1992 dengan memenuhi persyaratan tatacara yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan tersebut diberlakukan karena mengingat bahwa lembaga-lembaga tersebut telah berkembang dari lingkungan masyarakat Indonesia, serta masih diperlukan oleh masyarakat, maka keberadaan lembaga dimaksud diakui. Oleh karena itu, UU Perbankan Nomor 7 tahun 1992 memberikan kejelasan status lembaga-lembaga dimaksud. Untuk menjamin kesatuan dan keseragaman dalam pembinaan dan pengawasan, maka persyaratan dan tatacara pemberian status lembaga-lembaga dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Usaha BPR meliputi usaha untuk menghimpun dan menyalurkan dana dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Keuntungan BPR diperoleh dari spread effect dan pendapatan bunga. Adapun usaha-usaha BPR adalah :
Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Memberikan dan menyalurkan kredit.
Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.
Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),
deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain. SBI adalah sertifikat yang ditawarkan Bank Indonesia kepada BPR apabila BPR mengalami over liquidity atau kelebihan likuiditas.
Usaha yang tidak boleh dilakukan BPR, ada beberapa jenis usaha seperti yang dilakukan bank umum tetapi tidak boleh dilakukan BPR. Usaha yang tidak boleh dilakukan BPR adalah :
Menerima simpanan berupa giro.
Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.
Melakukan penyertaan modal dengan prinsip prudent banking dan concern terhadap layanan kebutuhan masyarakat menengah ke bawah.
Melakukan usaha perasuransian.
Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana yang dimaksud dalam usaha BPR
Dalam mengalokasikan kredit, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh BPR, yaitu:
Dalam memberikan kredit, BPR wajib mempunyai keyakinan atas
kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan perjanjian.
Dalam memberikan kredit, BPR wajib memenuhi ketentuan Bank Indonesia mengenai batas maksimum pemberian kredit, pemberian jaminan, atau hal lain yang serupa, yang dapat dilakukan oleh BPR kepada peminjam atau
sekelompok peminjam yang terkait, termasuk kepada perusahaan-perusahaan dalam kelompok yang sama dengan BPR tersebut. Batas maksimum tersebut adalah tidak melebihi 30% dari modal yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.
Dalam memberikan kredit, BPR wajib memenuhi ketentuan Bank Indonesia mengenai batas maksimum pemberian kredit, pemberian jaminan, atau hal lain yang serupa, yang dapat dilakukan oleh BPR kepada pemegang saham (dan keluarga) yang memiliki 10% atau lebih dari modal disetor, anggota dewan komisaris (dan keluarga), anggota direksi (dan keluarga), pejabat BPR lainnya, serta perusahaan-perusahaan yang di dalamnya terdapat kepentingan pihak pemegang saham (dan keluarga) yang memiliki 10% atau lebih dari modal disetor, anggota dewan komisaris (dan keluarga), anggota direksi (dan keluarga), pejabat BPR lainnya. Batas maksimum tersebut tidak melebihi 10% dari modal yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.
5. Dana Pihak Ketiga (DPK)
Dana Pihak Ketiga (simpanan) yang dijelaskan dalam UU Perbankan RI No. 10 tahun 1998 tentang perbankan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat
kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu. Menurut Kasmir dalam bukunya Manajemen Perbankan (2011), dana pihak ketiga adalah dana yang berasal dari masyarakat luas yang merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasional suatu bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai operasionalnya dari