• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Definisi Metode Pengajaran

Menurut Ahmad Sabri, dalam bukunya startegi belajar mengajar & micro teaching menyatakan;

“Metode Pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok. Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seorang guru harus mengetahui berbagai metode. Dengan memiliki pengetahuan mengenai sifat berbagai metode yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi. Penggunaan metode mengajar sangat bergantung pada tujuan pembelajaran”.34

Syarat-syarat yang harus diperhatikan seorang guru dalam penggunaan metode pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Metode yang dipergunakan harus dapat membangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa.

b. Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, seperti melakukan inovasi dan ekspotasi.

c. Metode yang digunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya.

d. Metode yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.

33

Ibid., hlm. 20.

34

Ahmad Sabri, Startegi Belajar Mengajar & Micro teaching, (Jakarta: QuantumTeaching, 2007), h. 49.

e. Metode yang digunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.

f. Metode yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.35

2. Macam-macam Metode Pengajaran

Memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang menarik. Ketepatan penggunaan metode mengajar tersebut sangat bergantung kepada tujuan, isi, proses belajar mengajar dan kegiatan belajar mengajar.36 Ditinjau dari segi penerapannya, metode-metode ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah kecil. Ada juga yang tepat digunakan di dalam kelas atau di luar kelas. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat beberapa metode mengajar dan penggunaanya.

a. Metode Ceramah

Yang dimaksud dengan metode ceramah ialah suatu metode di dalam pendidikan dan pengajaran di mana cara menyampaikan pengertian-pengertian materi pengajaran kepada anak didik dilaksanakan dengan lisan. Hubungan antara guru dan anak didik banyak menggunakan bahasa lisan.37

b. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab, begitu juga sebaliknya.

c. Metode Diskusi

Diskusi adalah suatu kegiatan kelompok untuk memecahkan suatu masalah dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau menyelesaikan keputusan bersama. Dalam diskusi setiap orang diharapkan meberikan sumbangan pemikiran sehingga seluruh kelompok kembali dengan pemahaman yang sama dalam suatu keputusan atau kesimpulan.

35 Ibid., hlm. 49-50. 36 Ibid., hlm. 50. 37

d. Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai suatu kesatuan tersendiri atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil.

e. Metode Demonstrasi dan Eksprimen

Metode demonstarsi adalah suatu metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Metode ini menghendaki guru yang lebih aktif dari pada anak didik. Misalnya menggunakan kompor.38

Sedangkan metode eksprimen adalah metode pengajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa bersama-sama mengerjakan. Misalnya siswa mengerjakan sholat jum'at, merawat jenazah.39

f. Metode Problem Solving

Metode Problem Solving (Metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.

g. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran

Metode Sosiodrama dan Bermain Peran adalah metode mengajar dengan mendemontrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial, sedangakan bermain peran menekankan kenyataan dimana para siswa diikutsertakan dalam permainan peranan di dalam mendemontrasikan masalah-masalah sosial.

h. Metode Latihan (Drill)

Metode latihan (drill) pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. i. Metode Karyawisata

Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan keluar kelas dalam rangka belajar. Karyawisata

38

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h. 239.

39

adalah suatu karya penyajian bahan pelajaran dengan membawa siswa mengunjungi obyek yang akan dipelajari.

j. Metode Tugas Belajar dan Resitasi

Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu tugas dilaksanakan di rumah, sekolah perpustakaan dan tempat lainnya. Metode tugas dan resitasi merangsang anak aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok. Oleh karena itu, tugas dapat diberikan secara individual, atau dapat pula secara kelompok.

3. Metode Pemberian Tugas (Resitasi)

Pemberian tugas (resitasi) berasal dari bahasa inggris to cite yang artinya mengutip (re: kembali) yaitu siswa mengutip atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan berlatih hingga sampai siap sebagaimana mestinya. Metode ini popular dengan bentuk PR (Pekerjaan Rumah).40

Dalam metode pemberian tugas guru dan murid harus mengetahui beberapa syarat yaitu:

a. Tugas yang diberikan harus berkaitan dengan pelajaran yang mereka pelajari sehingga murid di samping sanggup mengerjakannya juga sanggup menghubungkannya dengan pelajaran tertentu.

b. Guru harus dapat mengukur dan memperkirakan bahwa tugas yang diberikan kepada murid akan dilaksanakannya sesuai dengan kesanggupannya dan kecerdasan yang dimilikinya.

c. Guru harus memberikan motivasi kepada murid bahwa tugas yang diberikan kepada mereka akan dikerjakan atas kesadaran sendiri yang timbul dari hati sanubarinya.

d. Jenis tugas yang diberikan kepada murid harus dimengerti benar-benar sehingga murid tidak ada keraguan dalam melaksanakannya.41

Metode resitasi adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan di dalam

40

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), h. 204.

41

kelas, halaman sekolah, laboratorium, perpustakaan, bengkel, rumah siswa, atau di mana saja asal tugas itu dapat dikerjakan. 42

Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak sementara waktu sedikit. Artinya banyaknya bahan yang tersedia dengan waktu kurang seimbang. Agar bahan pelajaran selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan maka metode inilah yang biasanya guru gunakan untuk mengatasinya.

Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas dilaksanakan di rumah, sekolah perpustakaan dan tempat lainnya. Metode tugas dan resitasi merangsang anak aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok. Oleh karena itu, tugas dapat diberikan secara individual, atau dapat pula secara kelompok. Tugas yang dapat diberikan kepada anak didik ada berbagai jenis. Karena itu, tugas sangat banyak macamnya, bergantung pada tujuan yang akan dicapai seperti tugas meneliti, tugas menyusun laporan (lisan atau tulisan), tugas motorik, tugas laboratorium, dan lain-lain.

Ada langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan tugas atau resitasi yaitu:

i. Fase pemberian tugas

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:

a) Tujuan yang akan dicapai

b) Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut.

c) Sesuai dengan kemampuan siswa ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.

d) Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

ii. Langkah pelaksanaan tugas

1. Diberikan bimbingan/pengawasaan oleh guru. 2. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.

3. Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.

42

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 96.

4. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.

iii. Fase mepertanggungjawabkan tugas Hal yang harus dikerjakan pada fase ini:

a) Laporan siswa baik lisan/diskusi dari apa yang telah dikerjakannya.

b) Ada Tanya jawab/diskusi kelas.

c) Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengn tes maupun nontes atau cara lainnya. 43

Fase Mempetanggungjawabkan tugas inilah yang disebut "resitasi". Metode tugas atau resitasi mempunyai beberapa kelebihan antara lain:

(1) Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas balajar individual ataupun kelompok.

(2) Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru.

(3) Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa. (4) Dapat mengembangkan kreativitas siswa.

Selain memiliki kelebihan, metode ini juga memiliki kekurangan. Yaitu:

(1) Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain.

(2) Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya yidak berpartisipasi dengan baik.

(3) Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.

(4) Sering memberikan tugas yang monoton (tak bervariasi) dapat menimbulkan kebosanan siswa. 44

Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan yang dimaksud dengan metode resitasi adalah: Metode penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas kepada siswa baik secara individu maupun kelompok agar mereka dapat melakukan kegiatan belajar di kelas maupun di luar kelas. F. Evaluasi 1. Pengertian evaluasi 43 Ibid., hlm. 97 44 Ibid., h. 98.

Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation; dalam bahasa Arab al-Taqdîr; dalam bahsa Indonesia berarti: penilaian. Akar katanya adalah value; dalam bahasa Arab al-Qimah; dalam bahasa Indonesia berarti; nilai. Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.45

Adapun dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977): Evaluation refer to the act or process to determining the value of something. Menurut defenisi ini, maka istilah evaluasi itu menunjukkan kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.46

Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak berharga, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan kuat dengan keputusan nilai (value judgement). Dalam dunia pendidikan dapat dilakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu atau etos kerja guru.47

Menurut Stufflebeam dan Shinkfield (1985), evaluasi adalah penilaian yang sistematik tentang manfaat atau kegunaaan suatu obyek. Dalam melakukan suatu obyek, evaluasi di dalamnya ada kegiatan untuk menentukan nilai suatu program, sehingga ada unsur judgement tentang nilai suatu program, sehingga dalam proses evaluasi ada unsur subyektif.48

Sejalan dengan pendapat di atas M. Ngalim Purwanto mengemukakan bahwa evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.49

Secara umum dapat dikatakan evaluasi pengajaran adalah penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah

45

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), h.1.

46

Ibid., h. 1.

47

Mimin Haryati, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2006), h. 17.

48

Ibid., h. 17.

49

M. Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 3.

tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum. Hasil penilaian ini dapat dinyatakan secara kuantitatif maupun kualitatif.50

2. Fungsi Evaluasi

Dengan mengetahui manfaat evaluasi ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan bahwa fungsi evaluasi ada beberapa hal:

a. Evaluasi berfungsi selektif.

Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu, sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:

1) Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu. 2) Untuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat

berikutnya.

3) Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa. 4) Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah

dan sebagainya.

b. Evaluasi berfungsi diagnostic.

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Di samping itu, akan diketahui pula sebab-musabab kelemahannya. Dengan demikian akan mudah dicari cara untuk mengatasinya.

c. Evaluasi berfungsi sebagai penempatan.

Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara Barat adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan keterbatasan sarana dan tenaga pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan

50

kemampuan adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu evaluasi. Kelompok siswa yang mempunyai evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

d. Evaluasi berfungsi sebagi pengukuran keberhasilan.

Fungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yakni; guru, metode mengajar kurikulum, sarana dan sistem kurikulum. 51

3. Teknik Evaluasi

Secara garis besar, teknik evaluasi yang digunakan dalam pengajaran menurut Djamarah dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu: teknik tes dan teknik non-tes.52 Hal ini juga sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto.53 Lebih lanjut Suharsimi menjelaskan bahwa evaluasi yang tergolong teknik nontes yaitu: skala bertingkat (rating scale), kuesioner (questionair), daftar cocok (check list), wawancara (interview), pengamatan (observation) 54dan riwayat hidup.

Ada beberapa teknik non-tes yaitu: a. Skala bertingkat (rating scale)

Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu nilai pertimbangan.

b. Kuesioner (questionnaire)

Kuesioner (questionnaire) juga sering dikenal sebagai angket. Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Tentang macam-macam kuesioner, dapat ditinjau dari beberapa segi:

1) Ditinjau dari siapa yang menjawab: 1. Kuesioner langsung

51

Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), h. 14-!5.

52

Ibid., h. 28-34.

53

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), h. 26.

54

Kuesioner dikatakan langsung jika kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.

2. Kuesioner tidak langsung

Kuesioner tidak langsung adalah kuesioner yang dikirimkan dan diisi oleh bukan orang yang diminta keterangannya. Kuesioner tidak langsung biasanya digunakan untu mencari informasi tentang bahan, anak, saudara, tetangga dan sebagainya.

2) Ditinjau dari segi cara menjawab: a) Kuesioner tertutup

Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban langkah sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.

b) Kuesioner terbuka

Kuesioner terbuka adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehinga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya.

c. Daftar cocok (Check-list)

Yang dimaksud dengan daftar cocok (check-list) adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat), di mana responden yang dievaluasi tinggal membumbuhkan tanda cocok (√) di tempat yang sudah disediakan.

d. Wawancara (interview)

Wawancara (interview) adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan hanya diajukan oleh subyek evaluasi.

Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1) Interviu bebas, di mana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subyek evaluasi.

2) Interviu terpimpin, yaitu interviu yang dilakukan oleh subyek evaluasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah diusun terlebih dahulu.

e. Pengamatan (observation)

Pengamatan atau observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.

Ada tiga macam observasi:

1) Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, tetapi dalam pada itu, pengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.

2) Observasi sistematik, yaitu observasi di mana faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis. Dan sudah diatur menurut katagorinya.

3) Observasi eksperimental terjadi jika pengamat tidak berpatisipasi dalam kelompok.

f. Riwayat hidup

Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subyek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan dan sikap dari obyek yang dimulai.

4. Tujuan evaluasi

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan sadar oleh guru dengan tujuan memperoleh kepastian mengenai keberhasilan belajar anak didik dan memberikan masukan kepada guru mengenai yang dia lakukan dalam pengajaran. Dengan kata lain, evaluasi yang dilakukan guru bertujuan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran yang disampaikannya sudah dikuasai atau belum oleh anak didik, dan apakah kegiatan pengajaran yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan. 55

Menurut Sudirman N., sebagaimana yang dikutip oleh Syaiful Bahri mengatakan, tujuan penilaian dalam proses belajar mengajar adalah:

a. Mengambil keputusan tentang hasil belajar. b. Memahami anak didik.

55

c. Memperbaiki dan mengembangkan program pengajaran.

Lebih lanjut beliau mengatakan, pengambilan keputusan tentang hasil belajar merupakan suatu keharusan bagi seorang guru agar dapat mengetahui berhasil tidaknya anak didik dalam proses belajar mengajar. Ketidakberhasilan proses belajar mengajar disebabkan antara lain oleh:

1) Kemampuan anak didik yang rendah.

2) Kualitas materi pelajaran tidak sesuai dengan tingkat usia anak. 3) Jumlah bahan pelajaran terlalu banyak sehingga tidak sesuai

dengan waktu yang diberikan.

4) Komponen proses belajar mengajar yang kurang sesuai dengan tujuan. 56

Di samping itu, pengambilan keputusan juga diperlukan untuk memahami anak didik dan mengetahui sejauh mana dapat diberikan bantuan terhadap kekurangan-kekurangan anak didik. Evaluasi juga bermaksud memperbaiki dan mengembangkan program pengajaran.

Daryanto menjelaskan bahwa tujuan evaluasi adalah mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya.57

Menurut Suharsimi tujuan penilaian memiliki tiga fungsi; selektif, diagnostic, penempatan, dan sebagi pengukur keberhasilan.58 Penilaian yang berfungsi sebagi selektif biasanya digunakan untuk menyeleksi siswa, seperti untuk menjaring siswa baru, siswa yang dapat naik kelas dan lain sebagainya. Sedangkan diagnostic dipergunakan untuk melihat kebaikan dan kelemahan siswa. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari untuk mengatasi. Penilaian yang berfungsi sebagai penempatan digunakan untuk mengelompokkan dan menentukan di antara beberapa siswa yang memiliki kemampuan dan memiliki kelemahan. Yang terakhir adalah sebagai pengukur keberhasilan. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.59

Dari beberapa pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan evaluasi adalah untuk memperbaiki cara belajar mengajar,

56

Ibid., h. 247.

57

Daryanto, Evaluasi Pendidikan, h. 11.

58

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, h. 10.

59

mengadakan perbaikan dan pengayaan bagi anak didik, serta menempatkan anak didik pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, tujuan evaluasi adalah untuk memperbaiki atau mendalami dan memperluas pengajaran, serta untuk memberitahukan kepada para orang tua/wali anak didik mengenai penentuan kenaikan kelas dan penentuan kelulusan anak didik.

Oleh karena itu yang dimaksud dengan evaluasi adalah penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung. Hasil penilaian tersebut dapat dinyatakan secara kuantitatif maupun kualitatif.

BAB III

Dokumen terkait