2. TINJAUAN PUSTAKA
3.3. Metode Pengambilan dan Pengumpulan Data 1. Data primer
Data primer yang digunakan meliputi keadaan umum lokasi, kualitas perairan situ, data biofisik lingkungan, data perikanan, persepsi terhadap kawasan, kebijakan dalam pengelolaan, kesesuaian wisata, kesesuaian lahan, data sosial-ekonomi penduduk setempat dan pengunjung, isu–isu dan permasalahan yang terjadi. Metode yang digunakan dalam memperoleh data primer, yaitu dilakukan dengan cara observasi lapang dan wawancara.
a. Observasi lapang
Observasi lapang merupakan bagian dari pengumpulan data primer, kegiatan ini dilakukan dengan cara mengukur insitu pada parameter lingkungan yang diperlukan dalam penelitian. Parameter tersebut meliputi kualitas perairan situ, kondisi lingkungan disekitar situ dan beberapa aktivitas yang dilakukan disekitar situ.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kawasan penelitian, yaitu dengan cara wawancara langsung kepada penduduk disekitar kawasan penelitian, pengunjung atau wisatawan, pegawai di kawasan, pengelola dan dinas pariwisata Subang. Penentuan responden dilakukan dengan metode purposive sampling terdiri dari penduduk sekitar, pengelola kawasan wisata dan pegawai dalam kawasan wisata. Metode ini memilih responden berdasarkan kebutuhan data yang diinginkan yaitu dengan ketentuan peran serta (partisipasi) responden dalam kegiatan wisata, selain itu memudahkan dalam mewawancara dan kesediaan responden untuk memberikan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian. Metode accident sampling digunakan untuk responden wisatawan untuk memudahkan dalam pengambilan data. Responden yang diambil dari penduduk, wisatawan dan wisatawan pemancing masing-masing sebanyak 30 orang (Gambar 3).
.
Gambar 3. Diagram pengambilan contoh responden.
3.3.2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, buku-buku laporan hasil penelitian sebelumnya, buku-buku yang terkait dengan penelitian ini, pengisian kuisioner oleh masyarakat sekitar situ, pihak pengelola dan wisatawan. Data-data
Populasi wisata
Penduduk Wisatawan Pengelola
n= 30 n= 30 n= 5
N= 95
Informasi kawasan Situ Cigayonggong
Wisatawan Pemancing
yang dikumpulkan meliputi sumberdaya alam, keadaan umum kawasan Situ Cigayonggong, isu dan permasalahan yang berkembang.
3.4. Analisis Data
3.4.1 Analisis sumberdaya dan lingkungan perairan
Analisis sumberdaya terdiri dari sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Analisis sumberdaya alam meliputi kondisi kawasan, kualitas air, flora, dan fauna. Kondisi kawasan diperoleh melalui data primer yaitu dengan cara observasi lapang dan wawancara melalui pengisian kuisioner kepada pihak pengelola Situ Cigayonggong, masyarakat sekitar situ dan wisatawan. Data sekunder diperoleh dengan cara pengumpulan literatur - literatur. Kualitas air yang diamati dalam penelitian ini meliputi parameter fisik (suhu, warna, kecerahan dan bau), parameter kimia (pH, DO dan BOD), dan parameter biologi (ikan dan tanaman air). Data kualitas air yang diperoleh dibandingkan dengan baku mutu menurut PPRI NO. 82 Tahun 2001 yaitu mengenai air baku untuk sarana rekreasi, peternakan, pembudidayaan ikan tawar dan pertamanan. Fauna perairan yang diamati adalah ikan yang diperoleh dengan cara wawancara kepada wisatawan pemancing untuk mengetahui jenis dan kelimahan ikan yang ada di perairan Situ Cigayonggong, sedangkan flora perairan yang diamati adalah tanaman, dilihat jenis tanaman air yang tumbuh disana kemudian diidentifikasi.
Analisis sumberdaya manusia yaitu mencakup masyarakat sekitar kawasan wisata, wisatawan, pengelola dan instasi yang terkait. Analisis sumberdaya manusia dilakukan melalui wawancara dengan cara memberikan kuisioner untuk mengetahui tingkat pendidikan, usia, pekerjaan dan tingkat pemahaman kelestarian lingkungan.
3.4.2 Analisis kesesuaian wisata
Kegiatan wisata yang ada atau akan dikembangkan di suatu kawasan harus disesuaikan dengan potensi sumberdaya yang dimiliki dan peruntukannya. Hal tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis kesesuaian wisata. Kawasan wisata air Situ Cigayonggong memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga lokasi penelitian kesesuian wisata dibagi sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya.
Kegiatan wisata yang ada diantaranya sepeda air dan memancing sedangkan kegiatan wisata akan dikembangkan di kawasan wisata air Situ Cigayonggong diantaranya duduk santai, outbound dan berkemah. Analisis kesesuaian wisata ditentukan berdasarkan perhitungan indeks kesesuaian wisata (IKW) yang memiliki persamaan sebagai berikut (Yulianda 2007) :
IKW = ∑ (Ni / Nmaks) x 100 % Keterangan :
IKW : Indeks Kesesuaian Wisata (%) Ni : Nilai parameter ke-i
Nmaks : Nilai maksimum dari suatu kategori wisata
Nilai parameter ke-i (Ni) merupakan hasil perkalian antara bobot dan skor lokasi penelitian dari suatu parameter. Nilai maksimum dari suatu kategori wisata (Nmaks) merupakan hasil perkalian antara bobot dan skor maksimum dari suatu parameter. Parameter, bobot dan skor yang dimaksud dapat dilihat pada matriks kesesuaian. Matriks kesesuaian wisata yang digunakan berdasarkan matriks kesesuaian menurut Yulianda (2010) yang telah dimodifikasi.
Parameter-parameter yang berpengaruh terhadap kegiatan memancing, duduk santai, outbound dan berkemah diberi bobot. Bobot ditentukan oleh tingkat kepentingan parameter pada kegiatan yang akan dikembangkan. Bobot yang diberikan adalah lima apabila parameter tersebut sangat penting bagi kegiatan yang akan dikembangkan, tiga apabila parameter tersebut penting dan satu apabila parameter tersebut kurang penting bagi kegiatan yang akan dikembangkan. Skor lokasi penelitian didasari oleh tingkat kesesuaian masing-masing parameter di setiap lokasi penelitian. Skor yang diberikan berkisar antara 0-3. Skor tiga apabila parameter kesesuaian wisata yang diamati di lokasi penelitian tergolong dalam kategori sangat sesuai. Skor dua apabila parameter kesesuaian wisata yang diamati di lokasi penelitian tergolong kategori sesuai. Skor satu apabila parameter-parameter kesesuaian wisata yang diamati di lokasi penelitian tergolong dalam kategori sesuai bersyarat dan skor nol apabila parameter kesesuaian wisata yang diamati di lokasi penelitian tergolong dalam kategori tidak sesuai. Skor maksimum adalah skor pada tingkat kesesuaian tertinggi.
Berdasarkan nilai indeks kesesuaian wisata tersebut maka masing-masing kegiatan wisata yang akan dikembangkan di kawasan wisata air Situ Cigayonggong dimasukkan kedalam empat kategori. Kategori sangat sesuai jika nilai IKW >83%, sesuai jika nilai IKW antara 50-<83% dan tidak sesuai jika nilai IKW<50%. Kegiatan wisata yang termasuk kedalam kategori sesuai dan sangat sesuai merupakan kegiatan yang dapat direkomendasikan kepada pengelola untuk dikembangkan di kawasan wisata air Situ Cigayonggong. Kesesuaian wisata danau mempertimbangkan masing-masing parameter yang berbeda-beda tergantung dengan kegiatan wisata yang akan dikembangkan ( Tabel 7).
Tabel 7. Parameter kesesuaian sumberdaya untuk wisata danau
No Parameter Bobot Kategori Skor
Berkemah
1 Lebar tepi danau 5
X >10 3 7< X≤10 2 5< X≤7 1 ≤5 0 2 Hamparan dataran 1 Rumput/pasir 3
Tanah liat/semak belukar 2
Lumpur/batu datar 1
Batu cadas/tanah labil 0 3 Vegetasi yang hidup di tepi
danau 3
Campuran pohon 3
Campuran pohon dan belukar 2
Belukar tinggi 1
Belukar tinggi dan rawa 0
4 Pemandangan 1
Danau, Hutan, Pegunungan,
Sungai 3
2-3 dari 4 pemandangan 2
1 dari 4 pemandangan 1
Tidak ada objek yang indah 0 Sepeda air 1 Kedalaman perairan 5 X <3 3 3< X≤5 2 5-10 1 X>10 0
2 Kecepatan arus (m/det)
5 0< X≤0.15 3 0.15< X≤0.30 2 0.30-0.45 1 x>0.45 0 3 Bau 3 Tidak berbau 3 Sedikit berbau 2 Berbau 1 Sangat berbau 0
Tabel 7. (lanjutan)
No Parameter Bobot Kategori Skor
Sepeda air 4 Vegetasi yang hidup di tepi
danau 3
Lebih dari 4 pohon 3
3-4 pohon 2
1-2 pohon 1
Tidak ada pohon 0
5 Warna perairan 1 Jernih 3 Hijau 2 Hijau kecoklatan 1 Kehitaman 0 Memancing 1 Kelimpahan ikan 5 Sangat banyak 3 Banyak 2 Sedang 1 Sedikit 0 2 Jenis ikan 3 Lebih dari 4 3 3-4 2 1-2 1 Tidak ada 0 1≤ X<3 3 3 Kedalaman perairan 1 3< X≤5 2 x>5 1 X<1 0 Duduk santai X≥8 3
1 Lebar tepi danau (m) 5 5< X<8 2
2-5 1
<2 0
Danau, Hutan,
Pegunungan,sungai 3
2 Pemandangan 5 2-3 dari 4 pemandangan 2
1 dari 4 pemandangan 1
Tidak ada objek yang indah 0
Lebih dari 4 pohon 3
3 Vegetasi yang hidup di tepi
danau 5 2-3 pohon 2
1 pohon 1
Tidah ada pohon 0
4 Hamparan dataran 3
Rumput/ pasir 3
Tanah liat/ semak belukar 2
Lumpur/ batu datar 1
Batu cadas/ tanah labil 0
5 Biota berbahaya 3
Tidak ada 3
1 jenis 2
1-2 1
Sumber : Modifikasi Yulianda (2010)
3.4.3 Analisis daya dukung
kegiatan-kegiatan yang dapat direkomendasikan untuk dikembangkan di Situ Cigayonggong, perlu dilakukan analisis daya dukung agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan. Metode yang digunakan untuk analisis daya dukung yaitu dengan menggunakan konsep daya dukung kawasan (DDK), yang diperoleh melalui persamaan (Yulianda 2007) :
DDK= K x Lp/Lt x Wt/Wp Keterangan :
DDK : Daya dukung kawasan (orang/hari).
K : Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (orang).
Lp : Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan (m2 atau m). Lt : Unit area untuk kategori tertentu (m2 atau m).
Wt : Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari (jam/hari).
Wp : Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu (jam).
Daya dukung kawasan (DDK) adalah jumlah maksimum wisatawan yang secara fisik dapat ditampung di setiap lokasi sesuai dengan peruntukannya dalam
Tabel 7. (lanjutan)
No Parameter Bobot Kategori Skor
Outbond
1 Lebar tepi danau (m) 5
X≥15 3 15<X<10 2 10-5 1 <5 0 2 Hamparan dataran 1 Rumput/pasir 3
Tanah liat/semak belukar 2
Lumpur/batu datar 1
Batu cadas/tanah labil 0 3 Vegetasi yang hidup di tepi
danau 3
Lebih dari 4 pohon 3
3-4 pohon 2
1-2 pohon 1
Tidak ada pohon 0
5 Biota berbahaya 1
Tidak ada 3
1 jenis 2
1-2 1
satu hari agar tidak menimbulkan kerusakan alam dan wisatawan dapat bergerak bebas serta tidak merasa terganggu oleh keberadaan wisatawan lain yang berada di lokasi tersebut.
Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (K) adalah jumlah wisatawan maksimum yang dapat ditampung oleh suatu sarana atau lokasi wisata dalam waktu yang bersamaan. Kondisi sarana atau lokasi yang digunakan harus dalam kondisi yang baik (layak pakai), sehingga masih dapat menampung wisatawan sesuai dengan nilai K yang telah ditetapkan. Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan (Lp) adalah luas atau panjang suatu area yang telah disediakan oleh pengelola agar wisatawan dapat melakukan kegiatan wisata yang ditetapkan di area tersebut. Unit area untuk kategori tertentu (Lt) adalah luas atau panjang suatu area yang dibutuhkan wisatawan agar dapat bergerak bebas melakukan kegiatan wisata yang ditetapkan di area tersebut dan tidak merasa terganggu oleh keberadaan wisatawan lain. Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari (Wt) merupakan lamanya waktu kawasan wisata air Situ Cigayonggong dibuka dalam satu hari yaitu sekitar 9 jam (pukul 08.00-17.00). Waktu yang dihabiskan oleh wisatawan untuk melakukan satu jenis kegiatan (Wp) yang berbeda-beda tergantung kepada jenis kegiatan wisatanya. Nilai unit area untuk kategori tertentu (Lt) dan waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu (Wp) diperoleh dari subjektifitas para pakar yang ahli dalam bidangnya. Potensi ekologis pengunjung (K) dan luasan area (Lt) serta prediksi waktu yang dibutuhkan dalam melakukan kegiatan wisata, dipertimbangkan melalui perhitungan daya dukung kawasan (DDK) (Tabel 8 dan tabel 9).
Tabel 8. Potensi ekologis pengunjung (K) dan Luasan area kegiatan (Lt) Jenis kegiatan ∑ Pengunjung (orang) Unit area
(Luas lahan) Keterangan
Sepeda air 2 15.000 m2 Dihitung luas situ yang dibutuhkan
untuk 2 orang
(1 sepeda air) untuk mengelilingi situ sebesar 15.000 m2
Memancing 1 240 m² Setiap satu orang membutuhkan area
untuk memancing sebesar 240 m²
Duduk santai 2 16 m Setiap dua orang membutuhkan
ruang untuk duduk santai sepanjang 16 m
Outbound 10 700 m2 Dihitung luas lokasi yang dibutuhkan untuk 10 orang (1 team) untuk
outbound adalah 700 m2
Berkemah 2 169 m2 Dihitung luas satu tenda (2 orang) 9
m2 dan jarak antar tenda 10 m Sumber: Modifikasi Yulianda (2007).
Tabel 9. Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata
No Kegiatan
Waktu yang dibutuhkan Wp
(jam)
Total waktu 1 hari Wt (jam) 1 Berkemah 24 24 2 Bersepeda air 0,5 9 3 Memancing 4 9 4 Duduk santai 2 9 5 Outbound 4 9 Sumber : Yulianda (2010).
3.4.4. Analisis peluang wisata (ROS)
Recreation Opportunity Spectrum merangkum keragaman dari recreation setting (kondisi rekreasi) berdasarkan pengalaman tertentu. Recreation setting attribute (parameter kondisi kawasan rekreasi) terdiri dari parameter fisik atau lingkungan (physical attribute) digunakan untuk mengetahui potensi sumberdaya, sosial (social attribute) dan pengelolaan (managerial attribute). Gabungan dari parameter -parameter tersebut membentuk suatu rangkaian aktivitas yang mengarah pada suatu pengalaman (Tabel 10).
Tabel 10. Pemberian skor dan bobot
Parameter Kriteria Skor Keterangan
Potensi sumberdaya
(bobot 3)
Kelimpahan ikan dan tanaman air
sangat banyak 3 Baik
Kelimpahan ikan dan tanaman air
banyak 2 Cukup
Kelimpahan ikan dan tanaman air
sedikit 1 Kurang
Kualitas perairan (bobot 3)
Secara umum perairan sesuai
baku mutu 3 Baik
Perairan kurang sesuai baku mutu 2 Cukup
Perairan tidak sesuai baku mutu 1 Kurang
Klimatologi (bobot 3)
Curah hujan <1500 mm/tahun
merupakan criteria beriklim
kering 3 Baik
Curah hujan 1500-2000
mm/tahun merupakan criteria
beriklim lembab yang tergantung
pada lamanya musim hujan
dengan 3-4 bulan kring 2 Cukup
Curah hujan 2500-3000
mm/tahun, merupakan riteria
beriklim basah dengan 2-3 bulan
kering 1 Kurang
Pemandangan (bobot 3)
Indah dan nyaman 3 Baik
Cukup indah dan cukup nyaman 2 Cukup
Kurang indah dan kurang nyaman 1 Kurang
Ketersediaan sarana dan
prasarana (bobot 3)
Lengkap dan tidak ada yang rusak 3 Baik
Lengkap dan ada yang rusak 2 Cukup
Tidak lengkap dan ada yang rusak 1 Kurang
Transportasi (bobot 3)
Tersedia sarana transportasi dalam jumlah yang memadai, kawasan
mudah dijangkau 3 Baik
Sarana transportasi tersedia dalam jumlah yang kurang memadai,
kawasan mudah dijangkau 2 Cukup
Tersedia sarana transportasi dalam jumlah yang kurang memadai,
kawasan susah dijangkau 1 Kurang
Media informasi dan
komunikasi (bobot 3)
Jaringan telepon, televisi, radio,
koran, majalah, internet 3 Baik
Televisi, radio, koran, majalah 2 Cukup
Televisi, radio 1 Kurang
Kondisi wisata (bobot 3)
Baik sudah dikelola 3 Baik
Baik belum dikelola 2 Cukup
Kurang baik, tidak dikelola 1 Kurang
Pembuangan limbah cair
(bobot 3)
Dilakukan pengelolaan secara
sistematis, ada pembatasan 3 Baik
Tabel 10. (lanjutan)
Parameter Kriteria Skor Keterangan
Pembuangan limbah cair
Belum dikelola, dibuang begitu
saja ke perairan 1 Kurang
SLTA – Akademi 3 Baik
Tingkat
pendidikan SD – SLTP 2 Cukup
(bobot 3) SLTA-Akademi 3 Baik
SD-SLTP 2 Cukup
Tidak sekolah-SD 1 Kurang
Tenaga kerja (bobot 3)
Penduduk sekitar 3 Baik
Orang luar dan penduduk sekitar 2 Cukup
Orang luar dan penduduk sekitar 1 Kurang
Demografi (bobot 3)
Kependudukan rendah 3 Baik
Kependudukan sedang 2 Cukup
Kependudukan tinggi 1 Kurang
Persepsi terhadap kawasan (bobot 3)
Indah dan nyaman 3 Baik
Cukup indah dan cukup nyaman 2 Cukup
Tidah indah dan tidak nyaman 1 Kurang
Isu (bobot 3)
Tidak terdapat permasalahan 3 Baik
Permasalahan tidak
mempengaruhi kawasan 2 Cukup
Permasalahan mempengaruhi
kawasan 1 Kurang
Sumber : Modifikasi Cemporaningsih (2007), Yulianda (2007) dan Masrul (2002) in
Rahmawati (2009).
Pengelompokan parameter kondisi kawasan rekreasi (Recreation Setting Attribute) terdiri dari parameter fisik atau lingkungan, sosial dan pengelolaan sesuai dengan kegiatan yang ditemukan di kawasan wisata Situ Cigayonggong, kemudian mendeskripsikan kegiatan sesuai dengan parameternya. Berikut matrik parameter kawasan rekreasi (Tabel 11).
Kombinasi paremeter-parameter tersebut membentuk aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu pengalaman, kemudian dilakukan perhitungan terhadap parameter kondisi kawasan rekreasi dengan menggunakan metode penskoring. Metode ini diperoleh dari masing-masing parameter kawasan rekreasi tersebut, kemudian diberi penilaian bobot berdasarkan pada tingkat kepentingan dalam penentuan kawasan ekowisata baik parameter fisik, sosial dan pengelolaannya.
Tabel 11. Matriks parameter kawasan rekreasi (Recreation Setting Atrribute)
No
Recreation Setting Attribute
Physical Attribute Deskripsi Managerial Attribute Deskripsi Social Attribute Deskripsi 1 Sumber daya alam Sarana prasarana Pendidikan
2 Pemandangan Transportasi Tenaga kerja
(asal) 3 Kualitas perairan Kebijakan pengelolaan Persepsi terhadap kawasan
4 Klimatologi Kondisi wisata Isu
Pembuangan limbah .
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Fisik dan Lingkungan Situ Cigayonggong
Situ Cigayonggong memiliki potensi sumberdaya yang mendukung untuk dijadikan sebagai kawasan wisata karena memiliki jenis ikan yang beragam dan jumlah ikan yang cukup banyak serta udara yang sejuk karena Situ Cigayonggong berada pada ketinggian 400 m dari permukaan laut dengan suhu rata-rata harian sebesar 18o-23o C. Situ Cigayonggong memiliki kedalaman maksimum ± 2 m dan luas perairan Situ Cigayonggong ± 3 ha (hasil pengamatan dan wawancara dengan pengelola Situ Cigayonggong).
. Di sekitar situ banyak terdapat vegetasi darat dan semak belukar, untuk menambah daya tarik dan keindahan situ tersebut sebaiknya semak belukar yang terdapat di sekitar situ dirapikan. Selain itu, Situ Cigayonggonggong yang terletak di Desa Kasomalang Wetan memiliki jumlah curah hujan yang relatif rendah yaitu jumlah curah hujan pada tahun 2009 sebesar 170.56 mm (Dinas Pengairan Subang 2009). Curah hujan merupakan salah satu penyebab yang berpengaruh terhadap intentensitas pengunjung ke kawasan wisata, karena semakin tinggi jumlah curah hujan maka jumlah wisatan yang datang ke kawasan wisata semakin berkurang begitu pun sebaliknya. Selain itu, curah hujan tidak memberikan pengaruh terhadap frekuensi luasan situ, akan tetapi berpengaruh terhadap volume air situ. Jumlah curah hujan Kasomalang Wetan setiap bulannya mengalami fluktuasi (Gambar 4). Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April yaitu 58.33 mm dan pada bulan juli-september memiliki curah hujan terendah, diduga bahwa pada bulan tersebut merupakan musim kemarau, namun hingga saat ini Situ Cigayonggong tidak mengalami kekeringan karena perairannya bersumber dari mata air yang berasal dari Gunung Tangkuban Perahu.
Gambar 4. Grafik jumlah curah hujan Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang setiap bulan pada tahun 2009.
4.2. Kondisi Fisika-Kimia-Biologi Situ 4.2.1. Kualitas air
Kondisi biofisik perairan yang diamati mencangkup kualitas perairan (fisika,kimia dan biologi). Hal tersebut dilakukan untuk menentukan kondisi perairan untuk kelayakan habitat bagi perikanan dan pariwisata. Parameter fisika yang diamati adalah suhu, kecerahan, warna dan bau.Parameter kimia yang diamati adalah pH, DO dan BOD sedangkan parameter biologi yang diamati adalah ikan dan tanaman air. Parameter-parameter tersebut berpengaruh atau dipengaruhi oleh aktivitas wisata yang terdapat di Situ Cigayonggong seperti sepeda air dan memancing.
Pengambilan sampel di perairan Situ Cigayonggong dilakukan di lima stasiun didasarkan pada karakteristik yang dimiliki perairan. Stasiun 1 yaitu inlet, stasiun 2 yaitu perairan dekat pemukiman penduduk dan banyak terdapat tanaman air, stasiun 3 yaitu perairan dekat dengan tempat wisata dan banyak terdapat tanaman air, stasiun 4 yaitu perairan dekat dengan pertanian dan perkebunan dan stasiun 5 yaitu outlet dan perairan dekat pemukiman.
Tabel 12. Kualitas Air Situ Cigayonggong
Keterangan : p yaitu permukaan
* yaitu batas maksimum yang diperbolehkan pada baku mutu PP No. 82 tahun 2001 klas 2.
** yaitu batas minimum yang diperbolehkan.
Pengambilan titik sampel di sekitar kawasan wisata Situ Cigayonggong dilakukan sebanyak tiga kali tergantung karakteristik masing-masing kawasan. Lokasi enam yaitu perkebunan, lokasi tujuh pemukiman dan lokasi delapan pesawahan. Pengambilan titik sampel tersebut diamati untuk menganalisis kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan. Analisis kesesuaian wisata digunakan untuk menentukan potensi sumberdaya yang dimikili oleh kawasan disesuaikan dengan kegiatan wisata yang akan dikembangkan sedangkan analisis daya dukung digunakan untuk menentukan jumlah wisatawan yang dapat ditampung oleh suatu kawasan dalam melakukan suatu aktivitas wisata. Setiap lokasi penelitian yang dilakukan di sekitar Situ Cigayonggong memiliki karakteristik yang berbeda-beda (Gambar 13).
No Parameter Satuan Baku
mutu* Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Fisika P P P P P 1 Warna (visual) Tidak
tercantum Jernih Jernih Jernih Jernih Jernih
2 Suhu ºC ±3 28 29 26 28 29 3 Kecerahan % Tidak tercantum 100 100 100 100 100 4 Bau Tidak tercantum Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Kimia 1 Ph 6 s/d 9 6 6 6 6 6 2 DO** mg/l 4 5.8 5.8 6.2 5.8 5.4 3 BOD mg/l 3 1.14 1.14 0.57 3.98 4.54 Lain-lain 1 Kedalaman perairan M 1.2 1.7 1.55 1.9 1.92
Tabel 13. Karakteristik-karakteristik lokasi pengamatan di sekitar kawasan perairan Situ Cigayonggong
No Parameter Stasiun 6 Stasiun 7 Stasiun 8
1 Hamparan dataran
Semak belukar Rumput Rumput
2
Vegetasi di tepi perairan
Pohon tisuk, mahoni, albasia, pisang, bungur
Pohon kelapa, tisuk, albasia, palem singkong, sirsak, kelapa, mahoni 3 Biota berbahaya
ular dan lebah tidak ada ular sawah
4.2.2. Parameter fisika a. Warna
Warna perairan adalah salah satu parameter yang berpengaruh terhadap nilai estetika suatu perairan. Warna perairan diamati secara visual pada masing-masing stasiun (Tabel 12), perairan pada masing-masing stasiun berwarna jernih. Hal tersebut mengakibatkan cahaya yang masuk kedalam perairan maksimal, sehingga proses fotosintesis yang dihasilkan oleh fitoplankton dapat berjalan maksimal dan perairan menjadi subur (Effendi 2003).
b. Suhu
Suhu merupakan pengatur utama dalam proses-proses alami didalam lingkungan. Menurut Effendi (2003) peningkatan suhu menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme akuatik, selain itu mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Perubahan suhu perairan mengakibatkan laju metabolisme akan berubah sesuai dengan kebutuhan energinya, selain itu peningkatan suhu disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen seringkali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi (Effendi 2003). Suhu perairan yang diperoleh pada masing-masing stasiun berkisar antara 26-29o C. Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 klas 2, memberikan toleransi sebesar ±3 dari rataan suhu air setempat, sehingga suhu perairan Situ Cigayonggong masih layak dijadikan untuk rekreasi dan perikanan.
c . Kecerahan
Kecerahan perairan tergantung pada warna dan kekeruhan. Menurut Effendi (2003), nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Kecerahan dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesuburan suatu perairan, sehingga dapat diindikasikan bahwaperairan Situ Cigayonggong subur karena semua stasiun yang diamati memiliki tingkat kecerahan 100%.
d . Bau
Bau pada perairan Situ Cigayonggong diamati dengan indra pembau (hidung). Pada masing-masing stasiun, perairan Situ Cigayonggong tidak berbau sehingga Situ Cigayonggong layak dijadikan sebagai area rekreasi dan perikanan sesuai dengan PP No. 82 tahun 2001. Selain itu, bau berpengaruh dalam menambah nilai estetika suatu perairan dan kenyamanan area rekreasi.
4.2.3 Parameter kimia
a. pH
pH air pada masing-masing stasiun di Situ Cigayonggong bernilai 6, sehingga menurut PP No.82 tahun 2001 kisaran suhu antara 6-9 masih sesuai bagi sarana rekreasi air dan perikanan. Nilai pH cenderung menurun seiring dengan meningkatnya kedalaman.
b. Oksigen terlarut (DO)
Oksigen terlarut di Situ Cigayonggong berkisar antara 5.4-6.2 (Tabel 12). Nilai DO tertinggi berada pada stasiun 3 yaitu sebesar 6.2 dan DO terendah berada pada stasiun 5 yaitu sebesar 5.4. Nilai DO tinggi karena kedalaman perairan rendah sehingga intensitas cahaya bisa masuk sampai ke dasar perairan. Kadar oksigen pada masing-masing stasiun berada diatas baku mutu maksimum suatu perairan bila dibandingkan dengan batas minimum PP No.82 tahun 2001 klas 2 yaitu 4 mg/l, sehingga nilai DO di perairan Situ Cigayonggong masih sesuai bagi pengelolaan untuk sarana wisata dan perikanan.
c. BOD
BOD merupakan gambaran secara tidak langsung mengenai jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi bahan organik menjadi