BAB II KAJIAN TEORITIS
2.2 Hak Cipta
2.2.5 Metode Pengelolaan Hak Cipta di Perpustakaan
Hak cipta seperti halnya hak lain dalam IPR digolongkan sebagai hak milik perorangan yang tidak berwujud. Konsepsi ini menjadikan pemilik dapat melaksanakan haknya dan membatasi orang lain untuk menikmati, kecuali atas izin pemilik. Namun, hak ini ada batasnya, misalnya untuk kepentingan pendidikan masyarakat diberi akses penggunaan yang wajar (fair use) memungkinkan untuk memperbanyak ciptaan tanpa dianggap melanggar hak cipta.
Perpustakaan dalam melakukan kegiatan setiap harinya tak lepas bersinggungan dengan hak cipta. Perpustakaan bertugas untuk menyebarluaskan informasi tetapi juga harus mendukung peraturan perlindungan hak cipta.
Perpustakaan ditantang untuk menyebarluaskan informasi sebanyak-banyaknya tanpa melanggar peraturan perlindungan hak cipta. Menurut Pangaribuan (2010, 4) ada beberapa rambu-rambu hak cipta dalam pengelolaan perpustakaan, yaitu:
1. Penggandaan Suatu Ciptaan
Penggandaan suatu ciptaan dapat dilakukan oleh perpustakaan jika ciptaan tersebut rusak, hilang, harga beli ciptaan mahal dan susah untuk ditemukan kembali dalam bentuk aslinya.
2. Layanan Fotokopi
Pengguna perpustakaan juga dapat menggandakan ciptaan untuk kepentingan pendidikan dan non komersial. Jika ciptaan masih dengan mudah dicari di toko, maka pustakawan akan menganjurkan pengguna untuk membeli ciptaan di toko.
3. Pengecualian Undang-Undang Terhadap Pelanggaran Hak Cipta
Ada beberapa pengecualian perbuatan yang dianggap tidak sebagai pelanggaran hak cipta. pengecualian tersebut telah di atur dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 khususnya pada pasal 43-51.
Sejalan dengan Pangaribuan, Yanaral dan Ramesha (2012, 44) juga menjelaskan beberapa tindakan dalam melindungi hak cipta di perpustakaan yaitu:
1. Penerapan Perlindungan Hak Cipta untuk Materi Cetak:
Penggandaan atau fotokopi ciptaan tercetak harus mengikuti aturan umum yaitu hanya boleh difotokopi sebanyak 10% saja dari ciptaan.
Untuk layanan kliping surat kabar, pustakawan dapat mempublikasi indeks dan abstrak dari kliping tersebut di opac perpustakaan. Jika ada pengguna yang tertarik untuk melihatnya, pustakawan merujuk pengguna untuk melihat surat kabar atau artikel aslinya.
2. Perlindungan Hak Cipta untuk Materi Digital
Jika ditemukan sebuah buku atau koleksi tercetak yang memberikan CD atau DVD sebagai tambahan informasinya, maka harus dipisahkan menjadi dua koleksi yang berbeda. Namun, perpustakaan tetap memberikan nomor referensi relatif pada CD tersebut. perpustakaan sebaiknya memuat isi dari CD kedalam sistem yang hanya dapat dilihat di dalam perpustakaan. Setiap pengguna yang ingin merujuk informasi yang terkandung dalam CD dapat diizinkan untuk melihat-lihat sistem perpustakaan. Untuk koleksi dalam bentuk CD ada baiknya pustakawan memperhatikan perjanjian lisensi dengan penerbit sebelum memberikan informasi kepada pengguna.
3. Perlindungan Hak Cipta untuk Jaringan/Aplikasi Online
Jaringan atau aplikasi online yang dimaksud adalah konten online seperti database komersial. Perlindungan hak cipta untuk konten database komersial yang dilanggan oleh perpustakaan dengan memperhatikan perjanjian atau lisensi yang telah disepakati antara perpustakaan dengan penyedia layanan database. Kesepakatan lisensi harus disorot dan ditampilkan menonjol saat pengguna menelusuri isinya. Pada dasarnya penerbitlah yang bertanggung jawab dalam menjaga kontennya. Tetapi perpustakaan juga berperan dalam melindungi hak cipta dari konten database tersebut.
Dari pendapat pakar di atas dapat dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan hak cipta di perpustakaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan untuk melindungi hak cipta suatu ciptaan yang menjadi bahan koleksi perpustakaan. Perpustakaan berperan untuk melindungi hak moral dan hak ekonomi pencipta. Terdapat beragam cara dalam melakukan perlindungan hak cipta diperpustakaan. Negara juga dengan adil telah mengatur hak cipta dengan memberikan hak moral dan hak ekonomi kepada pencipta untuk
dapat menikmati keuntungan baik secara moral maupun ekonomis terhadap ciptaanya sebagai bentuk penghargaan karena telah menciptakaan karya dengan intelektualnya. Tetapi juga memberikan batasan hak cipta agar masyarakat dapat menikmati juga suatu ciptaan untuk keperluan pendidikan dan non komersial tanpa merugikan pencipta.
Menurut pendapat beberapa pakar hak cipta dapat disimpulkan sebagai hak kebendaan yang secara otomatis melekat pada diri si pencipta atau pemegang hak dan bersifat eksklusif untuk mengawasi penggunaan dan memanfaatkan atas suatu karya ciptaannya di bidang ilmu pengetahuan, kesusastraan, dan seni.
Berdasarkan pendapat pakar di atas, dapat dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan peran perpustakaan dalam mengelola hak cipta adalah sebagai sumber informasi dan penyebaran informasi bagi pengguna, tanpa melanggar hak cipta dari pemegang hak. Dengan aspek: (1) Penggandaan Suatu ciptaan, (2) Layanan fotokopi, (3) Pengecualian Undang – Undang, (4) Perlindungan hak cipta.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor dalam Meleong (2000, 3) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai “Prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati”.
Penelitian ini dipilih karena peneliti hanya berupaya untuk menyajikan data secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta yang ada di lapangan. Penelitian ini dilakukan untuk menggali fakta mengenai pelaksanaan pengelolaan hak cipta yang ada pada Perpustakaan PPKS.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Khusus Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), yang berlokasi di Jl. Brigjend Katamso No.51 Kampung Baru, Medan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2018.
Alasan peneliti memilih Perpustakaan PPKS sebagai lokasi penelitian karena di Perpustakaan PPKS koleksinya sebagian besar merupakan hasil intelektual atau penelitian seseorang khususnya di bidang kelapa sawit.
3.3 Data dan Sumber Data
Sumber data yang diperoleh peneliti untuk melengkapi data-data dalam kegiatan penelitian terdiri dari 2 sumber, antara lain:
1. Data Primer
Data primer penelitian ini adalah hasil dari wawancara dan observasi penulis berupa kata-kata, sikap dan pemahaman dari pengelolaan hak cipta di perpustakaan yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interpretasi data.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah berbagai sumber tertulis yang memungkinkan untuk dimanfaatkan dalam penelitian ini dan akan digunakan semaksimal mungkin demi mendorong keberhasilan penelitian ini, diantaranya buku-buku literatur, internet, majalah atau jurnal ilmiah, dan dokumen lain yang berhubungan dengan pengelolaan hak cipta di perpustakaan.
3.4 Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu:
1. Mengidentifikasi Informan
Informan merupakan orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan diteliti dan bersedia memberikan informasi kepada peneliti.
Dalam penelitian kualitatif, informan sangat memiliki posisi terpenting sebagai narasumber dalam penelitian. Informan merupakan tumpuan pengumpulan data bagi peneliti dalam mengungkapkan permasalahan penelitian, Sutopo (2002, 50). Informan dalam penelitian ini adalah kepala perpustakaan dan pegawai Perpustakaan PPKS. Peneliti akan melakukan wawancara guna memperoleh data dan informasi yang
lengkap dan akurat. Hal ini dilakukan dengan cara mensurvei terlebih dahulu pada lokasi Perpustakaan PPKS.
2. Menentukan Informan
Penentuan informan dalam penelitian ini adalah memilih informan yang dianggap mengetahui dan mampu memberikan keterangan terhadap masalah yang diteliti. Informan pertama dalam penelitian ini adalah Kepala Perpustakaan, dan informan kedua dalam penelitian ini adalah ketiga pegawai yang bekerja di Perpustakaan PPKS. Kepala Perpustakaan dipilih karena kepala perpustakaan adalah orang yang bertanggung jawab dalam perlindungan dan pengawasan hak cipta di Perpustakaan PPKS. Pegawai perpustakaan dipilih karena pegawai perpustakaan merupakan orang yang mengerti, memahami dan mengawasi tentang perlindungan dan pengawasan hak cipta di Perpustakaan PPKS
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data, peneliti memakai beberapa teknik yaitu:
1. Studi Kepustakaan
Dalam penelitian ini studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca sejumlah buku, literatur, jurnal ilmiah, dan internet untuk mendapatkan kerangka teori yang menjadi landasan mengenai masalah dalam penelitian.
2. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan tentang keadaan yang ada di lapangan sehingga penulis memahami tentang subjek dan objek yang ditekiti. Observasi dilakukan pada Perpustakaan PPKS Medan.
3. Wawancara
Wawancara yang digunakan penelitian ini dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan peneliti dengan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis untuk mengumpulkan data dan peneliti melakukan Tanya jawab atau wawancara secara langsung dengan menggunakan perekam suara. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah kepala perpustakaan dan staf perpustakaan dengan menentukan jumlah informan sebanyak empat orang untuk diwawancarai. Pemilihan informan lebih menekankan pada kualitas pemahaman pada permasalahan yang diteliti sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.
3.6 Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan kepada orang lain.
Menurut Sugiono (2014, 91) analisis data dalam penelitian kualitatif terdiri beberapa alur kegiatan yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi data, dan penarikan kesimpulan.
1. Reduksi data
Reduksi data dapat diartikan sebagai merangkum, memilih hal-hal pokok, kompleks, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Pada reduksi data penulis melakukan pengelompokan hasil wawancara yang membahas tentang pengelolaan hak cipta pada Perpustakaan PPKS yang meliputi 1) Peran Perpustakaan dalam Mengelola Hak Cipta, 2) Pembatasan Hak Cipta, 3) Pelanggaran Hak Cipta.
2. Penyajian data
Penyajian data yang akan digunakan dalam penelitian ini berbentuk teks naratif. Untuk mempermudah pemahaman tentang informasi yang besar jumlahnya, maka dalam penyajian data akan dilakukan penyederhanaan informasi kompleks kedalam satuan bentuk yang disederhanakan dan selektif.
3. Verifikasi data dan Penarikan Kesimpulan
Tahap selanjutnya setelah reduksi data dan penyajian data, maka dilakukan verifikasi dari kegiatan sebelumnya dan dilanjutkan kepenarikan kesimpulan. Pada tahap ini peneliti melakukan proses interpretasi data-data yang telah dikumpulkan dengan metode
wawancara dan dokumentasi sambil terus menerus melakukan pencocokan tehadap kesimpulan yang akan dibuat.
3.7 Keabsahan Data
Dalam menguji keabsahan data penelitian, maka peneliti menggunakan teknik trianggulasi, yaitu teknik yang dilakukan dengan meminta penjelasan lebih lanjut mengenai data yang diperoleh dengan mencari informasi lebih dari satu orang. Adapun teknik triangulasi yang digunakan adalah:
1. Triangulasi Data
Menggunakan berbagai sumber data primer dan data sekunder. Penulis mewawancarai kepala perpustakaan dan pegawai Perpustakaan PPKS.
Penulis juga melakukan kegiatan pengumpulan berbagai informasi dan data dari berbagai literatur yang berhubungan dengan pengelolaan hak cipta di perpustakaan.
2. Triangulasi Teori
Penggunaan berbagai teori yang berlainan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori yang telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut serta diperkuat dengan artikel jurnal, buku, yang membahas tentang pengelolaan hak cipta.
3. Triangulasi Metode
Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi, serta metode dokumentasi. Metode yang dapat dilakukan pada penelitian ini adalah wawancara ke sumber
penelitian dan observasi. Peneliti melakukan analisa dari berbagai wawancara dan hasil observasi yang dilakukan langsung oleh peneliti terhadap Perpustakaan PPKS.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum
Perpustakaan PPKS berperan sebagai sumber informasi dan penyebaran informasi bagi organisasi atau bagi Pusat Penelitian Kelapa Sawit yang dapat menyalurkan informasi yang dibutuhkan pengguna sebagai bahan penelitian maupun rekreasi sehat sebagai upaya meningkatkan literasi informasi kepada anggota di lingkungan PPKS tanpa melanggar hak cipta dari pemegang hak yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan. Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap Perpustakaan PPKS, penyebaran informasi dengan cara fotokopi koleksi bahan pustaka yang dilakukan oleh pengguna kurang diperhatikan, karena Perpustakaan PPKS tidak memiliki layanan fotokopi di dalam ruangan perpustakaan, tetapi bagi pengguna yang ingin melakukan fotokopi koleksi di arahkan ke koperasi.
Layanan fotokopi yang tidak berada dalam satu gedung perpustakaan dan tidak dijaga oleh pegawai perpustakaan menyebabkan proses penggandaan koleksi tidak dalam pengawasan Perpustakaan PPKS dan dapat menimbulkan pelanggaran hak cipta yang terjadi tanpa sepengetahuan Perpustakaan PPKS.
4.2 Karakteristik Informan
Informan dalam penelitian ini adalah kepala perpustakaan dan pegawai Perpustakaan PPKS yang bertugas mengelola Perpustakaan PPKS yang ada di lingkungan PPKS beralamatkan di Jalan Brigjen Katamso No. 51, Kp. Baru.
Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. Berikut adalah daftar karakteristik informan :
Tabel 4.1 Karakteristik Informan
No Kode Informan Informan Lokasi wawancara
1 M. Harfano Arrasyid. S.Sos
Ruang Kepala
Perpustakaan PPKS Lantai 2
2 Endra Lesmana
Perpustakaan PPKS Lantai 1
3 Friyandi Putra
Perpustakaan PPKS Lantai 1
4 Saut P. Sibagariang
Perpustakaan PPKS Lantai 1
Informan pertama ( ) adalah informan yang berhasil di wawancarai dengan pendekatan terlebih dahulu, begitu juga dengan , , , kemudian diminta waktunya untuk bersedia di wawancarai, dengan menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan daripada penelitian ini yang dalam pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan metode wawancara ( ) di wawancarai bertempat di ruang Perpustakaan PPKS tepatnya di Lantai 2 Ruang Kepala Perpustakaan. Proses bertemunya penulis dengan ( ) adalah di mulai pada tahap penulis datang ke Perpustakaan PPKS untuk meminta izin penelitian dan menyerahkan surat penelitian, lalu diarahkan ke Bagian Tata Usaha PPKS untuk
mendapatkan surat balasan izin penelitian. Selanjutnya penulis menemui informan satu per satu untuk melakukan wawancara. Proses menemui informan dimulai dengan perkenalan dan menerangkan maksud dari penelitian dan dengan metode apa yang digunakan untuk pengumpulan datanya. Setelah proses perkenalan tersebut penulis menanyakan waktu untuk melakukan proses wawancara, apakah informan dapat melakukan wawancara pada saat itu juga. Pada hari itu penulis berhasil melakukan wawancara dengan dan selaku pegawai Perpustakaan PPKS. wawancara berlangsung secara informal, wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara dan dengan wawancara mendalam (depth interview). Pelaksanaan wawancara dilakukan secara substantif, artinya tidak diharuskan pada suatu tempat. Pelaksanaan wawancara dilakukan pada pagi hari tepatnya berada di ruang baca Perpustakaan PPKS yang berada di Lantai 1 dan di Ruang Alih Media Koleksi Tua yang berada di Lantai 2. Selanjutnya wawancara dilanjutkan minggu depannya dikarenakan informan yang tidak berada di tempat karena sedang cuti. Pelaksanaan wawancara dilakukan pada siang hari di ruang baca Perpustakaan PPKS yang berada di Lantai 1 dan pelaksanaan wawancara dilaksanakan pada pagi hari di Ruang Kepala Perpustakaan tepatnya berada di Lantai 2. Suasana dan kondisi wawancara bersifat apa adanya, yang tidak diatur sedemikian rupa untuk tujuan tertentu.
Begitu juga dengan bahasa yang digunakan. Bahasa yang digunakan selama percakapan adalah bahasa informal, meskipun terkadang penulis menggunakan istilah bidang Ilmu Perpustakaan. Bahasa informal juga memancing percakapan awal kepada informan, kemudian menggunakan pedoman wawancara
yang sudah disiapkan. Percakapan berkembang sesuai dengan jawaban yang diberikan informan. Wawancara dilakukan berulang jika penulis merasa ada yang perlu ditambahi atau kurang jelas dari wawancara sebelumnya.
4.3 Kategori
Berdasarkan hasil wawancara dan pedoman wawancara, penulis menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan koding. Dengan pedoman ini, penulis kemudian kembali membaca transkrip wawancara dan melakukan koding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan dan menunjukan hubungan antara bagian-bagian yang diteliti sehingga menghasilkan beberapa kategori. Penulis menurunkan tiga kategori yang berkaitan. Adapun ketiga kategori itu adalah, sebagai berikut:
1. Peran Perpustakaan dalam mengelola hak cipta 3. Pembatasan hak cipta
2. Pelanggaran hak cipta
4.3.1 Peran Perpustakaan Dalam Mengelola Hak Cipta
Kategori pertama yang diperoleh dari hasil transkip wawancara adalah peran perpustakaan dalam mengelola hak cipta. Peran perpustakaan dalam mengelola hak cipta adalah sebagai sumber informasi dan penyebaran informasi bagi pengguna, tanpa melanggar hak cipta dari pemegang hak. Untuk mengetahui pembatasan hak cipta yang dilakukan oleh pihak perpustakaan, maka peneliti mewawancarai informan. Berikut padalah petikan hasil wawancara mengenai peran perpustakaan dalam hak cipta:
Pertanyaan : Apakah perpustakaan memiliki pedoman khusus yang digunakan sebagai acuan pengelolaan hak cipta?
Jawaban dari Informan:
Pedoman yang digunakan berupa kebijakan yang tertuang dalam aturan dan tata tertib Perpustakaan Khusus PPKS, dengan memperhatikan UU No. 28 Tahun 2014 dan UU No. 43 Tahun 2007”.
Dari petikan hasil wawancara dengan dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan PPKS memiliki aturan dan tata tertib Perpustakaan Khusus PPKS dengan memperhatikan UU No. 28 Tahun 2014 dan UU No. 43 Tahun 2007
Pertanyaan: Adakah kebijakan Perpustakaan PPKS dalam melindungi hak cipta?
Jawaban dari Informan:
: “Ada, kebijakan khusus untuk koleksi terbitan sendiri dan koleksi terbitan luar untuk penggandaan bagi pengguna maksimal 10 halaman. Koleksi terbitan sendiri sebenarnya sudah full open access bisa dilihat di website kami di jurnalkelapasawit.iopri.org tetapi jika ada yang ingin melakukan fotokopi lebih dari 10 halaman untuk koleksi terbitan sendiri kami langsung mengarahkan ke Bagian Publikasi untuk melakukan pembelian. Untuk koleksi berbentuk online kami mengadopsi cc atau creative common by SA”
Dari petikan hasil wawancara di atas mengatakan bahwa Perpustakaan PPKS memiliki kebijakan dalam melindungi hak cipta, yaitu pengguna dapat melakukan fotokopi koleksi bahan pustaka sebanyak 10 halaman saja. Untuk koleksi terbitan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit sendiri, dapat digunakan secara full access yang dapat dilihat di website resmi mereka, yaitu jurnalkelapasawit.iopri.org . dan pengguna juga dapat melakukan pembelian di bagian publikasi.
Pertanyaan : Bagaimana cara pihak Perpustakaan PPKS dalam memonitoring penggandaan koleksi di perpustakaan?
Jawaban dari Informan:
“Sebenarnya untuk kegiatan fotokopi seharusnya petugas perpustakaan yang bekerja di lantai 1 yang melakukannya. Tetapi, tidak semua petugas perpustakaan melakukannya. Mereka membebaskan pemustaka untuk fotokopi sendiri ke koperasi”.
Dari petikan hasil wawancara di atas dikatakan bahwa kurangnya monitoring penggandaan koleksi di perpustakaan. Seharusnya petugas perpustakaan yang melakukan kegiatan fotokopi untuk memperhatikan pembatasan hak cipta agar tidak terjadi sebuah pelanggaran, akan tetapi faktanya petugas perpustakaan membebaskan pemustaka dalam melakukan penggandaan koleksi diluar ruangan perpustakaan yaitu di koperasi. Hal ini dapat menimbulkan pelanggaran hak cipta baik disengaja ataupun tidak disengaja yang dilakukan oleh pemustaka.
Pertanyaan : kebijakan apa yang diambil perpustakaan jika mengetahui bilamana adanya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pegawai perpustakaan?
Jawaban dari Informan:
: “Untuk saat ini tidak ada dan jangan sampai ada. Jika ada, kami akan menegur dengan keras. Dan dia harus mengembalikan salinan tersebut juga mengembalikan uang yang dia dapatkan dari menggandakan koleksi tersebut”.
Dari petikan hasil wawancara di atas dikatakan bahwa apabila ditemukan pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pegawai perpustakaan, maka pihak perpustakaan akan mengambil tindakan yaitu menegur dengan keras pegawai pelaku pelanggaran dan meminta untuk mengembalikan salinan juga mengembalikan uang yang dia dapat dari menggandakan koleksi bahan pustaka tersebut.
4.3.2 Pembatasan Hak Cipta
Pembatasan hak cipta dilakukan guna memberikan kesempatan kepada pengguna agar dapat menggunakan ciptaan tersebut tanpa melanggar hak cipta dari si pencipta. Hal ini dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta pembatasan hak cipta di perpustakaan yang diatur dalam pasaal 47 bahwa setiap perpustakaan dapat membuat satu salinan ciptaan tanpa seizin pencipta. Pembatasan lainnya adalah untuk keperluan pendidikan, penelitian dan hal-hal yang tidak merugikan baik secara moril maupun ekonomis si pencipta. Untuk mengetahui pembatasan hak cipta yang dilakukan oleh pihak perpustakaan, maka peneliti mewawancarai informan. Berikut adalah petikan hasil wawancara mengenai pembatasan hak cipta:
Pertanyaan : Adakah peraturan yang mengatur tentang fotokopi koleksi di Perpustakaan PPKS?
Jawaban dari Informan:
: “Peraturannya paling pengguna boleh memfotokopi 1 buku maksimal 10 lembar, itu berlaku untuk semua anggota”.
: “ada, dari segi fotokopi, tidak semua buku paling tidak beberapa lembar saja. Paling tidak 1 artikel dari buku tersebut.”
: “kalau fotokopi ke koperasi, tidak di perpustakaan. Pengguna bebas mau fotokopi berapa banyak.”
Dari petikan wawancara di atas dapat dinyatakan bahwa tidak semua pegawai perpustakaan mengetahui adanya batasan dalam melakukan penggandaan hak cipta. Hal ini merugikan bagi perpustakaan, karena perpustakaan dapat melakukan dengan tidak sengaja melakukan pelanggaran hak cipta, dan dapat terkena sangsi pidana sesuai peraturan Undang - Undang yang berlaku.
Pertanyaan : Bagaimana alur yang diperbolehkan bagi pengguna untuk Memfotokopi koleksi di Perpustakaan PPKS?
Jawaban dari Informan:
: “ya, meninggalkan kartu member, izin terlebih dahulu kepada petugas yang ada, fotokopi maksimal 10 lembar, pemustaka dapat memfotokopi koleksi di koperasi. Kalau pemustaka ingin fotokopi diluar lingkungan PPKS harus meninggalkan KTP/member kalau mesin fotokopi di koperasi rusak”.
: “pertama, user mencari literatur. Lalu jelas dong user melakukan kontak atau komunikasi ke petugas, meminta izin terlebih dahulu.
Lalu user diarahkan oleh petugas untuk memfotokopi koleksi di bagian koperasi.”
: “Langsung saja pengguna ke koperasi, sebelumnya ya minta izin terlebih dahulu yang mana yang mau di fotokopi”.
Dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulakan pengguna dapat melakukan penggandaan koleksi secara bebas diluar ruang perpustakaan. Hal ini mengakibatkan kurangnya pengawasan terhadap jumlah halaman yang digandakan oleh pengguna.
Pertanyaan : Bagi pemustaka yang ingin menggandakan koleksi,
Pertanyaan : Bagi pemustaka yang ingin menggandakan koleksi,