• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data primer dan sekunder yang diperoleh dari hasil survei dianalisis melalui metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif dilakukan dengan melakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif yang digunakan antara lain analisis lembaga dan saluran tataniaga pemasaran (dalam hal ini adalah KPB), analisis fungsi – fungsi tataniaga, analisis stuktur pasar dan

perilaku pasar. Sedangkan analisis kuantitatif yang akan digunakan antara lain adalah analisis fleksibilitas transmisi harga dan analisis keterpaduan pasar (Indeks of Market Connection) dengan menggunakan data harga CPO time series. Pengolahan data akan dibantu oleh program Microsoft Excel 2007 dan software Eviews 6.1 yang disajikan dalam bentuk tabulasi dan keterangan penjelas.

3.4.1 Metode Analisis Data

3.4.1.1Analisis Lembaga dan Saluran Tataniaga Pemasaran

Analisis lembaga adalah melakukan identifikasi struktur kelembagaan dimana didalamnya dapat dijelaskan batas juridiksi, hak-hak kepemilikan dan aturan representasi. Batas juridiksi menjelaskan pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung sebagai pelaku dalam kelembagaan tersebut secara individu maupun organisasi atau perusahaan. Hak-hak kepemilikan menjelaskan hak dan kewajiban PTPN, KPB PTPN dan pembeli atau processor. Aturan representasi menjelaskan keterlibatan pihak-pihak dalam regulasi dan aturan-aturan yang mendasari kelembagaan ini. Analisis saluran tataniaga pemasaran akan menjelaskan gambaran umum sistem pemasaran serta saluran tataniaga pemasaran dari PTPN selaku produsen CPO hingga ke konsumennya yang terdiri dari perusahaan pengolah CPO (processor). Hal ini juga akan menjelaskan fungsi dan tujuan dibentuknya Kantor Pemasaran Bersama (KPB).

3.4.1.2Analisis Fungsi – Fungsi Tataniaga

Analisis fungsi - fungsi tataniaga menggambarkan kegiatan-kegiatan dari masing pihak dalam saluran tataniaga pemasaran CPO produksi PTPN dimulai dari produsen (PTPN), lembaga pemasaran (KPB PTPN Jakarta) sampai ke

konsumen (pembeli atau processor). Kegiatan-kegiatan tersebut disebut dengan fungsi-fungsi tataniaga dimana setiap tataniaga yang terlibat dalam penyaluran CPO dari PTPN hingga ke konsumen melakukan berbagai fungsi tataniaga secara umum yang dikelompokkan dalam tiga fungsi utama, yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas.

3.4.1.3Analisis Struktur Pasar

Metode analisis ini diperlukan untuk mengetahui apakah struktur pasar yang terbentuk cenderung mendekati pasar persaingan sempurna atau pasar persaingan tidak sempurna. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat komponen yang mengarahkan pasar ke suatu struktur pasar tertentu contohnya seperti semakin banyak penjual dan pembeli, maka struktur pasar tersebut mendekati kesempurnaan dalam persaingan. Kesepakatan antarsesama pelaku pemasaran menimbulkan struktur pasar yang cenderung tidak bersaing sempurna. Mengetahui struktur pasar komoditas CPO yang dipasarkan melalui Kantor Pemasaran Bersama (KPB) dapat dilihat mudah tidaknya memasuki pasar, differensiasi produk, dan informasi pasar.

3.4.1.4Analisis Perilaku Pasar

Perilaku pasar dapat dianalisis dengan mengamati praktek penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh para pelaku pasar melalui sistem penentuan harga serta sistem pembayarannya. Pelaku pasar yaitu produsen (PTPN), konsumen (processor) dan lembaga pemasaran (KPB) menyesuaikan diri terhadap situasi penjualan dan pembelian yang terjadi.

3.4.1.5Analisis Fleksibilitas Transmisi Harga

Menurut George dan King (1972), elastisitas transmisi harga adalah rasio perubahan harga relatif pada tingkat petani atau produsen terhadap perubahan harga relatif pada tingkat pengecer atau konsumen. Elastisitas harga berarti perubahan jumlah yang diminta (Q) akibat adanya perubahan harga (P). Menurut Brandt dan French (1981), kebalikan dari elastisitas harga adalah fleksibilitas harga, yaitu rasio perubahan harga akibat perubahan jumlah yang diminta.

Menurut George dan King (1972), diketahui bahwa harga tingkat petani atau produsen merupakan fungsi linier dari harga tingkat pengecer atau konsumen sehingga didapat persamaan melalui analisis regresi linier sederhana:

Pf = a + b Pr

... (1)

Konsep fleksibilitas transmisi harga dalam hal ini dapat dijadikan sebagai ukuran efisiensi pemasaran. Secara sederhana konsep fleksibilitas transmisi harga dapat dituliskan dalam bentuk persamaan matematis sebagai berikut (George dan King dalam Nancy, 1988):

1

=

b Pr Pf ... (2) dimana: 1/� = Fleksibilitas transmisi harga

b = Koefisien regresi linier antara Pf dan Pr

Pf = Harga CPO di tingkat produsen PTPN (Rp/Kg) Pr = Harga CPO di tingkat konsumen (Rp/Kg)

Dari bentuk persamaan ini dapat dilihat bahwa konsep ini mengukur seberapa jauh perubahan harga yang terjadi di tingkat konsumen akan ditransmisikan ke tingkat produsen, baik dalam kasus harga naik maupun harga

turun. Nilai fleksibilitas transmisi harga yang mendekati satu (1) menunjukkan kelembagaan tataniaga mentransmisikan harga secara baik sehingga kelembagaan tersebut dapat dikatakan efisien.

3.4.1.6Analisis Indeks Keterpaduan Pasar

Keterpaduan pasar adalah sampai seberapa jauh pembentukan harga suatu komoditas pada suatu tingkat lembaga tataniaga atau pasar dipengaruhi oleh tingkat lembaga tataniaga atau pasar lainnya. Untuk mengetahui tingkat keterpaduan pasar CPO antara tingkat atau level lembaga tataniaga ke-i dengan tingkat lembaga tataniaga lainnya, dianalisis secara statistik menggunakan model Indeks of Market Connection (IMC) dengan pendekatan model Autoregressive Distribution Lag, yang dikembangkan oleh Ravallion (1986) yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Heytens (1986) dalam Arifianto (2007). Analisis indeks keterpaduan pasar digunakan untuk melihat efisiensi harga tataniaga CPO.

Model ekonometrika Autoregressive Distribution Lag diduga dengan menggunakan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square/OLS), sebagai berikut:

P

it

= b

1

P

it1

+ b

2

P

jt

−P

jt1

+ b

3

P

jt1

+ e

t

... (3)

Dimana: Pit = Harga CPO di pasar pengikut bulan ke-t (Rp/kg)

Pit-1 = Lag harga CPO di pasar pengikut pada bulan ke-t (Rp/kg) Pjt = Harga CPO di pasar acuan pada bulan ke-t (Rp/kg) Pjt-1 = Lag harga CPO di pasar acuan pada bulan ke-t (Rp/kg) bi = Parameter estimasi (bi = 1,2,3)

et = Random error i = Pasar pengikut j = Pasar acuan

Koefisien b2 mengukur bagaimana perubahan harga di pasar acuan diteruskan terhadap harga di pasar pengikut. Jika b2 = 1, maka perubahan harga yang terjadi adalah netral dan proporsi jika dihitung dalam persentase. Jika b2 lebih besar dari 1, maka perubahan yang terjadi di pasar acuan akan berpengaruh terhadap harga di tingkat pasar pengikut. Jika di tingkat pasar acuan sama pada setiap bulannya (b2 = 0), maka koefisien b2 tidak berpengaruh dan dapat dikeluarkan dari persamaan. Dengan demikian harga di pasar pengikut hanya dipengaruhi harga di pasar acuan, dengan koefisien b1 dan b3. Jika kedua koefisien telah diketahui, maka dapat diperoleh indeks keterpaduan pasar (IMC) yang dihitung sebagai berikut:

IMC = b1

b3

... (4)

Jika IMC < 1, maka terjadi keterpaduan pasar yang relatif tinggi antara harga di tingkat pasar pengikut dengan pasar acuan. Artinya harga yang terjadi di pasar acuan merupakan faktor utama (dominan) yang mempengaruhi harga yang terjadi di tingkat pasar pengikut. Hal ini menunjukkan bahwa kedua pasar terhubung dengan baik karena informasi permintaan dan penawaran di pasar acuan diteruskan ke pasar pengikut serta mempengaruhi harga yang terjadi di pasar pengikut.

Hipotesis keterpaduan pasar jangka panjang yang kuat diterima, apabila nilai IMC = 0 dan b1 = 0, maka harga di tingkat pengecer atau pasar pengikut pada bulan sebelumnya tidak berpengaruh terhadap yang diterima di pasar pengikut sekarang. Jika IMC > 1, maka menunjukkan bahwa kondisi atau faktor di pasar pengikut memiliki pengaruh yang dominan terhadap pembentukan harga di pasar

pengikut atau dengan kata lain terjadinya perubahan harga di tingkat pasar acuan tidak memiliki pengaruh dominan terhadap pembentukan harga CPO di tingkat pasar pengikut. Keterpaduan pasar jangka pendek secara sempurna akan terjadi apabila b2 = 1, artinya perubahan harga pasar acuan akan sepenuhnya diteruskan ke pasar pengikut. Dengan kata lain, semakin mendekati satu pada nilai koefisien korelasi (b2), maka derajat asosiasinya semakin tinggi.

3.4.1.7 Pengujian Hipotesis

Mengetahui apakah secara statistik peubah bebas (independent variable) yang dipilih berpengaruh nyata atau tidak terhadap peubah tak bebas (dependent variable), digunakan uji statistik t dan uji statistik F. Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi dari masing-masing peubah sehingga dapat diketahui apakah peubah ke-j berpengaruh nyata terhadap peubah tak bebasnya. Sedangkan uji F digunakan untuk mengetahui koefisien regresi secara serentak apakah peubah-peubah bebas secara bersama-sama menjelaskan variasi peubah tak bebasnya. Pengujian hipotesis atas masing-masing koefisien regresi dilakukan dengan uji t-student dengan hipotesis sebagai berikut:

1) Keterpaduan Pasar Jangka Pendek Hipotesis:

H0 : b2 = 1 H1 : b2≠ 1

Selanjutnya hipotesis ini (H0 : b2 = 1) digunakan untuk menganalisis keterpaduan pasar jangka pendek dengan uji statistik sebagai berikut:

t – hitung = b2−1

Apabila t-hitung < t-tabel, maka hipotesis nol tidak dapat ditolak secara statistik. Artinya, kedua pasar terpadu dalam jangka pendek. Sebaliknya jika t- hitung > t-tabel, maka hipotesis alternatif diterima secara statistik. Artinya kedua pasar tidak terpadu dalam jangka pendek.

2) Keterpaduan Pasar Jangka Panjang Hipotesis:

H0 : b1/b3 = 0 H1 : b1/b3 ≠ 0

Nilai b1/b3 = 0 terjadi apabila b1 = 0, sehingga hipotesis di atas dapat dituliskan sebagai berikut:

H0 : b1 = 0 H1 : b1≠ 0

Selanjutnya hipotesis ini (H0 : b1 = 0) digunakan untuk menganalisis keterpaduan pasar jangka panjang dengan uji statistik sebagai berikut:

t – hitung = b1−0

�� b1

Apabila t-hitung < t-tabel, maka hipotesis nol tidak dapat ditolak secara statistik. Artinya, kedua pasar terpadu dalam jangka panjang. Sebaliknya jika t-hitung > t- tabel, maka hipotesis alternatif diterima secara statistik. Artinya kedua pasar tidak terpadu dalam jangka panjang.

IV. GAMBARAN UMUM KANTOR PEMASARAN BERSAMA (KPB) PTPN JAKARTA

4.1 Sejarah dan Perkembangan KPB PTPN

Sejarah pengelolaan perkebunan dan pemasaran hasil-hasilnya sebenarnya telah dimulai sejak masa penjajahan Belanda dimana masuknya VOC (Verenigdee Oost Indische Compagnie) dengan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) sehingga sistem usaha kebun rakyat menjadi sumber eksploitasi komoditi perdagangan untuk pasaran Eropa yang berlanjut hingga masa pemerintahan Hindia Belanda. Sejarah pengelolaan pemasaran hasil (khususnya CPO) perusahaan perkebunan milik negara (BUMN) dan berdirinya Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PTPN dimulai sejak pengambil-alihan atau nasionalisasi perusahaan perkebunan milik Belanda pada tahun 1957 yang disahkan oleh presiden Soekarno melalui UU Nomor 86 tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda.

4.1.1 Periodisasi Sejarah dan Perkembangan KPB PTPN

Tahun 1958 – 1961

Pada rentang tahun 1958 sampai dengan 1961 terdapat 2 (dua) Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) yang melaksanakan fungsi pemasaran secara sendiri oleh masing-masing Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara (BPU-PPN), kedua PPN tersebut adalah:

 PPN Lama yang merupakan perusahaan perkebunan yang diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia dari perusahaan perkebunan milik pemerintah Belanda.

 PPN Baru adalah perusahaan perkebunan hasil nasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap perusahaan perkebunan swasta milik Belanda.

Tahun 1961 – 1963

Seiring dengan tumbuh kembangnya Perusahaan Perkebunan Negara, maka pada periode ini dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara (BPU-PPN) yang memiliki fungsi sebagai pengelola seluruh perusahaan perkebunan yang telah diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini PPN Lama dan PPN Baru beserta kebun-kebun yang dimiliki. Sebagai konsekuensi dari hal tersebut maka pemasaran komoditas hasil perkebunan dilaksanakan oleh direksi BPU-PPN beserta kantor-kantor yang dimiliki di beberapa wilayah di Indonesia.

Tahun 1963 – 1968

Pemerintah Republik Indonesia membagi BPU-PPN menjadi 5 (lima) badan hukum. Hal ini dilakukan demi tercapainya peningkatan efektifitas dan efisiensi pada bidang produksi komoditas hasil perkebunan. Pada periode ini fungsi pemasaran dilakukan oleh masing-masing BPU-PPN yang terdiri dari: BPU-PPN Karet, BPU-PPN Aneka Tanaman, BPU-PPN Gula, BPU-PPN Tembakau, dan BPU-PPN Serat.

Tahun 1968 – 1990

Pada periode ini pemerintah Republik Indonesia membubarkan seluruh BPU-PPN dan membentuk 28 Perusahaan Negara Perkebunan (PNP). Berlandaskan Peraturan Pemerintah (PP) No. 3 tahun 1983 dilakukan pembenahan status

perusahaan secara bertahap dari Perusahaan Negara (PN) menjadi Perseroan Terbatas (PT) maka pada saat itulah Perusahaan Perkebunan Negara (PNP) berubah menjadi Perseroan Terbatas Perkebunan (PTP). Dalam rangka mencegah timbulnya persaingan harga diantara PTP yang ada, pada saat itu dibentuklah Kantor Pemasaran Bersama (KPB) dengan tujuan mengelola pemasaran komoditas hasil perkebunan yang dihasilkan oleh kelompok PTP yang berada dalam 1 (satu) wilayah ditambah dengan Asosiasi Pemasaran Bersama Perkebunan (APBP). Pembagian kantor pemasaran bersama PTP dan kantor administrasi hasil gula berdasarkan wilayah regional tersebut adalah sebagai berikut:

1. KPB PTP I – PTP IX di Medan

2. KPB PTP X, XI, XII, XIII dan XVIII di Jakarta

3. KPB PTP XIX, XXIII, XXVI, XXVII, dan XXIX di Surabaya

4. KAH Gula PTP XIV, XV – XVI, XVII, XX, XXI, XXII dan XXIV – XXV Tahun 1990

Bertepatan dengan tanggal 26 Februari 1990 berdasarkan kesepakatan bersama Direksi PNP/PTP I - XXIX tanggal 26 Februari 1990 yang kemudian disetujui oleh Menteri Pertanian melalui Surat Keputusan Nomor: 166/Kpts/OT.210/3/1990 tanggal 8 Maret 1990 tentang Persetujuan Pembentukan Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PTPN dimana KPB Jakarta, KPB Surabaya, KPB Medan, Kantor Administrasi Hasil Gula (KAH Gula) ditambah Asosiasi Pemasaran Bersama Perkebunan (APBP) dilebur menjadi satu menjadi KPB PT Perkebunan yang terpusat di Jakarta. Tujuan pembentukan KPB terpusat pada tahun 1990 ini adalah

untuk dapat lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan pemasaran PTP secara terpadu sehingga dapat menciptakan daya tawar yang mantap untuk menghadapi pembeli maupun para spekulan. Tugas KPB PTPN berdasarkan kesepakatan bersama Direksi PN/PT Perkebunan I – XXIX tanggal 26 Februari 1990 adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan kebijakan pemasaran.

2. Mengelola seluruh persediaan produksi siap jual.

3. Mengumpulkan informasi, menganalisa dan melakukan pengembangan pasar.

4. Melakukan transaksi penjualan baik langsung maupun melalui kerjasama dengan perwakilan KPB di luar negeri.

5. Menyelesaikan dan melaksanakan pembayaran klaim. 6. Mengkaji dan mengevaluasi antara lain:

- Data produksi dan konsumsi komoditas perkebunan dan saingannya di dalam maupun luar negeri.

- Informasi harga dalam dan luar negeri serta situasi perkembangan pasar. 7. Mengadakan promosi.

8. Mengadakan pelayanan dan sarana teknis.

9. Melakukan hal-hal lain yang menunjang aktivitas dan pengembangan pemasaran.

Tujuan pembentukan KPB:

1. Memperkuat bargaining power PTP terhadap pembeli. 2. Memperkuat daya saing pasar.

3. Meningkatkan bonafiditas PTP di pasaran internasional.

4. PTP akan lebih sanggup menghadapi usaha kerjasama internasional. 5. Strategi pemasaran dapat dilakukan secara lebih terarah.

6. Mempermudah PTP memasuki berbagai sistem perdagangan internasional.

7. Mempermudah kerjasama berbagai industri hilir.

8. Mendayagunakan seoptimal mungkin sumberdaya manusia pemasaran yang ada.

9. Mempermudah penanganan dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha-usahanya sesuai dengan kebijakan pemerintah mengenai BUMN.

10. Keterpaduan atas produksi dengan pemasaran secara nasional dan menyeluruh dapat ditingkatkan.

11. Menekan biaya-biaya pemasaran yang harus dipikul oleh PTP.

Saat ini KPB PTPN menangani pemasaran/penjualan produk-produk PTPN yaitu molasses/tetes, kopi, kakao, karet, teh, dan Crude Palm Oil (CPO).

4.2 Organisasi KPB PTPN Jakarta

Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara dibentuk berdasarkan Kesepakatan Bersama Direksi PN/PT Perkebunan I – XXIX pada tanggal 26 Februari 1990. Pembentukan KPB PTPN telah disetujui oleh Menteri Pertanian (sebagai Kuasa Pemegang Saham) dengan Surat Keputusan No: 166/KPTS/OT.210/3/1990 tanggal 8 Maret 1990. Dalam melaksanakan tugasnya KPB PTPN Jakarta memiliki jaringan kantor cabang yang merupakan salah satu

elemen penting dalam mewujudkan tujuan organisasi untuk menjadi yang terdepan dalam meningkatkan layanan kepuasan pelanggan. Dengan dukungan jaringan kantor cabang, KPB PTPN diharapkan dapat menawarkan akses layanan yang mudah serta layanan terbaik kepada para pelanggan. Sampai dengan pertengahan 2009, KPB PTPN telah mengelola jaringan layanan yang meliputi 2 kantor cabang yang terletak di lokasi strategis pada kota-kota utama di Indonesia yaitu; Kantor KPB PTPN cabang Surabaya di Jalan Veteran No. 37 Surabaya 60175 dan KPB PTPN cabang Medan di Jalan Balai Kota No. 8 Medan 20111. Selain itu baru-baru ini KPB PTPN menambah 1 (satu) kantor cabang lagi guna melayani para pelanggan di luar negeri khususnya di kawasan timur tengah yang tepatnya terletak di kota Dubai, Uni Emirat Arab. Namun kantor cabang yang berada di Dubai ini hanya mengurusi pemasaran komoditas khususnya teh mengingat para pelanggan di kawasan tersebut memiliki permintaan yang cukup tinggi untuk komoditas teh sehingga menjadi pasar yang cukup menjanjikan bagi pemasaran teh KPB PTPN.

4.2.1Landasan Pembentukan Organisasi

1. Kesepakatan Bersama Direksi PN/PT Perkebunan I – XXIX tanggal 26 Februari 1990 jo. Surat Direktur Utama PTPN I – XIV No.05/BMD – PTPN/KPTS/1997 tanggal 22 Desember 1997 tentang Kesepakatan Mengenai Penyesuaian Nama Kantor Pemasaran Bersama PTPN I – XIV. 2. Surat Keputusan Badan Musyawarah Direksi PT Perkebunan Nusantara I

– XIV No. 15/BMD – PTPN/Kpts/XII/2001 tentang Perubahan atau Penyempurnaan Struktur Organisasi Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara I – XIV.

3. Surat Keputusan Badan Musyawarah Direksi PT Perkebunan Nusantara No. 004/BMD – PTPN/Kpts/VII/2004 tanggal 13 Juli 2004 tentang Direktur Pelaksana Kantor Pemasaran Bersama PTPN I – XIV.

4. Surat Keputusan BMD – PTPN No. 14/BMD – PTPN/Kpts/1998 tanggal 8 Juli 1998 tentang Mekanisme Hubungan Kerja antara BMD – PTPN, Dewan Pengawas dan Kantor Pemasaran Bersama PTPN I – XIV.

4.2.2 Lokasi KPB PTPN Jakarta

Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PT Perkebunan Nusantara Jakarta beralamat di Jalan Taman Cut Mutiah No. 11, Jakarta Pusat 10330. KPB PTPN dibentuk sebagai badan pemasaran terpusat PTPN yang ada di Indonesia, yaitu:

1. PT Perkebunan Nusantara I (Persero) yang terletak di Jl. Kebun Baru No. 85, Langsa, Aceh Timur, NAD 24551, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, dan kakao.

Telp. 0641-21701, Fax. 0641-21700 (www.ptpn1.com).

2. PT Perkebunan Nusantara II (Persero) yang terletak di Jl. Tanjung Morawa KM 15, Po.Box 104 Medan 20362, Tanjung Morawa, Sumatera Utara, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, kakao, dan tanaman semusim tebu dan tembakau.

Telp. 061-7940055, Fax. 061-7940233.

3. PT Perkebunan Nusantara III (Persero) yang terletak di Jl. Sei Batanghari, Medan 20122, Sumatera Utara, Indonesia yang mengusahakan komoditas kelapa sawit, karet, dan kakao

4. PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) yang terletak di Jl. Letjend Suprapto No. 2, Medan, Sumatera Utara, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, kakao, dan teh.

Telp. 061-4154666, Fax. 061-4573117 (www.ptpn4.co.id).

5. PT Perkebunan Nusantara V (Persero) yang terletak di Jl. Rambutan No. 43, Pekanbaru, Riau 28294, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, dan kakao.

Telp. 0761-66565,Fax. 0761-66558 (www.ptpn5.com).

6. PT Perkebunan Nusantara VI (Persero) yang terletak di Jl. Zainir Haviz No. 1, Jambi 36128, Indonesia yang mengusahakan kelapa sawit, karet, teh, dan kakao.

Telp. 0741-445603, Fax. 0741-445500 (www.ptpn6.co.id).

7. PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) yang terletak di Jl. Teuku Umar No.300, Kedaton, Bandar Lampung 35141, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, teh, kakao, tebu, dan hortikultura.

Telp. 0721-702233, Fax. 0721-702775 (www.ptpn7.co.id).

8. PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) yang terletak di Jl. Sindangsirna No. 4, Bandung 40152, Jawa Barat, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, teh, karet, kina, dan kakao.

Telp. 022-2038966, Fax. 022-2031455 (www.ptpn8.com).

9. PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) yang terletak di Jl. Mugas Dalam (Atas), Semarang 50243, Indonesia yang mengusahakan komoditi teh, karet, kopi, kakao, dan tebu.

Telp. 024-8414635, Fax. 024-8448276 (www.ptpnix.co.id).

10.PT Perkebunan Nusantara X (Persero) yang terletak di Jl. Jembatan Merah No. 3-5, Surabaya 60175, Jawa Timur, Indonesia yang mengusahakan komoditi tebu, tembakau, dan tanaman serat.

Telp. 031-3523143, Fax. 031-3523167 (www.ptpn10.com).

11.PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) yang terletak di Jl. Merak No. 1, Surabaya 60175, Jawa Timur, Indonesia yang mengusahakan komoditi tebu. Telp. 6231-3524596, Fax. 6231-3532525 (www.ptpn-11.com). 12.PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) yang terletak di Jl. Rajawali 44,

Surabaya 60175, Jawa Timur, Indonesia yang mengusahakan komoditi kopi, kakao, karet, teh, dan hortikultura.

Telp. 031-3524893, Fax. 031-3534389 (www.ptpn12.com).

13.PT Perkebunan Nusantara XIII (Persero) yang terletak di Jl. Sultan Abdurrachman No. 11, Pontianak 78116, Kalimantan Barat, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, dan tebu.

Telp. 0561-749367, Fax. 0561-766026 (www.ptpn13.com).

14.PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) yang terletak di Jl. Urip Sumohardjo Km. 4, PO BOX 1006, Makassar 90232, Sulawesi Selatan, Indonesia yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, kakao, kelapa hibrida, kelapa nias, pala, kopi, dan tebu.

4.2.3 Usaha Pemasaran KPB PTPN Jakarta

Beberapa usaha pemasaran yang dijalankan oleh KPB PTPN Jakarta diantaranya:

1. Jakarta Tea Auction, setiap hari Rabu pukul 10.00 WIB. 2. Tender CPO lokal, setiap hari Senin - Jumat pukul 15.00 WIB. 3. Tender CPO ekspor, setiap bulan sekali pada minggu pertama. 4. Tender karet, setiap hari Selasa pukul 14.30 WIB.

5. Tender molasses/tetes, awal musim giling (April - Oktober).

Selain melakukan pemasaran keempat komoditi di atas, KPB PTPN juga melaksanakan fungsi market intelligence dalam upaya mencari dan menyampaikan informasi pasar bagi PTPN produsen komoditi lain yaitu gula, kopi, kakao, minyak goreng, stearin, fatty acid, palm kernel, palm kernel oil, dan palm kernel meal.

4.2.4 Struktur Organisasi KPB PTPN

KPB PTPN dipimpin oleh seorang Direktur Pelaksana (Managing Director) setingkat Direktur Utama. Direktur Pelaksana dalam pelaksanaan tugas sehari-harinya dibantu oleh Wakil Direktur Pelaksana dan delapan kepala bagian yaitu Kepala Bagian SDM dan Umum; Kepala Bagian Pembiayaan; Kepala Bagian Pemasaran Teh, Kopi, dan Kakao; Kepala Bagian Pemasaran Minyak Sawit; Kepala Bagian Pemasaran Gula Pasir dan Tetes; Kepala Bagian Pemasaran Karet; Kepala Bagian Analisa dan Informasi Pasar; Kepala Bagian Satuan Pengawas Internal (SPI) serta masing-masing satu orang Kepala Kantor Cabang Medan dan Surabaya setingkat kepala bagian. Masing-masing kepala bagian dan

pejabat setingkat kepala bagian membawahi kepala urusan. Adapun struktur organisasi KPB PTPN secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 9.

Sebagai organisasi pemasaran, per 19 Agustus 2009, KPB PTPN memiliki tenaga kerja sebanyak 204 orang dengan berbagai keahlian dan pengalaman yang tersebar di kantor pusat Jakarta dan dua kantor cabang: Surabaya dan Medan. Berdasarkan tabel di bawah ini terlihat bahwa jumlah karyawan KPB PTPN Jakarta terdiri dari 128 orang, KPB Medan terdiri dari 53 orang dan KPB Surabaya terdiri dari 23 orang dengan tingkat pendidikan masing-masing strata-2, strata-1, sarjana muda dan diploma dan lain-lain (SLTA, SLTP, SD/SR).

Tabel 4. Data Karyawan Menurut Pendidikan Formal

No.urut Pendidikan Formal Jakarta Medan Surabaya Jumlah

1 S3 (Doktor) 0 0 0 0 2 S2 (Magister) 10 1 0 11 3 S1 (Sarjana) 46 15 12 73 4 Sarjana Muda 9 3 0 12 5 SLTA 46 27 8 81 6 SLTP 9 3 1 13 7 SD/SR 8 4 2 14 Jumlah 128 53 23 204 Sumber: KPB PTPN Jakarta, 2009.

Jika kita melihat tabel di atas maka jumlah karyawan lulusan SLTA atau SMA merupakan jumlah yang terbanyak di masing- masing kantor pemasaran kecuali di

Dokumen terkait