• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Metode Pengujian Antibakteri

Metode disk-diffusion (tes Kirby-bauer) adalah metode atau cara pengujian aktivitas antibakteri yang paling umum karena pengerjaannya yang sederhana.

Adapun metodenya, piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih pada sekitar piringan mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar.

b. Metode dilusi cair (broth dilution test)

Pada metode ini cara yang dilakukan yaitu dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba (dengan berbagai konsentrasi) pada media yang telah ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji agen antimkroba pada konsentrasi terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM (Konsentrasi Hambat Minimum). Larutan yang ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang pada media padat tanpa penambahan mikroba uji ataupun agen antimikroba, dan diinkubasi selama 18-24 jam. Media yang tetap terlihat jernih pada konsentrasi terkecilnya setelah diinkubasi akan ditetapkan sebagai KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum) (Pratiwi, 2008).

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, meliputi pengambilan bahan tumbuhan, identifikasi tumbuhan, pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia, penyiapan alat, bahan dan pereaksi, pembuatan ekstrak etanol daun bandotan menggunakan metode maserasi, skrining fitokimia, pembuatan larutan uji ekstrak etanol daun bandotan dengan berbagai konsentrasi dan uji aktivitas antibakteri secara in-vitro terhadap Bacillus substilis dan Proteus vulgaris dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi USU.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah, autoklaf (Webeco), lemari asam (Brook Crompton) batang pengaduk, blender (Philips), biosafety cabinet (Astec HLF 1200 L), hot plate, bunsen, kompor gas (Rinai), lemari pengering, lemari pendingin (Toshiba), cawan petri, cawan porselin, cawan porselin berdasar rata, inkubator (Memmert), jangka sorong, jarum ose, pipet tetes, serbet, spatula, tisu, toples kaca, aluminium foil, kain kasa, kapas, vial, kertas perkamen, kertas saring, kompor (Rinnai), alat alat gelas, mikro pipet (Eppendorf), mikroskop, neraca kasar (Ohaus), neraca analitik (Metler AE 200), oven (Memmert), penangas uap, pencadang kertas, pinset,, rak tabung, rotary evaporator (Haake D), seperangkat alat destilasi penetapan kadar air, bunsen, tanur (Gallenkomp) dan alat vortex (Biosan).

3.1.2 Bahan

Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun bandotan (Ageratum conyzoides L.), bakteri uji : Bacillus substilis ATCC 6633 dan Proteus vulgaris. Bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain adalah berkualitas pro analisa yaitu: asam klorida pekat, asam sulfat pekat, asam asetat anhidrida, amil alkohol, α-naftol, besi (III) klorida, bismuth (III) nitrat, etanol 96%, etanol 70%, akuades, iodium, isopropanol, kloralhidrat, kloroform, metanol, merkuri (II) klorida, serbuk magnesium, timbal (II) asetat dan toluena.

3.2 Penyiapan Bahan Tumbuhan 3.2.1 Pengambilan Bahan Tumbuhan

Pengambilan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Bahan tumbuhan yang digunakan adalah daun bandotan yang diambil dari Jalan Harmonika Baru, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara.

3.2.2 Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense, Laboratorium Herbarium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara.

3.2.3 Pembuatan Simplisia

Bagian yang digunakan adalah daun bandotan. Daun dibersihkan dari kotoran yang melekat, dicuci dengan air bersih, ditiriskan, ditimbang berat basah, kemudian dikeringkan di lemari pengering hingga kering. Daun yang telah kering apabila sudah rapuh (bila diremas menjadi hancur) kemudian simplisia dihaluskan menggunakan blender sehingga menjadi serbuk simplisia. Serbuk simplisia lalu

disimpan dalam wadah plastik tertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari.

3.3 Karakterisasi Simplisia

Pemeriksaan karakterisasi simplisia seperti penetapan kadar air, pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut asam dilakukan menurut prosedur Depkes RI (1995).

3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik

Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk luar, ukuran dan warna dari simplisia (Ditjen POM, 1979).

3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia daun.

Serbuk simplisia ditaburkan di atas kaca objek , lalu ditetesi dengan larutan kloralhidat, dipanaskan diatas spiritus, lalu ditutup dengan kaca penutup, kemudian diamati dibawah mikroskop (Ditjen POM, 1979).

3.3.3 Penetapan Kadar Air

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode azeotropi (destilasi toluena) 1. Penjenuhan

Sebanyak 200 ml toluena dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, lalu didestilasi selama 2 jam. Toluena dibiarkan mendingin selama 30 menit dan dibaca volume air pada tabung penerima dengan ketelitian 0,05 ml.

2. Penetapan kadar air

Kemudian ke dalam labu tersebut dimasukkan 5 gram serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama, labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluena mendidih, kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes tiap detik sampai

sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan tetesan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluena memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen (Depkes RI, 1995).

3.3.4 Penetapan Kadar Sari yang Larut dalam Air

Sebanyak 5 gram serbuk simplisia daun bandotan dimasukkan dalam labu bersumbat, dimaserasi dengan 100 ml air kloroform P selama 24 jam, sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Sejumlah 20 ml filtrat pertama diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara, kemudian sisanya dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam air, dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan udara (Depkes RI, 1995).

3.3.5 Penetapan Kadar Sari yang Larut dalam Etanol

Sebanyak 5 g serbuk simplisa daun bandotan dimasukkan dalam labu bersumbat, kemudian dimaserasi dengan 100 ml etanol 96% selama 24 jam, sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Sejumlah 20 ml filtrat pertama diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, sisanya dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC hingga diperoleh bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari larut dalam etanol, dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan udara (Depkes RI, 1995).

3.3.6 Penetapan Kadar Abu Total

Sebanyak 2 gram serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Krus porselin dipijar pada suhu 600oC sampai arang habis. Selanjutnya didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot yang tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).

3.3.7 Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larut Asam

Abu yang telah diperoleh dalam penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml asam klorida 2 N selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu dan dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijar pada suhu 600oC sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995).

3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi

Pembuatan larutan pereaksi asam klorida 2 N, larutan asam sulfat 2N, pereaksi Bouchardat, pereaksi Mayer, pereaksi Dragendorff, larutan kloralhidrat, pereaksi Molisch, larutan timbal (II) asetat 0,4 M, dan larutan besi (III) klorida 1% dilakukan menurut Depkes RI (1995); pembuatan pereaksi Liebermann-Burchard dilakukan menurut Harborne (1987).

3.4.1 Pereaksi Mayer

Sebanyak 5 g kalium iodida dilarutkan dalam 10 ml air suling kemudian ditambahkan 1,3 g raksa (II) klorida yang dilarutkan dalam air suling hingga 60 ml. Larutan dikocok dan ditambahkan air suling hingga 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.4.2 Pereaksi Dragendorf

Sebanyak 8 g bismuth nitrat dilarutkan dalam asam nitrat 20 ml kemudian dicampur dengan larutan kalium iodida sebanyak 27,2 g dalam 50 ml air suling.

Campuran didiamkan sampai memisah sempurna. Larutan jernih diambil dan diencerkan dengan air secukupnya hingga 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.4.3 Pereaksi Bouchardat

Sebanyak 4 g kalium iodida dilarutkan dalam 20 ml air suling kemudian ditambah 2 g iodium sambil diaduk sampai larut, lalu ditambah air suling hingga 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.4.4 Pereaksi Molisch

Sebanyak 3 g α-naftol dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N secukupnya hingga diperoleh larutan 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.4.5 Pereaksi Liebermann-Burchard

Sebanyak 5 ml asam asetat anhidrida dicampurkan dengan 5 ml asam sulfat pekat kemudian ditambahkan etanol hingga volume 50 ml (Harborne, 1987).

3.4.6 Pereaksi Besi (III) Klorida 1%

Sebanyak 1 g besi (III) klorida dilarutkan sedikit demi sedikit dalam asam klorida 0,5 N dan volume dicukupkan hingga volume 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.4.7 Pereaksi Timbal (II) Asetat

Sebanyak 15,17 g timbal (II) asetat ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air hingga 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.4.8 Pereaksi Natrium Hidroksida 2N

Sebanyak 8 g kristal natrium hidroksida dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.4.9 Larutan Kloralhidrat

Sebanyak 50 g kristal kloralhidrat ditimbang lalu dilarutkan dalam 20 ml air suling (Depkes RI, 1995).

3.4.10 Asam Klorida 2 N

Sebanyak 17 ml asam klorida pekat diencerkan dalam air suling hingga volume 100 ml (Depkes RI, 1995).

3.5 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Bandotan

Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Sebanyak 450 g serbuk simplisia daun bandotan dimasukkan ke dalam bejana bertutup, lalu tuang 75 bagian pelarut (3375 ml) etanol 96%, tutup, biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, kemudian setelah 5 hari hasil maserasi disaring lalu filtrat disimpan dalam tempat yang terlindung dari cahaya. Selanjutnya, ampas ditambah dengan cairan penyari etanol 96% hingga diperoleh 100 bagian (4,5 L) maserat kemudian dibiarkan di tempat sejuk dan terlindung dari cahaya selama 2 hari dan dienaptuangkan.

Setelah 2 hari disaring filtrat dan seluruh maserat digabungkan menjadi satu kemudian diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator pada temperatur ± 40oC, dan diuapkan kembali dengan menggunakan cawan penguap diatas penangas air sehingga diperoleh ekstrak kental (Ditjen POM, 1979).

3.6 Pemeriksaan Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Bandotan

Skrining fitokimia meliputi pemeriksaan alkaloid, glikosida, saponin (Depkes RI, 1995); tanin, flavonoida, steroida/triterpenoida (Farnsworth, 1966).

3.6.1 Pemeriksaan Alkaloida

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk tes alkaloid.

Diambil 3 tabung reaksi, lalu kedalamnya dimasukkan 0,5 ml filtrat.

Sedangkan untuk ekstrak etanol daun bandotan terlebih dahulu dilarutkan dalam etanol teknis. Kemudian dilakukan pemeriksaan golongan senyawa metabolit sekunder ekstrak. Pada masing-masing tabung reaksi untuk simplisia dan ekstrak etanol daun bandotan:

1. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer akan terbentuk endapan berwarna putih atau kuning

2. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat akan terbentuk endapan berwarna coklat-hitam

3. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff akan terbentuk endapan berwarna merah atau jingga

Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan pada dua dari tiga percobaan diatas (Depkes RI, 1995).

3.6.2 Pemeriksaan Glikosida

Sampel ditimbang sebanyak 3 g kemudian disari dengan 30 ml campuran etanol 96% dengan air (7:3). Direfluks selama 10 menit, didinginkan dan disaring.

Diambil 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, lalu didiamkan selama 5 menit dan disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran kloroform dan isopropanol (3:2), dilakukan berulang sebanyak tiga kali. Kumpulan sari air diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50oC. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut,

yaitu 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diuapkan di penangas air. Sisa dilarutkan dalam 2 ml air suling dan 5 tetes pereaksi Molish.

Kemudian secara perlahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat. Glikosida positif jika terbentuk cincin ungu pada batas cairan, menunjukkan adanya ikatan gula (Depkes RI, 1995).

3.6.3 Pemeriksaan Saponin

Sebanyak 0,5 g sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik, timbul buih yang mantap tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm. Ditambahkan 1 tetes larutan asam klorida 2 N, bila buih tidak hilang menunjukkan adanya saponin (Depkes RI, 1995).

3.6.4 Pemeriksaan Tanin

Sebanyak 1 g sampel dididihkan selama 3 menit dalam 10 ml air suling lalu didinginkan dan disaring. Filtrat diencerkan sampai hampir tidak berwarna, lalu ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).

3.6.5 Pemeriksaan Flavonoida

Sebanyak 10 g sampel ditambahkan 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang diperoleh kemudian diambil 5 ml lalu ditambahkan 0,1 g serbuk Mg dan 1 ml HCl pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah,atau kuning, atau jingga pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1966).

3.6.6 Pemeriksaan Steroida/Triterpenoida

Sebanyak 1 g sampel dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, lalu disaring, filtrat diuapkan dan sisanya ditambahkan pereaksi

Liebermann-Burchard (20 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat). Jika terbentuk warna ungu atau merah yang berubah menjadi biru ungu atau biru kehijauan menunjukkan adanya triterpenoid/steroid bebas (Harbone, 1987).

3.7 Uji Aktivitas Antibakteri 3.7.1 Sterilisasi Alat

Alat-alat yang digunakan disterilkan terlebih dahulu sebelum dipakai.

Alat-alat gelas yang memiliki presisi dan media pertumbuhan bakteri disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Alat gelas lainnya disterilkan di dalam oven pada suhu 170oC selama 1 jam. Media dan kawat ose dan pinset menggunakan api bunsen (Ditjen POM, 1995).

3.7.2 Pembuatan Media 3.7.2.1 Nutrient Agar

Komposisi: Pepton 5 g, meat extract 3 g, agar 12 g, air suling ad 1 L Cara pembuatan :

Sebanyak 20 g nutrient agar ditimbang, masukkan kedalam erlenmeyer, dicukupkan air suling hingga 1 L, lalu dipanaskan sampai bahan larut sempurna.

Lalu media disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit (Merck, 2005).

3.7.2.2 Nutrient Broth

Komposisi: Peptone 5 g, meat extract 3 g dan air suling ad 1 L Cara pembuatan :

Sebanyak 8 g media nutrient broth ditimbang dan dilarutkan dengan air suling sedikit demi sedikit kemudian volumenya dicukupkan hingga 1 L, dengan bantuan pemanasan sampai semua bahan larut sempurna. Media dimasukkan

kedalam erlenmeyer yang bertutup dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit (Merck, 2005).

3.7.3 Pembuatan Agar Miring

Sebanyak 5 ml media agar yang telah dimasak dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditutup dan di bungkus lalu disterilkan di dalam autoklaf selama 15 menit pada suhu 121oC pada tekanan 15 psi. Kemudian tabung yang berisi media agar diletakkan pada kemiringan 30-45oC. Diperhatikan bahwa agar tidak menyentuh tutup tabung. Agar dibiarkan menjadi dingin dan keras (Lay, 1994).

3.7.4 Pembiakan Bakteri

3.7.4.1 Pembuatan Stok Kultur Bakteri

Masing-masing diambil satu koloni bakteri dengan menggunakan jarum ose steril dari biakan murni bakteri Bacillus substilis ATCC 6633 dan Proteus vulgaris, kemudian ditanamkan pada media nutrient agar miring yang telah disterilkan dengan cara menggores, lalu ditutup mulut tabung reaksi dengan kapas. Diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC di dalam inkubator (Ditjen POM, 1995)

3.7.4.2 Pembuatan Inokulum Bakteri

Stok kultur bakteri Bacillus substilis dan Proteus vulgaris yang telah tumbuh diambil dengan jarum ose steril lalu disuspensikan kedalam tabung yang berisi 10 ml media nutrient broth. Dinkubasi 1-2 jam hingga didapat kekeruhan yang sama dengan standar Mc Farland yaitu 108 CFU/ml, kemudian dilakukan pengenceran suspensi bakteri dengan memipet 0,1 inokulum bakteri lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan nutrient broth sebanyak 9,9 ml dan di vortex hingga homogen, maka didapat konsentrasi suspensi bakteri 106 CFU/ml (Ditjen POM, 1995).

3.7.5 Pembuatan Larutan Uji dengan Berbagai Konsentrasi

Sebanyak 5 gram ekstrak kental ditimbang seksama dengan neraca analitik, dilarutkan dalam 10 ml DMSO dan dimasukkan ke dalam vial.

Tambahkan DMSO hingga garis tanda dan diperoleh konsentrasi ekstrak 500 mg/ml. Selanjutnya larutan tersebut diencerkan kembali dengan penambahan DMSO hingga didapat konsentrasi 400, 300 , 200, 100, 90, 80, 70, 60, 50, 40, 30, 20, 10, 9, 8, dan 7 mg/ml.

3.7.6 Uji Aktivitas Antibakteri

Sebanyak 0,1 ml inokulum dimasukkan ke dalam cawan petri steril, kemudian ditambahkan 15 ml media NA cair dengan suhu (45-50oC), lalu dihomogenkan dan didiamkan hingga media memadat. Dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram kertas yaitu dengan meletakkan cakram kertas yang telah direndam dalam larutan uji ekstrak etanol daun bandotan dengan menggunakan pinset steril diatas permukaan media. Sebagai kontrol menggunakan DMSO. Ditutup cawan petri dan dibungkus. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Setelah itu diukur diameter hambat pertumbuhan bakteri pada area bening di sekitar pencadang kertas dengan menggunakan jangka sorong (Ditjen POM,1995).

Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun bandotan ditentukan berdasarkan konsentrasi hambat minumum . Konsentrasi hambat minimum adalah konsentrasi terendah ekstrak etanol daun bandotan yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri uji.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identitas Tumbuhan

Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense, Laboratorium Herbarium Fakultas dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara, menunjukkan bahwa tumbuhan yang diteliti adalah Ageratum conyzoides L. Hasil pemeriksaan identifikasi tumbuhan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 45.

4.2 Karakteristik Simplisia 4.2.1 Pemeriksaan Makroskopik

Hasil pemeriksaan makroskopik daun bandotan segar diketahui daun berbentuk bundar telur, warna hijau sampai hijau tua, bertangkai, panjang 2-6 cm, lebar 2-3 cm, ujung daun runcing, tangkai daun 1-3 cm, bau aromatik, khas, lama kelamaan agak memualkan, tulang daun berambut, warna rambut keputih-putihan, tulang daun menyirip. Hasil dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 46.

Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia daun bandotan adalah berwarna hijau kecoklatan, lembaran daun mengkerut, rapuh, ujung daun runcing, bau aromatik, khas, lama kelamaan agak memualkan.

4.2.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia daun bandotan terdapat rambut penutup, sisik kelenjar asteraceae, fragmen berkas pengangkut dengan penebalan berbentuk spiral, dan epidermis daun dengan stomata tipe anomositik, Hasil pemeriksaan mikroskopik dapat dilihat pada Lampiran 4, halaman 48.

4.2.3 Kadar Air, Kadar Sari Larut Air, Kadar Sari Larut Etanol, Kadar Abu Total dan Kadar Abu Tidak Larut Asam

Hasil pemeriksaan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan abu tidak larut asam serbuk simplisia daun bandotan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Daun Bandotan

Keterangan :

FHI : Farmakope Herbal Indonesia

Berdasarkan data tabel diatas monografi dari simplisia daun bandotan dapat dilihat di buku Farmakope Herbal Indonesia Edisi I (Depkes RI, 2011), sehingga ada acuan untuk menentukan parameter simplisia tersebut.

Penetapan kadar air pada simplisia dilakukan untuk mengetahui jumlah kadar air yang terkandung dalam simplisia tersebut. Hasil penetapan kadar air yang diperoleh, kurang dari 10% yaitu 5,93%, Kadar air yang melebihi 10% dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan mikroba (Ditjen POM, 1995).

Penetapan kadar sari larut air dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar yang dapat tersari dalam pelarut air. Kadar sari larut air yang diperoleh adalah 16,60%. Penetapan kadar sari larut etanol dilakukan untuk mengetahui jumlah senyawa bersifat polar maupun non polar yang dapat tersari dalam pelarut etanol. Hasil yang diperoleh dari penetapan kadar sari larut etanol adalah 21,60%. Kadar sari larut etanol lebih besar dibandingkan dengan air karena senyawa yang bersifat polar dan non polar lebih banyak terlarut dalam etanol.

No Parameter Hasil (%) Syarat FHI

1 Kadar air 5,93 <10

2 Kadar sari yang larut dalam air 16,60 >11,4 3 Kadar sari yang larut dalam etanol 21,60 >17,5

4 Kadar abu total 6,60 <10

5 Kadar abu yang tidak larut asam 0,49 <2,1

Penetapan kadar abu total dilakukan untuk mengetahui kandungan mineral (abu fisiologis) dan logam logam internal yang berasal dari jaringan tanaman itu sendiri dan terdapat dalam simplisia yang diteliti serta senyawa organik yang tersisa selama pembakaran (WHO, 1998). Kadar abu total yang diperoleh adalah 6,60%. Penetapan kadar abu tidak larut asam dilakukan untuk mengetahui jumlah logam-logam seperti silikat, khususnya pasir yang ada pada simplisia dengan cara melarutkan abu total dalam asam klorida (WHO, 1998). Kadar abu tidak larut asam yang diperoleh adalah 0, 49%.

4.3 Hasil Ekstraksi Daun Bandotan

Hasil ekstraksi 450 g serbuk simplisia daun bandotan dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96% diperoleh ekstrak etanol kental daun bandotan sebanyak 61,33 g dengan persen rendemen sebesar 13,62%. Ekstrak etanol yang diperoleh dilakukan uji skrining fitokimia untuk mengetahui senyawa aktif secara kualitatif dan kemudian diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Bacillus substilis dan Proteus vulgaris.

4.4 Hasil Skrining Fitokimia

Tabel 4.2 Skrining Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Bandotan

No Pemeriksaan Simplisia Daun

Bandotan

Keterangan: (+) positif = mengandung senyawa metabolit sekunder (-) negatif = tidak mengandung senyawa metabolit sekunder

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak etanol daun bandotan mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloida, flavonoida, glikosida, saponin, steroida/triterpenoida, dan tanin. Hasil skrining fitokimia ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Astuti (2015), bahwa tumbuhan bandotan (Ageratum conyzoides L.) mempunyai senyawa senyawa yang berkhasiat sebagai antibakteri, seperti golongan senyawa kimia flavonoid, saponin dan tanin.

4.5 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap Bacillus substilis dan Proteus vulgaris

Hasil pengukuran diameter daerah hambat ekstrak etanol daun bandotan dapat dilihat pada Tabel 4.3

Tabel 4.3 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bandotan Konsentrasi

ekstrak etanol daun bandotan (mg/ml)

Diameter Daerah Hambatan (mm) Bacillus substilis Proteus vulgaris

D* D*

Keterangan : D* = Hasil rata-rata tiga kali pengukuran - = Tidak terdapat daerah hambatan Blanko = DMSO

Penentuan aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar menggunakan pencadang kertas sebab lebih praktis namun tetap memberikan hasil yang diharapkan. Prinsip dari metode ini adalah pengukuran diameter area jernih sekitar pencadang kertas. Area jernih ini mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganime oleh agen antimikroba pada media agar (Pratiwi, 2008).

Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bandotan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus substilis dan Proteus vulgaris, hal ini ditandai dengan adanya zona hambat (daerah bening) disekitar daerah pencadang. Hasil uji aktivitas antibakteri diketahui semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol daun bandotan maka diameter hambat yang dihasilkan semakin besar.

Menurut Silva (2013) suatu ekstrak memiliki aktivitas antibakteri berdasarkan diameter hambatannya adalah 9-12 mm termasuk kedalam zona inaktif, diameter 13-18 mm termasuk kedalam zona aktif, dan diameter diatas 18

Menurut Silva (2013) suatu ekstrak memiliki aktivitas antibakteri berdasarkan diameter hambatannya adalah 9-12 mm termasuk kedalam zona inaktif, diameter 13-18 mm termasuk kedalam zona aktif, dan diameter diatas 18

Dokumen terkait