BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA
H. Metode Pengujian Efek Analgetik
Parasetamol berkhasiat sebagai analgetika dan antipiretik, tetapi tidak
antiradang. Dewasa ini parasetamol dianggap sebagai zat anti nyeri yang paling
aman, juga untuk swamedikasi. Parasetamol diberikan per oral dengan dosis dewasa
0,5-1,0 gram, maksimum 4 gram/hari, pada penggunaan kronis maksimal 2,5
gram/hari. Resorpsinya dari usus cepat dan tuntas. Dalam hati diuraikan menjadi
metabolit-metabolit toksis yang diekskresikan kemih dengan konjugat glukuronida
dan sulfat. Waktu paruh parasetamol adalah 1-4 jam (Tjay dan Rahardja, 2002).
Efek sampingnya antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah.
Pada penggunaan kronis dapat terjadi kerusakan hati, pada dosis di atas 6 gram
mengakibatkan nekrosis hati yang tidak reversibel (Tjay dan Rahardja, 2002). Gejala
awal dari kerusakan hati meliputi mual, muntah, diare, dan nyeri perut (Katzung,
2002).
H. Metode Pengujian Efek Analgetik
Pengujian daya analgetik oleh Turner (1965), dikelompokkan berdasarkan
golongan analgetika narkotika dan nonnarkotika.
1. Golongan analgetika narkotika
a. Metode jepitan ekor
Sekelompok mencit disuntik dengan senyawa uji dengan dosis tertentu secara
subkutan (s.c.) atau intravena (i.v.). Tiga puluh menit kemudian jepitan
dipasang pada pangkal ekor mencit selama 30 detik. Mencit yang tidak diberi
senyawa uji akan berusaha untuk melepaskan diri dari kekangan tersebut,
tetapi mencit yang diberi analgetika akan mengabaikan kekangan tersebut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
Dalam rentang waktu tertentu jepitan dipasang kembali. Respon positif yang
menunjukkan adanya efek analgetik, apabila tidak ada usaha melepaskan
jepitan selama 15 detik pada tiga kali pengamatan.
b. Metode rangsang panas
Hewan percobaan ditempatkan di atas lempeng panas dengan suhu 50° C
sampai 55° C sebagai stimulus nyeri. Mencit yang sudah diberi larutan uji,
diletakkan pada hot plate yang sudah disiapkan. Reaksi mencit adalah
menjilat telapak kaki depan, belakang lalu meloncat. Selang waktu antara
pemberian stimulus nyeri dan terjadinya respon, disebut waktu reaksi, dapat
diperpanjang oleh pengaruh obat-obat analgetika. Perpanjangan waktu reaksi
selanjutnya dapat dijadikan sebagai ukuran dalam mengevaluasi aktivitas
analgetik.
c. Metode pengukuran tekanan
Metode ini menggunakan suatu alat untuk mengukur tekanan yang diberikan
pada ekor tikus secara seragam. Alat tersebut terdiri dari 2 syringe yang dihubungkan pada kedua ujungnya, bersifat elastis, fleksibel, serta terdapat
pipa plastik yang diisi dengan cairan. Sisi dari pipa dihubungkan dengan
manometer. Syringe yang pertama diletakkan dengan posisi vertikal dengan ujungnya menghadap ke atas. Ekor tikus diletakkan di bawah penghisap
syringe. Ketika tekanan diberikan pada syringe kedua, maka tekanan akan terhubung pada sistem hidrolik pada syringe yang pertama kemudian pada
ekor tikus. Tekanan yang sama pada syringe kedua akan meningkatkan
tekanan pada ekor tikus, sehingga akan menimbulkan respon dan akan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
terbaca pada manometer. Respon tikus yang pertama adalah meronta-ronta
kemudian akan mengeluarkan suara (mencicit) sebagai tanda kesakitan.
d. Metode potensi petidin
Metode ini kurang baik, karena dibutuhkan hewan uji dalam jumlah besar,
tapi dapat digunakan untuk uji sedatif. Tiap kelompok tikus terdiri dari 20
ekor, setengah kelompok dibagi menjadi 3 kelompok kecil dan diberi petidin
dengan dosis berturut-turut 2, 4, dan 8 mg/kg. Setengah kelompok dibagi
menjadi dua yaitu kelompok petidin dan senyawa uji dengan dosis 25% dari
LD50. Persen analgetik dihitung dengan bantuan metode rangsang panas. e. Metode antagonis nalorfin
Uji analgetik dengan metode ini bertujuan untuk menunjukkan aksi obat-obat
seperti morfin. Nalorfin memiliki kemampuan untuk meniadakan aksi dari
morfin. Hewan uji yang biasa digunakan dalam metode ini adalah tikus,
mencit, dan anjing. Hewan uji diberi obat dengan dosis toksik kemudian
segera diikuti pemberian nalorfin (0,5-10,0 mg/kg BB) secara intravena.
Teori menyebutkan bahwa nalorfin dapat menggantikan ikatan morfin dengan
reseptornya.
f. Metode kejang oksitosin
Oksitosin merupakan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitori
posterior, yang dapat menyebabkan kontraksi uterin sehingga menimbulkan
kejang pada tikus. Hewan uji yang digunakan yaitu tikus betina dengan berat
badan 120-140 mg, diberi estrogen dengan pemberian 15 mg dietilstilbestrol
secara subkutan pada paha hewan uji. Setelah 10 minggu, hewan uji siap
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
untuk tes efek analgetik. Senyawa yang akan diuji diberikan secara subkutan
15 menit sebelum pemberian secara intraperitonial 2 unit oksitosin (dosis
ED50). Persen penurunan kejang dideterminasi dan ED50 dapat diperkirakan. g. Metode pencelupan pada air panas
Sepuluh ekor tikus disuntik intraperitonial dengan senyawa uji, kemudian
ekor tikus dicelupkan dalam air panas (suhu 58° C). Respon tikus terlihat dari
hentakan ekornya dari air panas.
2. Golongan analgetika nonnarkotika
a. Metode induksi kimia
Metode ini menggunakan zat kimia yang diinjeksikan pada hewan uji secara
intraperitonial pada mencit yang sudah diberi senyawa uji secara oral pada
selang waktu tertentu, sehingga akan menimbulkan rasa nyeri. Beberapa zat
kimia yang biasa digunakan antara lain asam asetat dan fenil kuinon. Respon
nyeri pada mencit adalah geliat berupa kontraksi perut disertai tarikan kedua
kaki belakang dan perut menempel pada lantai. Geliat diamati setiap 5 menit
selama 1 jam. Pemberian analgetik akan mengurangi rasa nyeri sehingga
jumlah geliat yang terjadi berkurang. Penelitian ini menggunakan metode
rangsang kimia sebagai metode pengujian efek analgetik karena metode ini
sederhana, mudah dilakukan, dan cukup peka untuk pengujian
senyawa-senyawa yang memiliki efek analgetik lemah. Efek analgetik dapat dievaluasi
menggunakan persen penghambatan terhadap geliat, yaitu:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
% penghambatan terhadap geliat = 100 – [(P/K) x 100]
Keterangan:
P = jumlah kumulatif geliat hewan uji setelah pemberian obat yang ditetapkan K = jumlah rata-rata geliat hewan uji kelompok kontrol negatif
b. Metode pedodolorimetri
Hewan uji diletakkan pada kandang yang bagian alasnya terbuat dari
kepingan metal sehingga bisa dialiri arus listrik. Respon yang timbul yaitu
ketika hewan uji mengeluarkan teriakan dengan pengukuran yang dilakukan
setiap 10 menit selama 1 jam.
c. Metode rektodolometri
Tikus diletakkan dalam kandang yang dibuat khusus dengan alas tembaga
yang kemudian dihubungkan dengan sebuah gulungan yang berfungsi sebagai
penginduksi. Ujung lain dari gulungan tersebut kemudian dihubungkan
dengan silinder elektroda tembaga. Pada gulungan bagian atas terdapat suatu
konduktor yang dihubungkan dengan suatu voltmeter yang sensitif untuk
dapat mengubah 0,1 volt. Respon berupa suara teriakan tikus dapat
ditimbulkan dengan pemberian tegangan sebesar 1 sampai 2 volt.
I. Landasan Teori
Sutomo (2003) dan Supriyatna (2007) melaporkan adanya flavonoid pada
daun kepel. Sunarni (2006) berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa
flavonoid golongan flavon pada fraksi etanol ekstrak air daun kepel yaitu :
- Isolat A1 : 7,3’,4-trihidroksi-5-0-gula-flavon
- Isolat B2 : 5,4’-dihidroksi-7-0-tersubtitusi-3-0-gula flavon
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
- Isolat B3 : 5,7,4’-trihidroksi-3-0-gula flavon
- Isolat B4a : 3,7,4’-trihidroksi flavon
- Isolat B4b : 3,7,3’,4’-tetrahidroksi-5-metilflavon
Dari kelima isolat tersebut, isolat B4b memiliki aktivitas antioksidan paling
tinggi dibanding isolat lain, hal ini mungkin dikarenakan isolat B4b mempunyai
gugus o-diOH dan 3-OH bebas. Maka dengan adanya ekstrak etanol daun kepel,
diharapkan kandungan antioksidannya mampu menangkap radikal bebas berlebih
sehingga tidak akan terjadi kerusakan jaringan yang dapat menimbulkan nyeri.
Sriwidodo (2004) juga melaporkan bahwa daun kepel memiliki efek
antiinflamasi. Mekanisme terjadinya inflamasi mirip dengan nyeri dimana terjadi
pelepasan mediator-mediator penyebab peradangan seperti serotonin, bradikinin,
prostaglandin, dll. Berdasarkan hasil tersebut, maka diharapkan ekstrak etanol daun
kepel juga memiliki efek sebagai analgetika. Adanya flavonoid pada daun kepel
diduga menghambat enzim lipooksigenase dan siklooksigenase sehingga
menyebabkan perombakan asam arakhidonat terganggu yang mengakibatkan
pelepasan mediator penyebab peradangan menjadi terganggu dan peradangan akan
dihambat.