• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

C. Metode Penilaian Persediaan

Metode penilaian persedian diperlukan untuk menghitung persediaan akhir

yang dilaporkan di neraca dan harga pokok penjualan yang akan dilaporkan dalam

laporan laba rugi. Dalam konsep akuntansi, penilaian persediaan dibahas dalam

pengakuan dan pengukuran (recognition and measurement).

Beberapa metode penilaian persediaan yang ada dapat diuraikan sebagai

berikut :

1. Metode penilaian persediaan berdasarkan harga perolehan (cost

valuation) :

a. Metode LIFO ( Last In First Out)

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2007 : 14.4) merumuskan

metode LIFO sebagai berikut : “Formula MTKP/LIFO mengasumsikan barang

yang dibeli atau diproduksi terakhir dijual atau digunakan terlebih dahulu,

sehingga yang termasuk dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau

diproduksi terdahulu”.

Bila melihat pernyataan di atas berarti harus membuat suatu arus

persediaan yang cenderung mendorong persediaan yang pertama dibeli atau

diproduksi oleh perusahaan akan dijual atau dipergunakan paling akhir, dan

persediaan yang dibeli atau diproduksi atau dipergunakan oleh perusahaan terlebih

dahulu sehingga metode LIFO ini pada awalnya hanya dianggap sesuai diterapkan

pada perusahaan yang mempunyai persediaan yang tidak mudah rusak, tahan

lama, serta dapat disimpan sedemikian rupa sehingga tetap dapat dibedakan antara

persediaan yang pertama dibeli atau diproduksi dengan persediaan yang dibeli

atau diproduksi terakhir kali.

Metode LIFO atau MTKP terdiri dari dua macam, yaitu :

1) Sistem fisik

Metode LIFO sistem fisik adalah penilaian persediaan yang ditentukan

dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok per unit barang yang

masuk pada awal periode. Bila saldo fisik teryata lebih besar dari barang yang

masuk pada awal periode, diambilkan dari harga pokok per unit yang masuk

berikutnya.

Contoh:

1 Januari 2010 persediaan awal 50 unit @ Rp. 100 = Rp. 5.000,-

10 Januari 2010 pembelian 100 unit @ Rp. 110 = Rp. 11.000,-

15 Januari 2010 pembelian 200 unit @ Rp. 115 = Rp. 23.000,-

20 Januari 2010 pembelian 100 unit @ Rp. 115 = Rp. 11.500,-

Jumlah 450 unit Rp. 50.500,-

Data Penjualan adalah sebagai berikut :

12 Januari 2010 penjualan 100 unit

18 Januari 2010 penjualan 200 unit

25 Januari 2010 penjualan 100 unit

400 unit

Saldo fisik per 31 Januari 2010 adalah 50 unit

Nilai persediaan akhir per 31 Januari 2006 :

50 x Rp. 100 = Rp. 5.000,-

Harga Pokok barang yang dijual :

Rp. 50.500 - Rp. 5.000 = Rp. 45.500,-

2) Sistem perpetual

Metode LIFO- Perpetual adalah suatu metode penilaian persediaan yang

pencatatan persediaanya dilakukan secara terus menerus dalam kartu persediaan.

Setiap kali ada transaksi, baik pembelian maupun penjualan (pemasukan dan

pengeluaran), langsung dicatat dalam kartu persediaan. Harga pokok penjualan

dicatat berdasarkan harga pokok barang pertama kali masuk. Jumlah yang masih

tersisa merupakan nilai persediaan akhir.

Dalam periode deflasi, pengaruh yang terjadi adalah kebalikannya.

Metode LIFO akan menghasilkan kemungkinan laba bersih yang tertinggi. Alasan

utama bagi mereka yang membela metode ini adalah adanya kecendrungan untuk

mengurangi pengaruh perkembangan harga pada laba bersih. Kritik terhadap

penggunaan metode ini adalah nilai persediaan barang dagang yang ditetapkan di

neraca dapat jauh berbeda dengan nilai gantinya. Tetapi hal ini dapat diungkapkan

dalam catatan yang menyertai laporan keuangan.

b. Metode FIFO (First In First Out)

Pernyataan Standar Akuntansi Keungan (2007 : 14.4) merumuskan

metode FIFO sebagai berikut : “Formula MPKP/FIFO mengamsumsikan barang

dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu

sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau

diproduksi kemudian”.

Berdasarkan rumusan di atas, metode FIFO ini adalah suatu metode

penentuan persediaan yang didasarkan pada anggapan bahwa barang yang paling

dahulu dibeli atau diproduksi adalah barang-barang yang terlebih dahulu dipakai

atau dijual. Dengan demikian barang barang yang ada dalam persediaan akhir,

dianggap berasal dari pembelian-pembelian terakhir karena barang yang berasal

dari pembelian sebelumnya dianggap telah dipakai atau dijual. Metode ini dapat

dipergunakan dalam sistem periodikal maupun sistem perpetual.

Metode FIFO/MPKP dibagi atas dua bagian yakni :

1) Sistem fisik

Menurut sistem FIFO yang didasarkan atas metode fisik, nilai

persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan dengan

harga pokok per unit barang yang terakhir kali masuk. Bila saldo fisik ternyata

lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk, sisanya dipergunakan harga pokok

per unit yang masuk sebelumnya.

Persediaan akhir periode 31 Januari 2010 masih ada 50 unit.

Harga pokok persediaan akhir per 31 Januari 2006 :

50 x Rp. 115 = Rp. 5.750,-

Harga pokok barang yang dijual :

Rp. 50.500 – Rp. 5.750 = Rp. 44.750,-

2) Sistem perpetual

Metode FIFO Perpetual adalah suatu metode penilaian persediaan yang

pencatatan persediannya dilakukan terus menerus dalam kartu persediaan. Setiap

kali ada transaksi, baik pembelian maupun penjualan (pemasukan dan

pengeluaran) barang, langsung dicatat dalam kartu persediaan. Harga pokok

penjualan dicatat berdasarkan harga pokok barang pertama kali masuk. Jumlah

yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir.

c. Metode rata-rata (Average)

Metode harga pokok rata-rata adalah suatu metode penilaian

persediaan yang didasarkan atas harga rata-rata dalam periode yang bersangkutan.

Besar kecilnya nilai persediaan yang masih ada dan harga pokok barang yang

dijual dipengaruhi oleh metode yang dipakai dalam metode rata-rata.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2007 : 14.4) merumuskan metode

rata-rata sebagai berikut :

Dengan rumus biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan

berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari barang serupa pada awal periode,

dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode.

Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala, atau pada setiap

penerimaan kiriman, tergantung pada keadaan perusahaan.

Berdasarkan rumusan diatas maka penetapan biaya persediaan dengan

menggunakan cara ini adalah bahwa persediaan yang ada di gudang dihitung

harga rata-ratanya dengan cara membagi total harga perolehan dengan jumlah

satuannya. Jadi apabila setiap kali terjadi pembelian, dengan harga pokok per

unitnya yang berbeda dari harga rata-rata persediaan yang ada di gudang, maka

harus dilakukan perhitungan harga pokok per unit yang baru.

1) Metode rata-rata bergerak (moving average)

Metode rata-rata sederhana suatu metode penilaian persediaan yang

ditentukan oleh harga rata-rata per unit setiap kali membeli barang. Metode ini

digunakan dengan menggunakan sistem pencatatan perpetual. Harga rata-rata per

unit ini dihitung tanpa memperhatikan jumlah unit (kuantitas) setiap kali

melakukan pembelian. Harga pokok per unit barang yang dijual dan harga per unit

persediaan akhir, dihitung dengan menjumlahkan harga rata-rata setiap kali

membeli (termasuk persediaan awal) dibagi jumlah frekwensi pembelian

(termasuk persediaan awal).

Keterangan :

10 Januari 2010 :

Pembelian 100 unit @ Rp. 110 = Rp. 11.000,-

Harga rata-rata = Rp. 5.000 + Rp. 11.000

50 + 100

= Rp. 106,67,-

12 Januari 2010 :

Penjualan 100 unit didasarkan atas harga rata-rata terbaru

Harga pokok barang yang dijual = 100 x Rp. 106.67 = Rp. 10.667,-

15 Januari 2010 :

Harga rata-rata = Rp. 23.000 + Rp 5.333

200 + 50

= Rp. 113,33,-

20 Januari 2010 :

Harga rata-rata = Rp 11.500 + Rp. 5.667

100 + 50

= Rp 114,44,-

Saldo fisik persediaan per 31 Januari 2010 adalah 50 unit

Nilai persediaan akhir = 50 unit x Rp. 114.44 = Rp. 5.722,-

Harga pokok penjualan :

Rp. 50.500 – Rp. 5.722 = Rp. 44.778,-

Metode rata-rata tertimbang adalah suatu metode penilaian yang

ditentukan oleh besarnya seluruh harga pokok perolehan dalam periode yang

bersangkutan dan jumlah (kuantitas) unit dalam periode yang bersangkutan.

Metode rata-rata tertimbang merupakan pendekatan antara metode LIFO

dan metode FIFO, perkembangan harga. Misalnya apabila urutan serta harga

pokok per unit barang yang tersedia untuk dijual adalah kebalikan dari urutan,

maka hal ini tidak Pengaruh perkembangan harga berjalan secara rata-rata dalam

hal dalam penetapan laba bersih maupun dalam penetapan harga pokok

persediaan. Untuk suatu seri pembelian tertentu harga pokok rata-ratanya akan

sama, tanpa memperhatikan arah dari akan mempunyai pengaruh apa-apa

terhadap laba bersih maupun harga pokok persediaan. Waktu yang diperlukan

untuk mengumpulkan data dalam metode rata-rata tertimbang biasanya akan lebih

banyak dibandingkan dengan metode-metode lain. Biaya tambahan yang harus

dikeluarkan mungkin akan besar apabila pembelian dilakukan berkali-kali dan

jenis barangnya banyak.

Bila diketahui persediaan akhir = 50 unit

Maka harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir :

Jumlah harga rata-rata :

− = = .112.22, 450 500 . 50 . Rp unit Rp

Harga pokok barang yang dijual periode Januari 2010 :

= ( 450 – 50 ) x Rp.112.22 = Rp. 44.888,-

d. Metode Identifikasi khusus

Metode harga pokok yang didasarkan atas metode identifikasi khusus

adalah suatu metode penilaian harga yang didasarkan atas nilai perolehan atau

harga beli yang sesungguhnya. Metode ini biasanya dipakai untuk barang yang

jumlah unitnya tidak banyak dan harganya cukup mahal.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2007 : 14.4)

Yang dimaksud dengan indentifikasi khusus biaya adalah atribusi biaya ke

barang tertentu yang dapat diidentifikasikan dalam persediaan. Cara ini

merupakan perlakuan yang sesuai bagi barang yang dipisahkan untuk

proyek khusus, baik yang dibeli maupun yang dihasilkan. Namun

demikian identifikasi khusus biaya tidak tepat bagi sejumlah besar barang

homogen yang dapat menggantikan satu sama lain (ordinarilly

interchangeable). Dalam keadaaan demikian, metode pemilihan barang

yang masih berada dalam persediaan dapat digunakan untuk menentukan

dimuka dampaknya terhadap laba rugi periode berjalan.

2. Metode penilaian persediaan bukan berdasarkan harga perolehan

(non cost valuation)

a. Metode Harga Terendah Diantara Harga Pokok dan Harga Pasar

(Lower of Cost or Market Metode/LCM)

Kemampuan barang untuk menghasilkan pendapatan akan berkurang

apabila harga jual barang menurun. Dalam situasi demikian, perusahaan dapat

menggunakan metode harga terendah diantara harga perolehan atau harga pasar

(lower of cost or market/LCM).. LCM adalah contoh dari prinsip konservatisme,

yakni ketika memilih antara berbagai alternatif, maka pilihan terbaik adalah

metode mana yang paling menekan harta dan laba bersih.

Sebagai contoh, misalkan sebuah perusahaan elektronika menjual

pesawat televisi yang harga perolehannya Rp. 1.000.000,- dengan harga Rp.

1.500.000,- . Pada tanggal neraca, harga pengganti pesawat televisi tersebut turun

drastis 20 % sehingga menjadi Rp. 800.000,-. Dalam metode harga terendah

diantara harga perolehan dan harga pasar, perusahaan harus mengakui kerugian

akibat penurunan dalam kemampuan menghasilkan pendapatan sebesar

Rp. 200.000,- untuk setiap pesawat televisi untuk tahun ini. Seandainya

perusahaan tersebut pada akhir tahun memiliki 10 buah pesawat televisi dalam

persediaannya maka jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut :

31 Des Kerugian penurunan nilai persediaan Rp. 2.000.000,-

Persediaan Rp. 2.000.000,-

Sebagai akibat penerapan metode harga terendah diantara harga

perolehan dan harga pasar, penurunan dari harga perolehan menjadi harga pasar

harus dibebankan pada periode ini. Penurunan harga (kerugian) dilaporkan dalam

laporan laba rugi pada bagian biaya lain-lain.

Apabila harga perolehan persediaan telah diturunkan menjadi sebesar

harga pasarnya, maka harga yang baru ini akan menjadi dasar harga perolehan

untuk periode berikutnya. Bila terjadi kenaikan dalam harga pasar, maka kenaikan

tersebut tidak diakui. Itulah sebabnya banyak orang berpendapat bahwa metode

ini tidak konsisten, sebab persediaan bisa diturunkan harganya, tetapi tidak bisa

dinaikkan.

b. Penilaian persedian berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasi

Kerugian yang diakibatkan oleh kerusakan atau menjadi ketinggalan jaman diukur

dengan selisih antara harga perolehan dengan taksiran nilai bersih yang bisa

direalisasi . Nilai bersih yang bisa direalisasi adalah taksiran harga jual dikurangi

dengan taksiran biaya yang diperlukan untuk menjual barang tersebut.

Menurut Warren, Reeve, Fess (2005 : 469) mengatakan bahwa: “Nilai

realisasi bersih (net realizable) adalah estimasi harga jual dikurangi biaya

pelepasan langsung seperti komisi penjualan”.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2004 : 14.2)

menjelaskan bahwa “Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai

realisasi bersih, mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable

value)”.

Sebagai contoh, misalkan sebuah toko barang-barang elektronik mempunyai 4

(empat) buah pesawat televisi yang rusak bagian luarnya karena tergores ketika

masih berada di gudang. Harga perolehan barang tersebut adalah Rp. 1.000.000,-

dan biasanya dijual dengan harga eceran Rp. 1.500.000,- . Pada tanggal neraca

barang tersebut akan laku dijual dengan harga Rp. 700.000,- dan diperlukan biaya

perbaikan Rp. 200.000,- ditambah komisi untuk pegawai bagian penjualan sebesar

10 %. Maka nilai bersih yang dapat direalisasi untuk setiap pesawat televisi adalah

Taksiran harga jual ... Rp. 700.000,-

Kurangi : Biaya penjualan :

- Reperasi... Rp. 200.000,-

- Komisi 10 %... Rp. 70.000,-

Rp. 270.000,-

Nilai bersih yang bisa direalisasi ... Rp. 430.000,-

Dengan demikian perusahaan akan menderita kerugian Rp. 570.000,-

untuk tiap buah televisi, atau kerugian seluruhnya menjadi Rp. 2.280.000,- .

Kerugian tersebut harus diakui pada periode ini. Perlakuan demikian bisa

diterima, karena kerugian (penurunan dalam nilai) diderita pada periode ini, yaitu

ketika barang masih berada dalam persediaan. Jurnal yang harus dibuat untuk

mencatat kerugian ini adalah sebagai berikut :

Kerugian penurunan nilai persediaan Rp. 2.280.000,-

Persediaan Rp. 2.280.000,-

Kerugian di atas dilaporkan dalam laporan laba rugi bagian biaya

lain-lain. Pada periode berikutnya seandainya televisi tersebut bisa dijual sebesar nilai

bersih diatas, perusahaan tidak perlu mengakui kerugian lagi.

c. Metode Taksiran

Metode taksiran dipergunakan apabila :

1) Persediaan di gudang banyak jumlahnya dan jenis barangnya,

sehingga bila dilakukan penghitungan fisik akan memakan banyak

waktu, tenaga dan biaya.

2) Dalam keadaan luar biasa misalnya gudang terbakar atau bencana

lainnya, sehingga penghitungan fisik tidak mungkin dilakukan.

Penentuan nilai persediaan menggunakan metode taksiran yang sering

dipakai adalah:

Soemarso (2002 : 393) menyatakan bahwa : “Metode laba bruto pada

dasarnya menggunakan konsep yang sama dengan metode eceran,

yaitu konsep hubungan antara harga pokok dan harga jual”.

Dalam keadaan mendesak perusahaan selalu menyusun laporan

keuangan dengan segera. Karena keadaan tidak memungkinkan mengadakan

inventarisasi misalnya karena kebakaran gudang atau karena bencana lainnya

maka dapat dipergunakan metode taksiran laba kotor. Metode laba kotor dapat

dipergunakan bila persentase laba kotor tetap. Bila persentase laba kotor telah

diketahui, maka nilai penjualan dalam suatu periode tertentu dapat dihitung terdiri

dari dua unsur yaitu laba kotor dan harga pokok barang yang dijual.

Contoh :

Menurut catatan diketahui penjualan Rp. 1.200.000,-

Persediaan awal Rp. 100.000,-

Pembelian Rp. 950.000,-

Persentase laba 25 % dari penjualan

Dari data tersebut dapat dihitung :

Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual :

Rp. 100.000 + Rp. 950.000 = Rp. 1.050.000,-

Laba kotor :

25 % x Rp. 1.200.000 = Rp. 300.000,-

Harga pokok barang yang dijual :

Rp. 1.200.000 – Rp. 300.000 = Rp. 900.000,-

Persediaan akhir :

Rp. 1.050.000 – Rp. 900.000,- = Rp. 150.000,-

b) Metode harga eceran

Penilaian persediaan dengan metode taksiran harga jual secara eceran

pada umumnya dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan yang menjual barang

secara eceran. Alasan menggunakan metode ini adalah karena barang yang dijual

banyak macamnya dan frekwensinya cukup tinggi sehingga sulit dilakukan

penghitungan fisik untuk menentukan persediaan. Demikian juga

penyelenggaraan kartu persediaan mengalami kesulitan mengingat frekwensi

transaksi cukup tinggi.

Menurut Warren, Reeve, Fess (2005 : 471) menyatakan bahwa :

“Metode persediaan eceran (Retail Inventory Method) mengestimasikan biaya

persediaan berdasarkan hubungan antara harga pokok barang dagangan yang

tersedia untuk dijual dengan harga eceran dari barang dagang yang sama”.

Contoh :

Sebuah perusahaan mempunyai persediaan awal menurut harga pokok Rp. 80.000

dan menurut harga jual Rp. 100.000, pembelian selama periode tersebut

Rp. 520.000 dan harga jual dari pembelian tersebut Rp. 650.000.

Dari data tersebut diatas dapat dihitung nilai persediaan akhir sebagai berikut :

Berdasarkan Berdasarkan

Harga Pokok Harga Jual

Persediaan awal Rp. 80.000,- Rp. 100.000,-

Pembelian Rp. 520.000,- Rp. 650.000,-

Barang yang tersedia dijual Rp. 600.000,- Rp. 750.000,-

Persediaan akhir menurut harga jual Rp. 125.000,-

Berdasarkan barang yang tersedia untuk dijual menurut harga pokok dan menurut

%

80

%

100

000

.

750

.

000

.

600

.

arg = × =

Rp

Rp

jual

a

H

Nilai persediaan menurut harga pokok :s

80 % x Rp. 125.000 = Rp. 100.000,-

Dokumen terkait