10 Sangat baik
5 Cukup
1 Sangat jelek
2. Bagaimana menurut penilaian saudara terhadap metode pemasaran yang diterapkan oleh perusahan saudara selama ini. Lingkarilah pada alternatif nomor pada gambar berikut ini.
Sangat efisien Sangat tidak efisien
Dan efektif dan tidak efektif
4.5. Metode Sampling
Teknik Pengambilan Sampel adalah sebuah metode atau cara yang dilakukan untuk menentukan jumlah dan anggota sampel. Setiap anggota tentu saja wakil dari populasi yang dipilih setelah dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakter. Teknik sampling yang digunakan juga harus disesuaikan dengan tujuan dari penelitian. Populasi terdiri dari sekumpulan individu yang bersifat heterogen terbatas. Jenis dan Metode Sampling Sampling secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok, yaitu
64 Adapun Probability sampling menurut Sugiyono adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan Nonprobability sampling menurut Sugiyono adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
Adapun jenis-jenis Probability sampling adalah sebagai berikut : a) Simple random sampling
Menurut Kerlinger (2006:188), simple random sampling adalah metode penarikan dari sebuah populasi atau semesta dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki peluang yang sama untuk terpilih atau terambil. Simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling.
Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 (unit sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini. Gambar 1. Teknik Simpel Random Sampling (Sugiyono, 2001: 58)
b) Proportionate stratified random sampling
Stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut Sugiyono (2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Misalnya suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Populasi berjumlah 100 orang diketahui bahwa 25 orang berpendidikan SMA, 15 orang diploma, 30 orang S1, 15 orang S2 dan 15 orang S3. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut dan diambil secara proporsional. c) Disproportionate stratified random sampling Sugiyono (2001: 59) menyatakan bahwa
teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP.
65 Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu atau cluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Indonesia memiliki 34 propinsi dan akan menggunakan 10 propinsi. Pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling.
2) Nonprobability sampling a) Sampling sistematis
Menurut Sugiyono, Sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu, yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
b) Quota sampling
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono (2004: 127) dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah kuota terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100 dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.
c) Sampling aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui. Misalnya penelitian tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan mempergunakan setiap warga negara yang telah dewasa sebagai unit sampling. Peneliti mengumpulkan data
66 langsung dari setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang diharapkan terpenuhi.
d) Purposive sampling
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Misalnya, akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai maka sampel yang dipilih adalah orang yang memenuhi kriteria-kriteria kedisiplinan pegawai.
e) Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
f) Snowball sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding semakin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan purposive dan snowball sampling.
67
BAB V
JENIS HIPOTESIS, RUMUSAN HIPOTESIS,
TEKNIK PENGUTIPAN REFERENSI
5.1. Jenis & Rumusan Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran (kerangka Alternatif Jawaban /pemecahan masalah atas masalah) diperlukan pemilihan alternatif pemecahan masalah yang diperkirakan tepat untuk mengatasi masalah penelitian. Alternatif terpilih disebut hipotesis penelitian ( kesimpulan /jawaban sementara atas masalah atau Kesimpulan yang masih harus diuji kebenarannya). Selanjutnya adalah merumuskan hubungan antar variabel tersebut dalam bentuk suatu pernyataan ( statement Hypotheses) yang akan diuji apakah hubungan antar variabel yang telah dibangun berdasarkan Kerangka pemikiran tersebut terbukti benar secara Fakta.
Definisi Hipotesis:
Dalam Webster New world Dictionary,: Hipotesis adalah proporsi,kondisi atau prinsip yang untuk sementara waktu dianggap benar dan barangkali tanpa keyakinan,agar dapat ditarik suatu konsekuensi logis dan dengan cara ini kemudian dilakukan pengujian (testing ) tentang kebenarannya dengan menggunakan data empiris.
Kegunaan Hipotesis:
a. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan /kerja penelitian.
b. Menyiagakan peneliti pada kondisi fakta dan hubungan antar fakta yang kadang- kadang hilang dari perhatian peneliti.
c. Sebagai alat sederhana dalam memfokuskan fakta. d. Sebagai paduan dalam pengujian.
Tingkat kegunaan Hipotesis tergantung pada: 1. Pengamatan yang tajam dari sipeneliti. 2. Kreativitas dan imajinasi peneliti.
3. Kerangka teoritis analis yang digunakan si peneliti 4. Metode dan disain Penelitian yang dipilih oleh Peneliti.
68 Sumber Hipotesis:
Ilmu pengetahuan,wawasan,imajinasi, bahan bacaan, kebiasaan/ Kegiatan Masyarakat Data dan Analogi.
Jenis Hipotesis:
1. Hipotesis tentang perbedaan Vs Hubungan 2. Hipotesis kerja Vs hipotesis nol
3. Hipotesis commonsence dan ideal/kompleks. Hipotesis sebaiknya:
1. Dirumuskan secara jelas,padat, specifik. 2. Dinyatakan dengan kalimat pernyataan
3. Menyatakan hubungan antardua atau lebih variabel yang dapat diukur. 4. Dapat diuji dan mempunyai kerangka teor i
CIri- ciri Hipotesis yang baik,adalah: 1. Harus menyatakan hubungan
2. Harus sesuai dengan Fakta, bisa menerangkan Fakta dan sederhana.
3. Dinyatakan dalamkalimat yang jelas,sehingga tidak terjadi perbedaan penafsiran diantara pembaca.
4. Hipotesisyang dirumuskan harus dapat diuji dengan menggunakan data yang dikumpulkan secara ilmiah . dengan demikian hipotesis akan dapat dibuktikan. 5. Harus berhubungan dengan ilmu serta sesuai dengan ilmu pengetahuan.
6. Meskipun hipotesis merupakan suatu dugaan , tidak berarti tanpa dasar yang memadai.pada teori yang sudah ada atau hasil-hasil riset sebelumnya. Hipotesis harus mempunyai dasar teori yang kuat sehingga pembuktiannya tidak bersifat coba-coba.
Statement hipotesis dapat juga dalam bentuk untuk pengujian perbandingan, apakah terdapat perbedaan antara dua kelompok “ Group”, atau antara beberapa group. Untuk menguji “apakah diduga ada atau tidak ada perbedaan antara dua group beberapaa group ).rumusan hipotesisnya dalam bentuk preposition atau dalam bentuk if- then statement.
Contoh Hipotesis 1:
Employees who are more healthy will take sick leave less frequently
Contoh Hipotesis 2 :
If employee are more healthy , then they will take sick leave less frequently Proposition
69 Bentuk Preposisi yang Menyatakan Sebab-Akibat:
1. Reversible: Hubungan yang dapat dibalik tanpa merubah arti. “bila X maka Y, bila Y maka X”
Contoh:
Bila ia menjadi pusat pergaulan (X) maka mengetahui kebutuhan kawan-kawannya (Y).
2. unreversible: Tak dapat dibalik, bila X maka Y, tetapi bila Y maka tidak X. Contoh:
Bila dipupuk dengan urea maka akan baik tumbuhnya tetapi bila tumbuhnya baik, maka tidak akan dipupuk.
3. Deterministic: Hubungan yang bersifat ketentuan/kepastian/selalu. “bila X maka tentu/pasti/selalu Y”
Contoh:
- Bila bayi lapar (X), maka pasti menangis (Y). - Bila gunung gundul (X), maka selalu banjir (Y).
4. Stochastic: Hubungan yang bersifat kemungkinan artinya belum tentu. “bila X, mungkin Y”
Contoh:
- Bila tanaman tidak bersamaan,mungkin akan terserang tikus. - Bila lingkungan buruk (X), mungkin anak-anak akan berandal (Y).
5. Sequential: Hubungan yang menyatakan dengan jangka waktu. “bila X, maka nantinya/kelak akan Y”
Contoh:
- Bila semasa kanak-kanak hidupnya terpencil (X), maka kelak hidupnya akan berpenyakit mental (Y).
- Bila pemeliharaan di persemaian tidak baik, maka nanti tumbuhnya di sawah tidak akan baik.
6. Coextensive: Hubungan bersamaan yang biasanya diikuti dengan perkataan “dengan sendirinya”.
“bila X maka dengan sendirinya Y” Contoh:
- Bila pandai experimental design, maka dengan sendirinya pandai statistik.
- Karena pimpinannya tidak cakap, maka dengan sendirinya lembaga itu tidak dapat menjalankan fungsinya.
7. Sufficient: Hubungan yang menyatakan telah cukup, tanpa harus ada syarat lain. “bila X (tanpa ada syarat lain) maka Y”
70 Contoh:
Bila tanah sawah tidak digarap sempurna, maka tanah akan bersifat asam.
8. Contingent: Hubungan yang menyatakan sesuatu akibat itu yang harus diikuti dengan variabel lain, bila tidak diikuti dengan variabel lain itu maka sifatnya belum tentu, atau baru kemungkinan saja, atau kebetulan saja.
“bila X maka Y,bila ada Z” Contoh:
Bila lingkungan buruk (X) maka anak-anak akan berandal (Y), bila ayahnya pemabuk (Z).
9. Necessary: Hubungan yang menyatakan keharusan. “bila X maka seharusnya Y”
Contoh:
Bila ditembak kepalanya (X) maka harus mati (Y).
10. Substituable: Hubungan sebab-akibat, dimana penyebab dapat diganti dengan yang lain, mengakibatkan kejadian yang sama.
“bila X maka Y, juga bila Z maka Y”
Contoh:
Bila ditembak kepalanya (X) maka harus mati (Y), juga bila berpenyakit kanker (Z) maka akan mati (Y).