• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode dan Sistem Pendidikan Pesantren

Dalam dokumen KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PENDIRI (Halaman 85-100)

BAB IV KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PENDIRI

B. Hasil Analisa Konsep Pendidikan Islam Menurut Pendiri Pondok

3. Metode dan Sistem Pendidikan Pesantren

Sistem pendidikan yang diterapkan di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah sistem pendidikan berasrama (boarding institution). Kitab-kitab kuning dikemas sedemikian rupa ke dalam buku-buku teks pelajaran yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan para santrinya.

Sistem pendidikan klasikal dikembangkan secara terpimpin dan terorganisir dalam bentuk penjenjangan kelas dalam jangka waktu yang ditetapkan. Sistem klasikal ini merupakan bentuk pembaharuan karena berbeda dengan sistem pesantren model lama. Pengajaran dengan sistem ini menjadi lebih efisien, karena dengan biaya dan waktu yang relatif sedikit dapat menghasilkan produk yang besar dan bermutu. Perbaikan terhadap sistem pengajaran menghendaki sejumlah perombakan sistem pengajaran yang dianut oleh pesantren tradisional.

110 Marjuki, dalam: http://marjuki01.blogspot.com/2013/12/pendidikan-imam-zarkasyi.html, (download: 13Februari 2015, 21:56 WIB)

Metode pendidikan itu lebih penting dari pada materi pelajaran, akan tetapi guru lebih penting dari pada metode, dan jiwa guru lebih penting dari pada guru itu sendiri, “Al-thariqah ahammu min al-maddah, wa lakin al- mudarris ahammu min al-thariiqah wa ruuh al-mudarrisi

ahammu min al-mudarris”.111

Beberapa metode dan kaidah pengajaran dalam proses belajar mengajar di kelas antara lain pelajaran harus dimulai dari yang mudah dan sederhana, tidak tergesa-gesa pindah ke pelajaran yang lain sebelum siswa memahami betul pelajaran yang telah diberikan, proses pengajaran harus teratur dan sistematik, latihan-latihan diperbanyak setelah pelajaran selesai, dan lain-lain yang kesemua kaidah tersebut bisa dipraktikkan oleh setiap guru dengan persyaratan guru harus memiliki dan menguasai metode dalam mengajar.

Di samping dengan menggunakan sistem klasikal, di Pondok Modern Darussalam Gontor juga diperkenalkan kegiatan ekstrakurikuler. Dalam kaitan ini para santri memiliki kegiatan lain di luar jam pelajaran, seperti olahraga, kesenian, keterampilan, pidato dalam tiga bahasa (yaitu dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris), pramuka dan organisasi pelajar. Semuanya ini dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler dalam wadah sistem pesantren yang diselenggarakan oleh santri sendiri (student government).

111 A. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2005, h. 188

Dalam mengerjakan semua aktivitas itu, “santri diharuskan tetap tinggal di asrama pondok pesantren (boarding school)”.112 Karena selain untuk mempertahankan suasana dan jiwa pesantren, hal ini juga di maksudkan agar tujuan dan asas pendidikan dapat dibina dan dikembangkan secara lebih efisien dan efektif.

Sehubungan dengan pencapaian tujuan dan berjalannya sistem pendidikan tersebut, maka di Pondok Modern Darussalam Gontor jam-jam belajar diatur secara ketat, bahkan untuk ini para santri tidak diperkenankan memasak sendiri. Hal ini dikarenakan untuk menghemat waktu.

Kegiatan para santri sehari-hari diawali dengan bangun pagi, shalat subuh berjama’ah, kemudian pemberian kosa kata bahasa Arab atau Inggris, serta dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Setelah itu para santri memiliki waktu bebas hingga pukul 06.45, dan dilanjutkan dengan persiapan untuyk belajar di kelas. Pukul 07.00 mulai kegiatan belajar pagi di kelas-kelas sampai jam 12.30, dengan istirahat sebanyak dua kali, jam 08.30-09.00 dan jam 10.30-11.00. setelah keluar kelas, semua santri bersiap-siap sholat dhuhur berjama’ah, dilanjutkan dengan makan siang dan istirahat sekedarnya sebelum kemudian pada jam 14.00 seluruh murid masuk kelas sore. Di kelas sore ini diperbanyak mata pelajaran bahasa dan mata pelajaran lain untuk menunjang program kelas pagi. Kelas sore berakhir pada pukul 15.00 dan dilanjutkan dengan sholat ‘Ashar berjama’ah, setelah itu santri diperbolehkan melakukan kegiatan bebas, berupa kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, kesenian, keterampilan dan sebagainya. Untuk ini mereka bebas memilih kegiatan sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki masing-masing.

Pukul 16.45 seluruh kegiatan berhenti dan para santri bersiap-siap untuk sholat Maghrib berjama’ah. Jam 17.00 santri sudah harus di masjid, membaca Al-Qur’an dan dilanjutkan sholat maghrib berjama’ah. Setelah sholat maghrib, para santri membaca Al-Qur’an kembali dan dilanjutkan dengan makan malam. Jam 19.30-20.00 sholat Isya’ berjama’ah. Seusai sholat Isya’ para santri belajar malam untuk mengulangi pelajaran dan mempersiapkan

untuk pelajaran hari esok. Belajar malam ini dilakukan secara bersama di bawah bimbingan wali kelas masing-masing. Belajar malam ini berakhir pukul 22.00, kemudian istirahat malam dan tidur, untuzk kemudian bangun jam 04.00 esok hari.113

Selain seluruh kegiatan tersebut, setelah santri Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki jenjang pendidikan terakhir, mereka diberi latihan membaca kitab (terutama kitab klasik atau kitab kuning) dari berbagai disiplin ilmu agama, seperti persoalan-persoalan dalam bidang akidah, fikih, hadis, tafsir, akhlak, dan lainnya yang bertujuan untu menguji kemampuan mereka dalam berbahasa Arab, kegiatan ini biasa disebut dengan program Fathul Kutub (membuka buku-buku). Selain itu, “para santri juga di ajarkan praktik Manasik Haji, praktik mengajar, usaha dan kewirausahaan, jurnalistik, kursus komputer, dan lain sebagainya”.114

Pola dan irama kegiatan pesantren yang demikian padat ini terus berlangsung di Pondok Modern Darussalam Gontor hingga saat ini. Hal ini berlangsung secara alamiah dengan disiplin yang ketat.

4. Manajemen Kelembagaan Pondok Modern Darussalam Gontor

Dalam tradisi pesantren pada umumnya, manajemen kelembagaan pesantren berada di bawah kehendak kyai. Kyai dan keluarga kyai menjadi pemilik tunggal dari seluruh aset yang dimiliki oleh pesantrennya. Karena ia adalah hak milik, maka ketika kyai itu wafat, kepengurusan pondok akan diwariskan kepada ahli warisnya.

113Ibid., h. 28

Dalam hal ini, pesantren tidak berbeda dengan kerajaan kecil dari sebuah dinasti yang diwariskan kepada generasi berikutnya secara turun temurun. Hal ini akan menimbulkan permasalahan jika diantara anggota keluarga yang menjadi ahli waris tidak ada yang memenuhi kualifikasi dalam memimpin pondok, sehingga hal inilah yang seringkali menjadi faktor utama mundurnya atau runtuhnya sebuah pesantren.

Demi kepentingan pendidikan dan pengajaran Islam, para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor telah mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor. “Ikrar perwakafan ini telah dinyatakan di muka umum oleh ketiga pendiri pondok Modern Darussalam Gontor ini pada tanggal 28 Rabiul Awwal 1378 bertepatan dengan 12 Oktober 1958”. 115 Dengan ditanda tanganinya Piagam Penyerahan Wakaf itu, maka Pondok Modern Darussalam Gontor tidak lagi menjadi milik pribadi atau perorangan sebagaimana yang umumnya dijumpai dalam lembaga pendidikan pesantren tradisional. Dengan demikian Balai Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor secara resmi telah berpindah status dari milik pribadi menjadi milih institusi yang dalam hal ini diwakili oleh badan wakaf.

Lembaga Badan Wakaf ini selanjutnya menjadi Badan lembaga tertinggi dalam organisasi Balai Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor. Badan inilah yang bertanggung jawab mengangkat kyai untuk masa jabatan lima tahun. Dengan demikian kyai bertindak sebagai

mandataris dan bertanggung jawab kepada Badan Wakaf. “Badan Wakaf memiliki lima program yang berkenaan dengan bidang pendidikan dan pengajaran, bidang peralatan dan pergedungan, bidang perwakafan dan sumber dana, bidang kaderisasi, serta bidang kesejahteraan”.116

Dengan demikian struktur dan manajemen Pondok Modern Darussalam Gontor akan selalu di tangani oleh orang-orang yang mempunyai keahlian dalam bidang-bidangnya, sehingga Pondok Modern Darussalam Gontor dapat terus berkembang dengan baik. Selain itu, dengan melibatkan segala aspek dan campur tangan para pengurus pondok dalam mengembangkan kesejahteraan pesantren akan memberikan arah yang lebih baik dan positif karena umat Islam pada umumnya dan juga seluruh elemen yang terlibat dalam kepengurusan Pondok Modern Darussalam Gontor akan merasa ikut bertanggung jawab akan keberhasilan dan keberlangsungan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Selain itu juga, perbedaan manajemen kelembagaan Pondok Modern Darussalam Gontor dengan pondok lainnya juga terlihat pada pandangannya terhadap dunia politik. Biasanya ada sejumlah pondok pesantren yang berafilisiasi kepada organisasi tertentu, semisal Nahdatul Ulama taupun Muhammadiyah. Namun Pondok Modern Darussalam Gontor tidak demikian, karena di dalam Pondok Modern Darussalam Gontor telah ditanamkan jiwa-jiwa berdikari yang bebas. Hal ini direalisasikan dengan menciptakan Pondok Modern Darussalam Gontor

yang steril dari kepentingan politik dan golongan apapun dan siapapun. Hal ini diperkuat dengan semboyannya “ berdiri di atas dan untuk semua golongan”.117

B. Hasil Analisa Konsep Pendidikan Islam Menurut Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor

Dari keseluruhan penjelasan yang telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa para Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi merupakan ulama-ulama pembaharu dalam pemikiran pendidikan Islam. Pemikiran yang mereka miliki berupa ide-ide pembaharuan dalam pengembangan pesantren. Mereka telah berhasil mengubah pandangan masyarakat tentang pesantren yang diidentikkan dengan dunia serba tertinggal dan tradisional menjadi pesantren yang tetap mempertahankan ketradisionalan pesantren namun segaligus menerima modernitas. Hal ini terlihat jelas pada konsep pendidikan yang mereka terapkan di pondok pesantren yang mereka dirikan, yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia.

Ide-ide Pembaharuan ini salah satunya dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan saat itu. Di satu sisi Ahmad Dahlan mendirikan lembaga pendidikan yang sarat dengan materi pendidikan umum, di sisi lain Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren yang bercorak tradisional, lebih menekankan

pada aspek pengembangan ilmu-ilmu keagamaan. Menghadapi kondisi pendidikan yang demikian, “sistem pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor direnovasi dengan model pendidikan yang memadukan secara seimbang antara pendidikan umum dan pendidikan agama serta materi bahasa Arab, dan Inggris menjadi warna khas pendidikan”.118

Selain itu, pembaharuan pemikiran pendidikan Islam yang diusung oleh para pendiri Pondok Modern Darussalam ini, di pengaruhi oleh berbagai pengalaman dan latar pendidikan yang mereka jalani. Para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor ini, selain merupakan para pemikir pembaharuan pendidikan Islam dan sekaligus sebagai pelaksana ide-ide yang lebih banyak dituangkan di pondok yang mereka asuh, yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor. Selain itu, mereka juga turut memberikan andil di tataran kebijakan-kebijakan pemerintahan, utamanya dalam bidang pendidikan. Dengan ini juga mereka melakukan pembaharuan-pembaharuan terhadap pendidikan Islam di Indonesia.

Adapun pemikiran pembaharuan yang mereka tawarkan adalah dalam konsep pendidikan Islam, yang meliputi tujuan pendidikan Islam, materi dan kurikulum pendidikan, metode pendidikan, serta manajemen kelembagaan pesantren.

1. Tujuan Pendidikan

Menurut penulis, sangatlah jelas bahwa para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor menghendaki agar santri-santri lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor tidak kalah dengan murid-murid

yang lulus belajar di sekolah-sekolah umum yang sudah maju. Selain memiliki pengetahuan dan wawasan dalam bidang agama, para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor ini juga menginginkan santri-santrinya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam bidang ilmu-ilmu umum. Sehingga mereka menuangkan segala keinginannya itu ke dalam pondok yang mereka asuh.

Hal ini sejalan dengan pendapat Azyumardi Azra yang berpandangan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan pondok yang memasukkan sejumlah mata pelajaran umum ke dalam kurikulumnya, juga mendorong para santrinya untuk mempelajari bahasa Inggris dan bahasa Arab dan melaksanakan sejumlah kegiatan ekstrakurikuler seperti olah raga, kesenian, dan sebagainya.119

Sebagai sebuah pesantren, tujuan pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor tidak berbeda dengan tujuan pesantren pada umumnya, yaitu mencetak ulama. Namun, ulama yang dimaksud oleh Pondok Modern Darussalam Gontor adalah ulama yang intelek, yaitu para ulama yang memiliki kepribadian muslim yang menjadi anggota masyarakat yang kehidupannya selaras dan seimbang dalam memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan akhirat. Dengan adanya Pondok Modern Darussalam Gontor yang dalam kurikulumnya memadukan antara pendidikan ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang, maka diharapkan nantinya dapat mencetak ulama-ulama yang memiliki kehidupan yang bahagia di dunia dan akherat. Hal ini sesuai dengan cita-cita setiap muslim sebagaimana doa yang paling mencakup dan selalu

119 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002, h. 100

dimohonkan kepada Allah, yang tertulis dalam kitab-Nya, dalam Surah Al-Baqarah: 201.

يإفَو ٗةَن َََسَح اَي ّدََل يإف اَََنإتاَء اَنّبَر ُلوُقَي نّم مُه إمَوۡن ٱ ۡن

إراّنل َباَذَع اَنإقَو ٗةَنَسَح إةَرإخٱ ٓأۡلٱ

Artinya: Dan di antara mereka ada yang berdo’a, “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan

lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)120

Selain itu, Pondok Modern Darussalam Gontor menekankan pada tujuan pendidikan yang diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik yang siap dan mampu hidup bermasyarakat, serta dapat bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya yang didasari dengan jiwa-jiwa ikhlas, kesederhanaan, mandiri, persaudaraan, serta bebas. Jiwa-jiwa ini terangkum dalam panca jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor yang juga merupakan dasar dalam setiap kegiatan dan kehidupan Pondok. Hal demikian ini tidak lain karena pengaruh hadits Nabi Muhammad SAW, “Khair al-nas anfa’uhum li al-nas” yang artinya adalah manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

2. Materi dan Kurikulum Pendidikan

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan sebuah pondok pesantren yang “memasukkan sejumlah mata pelajaran umum ke dalam kurikulumnya, juga mendorong para santrinya untuk mempelajari bahasa Inggris dan

bahasa Arab dan melaksanakan sejumlah kegiatan ekstrakurikuler seperti olah raga, kesenian, dan sebagainya”.121

Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa, selain mengajarkan kitab-kitab klasik atau kitab kuning seperti umumnya pesantren-pesantren tradisional, di pondok Modern Darussalam Gontor juga mengajarkan ilmu umum yang biasanya diajarkan disekolah-sekolah modern. Materi agama dan umum yang menjadi kurikulum wajib tersebut diberikan secara seimbang dan disesuaikan dengan tingkatan kelas masing-masing serta harus dikuasai oleh para santri. Selain itu ada kompetensi yang sangat ditekankan dan harus menjadi karakteristik Pondok Modern Darussalam Gontor , yaitu kompetensi bahasa Arab dan bahasa Inggris. Selain itu, di Pondok Modern Darussalam Gontor juga diberikan pendidikan kemasyarakatan, sosial, etika, dan pendidikan keterampilan yang terangkum dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler, dimana dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut para santri diberi kebebasan untuk memilih sesuai minat dan bakatnya.

Kemampuan dalam penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris serta berbagai pengetahuan tersebut tetap harus didasarkan pada asas dan konsep Panca Jiwa untuk mendukung tercapainya moralitas dan kepribadian mulia. “Seluruh kehidupan di Pondok Modern Darussalam Gontor didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai suasana-suasana yang terangkum dalam Panca Jiwa yaitu berupa jiwa keikhlasan, jiwa

kesederhanaan, jiwa berdikari, jiwa ukhuwwah diniyyah, dan jiwa bebas”.122

Pemikiran dari pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor yang tidak membeda-bedakan antara ilmu agama dan ilmu umum tersebut sesuai dengan ajaran Al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan yang tidak hanya terbatas pada ilmu agama saja, namun Al-Qur’an juga mengajak manusia untuk mempelajari ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu duniawi lainnya, karena ilmu-ilmu ini merupakan salah satu sarana yang kuat untuk membangun dan meningkatkan standar kehidupan bermasyarakat, baik sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan militer. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-Alaq yang merupakan ayat yang pertama kali turun, yang berbunyi “Iqra’” yang berarti bacalah. Allah menyuruh manusia untuk membaca apa saja selama bacaan tersebut menyebut nama Tuhan “bi-ismi Rabbika”, Allah tidak menentukan apa yang harus dibaca. Dengan demikian maka perintah membaca ini mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau dan dibaca.

Selain itu, Allah juga berfirman dalam surat Fathir ayat 27-28 berikut.

إهإب اَََن َر َأَف ٗءاَََم إءاَم ََّسل َنإم َلَزََنَأ َهّلل ّنَأ َرَت َلَأ

ۦ ۡج ۡخ ٱ ٱ ۡم

ُحَو يإب َدََُج إلاَََبإج َنإمَو َهُنَٰو َأ اًََفإلَت ّم َٰرَََمَث

ٞرۡۡۡم ٞض ُۢد ۡلٱ ۚا ۡل ۡخ ٖت

وُس ُبيإباَرَغَو اَهُنَٰو َأ ٌفإلَت ّم

ٞد ۡل ۡخ

.

ّباَوّدل َو إساّنل َنإمَوٱ ٱ

إم َهّلل ى َََش َي اَََمّنإإ إلَٰذَََك ُهُنَٰو َأ ٌفََإلَت ُم إمَٰع َأ َو

ۡن ٱ ۡخ َۗك ۥ ۡل ۡخ ۡن ۡلٱ

ٌروُفَغ ٌَزيإزَع َهّلل ّنإإ ُؤَٰٓمَلُع إهإداَبإعٱ ْۗا ۡلٱ

.

Artinya:

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) diantara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dari jenisnya). Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (QS. Fathir: 27-28)123

Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya ulama itu bukan hanya seseorang yang mengetahui ilmu agama saja, melainkan ulama yang mengerti dan ahli ilmu alam yang mengetahui rahasia tumbuh-tumbuhan, hewan, hujan, atmosfer, serta segala yang ada di alam ini. Allah membatasi bahwa yang mempunyai rasa takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Para ulama inilah yang menjelaskan kepada manusia tentang kebesaran dan keagungan Allah. Allah lah yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya, hanya Allah lah yang berhak disembah, tidak ada yang lainnya. Selain itu juga para ulamalah yang mengungkapkan kepada manusia tentang rahasia-rahasia yang berhubungan dengan ciptaan dan ketetapan-ketetapan Allah.

Hal ini sesuai dengan konsep pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor yang menekankan pentingnya pendidikan ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang. Serta tujuan pondok Modern

Darussalam Gontor yaitu menjadikan Ulama yang Intelek, yaitu ulama yang bukan hanya paham mengenai ilmu agama saja, tetapi juga ulama yang paham akan ilmu pengetahuan umum dan teknologi. Serta menjadikan manusia yang paling baik, yaitu manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain.

3. Metode dan Sistem Pendidikan Pesantren

Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan pondok pesantren yang di dalam sistem pendidikan dan pengajarannya mengintegrasikan sistem madrasah ke dalam pondok pesantren dengan segala jiwa, nilai dan atribut-atribut lainnya. Pengajaran di dalam Pondok Modern Darussalam Gontor memakai sistem klasikal ditambah dengan disiplin yang ketat dengan full asrama atau santri diwajibkan berdiam diasrama pesantren, proses pendidikannya berlangsung selama 24 jam. Sistem pendidikan klasikal dikembangkan secara terpimpin dan terorganisir dalam bentuk perjenjangan kelas dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.

Sistem pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor ini berbeda dengan sistem pendidikan di pondok-pondok tradisional. Pondok Modern Darussalam Gontor mengutamakan pendidikan mental dan pembentukan kepribadian serta penanaman ilmu pengetahuan Islam dan intelektual. Seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, sistem pengajaran yang di terapkan di Pondok Modern Darussalam Gontor menggunakan kurikulum yang memadukan pendidikan agama

dan umum secara seimbang. Selain bahasa Indonesia, Pengajaran ini juga disampaikan dengan menggunakan dua bahasa internasional, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris. Hal ini diharapkan agar Pondok Modern Darussalam Gontor mampu mengikuti dinamika kehidupan masyarakat nasional dan internasional.

Mengenai metode, para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor berpendapat bahwa metode itu lebih penting dari pada materi. Karena mereka memandang bahwa sehebat apapun kurikulum yang dirancang tidak akan menjamin keberhasilan suatu proses pendidikan tanpa adanya metode yang menunjang proses penyampaian materi pendidikan tersebut.

Mengingat bahwa pendidikan itu bukan hanya sekedar pengajaran, maka metode pendidikan itu lebih luas dari pada metode pengajaran. Karena Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan Pondok pesantren yang di dalam sistem pendidikan dan pengajarannya mengintegrasikan sistem madrasah ke dalam pondok pesantren dengan segala jiwa, nilai dan atribut-atribut lainnya. Sehingga metode yang digunakan dan diterapkan di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah metode keteladanan, penciptaan lingkungan, pengarahan, penugasan, penyadaran, dan pengajaran.

Selain itu, mereka juga beranggapan bahwa disamping materi dan metode pendidikan, ada hal yang lebih penting dari kedua hal ini, yaitu jiwa guru. Mereka memandang bahwa sehebat apapun materi dan metode

pendidikan, tetap saja jiwa guru itu jauh lebih penting dari pada materi dan metode tersebut. Karena materi dan metode itu di jalankan dan dilakukan oleh manusia, maka jiwa guru itu lebih penting, karena guru merupakan sosok figur yang menjadi teladan dalam pendidikan dan pembelajaran di pesantren.

Hal ini sesuai dengan pendapat A. Malik Fadjar dalam bukunya “ Holistika Pemikiran Pendidikan” yang menyatakan bahwa metode pendidikan itu lebih penting dari pada materi pelajaran, akan tetapi guru lebih penting dari pada metode, dan jiwa guru lebih penting dari pada guru itu sendiri, “Al-thariqah ahammu min al-maddah, wa lakin al- mudarris ahammu min al-thariiqah wa ruuh al-mudarrisi ahammu min al-mudarris”. 124

Dalam dokumen KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PENDIRI (Halaman 85-100)

Dokumen terkait