Secara Umum, metodologi didefinisikan sebagai proses, prinsip, dan prosedur untuk mendekati problem dan mencari jawaban. Dengan demikian, tak terelakkan lagi metodologi dipengaruhi oleh perspektif teoritis atau kerangka penjelasan/interpretasi yang digunakan oleh seorang peneliti yang memungkinkannya untuk memahami data dan menghubungkannya dengan peristiwa dan situasi lain.1
Untuk penelitian ini, saya menggunakan perspektif feminisme sebagai landasan teoritis metodologinya, atau biasa disebut sebagai metodologi feminis. Menurut Newman (1999) yang dikutip oleh Misiyah (2006), pendekatan penelitian feminis merupakan pendekatan ke-empat dari metodologi ilmu-ilmu sosial. Pendekatan ini merupakan hasil kajian-kajian kritis terhadap ketiga pendekatan sebelumnya yaitu pendekatan ilmu-ilmu sosial positivis, interpretatif
dan ilmu-ilmu sosial kritis. Menurut Ramazanoğlu dan Hollan (2002),
metodologi feminis dibedakan pada tingkat di mana teori-teori feminisme, etika, politik, dan pengalaman-pengalaman dari beragam perempuan yang
membentuknya. Namun demikian, dalam metodologi tersebut, para feminis selalu mempertimbangkan politik dan epistemologi yang tidak dapat dipisahkan.
Secara prosedur, Cook dan Fonow (1991) yang dikutip oleh Hidayat (2004) menemukan empat prosedur pokok yang dalam bentuk berbeda-beda dinyatakan secara berulang-ulang dalam metodologi feminis, yaitu: refleksitas, orientasi pada aksi, pertimbangan pada unsur afeksi, dan pemanfaatan situasi yang sedang berlangsung. Sejalan dengan empat prosedur tersebut, dalam prakteknya, Reinharz (1992) mengatakan bahwa peneliti feminis sering memulai tulisan mereka dengan ‘hubungan pribadi’ yang mereka miliki untuk topik penelitian.
Dalam konteks penelitian saya ini, ‘hubungan pribadi’ sebagaimana yang dijelaskan oleh Reinharz menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penelitian ini. Pengalaman saya berhubungan selama tiga tahun (2001 – 2004) dengan subjek penelitian ketika saya bekerja di RMI (ORNOP lokal yang bergerak pada isu lingkungan, tempat saya belajar dan bekerja selama ± 8 tahun, mulai dari akhir 1996 – pertengahan 2004) telah membangun sebuah pengalaman-pengalaman personal yang mendorong saya untuk mempelajari, memahami, dan menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat militansi perjuangan kaum perempuan Nyungcung untuk mempertahankan kehidupan mereka yang semakin terpinggirkan karena keberadaan PERUM PERHUTANI Unit III, Taman Nasional Gunung Halimun, PT. Nirmala Agung, dan PT. Aneka Tambang di desa mereka, Malasari. Lebih khusus lagi, saya tertarik untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak nampak dan tersembunyi dalam proses suatu kegiatan yang dimungkinkan karena adanya kesediaan kerjasama untuk berbagi pengalaman dengan saya dari sejumlah subjek penelitian yang selama ini tidak ‘terlihat’.
Selama saya berinteraksi dengan masyarakat dan perempuan di Desa Malasari tersebut, khususnya Kampung Nyungcung, saya dihadapkan pada mozaik ketidak-berdayaan petani di sana. Hal ini dapat diketahui dari, salah satunya, suara-suara perempuan Nyungcung yang merupakan ungkapan-ungkapan kemarahan dan keletihan sekaligus kekuatan mereka untuk memperjuangkan akses dan kontrol atas sumber kehidupan yang sejak rezim Orde Baru telah berpindah tangan ke tangan pengusaha dan negara sebagai berikut:
“Semakin hari, hidup terasa sulit! Ingin bersawah atau berkebun…, tapi kami tidak punya tanah. Ada pihak-pihak lain di desa ini, ternyata tidak dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil seperti kami. Bagaimana ini??? Apakah rakyat kecil itu memang harus dimatikan???” (Pernyataan Nenek Ml dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal …, bulan …, 2002)
“Suatu hari ketika saya sedang bekerja di ladang, orang dari Kahutanan
(sebutan lain dari masyarakat untuk PERUM PERHUTANI) mendatangi saya, dia memerintahkan saya untuk tidak lagi menanam di lahan ini karena ini lahan Kahutanan. Tapi saya tidak peduli, saya hanya menjawab…“terus saya musti menanam di mana lagi”..saya tidak punya lahan lain, kalau nggak ada lahan gimana saya bisa nanam untuk makan. Saat itu saya agak takut, tapi saya tidak berhenti menanam disini, sampai sekarang dia nggak pernah datang lagi..” (Pernyataan Ibu Ay dari Kampung Malasari. Didokumentasikan pada tanggal …, bulan …, 2002 )
“Selama ini, kami diharuskan untuk menyelesaikan sendiri semua persoalan. Ketika kami tidak mampu, ya sudah…. kami berusaha berlapang dada berada dalam persoalan tersebut” (Pernyataan Ibu El, dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal…., bulan…, 2004)
Kegelisahan kaum perempuan Nyungcung yang tergambarkan dari ungkapan-ungkapan di atas dikonfirmasi oleh hasil evalusi kegiatan penguatan kebun talun yang difasilitasi oleh RMI. Proses dan hasil evaluasi menunjukkan kaum perempuan atau para istri petani yang tergabung dalam program penguatan kebun talun tidak ada satupun yang mengetahui tentang kegiatan penguatan kebun talun yang diikuti oleh suami mereka. Kenyataan ini mengarahkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa suara kaum perempuan yang pada dasarnya aktif berpartisipasi dalam perjuangan kelompok petani tidak didengar. Padahal pandangan dan pendapat kaum perempuan ini sangatlah signifikan dalam mempertahankan sumber-sumber kehidupan mereka di kawasan konservasi sebagaimana tersiratkan dalam pandangan-pandangan mereka di bawah ini:
“Semua yang kami tanam, baik di sawah maupun di kebun garapan, tidak untuk dijual. Semuanya untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga saya. Terus terang, walaupun demikian, hasilnya tidak mencukupi kebutuhan makan kami (lima orang) selama setahun. Oleh karena itulah, saya sering ikut ngepak di sawah saudara atau tetangga sekitar di kampung ini” (Pernyataan Ibu An dari Kampung Malasari. Didokumentasikan pada tanggal …, bulan …, 2002)
“Kami tidak punya lahan, tapi saya ngelola lahan Kahutanan, di lahan itu saya tanam padi, talas, pisang, cabe, terong dan leuncak…hasil panen kemarin ada 50 gedeng…anak saya ada 5 orang jadi beras segitu tidak cukup untuk makan semusim panen, jadi saya harus ngepak dan jadi kuli ngoyos sehari bisa dapat Rp 5000,-, bapak juga jadi kuli nyangkul sehari dibayar 15.000,- tanpa makan siang, …mesti usaha keras…kalau nggak ..ya nggak bisa makan….” (Pernyataan Ibu Un dari Kampung Nyungcung. Didokumentasikan pada tanggal...., bulan...., 2002)
Proses interaksi yang cukup mendalam yang mempertemukan saya dengan kekuatan kaum perempuan Malasari untuk bertahan hidup ditengah-tengah ketertindasan telah membuahkan empati dan simpati saya untuk meneliti kehidupan dan perjuangan mereka. Empati dan simpati saya ini sebenarnya juga bermuara pada posisi saya sendiri sebagai seorang perempuan dengan latar belakang keluarga petani. Saya adalah cucu, keponakan dan saudara dari beberapa petani (peasant) perempuan dan laki-laki di Sumatera Selatan yang secara nyata menyaksikan betapa saudara-saudara saya ini semakin hari semakin tidak berdaya, terjauhkan dari akses pengetahuan, ketrampilan, sumber-sumber tenurial lokal, dan pelayanan publik yang seharusnya disediakan oleh pemerintah. Mereka hanya mampu menjadi petani-petani yang hanya bisa mempertahankan kehidupan minimalnya.2
Interaksi antara posisi saya sebagai anggota keluarga petani di Sumatera Selatan dan posisi saya sebagai bagian orang yang pernah dekat dengan sebagian dari perempuan Nyungcung melalui beberapa kegiatan fasilitasi oleh RMI menjadikan diri saya pada tingkat tertentu dapat dikatakan sebagai ‘orang dalam’. Mengacu pada pengalaman penelitian feminis (lihat Muchtar 1999; Wieringa 1999; Misiyah 2006), menjadi ‘orang dalam’ pada penelitian akan menjawab pandangan kecurigaan tentang kemungkinan adanya dominasi, keabsahan representasi peneliti dari subjek penelitian dan interpretasi data penelitian yang sering membayangi penelitian feminis kontemporer3 mengenai “Siapa yang berbicara tentang apa/siapa?” dalam arti, apakah seseorang berhak menulis mengenai suatu komunitas yang bukan merupakan bagian dari dirinya.4
Pemikiran Mies (1983) dalam Shiva dan Mies (1993), serta Saptari dan Holzner (1997) di bawah ini menjadi dasar argumentasi saya untuk menjelaskan posisi saya seperti di atas dalam melakukan penelitian:
• Bahwa penelitian itu bebas nilai, netralitas, dan sejajar terhadap objek penelitian, harus digantikan dengan keberpihakan yang sadar yang dilakukan melalui identifikasi pemihakan pada subjek penelitian.
Keberpihakan yang sadar berbeda dengan subjektifisme belaka atau empati sederhana, dan tidak hanya memahami bahwa subjek penelitian merupakan bagian dari dunia sosial yang lebih besar, tetapi juga peneliti itu sendiri. Dengan dasar identifikasi pemihakan tersebut, saya berupaya untuk menciptakan jarak yang kritis dan dialektis dengan subjek penelitian saya sehingga memungkinkan saya memunculkan suatu refleksi untuk memperluas kesadaran bersama, paling tidak untuk saya dan RMI, organisasi tempat saya belajar dan bekerja selama ini.
• Bahwa hubungan vertikal/hierarkhis antara peneliti dengan subjek penelitian yang membawa sudut pandang dari atas, harus diganti dengan sudut pandang dari bawah.
Sudut pandang dari bawah merupakan konsekuensi penting dari keberpihakan saya yang memerlukan pemahaman realitas dengan perspektif perempuan, para subjek penelitian. Terkait dengan sudut pandang dari bawah ini, analisis berdasarkan pengalaman perempuan tersebut memungkinkan para subjek penelitian mengklaim hak-haknya untuk memahami keadaan dan posisi diri mereka dari sudut pandang mereka sendiri, serta dapat dijadikan sebagai salah satu petunjuk signifikan bagi berkembang-tidaknya perjuangan mereka. Analisis seperti ini memiliki posisi titik tolak (stand point)5 yang sejalan dengan konsep posisi peneliti sebagai ‘orang dalam’ pada penelitiannya (lihat Kelley dan Mann 1997 yang dikutip oleh Hidayat 2004, bahwa “satu-satunya cara memahami dunia yang terkonstruksi secara sosial adalah dengan mengetahuinya dari dalam”).
2. Pendekatan dan Metode Penelitian