B. TUJUAN PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei 2007 sampai dengan bulan Agustus 2007. Tempat pelaksanaan penelitian adalah laboratorium Teknik Pengolahan dan Hasil Pertanian, laboratorium Mikrobiologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor; laboratorium Fitopatologi, Seameo Biotrop-Tajur; dan laboratorium AP4 (Agricultural Processing Pilot Plants) Fateta IPB.
B. Bahan dan Alat 1. Bahan
Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pepaya (Carica papaya L.) varietas IPB 3 dengan berat 450-600 gram, panjang 15.0 - 19.0 cm, dan diameter 7.0 – 8.5 cm dengan tingkat kematangan yang seragam. Buah pepaya diperoleh dari Pusat Penelitian Buah Tropika di Tajur, Bogor. Asap cair, air untuk perlakuan perendaman dan beberapa bahan kimia seperti NaCl, media agar (PDA dan PDB) serta alkohol untuk uji total cendawan.
2. Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain rheometer tipe CR-300 (untuk mengukur kekerasan), refraktometer model N-1 Atago (untuk mengukur total padatan terlarut), timbangan digital, lemari pendingin (refrigerator) serta beberapa peralatan tambahan seperti cawan petri, pipet, erlenmeyer, gelas ukur dll.
C. Prosedur Penelitian
Secara garis besar, penelitian terdiri dari tiga tahap yaitu: (1) Penelitian tahap I, uji aktifitas cendawan yang bertujuan untuk mengetahui efektifitas asap cair sebagai disinfektan dengan media agar, dan (2) Penelitian tahap II yaitu aplikasi asap cair sebagai disinfektan untuk mengatasi serangan penyakit antraknosa pada buah pepaya selama penyimpanan.
1. Uji aktivitas antimikroba asap cair
Uji aktivitas antimikroba asap cair terhadap cendawan penguji
Colletotrichum gloeosporiodes dilakukan menggunakan metode kontak dengan medium cair (modifikasi Parish dan Davidson 1993): kultur murni cendawan
Colletotrichum gloeosporioides dari agar miring PDA dirontokkan sporanya menggunakan jarum ose sambil dibilas dengan 10 ml akuades steril. Cendawan penguji selanjutnya diambil 0.05 ml dan dimasukkan ke dalam 50 ml media PDB steril secara aseptik, kemudian ditambahkan asap cair yang akan diuji dengan konsentrasi 0%, 1%, 3%, 5%, 7%, dan 10%, selanjutnya diinkubasi pada inkubator bergoyang agitasi 150 rpm pada suhu ruang selama 48 jam. Masa sel cendawan yang tumbuh setelah 48 jam dipisahkan secara penyaringan menggunakan kertas saring, kemudian dikeringkan dalam oven suhu 100oC sampai beratnya tetap. Bagan alir penelitian uji aktivitas antimikroba asap cair dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 1. Diagram alir penelitian uji aktivitas antimikroba asap cair. Perontokan
Pengenceran Kultur murni cendawan
Colletotrichum gloeosporioides
Perlakuan disinfektan:
1. Konsentrasi asap cair: 0%, 1%, 3%, 5%, 7%, dan 10%.
Inkubasi pada inkubator bergoyang agitasi 150 rpm pada suhu ruang selama 48 jam.
Penyaringan massa sel cendawan dan pengeringan dalam dalam oven suhu 100oC .
2. Penelitian pengaruh asap cair dan pelilinan terhadap mutu pepaya
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi asap cair dalam menghambat serangan penyakit antraknosa pada buah pepaya selama penyimpanan. Pengujian asap cair ini dilakukan dengan perlakuan perendaman dengan konsentrasi asap cair hasil uji aktivitas antimikroba asap cair (tiga konsentrasi, misal C1, C2, dan C3) selama 30 menit dan perlakuan pelilinan. Pelaksanaan penelitian ini secara rinci adalah sebagai berikut:
a. Buah pepaya yang telah masak, kemudian disortasi untuk mencari warna dan tingkat kematangan yang seragam (kematangan 25%) dicuci dengan air bersih dan dikering-anginkan sampai kering. Pepaya yang digunakan untuk setiap perlakuan yaitu 3 buah.
b. Sebelum diberi perlakuan, diambil 3 sampel buah pepaya untuk diukur total padatan terlarut dan kekerasannya pada hari ke-0. Selain itu buah pepaya sebelum perlakuan ditimbang untuk mengetahui berat awal.
c. Buah pepaya tersebut diberi perlakuan disinfektan dengan konsentrasi asap cair yang berbeda yaitu C1, C2, dan C3. Selain itu ada kontrol untuk mengetahui respon buah pepaya tanpa perlakuan. Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali.
d. Pepaya direndam dalam asap cair selama 30 menit sesuai dengan konsentrasi asap cair yang digunakan sebagai perlakuan.
e. Buah pepaya yang telah diberi perlakuan tersebut dikering-anginkan atau ditiriskan kemudian dipisahkan untuk mempermudah dalam pengamatan. f. Buah pepaya tersebut sebelum disimpan diberi perlakuan pelilinan 6% dan
tanpa pelilinan, bertujuan untuk dilihat pengaruhnya selama penyimpanan berlangsung.
g. Kemudian pepaya tersebut disimpan pada suhu 100C. Setelah itu dilakukan pengukuran dan pengamatan mutu buah pepaya setiap 4 hari sekali selama 20 hari. Pengamatan yang dilakukan adalah susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut, total mikroba, pengamatan serangan penyakit secara visual, uji organoleptik.
Gambar 2. Diagram alir penelitian pengaruh asap cair dan pelilinan terhadap mutu pepaya
Sortasi
Penimbangan Buah pepaya
Perlakuan disinfektan: 2. Konsentrasi distilat asap: C1, C2, C3 3. Lama perendaman: 30 menit 4. Kontrol
Penirisan
Penyimpanan (pada suhu 10oC)
Pengamatan mutu (4 hari sekali) : 1. Susut bobot
2. Kekerasan
3. Total Padatan Terlarut 4. Total Cendawan
5. Pengamatan serangan penyakit secara visual 6. Uji Organoleptik
Perlakuan pra penyimpanan: 1. pelilinan
D. Pengamatan 1. Susut bobot
Pengukuran susut bobot dilakukan dengan menggunakan timbangan digital. Pengukuran susut bobot dilakukan berdasarkan presentase penurunan bobot bahan sejak awal penyimpanan (W) sampai akhir penyimpanan (Wa) dan dinyatakan dalam persen.
Untuk mengukur susut bobot digunakan rumus sebagai berikut : Susut bobot (%) = x100%
W Wa W−
Dimana :
W = Bobot bahan awal penyimpanan (gram) Wa = Bobot bahan akhir penyimpanan (gram) 2. Kekerasan
Kekerasan adalah komponen kualitas dan merupakan indeks kematangan pada buah-buahan dan sayuran segar. Uji kekerasan diukur berdasarkan tingkat ketahanan buah terhadap jarum penusuk dari rheometer dengan model CR-300. Pengujian dilakukan pada bagian pangkal, tengah dan ujung buah. Selama pengujian buah dipegang dengan tangan agar buah tidak bergeser.
3. Total Padatan Terlarut
Pengukuran total padatan terlarut dilakukan dengan menggunakan refraktometer model N-1 Atago dalam satuan oBrix. Pengukuran total padatan dilakukan dengan sampel yang diambil secara acak dengan tiga kali ulangan dan diukur kadar gulanya selama masa penyimpanan.
4. Total cendawan
Total cendawan merupakan total koloni cendawan setelah masa inkubasi. Pembuatan media agar dengan pencampuran 39g media agar (PDA) ke dalam satu liter aquades. Larutan yang terbentuk dipanaskan sambil diaduk sampai mendidih semua agar terlarut. Sedangkan pembuatan larutan pengencer dilakukan dengan pencampuran 8.5 NaCl ke dalam 1000 ml aquades. Sterilisasi dilakukan terhadap larutan agar, larutan pengencer dan alat lainnya yang akan digunakan seperti
cawan petri, pipet, gelas ukur dll, dalam autoklaf selama 60 menit. Larutan agar disimpan dalam pemanas air bersuhu 45oC agar tetap steril dan tidak membeku.
Selanjutnya pembuatan sampel dengan menghancurkan pepaya yang akan diuji dengan blender kemudian 50 ml cairan pepaya tersebut dicampur bersama larutan pengencer sebanyak 500 ml sampai larutan menjadi homogen. Pengenceran dilakukan dengan mengambil 1 ml larutan sampel yang sudah homogen dengan pipet steril sehingga terbentuk pengenceran 0.1 kemudian larutan dikocok sampai homogen. Pengenceran dilakukan menurut kebutuhan penelitian. Pemipetan dilakukan dari masing-masing tabung pengenceran sebanyak 1 ml larutan sampel dan dipindahkan ke dalam cawan petri steril dengan menggunakan pipet steril. Media agar (PDA) ditambahkan ke dalam setiap cawan petri sebanyak 20 ml dan digoyangkan sampai merata. Digunakan 5 cawan petri untuk perlakuan pemberian asap cair dengan konsentrasi 1%, 5%, 10 % dan tanpa perlakuan sebagai kontrol. Cawan petri diinkubasi dengan posisi terbalik dalam inkubator bersuhu 30oC selama seminggu. Kemudian dilakukan pengamatan pertumbuhan cendawan pada setiap cawan petri.
5. Pengamatan serangan penyakit secara visual
Serangan penyakit pascapanen pada pepaya secara visual dapat diketahui dengan mengamati timbulnya bercak-bercak hitam pada kulit buah. Pengamatan dilakukan tiap 4 hari selama 20 hari.
6. Uji Organoleptik.
Uji organoleptik terhadap rasa, tekstur, aroma, warna kulit, dan daging buah, yang dilakukan empat hari sekali menggunakan uji hedonik (kesukaan) dengan skor 1-5. Kriteria penilaiannya adalah (1) sangat tidak suka, (2) tidak suka, (3) biasa, (4) suka, (5) sangat suka. Pengujian dilakukan pada 10 orang panelis, jika skala skor penerimaan konsumen kurang dari 2.5 maka pepaya ditolak.
E. Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dengan model linier aditif. Pada penelitian pendahuluan (tahap I) rancangan percobaannya terdiri dari satu faktor yaitu konsentrasi asap
Yijk = µ + αi +εij
Dalam hal ini : Yijk = hasil pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = nilai rataan umum
αi = pengaruh faktor konsentrasi asap cair pada taraf ke-i εij = galat percobaan perlakuan ke-i ulangan ke-j
Sedangkan untuk penelitian utama (tahap II) rancangan percobaannya menggunakan dua faktor yaitu konsentrasi asap cair dan perlakuan pelilinan dan tanpa pelilinan.. Perlakuan yang pertama adalah penambahan asap cair dengan tiga taraf konsentrasi yakni C1, C2, dan C3. Sedangkan perlakuan kedua adalah dengan pelilinan dan tanpa pelilinan. Setiap perlakuan diulang tiga kali.
Model matematikanya adalah sebagai berikut:
Yijk = µ + αi + bj + (ab)ij +εijk
Dalam hal ini : Yijk = hasil pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = nilai rataan umum
αi = pengaruh faktor konsentrasi asap cair pada taraf ke-i
bj = pengaruh faktor pelilinan dan tanpa pelilinan pada taraf ke-j
(ab)ij = interaksi antara pengaruh faktor konsentrasi asap cair pada taraf ke-i dengan faktor pelilinan dan tanpa
pelilinan pada taraf ke-j
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Uji aktivitas antimikroba asap cair
Uji aktivitas antimikroba asap cair terhadap cendawan penguji
Colletotrichum gloeosporioides dilakukan menggunakan metode kontak dengan medium cair (modifikasi Parish dan Davidson 1993). Hasil uji aktivitas antimikroba asap cair terhadap cendawan Colletotrichum gloeosporioides
memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi asap cair maka pertumbuhan cendawan semakin terhambat (Gambar 3). Konsentrasi yang dicobakan adalah kontrol, 1%, 3%, 5%, 7%, dan 10%. Gambar 3 memperlihatkan bahwa setelah kontak selama 48 jam, asap cair konsentrasi 1% telah menghambat pertumbuhan cendawan yang diujikan. Pada medium cair konsentrasi 1% terlihat bahwa tidak ada spora dan miselium cendawan yang tumbuh, sehingga pengeringan miselium dalam oven dan penimbangan tidak perlu dilakukan. Senyawa karbonil dalam asap cair menyebabkan medium cair berwarna coklat pekat. Semakin tinggi konsentrasi asap cair menyebabkan semakin pekatnya warna medium cair.
Gambar 3. Aktivitas penghambatan asap cair terhadap
Colletotrichum gloeosporioides.
Dengan metode kontak medium cair, asap cair memberikan pengaruh nyata dalam menghambat pertumbuhan cendawan karena cendawan langsung kontak dengan asap cair. Kandungan senyawa asam, fenol, dan karbonil yang terdapat dalam asap cair memberikan pengaruh yang sangat kuat dalam menghambat pertumbuhan cendawan Colletotrichum gloeosporioides, karena
senyawa-senyawa tersebut mempunyai sifat sebagai antimikroba dan anti oksidan (Pszczola, 1995).
Dari hasil penelitian ini diambil tiga konsentrasi asap cair yang memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan cendawan Colletotrichum gloeosporioides untuk digunakan sebagai disiinfektan dalam penanganan pascapanen pepaya. Konsentrasi asap cair yang diambil adalah 1%, 5% dan 10%.
B. Pengaruh Konsentrasi Asap Cair Dan Pelilinan Terhadap Mutu Pepaya
Kerusakan produk hortikultura terjadi pada tahap prapanen, panen dan pascapanen. Kerusakan pada tahap pascapanen dapat terjadi karena beberapa hal antara lain kerusakan fisik, kerusakan kimiawi, kerusakan biokimia karena terjadi reaksi dalam bahan yang masih hidup, kerusakan karena jasad renik yang dapat menyebabkan mutu buah menjadi turun. Kerusakan-kerusakan tersebut berlangsung selama penyimpanan karena produk hortikultura mengalami proses metabolisme.
Dalam proses metabolisme, produk akan mengalami berbagai perubahan fisik dan kimia yang mempengaruhi kualitas buah. Menurut Broto et al. (1991) sifat-sifat fisik buah pepaya meliputi panjang buah, lingkar buah, bobot buah utuh, persentase kulit, persentase biji, tebal kulit, tebal daging, dan warna buah. Santoso dan Purwoko (1995) menyatakan bahwa perubahan-perubahan kimia yang terjadi diantaranya adalah kandungan Total Padatan Terlarut (TPT), vitamin C, kemasakan buah, tingkat kelunakan, bobot buah, rasa serta perubahan warna kulit dan daging buah. Sedangkan menurut Pantastico (1986) selama pematangan, buah mengalami beberapa perubahan nyata dalam warna, tekstur, bobot, dan bau yang menunjukkan bahwa terjadi perubahan-perubahan dalam susunannya.
Salah satu alternatif untuk menahan laju penurunan mutu dalam pascapanen buah-buahan adalah dengan penggunaan asap cair. Asap cair mengandung berbagai senyawa yang dapat dikelompokkan ke dalam fenol, asam dan karbonil. Senyawa tersebut mampu bertindak sebagai antimikroba, antioksidan, pemberi flavor, dan pembentuk warna (Tilgner, 1978; Pszczla, 1995
di dalam Yuwanti, 2005). Karena asap cair mampu bertindak sebagai antimikroba dan antioksidan maka asap cair dapat berperan sebagai pengawet. Selain itu asap
cair dapat digolongkan sebagai pengawet alami (Maga, 1988). Menurut Yuwanti (2005) asap cair sebagai antimikroba dapat memperpanjang masa simpan produk dengan mencegah kerusakan akibat aktivitas mikroba perusak dan pembusuk, dan juga dapat melindungi konsumen dari penyakit karena aktivitas mikroba patogen. Senyawa yang mendukung sifat antimikroba dan antioksidan dalam asap cair adalah fenol dan asam.
Perlakuan perbedaan konsentrasi asap cair dan pelilinan terhadap buah pepaya dilakukan untuk menghambat serangan penyakit antraknosa pada buah pepaya selama penyimpanan sehingga dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpan buah pepaya. Analisis parameter mutu pepaya hasil perlakuan perbedaan konsentrasi asap cair dan pelilinan adalah terhadap susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut, total cendawan, pengamatan hama secara visual. Susut bobot dan total kapang dipilih berdasarkan nilai rata-rata terendah, sedangkan kekerasan dipilih berdasarkan nilai rata-rata tertinggi.
1. Susut Bobot
Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengidentifikasi mutu buah pepaya. Susut bobot sebagian besar terjadi karena transpirasi dan respirasi yang menyebabkan hilangnya cadangan makanan dan kadar air buah. Kehilangan substrat dan air itu tidak dapat digantikan sehingga kerusakan buah mulai terjadi (Santoso dan Purwoko, 1995). Transpirasi pada buah dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban dalam ruang simpan buah (Kartosapoetra, 1989). Menurut Kader (1992) susut bobot terjadi selama proses penyimpanan menuju pematangan, yaitu terjadi perubahan fisiokimia berupa penyerapan dan pelepasan air ke lingkungan. Kehilangan air ini berpengaruh langsung terhadap kerusakan tekstur, kandungan gizi, kelayuan, dan pengerutan.
Pengamatan susut bobot dilakukan setiap 4 hari sekali selama 20 hari (Lampiran 1). Nilai susut bobot diukur pada akhir penyimpanan yaitu pada hari ke-20. Dari hasil pengamatan menunjukkan selama penyimpanan bobot buah mengalami penurunan untuk semua perlakuan. Hal ini disebabkan karena terurainya glukosa menjadi CO2 dan air selama proses respirasi. Berkurangnya kandungan air menimbulkan perubahan pada produk yang disimpan, yaitu
bobot buah pepaya ini dapat juga disebabkan oleh degradasi zat-zat yang terdapat pada pepaya oleh mikroba yang menyerang pepaya tersebut.
Nilai susut bobot tertinggi terjadi pada perlakuan kontrol tanpa pelilinan yaitu sebesar 6.87%. Sedangkan nilai susut bobot terendah terjadi pada perlakuan asap cair dengan konsentrasi 1% dengan pelilinan yaitu sebesar 3.37%. Nilai susut bobot pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Gambar 4. Susut bobot pada semua perlakuan tanpa pelilinan mempunyai nilai yang tinggi, hal ini disebabkan karena proses transpirasi dan respirasi lebih besar sehingga menyebabkan berkurangnya kandungan air pada buah. Adanya bekas luka dan goresan-goresan kecil dapat mempercepat proses transpirasi dan respirasi. Susut bobot yang rendah disebabkan adanya lapisan lilin yang menutupi stomata, bekas luka, dan goresan-goresan kecil yang dapat mempercepat proses transpirasi dan respirasi.
Gambar 4. Susut bobot pepaya selama penyimpanan pada suhu 10° C (hari ke-20).
Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 2), diketahui bahwa perlakuan pelilinan pada semua hari pengamatan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap susut bobot. Hal ini disebabkan karena lapisan lilin pada kulit buah yang dapat menghambat proses respirasi dan transpirasi. Demikian juga perlakuan penambahan konsentrasi asap cair dan interaksi antara konsentrasi asap cair dengan pelilinan memberikan pengaruh yang nyata terhadap susut bobot. Berdasarkan uji lanjut Duncan, pada semua hari pengamatan menunjukkan perlakuan konsentrasi asap cair 1% berbeda nyata terhadap kontrol dan perlakuan yang lainnya. Peningkatan konsentrasi asap cair tidak disertai dengan peningkatan
0 1 2 3 4 5 6 7 8 KONT ROL 1% 5% 10%
Konsentrasi asap cair
Su su t bo bo t (g r a m )
efektivitas dalam menahan laju peningkatan susut bobot. Hal ini terjadi kemungkinan besar karena dengan pemberian konsentrasi yang tidak tepat pada pepaya dapat merusak atau memecah struktur dalam sel buah sehingga menyebabkan peningkatan susut bobot. Perlakuan terbaik dalam menahan laju susut bobot adalah penambahan asap cair konsentrasi 1% yaitu 4.0267% (uji duncan susut bobot hari ke-20).
Dalam penelitian ini, nilai susut bobot cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya umur penyimpanan buah. Dari keseluruhan pengamatan terhadap susut bobot menunjukkan bahwa pemberian perlakuan konsentrasi asap cair sebesar 1% dengan pelilinan mempunyai hasil yang optimum.
2. Kekerasan
Penundaan penurunan kekerasan atau penundaan pelunakan adalah salah satu indikator untuk memperpanjang umur simpan pepaya. Pelunakan terjadi pada tahap klimakterik, umumnya akibat pemecahan dinding sel dan pelarutan pektin. Pektin secara umum terdapat di dalam dinding sel primer tanaman khususnya di sela-sela selulosa dan hemi selulosa. Senyawa pektin juga berfungsi sebagai bahan perekat antara dinding sel yang satu dengan yang lain. Protopektin merupakan istilah untuk senyawa-senyawa pektin yang tidak larut, yang banyak terdapat pada jenis tanaman muda (Winarno, 1997). Enzim-enzim pembentuk pektin pada lamella tengah yaitu Pektin Methyl Esterase (PME) dan Polygalakturonase (PG) meningkat aktivitasnya pada waktu buah mengalami pemasakan. Aktivitas enzim tersebut mengakibatkan pemecahan pektin menjadi senyawa-senyawa lain (Kartasapoetra, 1989). Proses pemasakan dapat menambah jumlah zat-zat pektin yang dapat larut dalam air dan mengurangi bagian yang tidak terlarut sehingga mengakibatkan sel mudah terpisah-pisah. Hal ini dapat mengakibatkan buah menjadi lunak (Pantastico, 1986).
Pengukuran kekerasan dimulai hari ke-0, selanjutnya dilakukan 4 hari sekali selama 20 hari. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan Rheometer tipe CR-300. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Lampiran 3. Dari hasil pengukuran dapat diketahui kekerasan pada semua perlakuan mempunyai kecenderungan menurun. Menurunnya kekerasan terjadi karena degradasi pektin
bebas dan methanol serta enzim poligalakturonase. Pengurangan ketegangan juga berhubungan dengan pembentukan pektin yang larut dalam air. Proses respirasi membutuhkan air yang diambil dari sel sehingga menyebabkan terjadinya pengurangan air pada sel yang membuat sel kehilangan kekerasannya. Semakin cepat laju respirasi, maka semakin cepat pula penurunan kekerasannya.
Pada hari ke-0 (sebelum disimpan), rata-rata nilai kekerasan pepaya pada perlakuan tanpa pelilinan antara lain, pada perlakuan asap cair dengan konsentrasi 1% sebesar 3.63 kgf, konsentrasi 5% sebesar 3.59 kgf, konsentrasi 10% sebesar 3.55 kgf, dan pada kontrol sebesar 4.12 kgf. Sedangkan rata-rata nilai kekerasan pada perlakuan dengan pelilinan antara lain pada perlakuan asap cair konsentrasi 1% sebesar 3.83 kgf, konsentrasi 5% sebesar 3.59 kgf, konsentrasi 10% sebesar 3.65 kgf, dan pada kontrol sebesar 3.46 kgf. Rata-rata pada pengamatan hari ke-0 sebesar 3.68 kgf. Pada pengamatan hari ke-0 nilai kekerasan pada masing-masing perlakuan dan kontrol tidak begitu berbeda karena pepaya masih segar (sebelum disimpan) dan belum banyak mengalami proses respirasi sehingga kekerasan pada masing-masing perlakuan baik pada pelilinan dan tanpa pelilinan hampir sama.
Pada hari ke-4, rata-rata nilai kekerasan pepaya pada perlakuan tanpa pelilinan antara lain, pada perlakuan asap cair konsentrasi 1% sebesar 3.31 kgf, konsentrasi 5% sebesar 3.30 kgf, konsentrasi 10% sebesar 3.25 kgf, dan pada kontrol sebesar 3.07 kgf. Sedangkan rata-rata nilai kekerasan pada perlakuan dengan pelilinan antara lain pada konsentrasi 1% sebesar 3.52 kgf, konsentrasi 5% sebesar 3.59 kgf, konsentrasi 10% sebesar 3.31 kgf, dan pada kontrol sebesar 3.28 kgf. Rata-rata pada pengamatan hari ke-4 sebesar 3.32 kgf (Gambar 11). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui perlakuan sudah mulai berpengaruh nyata terhadap kekerasan pepaya pada hari ke-4. Perlakuan konsentrasi asap cair, perlakuan pelilinan dan interaksi konsentrasi asap cair dengan pelilinan berpengaruh nyata terhadap kekerasan buah. Menurut uji lanjut Duncan, asap cair dengan konsentrasi 1% tidak berbeda nyata terhadap asap cair dengan konsentrasi 5% dan konsentrasi 10% tetapi berbeda nyata terhadap kontrol.
Gambar 5. Nilai kekerasan pepaya hari ke-4
Dari Gambar 5 dapat diketahui bahwa pepaya kontrol sudah mulai melunak dan mempunyai nilai kekerasan yang paling rendah daripada perlakuan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan konsentrasi asap cair ternyata dapat mempertahankan nilai kekerasan pada buah, dengan kata lain asap cair berfungsi sebagai pengawet. Pepaya dengan perlakuan asap cair konsentrasi 1% dengan pelilinan mempunyai nilai kekerasan tertinggi, dilanjutkan oleh perlakuan asap cair konsentrasi 5% dengan pelilinan kemudian perlakuan asap cair konsentrasi 10% dengan pelilinan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi asap cair, nilai kekerasan tidak akan semakin tinggi.
Pada hari ke-8 rata-rata nilai kekerasan pepaya pada perlakuan tanpa pelilinan antara lain, perlakuan asap cair pada konsentrasi 1% sebesar 3.10 kgf, konsentrasi 5% sebesar 2.71 kgf, konsentrasi 10% sebesar 2.69 kgf, dan pada kontrol sebesar 2.52 kgf. Sedangkan rata-rata nilai kekerasan pada perlakuan dengan pelilinan antara lain pada perlakuan asap cair dengan konsentrasi 1% sebesar 3.42 kgf, konsentrasi 5% sebesar 2.94 kgf, konsentrasi 10% sebesar 2.91 kgf, dan pada kontrol sebesar 2.75 kgf. Rata-rata pada pengamatan hari ke-8 sebesar 2.88 kgf. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan konsentrasi, perlakuan pelilinan dan interaksi konsentrasi asap cair dengan pelilinan berpengaruh nyata terhadap kekerasan pepaya. Pada uji lanjut
2.80 2.90 3.00 3.10 3.20 3.30 3.40 3.50 3.60 Kontrol 1% 5% 10%
Konsentrasi asap cair
K ek era sa n ( k g f)
Duncan, perlakuan asap cair dengan konsentrasi 1% berbeda nyata terhadap kontrol dan perlakuan konsentrasi asap cair yang lainnya. Perlakuan asap cair dengan konsentrasi 5%, konsentrasi 10% dan kontrol tidak berbeda nyata.
Pada hari ke-12, rata-rata nilai kekerasan pepaya pada perlakuan tanpa pelilinan antara lain, pada perlakuan asap cair dengan konsentrasi 1% sebesar 2.37 kgf, konsentrasi 5% sebesar 2.33 kgf, konsentrasi 10% sebesar 1.74 kgf, dan pada kontrol sebesar 1.39 kgf. Sedangkan rata-rata nilai kekerasan pepaya pada perlakuan dengan pelilinan antara lain pada konsentrasi 1% sebesar 3.03 kgf,