• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

3. METODOLOGI 1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Bagian Patologi Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor dari bulan Juli 2008 sampai dengan bulan Februari 2009. Pemeliharaan ayam pada saat pemberian perlakuan dilaksanakan di laboratorium UP3H Fakultas Kedokteran IPB dari bulan Juli 2008 sampai dengan Agustus 2008.

3.2. Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Ayam broiler DOC sebanyak 40 ekor.

2. Ekstrak adas 10%, ekstrak temu ireng 10%, ekstrak sirih merah 10% dan ekstrak sambiloto 10% (untuk perlakuan single)

3. Ekstrak adas 2.5%, ekstrak temu ireng 2.5%, ekstrak sirih merah 2.5% dan ekstrak sambiloto 2.5% (untuk perlakuan dengan kombinasi 4 jenis tanaman obat sehingga diperoleh konsentrasi total 10%).

4. Ekstrak adas 3.33%, ekstrak temu ireng 3.33%, ekstrak sirih merah 3.33% dan ekstrak sambiloto 3.33% (untuk perlakuan dengan kombinasi 3 jenis tanaman obat sehingga diperoleh konsentrasi total 10%).

5. Spoit 1ml untuk mencekok ayam.

6. Pengambilan sampel dan pengawetan jaringan: pisau, silet, scalpel, pinset anatomis dan sirurgis, gunting besar, gunting kecil tali label, wadah plastik, alkohol 70%, larutan fiksatif Buffered Neutral Formalin (BNF 10%)

7. Proses pembuatan sediaan histopatologi: Alkohol 70%, 80%, 90%, 95% dan absolut, xylol, parafin, inkubator, cetakan parafin dan mikrotom. 8. Pewarnaan: Wadah dari gelas untuk tempat pewarnaan (staining jar),

Mayer Hemaktosilin Eosin, alkohol absolute, alkohol 70%, 80%, 90%, 95%, aquadestilata, Xylol.

3.3. Metode kerja

3.3.1. Pembuatan kandang

Kandang ayam dibuat sesuai dengan rancangan percobaan yang akan diterapkan yang berjumlah 10 petak untuk masing-masing kelompok perlakuan. Masing-masing petak kandang diberi label sesuai dengan ekstrak tanaman obat perlakuan yang akan diberikan (1-10). Kandang dipergunakan selama pemberian ekstrak tanaman obat pada ayam.

3.3.2. Persiapan ekstrak tanaman obat terstandar:

a. Budidaya

Persiapan bahan baku dimulai dari panen bahan baku sampai proses pasca panen. Bahan baku tanaman dipanen dari koleksi plasma nutfah tanaman obat di kebun lingkup Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Bogor. Sambiloto dipanen dari kebun koleksi plasma nufah di Kebun Percobaan (KP) Cimanggu, pada ketinggian 240 meter di atas permukaan laut (dpl). Temu ireng dan sirih merah dari KP. Cicurug, pada ketinggian 550 meter dpl dan adas dari KP. Manoko Lembang, pada ketinggian 1200 meter dpl.

Penanaman telah dilakukan pada bulan Desember 2006 dan pemeliharaan tanaman mengikuti Standard Operational Procedure (SOP) budidaya tanaman untuk menghasilkan potensi genetik yang optimal. Cara panen dilakukan sesuai dengan jenis tanaman. Pada temu ireng pemanenan dilakukan dengan cara membongkar seluruh rimpangnya, menggunakan garpu dan cangkul kemudian tanah yang menempel dibersihkan. Sirih merah dan sambiloto dipanen dengan cara membandingkan beberapa stadia kematangan daun yaitu dengan cara membandingkan daun tua, setengah tua dan muda. Pada adas akan dipanen beberapa stadia kematangan buah. Parameter yang diamati adalah mutu (proksimat) dari tiap bagian tanaman yang akan dipanen. Selanjutnya akan dilakukan analisis kimia.

b. Pasca panen

Kegiatan pasca panen dilakukan di laboratorium hasil Balitro mulai bulan Juni tahun 2007. bahan yang digunakan untuk ekstraksi adalah methanol, etanol,

aseton dingin, etil asetat, kloroform, aquadestilata, asetat, hidrat, H2SO4. Untuk pemisahan dilakukan teknik Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

c. Ekstraksi

Proses pembuatan simplisia dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu sortasi, pencucian, pengeringan, penggilingan, dan ekstraksi, serta pengujian komponen fitokimia. Bahan dikeringkan pada suhu tidak lebih dari 45ºC, sampai kadar air ± 10%, kemudian digiling dengan ukuran 60 mesh. Ekstraksi dilakukan secara bertingkat untuk memisahkan fraksi polar, semi polar dan non polar.

3.3.3. Pemeliharaan Ayam dan Kelompok Perlakuan

Ayam broiler DOC yang berjumlah 40 ekor unisex dibagi menjadi 10 kelompok dan dimasukkan ke dalam petak-petak kandang yang sudah disediakan. Ayam tersebut diberi makan dan minum ad libitum. Pakan yang diberikan adalah pakan komersial. Pada minggu pertama ayam belum diberikan perlakuan, hal ini dilakukan agar ayam dapat beradaptasi dengan lingkungan selain itu pada minggu pertama juga diberikan vaksin New Castle Disease (ND). Selama minggu pertama pemeliharaan tiap petak kandang disediakan sebuah lampu pijar untuk menjaga suhu kandang agar tetap hangat.

Gambar 7 Pemeliharaan DOC

Kode kandang diberikan untuk menandakan jenis perlakuan yang akan diberikan. Kandang diberi kode dengan menggunakan angka 1-10, selain itu untuk membedakan masing-masing ayam dalam satu kelompok perlakuan maka di

pergelangan kaki ayam dipasang gelang plastik modifikasi untuk mempermudah identifikasi. Warna gelang untuk tiap perlakuan berbeda.

Tabel 1. Jenis Perlakuan

Perlakuan (P) Perlakuan 1 Adas 2 Temu ireng 3 Sirih merah 4 Sambiloto 5

Adas + temu ireng + sirih merah + sambiloto 6

Adas + temu ireng + sirih merah 7

Adas + temu ireng + sambiloto 8

Temu ireng + sirih merah + sambiloto 9

Adas + sirih merah + sambiloto 10

Kontrol (aquadestilata)

Pencekokan dilakukan satu kali dalam sehari pada pagi hari dengan menggunakan spoit 1 ml. Ayam kontrol diberikan cekokan aquadest agar memiliki tingkat stres yang sama dengan kelompok perlakuan lainnya. Pengukuran bobot ayam dilakukan setiap pagi setelah ayam diberi cekokan ekstrak tanaman obat, data tersebut dicatat hari perhari sehingga dapat diamati pertambahan bobot badan dari masing-masing ayam di tiap kelompok perlakuan. Ayam dipelihara dan diberikan perlakuan sampai berumur empat minggu.

3.4. Tahap pembuatan preparat histopatologi

Setelah ayam berumur empat minggu dilakukan pemanenan dan siap untuk menuju ke tahap selanjutnya. Dua ekor ayam dari masing-masing kelompok dinekropsi, kemudian sampel hati diambil. Setiap sampel organ diiris setebal ± 0,5

cm. Organ tersebut kemudian dimasukkan kedalam tissue cassette. Kemudian cassette dimasukkan ke dalam wadah khusus, lalu diproses dalam automatic tissue processor. Di dalam alat tersebut secara otomatis jaringan akan mengalami dehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat (alkohol 70%, 80%, absolut). Setelah itu jaringan dimasukkan ke dalam xylol untuk melarutkan alkohol yang terdapat dalam jaringan, untuk selanjutnya diinfiltrasi oleh paraffin.

Proses pembuatan preparat selanjutnya adalah embedding, yaitu suatu proses penanaman jaringan ke dalam blok paraffin. Setelah itu disimpan dalam refrigerator 4-6ºC. Setiap blok paraffin yang berisi jaringan dipotong dengan menggunakan mikrotom dengan tebal irisan 3μm. Potongan jaringan tersebut diletakkan di atas permukaan air hangat agar jaringan tidak berkerut, selanjutnya jaringan diletakkan di atas gelas obyek untuk diinkubasi selama ± 24 jam agar jaringan benar-benar melekat.

Keesokan harinya dilakukan proses pewarnaan. Pewarnaan yang dilakukan adalah Hematoxylin-Eosin. Tahapan-tahapan untuk melakukan pewarnaan ini yaitu:

1. Deparafinisasi :

- perendaman gelas obyek dalam xylol I selama 2 menit. - perendaman dalam xylol II selama 2 menit.

2. Dehidrasi :

- perendaman dalam alkohol absolut selama 2 menit. - perendaman dalam alkohol 95% selama 2 menit. - perendaman dalam alkohol 80% selama 2 menit. 3. Pembilasan dengan air mengalir.

4. Pewarnaan : perendaman dalam Mayer’s Hematoxyllin selama 8 menit. 5. Pembilasan dengan air mengalir.

6. Perendaman dalam lithium carbonat selama 15-30 detik. 7. Pembilasan dengan air mengalir.

8. Pewarnaan : perendaman dalam Eosin selama 2-3 menit. 9. Pembilasan dengan air mengalir.

10. Dehidrasi :

- pencelupan dengan alkohol 95% sebanyak 10 kali - pencelupan dengan alkohol absolut I sebanyak 10 kali - pencelupan dengan alkohol absolut II selama 2 menit

11. Deparafinisasi :

- perendaman gelas obyek dalam xylol I selama 2 menit. - perendaman dalam xylol II selama 2 menit.

Setelah proses pewarnaan selesai preparat direkatkan dengan cover glass dengan menggunakan Permount®, lalu diberi label.

3.5. Parameter Pengamatan Histopatologi dan Evaluasi Data

Pengamatan dilakukan untuk mengetahui tingkat perubahan komponen- komponen penyusun organ hati bila dibandingkan dengan sampel kontrol. Evaluasi histopat menggunakan metode scoring. Setiap sampel organ diamati sebanyak sepuluh lapang pandang, dari setiap lapang pandang akan diberikan skor tergantung seberapa besar perubahan yang terjadi. Skor yang diberikan terdapat pada rentang 0-3, kriteria untuk masing-masing skor tersebut yaitu:

- skor 0 : sel parenkim hati (sel Hepatosit) tersusun radial, vena centralis normal, segitiga Kiernan normal. (pembesaran 40x). (normal)

- skor 1 : sel parenkim hati tidak beraturan/ terjadi oedema, dilatasi vena centralis.(perbesaran 40x). (Lesio sangat ringan)

- skor 2: hiperemi, kongesti, degenerasi berbutir-degenerasi lemak. (perbesaran 40x). (Lesio ringan)

- skor 3 : nekrosa sel parenkim hati berupa inti piknosis, inti pereksis, inti lisis. ( perbesaran 40x). (Lesio berat) Semakin besar rataan skor yang diperoleh dalam satu preparat dengan 10

lapang pandang mengindikasikan terjadinya perubahan yang makin besar. Berdasarkan skor tersebut dapat dilihat kelompok mana yang memberikan efek minimal sampai yang maksimal sehingga kesimpulan tentang perubahan yang terjadi bisa didapat. Pengamatan histopatologi menggunakan mikroskop Olympus

(BH-1 Japan).

Data yang akan diolah meliputi data bobot badan perlakuan per minggu dan skor histopatologi organ perlakuan dibandingkan dengan data organ kontrol, juga antar kelompok perlakuan. Setelah itu pengujian dilakukan dengan Uji Sidik

Ragam (ANOVA) yang kemudian dilanjutkan dengan uji wilayah berganda Duncan untuk melihat ada tidaknya perbedaan secara nyata (p<0.5).

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Evaluasi dataPerforman Ayam

Dari hasil penelitian didapatkan rataan bobot badan ayam pada masing-masing kelompok perlakuan, data tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 pemberian ekstrak tanaman obat pada minggu pertama memberikan gambaran bobot badan ayam broiler yang tidak berbeda nyata antar perlakuan (p>0.05), tetapi berbeda nyata dengan kontrol (p<0.05). Ekstrak tanaman obat yang memiliki efek paling baik terhadap bobot badan pada minggu tersebut adalah temu ireng.

Tabel 2 Rataan bobot badan ayam (gram) yang diberikan ekstrak tanaman obat dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-4

Perlakuan

(P) Perlakuan

Bobot badan (gram)

Minggu-1 Minggu-2 Minggu-3 Minggu-4

1 Adas 134.40 a 448.75a 776.8ab 1143.2ab 2 Temu ireng 141.90 a 496.83a 871.50a 1252.2a 3 Sirih merah 134.56 a 456.45a 760.38ab 1113.7abc 4 Sambiloto 125.18 ab 452.68a 734.95ab 1099.18abc 5 Adas + temu ireng +

sirih merah + sambiloto

128.78ab 437.33a 837.55ab 1092.75bc

6 Adas + temu ireng + sirih merah

128.58ab 461.33a 775.18abc 1132.7abc

7 Adas + temu ireng + sambiloto

126.80ab 423.95a 695.18cd 1013.6bc

8 Temu ireng + sirih merah + sambiloto

133.53ab 484.63a 850.63ab 1228.5ab

9 Adas + sirih merah + sambiloto 121.88ab 419.18a 754.7abc 1110.2abc 10 Kontrol (aquadestilata) 109.78 b 351.33b 653.80d 962.68d Ket: Angka yang diikuti huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05)

Pada minggu ke-2 terjadi kecendrungan yang berbeda, beda nyata (p<0.05) terjadi antara kelompok kontrol dengan semua kelompok. Perlakuan yang memberikan efek paling baik dengan cara menghasilkan bobot badan tertinggi adalah temu ireng (perlakuan 2) pada Tabel 2.

Gambar 8 Grafik rataan bobot badan ayam (gram) yang diberikan ekstrak tanaman obat dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-4

Pada minggu ke-3 terjadi perbedaan yang signifikan (p<0.05) antara hampir semua kelompok perlakuan kecuali perlakuan dengan menggunakan kombinasi ekstrak adas, temu ireng dan sambiloto terhadap kontrol.

Pada minggu ke-4, kelompok dengan menggunakan ekstrak tanaman temu ireng berbeda nyata dengan kelompok yang mendapatkan ekstrak adas, temu ireng, sirih merah dan sambiloto. Kelompok perlakuan lainnya berbeda nyata dengan kelompok kontrol kecuali pada kelompok yang menggunakan kombinasi ekstrak adas, temu ireng dan sambiloto .

Berdasarkan Tabel 2 dapat terlihat bahwa perlakuan menggunakan ekstrak temu ireng memberikan hasil yang terbaik terhadap performan ayam broiler berdasarkan capaian bobot badan tertinggi pada tiap minggunya, sehingga dapat disimpulkan bahwa temu ireng menjadi tanaman obat yang paling baik untuk meningkatkan bobot badan. Hal ini didukung oleh Limananti et al. (2003),

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 B ob ot b ad an ( g) Perlakuan Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4

yang menyatakan bahwa temu ireng mengandung zat pahit (carpaine atau alkaloida pahit) yang dapat merangsang lambung agar berfungsi dengan baik sehingga akan timbul nafsu makan yang baik juga.

4.2. Gambaran Histopatologi hati dan Skor lesio histopatologi

Gambar 9 Gambaran histopatologi hati normal (perbesaran400x) Kelompok kontrol (P10)

Skor lesio histopatologi (Tabel 3) pada hati menggambarkan derajat keparahan yang terjadi (mulai dari normal sampai terjadinya nekrosa). Pada perlakuan dengan menggunakan ekstrak tanaman adas terdapat 25% bagian yang normal dan terjadi lesio dari tingkat ringan (55%) sampai sedang (20%) tetapi lesio masih bersifat reversibel.

Gambar 10 Gambaran histopatologi sel hepatosit ayam pada kelompok P7 dengan perbesaran 400x (degenerasi hidropik ( ) , nekrosis hepatosit ( )

Estragol adalah salah satu bahan aktif dari adas. Senyawa kimia ini merupakan golongan terphenoid ether dan dengan efek toksik yang sangat kecil (relatif tidak toksik) menurut Cardoso et al.( 2004). Pemberian ekstrak dilakukan dengan cara dicekok (per oral), dengan demikian zat-zat atau senyawa kandungan tanaman tersebut mengalami proses biotransformasi di hati. Tetapi karena sifat bahan aktifnya yang relatif tidak toksik maka lesio yang terjadi pada hati tidak berat. Hasil persentase skoring lesio histoptologi hati tersebut disajikan pada Tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3 Persentase skor lesio histopatologi organ hati ayam setelah pemberian ekstrak tanaman obat

Kode Perlakuan

(P)

Jenis Perlakuan

Persentase skor lesio histopatologi (%) Skor-0 (normal) Skor-1 (ringan ) Skor-2 (sedang) Skor-3 (berat) 1 Adas 25 55 20 0 2 Temu ireng 20 30 50 0 3 Sirih merah 0 70 10 20 4 Sambiloto 20 55 25 0 5

Adas + temu ireng + sirih merah +

sambiloto

0 65 25 10 6 Adas + temu ireng

+ sirih merah 25 35 30 10 7 Adas + temu ireng

+ sambiloto 0 30 70 0 8 Temu ireng + sirih merah + sambiloto 0 80 20 0 9 Adas + sirih merah + sambiloto 0 50 50 0 10 Kontrol (aquadestilata) 0 50 0 0

Ket : Skor 0 = Sel parenkim hati/sel hepatosit tersusun radial, vena centralis normal, segitiga kiernan normal; Skor 1 = Sel parenkim hati tidak beraturan/ terjadi oedema, dilatasi

vena centralis; Skor 2 = Hiperemi, kongesti, degenerasi berbutir sampai degenerasi lemak ;Skor 3 = Nekrosa sel parenkim hati (inti piknosis, inti pereksis, inti lisis), sel parenkim hati lisis .

Pemberian ekstrak tanaman temu ireng mengakibatkan terjadinya lesio yang bersifat reversibel dengan tingkat ringan (30%) sampai sedang (50%). Bahan aktif yang paling tinggi dari temu ireng adalah 1,8,8-trimethylfuro [3,4-c] bicycle. Bahan aktif ini belum diketahui efeknya secara spesifik. Tetapi hasil proses biotransformasi bahan-bahan aktif dari tumbuhan ini di hati mengakibatkan terjadinya lesio. Pada perlakuan ini masih terdapat sel yang normal sejumlah 20%. Saponin merupakan salah satu kandungan temu ireng yang dapat menetralkan dan membersihkan racun dalam tubuh (Setiawan 2009).

Tabel 4 Rataan skor lesio histopatologi organ hati ayam setelah pemberian ekstrak tanaman obat

Nomor Perlakuan Ulangan

(slide) Rataan Skor/slide Rataan Skor/Perlakuan 1 Adas I 1.1 1.05dc II 1.0 2 Temu Ireng I 1.3 1.3bc II 1.3 3 Sirih Merah I 1.3 1.5ab II 1.7 4 Sambiloto I 0.7 0.8de II 0.9

5 Adas+temu ireng+sirih merah I 1.4 1.45ab

+sambiloto II 1.5

6 Adas+temu ireng+sirih merah I 1.4 1.25bc

II 1.1 7 Adas+temu ireng+sambiloto I 1.6 1.75a II 1.9 8 Temu ireng+sirih merah+sambiloto I 1.3 1.15bc II 1.1 9 Adas+sirih merah+sambiloto I 1.5 1.5ab II 1.5 10 Kontrol (aquadestilata) I 0.5 0.5e II 0.5

Ket: Angka yang diikuti huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05)

Berdasarkan tabel 3, tanaman obat yang menjadi tanaman obat pilihan karena menimbulkan efek yang paling ringan terhadap hati adalah sambiloto (Andrographis paniculata) dengan skor lesio hampir mendekati kelompok kontrol (tidak berbeda nyata dengan kontrol (p>0.05)). Perlakuan dengan menggunakan kombinasi dari adas, temu ireng dan sambiloto mengakibatkan

terjadinya lesion yang paling berat pada organ hati dengan tingkat lesion berbeda nyata terhadap kelompok kontrol (p<0.05).

Degenerasi hidropis merupakan perubahan yang bersifat sementara ditandai dengan kehadiran vakuol-vakuol di sitoplasma. Sel membutuhkan ATP-ase untuk mengaktifkan pompa sodium-potasium dalam pengaturan keluar dan masuknya ion. Infeksi akut sel akan menyebabkan air dan protein tetap berada pada sitoplasma. Pompa lapisan membran akan memindahkan ion air dengan cepat keluar dari sitosol dan masuk ke retikulum endoplasma. Hal ini akan mengakibatkan pembengkakan sel yang disebut degenerasi hidropis. Kebengkakan RE akan menghambat sintesa protein, sehingga ribosom terlepas dari rough endoplasmic reticulum (RER). Karena sel gagal memperoleh energi yang bersumber dari mekanisme aerobik, untuk sementara sel berusaha memperoleh energi dari sumber mekanisme anaerobik (glikolisis).

Lesio pada hati dengan perlakuan menggunakan tanaman sirih merah yaitu lesion ringan (70%), sedang (10%) sampai berat (nekrosa) (20%) tidak ada yang normal. Zat kimia yang terkandung pada sirih terutama adalah minyak atsiri dan piperin. Disamping itu, pada sirih merah mengandung flavonoid, polevenolad, alkaloid dan tanin. Senyawa flavonoid dan polevenolad bersifat anti kanker, anti oksidan, anti diabetik, anti septik dan anti inflamasi.

Menurut Darmansjah (2005), setiap senyawa kimia pada dasarnya bersifat racun. Keracunan dapat terjadi akibat dosis yang berlebihan ataupun cara pemberian atau aplikasi yang kurang tepat. Sambiloto mengandung zat aktif yang dapat menimbulkan perubahan patologis hati. Zat tersebut antara lain saponin dan androgapholide (Efrizanti 2005 dan Marpaung 2004).

Berdasarkan aspek toksikologi, sambiloto mempunyai dosis toksik akut (LD 50) sebesar 71.27 mg/10 g BB, pada manusia. Sambiloto dengan konsentrasi lebih tinggi dari 2.5 mg/ml bersifat toksik (Wibudi 2006). Pemberian androgapholide pada tikus atau kelinci secara oral sebanyak 1g/kg BB tidak menimbulkan gangguan pada hati dan ginjal (Anonim 2006). Berdasarkan tabel diatas (Tabel 3) lesio histopatologi hati pada perlakuan dengan menggunakan ekstrak sambiloto berupa oedema sel hepatosit dan dilatasi vena sentralis merupakan lesion paling ringan setelah kelompok control.

Bahan aktif dari sambiloto bersifat iritan pada hati tetapi sangat ringan sehingga mengakibatkan terjadinya lesio histopatologi hati berupa oedema dan

dilatasi vena sentralis (Efrizanti 2005 dan Marpaung 2004). Lesio yang terjadi dari tingkat ringan (25%) sampai sedang ( 55%) tapi merupakan lesio yang paling ringan bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

Kerusakan yang mungkin muncul akibat pengaruh zat aktif antara lain: dilatasi, kongesti, infiltrasi, akumulasi sel radang serta degenerasi. Tanda-tanda tersebut merupakan tanda lesio sel yang bersifat sementara (reversible) (Cheville 1999). Dilatasi merupakan reaksi lanjutan karena pembuluh darah kapiler pembawa darah dari arteri dan vena interlobularis menuju vena sentralis mengalami konstriksi singkat yang disebabkan masuknya rangsangan iritan (Spector dan Spector 1993).

Kelainan lain yang dapat terjadi pada hati antara lain adalah kongesti. Kongesti adalah berkumpulnya darah di dalam pembuluh darah disertai adanya pelebaran pembuluh darah tersebut (Sudiono et al. 2003). Kongesti di hati dapat terjadi karena masuknya rangsang iritan yang menyebabkan konstriksi pada arterial dan diikuti dilatasi (Rukmono 1996). Gangguan metabolisme pada sel merupakan penyebab utama dari degenerasi. Hal ini terjadi karena intensitas rangsangan patologik dan jangka waktu paparan yang relatif lama sehingga menyebabkan sirkulasi cairan di hati menjadi tidak lancar.

Pada perlakuan 3 (sirih merah), 5 (adas, temu ireng, sirih merah, sambiloto) dan 6 (Adas, temu ireng, sirih merah) terdapat lesio histopatologi hati berupa nekrosa. Menurut Lu FC (1995), hati terlibat dalam metabolisme zat makanan serta sebagian besar obat dan zat toksikan. Organ hati juga memiliki kadar enzim cukup tinggi yang mampu merubah zat toksik menjadi kurang toksik, tetapi dalam beberapa kasus senyawa racun diaktivasikan sehingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dari organ hati itu sendiri. Pada keadaan ini akan terjadi kematian sel (apoptosis atau nekrosa). Apoptosis merupakan kematian sel yang terprogram, melibatkan satu atau sekelompok sel tanpa sel radang dan dapat terjadi pada kondisi normal (fisiologis) maupun abnormal (patologis).

Nekrosa melibatkan sekelompok sel hingga pada sebagian jaringan dapat ditemukan sejumlah sel radang. Nekrosa dapat terjadi akibat bahan beracun, aktivitas mikroorganisme, defisiensi pakan dan kadang-kadang gangguan metabolisme termasuk hipoksia. Perubahan sel nekrosa terjadi pada inti dan sitoplasma. Jika nekrosa masih baru terjadi, sitoplasma sel akan lebih banyak

mengambil warna eosin, jika terjadi autolisis (kematian akibat enzimnya sendiri) sehingga sel lebih sedikit mengambil warna eosin.

Selain itu dapat juga terjadi perubahan ukuran inti sel menjadi mengecil dan berwarna biru (piknosis) akibat penggumpalan kromatin inti atau warna inti terlihat tidak jelas atau tidak terjadi sama sekali seolah-olah menghilang (karyolisis) atau inti pecah menjadi bagian-bagian kecil (karyohexis) (Cheville 1999; Jubb et al. 1993). Lesio ini bisa terjadi karena efek dari bahan aktif kombinasi tanaman obat tersebut, akibat dari pemberian dosis yang tidak tepat ataupun korelasi dari ketiga bahan aktif (saponin) dari tanaman tersebut.

Hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat diterapkan pada peternakan-peternakan ayam, baik peternakan ayam broiler (pedaging) maupun layer (petelur). Sehingga residu dari bahan tambahan pakan yang berefek tidak baik bagi kesehatan orang yang akan mengkonsumsi ayam tersebut dapat dikurangi bahkan dihilangkan, sehingga dapat dihasilkan ternak organik yang sangat aman untuk dikonsumsi. Selain itu pemberian ekstrak herbal juga dapat menguntungkan peternak, karena bisa mendapatkan ayam dengan bobot badan (performan) yang baik dan sehat dengan efisiensi yang tinggi serta tingkat kematian akibat penyakit yang bersifat low phatogenic yang rendah tentunya diiringi dengan pemberian vaksin untuk mencegah terjangkitnya penyakit infeksius.

Pemberian ekstrak herbal pada peternakan skala besar dapat dicampurkan dengan minuman atau makanan, tetapi karena kendala rasa dari herbal tersebut yang pahit maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mencari bahan-bahan yang dapat memperbaiki rasa agar tingkat konsumsi pakan ternak tersebut tidak berkurang.

5. SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait