• Tidak ada hasil yang ditemukan

MIMPI PENDIDIKAN BERMUTU

Dalam dokumen SKRIPSI UJIAN NASIONAL id. doc (Halaman 112-117)

BAB IV ANALISA DATA

B. MIMPI PENDIDIKAN BERMUTU

Pelaksanaan ujian nasional 2007 ini merupakan bagian dari proses evaluasi pendidikan. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.193

Sebagai salah satu bagian dari proses evaluasi, maka hasil dari ujian nasional 2007 tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai penjamin mutu pendidikan secara

nasional, mengingat ada berbagai komponen lain yang harus dipenuhi. Semisal kepemimpinan194, manajemen195, guru196 dan kurikulum.197

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa gunanya Ujian Nasional?. Sebagai salah satu program dari pemerintah yang menghabiskan dana kurang lebih 250 Milyar, maka dibutuhkan sesuatu yang berguna agar dana sebanyak itu tidak sia-sia.

194 Kepemimpinan Untuk menerapkan program mutu dalam pendidikan, diperlukan kepemimpinan yang berorientasi pada mutu. Kepemimpinen demikian berpegang pada prinsip – prinsip sebagai berikut :

a) Dalam kepemimpinan mutu, seseorang mengukur keberhasilannya dari keberhasilan orang– orang (semua anggota) dalam organisasi.

b) Tanggung jawab berbagi; semua unsur dalam organisasi sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas. Tugas majelis sekolah, pengawas, dan administrator memberikan fokus serta pengarahan terhadap sekolah.

c) Perbaikan mutu berkelanjutan. Unsur–unsur pimpinan mendorong guru dan staf untuk mencapai tujuan akhir organisasi yaitu penyempurnaan yanag berkelanjutan.

d) Dalam piramida kepemimpinan mutu, majelis sekolah, pengawas dan administrator harus menyediakan bahan serta alat–alat (resources) yag dibutuhkan guru dan staf

e) Peran guru dan staf. Semua orang dalam piramida kepemimpinan mutu adalah pemimpin. Untuk mencapai visi mutu dalam pendidikan, guru harus menanamkan visi pendidikan kepada siswa

f) Sebagai pemimpin mutu. Tiap orang bertanggung jawab menghilangkan hambatan yang mencegah performansi yang tinggi. Visi mengarahkan orang pada tujuan yang akan dicapai. g) Tiap orang ingin menjadi orang yang unggul. Tantangan utama untuk pendidikan bermutu

adalah menghilangkan hambatan–hambatan organisasional yang menghambat orang untuk berhasil. Sistem naik kelas sampai batas tertentu dapat menjadi hambatan untuk mencapai mutu secara optimal.(Nana Syaodih Sukmadinata et al, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengan ,( Bandung: PT.Refika Aditama, 2006), 14-15.

195 Manajemen. Manajemen peningkatan mutu pendidikan memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh pendidikan (sekolah) yang akan menerapkannya. Dengan kata lain, jika sekolah ingin sukses dalam menerapkannya, maka sejumlah karakteristik dari sekolah efektif (efektif school). Manejemen peningkatan mutu pendidikan merupakan wadah atau kerangkanya, maka sekolah efektif merupakan isinya.

Perangkat atau karakter peningkatan mutu pendidikan tersebut adalah sebagai berikut : a. In put, meliputi:

1. Kebijakan mutu dan harapan 2. Sumber daya (kesediaan masyarakat) 3. Berorientasi siswa

4. Manajemen (pembagian tugas, perencanaan, kendali mutu, efisiensi

b. Proses

1. Pembelajaran, berorientasi pada: a).Learning to Know, b). Learning to Do, c). Learning to Be dan d).Learning to Life Together

2. Kepemimpinan yang kuat atau demokratis a) kemampuan manajerial

b) kemampuan memobilisasi c) memiliki otonomi luas

3. Lingkungan “aman, nyaman, manusiawi”

4. Pengelolaan tenaga yang efektif, meliputi: a). Perencanaan, b). Pengembangan, c). Penilaian dan d). Imbal jasa

5. Memiliki budaya mutu (kerja sama, merasa memiliki, mau berubah, mau meningkatkan diri, terbuka)

Pelaksanaan ujian nasional dapat terus dilaksanakan, namun fungsinya bukan menjadi penentu kelulusan siswa akan tetapi menjadi alat pemetaan daerah yang tingkat kompetensinya masih rendah. Dengan demikian, Depdiknas atau Diknas Provinsi bisa memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Untuk mengukur standar kompetensi siswa, bisa menggunakan sistem sampling. Misalnya, ambil sampel ujian dari wilayah sabang sampai merauke,

7. Partisipasi masyarakat yang tinggi

8. Memiliki akuntabilitas a) Laporan prestasi

b) Respon atau tanggapan masyarakat

c. Out put

1. Prestasi akdemis :

Nem, STTB, Taraf Serap, Lomba karya ilmiah, lomba keagamaan 2. Prestasi non Akademis :

Olah raga, kerapian/ketertiban, kepramukaan, kebersihan, toleransi, ketulusan, kesenian, disiplin, kerajinan, solidaritas, silaturrahmi dan lain–lain.(Abdul Rahman Saleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa ,(Jakarta: PT.Raja Grafindo, 2004),20-21

196 Guru, adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (UU tentang guru dan Dosen Bab Ketentuan Umum, pasal 1)

Menurut pendapat ahli pendidikan, yang akan dapat memperbaiki situasi pendidikan kita adalah para guru yang sehari–hari bekerja dilapangan, dari guru TK sampai Guru Besar. Melelui tindakan hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, guru kita benar–benar menentukan nasib pendidikan kita. Guru–guru dapat disamakan dengan pasukan tempur yang menentukan kemenangan atau kekalahan dalam peperanagn. Para birokrat pendidiakan dalam pandangan sebenarnya adalah semata–mata pendukung bagi guru atau prajurit lapangan ini. Kalau birokrasi pendidikan benar-benar mendukung para guru, maka pekerjaan mereka akan menjadi lebih ringan. Sebaliknya, kalau melalui tindakan–tindakan birokrasi tertentu, maka birokrasi pendidikan justru memberikan beban tambahan kepada para guru. Maka tugas gurupun menjadi lebih berat, serta kualitas pekerjaan merekapun akan menurun.

Para ahli pendidikan mengatakan ada lima faktor yang sangat mempengaruhi kualitas perilaku guru dalam melaksanakan tugasnya. Kelima faktor tersebut ialah :

1) Jenis kewenangan ( Authority ) yang benar – benar diserahkan pada guru

2) Kualitas atasan yang mengawasi dan mengontrol perilaku guru

3) Kebebasan yang diberikan kepada guru, baik didalam maupun diluar kelas.

4) Hubungan guru denagn murid – muridnya.

5) Pengetahuan guru tentang dirinya sendiri dan kepercayaan terhadap diri sendiri

Kita lihat bahwa faktor pertama merupakan persoalan–persoalan yang terletak pada daerah kekuasaan birokrasi pendidikan. Sedangkan dua faktor yang terakhir merupakan persoalan–persoalan yang dapat diselesaikan oleh para guru sendiri. Muchtar Buchory, Spektrum Problematika Pendidikan DiIndonesia, (Jogjakarta: PT. Tiara Wacana, 1994), 90-91

197 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UU Sistem Pendidikan Nasional 2003 bab. Ketentuan umum pasal 1.)

kemudian hitung persentase kelulusannya.198Selanjutnya mengenai kelulusan siswa

sebaiknya diserahkan kepada guru mata pelajaran sebagai indikator kompetensi siswa.199

Kalau permasalahan ini dihubungkan dengan kaidah ushul Fiqh, maka kita

mengenal adanya istilah “Dar’ul Mafaasid Muqoddamun ‘Ala Jalbil

Mashoolih/menghindari kemadhorotan itu didahulukan dari pada melakukan kebaikan.”. Artinya, pelaksanaan ujian nasional 2007 memang suatu perbuatan yang baik. Namun ada banyak kemadhorotan dalam pelaksanaannya, yakni telah mengebiri hakikat pendidikan dan pendangkalan tradisi intelektual, berbagai kecurangan yang muncul, besaran dana yang dikeluarkan dan sebagainya. Oleh karena itu, ujian nasional harus direformulasi lagi agar lebih berguna dalam proses pendidikan di negara ini.

Selain itu, kesiapan daerah dalam menghadapi ujian nasional masih timpang,

masih banyak bangunan sekolah yang rusak,200dan sarana prasarana yang terbatas dan

tidak akan mungkin dapat mengikuti standar ujian secara nasional (Jakarta).

Akhirnya, berbagai anomali pendidikan perlu diurai dengan dengan kembali pada semangat dasar pendidikan yang berorientasi pada anak dengan menempatkannya sebagai bagian dunia global. Prinsip asih, asuh dan asah yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara niscaya aktual kembali di tengah tantangan global dan terpelantingnya simplifikasi praksis (praktik dan refleksi) pendidikan yang beraroma politik kekuasaan.

198 Siswa Hanya Mengejar Angka Kelulusan, wawancara dengan Daniel M. Rosyid, Jawa Pos (Surabaya), 11 April 2007

199 Ibid, Siswa Hanya Mengejar Angka Kelulusan, wawancara dengan Daniel M.Rosyid. Selain itu hal ini sesuai dengan UU Sisdiknas Pasal 58 ayat (I) yang berbunyi “Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belaajr peserta didik secar berkesinambungan” dan ayat (2) yang berbunyi: “Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan”

200120 gedung SD di Tulungagung Rusak,Kompas (Tulungagung), 2007 dan Siswa Kelas III dan IV

di Papua Barat Belajar Berjejalan dalam Satu Ruangan, Kompas (Teluk Wondama, Papua), 2 Juni 2007, 12.

Tiga pilar menjadi acuan kebijakan yang membebaskan dan pendagogis, yakni mengembangkan peserta didik belajar untuk tahu, belajar untuk berbuat, dan belajar

untuk hidup bersama.201

Dalam dokumen SKRIPSI UJIAN NASIONAL id. doc (Halaman 112-117)